IMG-LOGO
Nasional

Rais Aam PBNU: Syawal Bulan Peningkatan Ibadah

Senin 10 Juni 2019 16:15 WIB
Bagikan:
Rais Aam PBNU: Syawal Bulan Peningkatan Ibadah
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengatakan setelah berlalunya bulan Ramadhan, umat Islam berjumpa dengan bulan Syawal. Jika pada Ramadhan menunaikan kewajiban berpuasa ditambah amal kebaikan dan ibadah sunah, maka pada Syawal adalah bulan untuk meningkatkannya. 

“Syawal itu rafa’a, bulan kenaikan, bulan yang banyak naiknya,” katanya kepada NU Online pada akhir Ramadhan lalu. 

Makanya, kata kiai asal Surabaya, Jawa Timur, ulama-ulama terdahulu sering mengadakan kenaikan kelas atau memulai ajaran baru pada bulan Syawal. 

Hal itu, lanjutnya, ada kesesuaian dengan arti kata Syawal yaitu bulan kenaikan tingkat.

Dengan demikian, simpulnya, memasuki bulan Syawal bukan malah mengendorkan ibadah, tapi melipatgandakannya. Semangat Ramadhan harus ditingkatkan, paling tidak dipertahankan.  

“Dalam sebuah syair dikatakan, ‘hai pelayan jasad sebelas bulan melayani jasad shingga kita lupa siapa kita. Dari barat ke timur, lebih banyak mengurusi jasad, urusan insaniyah kita kecil sekali, redup dan mungkin hilang',” katanya. 

Ia kembali menekankan, umat Islam harus memperbanyak ibadah dan amal kebaikan, jangan hanya pada bulan Ramadhan, tapi juga di bulan-bulan lain. 

“Artinya, semangat beribadah dan berbuat amal kebaikan sepanjang bulan, sepanjang tahun,” katanya. 

Menurut KH Miftah, seseorang yang berharap meraih lailatul qadr pada saat bulan Ramadhan harus melakukan persiapan sepanjang tahun, bahkan sepanjang hidupnya.  

Persiapan meraih lailatul qadar, lanjutnya, adalah dengan selalu melakukan dan meningkatkan amal giat dalam beribadah dan praktik keseharian dengan dipenuhi perilaku kebaikan.  

“Untuk meraih sesuatu yang istimewa, yang lebih baik dari seribu bulan, harus dilakukan persiapan yang sangat panjang. Ibarat sebuah pertandingan kelas internasional, persiapannya pun harus panjang, bukan persiapan yang setengah-setengah, apalagi di akhir bulan,” katanya.   

Menurut dia, di antara tanda-tanda orang yang berhasil meraih lailatul qadar adalah makin hari makin baik kehidupannya, terutama dalam ibadah dan amal kebaikannya, kewaspadaannya, dan lain-lain. 

“Sebagaimana haji mabrur, orang yang meraih lailatul qadar adalah orang yang kemudian menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ungkapnya. (Abdullah Alawi)
    

Tags:
Bagikan:
Senin 10 Juni 2019 17:0 WIB
Kesaksian Rais PCNU Pekalongan terhadap Zakat Fitrahnya Habib Luthfi
Kesaksian Rais PCNU Pekalongan terhadap Zakat Fitrahnya Habib Luthfi
Habib Luthfi saat pimpin distribusi zakat 200 ton beras
Pekalongan, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan Jawa Tengah, KH Zakaria Ansor menuturkan, kegiatan setiap malam Idul Fitri Habib Luthfi bin Yahya yang juga Rais 'Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) bukan kegiatan yang serba tiba-tiba.

"Akan tetapi melalui proses yang cukup panjang yang dengan telaten dilakukan Habib Luthfi setiap malam Idul Fitri tiba," ujarnya kepada NU Online, di Pekalongan, Ahad (9/3).

Dijelaskan, pada malam Idul Fitri kemarin 1440 H misalnya, ada 200 ton beras dibagikan oleh Abah (panggilan akrab Habib Luthfi-red) pada masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, khususnya panti-asuhan, yayasan, pondok pesantren, dan lembaga-lembaga lain yang membutuhkan. 

"Juga para terdampak bencana seperti rob, para janda, dan dhuafa yang pendistribusiannya itu dikawal oleh berbagai komponen masyarakat dari ormas seperti NU, Ansor, Banser, Laskar Merah Putih, SAR, santri juga TNI /Polri. Mereka semua kompak dan saling bahu-membahu. Sebuah keindahan tersendiri menyaksikan kebersamaan semua komponen di puncak malam Idul fitri," tutur Kiai Zakaria yang juga murid Habib Luthfi.

Dikatakan, dirinya menyaksikan sendiri bagaimana Habib Luthfi setiap malam Idul Fitri tidak berdiam diri di rumah, akan tetapi keliling dari kampung ke kampung menghimpun dan menyalurkan zakat fitrah. Meski semua itu tidak berjalan serta merta, akan tetapi melalui proses panjang pula.

"Dulu setiap menjelang lebaran, Abah Luthfi membagikan semacam girik ke pos-pos termasuk lingkungan di Kelurahan Medono yang kemudian oleh ayah saya girik itu dibagikan pada mereka yang ingin menyalurkan fitrah pada aitam yang dikordinir Abah Luthfi. Alhamdulillah lingkungan kami terkondisi dan selalu ada yg mengalokasikan bagian fitrah keluarganya untuk di salurkan melalui Habib Luthfi

Dijelaskan Kiai Zakaria, di setiap malam hari raya Habib Luthfi selalu menyempatkan keliling ke pos-pos dengan menggunakan mobil bak terbuka, termasuk ke rumah ayah Kiai Zakaria untuk mengambil beras yg sudah terkumpul untuk selanjutnya didistribusikan ke rumah aitam. 

"Pada waktu itu belum ada keterlibatan ormas maupun TNI Polri. Biasanya beliau dengan mengenakan topi laken dan bercelana jin bergabung dengan santri-santri berdiri di mobil bagian belakang," paparnya.

Itulah lanjutnya, sekilas dari awal perjalanan kegiatan malam Idul Fitri yang secara rutin dilakukan oleh Habib Luthfi bin Yahya yang juga Ketua Forum Ulama Sufi Dunia dari tahun ke tahun. Setapak demi setapak, dimulai dari apa yang mampu untuk diberikan sampai kemudian menjadi 200 ton pada tahun 1440 Hijriyah dengan keterlibatan berbagai komponen masyarakat, TNI, dan Polri.

"Semoga kita sebagai santri beliau dapat menauladani kepedulian, kepekaan, dan semangat Habib Luthfi dalam berkiprah di tengah masyarakat dalam segala kondisi dan kemampuan yang ada," pungkasnya. (Muiz)
Ahad 9 Juni 2019 12:0 WIB
Kampung ASI Unusa Raih Hibah Bina Desa Kemenristekdikti
Kampung ASI Unusa Raih Hibah Bina Desa Kemenristekdikti
Tim mahasiswa prodi D3 Kebidanan Unusa.
Surabaya, NU Online
Setiap orang mengenal air susu ibu (ASI) sebagai makanan eksklusif bayi. Namun, faktanya tidak semua ibu mengetahui bagaimana cara menyusui dengan benar dan sehat. Ironisnya, kondisi tersebut juga masih banyak terjadi di kawasan kota besar seperti Surabaya.   

Berniat membantu para ibu, sepuluh mahasiswa program studi (Prodi) D3 Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) melakukan pembinaan Kampung ASI di Kelurahan Wonokromo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Mereka adalah Diana Lindah Safitri, Ryska Setiari Putri, Cindy Ferawati Niko, Hanna Uswatus Hasanah, Sinta Adik Ayu Mufida, Seif Firinda, Anisa Fitriya, Ratima, Anita, dan Elizza Amelia.

Program pembinaan Kampung ASI ini telah lolos seleksi program hibah bina desa (PHBD) 2019 yang diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti).

“Saat kami melakukan survei, ternyata kasus pemberian ASI eksklusif masih rendah. Masih banyak bayi di Kelurahan Wonokromo, Surabaya tidak mendapatkan ASI,” kata ketua tim PHBD Diana Lindah Safitri, Sabtu (8/6).

Uniknya, lanjut Diana di kawasan tersebut sebenarnya sudah terbentuk Kampung ASI, tepatnya di wilayah RW 2 Kelurahan Wonokromo. Hanya saja program belum berjalan secara optimal.

Dari hasil survei yang dilakukan akhirnya diketahui para kader Kampung ASI setempat masih bingung bagaimana mengimplementasikan program pembinaan kepada warga sasaran, yakni ibu menyusui maupun ibu hamil. 

Dibantu dua dosen pendamping yakni dosen prodi D3 Kebidanan FKK Unusa, Uke Maharani Dewi SST dan dosen pembina Hima D3 Kebidanan FKK Unusa, Esty Puji Rahayu, tim mahasiswa melakukan pendekatan kepada kader dan pendamping untuk menerapkan program kerja lapangan tersebut.

“Dua hal pokok dalam program pembinaan kampung ASI ini, yang pertama implementasi program Indonesia sehat melalui pembinaan kader dan pendampingan pemberian ASI,” ungkapnya. 

Sedangkan yang kedua membangun rumah ASI di tiap RW dalam bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Mandiri (UKBM), lanjutnya.

Dalam pembinaan pemberian ASI banyak hal yang ternyata belum diketahui sejumlah ibu, tentang bagaimana agar ASI bisa keluar; cara tepat menenangkan bayi menangis, serta bagaimana menyimpan ASI sementara ibu bekerja. 

Uke mencontohkan banyak ibu yang beranggapan bayi menangis karena lapar. Untuk menghentikan tangis bayi biasanya mereka memberi makanan tambahan selain ASI. Padahal dalam 6 bulan pertama, bayi cukup dengan asupan ASI saja. 

Mengapa banyak yang tidak mengetahui cara pemberian ASI, karena banyak warga yang enggan pergi ke Puskesmas. “Anggapan mereka selama ini Puskesmas adalah tempat orang berobat,” keluhnya. 

Pandangan inilah yang diubah. “Selain itu kami juga memberi solusi, jika konsultasi tentang ASI tak selalu harus ke Puskesmas namun bisa kepada para kader kesehatan, yang akan kami bina terlebih dulu,” kata Uke.

Kader kesehatan tersebut lanjut Uke bisa ibu-ibu penggerak PKK atau para kader yang aktif dalam pendampingan warga. “Jadi pendampingan diberikan mulai ibu hamil hingga selesai menyusui,” imbuhnya.

Hal lain yang menjadi sorotan adalah keengganan pemberian ASI karena ibu bekerja. Selain keterbatasan waktu, si ibu juga terbatas dana untuk membeli botol ASI dan alat pendingin (freezer) ASI.

Karenanya tim PHBD Unusa mengajak si ibu untuk menyisihkan dana BPJS yang dialihkan untuk pembelian kelengkapan menyusui seperti botol dan tas ASI. Begitu pula dengan pembelian freezer , bisa dari pejualan barang bekas. Tempat penyimpanan ASI juga bisa disewakan, dan uang hasil sewa untuk operasional, seperti listrik dan perawatan alat. 

“Di sinilah kami mengajarkan bagaimana mereka bisa mandiri, dengan mendirikan UKBM. Para ibu bisa konsultasi kesehatan kepada para kader,” jelasnya. 

Dan, sebaliknya para kader bisa mendampingi para ibu agar kesiapan hamil hingga menyusui. “Dengan begitu para ibu secara psikis tidak stres dan ASI yang diberikan bayi pun bisa berkualitas dan sehat,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi

Sabtu 8 Juni 2019 22:0 WIB
Jadi Dai dan Ulama Harus Kuasai Ilmu Nahwu dan Sharaf
Jadi Dai dan Ulama Harus Kuasai Ilmu Nahwu dan Sharaf
Ilustrasi (Ist.)

Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Muhammad Nurhayid (Gus Hayid) menegaskan bahwa di antara syarat menjadi seorang dai dan ulama adalah mengerti kaidah ilmu bahasa Arab yakni nahwu dan sharaf.

Hukum mempelajari ilmu nahwu bagi orang awam adalah fardu kifayah. Namun bagi yang hendak menyampaikan dalil-dalil, memahami Al-Qur'an dan hadits, berfatwa, dan berceramah, wajib hukumnya mempelajari ilmu-ilmu tersebut sebagaimana dikatakan Imam Syuyuthi.

"Bagaimana seseorang mau memahami Qur'an dan hadits dengan benar kalau tak paham bahasa Arab. Salah satu perangkat dasar memahami bahasa Arab adalah dengan Ilmu Nahwu, Sharaf dan I'lal," tegas Gus Hayid, Sabtu (8/6).

Jadi lanjutnya, jika ada seseorang yang tidak bisa membaca kitab kuning atau kitab gundul serta tidak memahami nahwu sharaf, dan ia mengaku dirinya seorang dai atau ustadz, bahkan ulama, maka seharusnya tidak percaya.

"Jangan ikuti mereka. Karena potensi ngawur dan menyesatkanya sangat tinggi," ajak pengurus MUI Pusat di Komisi Dakwah ini.

Para ulama bersepakat atau melakukan ijma bahwa haram atau tidak boleh seseorang berbicara tafsir Al-Qur'an dan menjelaskan hadits, jika yang bersangkutan tidak memahami ilmu nahwu dan sharaf atau tidak memahami bahasa Arab dengan baik.

Saat ini ungkapnya sudah mulai bermunculan seseorang yang dengan bermodal jubah dan surban serta baru saja mempelajari agama namun sudah merasa ahli agama.

"Waspada artis yang hijrah lalu merasa ahli agama, atau ustadz jadi-jadian yang mengaku ulama hanya bermodal jubah dan surban. Kalau mereka tidak bisa bahasa Arab sebagai dasar, dan tentu ilmu-ilmu lainnya, seperti ulumul qur'an, ulumul hadits, ushul fiqh dan lain-lain, jangan ikuti fatwanya," tegasnya.

Dengan lemahnya ilmu-ilmu yang dibutuhkan dalam memahami Al-Qur'an dan hadits ini, bisa dipastikan cenderung mengikuti nafsu dan kebodohannya. Akibatnya bukan hidayah yang didapatkan umat saat mengikuti pendapat dan ceramah mereka, tapi pasti kesesatan dan menyesatkan.

Ilmu Nahwu sendiri adalah ilmu yang membahas tentang perubahan harakat akhir dalam kalimat, yang mana jika seseorang salah dalam memberi harakat suatu teks arab terlebih Al-Qur’an dan sunah maka akan merubah makna teks tersebut.

Ilmu nahwu dan sharaf diibaratkan dengan An-Nahwu Abu al-Ilmi wa al-Shorf Ummuhu (Ilmu nahwu adalah bapaknya segala ilmu sedangkan ilmu sharaf adalah ibunya).

Tentang pentingnya ilmu nahwu dan sharaf ini juga, Al-Imam Mujahid mengatakan bahwa tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbicara tentang kitab Allah (Agama Allah) sedang ia tidak tahu akan ilmu Nahwu. (Muhammad Faizin)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG