IMG-LOGO
Esai

Ikrar Halal Bi Halal dari Ulama Betawi

Rabu 12 Juni 2019 17:0 WIB
Bagikan:
Ikrar Halal Bi Halal dari Ulama Betawi
(Foto: @ubrain.net)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki

Bagi masyarakat Betawi, bulan Syawal adalah bulan Lebaran. Jadi, bisa dikatakan Lebaran di Betawi itu satu bulan lamanya. Umumnya, selama bulan Syawal para kiai dan ustadz Betawi belum membuka pengajian. Mereka membuka pintu untuk tetangga, kerabat, dan murid-murid yang datang untuk lebaran.

Sama seperti orang Betawi lainnya, makanan ringan yang dihidangkan untuk tamu yang datang merupakan makan ringan tradisional  seperti dodol, wajik, nastar, lapis, tape uli, kue satu, dan lain-lain.

Istilah Halal Bi Halal untuk kegiatan Lebaran, maaf memaafkan, yang melibatkan banyak orang dalam satu tempat, dan satu waktu baru dikenal masyarakat Betawi setelah terlebih dikenalkan oleh salah seorang pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, pada tahun 1948 ketika bertemu Presiden Soekarno.

Forum yang dikenal dengan istilah tersebut bertujuan untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sedang dilanda konflik saudara sehingga harus menyajikan bungkus baru yang menarik agar mereka mau berkumpul dan menyatu saling maaf-memaafkan.

Lambat laun, kegiatan Halal Bi Halal menjadi populer di masyarakat Betawi. Karenanya, salah seorang ulama Betawi, Abuya KH Abdurrahman Nawi, membuat ikrar Halal Bi Halal dan kaifiat atau tata caranya.  

Abuya KH Abdurraman Nawi adalah ulama Betawi kelahiran Tebet, Melayu Besar, Jakarta Selatan yang menurutnya cucunya, Irfan Fahmi dan Ustadz Darul Qutni, lahir pada tahun 1932 M. KH Abdurrahman Nawi lahir dari pasangan H Nawi bin Su’id dan ‘Ainin binti Rudin. Ia diberi nama Abdurrahman. Dengan menyandang nama bapaknya, ia kemudian dikenal dengan nama Abdurrahman Nawi.

Ia adalah salah seorang  ulama Betawi terkemuka yang menerima pelajaran keagamaan pesantren dari majelis taklim yang ada di Betawi, bukan dari pondok pesantren atau madrasah. Ia pernah belajar kepada KH Muhammad Yunus, KH Basri Hamdani, KH M Ramli, dan Habib Abdurrahman Assegaf. Ia juga mengaji kepada KH Muh Zain (Kebon Kelapa, Tebet), KH M Arsyad bin Musthofa (Gang Pedati, Jatinegara), KH Mahmud (Pancoran), KH Musannif (Menteng Atas), KH Ahmad Djunaedi (Pedurenan), KH Abdullah Husein (Kebon Baru, Tebet), KH Abdullah Syafi’i (Matraman), serta Habib Husein Al-Haddad (Kampung Melayu).

Agak jauh sedikit, ia mengaji kepada KH Hasbiyallah (Klender), KH Mu’alim (Cipete), KH Khalid (Pulo Gadung), Habib Ali Jamalullail, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Abdullah bin Salim Al-Attas (Kebon Nanas), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad (Kramat Jati), Habib Ali bin Husein Al-Attas (Kemayoran), dan Ustadz Abdullah Arifin (Pekojan).

Uniknya, walau ia tidak pernah belajar di sekolah, madrasah, atau pondok pesantren, namun cara belajarnya tidak kalah dengan cara belajar santri di pondok pesantren. Dalam sehari ia bisa mengikuti pelajaran di tiga tempat, yang masing-masingnya terdiri atas dua atau tiga mata pelajaran. Sistem belajar yang ia ikuti biasanya memakai kitab. Seorang guru membaca ‘ibarah dalam kitab dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kemudian menerangkan maksud dari ‘ibarah tersebut dengan penjelasan yang sangat luas dan mendalam.

Walau sekadar lulusan majelis taklim, tapi ia dapat mendirikan pondok pesantren yang merupakan salah satu pondok pesantren terkemuka, khususnya di masyarakat Betawi, yaitu Pondok Pesantren Al-Awwabin yang dulu berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Pesantren itu kini telah dipindahkan dan dikembangkan ke Depok, Jawa Barat.

Ia juga mengajar di majelis taklim yang dimulainya sejak 1962 M. Majelis taklim ini dibuka di  rumahnya, Jalan Tebet Barat VIII, Jakarta Selatan. Majelis taklim ini diberi nama As-Salafi yang mengajarkan kitab-kitab tertentu sesuai dengan kemampuan dan minat para pesertanya.

Untuk kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu, dibacakan Kitab Taqrib, Tijan Durar, Nashaihud Diniyah. Sedangkan untuk pemuda dan para ustadz, dibacakan Qawa’idul Lughah, Ibnu ‘Aqil, Fathul Mu’in, Bughyatul Mustarsyidin, Asybah wan Nazhair, dan Qami’ut Thughyan.

Pesertanya datang dari beberapa kampung di Jakarta dan sekitarnya. Banyak murid-murid majelis taklimnya yang kemudian menjadi ulama terkemuka, terutama di Betawi, seperti almarhum Abuya KH Saifuddin Amsir.

Adapun ikrar Halal Bi Halal dan kaifiatnya yang disusun oleh Kiai Abdurrahman Nawi lazimnya dilakukan sesaat setelah shalat Idul Fitri oleh khatibnya atau juga pada acara Halal Bi Halal, bahkan juga di kegiatan rowahan kubro sebelum masuk bulan Ramadhan.

Ikrar Halal Bi Halal ini dimaksudkan untuk memaafkan dan menghalalkan segala kesalahan antarsesama. Ia menyandarkan dalilnya pada Al-Qur`an Surat Ali Imran ayat 134 yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ikrar ini juga bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang pernah berbuat kesalahan-kesalahan kepada kita untuk meminta maaf. Ikrar ini merupakan sebuah pengakuan bahwa sebagai manusia memang kita juga punya salah kepada orang lain, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, karenanya perlu ada pernyataan yang jelas agar kesalahan-kesalahan kita dapat dimaafkan oleh orang lain.

Menurut cucunya, Ustadz Darul Qutni, ikrar ini pertama kali dirilis pada 1998 M, saat dia  mengantar Abuya Kiai Abdurrahman Nawi shalat Idul Fitri di Masjid Nurul Yaqin KH Salim Nai. Saat itu ia yang masih berstatus sebagai pelajar Tsanawiyah diajak oleh Abuya ke Tebet dari Depok. Abuya menyetir dengan laju yang cukup cepat. Maklum katanya, saat itu jalan raya masih lenggang.

Selesai khutbah Idul Fitri, Abuya KH Abdurrahman Nawi memimpin Ikrar Halal Bi Halal. Berikut isi ikrar tersebut dan kaifiatnya: Pertama, jamaah dianjurkan agar mendengarkan lebih  dulu ucapan pemimpin ikrar. Setelah itu baru diikuti perlahan lahan oleh hadirin, kalimat per kalimat; kedua, berikut isi ikrar: "Pada hari ini, saya halalkan dan maafkan segala kesalahan hadirin yang ada di sini, baik disengaja maupun tidak, lahir maupun batin, besar  maupun kecil, ikhlas dan ridha karena Allah ta`ala"; dan ketiga atau terakhir, jamaah diajak membaca Surat Al-Fatihah.

Ustadz Darul Qutni sendiri diminta memimpin ikrar ini pertama kali saat ziarah kubro Ummi Hasanah beberapa tahun yang silam. (Dari pelbagi sumber) *


Ustadz Rakhmad Kiki adalah penulis buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris RMI NU (asosiasi pesantren) DKI Jakarta.
Bagikan:
Kamis 6 Juni 2019 15:0 WIB
Mudik, Gerak Kembali ke Asal
Mudik, Gerak Kembali ke Asal
Oleh Ustadz Nurul Bayan

Kini para pemudik sudah banyak yang tiba di kampung halaman masing-masing. Mereka berharap agar pada saat Lebaran bisa merayakannya bersama keluarga, sanak famili, dan kawan lama tempo doeloe. Seolah, sebelas bulan bekerja dan berkarya di rantau orang hanya untuk merayakan momen yang sakral ini. Dan, agaknya, pijakan seperti ini mengisyaratkan bahwa mudik adalah keniscayaan dan tidak bisa dibendung lagi, karena memang sudah men-tradisi dan membudaya bagi kebanyakan Kaum Muslim di negeri ini.

Gejala serupa mudik itu sebetulnya terjadi pula di negeri lain. Di Amerika, meski saya belum pernah ke sono, konon katanya gejala serupa mudik itu sama persis dengan Thanks Giving Day yang jatuh pada setiap 22 November, yaitu suatu perayaan yang disertai dorongan kuat untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Atau di Timur Tengah, sejak dari Bahrain di timur sampai Maroko di barat, lebih-lebih di kawasan Teluk, gejalanya sama, tetapi dikaitkan dengan perayaan Idul Adha, karena perayaan inilah yang terbesar (orang Jawa bilang: Rayagung). Mereka punya keinginan kuat untuk bisa menuju Tanah Suci, di Haramayn, berhaji dan berumrah, sekaligus berziarah ke makam Nabi Saw. Ini adalah simbolisasi bahwa kembali ke Tanah Suci membawa kebahagiaan tersendiri. Jadi, gejala mudik dan yang serupa dengan itu muatan maknanya universal.

Mengapa mesti mudik? Apakah ada makna terdalam dibalik mudik yang lahiri itu?

Dalam perkamusan, mudik ialah berlayar ke hulu; pulang kampung/desa. Artinya, setiap kita punya asal-usul, dan mudik adalah gerak kembali ke asal, ke kampung halaman. Ke mana pun kita pergi pasti ada dorongan kuat untuk kembali ke asal. Kerinduan ini tidak bisa ditebus dengan apa pun. Asal adalah tempat kembali yang membahagiakan. Jadi, kembali ke asal itu alamiah, natural. Sederhananya, ketika ada seekor anak ayam (Jawa:pitik) yang baru ditetaskan satu atau dua hari tersesat dan tertinggal jauh dari induknya maka ia akan terus berteriak sekencangnya (Jawa: pating creyak). Namun, begitu bisa kembali kepada sang induk lalu didekapnya erat-erat maka akan dengan sendirinya merasa tenang dan nyaman. Jadi, sekali lagi, kembali ke asal adalah alami dan itu membahagiakan. Kaitannya dengan puasa yang tengah kita lakoni, kembali ke asal itu adalah Idul Fitri. Id artinya kembali, dan fitri artinya kesucian asal. Idul Fitri berarti kembali pada kesucian asal.

Pada mulanya, ketika masih dalam alam ruhani, Tuhan mengambil Perjanjian Primordial (al-Mitsaq al-Awwal) dari manusia tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini sebagaimana interpretasi Syekh Isma'il al-Haqqi dalam Ruh al-Bayan, (Toronto: Mathba'ah al-'Utsmaniyyah, 1330 H), jld iii, hlm. 275, berkenaan dengan Q al-A'raf [7]: 172. Secara bebas, terjemahan ayatnya terbaca demikian.

Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari anak-anak Adam keturunan mereka dari sulbinya dan menjadikan saksi atas diri mereka sendiri (dengan pertanyaan): "Bukankah Aku Tuhan kalian?" Mereka menjawab: "Ya! Kami bersaksi!" (Demikianlah) supaya kalian tidak berkata pada hari kiamat: "Ketika itu kami lalai."

Jadi, secara keruhanian, kita terikat oleh Perjanjian Primordial. Dan dalam 'keadaan' mengakui akan Ketuhanan Yang Maha Esa itulah kita sebagai manusia tercipta. 'Keadaan' yang demikian itu disebut dengan 'fitrah,' artinya asal mula pertama manusia tercipta (al-khilqah), atau kesucian asal. Menyikapi ayat di atas, para mufassir mengaitkannya dengan Al-Qur'an Surat al-Rum [30]: 30, terjemahannya:

Maka hadapkanlah wajahmu benar-benar kepada agama; menurut fitrah Allah yang atas pola itu Dia menciptakan manusia. Tiada perubahan pada ciptaan Allah; itulah agama yang baku; tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.

Asal kita semua adalah fitri, jauh sebelum kita terlahir ke alam dunia ini. Kefitrian kita yang berdimensi ruhani itu kemudian terus terbawa sampai kita lahir. Tentang ini, ada penegasan hadits: "Setiap jabang bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah."

Allah berfirman (hadits qudsi): "Bahwa Aku ciptakan hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung merindukan dan memihak pada yang baik dan benar)."

Tetapi, sebagaimana halnya kecenderungan alami bayi untuk makan dan minum itu butuh bimbingan orang tuanya agar tidak salah ambil, maka kefitrian dan kehanifan kita juga perlu bimbingan agar tidak salah. Sebab, kita pun tercipta dalam keadaan lemah (Q al-Nisa' [4]: 28). Kelemahan kita ialah gampang tergoda. Pada saat kita lemah setan mendekat, dan di saat kita kuat setan menjauh. Inilah gambaran al-Khannas dalam Q Al-Nas [114]: 4. Maka, setiap kita punya dua kecenderungan, yang jahat dan yang  baik (Q al-Syams [91]: 8). Agar tidak salah arah, lalu, dengan Rahmat Tuhan, diutuslah para nabi dan rasul. Namun kini tidak akan ada lagi nabi dan rasul karena sudah ditutup oleh kenabian dan kerasulan Muhammad SAW. Yang tersisa hanyalah ajarannya yang terus diteladankan oleh mereka yang layak dan wajar sebagai pewarisnya. Dan di antara ajaran para nabi dan rasul itu ialah tentang keharusan berpuasa.

Sampai batas ini berarti puasa adalah media untuk mengembalikan kesadaran kita tentang kesucian asal itu. Karenanya, selesai Ramadan kita merayakannya dengan ber-idul fitri, kembali ke asal kesucian. Tetapi, oleh karena kemampuan masing-masing akal kita berbeda satu sama lain maka tidaklah terlalu mengada-ada bahwa makna Idul Fitri itu disimbolisasikan dengan mudik.

Entah siapa yang pertama kali memulai tradisi mudik lebaran itu. Yang jelas, kita harus menaruh hormat pada juru dakwah tempo doeloe yang mengenalkan Islam begitu rupa, sampai-sampai kita tak tahu lagi bahwa ternyata tradisi mudik itu simbolisasi dari gerak kembali ke asal. Dan 'asal' yang hakiki adalah Tuhan Sendiri. Maka, 'mudik' yang sebenarnya ialah ketika kita bisa menginsafi akan asal dan tujuan hidup kita, yaitu Tuhan: "Bahwa kita semua milik Tuhan dan bahwa kita pun kembali kepada-Nya" (inna lillahi wa inna ilayhi raji'un, Q al-Baqarah [2]: 156). Kesadaran seperti inilah yang tersirat dari laylah al-qadr, yaitu ketika Nabi SAW sembahyang dalam keadaan basah kuyup dan belepotan dengan lumpur di Masjid Nabawi dulu. Di sini, kembali ke asal disimbolkan dengan 'tanah dan air' (lihat dalam Muhammad ibn Isma'il al-Bukhari, al-Jami' al-Shahih, [Kairo: al-Mathba'ah al-Salafiyyah, 1403], cet i, jld ii, No. 2016, hlm. 62). Jadi ada kesamaan makna yang saling berkaitan antara puasa, laylah al-qadr, zakat fitrah, mudik, dan Idul Fitri. 

Untuk mereka yang telah mendahului kita, al-Fatihah ...

Dan untuk kita semua: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Mohon Maaf Lahir-Batin.

Penulis adalah alumni Ponpes Assalafie, Babakan Ciwaringin, Cirebon.
Kamis 6 Juni 2019 7:0 WIB
Lebaran dalam Kesendirian
Lebaran dalam Kesendirian

Oleh Syakir NF

Saya merantau ke ibukota sudah enam tahunan. Selama itu pula, saya masih bisa berlebaran dengan sanak keluarga di kampung halaman. Tentu hal itu patut saya syukuri mengingat masih ada saudara-saudara kita yang tidak bisa merasakan hal yang sama dengan saya, karena alasan sibuk bekerja, studi, ataupun hal lainnya.

Hal terakhir itulah yang diceritakan oleh Umar Kayam dalam cerpennya yang berjudul Lebaran di Karet, di Karet.... Ia, sang tokoh utama, memang punya dua orang anak. Namun, ia memilih berlebaran di Karet. Karet bukan dalam arti sebenarnya. Itu adalah nama sebuah daerah yang terkenal karena tempat pemakamannya, karena stasiunnya. Hal yang pertama itu sampai disebut oleh Chairil Anwar dalam puisinya, Yang Terampas dan Yang Putus (di Karet, di Karet (daerahku y.a.d./yang akan datang) sampai juga deru dingin, Chairil Anwar, Yang Terampas dan Yang Putus dalam Aku Ini Binatang Jalang, hal. 82)

Ya, Is juga berlebaran di pemakaman Karet, tentu saja selepas shalat dan menikmati hidangan yang telah rapi disajikan oleh sepasang suami istri pembantunya. Ia sendiri dari rumahnya berkendara mobil. Ia berkunjung di rumah terakhir Rani, kekasihnya yang telah memberinya dua anak.
 
Ke Karet, ke Karet –tidak ke Jeruk Purut ke tempat Rani –melainkan ke Karet, ke Kareet.... Rani pasti setuju dan senang.
(Umar Kayam, Lebaran di Karet, di Karet...dalam Mata yang Indah, Cerpen Pilihan Kompas 2001, h. 189)

Keberangkatannya sendirian ke sana tanpa disertai anak-anaknya bukan kemauannya. Pasalnya tiga anaknya masih di luar negeri dengan kesibukannya masing-masing. Nana, misalnya, yang mengirim kartu pos bergambar bertuliskan permohonan maafnya dari Geneva tidak bisa balik ke Indonesia karena ada janji buat mengajari ski di Alpen. Untuk ibunya yang di Karet itu, putrinya hanya bertanya keberadaan nisan makam ibunya. Sulungnya, Suryo, yang tinggal di New York malah tidak bisa pulang karena ada janji dengan pacarnya dari Puerto Rico.

Cerita Is menggambarkan betapa kekayaan materi bukanlah segalanya. Meski memiliki rumah besar dan anak-anak yang punya pendidikan yang tinggi, Is seakan masih miskin kasih sayang mengingat dua anaknya yang sibuk dengan dunianya. Idulfitri yang seyogianya menjadi ajang silaturahim tahunan, menjadi hampa tanpa satu anggota keluarga pun yang menyertainya.

Umar Kayam sangat realis dalam mengungkapkan ceritanya. Kita tahu bahwa sastra, kata de Bonald, merupakan ekspresi atas suatu masyarakat. Benar ada tidaknya Is yang nyata saya tidak mengerti. Tetapi, kita perlu tahu bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 menyebutkan kesendirian lansia di Indonesia sudah mencapai 9,80 persen dari keseluruhan lansia yang ada di Indonesia. 14,37 persen perempuan, sedang laki-laki berjumlah 4,75 persen. Persentase di kota berjumlah 9,15 persen, sementara 10,44 persen di desa. Artinya, data tersebut menunjukkan bahwa tak sedikit orang tua kita yang harus menjalani kehidupannya sendiri. Sementara kita anak-anaknya masih alpa menemani, bahkan asik-asikan sendiri.

Oleh karena itu, bagi kita yang masih punya kesempatan mudik dan bertemu dengan keluarga besar, bagi kita yang masih punya keluarga yang sempat mudik dan menemui kita, patutlah kita mensyukuri nikmat yang tak terkira itu. Sebab, belum tentu kebersamaan itu akan terulang lagi di tahun-tahun berikutnya.

Selamat berlebaran bersama keluarga. Bagi yang belum, semoga lebaran berikutnya bisa menikmati indahnya kebersamaan bersama orang-orang tercinta.


Penulis adalah mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta .

Rabu 5 Juni 2019 7:0 WIB
Pantaskah Kita Merayakan Idul Fitri?
Pantaskah Kita Merayakan Idul Fitri?

Oleh: Syakir NF
 
Ramadhan 1440 H tak lama lagi berlalu. Pemerintah melalui Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sudah menetapkan 1 Syawal 1440 H di Indonesia jatuh pada esok, Rabu (5/6). Tentu umat Islam bersedih dengan berita ini mengingat bulan suci akan pergi. Kesedihan itu juga diperparah dengan ketidaktahuan akan kepastian dapat menemuinya di tahun berikutnya.

Masyarakat kita umumnya menyebut hari esok, bukan hari Rabunya atau tanggal 5 Juninya, tetapi 1 Syawal atau Idul Fitri sebagai suatu hari raya, hari yang mestinya dirayakan. Saya kira kita mesti berpikir ulang dengan terma tersebut. Apa memang kita pantas merayakan Idul Fitri? Sementara ghibah masih basah di bibir. Saat puasa, kita tak berhenti mencibir. Siang-siang pun tetap menulis status dan komentar yang satir. Pun terus meneriakkan "Kafir!". Binatang dan isi kakus kerap kali keluar dari mulut tanpa pernah bisa disetir.

Di samping itu, hari Idul Ffitri juga dianggap sebagai suatu hari kemenangan. Pasalnya, kita, umat Islam, katanya, telah berhasil melaksanakan puasa selama sebulan penuh, 30 hari, dari terbit fajar hingga terbenam matahari secara penuh mengalahkan lapar dan dahaga. Iya, itu memang betul. Tapi dari situ, kita perlu merenung lagi. Masihkah kita merasa menang?

Sementara puasa hanyalah penantian dari imsak hingga maghrib datang. Persis seperti sekolah yang hanya menunggu waktu pulang. Tidak ada esensinya sama sekali. Kita tentu paham betul bahwa sekolah itu bukan soal kapan pulang, kapan libur, tetapi bagaimana dapat meraup pelajaran dan ilmu sebanyak mungkin. Ramadhan adalah sekolah yang memberikan waktu untuk kita belajar dan menimba ilmu, melatih diri, dan beribadah dengan baik.

Selain itu, fitri berasal dari bahasa Arab yang berarti suci. Kesucian itu, katanya, diberikan oleh Allah swt kepada kita sebagaimana bayi lahir kembali, bebas dari segala dosa. Nabi pun bersabda, bahwa puasa Ramadhan dapat memberikan ampunan atas dosa-dosa yang telah kita perbuat sebelumnya.

Tapi, coba kita lihat diri kita kembali. Apa benar kita sudah suci? Sementara hati kita belum lepas dari benci, caci, iri, dan dengki kepada orang-orang yang berbeda, baik secara pilihan politik yang sampai saat ini masih memanas, maupun hal lainnya. Dari sini, kita patut menduga pada diri kita pribadi, bahwa kita sebetulnya belum benar-benar mengalahkan ego pribadi. Padahal, Nabi sendiri bersabda usai Perang Badar, bahwa kita harus hijrah dari jihad kecil ke jihad besar, yakni melawan nafsu, ego pribadi.

Mengikuti Markesot sebagaimana ditulis oleh Emha Ainun Najib dalam Markesot Bertutur Lagi, kita rasanya perlu ngelungsungi dan lembur menggarap statistik. Ngelungsungi dalam arti mengganti kulit kehidupan baru. Maksud Markesot, ngelungsungi itu mencoba betul-betul memfitrikan diri, menjadi wajar kembali, mewajarkan keinginan, mewajarkan kebutuhan, mewajarkan konsumsi, mewajarkan sikap hidup, dan apa saja. Biar orang berpakaian baru, alasan pertama Markesot tak berpakaian baru itu karena ia berpandangan pakaian lama yang ia kenakan baru kembali. Bukan hanya ngelungsungi, tapi jiwa kita juga harus suci. Meski kita tahu, waktu menyucikannya harusnya pada 29/30 hari di bulan Ramadan.

Sementara menggarap statistik artinya statistik dosa dan pahala, baik buruk laku, dan benar salah tindakan yang telah kita lakukan selama ini. Dalam arti lain, Idul Fitri menjadi momen bagi kita untuk evaluasi atas sekolah Ramadhan yang telah kita jalani selama sebulan penuh. Kita instrospeksi diri menuju pribadi yang lebih baik di hari-hari berikutnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga kita benar-benar telah kembali ke keadaan suci seperti terlahir kembali ke muka bumi. Bersih tanpa secuilpun noda dosa menempel dalam diri.

Selamat Idul Fitri. Semoga tahun depan dan selanjutnya, kita bisa jumpa lagi agar kita dapat kembali suci karena kita tak lepas dari noda. Selamat! 


Penulis adalah mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG