IMG-LOGO
Daerah

Grebeg Syawal, Sarana Pendekar Pagar Nusa Warisi Ilmu Sunan Kalijaga

Rabu 12 Juni 2019 21:0 WIB
Bagikan:
Grebeg Syawal, Sarana Pendekar Pagar Nusa Warisi Ilmu Sunan Kalijaga
Grebeg Syawal

Klaten, NU Online
Memakai pakaian serba hitam, bersabuk hijau dengan balutan jarik dan ikat kepala, sejumlah pendekar Pagar Nusa mengarak gunungan ketupat acara kirab dalam rangka Grebeg Syawalan Ke-Pitu, di daerah Jimbung, Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (11/6).

Kurang lebih 6 kilometer kirab ini dilaksanakan. Terlihat ada yang mengangkat tandu gunungan, memainkan hadrah dan sisanya ikut mengiring gunungan di belakangnya. Selain pendekar Pagar Nusa, kirab ini juga diikuti oleh abdi dalem lain yang ikut membawa tombak, bendera panji Jabal Ahad, payung dan wayang tokoh Semar.

Rute kirab dimulai dari kediaman Ki Joko Jos Gandos menyusuri jalan menuju komplek pemakaman Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan berlanjut hingga ke Sendang Jimbung. Di Sendang Jimbung dilakukan prosesi doa bersama dan sebar gunungan ketupat. Selepas itu arak-arakan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kediaman Ki Joko.

“Kirab budaya ini wujudnya ziarah kubur dan sebar kupat di Jimbung, ziarah dilakukan di makam Eyang Panembahan Agung, Eyang Panembahan Romo, kemudian menuju gua Jimbung, di sana ditemui bulus jantan yaitu Eyang Kyai Sedowigura dan kemudian dikenal dengan Kyai Poleng, dan yang betina dikenal dengan Nyai Remeng. Daerah itu dinamai Jimbung karena terdapat makam Putri Jimbung,” kata Ki Joko tentang acara grebeg pertama kalinya di daerah Jimbung ini.

Ki Joko mengajak masyarakat Jawa untuk tetap menjaga kebudayaan, karakter serta menjiwai Jawa meskipun telah mempelajari kebudayaan lain. Hal ini sesuai dengan kata bijak “Ojo ninggalne Jowo ! Tetep dadi wong Jowo masio nggarap seng liyo.” (Jangan meninggalkan Jawa. Tetaplah jadi orang Jawa walau mempelajari yang lainnya).

“Untuk disini, kegiatan baru diselenggarakan pertama kali, kelak akan berlangsung sampai terus, turun menurun. Kegiatan ini memang kegiatan yang berpindah-pindah, seperti kemarin dilaksanakan di Eyang Pandanaran, kemudian pindah di sini dan besok juga akan pindah lagi,” tutur Ki Joko yang merupakan Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sekaligus Pangarsa Abdi Dalem Tembayatan 1, 2, dan 3.

Pada rangkaian kegiatan yang berlangsung dari pukul 14.30-17.00 WIB para pendekar Pagar Nusa khususnya dari Padepokan Jabal Ahad memanfaatkan momen ini sebagai sarana mempelajari dan lebih dekat dengan budaya. Semangat hubbul wathan yang tertuang dalam keikutsertaan mereka dikirab budaya ini merupakan wujud cintanya pula pada ajaran Wali Songo.

Nderek koyok ngene iki (Kirab Grebeg Syawal) dadi ngilmu. Kanjeng Sunan Kalijogo niku nasehate namung sederhana “yo tutno aku yen kowe ketemu ngilmumu”. (Kamu ikut jalan di kirab tadi adalah laku nyata, laku prihatinmu untuk mencari ilmu),” pesan Ki Joko yang juga merupakan juru kunci Jimbung kepada puluhan pendekar Pagar Nusa yang hadir. (Arindya/Muhammad Faizin)

Bagikan:
Rabu 12 Juni 2019 23:0 WIB
Lebaran Kupatan Bagi Warga Transmigrasi di Jambi
Lebaran Kupatan Bagi Warga Transmigrasi di Jambi
Keluarga Rusiwan di tanah rantau Jambi, Sumatera
Tebo, NU Online
Lebaran selalu identik dengan pulang kampung atau mudik. Kegiatan tersebut sudah menjadi tradisi rutin masyarakat Indonesia. Namun, hal itu tidak bisa dinikmati bagi sebagian masyarakat Jawa yang merantau di Provinsi Jambi.

Salah satunya, Rusiwan (52), warga Desa Suka Damai, Kecamatan Rimbo Ulu, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi yang sudah pindah ke Jambi sejak tahun 1979 karena ikut program dari pemerintah bernama transmigrasi.

"Saya pindah ke sini modal nekat untuk merubah nasib dan demi masa depan anak turun saya," katanya, Selasa (11/6).

Rusiwan mengaku berasal dari Desa Pegandekan, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Ia juga sudah memiliki istri dari penduduk asli Jambi, menikah sejak 1992 dan memiliki dua putera serta satu puteri.

Lebaran yang dilakukannya di Jambi tak beda jauh dengan tradisi Jawa pada umumnya. Setelah shalat Idul Fitri, seluruh keluarga berdoa bersama dengan cara membaca tahlil, sungkeman dan ramah tamah sesama keluarga dekat.

Selain itu, masyarakat Jawa yang pindah ke Jambi juga menggelar hari raya kupatan dan ditambah dengan mengunjungi tokoh agama setempat untuk meminta doa keberkahan. "Dulu saya ke sini ikut orang lain, Alhamdulilah sekarang sudah mandiri dan punya rumah sendiri," tambahnya.

Ia menambahkan, dua tahun terakhir ini belum bisa pulang ke Pulau Jawa karena terkendala kesibukkan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Rusiwan mengaku sedih tidak bisa mudik ke Purbalingga pada tahun ini. Keluarga di Jawa pun hanya bisa dihubungi lewat telepon dan video call. Rusiwan masih memiliki orang tua dan paman serta sanak saudara di Purbalingga. Tetapi seluruh adiknya sudah ikut pindah ke Sumatera juga, setelah melihat kesuksesan kakaknya di tanah perantauan.

"Dulu di Jawa kita tidak bisa makan dengan lauk ikan, daging, dan tahu tempe. Sekarang lumayanlah mas. Untuk tradisi kaum nahdliyin masih terus kita pertahankan hingga kini," tegasnya.

Di Jambi sendiri masih banyak perantau yang tidak bisa pulang ke kampung halaman karena berbagai alasan. Di Desa Suka Damai terdapat ratusan masyarakat Jawa dari berbagai daerah merayakan lebaran dengan tradisi kental tanah Jawa.

"Di sini penduduknya dari berbagai daerah, banyak yang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Lebaran kita di sini tidak beda jauh dengan di Jawa, ada hari raya kupatan juga," pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz
Rabu 12 Juni 2019 22:0 WIB
Rais PCNU Tegal: Ansor Banser Harus Jaga Akidah Aswaja
Rais PCNU Tegal: Ansor Banser Harus Jaga Akidah Aswaja
Kunjungan Ansor Tegal ke Rais PCNU
Tegal, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, KH Chambali Utsman mengatakan, Gerakan Pemuda Ansor dan Banser harus terus bergerak melakukan langkah langkah manusiawi guna mengamankan Akidah Ahlusunah Waljamaah An-Nahdliyah.

"Sebagai organisasi gerakan, Ansor Banser harus bergerak kepada hal-hal yang positif. Menegakkan kalimat Allah dengan bilhaq, tidak arogansi," tegas KH Chambali.

Hal itu dikatakan saat menerima kunjungan silaturahim jajaran Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Satkorcab Banser, Denwatser, dan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kabupaten Tegal, Selasa (11/6).

Pengasuh Pesantren Al-Abror Lebaksiu itu juga mengingatkan, GP Ansor agar menjaga etika dalam hubungan organisasi secara hirarki. Sehingga organisasi agar berjalan dengan tata dan tertib. "Perlunya etika dalam berorganisasi, etika ahlussunnah Waljamaah, sehingga di lingkungan NU tercipta harmoni hubungan kekeluargaan, dan ini sangat kita butuhkan," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Tegal H Akhmad Wasy'ari menyampaikan apresiasi langkah Gerakan Pemuda Ansor. Ia meminta Ansor dan Banser untuk merapatkan barisan serta mampu merangkul masyarakat yang berseberangan saat Pileg Pilpres lalu.

"Rapatkan barisan Ansor dan Banser. Terus lakukan konsolidasi dan koordinasi sehingga Ansor ke depan tetap eksis dan berwibawa," tandasnya.

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Tegal Didi Permana kepada NU Online, Rabu (12/6) mengatakan, silaturahim dilakukan guna menjaga tradisi NU dan memanfaatkan momentum Idul Fitri 1440 Hijriyah. "Momentum Idul Fitri ini sekaligus kita manfaatkan 'sowan poro sepuh' untuk minta arahan, wejangan, dan nasihat untuk kebesaran Ansor ke depan," ungkapnya.

Sejumlah tokoh NU yang dikunjungi yakni antara lain Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal KH Chambali Utsman, Katib Syuriyah PCNU KH Marsus Syatori, dan Ketua PCNU H Akhmad Wasy'ari. 

Selain jajaran PCNU, sejumlah penasehat PC GP Ansor Kabupaten Tegal yang dikunjungi yakni  mantan Ketua PC Ansor dua periode H Ali Murtadho, mantan Ketua PC Ansor H Muslih, H Nurohman Nasori, A. Firdaus Asyaerozi yang juga Ketua DPRD dan sejumlah tokoh lainnya. (Nurkhasan/Muiz)

Rabu 12 Juni 2019 18:0 WIB
Empat Golongan Manusia di Dunia dan Akhirat. Masuk Manakah Kita?
Empat Golongan Manusia di Dunia dan Akhirat. Masuk Manakah Kita?
Ilustrasi (Ist.)
Pringsewu, NU Online
Setelah melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan, saatnya umat Islam bermuhasabah tentang kualitas ibadah yang dilakukan di bulan suci tersebut.

Secara kuantitas, umat Islam sudah berlomba dengan berbagai ibadah wajib dan sunah. Puasa, shalat, zakat, membaca Qur'an, i'tikaf dan ibadah-ibadah yang sudah dilakukan harus dievaluasi agar di Ramadhan yang akan datang bisa lebih baik lagi.

Ajakan untuk bermuhasabah dan mengevaluasi capaian ibadah selama Ramadhan 1440 H ini disampaikan Mustasyar MWCNU Kecamatan Banyumas, Pringsewu, Lampung KH Halimi Haas pada Halal bi Halal Keluarga Besar Madrasah Aliyah Negeri 1 Pringsewu di kediaman kepala madrasah, H Almadi di Banyumas, Rabu (12/6).

Kiai Halimi mengingatkan, dengan evaluasi ini juga diharapkan umat Islam menjadi manusia yang bisa selamat dan mendapatkan keberuntungan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Menurutnya ada empat golongan manusia yang akan mendapatkan status dalam kehidupan dunia dan akhirat.

"Manusia terbagi menjadi empat kriteria dalam kehidupan dunia dan akhirat yakni untung-buntung, buntung-untung, untung-untung, dan buntung-buntung," jelas Ketua MUI Kecamatan Banyumas ini.

Kriteria pertama yakni untung-buntung adalah kelompok manusia yang mendapatkan kenikmatan dan kesenangan hidup di dunia namun tidak mampu menggunakan kenikmatan tersebut untuk kehidupan abadi di akhirat. Kelompok ini bahagia hidup di dunia namun mendapat kesengsaraan di akhirat.

Terbalik dengan kriteria pertama, kriteria kedua yakni buntung-untung adalah kelompok manusia yang kurang beruntung dalam hal kehidupan di dunia namun mampu mengumpulkan tabungan ibadah dan memiliki modal yang berharga bagi kebahagiaan kehidupan kekal di akhirat.

"Yang paling bahagia adalah ketika kehidupan kita di dunia penuh dengan kebahagiaan dan ridho Allah dan kehidupan akhirat juga kita berbahagia. Inilah kriteria untung-untung yang kita harapkan semua," jelasnya.

Sementara lanjutnya, tidak ada manusia yang ingin menjadi kriteria keempat yakni buntung-buntung di mana kehidupan baik di dunia maupun di akhirat tidak mampu meraih kebahagiaan.

Semua kriteria ini menurutnya adalah pilihan dalam hidup, sehingga perlu ikhtiar untuk meraih kriteria yang terbaik yakni untung-untung dan terhindar dari kriteria yang terburuk yakni buntung-buntung.

"Maka mari evaluasi diri kita pascaramadhan ini, sudah mampukah kita meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah selama ini? Dan termasuk kriteria manakah kita?," tanyanya kepada seluruh yang hadir. (Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG