IMG-LOGO
Internasional

Masa Depan Islam di China

Kamis 13 Juni 2019 9:0 WIB
Bagikan:
Masa Depan Islam di China
Sebuah bangunan masjid di China (foto: Imron Rosyadi Hamid)
Jakarta, NU Online
Pada 2015 lalu National Survey Research Center (NSRC) of the School of Philosopy, Renmin University merilis survei agama di China yang menunjukkan bahwa Islam sebagai agama dengan pemeluk anak muda usia di bawah 30 tahun terbanyak di China, melampaui Budha dan Katolik. Survei ini melibatkan wawancara dari 4.382 situs keagamaan (seperti masjid, kuil, gereja, dan sejenisnya) di 31 wilayah antara 2013 hingga 2015.

Wakil Ketua Tanfidziyah PCINU Tiongkok, Waki Ats Tsaqofi menanggapi, meskipun laporan NSRC dilakukan pada tahun 2015, hal ini menunjukkan bahwa perkembangan Islam di China sangat baik. "Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mampu diterima oleh kalangan muda yang notabene merupakan kalangan yang lebih kritis dan lebih memilih segala sesuatu sesuai dengan keinginan hati," ungkap Waki.
 
Ia menyebutkan Asosiasi Muslim China melakukan kaderisasi calon imam (ahong). Para pemuda jebolan dari sekolah pendidikan keislaman menengah yang ada di beberapa kota di China antara lain di kota Qinghai, Lanzhou, Beijing, Kunming, dan Ningxia diberangkatkan untuk studi lanjut ke Mesir, Pakistan, Libiya, Arab Saudi, dan Malaysia.

Waki menilai dengan langkah tersebut, masa depan Islam di China akan tercerahkan. Namun, sangat disayangkan Asosiasi Muslim China belum memilih Indonesia sebagai tujuan untuk studi lanjut. "Saya berharap pemerintah Indonesia melalui Ditjen Pendis Kemenag RI bisa melalui PBNU bekerjasama dalam hal pendidikan," katanya.

Sebagai timbal balik kerja sama dengan Indonesia, santri Indonesia bisa belajar teknologi atau e-commerce dan sejenisnya di China. Sedangkan pemuda China bisa belajar Islam di Indonesia melalui pesantren atau UIN.

"Karena bagi saya muslim di China membutuhkan mitra sekaligus referensi keberadaan umat Islam yang memiliki pola relasi antara agama dengan negara. Indonesia merupakan jawaban yang tepat," ia beralasan.

Waki mengutip pernyataan Ketua Asosiasi Muslim Chongqing Imam Ismail Ma Yunfeng bahwa Indonesia meskipun bukan negara agama tetapi nilai-nilai Islam diterapkan. Terlebih setelah bertemu Gus Dur di Beijing sekian tahun lalu.

"Jika hal ini dilakukan maka hubungan Indonesia dan China bukan sekadar politik saja akan tetapi juga berkontribusi untuk kepentingan Islam. Apalagi secara tradisi Islam di China sama dengan Islam di Indonesia," tegasnya. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
Kamis 13 Juni 2019 17:0 WIB
Pameran Foto Masjid Nusantara Tarik Atensi Publik Belanda
Pameran Foto Masjid Nusantara Tarik Atensi Publik Belanda

Belanda, NU Online
Pameran foto masjid Nusantara yang digelar PCI (Pengurus Cabang Istimewa) NU Belanda menarik perhatian publik, khususnya para mahasiswa, dosen, dan akademisi. Mereka tidak hanya membicarakan keindahan arsitektur masjid-masjid tersebut  tetapi juga aktif bertanya mengenai sejarah dan perannya terhadap peradaban Indonesia.

Pameran foto hasil kerjasama PCI NU Belanda dengan Alif.id dan Museum Bronbeek Arnhem tersebut mengusung tema The Face of Islam in Indonesia,  dibuka oleh Direktur Eksekutif Universitas Radboud Nijmegen Belanda, Daniel Wigboldus, didampingi Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia,  Din Wahid, pada 12 Juni 2019 waktu setempat.  

Pameran itu menjadi bagian dari Konferensi Internasional Dua Tahunan Kedua tentang Islam Moderat di Indonesia: Mencari  Jalan Tengah (al-Wasathiyya) Artikulasi Islam Moderat di Indonesia. Konferensi internasional yang akan dihelat tanggal 18-21 Juni 2019 tersebut akan menghadirkan pemakalah para akademisi dan pengurus PCI NU dari sejumlah negara (antara lain Tunisia, Sudan, Mesir, Maroko, Perancis, Belgia, Jerman, Australia). Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dan rombongan dari Indonesia juga dijadualkan hadir dalam konferensi bergengsi tersebut.

Sejumlah pengajar di Universitas Radboud menanyakan beberapa hal terkait pameran sejak melihat panitia mempersiapkannya, satu hari menjelang pembukaan. Petugas keamanan pun ikut terlibat menjaga persiapan pameran karena pemasangan foto diselesaikan hingga larut malam. Pada saat persiapan hingga pembukaan pameran, para mahasiswa yang lalu-lalang dan beberapa kandidat doktor yang hendak mempertahankan disertasinya berkenan mampir ke aula pameran dan melihat-lihat foto.

Wigboldus menyambut hangat pameran foto tersebut.  Tempat pameran, yaitu Aula Universitas Radboud Nijmegen Belanda, cukup representatif  dan merupakan jantung universitas, sehingga cukup menyenangkan buat  pengunjung, mulai  dari mahasiswa hingga professor, dan masyarakat umum.

“Semua orang yang datang ke Radboud pasti akan masuk ke aula ini karena ini jantungnya universitas. Kita bisa melihat, kan  banyak orang lalu-lalang di sini. Beberapa hari ini banyak professor mengenakan toga untuk menguji tesis melewati aula ini. Semoga pameran forto ini bisa menarik perhatian lebih banyak orang. Apalagi di luar cuaca sedang hujan begini, orang akan masuk dan melihat-lihat foto,” katanya, disambut tawa hadirin.

Din Wahid juga mengungkapkan kegembiraannya melihat pameran foto ini. Ia menyampaikan satu keunikan Islam di Indonesia yang tergambar melalui masjid, yang sangat jauh berbeda dengan Islam di “jantungnya” Islam yaitu jazirah Arab dan Timur Tengah. Di Indonesia, Islam sudah berbaur dengan lokalitas sehingga bentuk masjid-masjidnya pun berbeda.

“Namun, meski berbeda dengan Islam di Arab atau Timur Tengah, Islam di Indonesia itu valid,” kata Din, yang juga memancing gelak pengunjung.

Penanggung jawab pameran dan konferensi, K Sa’diyah-Broersma yang menjadi pemandu jalannya pameran menjelaskan berbagai hal mengenai keunikan masjid di Indonesia, misalnya tentang beduk, alat pemanggil waktu salat, yang kerap digunakan terutama di desa-desa dan kota-kota kecil. Beberapa perwakilan PCI NU Belanda seperti Ibnu Fikri (Ketua PCI NU Belanda), Fachrizal Afandi (mantan Ketua PCI NU Belanda), Fahrizal Yusuf Affandi (Sekum PCI NU Belanda), dan M Lutfi Fauzi turut menambahkan sejumlah informasi terkait.  Segenap panitia pameran dan konferensi yaitu Afnan, Zaim, Jamilah, Nur Indsah Jazilah, Isnawati Hidayah, juga aktif dan hangat dalam memberikan informasi kepada pengunjung.  (Red: Aryudi AR).








Kamis 13 Juni 2019 16:20 WIB
Tahap Akhir Pemulangan Pekerja Migran Lewat Program Amnesti Yordania
Tahap Akhir Pemulangan Pekerja Migran Lewat Program Amnesti Yordania
Jakarta, NU Online
Pemerintah Indonesia melalui KBRI Amman memfasilitasi kepulangan para pekerja migran Indonesia (PMI) dan 14 anak yang lahir dari PMI yang melakukan hubungan tidak resmi dengan laki-laki warga negara lain, pada hari terakhir masa Amnesti pemerintah Yordania tanggal 11 Juni 2019.
 
Bersamaan dengan ibu dan anak tersebut, juga dipulangkan sejumlah pekerja migran lainnya yang sudah kadaluarsa masa ijin tinggalnya sehingga jumlah total WNI yang dipulangkan dalam kloter terakhir program amnesti berjumlah 49 orang.
 
Dubes RI di Amman, Andy Rachmianto mengatakan pemulangan kali ini merupakan pemulangan tahap keenam atau pemulangan terakhir di masa program amnesti tahun ini.
 
"Dengan pemulangan tahap terakhir ini, KBRI Amman berhasil mengosongkan penghuni penampungan (zero shelter), yang merupakan catatan pertama sepanjang sejarah perlindungan WNI/PMI di Yordania," kata Dubes Andy dalam keterangan persnya, Rabu (12/6).
 
Sejak dua tahun terakhir, KBRI Amman telah berhasil memulangkan 692 orang pekerja migran, termasuk sejumlah anak-anak. Tahun 2019 melalui program amnesti Pemerintah Yordania, KBRI Amman telah berhasil membantu kepulangan 210 orang pekerja migran yang bermasalah dan 14 orang anak-anak yang lahir dari hubungan yang tidak resmi menurut hukum Yordania.
 
Dengan adanya kebijakan Amnesti 2019 ini, KBRI Amman telah berupaya keras agar para pekerja migran ilegal yang memiliki anak dari hubungan tidak resmi ini dapat dibantu pemulangannya dan memperoleh status resminya sebagai WNI.
 
"Pemulangan tahap akhir program amnesti tahun 2019 ini, menandai kejelasan status kewarganegaraan anak-anak para pekerja migran tersebut, setelah sekian lama mereka tidak jelas statusnya" lanjut Dubes Andy.
 
Atase Ketenagakerjaan KBRI Amman Suseno Hadi menambahkan anak-anak tersebut terlahir dari para ibu pekerja migran yang tidak berdokumen. Menurut Suseno, jumlah pekerja migran yang mempunyai anak dari hubungan tidak resmi berjumlah lebih dari 20 orang dengan jumlah anak sekitar tiga puluhan anak.
 
"Para pekerja migran yang memanfaatkan program amnesti untuk pulang ke tanah air ini adalah mereka yang sudah habis masa kontrak kerja dan izin tinggalnya di Yordania dan memaksakan diri bekerja secara illegal," kata Suseno.
 
Menurut data dari Imigrasi Yordania tahun 2019, tercatat masih ada sekitar 1.000 orang yang tidak memiliki izin kerja maupun izin tinggal di Yordania yang membuat rentan perlindungan para pekerja migran.
 
Repatriasi ini adalah upaya negara dalam upaya perlindungan WNI di luar negeri. Sebagaimana disampaikan Tim Satgas KBRI Amman, masalah utama yang dihadapi para PMI yang ikut dalam program amnesti ini adalah ketidakmampuan mereka membayar denda izin tinggal (overstay) yang harus ditanggung.
 
Bagi mereka yang tidak memanfaatkan program ini, denda ijin tinggalnya akan dihitung sejak masa ijin tinggal resminya habis dengan perhitungan 1,5 Jordan Dinnar (sekitar Rp29.500) per hari.
 
Selain itu, mereka yang kabur dari majikannya sebelum masa kontraknya berakhir, sering dikenakan kasus tuduhan pencurian dan kasus melakukan hubungan gelap dengan warga negara asing hingga memiliki anak.
 
Kebijakan Amnesti ini diberlakukan selama enam bulan, terhitung sejak tanggal 12 Desember 2018 dan akan berakhir hari ini tanggal 11 Juni 2019. KBRI Amman telah melakukan berbagai sosialisasi baik dengan pertemuan langsung, melalui telepon, maupun lewat media sosial.
 
Sebagaimana ditegaskan Dubes Andy, program amnesti pemerintah Yordania ini harus dimanfaatkan sebenar-benarnya, karena program ini tidak selalu ada setiap tahun. Untuk itu, bagi semua WNI yang memiliki masalah pelanggaran imigrasi di Yordania harus segera memanfaatkannya.
 
"KBRI Amman menyampaikan terima kasih pada semua pihak dan instansi, baik Yordania dan di tanah air, dalam melaksanakan program amnesti tahun ini, dan berharap pada para PMI yang masih berada di Yordania bisa bekerja kembali dengan resmi sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia," kata Dubes Andy. (Red: Kendi Setiawan)
Rabu 12 Juni 2019 10:35 WIB
PBNU Buka Pendaftaran Beasiswa ke Mesir, Ini Persyaratannya
PBNU Buka Pendaftaran Beasiswa ke Mesir, Ini Persyaratannya
Masjid Universitas Al-Azhar Kairo (framepool.com)

Jakarta, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memanggil kader terbaiknya untuk menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir dengan beasiswa.

Penaggungjawab program Seleksi Beasiswa Universitas Al-Azhar, H Achmad Sudrajat mengatakan, untuk menyaring penerima beasiswa ke Al-Azhar, PBNU membuka pendaftaran melalui email tanggal 10-16 Juni 2019.

"Persyararatan pendaftaran berupa berkas fotokopi ijazah dan transkrip nilai; akta kelahiran asli dan fotokopi; SKCK; surat kesehata yang menyatakan bebas dari AIDS dan hepatitis C," kata Ajat, Rabu (12/6) pagi.

Berkas-berkas tersebut diterjemahkan oleh penerjemah resmi dan tersumpah dalam Bahasa Arab dan dilegalisir oleh Kemenkumham dan Kemenlu.

Selain persyaratan di atas pendaftar juga harus menyerahkan pasport; pasfoto berwarna ukuran 4x6 dengan latar merah dan latar putih masing-masing sebanyak enam lembar; membawa surat rekomendasi  dari PWNU atau PCNU asal pendaftar; dan menulis surat pernyataan sebagai kader NU dan bersedia berkhidmat untuk NU setelah selesai studi.

"Semua persyaratan tersebut dikirimkan melalui email pbnuscholarship@gmail.com paling lambat 16 Juni 2019," lanjut pria yang juga ketua NU Care-LAZISNU ini.

Pengumuman lolos seleksi berkas pada tanggal 23 Juni 2019 melalui situs resmi PBNU NU Online dan nucare.id. Peserta yang dinyatakan lolos pada tahap persyaratan berkas harus mengikuti seleksi ujian tulis dan lisan dengan membawa berkas dalam bentuk hardcopy. Seleksi ujia tulis dan lisan sendiri dijadwalkan 25 Juni 2019 di Gedung PBNU Kramat Raya 164 Jakarta Pusat mulai pukul 09.00 WIB.

Ujian tulis menggunakan Bahasa Arab meliputi Nahwu, Shorof, Balaghah, Imla, Insya', pengetahuan umum, terjemah Bahasa Indonesia ke Arab, serta Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia.

"Sementara untuk ujian lisan menggunakan Bahasa Arab meliputi percakapan, terjemah dan pemahaman teks dengan membaca kitab kuning dan materi kontemporer, serta hafalan Al-Qur'an minimal lima juz," kata Ajat. 

Selain itu, pada saat ujian administrasi, peserta dikenai biaya sebesar Rp250.000 yang dibayarkan pada saat ujian tulis. (Kendi Setiawan)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG