IMG-LOGO
Nasional

Jangan Keliru Menilai Orang Lain: Belajar Sebuah Kisah dari Yaman

Jumat 14 Juni 2019 12:0 WIB
Bagikan:
Jangan Keliru Menilai Orang Lain: Belajar Sebuah Kisah dari Yaman
Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Sebuah kisah inspiratif dituturkan oleh Imam Ibn Qutaibah al-Dinawari (w. 889) dalam kitabnya yang masyhur, Ta'wil Mukhtalif al-Hadits.

Suatu hari, ada serombongan orang dari Yaman yang datang, "sowan" kepada Kanjeng Nabi di Madinah. Mereka adalah "al-Asy'ariyyun", orang-orang yang berasal dari kabilah Banu Asy'ar.

Setelah mereka menghadap Kanjeng Nabi, terjadi percakapan tentang pelbagai hal. Hingga pada suatu titik, salah satu dari para tamu itu berkomentar tentang salah satu dari anggota rombongan mereka.

"Wahai Rasul, tak ada orang setelah panjenengan yang lebih baik dan lebih 'keren' dari si fulan teman kami ini," kata salah satu dari rombongan itu. Dalam riwayat yang dituturkan oleh Ibn Qutaibah, tak disebutkan dengan jelas siapa nama fulan itu.

Lalu orang itu melanjutkan:

"Lha coba njenengan bayangkan. Di siang hari, selama perjalanan kami dari Yaman ke Madinah ini, teman kami ini selalu puasa. Sementara, jika kami berhenti sebentar di sebuah tempat untuk istirahat, dia akan menjalankan shalat terus-menerus sampai kami berangkat lagi," tambahnya.

Demi mendengar ini, Nabi langsung bertanya: "Terus siapa yang bekerja untuk dia, mencukupi kebutuhan dia, atau melayani dia sehari-hari?"

"Kami semua lah yang melayani dia, Kanjeng Nabi," jawab mereka. "Kalau begitu, kalian lebih mulia dari dia," kata Kanjeng Nabi.

Bagi Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) kisah ini menggambarkan kondisi di zaman saat ini di mana ada semacam persepsi yang keliru, seolah-olah orang yang paling baik dalam masyarakat adalah mereka yang shalat dan puasanya paling banyak, paling "mempeng" ibadah.

"Kanjeng Nabi mengoreksi, pandangan seperti itu amatlah keliru," tegas Gus Ulil melalui akun Facebook-nya, Jum'at (14/6).

Dalam pandangan Islam, masih menurut Gus Ulil, melayani orang lain, bekerja untuk memakmurkan dunia, nilainya tak kalah, atau malah melebihi shalat dan puasa sunah yang dilakukan setiap hari dan setiap saat.

"Kisah dari Yaman ini perlu terus kita ingat agar kita tak keliru menilai orang shaleh," pesannya. (Muhammad Faizin)
Bagikan:
Jumat 14 Juni 2019 23:0 WIB
Sarbumusi NU Galang Solidaritas Warga Dunia untuk Pekerja Palestina
Sarbumusi NU Galang Solidaritas Warga Dunia untuk Pekerja Palestina
Syaiful Bahri Anshori di Jenewa Swiss
Jakarta, NU Online
Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Nahdlatul Ulama turut menghadiri pertemuan solidaritas internasional bagi pekerja Palestina yang digelar di Jenewa, Swiss, Kamis (23/6) waktu setempat.

Sebagai negara yang mewakili PBB dalam forum tersebut, Indonesia menggunakan kesempatan berharga itu untuk menggalang solidaritas warga dunia dalam mendukung perjuangan para pekerja Palestina dan kemerdekaan negara itu.

Presiden Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) Syaiful Bahri Anshori mengatakan, Indonesia mendapat kehormatan menjadi satu-satunya negara yang mewakili kelompok pemerintah dalam pertemuan tersebut.

Sebagai Ketua Delegasi Serikat Pekerja Indonesia, Syaiful prihatin atas kondisi para pekerja Palestina di Israel yang mengalami diskriminasi dan pelanggaran hak-hak ketenagakerjaan.

“Kami sangat prihatin atas laporan bahwa para pekerja Palestina di Israel mengalami eksploitasi, diskriminasi, dan berbagai bentuk pelanggaran hak-hak ketenagakerjaan, seperti kondisi tempat kerja yang sangat buruk, kecelakaan kerja, dan pembayaran upah di bawah minimum,” kata Syaiful kepada NU Online, Jumat (14/6).

Syaiful meminta kepada masyarakat internasional untuk bersama-sama mengupayakan agar Israel segera menghentikan tindakan yang tidak manusiawi dan mengakhiri pendudukan ilegalnya atas wilayah Palestina.

Menurutnya, pendudukan ilegal Israel atas Palestina tidak hanya menimbulkan ketakutan bagi warga. Akan tetapi, juga menghambat mobilitas perdagangan dan perekonomian rakyat Palestina.

“Oleh karena itu, kami meminta seluruh masyarakat dunia mengupayakan agar Israel mengakhiri perilaku yang tidak manusiawi terhadap rakyat Palestina,” tegasnya.

Anggota Komisi I DPR RI tersebut meminta ILO terus mendukung Palestina untuk mencapai kehidupan yang layak mengingat semakin bertambahnya jumlah pengangguran di negara itu.

“Kami mendorong agar ILO mendukung tercapainya kesejahteraan rakyat Palestina mengingat mereka mengalami penurunan tingkat partisipasi kerja hingga mencapai 43,5%. Termasuk 10 terendah dari 189 negara di dunia,” tandasnya.

Pertemuan solidaritas internasional bagi pekerja Palestina ini dihadiri oleh Perdana Menteri Palestina Muhammad Shtayyeh, Dirjen International Labour Organization (ILO) Guy Ryder, Menteri Ketenagakerjaan Palestina, Dirjen Arab Labour Organization, dan Perwakilan Serikat Pekerja Indonesia dan pengusaha Palestina, serta para Duta Besar dan delegasi negara-negara anggota PBB. (Ucok Al-Ayubi/Musthofa Asrori)

Jumat 14 Juni 2019 22:0 WIB
Salah Satu Ciri Orang Takwa, Berjalan Hati-hati
Salah Satu Ciri Orang Takwa, Berjalan Hati-hati
Rais PBNU, KH Subhan Makmun (tengah)
Brebes, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Subhan Makmun menjelaskan, melewati Ramadhan maka menginjak bulan Syawal, bulan peningkatan. 

Semasa Ramadhan dituntun oleh Allah SWT menjadi orang yang takwa melalui puasa. Orang beriman yang telah mencapai derajat takwa, di antaranya ketika menjalani kehidupannya selalu berhati-hati. "Puasa pada umat yang dahulu juga ada, tiada lain dengan tujuan untuk mencapai derajat takwa," kata Pengasuh Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes pada Halal Bi Halal dan Pembinaan Mental PNS Brebes, di Pendopo Bupati, Jumat (14/6).

Kiai Subhan menerangkan, dalam tafsir Ibnu Kasir, bahwasanya Sahabat Umar mengambil sikap apa yang harus dilakukan ketika berjalan di jalan yang banyak durinya, tentu bersiaga dan berhati-hati. Kalau orang takwa, cirinya ketika berjalan berhati-hati. Yakni mementingkan keselamatan diri sendiri dan orang lain tidak serampangan, apalagi sembrono.

"Seperti halnya Lebah, ketika hinggap di dahan mana saja, tidak merusaknya," ujarnya memberi contoh.

Dikatakan, seorang mukmin orang yang bertakwa pun demikian, harus pandai mewujudkan kehidupan yang bermanfaat. Khoirunas anfauhum linas, bukan khoirunas anfauhu lahu. Manfaat untuk semua manusia, bukan untuk lahu atau golongannya sendiri saja.

"Sebaik-baik manusia  adalah yang bermanfaat bagi orang lain, Nas itu, majemuk, untuk siapa saja baik itu orang nasrani, hindu, budha dan manusia lainnya,"  tandas Kiai Kharismatik tinggal di Brebes ini.

Bila pemahaman Islamnya dangkal, lanjutnya, tentu akan ada pemaksaan kehendak. Seakan-akan dunia miliknya sendiri, tidak rahmatan lil alamin.

"Orang yang bertakwa akan selalu mendatangkan kebaikan kepada orang lain. Punya ilmu diamalkan ke orang lain, maka ilmu tersebut bermanfaat. Bupati yang menetapkan kebijakan yang mendatangkan kebaikan orang lain, maka bupati bermanfaat. Demikian juga dengan karyawan bila membawa kebaikan kepada orang lain juga artinya kedudukannya bermanfaat," jelasnya.

Kiai Subhan mengungkapkan, kalau halal bi halal tidak menjadi tradisi di zaman Nabi Muhammad. Tetapi pada intinya ada pada saat zaman Rasulullah terbukti Nabi menegaskan kalau kedua muslim berjabat tangan, maka akan diampuni dosa-dosanya kedua orang tersebut. Dan juga tidak boleh ada pertengkaran hingga tiga hari lamanya, termasuk penghormatan kepada tetangga dan kepada tamu-tamu.

"Di Makkah tidak ada takbiran seperti di Indonesia saat Idhul Fitri, di Maroko juga tidak ada malam takbiran. Saudi dan Maroko tidak ada takbiran," paparnya.

Maka jangan bangga dengan Arabnya, karena kebudayaan Islam di Indonesia lebih hebat. Masyarakat Islam Indonesia mampu mengejawantahkan kebudayaan Islam. "Kalau sumber ilmu ada di Makkah, gudang ilmu ada di Mesir sedangkan amaliyah ada di Indonesia," tandas Kiai Subhan.

Contoh lain, muliakanlah tamu, tetapi di Arab tidak ada istilah tamu. Sangat mulia sekali kebudayaan Islam yang ada di Indonesia dalam hal menghormati tamu. Sampai-sampai anak-anak Pramuka yang lagi jambore pun ketika membutuhkan sarana mandi, langsung dipersilahkan oleh masyarakat setempat.

Halal bi halal juga telah dicontohkan Nabi Yusuf ketika mengumpulkan keluarganya di singgasana kerajaan ketika Nabi Yusuf sudah menjadi raja, Meskipun dahulu di dzalimi oleh saudara-saudaranya, namun Nabi Yusuf memberi contoh untuk saling meminta maaf, tidak ada lagi dendam. "Tidak ada saling salah menyalahkan, hari ini mari kita lupakan.  Kita saling maaf memaafkan," ujar Yusuf dengan rendah hatinya.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti memohon maaf lewat halal bi halal di Pendopo. Diharapkan tali silaturahim antara atasan dan bawahan atau pimpinan dengan staf maupun antara staf dengan staf saling maaf dan memberi manfaat sesuai tugas dan kewajibannya masing-masing. (Wasdiun/Muiz)
Jumat 14 Juni 2019 19:30 WIB
Habib Luthfi: Mintalah kepada Allah Rezeki Secukupnya
Habib Luthfi: Mintalah kepada Allah Rezeki Secukupnya
Habib Luthfi di Majelis Jumat Kliwon Pekalongan
Pekalongan, NU Online
Rais 'Aam Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengatakan, jika meminta kepada Allah dalam berdoa, mintalah rezeki yang cukup.

"Minta dicukupi oleh Allah Ta’ala, cukup arti duniawiyahnya, cukup arti ukhrowiyahnya," ujarnya saat menyampaikan taushiyah pada kegiatan rutin di Majelis Jumat Kliwon di Kanzus Sholawat Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (14/6).

Selain mengajak kepada jamaah untuk meminta secukupnya, Habib Luthfi juga mengajak kepada jamaah minta diselamatkan oleh Allah, selamat di dunia ini sampai akhirat nanti. "Jangan lupa minta juga diselamatkan dunia dan akhirat oleh Allah,"  tandasnya.

Habib Luthfi di hadapan puluhan ribu jamaah yang berasal dari berbagai daerah juga mengajak meminta kepada Allah Ta’ala selain iman wal islam, minta diatur hidupnya oleh Allah SWT. Supaya mendapatkan keberuntungan dari dunia ini sampai akherat nanti."Mintalah kepada Allah agar kita tetap dalam iman dan Islam agar mendapatkan keburuntungan dunia dan akhirat kelak," tuturnya.

Rais 'Aam JATMAN yang juga Ketua Forum Ulama Sufi Dunia itu mengajak kepada hadirin untuk tetap taat aturan Allah Ta'ala. "Jika kalian taati segala aturan Allah, maka kalian akan mendapatkan keberuntungan dunia dan akhirat," jelasnya.  

Menurutnya, seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat mesti ridha dan siap untuk menjalani apa yang sudah diatur oleh Allah.

“Orang tersebut, menerima apa yang telah diatur oleh Allah, dengan cara menaati dan bukan dengan menghindarinya. Seperti halnya orang yang sakit, kalau ia mau diatur, Insyallah cepat sembuh. Tetapi kalau dia seenaknya sendiri, pakai aturannya sendiri, ya sulit untuk menemukan dan mendapatkan kesembuhan,” ujar Habib Luthfi.

Dijelaskan, aturan Allah merupakan aturan yang telah disampaikan kepada para nabi dan berlanjut hingga sekarang oleh para ulama. "Dengan menerima aturan tersebut, bahkan ridha, maka semua akan menjadi terasa ringan," ungkapnya.

Pengajian Jumat Kliwon ini merupakan yang perdana diselenggarakan, setelah libur pada bulan Puasa lalu. Ribuan jamaah dari berbagai daerah di Tanah Air ikut hadir dalam pengajian tersebut. 

Sejak malam ribuan jamaah sudah berdatangan untuk mengikuti Pengajian Majelis Ta'lim dan Dzikir Az-Zahir yang diasuh salah satu menantunya, yakni Habib Zaenal Abidin Assegaf, sedangkan paginya diisi dengan dzikir dan shalawat yang dipimpin langsung Habib Luthfi bin Yahya diteruskan dengan taushiyah dan ditutup dengan musafahah. (Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG