IMG-LOGO
Daerah

Ketika Santri Bertemu Kiai, Jabatan Tak Jadi Ukuran

Jumat 14 Juni 2019 22:30 WIB
Bagikan:
Ketika Santri Bertemu Kiai, Jabatan Tak Jadi Ukuran
Wakil Gubernur Lampung Mencium Tangan Bupati Pringsewu

Bandarlampung, NU Online
Jabatan boleh tinggi. Namun soal adabiyah selalu ia junjung lebih tinggi. Dialah Mbak Nunik, sosok Wagub Santri. Demikianlah komentar salah satu warganet melihat betapa nilai-nilai kesantrian yang sangat kentara pada foto Wakil Gubernur Lampung Chusnunia (Nunik) saat bertemu dengan Bupati Pringsewu, Lampung KH Sujadi.

Saat penyambutan resmi Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung yang baru saja dilantik oleh Presiden Jokowi di Istana Negara Jakarta, Rabu (12/6), nampak Nunik membungkukkan badan dan mencium tangan Bupati Pringsewu yang yang secara jabatan struktural berada di bawahnya.

Walaupun secara struktural, posisi wakil gubernur lebih tinggi dari seorang Bupati namun kader NU Lampung kelahiran Lampung Timur, 12 juli 1982 ini begitu menjunjung tinggi adab yang diajarkan dan didapatnya dari Pesantren Alhidayat, Lasem Rembang, dan Pesantren Al Ishom, Mayong, Jepara, Jawa Tengah.


Foto: Pelantikan gubernur dan wakil gubernur Lampung di Istana Merdeka oleh Presiden RI

KH Sujadi dan Mbak Nunik adalah dua kader NU yang saat ini mampu tampil memimpin di panggung politik Provinsi Lampung. Keduanya mampu menunjukkan bahwa seorang santri mampu memimpin dan memberi kemaslahatan bagi masyarakat.

KH Sujadi yang saat ini menjadi Wakil Ketua PWNU Lampung merupakan santri dan politisi senior serta berpengalaman menduduki jabatan publik. Karirnya diawali dari Anggota DPD/MPR RI Periode 2004 - 2009, Wakil Bupati Tanggamus 2008 - 2011, dan Bupati Pringsewu selama dua periode sampai dengan saat ini.

Pria kelahiran Bantir, Temanggung, Jawa Tengah 10 Juni 1960 ini merupakan alumni dari Pondok Pesantren Al- Asy'ariyah Kalibeber Wonosobo. Selain menjadi bupati, pria yang akrab disapa Abah Sujadi ini juga mengasuh pondok pesantren di kediamannya yang diberi nama Pesantren Nurul Ummah.

Sementara dikutip dari chusnunia.com, Mbak Nunik merupakan kader NU Milenial yang 'moncer' di dunia politik. Karirnya diawali pada 2004, dengan bergabung menjadi kader dan staf dari PKB di Jawa Tengah. Ia mendapat kepercayaan menjadi Kepala Administrasi dan Keuangan dari Fraksi PKB di DPRD Provinsi Jawa Tengah (2004-2005). Karena kinerjanya yang baik, Nunik diminta untuk menjadi staf di DPP PKB di Jakarta (2005-2008).


Foto: Mbak Nunik bersama KH Sujadi pada Harlah Muslimat di GBK tahun 2019

Putri dari KH Abdul Halim dan Kholisoh juga sempat menjadi Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan dipercaya menjadi Koordinator Zona di Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal.

Prestasinya ini mampu menghantarkannya menjadi anggota DPR RI selama dua periode yakni 2009-2014 dan 2014-2019 dari Partai Kebangkitan Bangsa dan didaulat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB periode 2009-2014.

Selanjutnya, karir alumni S-2 Ilmu Politik Universitas Nasional dilanjut menjadi Bupati Lampung Timur. Baru dua tahun menjabat, pada 2018 ia mendampingi Arinal Djunaedi berkontestasi pada Pilgub Lampung 2018. Akhirnya ia terpilih menjadi Wakil Gubernur Lampung periode 2019-2024.

Harapan besar diberikan dipundak Mbak Nunik di antaranya dari Ketua PWNU Lampung, Prof. Muhammad Mukri. “Kalau dilihat dari sisi usia, Pak Arinal sudah matang dan Nunik yang milenial. Mereka sudah saling melengkapi. Lalu, dari jenis kelamin mereka berbeda, dan dari sisi parpol yang mengusung juga beragam. Artinya, saya yakin mereka akan kompak dan punya komitmen untuk berjuang bersama,” ungkapnya.

Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung ini berharap Mbak Nunik mampu mampu berkolaborasi dengan Arinal membawa Provinsi Lampung menjadi lebih baik lagi ke depan melalui sinergitas dengan berbagai elemen dan pihak.

Pengalaman Nunik selama ini diharapkan mampu meramu langkah terbaik untuk kemajuan Sang Bumi Ruwa Jurai ini. Keamanan daerah dan kondusivitas harus terjamin sehimgga potensi pembangunan berkembang pesat akan mudah dicapai. (Muhammad Faizin)

Bagikan:
Jumat 14 Juni 2019 21:30 WIB
NU Lombok Tengah: Semangat Positif Dapat Membangun Daerah
NU Lombok Tengah: Semangat Positif Dapat Membangun Daerah
Ketua PCNU Lombok Tengah, NTB (foto: ilustrasi)
Lombok Tengah, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lombok Tenngah, Nusa Tenggara Barat (NTB) H Lalu Fathul Bahri mengatakan, semangat positif yang kita miliki bisa menjadi pendorong untuk membangun dan memajukan daerah. Oleh karena itu dirinya meminta kepada seluruh masyarakat Lombok Tengah memiliki semangat positif.

"Semangat positif untuk bersama-sama membangun demi memajukan daerah. Dan Halal bi halal ini tentu sungguh sangat mulia," ujarnya saat menghadiri gelaran halal bi halal dan Reuni Akbar di Pesantren NU Qamarul Huda Bagu, Lombok Tengah, Kamis (13/6).

Mamik Hul sapaan akrabnya Ketua PCNU yang juga Wakil Bupati Lombok Tengah mengajak saling maaf memaafkan dan mengajak berpikir positif.  "Atas nama Pemda Lombok Tengah, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya terutama kepada Pembina dan Pengasuh Pesantren Qamarul Huda Bagu TGH Turmudzi Badarudin atas penyelenggaraan kegiatan tahunan ini," ungkapnya.

Pada momen halal bi halal tersebut dirinya juga mengajak saling maaf memaafkan karena mungkin pernah terjadi perbedaan cara berfikir ataupun beda pilihan. "Mari kita satukan semangat positif untuk bersama-sama membangun demi kemajuan daerah kita Lombok Tengah," pungkasnya.

Ketua Yayasan Pesantren Qamarul Huda Bagu, HL Azhari mengatakan,  kegiatan Reuni Akbar & Halal Bi Halal Alumni Yayasan Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu rutin dilaksanakan setiap 09 Syawal. Hal tersebut merupakan tradisi untuk menyambung silaturrahim. Oleh karena itu dalam rangka memperkokoh silaturrahim, pihaknya mengajak kepada seluruh alumni untuk membentuk Wadah serta dapat memprogramkan kegiatan pertemuan atau musyawarah.

”Saya juga sampaikan saat ini di Universitas Qamarul Huda Bagu juga telah dibuka S2 Kesehatan oleh Menristekdikti RI,” ungkapnya.

Gubernur NTB yang diwakili Kepala Biro Kesra Setda NTB Ahmad Mashuri menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan kali ini. ”Kami menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin kepada seluruh yang hadir dalam kesempatan kali ini.

Kegiatan Halal Bi Halan dan Reuni Alumni adalah sarana yang tepat untuk menjalin silaturrahim guna memperkokoh persatuan.

"Silaturrahim adalah anjuran agama, mari kita manfaatkan kesempatan yang baik ini untuk memperkokoh pesatuan dan kesatuan untuk kemajuan Lombok Tengah dan jangan lupa menyerahkan anak cucu kita menjadi santri, siswa, mahasiswa di Yayasan Pesantren Qamarul Huda Bagu," ajaknya.

Ke depannya di dalam menghadapi tantangan, maka dari pihak Pemerintah Provinsi NTB sangat berharap kepada semua pihak untuk tetap melaksanakan kegiatan seperti ini.

Dalam kegiatan tersebut hadir juga Pengasuh Pesantren Qamarul Huda Bagu yang juga Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB TGH Lalu M Turmudzi Badarudin yang juga memimpin Doa. Hadir pula Rais Syuriyah PCNU Lombong Tengah TGH Ma'rif Makmun Diranse, Ketua PWNU NTB TGH Masnun Thahir, dan Sekretaris PWNU NTB L Aksar Ansori.

Selain itu, perwakilan Gubernur NTB juga tampak hadir, Kapolres Lombok Tengah AKBP Budi Santosa, Dandim 1620/WB Letkol Czi Prastiwanto, para tuan guru, para alumni dan ribuan jamaah serta masyarakat setempat. (Hadi/Muiz)
Jumat 14 Juni 2019 20:30 WIB
Setengah Abad Lebih, Ngaji Tafsir di Serambi Masjid Ini Tetap Lestari
Setengah Abad Lebih, Ngaji Tafsir di Serambi Masjid Ini Tetap Lestari
Ngaji di Serambi Masjid Riyadlussholihin Margodadi

Tanggamus, NU Online
Hawa sejuk menyergap siang itu di kawasan kaki Gunung Tanggamus, Lampung. Serambi masjid Riyadusshalihin Desa Margodadi sudah dipenuhi jama'ah dari berbagai desa di Kecamatan Sumberejo.

Di sinilah Ngaji Tafsir Al-Qur'an yang dilaksanakan setiap ba'da shalat Jum'at sampai dengan shalat Ashar telah berlangsung lebih dari setengah abad.

Adalah KH Ma'ruf, seorang tokoh agama setempat yang telah merintis majelis ilmu itu sejak tahun 60-an. Selain majelis tersebut, KH Ma'ruf juga menjadi tokoh berdirinya pendidikan formal di komplek masjid tersebut yakni MTs dan MA Al-Ma'ruf Margodadi.


Foto: Alm. KH Ma'ruf (kanan) bersama KH Maimun Zubair saat hadir di Pesantren API Bahrul Ulum tahun 1993


Saat ini majelis tafsir tersebut diasuh oleh putra pertamanya KH Nasrudin setelah pada tahun 1997, KH Ma'ruf dipanggil Allah SWT.

"Saya tidak tahu pasti tahun dimulainya ngaji tafsir di serambi masjid ini. Tapi seingat saya, sebelum saya berangkat ke pesantren di Jawa Timur tahun 1970, ngaji tafsir ini sudah dimulai oleh almarhum," kata Kiai Nasrudin, Jum'at (14/6).

Kiai Nasrudin mengisahkan bahwa ayahandanya berpesan agar majelis tersebut terus dilanjutkan sebagai ladang ibadah sekaligus wahana masyarakat untuk lebih memahami makna yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur'an.

Ia selalu mengingat pesan KH Ma'ruf kepada dirinya untuk melakukan segala sesuatu karena Allah SWT. "Jangan kamu mengharapkan sanjungan dari orang. Apa yang kamu lakukan itulah yang akan kamu dapatkan," kata Kiai Nasrudin mengingat pesan ayahandanya.


Foto: KH Nasruddin

Salah satu santri majelis tersebut, H Musliman mengatakan bahwa majelis seperti ini merupakan majelis yang penuh keberkahan karena mampu dilakukan secara istiqomah lebih dari 50 tahun. Ia berharap majelis ini istiqomah dilaksanakan sampai yaumil qiyamah.

"Terima kasih kepada KH Ma'ruf yang telah mendirikan majelis ini, semoga Allah SWT menjadikan ini sebagai amal ibadah yang terus mengalir sampai kehidupan akhirat dan semoga putra KH Ma'ruf mampu istiqomah melanjutkan perjuangannya," harapnya.

Walaupun bukan lembaga resmi, majelis ini mampu mewarnai suasana agamis di Desa Margodadi yang memang kental dengan nuansa agamisnya. Disamping majelis pengajian ini, di Margodadi juga terdapat beberapa pesantren baik putra maupun putri di antaranya Pondok Pesantren API Bahrul Ulum dan Pesantren Al Falah.

Masjid Riyadussholihin menjadi tempat para santri melaksanakan shalat Jum'at karena memang Lokasi yang berdekatan.

Di temui NU Online Kiai Nasrudin mengatakan, setiap bulan Syawal para jama'ah dan keluarga besar KH Ma'ruf melaksanakan Haul sekaligus pengajian pembuka setelah libur pada Bulan Ramadhan.


Foto: Makam KH Ma'ruf dan Istri

"Pada setiap haul KH Ma'ruf, para jama'ah melaksanakan ziarah ke makam beliau," katanya saat Haul ke-22 tahun ini.

Para santri yang rata-rata berumur 40 tahun ke atas ini nampak khusyuk membaca tahlil dan do'a di makam yang terletak tepat di sebelah barat masjid tersebut mendoakan Almarhum KH Ma'ruf yang berkat perjuangannya majelis ngaji tafsir dan syiar Islam di daerah tersebut terus lestari. (Muhammad Faizin)

Jumat 14 Juni 2019 20:0 WIB
Dua Nikmat yang Paling Utama
Dua Nikmat yang Paling Utama
Grup hadrah mengisi pengajian rutin NU Taraban, Jumat (14/6)
Brebes, NU Online
Pengurus Ranting NU Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah kembali melaksanakan pengajian rutinan Jumat (14/6) siang. Pengajian kali ini diisi oleh KH Abdul Wahab. Ia antara lain menyampaikan adanya dua nikmat, yakni nikmat sehat dan sempat.

"Nikmat sehat merupakan nikmat yang paling utama dibanding nikmat sempat. Pasalnya nikmat sehat kita bisa melakukan ibadah apa saja dengan khusuk. Termasuk menikmati hidangan lebaran," katanya.

Di sisi lain KH Abdul Wahab juga menyampaikan tentang nikmat sempat. "Sehat saja masih kurang. Banyak orang yang diberi nikmat tapi tidak digunakan untuk ibadah seperti di bulan Puasa kemarin. Banyak orang lebih memilih tidur dibanding memperbanyak membaca Al-Qur'an," tutur Kiai Abdul Wahab. 

Ia pun berpesan kepada para jamaah untuk menjaga nikmat dan menggunakannya dengan sebaik mungkin. "Karena nikmat sehat dan sempat adalah salah satu nikmat yang besar yang diberikan oleh Allah Swt. Maka selayaknya manusia untuk selalu bersyukur dengan cara menggunakan nikmat tersebut untuk berbuat baik," tegasnya.

Kegiatan rutin sebulan sekali yang dilaksanakan oleh pengurus ranting NU dilakukan dengan cara bergilir antardusun di Desa Taraban. Untuk kali ini pengajian NU dilaksanakan di Dusun Igirbatu. Kegiatan yang sudah berlangsung sekitar enam tahun lalu menjadi tradisi masyarakat yang tidak bisa ditinggalkan. 

Ketua pelaksana pengajian, Slamet menyampaikan dengan adanya pengajian tersebut agar mendapatkan ridha  Allah Swt dan diakui sebagai umat Nabi Muhammad Saw. "Karena kegiatan pengajian NU sebagai wujud untuk mengharap barokah dan diakuinya sebagai santrinya Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy'ari," ungkapnya. 

Hal senada disampaikan oleh KH Mahrus Ali selaku Katib Aam MWCNU Peguyangan dalam sambutannya. "Untuk itu mari kita jaga dan menghidupi tardisi-tradisi amaliah NU agar kita diakui sebagai santrinya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.

KH Mahrus Ali juga menyampaikan agar jamaah dapat menjaga persatuan antardusun. "Mari kita jaga persatuan dan kesatuan antardusun. Dengan kita bersatu, Desa Taraban bisa makmur dan maju," ungkapnya.

Di Brebes, seperti di beberapa kabupaten lainnya di Jawa Tengah, tidak lama lagi akan digelar pemilihan kepala desa. Ia berharap jangan sampai masyarakat terpecah gara-gara beda pilihan kepala desa. "Pilihan boleh beda tapi persatuan harus diutamakan," imbaunya. (Erik Alga Lesmana/Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG