IMG-LOGO
Daerah

Akibat Salah Paham Sayyidina Umar Marah pada Hudzaifah

Sabtu 15 Juni 2019 17:30 WIB
Bagikan:
Akibat Salah Paham Sayyidina Umar  Marah pada Hudzaifah

Jakarta, NU Online
Kesalahpahaman sering kali melahirkan ketegangan, bahkan permusuhan. Tidak sedikit kiai yang menjadi korban kesalahpahaman informasi. Akibatnya mereka dibenci begitu rupa hanya karena adanya salah paham karena informasi yang terputus.

Menurut Ketua PBNU, KH Marsudi Syuhud, peristiwa kesalahpahaman pernah terjadi di zaman sahabat Nabi Muhammad SAW. Bahkan yang terlibat dalam masalah itu adalah Umar bin Khatab dan Hudzaifah bin Yaman yang tidak lain adalah orang pilihan yang memiliki keimanan tinggi. Keduanya berselisih paham karena pernyataan Hudzaifah yang tidak dibarengi dengan penjelasan utuh dari perkataanya itu. 

"Cerita kalam Hudzaifah atau ungkapan Hudzaifah  ini diceritakan oleh sahabat Umar bin Khattab,  bahwa ia pernah bertemu dengan Hudzaifah. Waktu itu Umar bertanya dengan ungkapan 'apa kabar, 'bagaimana keadaanmu sekarang'. Hudaziafah malah menjawab pernyataan yang belum bisa dipahami, yakni 'Aku sekarang mencintai fitnah dan aku sekarang membenci hal hal yang benar'," kata Kiai Marsudi kepada NU Online di Jakarta, Sabtu (15/6).

Pernyataan Hudzaifah itu, tentu akan menggegerkan umat Muslim jika tidak dibarengi dengan penjelasan yang lengkap. Karena kalimat tersebut adalah statmen potongan yang tidak diikuti dengan penjelasan utuh.  

"Statmen kedua yang mencengangkan 'aku solat tanpa wudhu' dan statmen ketiga yakni 'saya mempunyai sesuatu dimuka bumi tetapi Allah tidak'," tuturnya.

Mendengar perkataan dari Hudzaifah itu, Umar bin Khatab sangat marah. Ia lantas mempertanyakan apa maksud dari kata-kata sahabatnya itu.

"Aku ingin tahu jawaban yang benar sekarang, karena pernyataan sepotong ini akan memunculkan kesalahpahaman," kata Kiai Marsudi menirukan pernyataan Umar kepada Hudzaifah dalam cerita.

Di tengah kemarahan Umar bin Khatab lalu datang Ali bin Abi Thalib. Dia bertanya kepada Umar bin Khatab mengapa terlihat marah kepada sahabat Hudzaifah. Setelah mengetahui penyebabnya adalah soal pernyataan Hudzaifah, kemudian Ali bin Abi Thalib ikut memberikan penjelasan.

"Ya Umar, kata Ali bin Abi Thalib, ketika Hudzaifah mengatakan mencintai fitnah, maksudnya adalah harta dan anak. Itu adalah sebuah fitnah, sementara Hudzaifah memiliki  anak dan istri yang sangat disenangi Hudazifah. Jadi tidak mencengangkan kalau kita memahami dengan sempurna, pernyataan Hudzaifah berdasarkan dalil innama amwaluhum wa auladuhum fitnah," tutur Kiai Marsudi Syuhud.

Kemudian, lanjut KH Marsudi, soal pernyataan 'benci kepada sesuatu yang benar' maksudnya Hudzaifah membenci kematian. Sementara mati adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi.

"Sedangkan Shalat dengan tanpa wudlu, maksudnya  beliau (Hudzaifah) adalah membaca shlawat kepada nabi setiap waktu. Karena hanya membaca shalawat maka tidak harus wudhu," ujar Kiai Syuhud menirukan jawaban Ali untuk Umar.

Sementara penjelasan kalimat 'Allah tidak mempunyai sesuatu di muka bumi seperti yang dimiliki oleh Hudzaifah', menurut Ali bin Abi Thalib yakni Hudzaifah mempunyai anak dan istri sedangkan Allah tidak, karena Allah tidak beranak dan tidak diperanakan.

"Mendengar penjelasan Ali itu, Umar menerima dengan lapang dada, ia mengetahui maksud pernyaataan dari sahabatnya itu. Ketiganyapun hidup rukun sebagai sahabat yang beriman kepada Allah swt," ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori/Aryudi AR).
 
 

Bagikan:
Sabtu 15 Juni 2019 22:0 WIB
Bantuan untuk Lembaga Pendidikan Harus Diterima Utuh
Bantuan untuk Lembaga Pendidikan Harus Diterima Utuh
Rais Aam di depan kantor PCNU Jombang.
Jombang, NU Online
Sebenarnya banyak bantuan dana dan barang yang diberikan kepada lembaga pendidikan. Namun tidak sedikit oknum yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan. Madrasah dan pesantren harus berani menolak bila mendapati modus  seperti ini.

Penegasan disampaikan KH Salmanuddin Yazid saat menerima sejumlah tamu di kediamannya, Pondok Pesantren Babussalam, Kalibening, Mojoagung, Jombang, Jawa Timur.

“Kalau ada yang menawari bantuan, hendaknya seluruh dana dapar diterima secara utuh tanpa ada yag dipotong,” kata Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang ini, Jumat (14/6).

Gus Salman, sapaan akrabnya mengemukakan bahwa selama ini kerap terdengar dan bahkan menjadi rahasia umum kalau menerima bantuan dana, maka akan dipotong dengan alasan tertentu.

“Lembaga pendidikan itu bukan perusahaan yang bisa menerima bantuan dengan kompensasi ada pengurangan dari ketentuan yang telah diputuskan,” tegasnya.

Karenanya, alumnus Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang ini mengajak para pengelola lembaga untuk menolak tawaran bantuan dari siapa pun yang justru akan melakukan pengurangan bantuan. 

“Lebih baik ditolak, karena itu tidak dibenarkan serta jauh dari keberkahan,” tegasnya.

Mantan Ketua Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jombang tersebut menceritakan pernah mengalami peristiwa tersebut. “Dari salah satu kementerian, namun saya tolak lantaran dana tidak sesuai dengan jumlah yang tertera dalam surat yang ada,” ungkapnya.

Hal itu pula yang hingga kini dipegangnya. “Siapa saja yang menawari bantuan dengan skema harus lewat pemotongan dana, maka pasti akan saya tolak,” urainya.

Dalam pandangannya, di samping masalah legalitas, yang harus diingat adalah perilaku mengurangi dana bantuan sebagai tindakan tidak berkah. “Pasti tidak akan barokah karena yang diterima tidak sesuai dengan jumlah yang ada,” katanya.

Konsistensi itu pula yang diberlakukan Gus Salam untuk PCNU di Jombang. “Tidak hanya untuk pesantren dan madrasah yang ada di sini, di NU juga saya berlakukan hal yang sama,” jelasnya kepada sejumlah tamu yang memadati kediamannya.

Menurutnya, menerima bantuan dari berbagai kalangan tidak salah. Namun yang hendaknya diperhatikan adalah ketegasan diri untuk menolak berbagai penyimpangan, termasuk bantuan yang akan diterima.

Apalagi tindakan menoleransi pengurangan bantuan adalah perilaku salah. “Ujungnya juga akan berhubungan dengan penegak hukum,” tandasnya. (Ibnu Nawawi)




Sabtu 15 Juni 2019 21:0 WIB
Proses Hukum Penghina NU Tetap Jalan Meski Ada Tawaran Damai
Proses Hukum Penghina NU Tetap Jalan Meski Ada Tawaran Damai
Ma'ruf Syah (berjas) dan KH Nuruddin A Rahman.
Surabaya, NU Online
Kebebasan yang dijamin undang-undang hendaknya tidak dimaknai boleh melakukan apa saja. Bahwa ada koridor dan ketentuan yang juga harus dipatuhi sehingga kebebasan dapat dipertanggungjawabkan.

Penegasan ini disampaikan Ma’ruf Syah usai memberikan keterangan dalam sidang lanjutan dugaan kasus pencemaran nama baik terhadap Nahdlatul Ulama oleh Sugi Nur Raharja di Pengadilan Negeri Surabaya.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengemukakan ada sejumlah kalimat yang telah disampaikan pada persidangan yang mendapat pengawalan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) tersebut. Khususnya kalimat yang tidak pantas diucapkan.

"Maaf saya tidak bisa memyebutkan kata-katanya di sini, karena agak jorok. Oleh karena itu apa yang saya sampaikan dengan kiai tadi, oleh Sugi tidak dibantah dan diakui. Artinya tidak keberatan dan keterangan kami sudah benar," katanya, Sabtu (15/6).

Mengapa hal tersebut dilaporkan? Menurut dosen tetap Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) itu, ada sejumlah alasan sehingga yang bersangkutan dilaporkan.

“Pertama, kalau ini tidak dilaporkan seakan-akan membenarkan bahwa generasi NU jelek seperti itu,” kata doktor hukum alumnus Universitas Airlangga Surabaya tersebut. 

Sedangkan alasan kedua bahwa ini menjadi pendidikan yang jelek bagi generasi muda ketika melihat tampilan di akun itu, seakan-akan menjadi pendidikan kurang baik. "Padahal anak-anak kita dididik dengan cara-cara akhlakul karimah," tegasnya. Dengan model ceramah yang disampaikan Gus Nur itu, seakan-akan bahwa yang dikatakan benar, lanjutnya. 

Sementara saat disinggung tentang damai, mantan Ketua Lembaga Perlindungan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama Jawa Timur ini menyatakan akan menerima jika Gus Nur meminta damai. "Damai kita terima. Tapi proses hukum kan tetap jalan. Proses hukum tidak mempengaruhi perdamaian ini," ujarnya.

Wakil Rais PWNU Jatim, KH M Nuruddin A Rahman mengatakan, sebagai orang NU baik struktural maupun kultural hanya mengucap istighfar. Ia pun menanyakan kenapa seorang pendai bisa berbicara tidak sopan seperti itu.

"Saya sebagai orang NU hanya mengucap astaghfirullahal adzim.Mestinya dai itu adalah cara yang terbaik untuk menarik umat. Oleh sebab itu atas nama kawan-kawan, orang tua, kiai-kai ada di situ disebut mana kiai, saya hanya mengelus dada," ujarnya.

"Kenapa harus begitu. Saya orang Majelis Ulama Indonesia, Pengurus NU Jatim, hanya mengelus dada. Kenapa ada generasi muda yang sekeras ini. Kalau dibiarkan, ini bahaya bagi negera. Dapat dikatakan Islam itu keras, Islam radikal. Padahal kan tidak seperti itu," ungkapnya.

Oleh karena itu, dirinya bersedia menjadi saksi supaya Sugi ke depannya bisa sadar. "Jangan diteruskan cara dakwah begitu. Bahaya. Karena hal itu akan membuat orang bertengkar. Itu ada kata-kata kalau lu jual saya beli. Itu kalau orang Madura, ajek carok. Bahaya itu. Semoga dia sadar," terangnya.

Meski begitu, pihaknya menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwenang. "Apa mau dihukum atau bagaimana terserah. Pokoknya dia jera, jangan begitulah tidak baik. Dia bilang Islam. Kan kasihan orang-orang yang mondok lama-lama, orang alim yang ahli baca kitab kasihan dirusak oleh orang seperti itu yang tidak pernah mondok dan tidak mengerti betul tentang agama," tegasnya.

Sementara itu Gus Nur mengaku tidak menutup kemungkinan akan melakukan perdamaian dengan Nahdlatul Ulama. "Insyaallah selalu ada, Dilihat nantilah," ucapnya singkat sembari menuju ke mobil. 

Sugi Nur Raharja alias Gus Nur didakwa melanggar Pasal 27 ayat (3) UU No. 19 tahun 2016 tentang juncto pasal 45 ayat (3) tentang UU ITE setelah mengunggah video yang dinilai menghina Nahdlatul Ulama dan Barisan Ansor Serbaguna atau Banser. 

"Terdakwa mengunggah video dengan judul (akun) 'Generasi Muda NU penjilat', dalam video tersebut terdakwa melontarkan makian," kata JPU Basuki, beberapa waktu berselang. Kemudian, lanjut Basuki, rekaman video tersebut masuk dalam grup WhatsApp PWNU Jatim pada 12 September 2018 dan dilihat oleh saksi, Ma’ruf Syah. (Moh Kholidun/Ibnu Nawawi)

Sabtu 15 Juni 2019 20:0 WIB
Kurangi Debat di Medsos, Saatnya Dokumentasikan Pemikiran Ulama
Kurangi Debat di Medsos, Saatnya Dokumentasikan Pemikiran Ulama
Blitar, NU Online
Dalam menghadapi tantangan yang kian berat, warga NU khususnya oara sarjana dituntut mampu memperkuat literasi dan dokumentasi. Nahdliyin tidak boleh terjebak dalam arus perkembangan isu media sosial (Medsos) yang kadang tidak menentu.

“Warga NU hendaknya tetap melakukan pendokumentasian pemikiran para ulama dan kiai lewat media cetak, termasuk buku. Karena itu lebih abadi daripada hanya merespons melalui Medsos,” kata H Imam Kusnin Ahmad, Sabtu (15/6).

Penegasan ini disampaikan Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Blitar, Jawa Timur tersebut saat menjadi pembicara tunggal pada acara halal bi halal  dengan remaja se-Udanawu bertema ‘Peran Medsos dalam Pembangunan Daerah’.

Menurut Kusnin, kegiatan literasi dan dokumentasi merupakan salah satu solusi dalam menghadapi tantangan perkembangan media sosial sekarang ini. Apalagi isu yang berkembang di Medsos sering kali belum jelas kebenarannya. 

“Jangan larut dengan gegap gempita Medsos.Lebih baik kita tulis buku seperti yang dilakukan ISNU Kabupaten Blitar dengan membuat buku biografi KH Yasin Yusuf dan sudah siap dibedah,” ungkapnya.

Hal ini, lanjut mantan Komandan Banser Jatim ini akan lebih bermanfaat kalau mulai diupayakan membukukan pidato dan pandangan para kiai yang selama ini kian jarang dilakukan. “Padahal kalau ini digarap serius, kita kaya narasi yang mencerahkan,” urainya.


H Imam Kusnin Ahmad (kanan) bersama remaja se-Udanawu, Kabupaten Blitar.

Kusnin menyampaikan  bahwa kegiatan literasi merupakan tugas bersama. “Khususnya sehabat ISNU, IPNU,PMII, LTNU dan lainnya. Ada banyak ruang kosong yang harus diisi untuk memperkaya literasi,”  ujarnya.

Pada kesempatan itu, Kusnin juga menyampaikan kalaupun harus berkomunikasi lewat layanan Medsos, para penggunanya hendaknya saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi, networking, dan berbagai kegiatan lain. 

“Medsos mengunakan teknologi berbasis website atau aplikasi yang dapat mengubah suatu komunikasi ke dalam bentuk dialog interaktif. Juga mengajak semua pihak untuk menjunjung tinggi perbedaan, toleransi, dan cerdas dalam bermedos,” harapnya.

Menurutnya, generasi muda NU harus membangun kesadaran diri sendiri bahwa semua orang memiliki batasan, termasuk saat bermedsos. “Jangan malah melawan narasi yang tidak santun,” tandas Kusnin. (Ika/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG