IMG-LOGO
Daerah

Pengalaman Ketua LDNU Bali Jadi Khatib di Depan Jokowi

Ahad 16 Juni 2019 9:30 WIB
Bagikan:
Pengalaman Ketua LDNU Bali Jadi Khatib di Depan Jokowi
Presiden Jokowi usai shalat Jumat di Masjid Agung Al'ala Gianyar, Jumat (14/6).
Gianyar, NU Online
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Provinsi Bali, Ustadz Imaduddin merasa bangga karena dipercaya selaku khatib saat Presiden Joko Widodo melaksanakan Shalat Jumat di Masjid Agung Al'ala Gianyar, Bali, Jumat (14/6).

"Tentunya bangga bisa menjadi khatib Shalat Jumat, yang kebetulan bisa dihadiri Presiden," katanya ketika dikonfirmasi NU Online, Sabtu (15/6).

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Imaduddin menyampaikan materi khutbah Menuju Ampunan Allah. Inti pesan yang disampaikan adalah Allah tidak akan menerima semua amal ibadah seseorang, jika ia tidak mau memaafkan kesalahan orang lain.

Ustadz Imaduddin, mengakui Presiden Jokowi adalah sosok sederhana dan penyabar. Hal ini bisa dilihat saat setelah Shalat Jumat, Presiden Jokowi dengan sabar mau menyalami seluruh jamaah.

"Jamaahnya banyak, tapi beliau mau menyalami satu per satu. Jadi usai shalat, Pak Jokowi cukup lama berada di dalam masjid," jelasnya.

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja di Bali pada tanggal 14-15 Juni. Presiden antara lain meninjau renovasi Pasar Seni Sukawati di Kabupaten Gianyar. Kedatangan Jokowi di Pasar Sukawati disambut ratusan warga.

Bupati Gianyar, I Made Mahayastra dan jajarannya menemani Jokowi langsung menuju lahan bangunan yang saat ini akan direnovasi. Bupati Mahayastra menyampaikan rencana proyek renovasi Pasar Sukawati tersebut kepada Presiden Jokowi yang didampingi Gubernur Bali Wayan Koster.

Presiden meminta Pasar Sukawati direlokasi untuk sementara selama proses pembangunan ulang. "Tendernya rampung akhir bulan ini dan langsung dikerjakan di lapangan. Ini menggunakan APBN Rp89 miliar, dari APBD Rp3,9 miliar," kata Jokowi.

Presiden berharap proyek akan selesai tahun ini dan akan menjadi pasar yang bersih dan tertata, sehingga pengunjung nyaman berkunjung ke pasar yang 30 tahun lebih berdiri. Presiden menyampaikan sudah sering ke Pasar Sukawati.

"Kalau ke Bali belum ke Sukawati, itu belum ke Bali," ujar Presiden Jokowi.

Pasar Sukawati dengan menampung 1700 pedagang, menurut Jokowi sebagai hal luar biasa. Pasar Sukawati juga menjadi pasar rakyat yang modern, tertata dengan manajemen baik.
 
Program Pasar secara Nasional menurutnya masih sama seperti yang dicanangkan lima tahun lalu. Saat ini sudah ada lebih dari lima ribu pasar besar dibangun; sementara pasar kecil sudah 8.400 pasar dibangun ulang.

"Ke depan masih sama programnya. Pasar tradisional tempat bertemunya penjual dan pembeli dengan produk-produk dari petani, nelayan, pengrajin. Pasar-pasar di Indonesia harus hidup," tutur Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi bersama Ibu Iriana Jokowi pun menghampiri pedagang pasar dan membeli sejumlah buah-buahan lokal. Seperti salak bali, semangka, jeruk dan buah-buahan lainnya yang langsung dipilah-pilah oleh Ibu Iriana Jokowi. Pedagang dan warga pun berebut ingin berswafoto dengan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Selain mengunjungi Pasar Sukawati, Presiden juga melakukan pembagian sertifikat tanah di Kabupaten Bangli, serta membuka Pesta Kesenian Bali pada Sabtu (15/6). (Abraham Iboy/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Ahad 16 Juni 2019 23:0 WIB
Organisasi Tidak Akan Maju, Bila Abaikan Silaturahim
Organisasi Tidak Akan Maju, Bila Abaikan Silaturahim
Hlal Bi Halal IPNU-IPPNU Brebes, Jateng
Brebes, NU Online
Ketua Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Wanasari, Kabupaten Brebes Jawa Tengah KH Sobarudin menandaskan, organisasi takkan pernah maju kalau para pengurusnya abaikan silaturahim. Sebab inti dari berorganisasi  adalah silaturahim.

"Bagaimana akan melaksanakan tugas organisasi kalau tidak bersilaturahim," ujar KH Sobarudin saat mengisi Halal Bi Halal Keluarga Besar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Brebes di SMK Maarif NU Wanasari, Ahad (16/6).

Menurutnya, ajang silaturahim ini jangan sampai lepas. Semua pengurus dan anggota harus sering sering main ke rumah masing-masing. Sehingga kenal dengan seluruh anggota keluarga pengurus dan anggota. Juga bersilaturahim dengan kiai, tokoh agama, ulama, dan dengan kepengurusan di atasnya dan badan otonom NU lainnya.

"Para pimpinan di lembaga pemerintahanpun harus disilaturahimi. Seperti Bupati, Dandim, Kapolres, Kejaksaan, Pengadilan Negeri, Kementerian Agama, dan instansi vertikal lainnya," jelasnya.

Dengan bersilaturahim, lanjutnya, akan mendapatkan banyak ilmu di luar sekolahan atau madrasah. Untuk itu, Pelajar NU bisa mencari ilmu di seluruh lini kehidupan untuk bekal hidup diri dan organisasi di kemudian hari. "Sebagai kader IPNU dan IPPNU jangan putus mencari ilmu, baik ilmu agama ataupun ilmu umum, baik di dalam organisasi atau di dalam sekolah. Karena menuntut ilmu sangat penting sekali untuk modal ke depan," jelas KH Sobarudin.

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Brebes Dwi Satrio menjelaskan, Halal Bi Halal diikuti perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU dan IPPNU Se-Kabupaten Brebes.

Kegiatan tersebut dirangkai dengan sosialisasi Website yang terintegrasi dengan PW IPNU Jateng dan Sistem Informasi Administrasi (SIA) PC IPNU Brebes. "Sosialisasi website ini sebagai tindaklanjut dari rencana PW IPNU Jawa Tengah yang telah diprogramkan pada tahun 2019," jelasnya.

Dwi Satrio mengajak kepada jajaran pengurus yang hadir untuk menjadikan momentum halal bi halal sebagai ajang silaturahim dan saling memaafkan. Sehingga dalam berkhidmah akan ada kekompakan antar pengurus. "Mari kita jadikan momentum halal bi halal ini sebagai ajang saling memaafkan dan intropeksi diri, dengan harapan organisasi kita semakin baik, solid dan maju sesuai dengan  visi dan misi organisasi," pungkasnya. (Wasdiun/Muiz)
Ahad 16 Juni 2019 22:0 WIB
Tiga Tugas Pokok NU Menurut Ketua NU Muara Enim
Tiga Tugas Pokok NU Menurut Ketua NU Muara Enim
Pengurus PCNU Muara Enim, Sumsel
Muara Enim, NU Online
Ketua Pengurus Cabang NU Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Ahmad Mujtaba mengatakan, berjuang untuk NU sama dengan berjuang untuk Rasulullah SAW. Karena NU didirikan oleh Ulama, dan ulama adalah pewaris Para Nabi. Maka, dalam berkhidmah di NU harus selalu semangat dalam menghidupkan NU.

"Jadi berbanggalah jadi pengurus NU, tapi jangan kebanggaan itu disalahgunakan, akan tetapi harus untuk memperjuangkan NU agar bermaslahat untuk umat, bangsa, dan NKRI," ujarnya.

Hal itu disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Muara Enim Ahmad Mujtaba dalam acara Halal bi Halal di Gedung NU Desa Pulau Panggung, Sabtu (1506).

“Di Semende dari Ulu sampai Ilir secara Amaliah Alhamdulillah selalu terjaga dan terawat. Karena mayoritas masyarakat Semende terlahir dengan adat istiadat keagamaan yang kuat yang satu kesatuan dengan tradisi dan prinsip NU,” tuturnya.

Dikatakan, NU di Semende Raya pernah berjaya. Saksi kejayaan NU di Semenda adalah kantor NU yang berdiri megah. NU tingkat kecamatan (MWC) atau desa (ranting) di Semende ini sudah punya gedung mandiri sebagai sarana syiar dakwah.

“Kalau kita cuma simpatisan atau pecinta NU, maka cintailah NU sepenuhnya,” imbuhnya.

Diakuinya juga, mungkin banyak tokoh-tokoh agama di Semende yang belum terakomodir di kepengurusan MWCNU. Dirinya meminta kepada kader NU, tidak menjadi kader munafik. Yaitu orang yang seolah-olah cinta NU, tapi justru menjadi perusak NU. 

“Minimal ada tiga tugas pokok NU sejak didirikan sampai sekarang. Pertama, menjaga Agama Islam agar terus dianut oleh mayoritas bangsa ini," unkapnya. 

Kedua, lanjutnya, menjaga tegaknya akidah ahlussunnah waljamaah. Ketiga, menjaga tegaknya negara yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa yakni NKRI,” terangnya.

Pada kegiatan Halah Bi Halal (HBH) sekaligus pelantikan pengurus MWC NU se-Kabupaten Muara Enim ini dihadiri Bupati Muara Enim yang diwakili oleh Kabag Kesra H Zulfikar, Perwakilan dari PT Bukit Asam Aminuddin, Ketua MUI sekaligus Mustasyar PCNU Muara Enim KH Muhammad Dainawi Gerentam Bumi, Rais PCNU Kiai Miftah Kaprawi dan segenap jajaran pengurur PCNU Muara Enim. (Suhendra/Muiz)


Ahad 16 Juni 2019 21:45 WIB
Wabup Sorong Ajak Warga Jaga Toleransi dan Keberagaman
Wabup Sorong Ajak Warga Jaga Toleransi dan Keberagaman
Halal bi halal PCNU Sorong, Ahad (16/6)
Sorong, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sorong menyelenggarakan acara Halal bi Halal, Ahad (16/6). 
Selain dihadiri oleh para kiai, acara yang berlangsung di Masjid Jami' Al Muttaqin itu turut dihadiri oleh Wakil Bupati Sorong, tokoh masyarakat, perwakilan pondok pondok pesantren dan Nahdliyin se-Kabupaten Sorong.

Ketua PCNU Kabupaten Sorong, KH Rofiul Amri menyebut acara ini merupakan ajang untuk berhalal-halalan dan menumbuhkan ukhuwah islamiyah, ukhuwah nahdliyah sekaligus menjaga nilai-nilai ukhuwah wathaniyah di tengah kondisi bangsa yang sedang terpolarisasi akibat pilpres dan pileg.

"Mari bersama kita merajut kembali kebersamaan dan persatuan bangsa. Jaga terus Indonesia," pesannya.

Wakil Bupati Sorong, Suka Harjono atas nama pribadi dan pemerintah daerah menyampaikan permohonan maaf apabila ada kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Ia juga mengapresiasi kegiatan halal bi halal yang diselenggarakan oleh keluarga Besar Nahdlatul Ulama.

Wabup mengajak seluruh umat Islam, khususnya masyarakat Kabupaten Sorong bahu membahu menjaga toleransi dan keberagaman bangsa. "Tunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Saling menghargai, menghormati dan saling memaafkan," ujarnya.

Ia mengatakan Kabupaten Sorong merupakan daerah yang cukup baik nilai keberagamannnya. Ia meminta NU harus menjadi garda terdepan dalam mengawal dan merawat nilai-nilai tersebut.

KH Ahmad Sutedjo selaku rais syuriyah PCNU Kabupaten Sorong mengatakan penggagas istilah halal bi halal adalah salah seorang pendiri NU, yaitu KH Abdul Wahab Chasbullah. "Diawali pada 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik bersilang pendapat, enggan duduk dalam satu forum untuk mencari solusi terbaik bagi bangsa. Pemberontakan juga terjadi di sejumlah daerah," tuturnya.

Ia meneruskan, di pertengahan Ramadhan 1948, Bung Karno meminta pendapat dan saran KH Wahab Chasbullah untuk mengatasi kebuntuan situasi politik Indonesia saat itu. "Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahim," katanya.

Para elit politik tidak mau bersatu, karena mereka saling menyalahkan, dan itu merupakan dosa. "Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahmi dipakai istilah halal bi halal," kisahnya.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara menghadiri silaturahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal'. 

Di akhir tausiyahnya, Kiai Sutedjo mengajak hadirirn untuk menumbuhkan rekonsiliasi sosial, saling bersatu, hindari hoaks, caci maki dan saling menghujat. "Karena hal itulah yang merusak tatanan nilai sosial kita. Kita ini saudara baik yang sesama agama maupun saudara sebangsa dan setanah air," pungkasnya. (Abdul Salam/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG