IMG-LOGO
Internasional

Skill, Syarat Wajib Hadapi Dunia Kerja Semakin Dinamis

Ahad 16 Juni 2019 22:15 WIB
Bagikan:
Skill, Syarat Wajib Hadapi Dunia Kerja Semakin Dinamis
Kabiro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaa Indah Anggoro Putri

Jenewa, NU Online

Saat ini penguasaan keterampilan (skill) menjadi syarat wajib yang dibutuhkan dalam menghadapi dunia ketenagakerjaan dengan perubahan pasar kerja yang semakin dinamis dan fleksibel. Untuk itu, pemerintah menjalankan konsep triple skilling guna mengatasi ketimpangan skill angkatan kerja Indonesia, sehingga bisa masuk pasar kerja atau berwirausaha.

"Skill memang paling penting bagi angkatan kerja. Mereka (tenaga kerja) dapat memproteksi diri mereka sendiri jika mereka memiliki skill yang baik," kata Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaa Indah Anggoro Putri dalam Forum Tematik dengan tema Jobs and skills for a brighter future, International Labour Conference (ILC) ke-108, Jenewa, Sabtu (15/6) kemarin.

Putri mengatakan, Presiden Indonesia Joko Widodo telah mencanangkan tahun 2019 sebagai tahun pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia melalui pendidikan dan pelatihan vokasi. Pengembangan SDM seyogyanya tidak hanya difokuskan pada generasi muda saja, melainkan bagi semua usia.

"Pelatihan vokasi disediakan oleh Pemerintah Indonesia dalam bentuk pemberian hard and soft skills secara masif, tanpa memandang usia dan latar belakang pendidikan melalui triple skilling (skilling, upskilling, dan reskilling) bagi SDM Indonesia," kata Putri.

Skilling berarti mendorong dan memfasilitasi para angkatan kerja untuk berpartisipasi dalam program pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja. Upaya tersebut juga didukung dengan adanya program reskilling dan upskilling agar para pekerja yang terdampak job shifting bisa memperoleh keterampilan sesuai dengan tuntutan perkembangan dunia kerja.

Selain itu, mereka juga didorong untuk masuk ke job creation. Job creation adalah adanya talent-talent baru untuk menginovasikan dan mengembangkan diri menjadi wirausaha dan sociopreuner. Untuk menyesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan dunia kerja, konsep triple skilling tersebut harus terus dikembangkan melalui beberapa peningkatan di berbagai bidang.

Pertama, pemerintah Indonesia melakukan pengembangan Balai Latihan Kerja (BLK) melalui konsep rebranding, reorientasi, dan revitalisasi (3R). "Kedua, konsep triple skilling untuk pembangunan SDM/peserta pelatihannya. Dan yang ketiga instruktur di BLK harus terus ditingkatkan keahliannya sehingga kita siap memasuki era industri 4.0 ke depan," kata Putri.

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan dan kualifikasi yang dipersyaratkan oleh dunia kerja, Pemerintah Indonesia juga menggalakkan program pemagangan di perusahaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. "Program ini dimaksudkan untuk menciptakan calon pekerja yang memenuhi standar dan kualifikasi pasar kerja," kata Putri. (Red: Kendi Setiawan)

Bagikan:
Ahad 16 Juni 2019 8:30 WIB
MENENGOK GELIAT MADRASAH NU DI PERTH, AUSTRALIA (2-HABIS)
Demi Pengabdian, Staf dan Guru Rela Tak Dibayar
Demi Pengabdian, Staf dan Guru Rela Tak Dibayar
Sesekali, Madrasah Darul Ma'arif mengundang muballigh dari Jakarta seperti Cak Nun

Australia, NU Online
Mendirikan madrasah di mancanegara tidaklah mudah. Pasalnya, selain mengantongi izin dari pemerintah setempat, juga memerlukan dana, dan tenaga yang tak sedikit. Sebagaimana sekolah pada umumnya, tempat menjadi hal wajib disediakan dalam proses belajar-mengajar. Untungnya, para kader Nahdlatul Ulama di Perth, Western Australia ringan tangan. Mereka urunan untuk menyewa tempat atau gedung bagi murid-murid Madrasah Darul Ma’arif. Tempatnya cukup srategis, yaitu di Kenwick Community Center yang terletak di Suburb Kenwick, City of Gosnells, Western Australia.

“Awalnya memang urunan untuk sewa gedung, selanjutnya kita ambil dari infaq murid,” tukas Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Australia bagian Perth, Western Australia, Anshori Husnur Rafiq sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Sabtu (15/6).

Memang, murid-murid ditarik infaq sebesar 10 dolar setiap bulannya. Dari infaq itulah ditambah infaq sebagian guru dan wali murid, madrasah itu berjalan hingga saat ini. Jumlah muridnya hingga saat ini mencapai 106 orang. Mereka sebagian adalah anak warga Indonesia yang menetap di sana,  anak keluarga campuran, bahkan ada anak orang Lebanon, Pakistan, Singapore, Malaysia, dan Rohingya.

“Jumlah guru dan staf adalah 22 orang. Demi pengabdian pada agama, mereka semuanya adalah voulenteer (sukarelawan), tanpa gaji,” terangnya.

Anshori mengaku senang bisa mendirikan madrasah di lingkungannya. Selain ingin menanamkan Islam ala Ahlissunnah wal jamaah (Aswaja), juga sekaligus untuk menghadang laju gerakan kelompok radikal yang mulai masuk Australia. Dikatakannya, sejumlah penceramah dari Jakarta tak jarang mengisi pengajian di sejumlah tempat Australia. Namun sayang dalam ceramahnya terkadang dia dengan seenaknya  menuding amalan itu bid’ah, haram dan sebagainya.

“Itu ceramah tidak kondusif, cenderung provokatif. Maka madrasah  ini juga berfungsi sebagai pencerah,” pungkasnya. (Red: Aryudi AR).

Ahad 16 Juni 2019 8:0 WIB
MENENGOK GELIAT MADRASAH NU DI PERTH, AUSTRALIA (1)
Darul Ma’arif, Madrasah Persemaian Bibit Aswaja di Negeri Kanguru
Darul Ma’arif, Madrasah Persemaian Bibit Aswaja di Negeri Kanguru

Australia, NU Online
Penerapan Islam yang rahmatal lil’alamin bukan monopoli negara tertentu, namun berlaku universal di jagat bumi manapun. NU yang sedari awal selalu menghembuskan Islam yang sejuk dan damai sebagai ruh dari konsep rahmatal  li’alamin disadari betul oleh para kader NU di Perth, Western Australia. Mereka punya cita-cita menabur serpihan  Islam yang sejuk, damai, dan toleran di negara yang penduduknya mayoritas non Muslim itu. Dan hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena NU yang menjadi pengusungnya.

Untuk itulah, atas inisiasi Pembantu Dekan UIN Syarif Kasim, Pekanbaru, Riau, Prof Raihani, mereka mendirikan Madrasah Darul Ma’arif di Perth, Western Australia. Rapat perdana untuk persiapan mendirikan madrasah tersebut digelar tanggal 26 Mei 2016.
“Resmi diumumkan ke publik tanggal 17 Juli 2016. Kegiatan pengajaran pertama dilaksanakan tanggal 23 Juli 2016,” tukas Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Australia bagian Perth, Western Australia, Anshori Husnur Rafiq sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Sabtu (15/6).

Kegiatan madrasah ini mirip dengan TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) di Indonesia. Masuknya dalam seminggu hanya sekali, yakni hari Sabtu, dimulai pukul 09.30 hingga pukul 13.00 waktu setempat. Memang dipilih hari Sabtu, karena selain Sabtu mereka pulang sekolah pukul 15.30 waktu setempat. Sedangkan sebagian para pengajar pulang kerja pukul 17.00.

Untuk mengefektifkan pengajaran, murid dibagi dalam dua kelompok. Pertama, kelompok junior, untuk usia anak-anak TK hingga SD kelas 6. Kedua, kelompok teen (remaja), untuk muris usia SMP hingga SMA.
“Alhamdulillah peminatnya lumayan,” jelas Anshori.

Sedangkan mata pelajarannya adalah belajar membaca Al-Quran dengan metode iqra’. Alokasi waktunya adalah satu jam pertama. Jam-jam selanjutnya diisi dengan pengetahuan agama berbasis Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Lalu ditutup dengan shalat dzuhur berjamaah.

Menurut Anshori, keberadaan madrasah tersebut tak ubahnya bagai persemaian bibit-bibit Muslim berbasis Aswaja. Ini penting karena mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan non Muslim, sehingga jiwa toleransinya akan terasah, yang secara tidak langsung menguak identitas Islam yang toleran dan rahmatal  lil’alamin.

“Misi ini penting, biar mereka tahu bahwa Islam tidak suka kekerasan,” jelasnya. (Red: Aryudi AR)

Sabtu 15 Juni 2019 16:15 WIB
Muslim China 'Suka' Muslim Indonesia
Muslim China 'Suka' Muslim Indonesia

Jakarta, NU Online
Ketika ada sebagian kecil kelompok Muslim Indonesia begitu benci terhadap China, justru Muslim di sana justru sebaliknya, sangat suka dengan Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) China Waki Ats-Tsaqofi melalui akun Facebooknya pada Jumat (14/6).

Sebelumnya, Waki dikirimi pesan oleh Imam Masjid Chongqing yang bernama Hu Xian Mu. "Awalnya menanyakan asal saya dari mana. Saya jawab dari Indonesia," tulisnya.

Namun, pertanyaan berikutnya di luar dugaannya. Ia menanyakan atau lebih tepatnya mengonfirmasi berita yang ia terima terkait ketidaksukaan Muslim Indonesia. "Bukankah Muslim Indonesia tidak suka dengan (orang) China?" tanyanya.

Tentu hal tersebut dibantah oleh mahasiswa Universitas Chongqing itu. Menurutnya, tidak semua muslim Indonesia tidak suka terhadap orang China. “Masih banyak Muslim Indonesia yang suka dengan China," katanya.

Ia menambahkan bahwa ketidaksukaan Muslim Indonesia kepada orang China disebabkan adanya berita terkait Pemerintah China yang melarang kegiatan puasa dan ibadah dengan membubuhi emotikon senyum.

Lalu, lanjut Waki, dia membalas pesannya, "Muslim China padahal sangat suka dengan Muslim Indonesia."

Waki menjelaskan bahwa kesukaan Muslim Cina terhadap Indonesia karena beberapa hal. Pertama karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim. Lalu, Muslim Indonesia juga toleran dan menghargai budaya lokal. Hal tersebut sama dengan Islam di sana (China).

Di samping itu, lanjutnya, banyak juga tokoh yang go internasional dengan menampilkan wajah Islam yang sejuk. Terlebih, di sisi lain, masyarakat dunia sedang dilanda ketakutan terhadap wajah Islam, karena sebagian pihak menampilkan Islam yang tidak elok, garang, bahkan disertai dengan aksi teror.

Selain itu, Islam dan keindonesiaan bisa berjalan beriringan yang begitu dibutuhkan di Cina.

"Yang lebih penting Indonesia dan Islam bisa beriiringan meskipun bukan negara Islam," katanya.

Hal tersebut, jelasnya, dibutuhkan oleh Muslim China guna meyakinkan kepada pemerintah China dan juga masyarakat umum bahwa Islam juga cinta tanah air dan  tidak membahayakan siapa pun.

Waki menutup pesannya kepada Imam Masjid Chongqing tersebut dengan menyebut Cheng Ho sebagai orang China yang berperan penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia.

"Saya berterima kasih kepadanya dan bilang sama kok Muslim Indonesia juga suka dengan Muslim China. Apalagi dahulu kala Zheng He (Cheng Ho) ikut andil dalam menyebabkan Islam. Pengaruh China pun banyak ditemui seperti arsitektur masjid-masjid kuno," pungkasnya. (Syakir NF/Aryudi AR).
 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG