IMG-LOGO
Daerah

Budaya Lubuk Larangan dan Cara Menggaji Guru Agama di Bungo

Rabu 19 Juni 2019 9:0 WIB
Bagikan:
Budaya Lubuk Larangan dan Cara Menggaji Guru Agama di  Bungo
Hasil tangkapan ikan untuk honor guru agama
Bungo, NU Online
Hari masih cukup pagi, matahari masih belum sempurna terbitnya. Tampak malu-malu menyapa umat manusia yang masih sebagian besar belum beranjak dari tempat tidur. Namun hal berbeda terjadi di Dusun Karak Apung, Kecamatan Batin Tiga Ulu, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Di mana beberapa pria sudah berdiri rapi di pinggir Sungai Batang Bungo.

Para pria ini bukan hendak mandi berjamaah atau berselfi ria. Mereka datang ke tepi sungai untuk melakukan budaya rutinan setiap tahun yaitu menangkap ikan bersama-sama di sungai. Masyarakat setempat punya tempat khusus di beberapa titik sepanjang Sungai Batang Bungo yang dinamakan 'Lubuk Larangan'.

Sungai Batang Bungo memiliki puluhan Lubuk Larangan. Hampir setiap dusun yang dilewati Sungai Batang Bungo membuat Lubuk Larangan sendiri-sendiri. Lokasi tersebut biasanya dipasangkan papan pengenal oleh pemerintah setempat sebagai Lubuk Larangan.

Ibarat hutan lindung, Lubuk Larangan adalah lokasi di mana seluruh warga dilarang untuk mengambil ikan di sana untuk kepentingan pribadi. Ikan yang masuk kedalam lokasi tersebut dilindungi oleh adat. Oleh karenanya lokasi tersebut dinamakan 'Lubuk Larangan' yang bisa diartikan tempat terlarang atau area terlarang untuk mengambil ikan.

"Di dusun kita ini ada tiga lokasi untuk Lubuk Larangan ini. Salah satunya dikelola dan dijaga oleh pemuda-pemudi," kata Ketua Pemuda Dusun Karak Riza Pahlepi, Senin (17/6).

Dikatakan, ikan yang masuk ke dalam Lubuk Larangan biasanya diambil sekali dalam setahun. Umumnya diambil saat momen seluruh warga berkumpul seperti Idul Fitri, Idul Adha, Isra Mi'raj, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Saat itu masyarakat yang di rantau pada mudik ke kampung halaman. 

"Sebelum dilakukan pengambilan ikan, panitia membuat selebaran pengumuman tentang adanya kegiatan pengambilan ikan di Lubuk Larangan. Tidak hanya itu, acara itu juga diumumkan saat shalat Jumat berlangsung dan diumumkan lewat pengeras suara masjid satu jam sebelum acara," jelasnya.

Cara mengambil ikan di Lubuk Larangan ini menurut Riza cukup unik. Semua warga masyarakat diperbolehkan menangkap ikan di Lubuk Larangan dengan alat pribadi kecuali mengguna setrum. Hasil tangkapan tersebut dibagi tiga. Bagian pertama untuk yang menangkap ikan, bagian kedua untuk pemuda dan bagian ketiga untuk dusun. Yang untuk dusun ini biasanya digunakan untuk memperbaiki masjid, madrasah, imam shalat, pengurus masjid, dan menggaji guru agama.

"Semisal seorang warga menangkap ikan di Lubuk Larangan dapat tiga ekor ikan. Satu ekor ia bawa pulang dan dua ekor diserahkan ke panitia. Dua ekor di panitia tersebut dikumpulkan dalam satu wadah lalu dijual ke masyarakat umum. Uang hasil penjualan tersebut baru dibagi lagi menjadi dua yaitu untuk kas pemuda-pemudi dan kas dusun," tandasnya.

Dijelaskan, suasana kekeluargaan terasa begitu kental dalam budaya ini. Warga setempat tampak begitu antusias dan bergairah menangkap ikan bersama-sama. Bahkan beberapa warga sengaja meliburkan pekerjaannya karena ingin menceburkan diri untuk menangkap ikan berjamaah.

"Dua Lubuk Larangan lainnya juga memiliki sistem yang sama. Hanya saja sistem pembagiannya tidak dicantumkan jatah pemuda. Yang ada hanya jatah penangkap ikan, masjid, dan guru madrasah dalam bagian tiga saat menyerahkan hasil tangkapan ikan," bebernya kepada NU Online. 

Menurut Riza, bagi warga yang ketahuan menangkap ikan di Lubuk Larangan secara pribadi maka akan mendapatkan hukuman adat. Dan nilai hukumannya tergantung kesepakatan. Hebatnya, jarang ada warga yang berani melanggar. Karena selain terkena hukum adat juga terancam hukuman sosial.

"Panitia menjual hasil tangkapan ikannya bukan perkilo atau perekor tapi semua warga yang ingin mendapatkan ikan maka harus bayar Rp20 ribu. Jika yang ikut bayar itu ada 50 orang dan ikan yang didapatkan hanya 100 ekor maka setiap warga mendapatkan 2 ekor. Pokoknya dibagi rata, kalau dapatnya banyak maka dibagi banyak sama rata," tuturnya.

Tahun ini yang ingin mendapatkan ikan hasil tangkapan Lubuk Larangan tercatat berjumlah 98 orang. Sikap sabar, nerimo ing pandum terlihat jelas dari mata masyarakat yang membayar Rp20 ribu. Tujuan utama mereka membayar bukan sekedar ingin mendapatkan ikan, tapi juga diniatkan sedekah.

Hal ini diungkapkan warga setempat bernama Nurti (53) yang merasa tidak rugi membayar meskipun hanya diberikan enam ekor dan beratnya tidak sampai satu kilogram. "Niatnya kan membantu, jadi berapapun yang dikasih tetap senang," ujarnya.

Bagi Nurti, sikap gotong royong dan peduli sesama harus diutamakan terutama bagi generasi muda. Oleh karenanya, saat pembagian hasil tangkapan ikan ia mengirim anaknya. Mulai dari pembayaran hingga menunggu ikan dibagikan kesemua orang. (Syarif Abdurrahman/Muiz)

 
Bagikan:
Rabu 19 Juni 2019 22:0 WIB
PC PMII Pertanyakan Hasil Kunjungan Bupati Bojonegoro ke Inggris
PC PMII Pertanyakan Hasil Kunjungan Bupati Bojonegoro ke Inggris
Ketua PC PMII Bojonegoro M. Nur Hayan
Bojonegoro, NU Online
Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mempertanyakan hasil kunjungan Bupati Bojonegoro, Anna Mu'awanah ke Inggris pada 11 Juni 2019 lalu.

Kunjungan bupati sempat menjadi perbincangan hangat di masyarakat karena telah menyedot anggaran yang tinggi yakni hampir Rp 1 Miliar. Bupati berkunjung ke Negeri Ratu Elizabeth ini bersama rombongan yang terdiri dari suaminya Ali Duppa, Pj Sekda Yayan Rohman, Kepala Badan Pendapatan Daerah Hery Sudjarwo, dan Sekpri bupati Rochmad Sholeh Farhoki.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, rombongan berangkat ke Inggris untuk menghadiri undangan Young Indonesian Professionals Association (YIPA) yang bertema Investment Promotion in Oil & Gas Opportunities within Bojonegoro dan Tourism Promotion - Be in Bojonegoro. Rombongan dijadwalkan kembali ke Kota Ledre tanggal 18 Juni 2019.

Ketua PC PMII Kabupaten Bojonegoro M. Nur Hayan mengungkapkan, keberangkatan ke Inggris ini sudah dijelaskan oleh Humas Pemkab Bojonegoro. Namun hal ini masih belum bisa meyakinkan publik terutama PMII lantaran tidak ada bukti yang jelas tentang kunjungan ini.

"Sehingga Bupati harus memberikan kejelasan kepada publik, pascapulang dari Inggris. Termasuk hasil yang bisa diterapkan di Bojonegoro," pintanya, Rabu (19/6).

Hayan menyebut, jangan sampai perjalanan ke luar negeri dengan biaya yang tak sedikit tidak memberikan dampak positif bagi daerah. Jika kunjungan ini tidak strategis malah justru menghabiskan keuangan negera yang sebenarnya bisa dianggarkan untuk hal lain.

Kunjungan tersebut juga harus mampu membuat percepatan pembangunan daerah sehingga mampu mengangkat derajat hidup masyarakat Bojonegoro. Hasil dari kunjungan tersebut juga harus bisa dirasakan oleh semuanya.

"Uang itu lebih baik digunakan membangun perekonomian masyarakat di desa-desa yang kondisi hidupnya masih di bawah rata-rata. Bisa juga menyelesaikan janji yang sebelumnya disampaikan saat kampanye dahulu," sebutnya.

Ditandaskan Hayan, sepulangnya dari Inggris, bupati harus menyampaikan ke masyarakat mengenai hasil kunjunganya ke Inggris. "Kita lihat saja, bagaimana sepulangnya dari Inggris," tandasnya. (M. Yazid/Muhammad Faizin)
Rabu 19 Juni 2019 21:0 WIB
SMK Kesehatan di Jatim Lakukan Kerja Sama dengan Unusa
SMK Kesehatan di Jatim Lakukan Kerja Sama dengan Unusa
Rektor Unusa (kanan) dan Ketua Persemki Jatim.
Surabaya, NU Online
Peluang dan potensi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan semakin strategis menghadapi era revolusi industri 4.0. Di satu sisi, kompetensi alumnus SMK Kesehatan menjadi tuntutan dari kalangan industri yang harus dihadapi.

Guna mendukung kesiapan SMK Kesehatan di Jawa Timur, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar seminar bertema ‘Peluang dan Tantangan SMK Kesehatan di Era Revolusi Industri 4.0’.

Seminar yang digelar di Kafe Fastron lantai 3, Tower Unusa, Kampus B, Jemursari, Surabaya, Rabu (19/6) dihadiri puluhan guru SMK se-Jatim. 

Pada seminar tersebut, sekaligus ditandatangani kerja sama antara Unusa dengan Persatuan SMK Kesehatan Indonesia (Persemki) Jatim.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Rektor Unusa Achmad Jazidie dan Ketua Persemki Jatim M Fatchul Djinan Ch.

“Unusa siap memfasilitasi pendampingan dan bimbingan pendidikan SMK Kesehatan, terkait permasalahan dan masa depan layanan kesehatan. Tujuannya agar lulusan SMK Kesehatan ke depan punya pendampingan penyusunan kurikulum,” kata Achmad Jazidie usai penandatanganan kerja sama.

Dalam kerja sama tersebut, lanjut rektor, Unusa juga melakukan pendampingan kegiatan-kegiatan pengembangan laboratorium, sertifikasi profesi untuk lulusan SMK Kesehatan, pemanfaatan teknologi informasi belajar mengajar.

“Selama ini Unusa telah mendampingi beberapa guru BK untuk layanan bimbingan dan pemanfaatan teknologi informasi. Unusa juga memiliki serbuk sebagai teknologi informasi mengelola perpustakaan dan sudah diterapkan di beberapa SMA di Jatim,” katanya.

Di tempat yang sama, M Fatchul Djinan menyambut positif kerja sama dengan Unusa.

"Selama ini SMK Kesehatan tak ada kesempatan dan sarana untuk melakukan penelitian dan pengembangan. Sedangkan ilmu kesehatan itu tidak stagnan, tiap detik selalu berubah menuju arah kemajuan,” jelasnya.

Menurut Fatchul sebagai perguruan tinggi, Unusa tentunya memiliki sarana yang lebih komplit. Oleh karenanya, Persemki Jatim berharap Unusa bisa menularkan ilmunya agar SMK Kesehatan tidak ketinggalan jauh. 

Tantangan yang sampai sekarang menjadi ganjalan adalah alumnus SMK Kesehatan masih kesulitan jika ingin mendaftar ke fakultas kedokteran (FK). Ini sangat berbeda di China. Pasalnya, di negara tersebut alumnus SMK Kesehatan justru mendapatkan beasiswa. 

“Karenanya, kami berharap Unusa memiliki terobosan baru sebagai solusinya. Entah bagaimana formulanya, kita berharap lulusan SMK Kesehatan bisa melanjutkan ke FK tanpa ada hambatan,” unggahnya.

Tentang harapan tersebut, Jazidie mengatakan calon mahasiswa baru yang ingin melanjutkan ke FK adalah lulusan sekolah menengah dari jurusan IPA. “SMK Kesehatan kan dekat dengan IPA,” tandas Jazidie. (Ibnu Nawawi)

Rabu 19 Juni 2019 18:30 WIB
Bangun Nasionalisme, Wagub Dukung Porsema XI NU Jateng
Bangun Nasionalisme, Wagub Dukung Porsema XI NU Jateng
Silaturahim panitia Porsema dengan Wagub Jateng.
Semarang, NU Online
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin mendukung penyelenggaraan Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI LP Ma'arif PWNU Jateng. Hal itu terungkap dalam audiensi di ruang Gubernur Jateng, Rabu (19/6) pagi.

Hadir Ketua PWNU Jateng KH Mohamad Muzamil, Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng R Andi Irawan, Wakil Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng Fakhrudin Karmani, Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, Sekretaris Panitia Porsema Abdulloh Muchib, dan staf. Hadir juga Kepala Badan Kesbangpol Jateng Achmad Rofai, Kepala Biro Kesra Pemerintah Provinsi Jateng Imam Maskur, Kasi Olahraga Rekreasi dan Industri Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Provinsi Jateng Adelio Luis B Anjos.

Ketua PWNU Jateng KH Mohamad Muzamil mengatakan tujuan audiensi untuk silaturahmi halal bi halal dan koordinasi persiapan Porsema. Banyak hal yang perlu disinergikan agenda dua tahunan dengan Pemrov Jateng.

Saat menyampaikan sambutan, Wagub Gus Taj Yasin menegaskan silaturahim tersebut menjadi wahana untuk sinergi antara NU dengan Pemrov Jateng. "Kemarin Pak Gubernur, dawuh ke saya untuk mengawal Porsema. Ini kami undang dari Dinpora, Kesra, dan Kesbangpol untuk mendukung Porsema," kata Wagub.

Pihaknya juga menjelaskan bahwa Pemrov Jateng tahun lalu juga sudah mendukung peringatan Hari Santri Nasional untuk meneguhkan nasionalisme dan cinta NKRI. "Porsema juga sangat bagus karena menjaring atlet olahraga dan seni se-Jawa Tengah dari sekolah dan madrasah Ma'arif NU," katanya.

Untuk itu, putra Mbah Maemoen Zubair ini juga meminta PWNU untuk menyiapkan program bersama semua lembaga dan Badan Otonom NU untuk koordinasi dalam mendukung pemerintah membangun spirit nasionalisme dan menjaga NKRI. "Ke depan, semua lembaga dan Banom NU, koordinasi dengan Dinpora, Kesra dan Kesbangpol untuk membangun spirit nasionalisme dan menjaga keutuhan NKRI," lanjutnya.

Wagub juga berpesan bahwa spirit Islam Aswaja Annahdliyah yang diusung NU sangat berkontribusi pada pembangunan karakter nasionalisme. "Nanti bisa dibuat perjenjang. IPNU-IPPNU, Pagar Nusa, di jenjang sekolah bisa diakomodir LP Ma'arif dan PMII bisa diakomodir LPTNU untuk bersinergi dengan pemerintah," bebernya.

Usulan Wagub direspons positif PWNU dan LP Ma'arif karena mendukung penguatan ideologi dan Islam Aswaja Annahdliyah yang mengusung spirit karakter nasionalisme dan menjaga NKRI. (Ibda/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG