IMG-LOGO
Internasional

Indonesia-Swiss Jalin Kerja Sama Bidang Ketenagakerjaan

Kamis 20 Juni 2019 2:5 WIB
Bagikan:
Indonesia-Swiss Jalin Kerja Sama Bidang Ketenagakerjaan
Jenewa, NU Online
Indonesia dan Swiss sepakat menjalin kerja sama bilateral bidang ketenagakerjaan. Kerja sama ini diimplementasikan dalam MoU antara Departemen Federal Bidang Ekonomi, Pendidikan, dan Penelitian Konfederasi Swiss dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI.

"Pemerintah Indonesia berharap MoU yang baru saja ditandatangani dapat segera direalisasikan dalam program kerjasama yang konkrit," kata Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri dalam Pertemuan Bilateral dengan Departemen Federal Bidang Ekonomi, Pendidikan, dan Penelitian Konfederasi Swiss di Jenewa, Selasa (18/6) waktu setempat.

Menaker Hanif menjelaskan kerja sama ini mencakup tiga bidang. Pertama, pengembangan keterampilan dan skills recognition sebagai respons terhadap digitalisasi dan industri 4.0.

Kedua, capacity building di bidang penelitian ketenagakerjaan terkait future of work. Ketiga, sharing best practices terkait penerapan sosial dialog sebagai respon terhadap digitalisasi dan industri 4.0.

"Indonesia menyampaikan penghargaan atas kerja sama dan inisiasi pemerintah Swiss dalam pembentukan kerja sama bilateral di bidang ketenagakerjaan yang diimplementasikan melalui MoU ini," kata Hanif.

Menaker juga mengapresiasi Pemerintah Swiss yang selama ini menjalin kerja sama dengan Indonesia melalui proyek-proyek Kantor ILO Jakarta. Seperti, Better Work dan Sustaining Competitive and Responsible Enterprise (SCORE).

Kerja sama tersebut dinilainya telah banyak membantu peningkatan kapasitas pekerja dan pengusaha di Indonesia.

"Harapannya, kerja sama ini dapat terus berlanjut di masa depan dalam platform ILO Cooperation Development, sebagai respon terhadap digitalisasi dan future of work," ujar Hanif.

Selain itu, Menaker juga berharap agar implementasi perjanjian EFTA-Indonesia CEPA dapat segera direalisasikan pada tahun depan. Kerjasama ini mencakup perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, hak kekayaan intelektual, pembangunan berkelanjutan, ketentuan asal dan bea cukai, fasilitasi perdagangan, pengamanan perdagangan, persaingan usaha, legal, serta kerja sama dan pengembangan kapasitas.

"Setelah hampir delapan tahun sebelum akhirnya dinyatakan selesai secara substantif dalam pertemuan di Bali November 2018, dan dideklarasikan final oleh para Menteri Perdagangan pada 23 November 2018 di Jenewa, Swiss," paparnya.

Penandatanganan MoU ini antara Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia M Hanif Dhakiri dan Departemen Federal Bidang Ekonomi, Pendidikan, dan Penelitian Konfederasi Swiss H.E. Guy Parmelin selepas pidato Menaker di Forum Konferensi Perburuhan Internasional ke-108. (Red: Kendi Setiawan)
Bagikan:
Kamis 20 Juni 2019 18:0 WIB
KHAZANAH ISLAM
Mengenal Masjid Tertua di Mesir, Masjid Amr bin Ash
Mengenal Masjid Tertua di Mesir, Masjid Amr bin Ash
Masjid Amr Bis Ash, Mesir

Masjid Amr bin Ash adalah masjid tertua di Mesir dan Benua Afrika serta di dunia selain di Makkah dan Madinah serta Syam. Sebab, setelah Fathu Misr, bangunan pertama yang dibangun Sahabat Amr bin Ash adalah masjid ini.

Penaklukan Mesir dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Pasukan yang dikirim sekitar 13 ribu pasukan sahabat yang dipimpin Amr bin Ash. Kenapa beliau yang mimpin?

Karena pengalaman Amr bin Ash dan jaringan beliau dalam berdagang sebelum masuk Islam yang tersebar di seluruh dunia Arab saat ini termasuk di Mesir. Makanya bisa dibayangkan bagaimana semangat sahabat zaman itu memanfaatkan tempat ini.

Sungguh pengalaman saya, sangat terasa aura dahsyat beliau dan para sahabat kalau kita masuk dan shalat di masjid ini. Apalagi ditambah suara imam shalat fardlunya lebih merdu dengan suara imam di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.


Foto: KH Muhammad Nur Hayid di depan Masjid Amr bin Ash

Masjid Amru bin Ash ini seringkali disebut sebagai 'Taj Al-Jawami' atau 'Mahkotanya Masjid'. Masjid yang berada di wilayah Fusthath di bagian kota tua Kairo ini merupakan masjid pertama di Mesir dan Benua Afrika.

Banyak makam termasuk putra Amr bin Ash yang bernama Abdullah Bin Amr bin Ash dimakamkan di sini. Tapi sudah terkubur karena perluasan masjid, sehingga tidak terdeteksi lagi.

Bahkan ada pendapat, ada banyak makam lagi dari kalangan sahabat dan tabiin selain Abdullah Bin Amr bin Ash. Syekh Ali Jumat mengatakan makam putra Amr bin Ash di antara pojok-pojok Masjid.

Bangunan Yang Eksotik

Meski bangunan asli yang dibangun semasa Amru bin Ash sudah tak tersisa lagi, namun sejarah awal pembangunannya menjadikan masjid ini memegang peranan penting bagi peradaban Islam di Mesir dan Benua Afrika.

Hampir semua ulama besar dari kalangan sahabat, tabiin dan tabiit tabiin kalau taklim selalu di lakukan di masjid ini. Termasuk Imam Syafi'i, taklimnya juga digelar di masjid ini karena tabarrukan dengan ngajinya para sahabat dan guru-gurunya.

Bangunan masjid yang kini berdiri dan kita saksikan kalau berkunjung, merupakan hasil pembangunan para penguasa sesudah Amr bin Ash. Pembangunan ini tidak sekaligus, tapi bertahap dari dinasti ke dinasti.


Foto: Bagian Tengah Masjid

Seperti kita ketahui, bahwa Mesir pasca ditaklukkan Amr bin Ash, dikuasai dinasti Fatimiyah, Ayubiah, Mamalik, Turki Utsmani dan lainnya. Keindahan arsitekturalnya menarik perhatian berbagai pihak termasuk para turis dari mancanegara dan para mahasiswa.

Bahkan, salah satu adegan Film Ketika Cinta Bertasbih yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy, juga mengambil tempat di pelataran tengah masjid ini. Bagian tengah ini digunakan untuk tempat wudlu.

Jadi, tak ada salahnya bila anda sedang berkunjung ke Kairo Mesir, sempatkan ziarah ke masjid bersejarah ini sekaligus diniati tabarrukan kepada sahabat Amr bin Ash dan para sahabat serta kibarul ulama assalaf.

Ditulis oleh KH Muhammad Nur Hayid (Ketua Rombongan Utusan PBNU pada Program Tadribud Duat wal Aimmat di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, 2019)

Kamis 20 Juni 2019 9:45 WIB
Australia Ingin Belajar Membangun Dialog Sosial dari Kemnaker RI
Australia Ingin Belajar Membangun Dialog Sosial dari Kemnaker RI
Menaker Hanif Dhakiri dan Menaker Australia Michaelia Cash
Jenewa, NU Online
Menteri Tenaga Kerja, Keterampilan, Bisnis Kecil dan Keluarga Australia, Michaelia Cash, memuji langkah Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Indonesia dalam membangun dialog sosial dengan pekerja dan pengusaha.

Hal tersebut diungkapkan Michaelia saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Hanif Dhakiri, di Jenewa, Swiss, Selasa (18/6).

Menurutnya, dialog sosial yang baik sangat berguna dalam menghadapi tantangan ketenagakerjaan di era revolusi industri 4.0. "Kami ingin belajar dari Indonesia," kata Michaelia dalam keterangan tertulis yang diterima NU Online, Kamis (20/6).

Dalam kesempatan yang sama, Menaker Hanif menjelaskan bahwa dirinya kerap mengadakan pertemuan informal antara pemerintah, para pemimpin serikat pekerja, dan asosiasi pengusaha di rumah dinasnya. "Perbedaan pendapat boleh dan wajar, namun bukan berarti tidak bisa duduk bersama," kata Hanif.

Adapun pertemuan itu dilakukan dalam rangka membangun relasi yang baik dengan para pekerja dan pengusaha. "Dalam pertemuan tersebut kita dapat tertawa bersama, bahkan bermain musik bersama. Inilah pentingnya dialog sosial," kata Hanif.

Melalui dialog sosial, lanjut Hanif, menjadi bukti jika mengatasi masalah ketenagakerjaan tidak selalu melalui pendekatan hukum formal. "Jika bisa persoalan bisa diselesaikan dengan dialog, tak perlu saling bersitegang," ucap Hanif.

Menurut Hanif, dialog sosial merupakan kunci produktivitas dan kesejahteraan pekerja. "Produktivitas perusahaan dan kesejahteraan pekerja bisa ditingkatkan levelnya dari waktu ke waktu," terang Hanif.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, Pemerintah Australia menawarkan kerja sama dalam berbagai bidang ketenagakerjaan. Antara lain dalam bidang pelatihan vokasi, pemagangan di industri, pengakuan standar kompetensi, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan hubungan industrial melalui dialog sosial.

"Kami menyambut baik dan segera memproses tawaran kerja sama pemerintah Australia ini," pungkas Hanif. (Red: Kendi Setiawan) 
Kamis 20 Juni 2019 9:25 WIB
Indonesia Berbagi Strategi Hadapi Pekerjaan Masa Depan dengan Negara Asia Pasifik
Indonesia Berbagi Strategi Hadapi Pekerjaan Masa Depan dengan Negara Asia Pasifik
Jenewa, NU Online
Secara umum negara-negara Asia and Pasific Group (ASPAG) yang terdiri dari negara berkembang dan maju memahami bahwa pekerjaan masa depan (future of work) merupakan tantangan bersama. Perbedaan tantangan tersebut disikapi dengan berbagai upaya sesuai dengan perbedaan tingkat ekonomi masing-masing negara. Oleh karena itu, perlu peningkatan kolaborasi antara seluruh negara-negara ASPAG dan tetap membutuhkan bantuan teknis dari International Labour Organization (ILO).

Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri yang diwakili oleh Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Haiyani Rumondang membagikan pandangan dan strategi Indonesia dalam menghadapi tantangan pekerjaan masa depan. Ada empat strategi yang diusulkan Haiyani saat menyampaikan pernyataan delegasi Indonesia di hadapan Menteri-Menteri Tenaga Kerja Asia Pasifik.

Pertama yaitu meningkatkan kerja sama dalam investasi Sumber Daya Manusia (SDM). Negara-negara di kawasan Asia Pasifik harus terus memperkuat kerja sama mereka dalam lembaga dan program pelatihan dan pendidikan vokasi. Indonesia terbuka dan siap untuk bekerja sama dengan negara-negara di Asia dan Pasifik dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas pendidikan dan pelatihan vokasi.

"Ini untuk mempersiapkan diri kita sendiri dengan kemungkinan dampak yang dapat mengganggu akibat teknologi baru di dunia kerja masa depan dan untuk lebih memenuhi permintaan pasar kerja," kata Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Haiyani Rumondang, Jenewa, Swiss, Rabu (19/6) waktu setempat.

Strategi kedua yaitu memperbaiki kebijakan ketenagakerjaan untuk orang lanjut usia. Indonesia berpandangan bahwa angkatan kerja yang menua akan menimbulkan tantangan yang semakin besar bagi Asia Pasifik. Karena tenaga kerja lanjut usia di wilayah tersebut diperkirakan akan meningkat secara signifikan pada tahun 2030.

"Kita harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama bagi pekerja lanjut usia di pasar kerja. Negara-negara di kawasan Asia Pasifik harus mengeksplorasi lebih jauh cara dan strategi yang tepat dan memadai untuk memastikan bahwa orang lanjut usia dapat memanfaatkan pasar kerja secara setara," tegas Haiyani.

Dalam menghadapi tantangan pekerjaan masa depan, strategi ketiga yaitu menangani pekerja di sektor informal. Laporan International Labour Organization menunjukkan bahwa 63,2% dari populasi pekerja di Asia Pasifik mencari nafkah di sektor informal. Sebagian besar dari mereka tidak menikmati perlindungan sosial dan kondisi kerja yang layak.

"Oleh karena itu, kami percaya bahwa kita perlu saling belajar tentang cara menangani pekerja sektor informal guna memfasilitasi transisi pekerja tersebut ke sektor formal," kata Haiyani.

Strategi keempat yaitu memperkuat dukungan ILO untuk negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Indonesia menggarisbawahi pentingnya ILO dalam memberikan bantuan kepada pemerintah, sektor swasta, dan serikat pekerja. ILO perlu memberikan prioritas lebih besar ke wilayah Asia Pasifik dalam mengatasi tantangan ketenagakerjaan di masa depan. Indonesia berpandangan bahwa mengatasi tantangan pekerjaan di masa depan membutuhkan partisipasi seluas mungkin dari semua pemangku kepentingan.

"Dalam hal ini, kami mendorong anggota ASPAG untuk menegaskan kembali komitmennya dalam Deklarasi Bali yang diadopsi pada 2016 untuk mempercepat upaya mempromosikan pertumbuhan inklusif, keadilan sosial, dan pekerjaan yang layak," ujar Haiyani.

Berdasarkan data Ketenagakerjaan Asia-Pasifik dan Social Outlook 2018 tercatat bahwa Asia-Pasifik adalah wilayah dengan tingkat pengangguran terendah di dunia. Antara 2007-2017, produktivitas tenaga kerja di wilayah Asia dan Pasifik meningkat rata-rata 5 persen per tahun. Namun, kemajuan yang mengesankan ini harus didukung dengan komitmen untuk mencapai pekerjaan yang layak.

"Indonesia percaya bahwa kemajuan signifikan dalam pekerjaan yang layak untuk semua berfungsi sebagai dasar untuk pertumbuhan ekonomi yang kuat di wilayah Asia Pasifik di tahun-tahun mendatang," kata Haiyani.

Pada akhir pernyataannya, atas nama pemerintah Indonesia Haiyani ingin menyampaikan penghargaan kepada Tiongkok atas kepemimpinannya sebagai Koordinator ASPAG untuk periode 2018-2019 dan menyatakan siap bekerja sama dengan koordinator ASPAG ILO yang akan datang. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG