::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pendirian NU di Afghanistan Beri Inspirasi Sejumlah Negara

Kamis, 20 Juni 2019 12:30 Nasional

Bagikan

Pendirian NU di Afghanistan Beri Inspirasi Sejumlah Negara
NU Afghanistan (VOA Indonesia)
Jakarta, NU Online
Para ulama di Afghanistan yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) memberikan inspirasi bagi sejumlah negara seperti Lebanon, Belgia, Rusia, Sudan, dan Turki. Mereka ingin membuka kesempatan yang sama bagi generasi muda untuk belajar Islam di Indonesia.

Selain mengembangkan langkah diskusi dan diplomasi untuk perdamaian Afghanistan, Nadhlatul Ulama juga memberikan beasiswa kepada anak-anak muda Afghanistan.

Jumlah beasiswa yang diberikan belum banyak, tetapi cukup signifikan untuk mengembangkan moderasi Islam dan memupuk sikap toleran sejak dini, terutama bagi generasi muda Afghanistan. Tahun 2019 ini, PBNU memberikan beasiswa untuk 40 mahasiswa dan 10 pelajar.

Menurut Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Asia Pasifik dan Afrika di Kementerian Luar Negeri RI, Arifi Saiman, dialog dan pemberian beasiswa ini sangat efektif untuk ikut memperkenalkan wajah Islam di Indonesia yang rahmatan lil alamin, yang mengedepankan toleransi pada sesama.

Menurutnya, banyak negara ingin membuka forum yang sama. Ia menjelaskan, ada permintaan dari negara-negara seperti Lebanon, Belgia, Rusia, Sudan dan Turki untuk mengembangkan apa yang sudah dilakukan oleh NU Afghanistan.

“Mereka merujuk pada konsep Islam Nusantara yang dijalankan NU. Yang paling mengagetkan ada 168 masjid di Belgia yang sangat ingin agar ada orang NU bisa jadi imam di sana,” terang Arifi Saiman.

“Saya baru kembali dari penempatan di Paris, yang bersebelahan dengan Belgia. Memang masalah ekstremisme akhir-akhir ini tumbuh di kedua negara, jadi wajar jika mereka ingin mengatasi hal ini, menjaga agar masjid tetap moderat. Permohonan ini sudah saya sampaikan ke NU,” tambah Arifi.

Nadhlatul Ulama, lanjut Arifi, memang kerap menjadi aktor perdamaian, antara lain yang patut dicatat adalah ketika berhasil mempertemukan kelompok Sunni dan Syiah di Irak dan Qatar. Dan kini di Afghanistan.

“Saya juga yakin konsep Islam Nusantara NU ini mampu menepis Islamophobia dan mampu membuat negara-negara lain memahami bahwa Islam tidak se-ekstrem yang mereka lihat, rasakan atau persepsikan selama ini,” tandas Arifi.

Pada tahun 2016 lalu, tercatat NU Afganistan sudah mempunyai kepengurusan di 22 provinsi yang melibatkan lebih dari 6000 ulama berkebangsaan asli Afganistan dari berbagai kelompok dan faksi. Kini NUA sedang mengupayakan pengembangan NU di 34 provinsi di Afghanistan.

NU Afganistan terpisah sama sekali secara struktural dari PBNU, tak seperti Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) yang tersebar di mancanegara. Para ulama moderat Afganistan "mencangkok" NU dari Indonesia untuk mempercepat proses perdamaian di sana. (Fathoni)