IMG-LOGO
Tokoh

Lagi Ngaji, Santri Mbah Hasyim Dijemput karena Istri Melahirkan

Kamis 20 Juni 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Lagi Ngaji, Santri Mbah Hasyim Dijemput karena Istri Melahirkan
Kiai Abdul Kholiq (kiri)
Semasa hidup Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari, banyak santri yang kemudian menjadi ulama dan terlebih dahulu belajar ke Kiai Hasyim di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Salah satu santri yang rajin mengaji ke Kiai Hasyim adalah KH Nur Salim.

Kiai Nur Salim berasal dari Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Bahkan saat putra kandungnya lahir, Kiai Nur masih sedang mengikuti pengajian Kiai Hasyim Asy'ari. Peristiwa itu terjadi pada hari Jumat Legi tanggal 18 Syawal 1355 H atau bertepatan pada tanggal 1 Januari 1937 M. Saat itu KH Nur Salim masih meneruskan mondok di Pesantren Tebuireng Jombang setelah menikah.

"Sehingga terpaksa harus disusul ke Tebuireng untuk memberitahukan kelahiran anaknya," jelas cicit KH Nur Salim kepada NU Online, Muhammad Fajrul Falah Afandi, Kamis (20/6).

Setelah sampai di rumah, istrinya melahirkan seorang putra dan langsung diberi nama Abdul Kholiq. Nama tersebut diberikan karena tafa'ulan dan tabarukan dengan nama putra Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari. Sosok Kiai Hasyim Asy'ari bagi keluarga KH Nur Salim begitu berarti. Pendiri Nahdlatul Ulama tersebut menjadi rujukan setiap problem yang dihadapi.

Kiai Nur Salim aslinya bernama Soko, ia menikah dengan Kasiyat putri H Siroj atau Kamso. Cerita pernikahan ini berawal saat ia pulang dari nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang dan Pesantren Sidogiri Pasuruan. Saat itu H Siroj sangat terkesan dengan sosok santri yang sudah dikenal sifat bagus dan kealimannya, sehingga kemudian dinikahkan dengan anaknya. 

H Siroj juga sangat mendukung menantunya, baik secara mental maupun material dalam langkah perjuangan KH Nur Salim. KH Nur Salim memiliki 11 putra-putri, yaitu Ghozi (meninggal waktu kecil), Ashari (meninggal waktu kecil), Abdul Kholiq, Abdul Wahid (meninggal waktu kecil), Hasyim Bisyri, Hasan Bisyri, Siti Aminah, Masda'i, Ni'mah, Muhsin, dan Abdullah Munif.

Salah satu putranya yang bernama KH Abdul Kholiq kemudian hari kelak menjadi tokoh ulama yang mendedikasikan dirinya untuk Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Kholiq tercatat pernah menjadi Wakil Rais Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Babat tahun 1980 dan Rais MWC NU Babat tahun 1985.

Kemudian menjadi Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan. Hingga akhirnya menjadi Rais PCNU Lamongan, menggantikan KH Abdullah Iskandar. Pernah juga menjadi Ketua Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahidil Islamiyah (RMI) NU Lamongan.

Akan tetapi beliau KH Nur Salim tidak berkehendak mendirikan pesantren secara institusi seperti umumnya santri KH Hasyim Asy'ari saat itu. Ia cukup mendirikan mushala untuk berjamaah dan mengajar ngaji bagi masyarakat yang membutuhkannya. Itupun masih sangat sederhana, ngaji sorogan, bandongan sampai ia wafat pada tanggal 09 Ramadhan 1386 H atau 22 Desember 1966 M.

Dalam berdakwah, Kiai Nur Salim banyak dibantu oleh putranya KH Abdul Kholiq. Suatu hari KH Abdul Kholiq berkeinginan mendirikan madrasah akan tetapi masih kurang direspon oleh ayahnya. Saat itu sang ayah mengatakan "Liq, gawe madrasah opo maneh ngopeni teruse iku abot, wis sing penting kapan ono sing njalok wulang ngaji yo diulang (kalau buat madrasah apa lagi mengurusinya itu berat, yang penting kapan ada yang minta diajar ngaji ya diajar)".

"Begitulah karakter KH Nur Salim yang tidak ingin neko-neko (ambil resiko)," ujar pria yang akrab disapa Gus Falah ini.

Seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan keadaan masyarakat, banyak yang mendesak KH Abdul Kholiq untuk mendirikan pesantren, di antaranya KH Ahmad Marzuqi Zahid dan KH Abdulloh Faqih pengasuh Pesantren Langitan. Waktu sowan ke KH Ahmad Marzuqi Zahid dan KH Abdullah Faqih oleh KH A Marzuqi Zahid, Kiai Kholiq dikatakan kiai yang tidak pantas. 

Kemudian ia memberanikan diri bertanya kepada Kiai Marzuqi "Apa maksud kiai yang tidak pantas, yai? ". Jawab Kiai Marzuqi "Kamu itu alim, kamu tidak pantas kalau tidak punya pondok" lalu Kiai Marzuqi menyuruh untuk mendiriikan pesantren. Hal ini kemudian dihaturkan ke romo KH Abdullah Faqih, oleh KH Abdullah Faqih, rencana tersebut didukung bahkan diberi modal uang untuk segera membangunnya. 

Namun baru setelah benar-benar yakin dan mantap, tepat pada tanggal 1 Rabiul Awwal 1406 H atau 14 November 1985 M dibentuklah panitia pembangunan pondok yang diberi nama 'Nurus Siroj'.

Nurus Siroj diambil dari gabungan dua kata yaitu Nur nama dari ayahnya yaitu KH Nur Salim dan Siroj nama dari kakeknya yaitu H Siroj. Dengan tujuan mengenang keduanya telah berjasa atas keberadaan dirinya secara material, mental, dan spiritual. 

Putra KH Nur Salim bernama KH Abdul Kholiq ini memang sudah kelihatan memiliki keunggulan sejak usia remaja. Seperti ketekunan, kerja keras, kepemimpinan dan kemauan yang keras untuk mencapai cita-cita. KH Abdul Kholiq meninggalkan rumah untuk menimba ilmu pada awal tahun 1950-an, ia berangkat menuju rumah Kiai Abdul Hadi Zahid, saat itu menjadi Pengasuh Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Belum puas dengan keilmuan yang telah dimiliki, pada tahun 1954 ia melanjutkan perjalanan menimba ilmu kepada Syech Masduqi Lasem Rembang, Jawa tengah. Di pesantren asuhan KH Masduqi inilah ia mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman, yang di kemudian hari sangat mempengaruhi kehidupan KH Abdul Kholiq. Ia juga berhasil menguasai dengan baik kitab-kitab besar seperti Jamul Jawami, Uqudul Juman, Asybah Wan Nadloir, Fathul Wahhab, dan Ad-Dasuqi.

"Dalam menambah pengetahuan dan pengalaman, ia menyempatkan berguru thoriqot ke KH Romli At-Tamimi asal Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang," tambah Gus Falah.

Setelah banyak menghabiskan waktunya dari pesantren satu ke pasantren yang lain. Akhirnya KH Abdul Kholiq melangsungkan pernikahan dengan gadis dari Desa Mulyo Agung Singgahan Tuban, bernama Siti Masruroh.

Dalam pengabdianya dan menyebarkan ilmunya, KH Kholiq tetap berusaha menata ekonomi keluarga, di antaranya mendirikan usaha-usaha seperti membuka toko di pasar Moropelang (1966), membuat penggilingan padi/selep (1980) di beberapa daerah, membuat setrum aki (1981), dan mendirikan pabrik tahu (1983).

KH Abdul Kholiq termasuk seorang yang mempunyai kecintaan yang sangat dalam kepada tanah kelahiranya, seorang tokoh masyarakat yang mengabdikan hidupanya untuk desa tempat kelahirannya. Banyak kemajuan-kemajuan Desa Tritunggal berkat langkah-langkah strategisnya. 

Ia juga sangat dekat dengan masyarakat dan suka membantu. Maka tak heran keluarga KH Nur Salim dan KH Abdul Kholiq sangat disegani, dihormati, dan dicintai warga masyarakat Tritunggal dan sekitarnya. 

Pada tahun 1966 KH Kholiq berangkat haji dengan transportasi kapal laut, selama kurang lebih 3 bulan. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang perempuan tua (Syehoh Abbasiyyah) yang ia anggap sebagai guru dan orang tua sendiri. Karena kebaikan budi pekerti KH Abdul Kholiq,  perempuan itu memberi hadiah yaitu tambahan nama Afandi yang berarti As-Sayyid (Tuan) sehingga menjadi KH Abdul Kholiq Afandi.

Kamis legi 5 shafar 1425 H atau 25 Maret 2004 M ba'da Ashar KH Abdul kholiq Afandi wafat di rumah sakit Islam Nasrul Ummah Lamongan. Dan dimakamkan setelah shalat Jumat di sebelah timur Pondok Putra Nurus Siroj. Hingga kini masih sangat banyak masyarakat dari berbagai kalangan berdatangan untuk ziarah dan memberikan penghormatan kepadanya.

"Semoga santri Pesantren Nurus Siroj bisa meneruskan perjuangan KH Nur Salim dan KH Abdul Kholiq Afandi," tandas alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang ini.

Syarif Abdurrahman, Kontributor NU Online Jombang, Jawa Timur
Tags:
Bagikan:
Kamis 30 Mei 2019 16:15 WIB
OBITUARI
Kiai Tolchah Hasan, Ulama dengan Segudang Referensi
Kiai Tolchah Hasan, Ulama dengan Segudang Referensi
KH Tolchah Hasan. (Foto: Channel Youtube Unisma)
Nama Kiai Tolchah Hasan sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia, lebih-lebih warga Malang, Jawa Timur. Ia masyhur sebagai sosok ulama yang aktif di dunia pergerakan dan dekat dengan masyarakat. Karirnya di Ansor pada tahun 1960-an membuat namanya populer di masyarakat sebagai seorang organisator yang ulung dan rajin. Selain itu, ia juga terkenal sebagai seorang pendidik yang sangat dihormati.

Ada kisah menarik datang kepada saya mengenai Kiai Tolchah Hasan sebagai seorang ulama yang juga pendidik ini. Cerita ini saya dapatkan dari seorang dosen Universitas Islam Malang (Unisma), kampus NU yang beliau dirikan bersama Kiai Masjkur dan Kiai Oesman Mansjur. Dosen yang bercerita kepada saya adalah Dr Masyhuri, salah seorang dosen penelitian di pascasarjana Unisma.

Ketika penulis sedang kuliah pascasarjana di Unisma pada tahun 2016 lalu, Dr Masyhuri mengatakan bahwa Kiai Tolchah sampai usianya yang ke-80 tahun masih merupakan sosok yang gemar membaca. Untuk mempersiapkan mengisi kuliah di Unisma (baik S-2 maupun S-3), beliau bisa menghabiskan berpuluh kitab atau buku sebagai bahan mengajar. Dari kitab-kitab itu Kiai Tolchah lalu membuat satu makalah. Dalam kebiasaannya, makalah tersebut digandakan sendiri oleh Kiai Tolchah untuk disebarkan kepada para mahasiswa yang ia beri kuliah.

“Kiai Tolchah itu setiap mau mengajar di kelas, malamnya harus membaca minimal 20 kitab,” tutur Masyhuri di hadapan para mahasiswa.

Setelah membaca berbagai referensi, Kiai Tolchah biasanya akan meminta kepada salah satu menantunya untuk membuat tayangan power point berdasarkan ringkasan konsep yang dibuatnya dalam tulisan tangan. 

Penulis juga pernah mendengar dengan telinga penulis sendiri bahwa Kiai Tolchah telah membaca 10 kitab dan buku dalam satu malam untuk menyiapkan sebuah seminar bagi mahasiswa baru di Unisma.

“Makalah ini saya siapkan dalam satu malam, sampai jam satu malam tadi saya menyiapkan ini dengan 10 kitab sebagai referensi,” paparnya di hadapan sekitar 1000 mahasiswa baru Unisma.

Kiai Tolchah sebagai seorang kiai pesantren, ia juga selalu memberikan dorongan positif kepada para mahasiswa yang juga merupakan santri di pesantren. Beliau ingin mengangkat nama baik para santri dan pesantren agar tidak terpinggirkan. 

Salah satu mahasiswa beliau di Unisma yang juga merupakan salah satu ustadz di Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyah, Mujiharto, turut memberikan testimoni tentang ini. Di dalam kelas perkuliahan suatu ketika Kiai Tolchah menyampaikan pesan, “Santri itu harus rajin membaca, menulis, dan penelitian,” kata pria yang akrab dipanggil pak Muji itu menirukan Kiai Tolchah.

Sekitar bulan April kemarin dalam sebuah kesempatan memberikan mauidhah hasanah di hadapan para wali santri Pondok Pesantren Al-Islahiyah Putri, Kiai Tolchah menyampaikan sebuah pesan yang menggetarkan hati para hadirin:

"Jika bulan depan saya masih diberi kesempatan hidup oleh Allah maka saya akan berumur 84 tahun," katanya perlahan tapi jelas sekali. 

Entah itu isyarat atau bukan, pada bulan Mei ini bertepatan dengan minggu terakhir bulan Ramadhan beliau telah dipanggil oleh Sang Khaliq.

Demikianlah Kiai Tolchah Hasan, kiai dengan segenap kealiman; kiai dengan segenap kepiawaian dan kecakapan hidup. Tapi selama hidupnya sepi dari hiruk pikuk pembicaraan orang dan liputan media.


R Ahmad Nur Kholis, alumnus Program Pascasarjana Unisma Malang; kontributor NU Online

Ahad 19 Mei 2019 19:45 WIB
KH Ahmad Syaikhu Tokoh NU Pendiri Pesantren Al-Hamidiyah Depok
KH Ahmad Syaikhu Tokoh NU Pendiri Pesantren Al-Hamidiyah Depok
Jika melakukan pencarian Ahmad Syaikhu di Google, maka mesin pencari itu akan mengarahkan kepada seorang pejabat di Bekasi dan segala aktivitasnya. Padahal ada Ahmad Syaikhu lain yang populer di masa orde lama dan orde baru. Dialah tokoh pendiri Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Depok. Juga tokoh NU kenamaan yang perannya tak hanya nasional, tapi juga internasional. 

Namun, peran dan jasa KH Ahmad Syaikhu jarang sekali diketahui orang, bahkan mungkin oleh warga NU sendiri. Penulisan namanya pun tidak seragam ada yang menulis Achmad Syaichu, Achmad Syaikhu, Ahmad Syaichu, Ahmad Syaikhu. Untuk memudahkan, dalam tulisan ini menggunakan yang disebut terakhir.  

Riwayat Masa Kecil dan Pendidikannya
KH Ahmad Syaikhu dilahirkan di daerah Ampel, Surabaya, pada Selasa Wage, 29 Juni 1921. Ia adalah putra bungsu dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Chamid dan Ny Hj Fatimah. Pada usia 2 tahun ia sudah yatim, ditinggal wafat ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Ahmad Syaikhu bersama kakaknya, Achmad Rifa'i, diasuh ibunya. 

Untuk memperoleh pendidikan agama, Syaikhu belajar kepada Kiai Said, guru mengaji bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Pada usia 7 tahun ia sudah mengkhatamkan Al-Qur'an 30 Juz. Selain belajar agama, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Mardi Oetomo, sebuah sekolah yang dikelola Muhammadiyah. 

Tak lama belajar di sekolah ini, oleh H. Abdul Manan, ayah tirinya, dipindahkan ke Madrasah Tashwirul Afkar. Lembaga pendidikan ini didirikan KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Mas Mansur, dan KH Dahlan Ahyad. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai cikal-bakal Nahdlatul Ulama.

Untuk membantu meringankan beban ibunya yang harus menghidupi putra-putranya, setelah H. Abdul Manan wafat, pada usia kanak-kanak Syaikhu sudah sudah mulai bekerja di perusahaan sepatu milik, Mohammad Zein bin H. Syukur. Dan terpaksa untuk beberapa lama ia tidak melanjutkan sekolah.

Syaikhu kembali ke bangku sekolah sesudah selama dua tahun bekerja dan memiliki bekal yang relatif cukup. Ia masuk Madrasah Nahdlatul Wathan, sebuah lembaga pendidikan yang juga didirikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah. Sambil belajar, ia kembali bekerja pada seorang tukang jahit kenamaan di Pacar Keling, Mohamad Yasin. Di Nahdlatul Wathan ia dibimbing seorang guru yang kemudian sangat mempengaruhi perkembangannya yaitu KH Abdullah Ubaid. Selain itu ia juga berguru kepada KH Ghufron untuk belajar ilmu fikih.

Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Ny Fatimah yang sudah dua kali menjanda diperistri KH Abdul Wahab Hasbullah. Di bawah bimbingan ayah tirinya itulah Syaikhu berkembang menjadi pemuda yang menonjol. Kepemimpinannya mulai tumbuh.

Sekolah sambil bekerja seolah-olah menjadi pola hidup pemuda Syaikhu. Setamat dari Nahdlatul Wathan, ia kembali bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut. Selama bekerja di bengkel itu, ia melakukan kegiatan dakwah di lingkungan kawan-kawan sekerja.

Setahun kemudian, 1938, KH Abdul Wahab Chasbullah mengirimkan Syaikhu ke Pesantren Al-Hidayah, Lasem asuhan KH Ma'shum. Selama di pesantren ini, ia menjadi santri kesayangan KH Ma'shum. Sesudah 3 tahun belajar di Lasem, ia terpaksa harus boyong ke Surabaya, karena ia terserang penyakit tipes (typus) yang cukup serius.

Pada tanggal 5 Januari 1945, pada usia 24 tahun, Syaikhu mempersunting Solichah, putri Mohamad Yasin, penjahit kondang asal Pacar Keling yang pernah menjadi majikannya. Sesudah berkeluarga, ia membuka home industry sepatu di rumahnya, dengan 15 orang karyawan. 

Berjuang melalui NU
Ketika terjadi penyerbuan tentara Sekutu ke kota Surabaya, ia bersama istrinya mengungsi ke Bangil. Pada tahun 1948, sesudah Surabaya kembali aman, ia pulang ke kota kelahirannya. Mulailah ia terjun sebagai sebagai pengajar di Madrasah NU. Di samping mengajar, ia juga menjadi Ketua Ranting NU Karang Menjangan. Itulah awal mula Syaikhu mulai terlibat di organisasi NU. 

Pada kepengurusan NU Cabang Surabaya periode 1948-1950, ia ditunjuk sebagai salah satu ketua Dewan Pimpinan Umum (tanfidziyah), bersama KH Thohir Bakri, KH Thohir Syamsuddin dan KH A. Fattah Yasin. Karier Syaikhu di organisasi terus menanjak dengan cepat. Pada tahun 1952, ia diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRDS Kota Besar Surabaya.

Awal tahun 1950-an ia mendaftarkan diri menjadi pegawai pemerintah dan bekerja di Kantor Pengadilan Agama Surabaya dan kemudian berhasil menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala. Baru setahun di Pengadilan Agama, ia pindah ke Kantor Agama Kotapraja Surabaya.

Pada tahun 1953, Syaikhu terpilih menjadi ketua LAPUNU (Lajnah Pemilihan Umum NU) daerah pemilihan Jawa Timur. Dan pada pemilu 1955, ia diangkat menjadi anggota DPR dari Fraksi NU, dan pada tanggal 25 November 1958 ia ditunjuk sebagai Ketua Fraksi NU. 

Dalam kurun waktu 15 tahun sejak ia menjadi anggota DPRDS di Surabaya, akhirnya ia mencapai puncak karir di gelanggang politik, dengan menjadi Ketua DPRGR pada tahun 1966. Di NU sendiri ia pernah menjadi salah seorang ketua PBNU, sampai tahun 1979 (ketika berlangsung Muktamar NU di Semarang).

Kepemimpinan dan ketokohan KH Ahmad Syaikhu tidak hanya diakui secara nasional, melainkan juga sampai ke level internasional. Pengakuan itu terbukti dengan dipilihnya KH Ahmad Syaikhu sebagai Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) dalam konferensinya yang pertama di Bandung, tanggal 6-14 Maret 1965. 

KH Ahmad Syaikhu yang dikenal sebagai pengagum Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu berhasil mengembangkan misi dakwah Islamiyah dan misi perjuangan bangsa Indonesia dalam pentas politik internasional.

Sekian lama KH Ahmad Syaikhu menekuni dunia politik, tak menyurutkan perhatian dan minatnya dalam dunia dakwah Islamiyah. Malahan semangat mengembangkan dakwah Islamiyah itulah yang dijadikan motivasi dalam keterlibatannya di pentas politik. Pada tanggal 27 Ramadhan 1398 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 1978, ia mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, yaitu Ittihadul Muballighin. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkannya menuju terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia dakwah dan pesantren. 

Pesantren Al-Hamidiyah yang kini berdiri cukup megah di daerah Depok, merupakan saksi bisu yang menunjukkan betapa besar dan luhurnya cita-cita yang dikandung KH Ahmad Syaikhu. Dari pesantren juga berakhir di pesantren. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Kamis 16 Mei 2019 4:0 WIB
Kiai Dhofir Munawwar, Menantu Andalan Kiai As’ad Syamsul Arifin
Kiai Dhofir Munawwar, Menantu Andalan Kiai As’ad Syamsul Arifin
Kiai Maimoen Zubair pernah bercerita, bahwa Kiai Abdul Karim, pendiri dan pengasuh pertama pesantren Lirboyo Kediri, memiliki dua menantu adalan. Pertama, adalah Kiai Marzuqi Dahlan, kedua, adalah Kiai Mahrus Ali. 

Dua menantu keren inilah yang banyak membantu Kiai Abdul Karim mengurusi pesantren Lirboyo. Bukan hanya itu, sepeninggal Mbah Manab, nama lain Kiai Abdul Karim, kedua menantu itu juga yang bahu-bahu membahu meneruskan dan memajukan pesantren Lirboyo. 

Keberadaan menantu bagi seorang kiai yang mengelola pesantren besar cukup fundamental. Karena ia menjadi “tangan kanan” bagi pengasuh. Beban berat sebagai pemimpin pesantren, suluh penerang umat dan segenap aktivitas akan sedikit banyak dibantu oleh kehadiran dan peran seorang menantu. Apalagi menantu tersebut termasuk kategori “menantu andalan”.  

Mungkin itulah yang dirasakan juga oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, pengasuh generasi kedua Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Kiai As’ad di tengah kesibukannya sebagai pemimpin pesantren, tokoh nasional, sesepuh NU dan kiai-nya masyarakat memiliki menantu andalan. Beliau adalah Kiai Dhofir Munawwar. 

Nama Kiai Dhofir Munawwar tidak begitu dikenal publik karena di samping kondisi politik pada waktu yang tidak memungkinkan, ia juga tipikal kiai yang menempuh jalan khumul, menyingkir dari popularitas. 

Seluruh waktunya dihabiskan untuk pesantren dan para santri.Khumul adalah salah satu jalan yang lumrah ditempuh oleh para sufi. Secara sederhana ia dimaknai dengan keterasingan, menyingkir dari hiruk-pikuk duniawi. Ibnu Athaillah al-Sakandari (bisa dibaca al-Iskandari atau al-Iskandarani) dalam al-Hikam berkata:

ادفن وجودك في ارض الخمول فما نبت مما لم يدفن لا يتم نتاجه 

“Kuburlah dirimu dalam tanah yang tak dikenal, sebab sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam tak berbuah sempurna” 

Syekh Muhammad Said Ramadan al-Buthi dalam anotasi (syarah) terhadap kitab al-Hikam menyebut bahwa laku khumul ini adalah salah satu kebiasaan nabi Muhammad Saw. Sebelum ia menerima wahyu. Pada waktu itu kebiasaan nabi adalah berkontemplasi di Gua Hira.

Masih menurut al-Buthi, fungsi laku khumul adalah pertama, untuk mematangkan diri baik secara intelektual, spiritual dan emosional. Kedua, ia sebagai salah satu cara untuk menyucikan jiwa (tazkiyah al-nafs). 

Nah Kiai Dhofir menempuh cara ini, ia menepi dari aktivitas selain mengajar para santri. Oleh mertuanya, Kiai As’ad, ia dipasrahi untuk mengajar kitab dan tidak diperkenankan mengurusi yang lain. Bahkan ketika perhelatan Munas NU 1983 dan Muktamar 1984, Kiai Dhofir oleh Kiai As’ad dilarang hadir dalam forum bahtsul masa’il. Kiai As’ad berkata dengan bahasa Madura, “Mon bedhe Syekh Dhofir, kebey apa mabede bahtsul masai’il?”, terjemahnya, “Kalau ada Syekh Dhofir, buat apa masih melaksanakan bahtsul masail?” 

Pernyataan Kiai As’ad di atas menyiratkan bahwa Kiai Dhofir memiliki kapasitas keilmuan yang luar biasa, sehingga untuk memecahkan sebuah masalah tak perlu repot-repot mengadakan bahtsul masai’l. Cukup ditangani oleh seorang Syekh Dhofir. Makna lainnya adalah Kiai As’ad sedang memosisikan agar Kiai Dhofir tetap di jalan khumul, yaitu tidak mencari popularitas dengan beradu dalil dalam forum Bahtsul Masail. 

Kiai As’ad memang lebih sering menyebut nama menantunya itu dengan sebutan “syekh” daripada “Kiai”. Panggilan syekh ini tidak bermakna beliau orang Arab, alih-alih orang Arab, selama menempuh pendidikan, beliau pun tak pernah mencarinya di tanah Arab. Panggilan syekh lebih kepada “pengakuan” Kiai As’ad kepada keilmuan sang menantu. Dan faktanya, dalam beberapa kesempatan, beliau memang mengakui bahwa secara keilmuan Syekh Dhofir lebih alim ketimbang dirinya. 

Secara nasab, Syekh Dhofir masih kerabat Kiai As’ad sendiri. Karena secara silsilah nasab keduanya bertemu di Kiai Ruham. Kiai As’ad ibn Kiai Syamsul Arifin ibn Kiai Ruham. Sementara Kiai Dhofir ibn Kiai Munawwar ibn Kiai Ruham. Dengan demikian, berarti Syekh Dhofir masih sepupu Kiai As’ad Syamsul  Arifin. 

Lahir dari keluarga pesantren, Kiai Dhofir belajar dasar-dasar agama dari orang tuanya. Setelah dirasa cukup, beliau belajar di Pesantren an-Nuqayyah Guluk-guluk Sumenep di bawah asuhan Kiai Abdullah Sajjad. Di pesantren ini beliau mendalami ilmu gramatika bahasa Arab (nahwu-sharaf). Kitab-kitab nahwu dari marhalah ula hingga marhala ulya, beliau libas tuntas di pesantren yang didirikan oleh Kiai Syarqawi ini. 

Nahwu-sharaf menjadi sangat penting dalam membentuk intelektual seseorang. Sebab dengan ilmu itulah ia bisa terkoneksi dengan khazanah islam yang mayoritas berbahasa arab. Menjadi repot kiranya ada seorang mengaku ustaz atau kiai masih bermasalah di ilmu alat dasar, misalnya ia tidak bisa membedakan mashdar dan isim mashdar? apakah lafadz kafara apakah ikut wazan tsulasi mujarrad atau mazid?

Maka memahami nahwu-sharaf adalah langkah pertama dalam karir intelektual seseorang.  Syekh Syarafuddin ibn Yahya, Pengarang Nazam Imrithi, pernah berkata: 

النحو اولى اولا ان يعلما # اذ الكلام دونه لن يفهما

Nahwu adalah ilmu yang harus pertama kali dipelajari
Karena tanpanya perkataan tak dapat dipahami

Selepas dari an-Nuqayyah, Syekh Dhofir melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke pesantren tua yang amat kesohor, Pesantren Sidogiri. Di pesantren inilah ia mulai menyusun, mematangkan dan terus memberi beberapa counter discourse, pandangan ulang terhadap beberapa ilmu yang dipelajari. Jadilah Syekh Dhofir seorang yang alim, mutabahhir, menguasasi beberapa jenis keilmuan seperti fikih, usul fikih, tafsir, hadits tasawuf dan beberapa ilmu yang lain. 

Dengan karir akademik yang cemerlang inilah, konon Syekh Dhofir diamanati untuk menjadi “lurah pondok” Pesantren Sidogiri.  Setelah dari Sidogiri kemudian ayahanda dari Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy ini melanjutkan pendidikan ke Pesantren Lasem di bawah asuhan Kiai Maksum. Di Lasem beliau tidak lama, karena di sana tujuannya adalah tabarrukan, yaitu mondok dalam durasi sebentar yang tujuan utamanya adalah mengharap berkah.

Setelah matang secara keilmuan dan namanya cukup popular, Kiai Dhofir menjadi primadona para kiai. Tidak sedikit dari mereka bertujuan untuk menjadikannya sebagai menantu. Konon, beliau dulu diperebutkan tiga pesantren, salah satunya adalah pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. 

Kiai As’ad dengan “strategi” ulungnya bisa menarik Syekh Dhofir muda ke pangkuan pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, yaitu dengan dengan cara dinikahkan dengan putri pertamanya, Nyai Hj Zainiyah As’ad. Dari pernikahan ini, beliau dikarunia empat buah hati. Nyai Qurratul Faizah, Nyai Umi Hani’, Nyai Uswatun Hasanah dan Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah saat ini. 

Keren bukan ada santri menjadi rebutan untuk dijadikan menantu kiai?

Kehadiran Syekh Dhofir benar-benar membawa iklim yang segar bagi Pesantren Sukorejo. Sejak masa Syekh Dhofir inilah kitab-kitab yang dibaca tidak hanya kitab dasar seperti al-Jurumiyah, Kailani, Safinah dan lain-lain. Tetapi nama-nama kitab besar, marhalah ulya seperti Iqna’ ala halli alfadz al-Syuja’, Fath al-Wahhab, Tafsir Jalalain dan nama kitab yang lain. 

Tidak berhenti di situ, model pembacaan dan penerjemahan kitab yang awalnya menggunakan bahasa madura berubah menjadi bahasa Indonesia. dari eksklusif menjadi inklusif. Dan sampai saat ini di Pesantren Sukorejo cara menerjemahkan kitab kuning menggunakan bahasa Indonesia. 

Dahulu pesantren Sukorejo dikenal dengan pesantren perjuangan. Banyak orang menjadikan Sukorejo sebagai tempat persembunyian. Oleh Belanda Sukorejo disebut dengan “daerah suci” yang tak boleh diganggu. 

Maka Sukorejo menjadi tempat yang aman untuk bersembunyi. Bukan hanya itu, Sukorejo menjadi tempat untuk mencari dan melatih kekebalan. Namun, semenjak kedatangan Syekh Dhofir inilah lambat laun citra sebagai pesantren keilmuan juga disematkan kepada Sukorejo. 

Tidak hanya melakukan terobosan dalam aspek keilmuan, Syaikh Dhofir juga melakukan terobosan administrasi. Sejak masa beliaulah, para guru mendapatkan honorarium. Sebelum itu, para guru mendapat upah dengan menerima sarung dan makan di dapur pesantren. Bahkan lembaga-lembaga formal seperti SD, SMP dan SMA konon juga idenya bersumber dari beliau. 

Kepada Syekh Dhofir saya mempunyai hubungan langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung, beliau adalah sanad keilmuan saya, karena seluruh guru saya pernah berguru dan menyambungkan koneksi keilmuan kepada beliau. Terlebih Syekh Dhofir menjadi salah satu “arsitek intelektual” yang memiliki jasa besar dalam membentuk “bangunan” keilmuan KH Afifuddin Muhajir, guru saya saat ini.

Secara langsung saya memiliki hubungan dengan Syekh Dhofir karena sampai saat ini saya membaca doa (bahasa lainnya amalan) yang salah satu tawassulnya adalah beliau. Konon, manfaat dari doa ini adalah bisa menambah kecerdasan  dan menguatkan hafalan.

Aspek lain yang membuat Syekh Dhofir begitu melekat dalam benak saya adalah soal satu pengetahuan yang saya dapat dari beliau, keterangan ini tidak saya jumpai dalam berbagai literatur keislaman. Keterangan yang dimaksud adalah bahwa apabila dalam karya-karya Syekh Nawawi al-Bantani ditemukan redaksi “wazadahu al-Syarqawi” “dan menambah siapa al-Syarqawi” maka dimaksud adalah Kiai Syarqawi Guluk-guluk Sumenep bukan Syekh Ahmad Ibn Ibrahim Ibn Abdullah al-Syarqawi, ulama asal mesir yang umumnya dikutip dalam kitab-kitab fikih abad pertengahan. Ilmu ini saya terima dari Dr. Abdul Moqsith Ghazali, beliau dari abahnya, KH Ghazali Ahmadi, beliau dari Syekh Dhofir Munawwar. 

Setelah diteliti kisahnya begini; Syekh Nawawi al-Bantani adalah ulama asli Indonesia yang ada di Mekkah, ia tumbuh dan belajar di sana sampai menjadi ulama terkenal yang memiliki banyak karya. Saking tingginya nilai keulamaan ulama asal Banten ia dianugerahi gelar sayyid ulama al-Hijaz. 

Nah, semasa di Mekkah Syekh Nawawi ini satu angkatan dengan Kiai Syarqawi. Ketika Syekh Nawawi menulis kitab dan kemudian dibaca oleh sahabatnya, Kiai Syarqawi, beliau biasanya memberi catatan tambahan dalam karya Syaikh Nawawi itu. Maka oleh Syekh Nawawi diberi keterangan, “Wazadahu al-Syarqawi, dan menambah siapa sahabat saya, Kiai Syarqawi. 

Sekadar selingan, di samping nama Syaikh Nawawi dalam literatur mazhab syafi’iyah ada juga yang bernama Imam al-Nawawi. Beliau adalah ulama kenamaan mazhab Syafi’iyah yang berasal dari Damaskus Suriah (Syam), penulis beberapa kitab, seperti al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Minhaj al-Thalibin, Raudhah al-Thalibin, Riyadl al-Shalihin, Hadis Arbain dan lain sebagainya. Jadi ada Nawawi dalam negeri, ada Nawawi luar negeri.  Yang dimaksud pertama adalah Syekh Nawawi al-Bantani sedangkan nama kedua adalah Imam al-Nawawi al-Damasyqi, keduanya berbeda. 

Syekh Dhofir Munawar mengabdikan seluruh jiwa dan raganya kepada ilmu dan peradaban. Denyut nadinya adalah pendidikan dan keilmuan. Setiap hari kebiasaannya adalah membacakan kitab di hadapan para santri. Ketika bulan ramadhan, beliau istikamah mengisi khataman Tafsir Jalalain. Dari jam 08. 00 WIB hingga waktu asar. 

Pada dini hari Ramadan tanggal 10 tahun 1405 atas 30 Mei 1985, setelah satu tahun Muktamar NU ke 27, Syekh Dhofir menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan seluruh santri, alumni dan seluruh pecintanya. Semua orang merasakan kehilangan dengan sosok yang jasanya begitu besar utamanya bidang keilmuan di Pesantren Sukorejo ini, tak terkecuali Kiai As’ad Syamsul Arifin. 

Konon beliau meneteskan air mata dan mengatakan bahwa separuh ilmunya pergi bersamaan dengan kepergian Syekh Dhofir. Syekh Dhofir Wafat dan pergi namun ide-ide dan pengetahuan yang ia salurkan kepada para santri terus direproduksi kembali.


Ahmad Husain Fahasbu, santri Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG