IMG-LOGO
Nasional

Dialog Deddy Corbuzier dengan Gus Miftah: Kenapa Gue Harus Mualaf, Gus?

Jumat 21 Juni 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Dialog Deddy Corbuzier dengan Gus Miftah: Kenapa Gue Harus Mualaf, Gus?
Deddy Corbuzier dengan Gus Miftah
Jakarta, NU Online 
Deddy Corbuzier resmi memeluk agama Islam pada Jumat (21/6) di Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta. Ia dibimbing langsung oleh pengasuh pesantren, KH Miftah Maulana Habiburrahman, saat membacakan dua kalimat syahadat.

"Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Saya bersaksi dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi sedalam-dalamnya bahwa Nabi Muhammad utusan Allah," ujar KH Miftah Maulana Habiburrahman yang diikuti Deddy Corbuzier.

Gus Miftah, sapaan akrab KH Miftah Maulana Habiburrahman, langsung melafalkan hamdalah dilanjutkan dengan doa. "Alhamdulillah prosesi sakral sudah selesai. Kita berdoa untuk Mas Deddy, beliau diberikan istiqamah," katanya yang langsung diaminkan oleh jemaah yang menyaksikannya.


Dialog Rutin Sebelum Masuk Islam

Dalam sebuah perbincangan bersama Gus Miftah di channel Youtube Deddy Corbuzier, yang diunggah pada Jumat, 18 Januari 2019, ia ditanya oleh tamunya itu, “Gua denger katanya lu udah mau masuk Islam lu?”
 
Pria bernama lengkap Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo, ini mengaku sulit menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Pasalnya, pembawa acara program galawicara di stasiun televisi swasta itu bingung harus belajar kepada siapa mengingat banyaknya ulama.

“Kalau gua masuk muslim, menurut lu nih, karena dengan banyaknya pemuka agama siapa itu gua harus belajar sama siapa Islam yang benar ini menurut lu?" jawabnya diiringi tanya.
 
"Kalau menurut gua belajar sama...," jawaban Gus Miftah terpotong.

Dialog keduanya merupakan video keenam perbincangannya dengan Gus Miftah yang diunggah dengan judul, "Saya Mualaf Bila... (Debat Kursi Panas Gus Miftah vs Me) ". 

Deddy pertama kali membuat konten video bersama pendakwah di klub-klub malam itu pada Oktober 2018 silam. Video tersebut diunggah dengan judul "Agama apa yang paling benar?"

Pada kesempatan tersebut, keduanya membincangkan fenomena keberagamaan bangsa Indonesia yang kerap kali ditarik ke dunia perpolitikan, terlebih saat itu tengah ramai persiapan pemilu. Gus Miftah menyatakan bahwa ada sekelompok umat yang mengikuti dan menghormati ulama jika sepaham saja. Sementara saat ulama berbeda pandangan dengannya, mereka tak lagi menghormati apalagi mengikutinya. "Ini bukan menghormati ulama tapi memanfaatkan ulama," tegasnya.

Karenanya, pria berambut panjang itu mengingatkan agar tidak lagi membawa agama ke dalam ranah politik.

"Jangan menjadikan agama sebagai komoditi politik karena derajat agama jauh di atas politik," tegasnya.

Gus Miftah juga menyampaikan bahwa agama apa saja itu benar bagi penganutnya masing-masing. Kepada mereka yang berbeda agamanya, katanya, mestinya bersikap saling menghargai.

"Kalau toh kita tidak bisa menghargai dia karena agamanya, hargailah dia sebagai hamba Tuhan," katanya menjawab pertanyaan Deddy.

Ayah dari Azkanio Nikola Corbuzier itu menyatakan diri terkesan dengan pernyataan Gus Miftah yang menyebut bahwa menyalakan lampu di tempat gelap dan menyapu di tempat kotor. Saat Deddy mengulang pernyataan itu, Gus Miftah langsung meresponsnya, "Orang baik punya masa lalu, orang jelek pasti punya masa depan."

Orang baik dan orang jelek, menurut Gus Miftah, hanya memilik sedikit perbedaan. "Sebaik-baik orang pernah berbuat jelek dan sejelek-jelek orang pasti pernah berbuat baik," katanya.

Bagi Gus Miftah, yang penting harus taat terhadap agama masing-masing. Ia juga mengaku kerap mengingatkan rekannya yang Nasrani untuk beribadah. Namun, ia justru mendapat respons yang tidak enak.

"Sorry, Gus. Gereja gua gereja negeri. Sabtu Minggu libur," katanya dengan nada bercanda dan langsung disambut gelak tawa. 

Terakhir dalam video tersebut, Gus Miftah mengingatkan agar bangsa Indonesia bersatu dengan keragamannya. Pasalnya, gegara Pilpres, ratusan suku di Indonesia, menurutnya, hanya sisa dua saja, yakni cebong dan kampret.

"Siapapun presidennya, tetap Deddy Corbuzier," pungkasnya yang langsung disambut tawa Deddy sekaligus jabat tangan dan pelukan.

Selanjutnya, di bulan yang sama, Oktober 2018, Deddy kembali berkolaborasi dengan dai kelahiran Agustus 1981 itu. Edisi keduanya itu, mereka membahas tentang mengidolakan sosok Ahok yang dianggap membuat Muslim otomatis kafir.

Gus Miftah mengawalinya dengan meminta konfirmasi mitra bicaranya itu tentang kekafirannya jika hanya mengidolakan menjadi kafir. “Apakah mengidolakan Ahok menjadi kafir? Berarti gua kafir dong?” tanyanya.

“Lah kenapa?” Deddy bertanya balik.

“Ngidolain lu,” jawab Gus Miftah yang tentu saja langsung disambut gelak tawa bersama.

Gus Miftah menjelaskan bahwa idola sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Ia mencontohkan banyaknya orang Indonesia yang mengidolakan grup musik Metallica. Tentu tidak berarti mereka langsung kafir.

Bulan berikutnya, Gus Miftah tampil lagi di Youtube Deddy. Kali itu, mereka tidak hanya berdua, tetapi juga bersama Coki Pardede dan Tretan Muslim. Mereka membincangkan kasus yang menimpa dua komedian itu karena dianggap menista agama akibat membincangkan babi dan kurma.

Saat itu, Gus Miftah mencairkan suasana diskusi yang terlihat cukup tegang. Ia menyampaikan bahwa babi memang haram. Ia pun bertanya kepada Coki Pardede sembari menepuk pahanya, “Kamu tahu babi itu mengandung siapa?”

“Katanya sih ada cacing pitanya,” jawabnya tergagap.

Gus Miftah pun langsung meresponsnya dengan menyalahkan jawaban tersebut. “Salah. Babi itu ya mengandung anaknya, gimana,” katanya langsung diiringi gelak tawa bersama.

Deddy seakan tidak bosan berbincang dengan penceramah muda NU itu. Pada bulan Desember 2018, pria yang pernah berstudi di Universitas London itu kembali mengundang Gus Miftah. Pertemuan itu lain dengan biasanya. Pasalnya, perbincangan mereka dilakukan sembari menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah.

Dalam video tersebut, Deddy berkisah pernah bersedekah ambulans. Namun, penerima menyayangkannya karena ia bukanlah seorang Muslim. Mendengar hal tersebut, Gus Miftah menjelaskan bahwa orang non-Muslim juga boleh berbuat baik. Persoalan berpahala atau tidaknya bagi mereka, sudah bukan urusan lagi.

“Ya mohon maaf, Gus Miftah bukan panitia pahala,” katanya yang disambut tawa tipis Deddy, “Iya kan? Kewajiban kita itu berbuat (baik). Soal diterima atau tidak bukan domain manusia,” lanjutnya.

Gus Miftah kembali diajak berbincang dengan Deddy Corbuzier pada bulan April 2019. Ia kembali menyampaikan pertanyaan warganet yang menunggu kepastian Deddy menjadi mualaf. Yang ditanya itu malah bertanya balik, “Kenapa gua harus mualaf, Gus?” tanya laki-laki kelahiran 28 Desember 1976 ini.

Dai yang mendakwahi para ‘pekerja malam’ itu menjawabnya dengan bercanda. Ia menyebut bahwa saat ini tengah tren. “Kan sekarang lagi tren. Orang begitu jadi mualaf, artis kan. Tidak laku jadi artis, jadi ustaz,” jawabnya yang sontak disambut gelak tawa mitra tuturnya itu.

Terakhir kali mereka duet dalam satu video di akun Youtube Deddy Corbuzier adalah saat bulan puasa lalu. Video yang diunggah pada 20 Mei 2019 itu menampilkan perbincangan mereka yang selalu hangat dan diiringi humor-humor segar ala Gus Miftah.

Di akhir perbincangan itu, Gus Miftah menegaskan tujuan berdakwah adalah mengagungkan Tuhan, bukan pribadinya. “Inti dari dakwah itu sebenarnya apa? Menyampikan kebesaran Allah, bukan kebesaran pendakwah,” pungkasnya. (Syakir NF/Zunus)

Bagikan:
Jumat 21 Juni 2019 23:45 WIB
Kepada Deddy Corbuzier, Kiai Ma’ruf Kisahkan Doa Nabi yang Ditolak
Kepada Deddy Corbuzier, Kiai Ma’ruf Kisahkan Doa Nabi yang Ditolak
Deddy Corbuzier bersama KH Ma'ruf Amin dan Gus Miftah (Foto: @Kiyai_Ma'rufAmin)
Jakarta, NU Online
Usai mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Mbejaji, Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta, Deddy Corbuzier langsung bertolak menuju Jakarta bersama KH Miftah Maulana Habiburrahman guna sowan kepada KH Ma’ruf Amin di kediamannya, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/6) sore.

Dalam kesempatan tersebut, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menjelaskan hidayah yang terbagi menjadi dua, yakni hidayah imaniyah dan hidayah taufiqiyah.

Hidayah pertama, hidayah imaniyah, merupakan hidayah yang berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan manusia yang langsung diberikan oleh Allah. “Hidayah imaniyah itu hidayah dapat iman. Itu dari Allah dan itu hak prerogatif Allah,” jelas Kiai Ma’ruf.

Persoalan ini, katanya, tidak ada yang bisa menggugat karena kuasa Allah swt sekalipun Nabi. Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Tanara, Serang, Banten itu menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah berdoa kepada Allah agar memberikan hidayah kepada seseorang.

Namun, lanjutnya, Allah swt. menegaskan bahwa hanya Dirinya saja yang berkehendak akan keimanan seseorang. 

“Kamu tidak bisa memberi hidayah orang yang kamu kehendaki, yang kamu cintai, walaupun orang itu kamu cintai, kamu tidak bisa memberikan hidayah,” ucap Kiai Ma’ruf menerjemahkan Al-Qur’an surat Al-Qashas ayat 56, “tapi Allahlah yang memberikan hidayah kepada orang yang dikehendaki oleh Allah,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu berdoa untuknya agar Allah dapat menetapkan iman dan islamnya. “Mudah-mudahan hidayah yang sudah diterima ini, ditetapkan oleh Allah. Ya Allah tetapkan imannya, tetapkan keislamannya, jadikanlah surga tempat kembalinya,” harapnya yang langsung diamini hadirin.

Pasalnya, kata Kiai Ma’ruf, tidak ada nikmat yang luar biasa, kecuali nikmat hidayah imaniyah. Hal tersebut harus dijaga dengan betul agar jangan sampai hilang.

Sementara itu, hidayah taufiqiyah merupakan hidayah persesuaian antara yang kita persepsikan dengan apa yang dituntutkan oleh Allah. Artinya, apa yang kita anggap baik, bisa baik juga menurut Allah. Pun yang jelek menurut Allah, bisa jelek juga dalam pandangan pribadi.

Baca Juga:
Dibimbing Gus Miftah, Deddy Corbuzier Resmi Masuk Islam
Dialog Deddy Corbuzier dengan Gus Miftah: Kenapa Gue Harus Mualaf, Gus?
Kiai Ma’ruf juga berharap agar hidayah imaniyah yang sudah diterima oleh Deddy Corbuzier dapat dilengkapi dengan hidayah taufiqiyah. Sebab, menurutnya, masih ada orang yang sudah mendapatkan hidayah imaniyah, tetapi belum mendapatkan hidayah taufiqiyah

Guru besar ekonomi syariah UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur itu bersyukur atas keislaman mentalis itu. Ia pun mengucapkan lafal hamdalah hingga tiga kali sebagai bentuk syukurnya.

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Ma’ruf memberikan pilihan nama bagi pria kelahiran 26 Desember 1976 itu, yakni antara Ahmad atau Muhammad. Namun, Deddy sendiri belum menentukannya. 

Di tempat yang sama, Deddy untuk kali perdana shalat Maghrib langsung diimami oleh Kiai Ma’ruf. Terlihat ia mengambil tempat di sebelah kanan Gus Miftah. Sementara sebelah kiri Gus Miftah sendiri adalah Ustaz Yusuf Mansur yang juga turut hadir dalam silaturahim tersebut.

Mereka juga diajak santap malam bersama satu meja dengan Kiai Ma’ruf. Perbincangan mereka terlihat begitu akrab. Turut menemani jamuan tersebut Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini. (Syakir NF/Zunus)

Jumat 21 Juni 2019 21:45 WIB
Doa dan Wejangan KH Ma’ruf Amin untuk Deddy Corbuzier
Doa dan Wejangan KH Ma’ruf Amin untuk Deddy Corbuzier
Gus Miftah dan Deddy di kediaman Kiai Ma'ruf (ist)
Jakarta, NU Online
Usai prosesi mualaf di Masjid Al-Mbejaji Pondok Pesantren Ora Aji Tundan, Purwomartani, Kalasan, Yogyakarta, KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) mengajak Deddy Corbuzier ke kediaman Mustasyar PBNU yang juga Cawapres RI KH Ma’ruf Amin di Jakarta.

Momen mengharukan terjadi ketika justru mereka berdua bertemu di Bandara Soetta dengan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj. Gus Miftah dan Deddy turun dari pesawat, sedangkan Kiai Said hendak naik pesawat. Interaksi hangat terjadi antara ketiganya.

Sesampainya di kediaman Kiai Ma’ruf di Jalan Situbondo Jakarta Pusat, Gus Miftah dan Deddy Corbuzier langsung disambut tuan rumah. Nampak Ustadz Yusuf Mansur juga turut mendampingi.

Kiai Ma'ruf Amin mendoakan agar Deddy Corbuzier istiqomah atas pilihannya memeluk Islam. Deddy juga didoakan agar menjadi Muslim yang baik.

"Semoga anak saya (memanggil akrab Deddy Corbuzier) diberkati Allah, menjadi anak yang baik. Bisa juga yang baru lebih baik. Bukan berarti yang baru tidak lebih baik. Semoga mantap dan imannya semakin kuat, dan dijaga dengan ibadah. Ibadah menjaga iman," tutur Kiai Ma'ruf, Jumat (21/6).

Dalam kesempatan itu, Deddy Corbuzier ikut shalat magrib berjamaah yang dipimpin langsung oleh Ma'ruf Amin. Itu merupakan shalat maghrib pertama yang dilakukan oleh Deddy. Usai shalat, Kiai Ma'ruf Amin memberikan nasihat untuk Deddy.

Dalam wejangan tersebut, Kiai Ma'ruf Amin sempat memberikan pilihan nama untuk Deddy Corbuzier setelah menjadi seorang Muslim. Deddy diminta untuk memilih nama Ahmad atau Muhammad untuk menambah nama yang sudah ada.

Keputusan Deddy masuk Islam ini diambil setelah melalui proses yang panjang. Gus Miftah mengungkap hal yang membuat Deddy Corbuzier mantap menjadi mualaf.

Rasa yakin itu datang setelah Gus Miftah memaparkan tentang seperti apa wajah Islam. Penjelasan tersebut bisa diterima Deddy Corbuzier dan dianggap sangat rasional.

"Karena saya kan bilang Islam itu wajahnya seperti apa tergantung pintu masuknya di apa. Kalau pintu masuknya itu keras ya Islam akan jadi Islam yang keras," imbuh Gus Miftah kepada Deddy.

Kalau pintu masuknya Islam yang marah-marah, sambungnya, jadinya Islam yang marah-marah. Tapi sebaliknya kalau pintu masuknya Islam yang ramah jadinya yang ramah.

"Saya kerap berbincang dengan dia dan menyampaikan agama yang masuk ke dalam logikanya, dengan menggunakan pendekatan yang rasional," jelas Gus Miftah.

Hingga akhirnya pintu hati Deddy Corbuzier pun terbuka dan menurut Gus Miftah, mantan suami Kalina Oktarani ini mantap menjadi mualaf. (Fathoni)
Jumat 21 Juni 2019 21:15 WIB
Momen Gus Miftah Pakaikan Peci di Kepala Deddy Corbuzier
Momen Gus Miftah Pakaikan Peci di Kepala Deddy Corbuzier
Gus Miftah dan Deddy Corbuzier (ist)
Jakarta, NU Online
Peci merupakan salah satu identitas Muslim Indonesia. Penutup kepala yang juga disebut sebagai songkok nasional ini melekat pada diri KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah ketika menuntun Deddy Cobuzier mengikrarkan dua kalimat syahadat, Jumat (21/6) di Masjid Al-Mbejaji Pondok Pesantren Ora Aji Sleman, Yogyakarta.

Usai prosesi mualaf selesai, mereka berdua melayani pertanyaan para awak media dalam sesi konferensi pers di komplek pesantren. Di tengah menjawab pertanyaan wartawan, ada salah satu momen di mana Gus Miftah mencoba memakaikan peci yang dikenakannya ke kepala Deddy Corbuzier.

“Ternyata tambah kelihatan ganteng memakai peci,” ujar Gus Miftah disambut senyuman Deddy dan tawa orang-orang yang mengerumuninya.

Dalam momen tersebut, Deddy yang juga ditemani calon istrinya, Sabrina Chairunisa bercerita banyak tentang awal tertarik memeluk agama Islam, menyoal sikap keluarganya, hingga perkara sunat yang ditanyakan salah seorang wartawan.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Miftah menegaskan bahwa Deddy akan diajaknya menemui sejumlah ulama untuk memantapkan tekadnya menjadi seorang Muslim. Di antara ulama yang sudah ditemuinya ialah Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Cawapres RI KH Ma’ruf Amin. Selanjutnya mereka juga hendak sowan ke ulama kharismatik asal Pekalongan Habib Luthfi bin Yahya.

Keputusan Deddy masuk Islam ini diambil setelah melalui proses yang panjang. Gus Miftah mengungkap hal yang membuat Deddy Corbuzier mantap menjadi mualaf.

Rasa yakin itu datang setelah Gus Miftah memaparkan tentang seperti apa wajah Islam. Penjelasan tersebut bisa diterima Deddy Corbuzier dan dianggap sangat rasional.

"Karena saya kan bilang Islam itu wajahnya seperti apa tergantung pintu masuknya di apa. Kalau pintu masuknya itu keras ya Islam akan jadi Islam yang keras," imbuh Gus Miftah kepada Deddy.

Kalau pintu masuknya Islam yang marah-marah, sambungnya, jadinya Islam yang marah-marah. Tapi sebaliknya kalau pintu masuknya Islam yang ramah jadinya yang ramah.

"Saya kerap berbincang dengan dia dan menyampaikan agama yang masuk ke dalam logikanya, dengan menggunakan pendekatan yang rasional," jelas Gus Miftah.

Hingga akhirnya pintu hati Deddy Corbuzier pun terbuka dan menurut Gus Miftah, mantan suami Kalina Oktarani ini mantap menjadi mualaf. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG