IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Menjaga Kehormatan Mahkamah Konstitusi

Sabtu 22 Juni 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Menjaga Kehormatan Mahkamah Konstitusi
Ilustrasi (Antara)
Dalam beberapa hari ini, perhatian publik tertuju pada persidangan sengketa pemilu yang digelar di Mahkamah Konstitusi setelah pasangan capres 02 Prabowo Sandi mengajukan sengketa hasil pilpres ke pengadilan tersebut. Sejumlah tuduhan kecurangan yang selama ini hanya tersebar di media sosial atau pernyataan orang per orang yang disampaikan di media kini diuji kebenarannya di hadapan sembilan hakim konstitusi.  

Dalam sebuah kontestasi keras yang melibatkan banyak orang seperti di Indonesia, wajar jika ada yang kecewa karena hasilnya tidak sesuai dengan harapan yang diinginkannya. Namun, yang penting adalah bagaimana upaya penyelesaian dari kondisi seperti ini. Forum sidang pengadilan adalah tempat yang paling tepat. Ini menunjukkan sikap kenegarawanan pihak-pihak yang bertikai terkait dengan pemilu. Di situlah seluruh bukti dan argumentasi dari pihak-pihak yang bersengketa diuji.

Sidang di Mahkamah Konstitusi berlangsung maraton dengan menghadirkan para saksi untuk memperkuat tuntutan yang mereka ajukan. Pihak yang dituntut pun mengajukan argumentasi tandingan. Karena disiarkan secara langsung melalui televisi atau siaran streaming di internet, maka siapa pun bisa mengikuti persidangan tersebut, kapan saja dan di mana saja. Publik bisa menilai argumentasi yang diajukan oleh masing-masing pihak, apakah didukung bukti yang kuat atau apakah didasarkan argumentasi yang sahih. Namun, keputusan tetap ada di tangan para hakim.

Pemilu 2019 mengulang pertarungan antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto pada 2014.  Namun, pertarungan kali ini lebih karas karena salah satunya penggunaan sentimen agama sebagai bahan kampanye serta penggunaan media sosial yang semakin meluas. Polarisasi ini menyebabkan masing-masing pendukung tidak melakukan pencarian informasi yang berimbang terhadap masing-masing kandidat. Akibatnya yang muncul adalah militansi dukungan yang semakin menguat. 

Polarisasi ini terlihat nyata misalnya di provinsi tertentu, pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin unggul lebih dari 80 persen di Bali dan Papua sementara Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno unggul telak di Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Barat. Joko Widodo unggul di provinsi yang mayoritas penduduknya non-Muslim sedangkan dua keunggulan telak Prabowo adalah provinsi yang masyarakatnya mengidentifikasi diri sebagai Muslim yang taat. Tentu saja, situasi seperti ini kurang bagus dalam kerangka masyarakat Indonesia yang selama ini merupakan masyarakat yang plural dengan model keragaman yang luar biasa, seperti suku, agama, ras, atau golongan. 

Pola-pola dukungan kelompok masyarakat yang terpolarisasi ini dapat diidentifikasi lebih lanjut dengan tingkat ekstremitas yang tertentu. Militansi dukungan kepada masing-masing capres terlihat dari Peningkatan jumlah persentasi pemilih yang datang ke TPS dibandingkan dengan pemilu-pemilu presiden sebelummya. Ini menunjukan adanya peningkatan kesediaan pemilih untuk memperjuangkan calon yang dipilihnya agar tidak kalah dari calon lawan.  

Jangan sampai presiden terpilih kurang mendapat legitimasi bagi kelompok tertentu yang sebelumnya mendukung kandidat lawan. Sebagian besar masyarakat setelah hari pencoblosan pada 17 April lalu sudah kembali kepada aktivitas normalnya. Mereka menerima siapa pun presiden yang terpilih yang mendapatkan suara terbanyak. Tetapi ada pula yang belum puas karena merasa adanya kecurangan yang terjadi secara terstruktur, masif, dan sistematis (TSM). Isu ini harus diselesaikan secara tuntas. Di sinilah peran Mahkamah Konstitusi untuk menguji apakah klaim tersebut benar. 

Mengatakan bahwa pemilu di Indonesia kali ini sudah benar-benar bersih dari berbagai persoalan tentu sesuatu yang naïf. Dengan besarnya jumlah pemilih dan luasnya sebaran lokasi pemilihan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tentu ada sejumlah ketidaksempurnaan. Berbagai temuan persoalan yang diajukan ke MK sudah diajukan ke MK. Para hakim konstitusi yang nantinya akan memutuskan apakah hal tersebut bersifat TSM atau tidak. Temuan-temuan ini nantinya menjadi bahan perbaikan untuk pemilu selanjutnya. 

Kita tentu berharap para hakim MK yang terhormat benar-benar mampu membuat keputusan yang tepat dan bijak karena hal ini menyangkut masa depan bangsa, bukan hanya bagi mereka yang menang atau kalah dalam sengketa tersebut. Keputusan pengadilan bukan hanya soal kebenaran formal tetapi juga keadilan secara substansial, yaitu rasa keadilan yang diterima oleh sanubari rakyat Indonesia. Jika hal ini mampu diwujudkan, maka sisa-sisa persoalan akan benar-benar tuntas dan pemimpin yang terpilih akan memiliki legitimasi yang kuat di hadapan seluruh rakyat.  

Penyelesaian sengketa pemilu melalui MK bersifat final dan mengikat. Artinya tidak ada lagi proses banding atau digugat di tempat lain. Karena itu, apa pun hasilnya, pihak yang kalah dan para pendukungnya harus menerimanya dengan legowo. Setelah proses pengadilan itu selesai, sudah tidak ada pengadilan lainnya. 

Presiden dan wakil presiden ditetapkan dan kemudian dilantik pada bulan Oktober 2019 mendatang. Jangan sampai pihak yang kalah, kemudian menuduh hakim MK bertindak curang atau tidak independen. Jika ada pihak yang tidak menerima kekalahan, hal ini menunjukkan sikap ketidakdewasaan dalam menerima hasil.  Jika ini terjadi, bangsa ini akan terus bergulat dengan dirinya sendiri sementara berbagai persoalan penting tak dapat terurus dengan baik. (Achmad Mukafi Niam) 

Bagikan:
Ahad 16 Juni 2019 16:45 WIB
Mari Kembali ke Persoalan Nyata Umat Islam
Mari Kembali ke Persoalan Nyata Umat Islam
Betapa banyak persoalan sehari-hari umat Islam di Indonesia yang membutuhkan penanganan. Persoalan dasar seperti kemiskinan, kebodohan, atau kesehatan masih membelit kehidupan banyak orang. Mari kita tengok di sekeliling kita, ada berapa banyak orang yang kesulitan ekonomi, ada berapa banyak anak yang kurang mendapatkan pendidikan secara memadai, atau ada berapa banyak orang yang mengalami masalah kesehatan dan perlu mendapatkan dukungan, tentu sangat banyak.

Di tengah persoalan yang sulit tersebut, ternyata kita menghadapi persoalan yang lebih substansial, yaitu umat Islam diarahkan kepada hal-hal yang abstrak yang belum jelas duduk soalnya. Muslim Indonesia termasuk salah satu bangsa yang memiliki keterikatan agama yang sangat kuat. Banyak hal dilihat dari sudut pandang agama. Karena itu, ketika ada hal-hal yang dianggap menyinggung agama, maka secara emosional langsung tergerak untuk membelanya dengan berdemonstrasi. 

Baru-baru ini, isu terkait dengan illuminati dan Dajjal ramai di media sosial terkait dengan keberadaan sebuah masjid di sebuah area peristirahatan jalan tol yang memiliki bentuk unik. Masjid yang didesain oleh Ridwan Kamil, arsitek yang kini menjabat sebagai gubernur Jawa Barat ini dianggap bagian dari gerakan illuminati karena adanya bentuk segitiga. Digunakanlah teori konspirasi atau dalam bahasa Jawa gotak gatik mathuk, yaitu usaha mencocok-cocokkan sesuatu agar terlihat rasional. 

Panduan masyarakat dalam beragama adalah para ulama, kiai, dai, ustadz atau beragam sebutan lain untuk tokoh agama. Yang menjadi pertanyaan, mengapa banyak dai atau ustadz yang dalam ceramah-ceramahnya lebih suka membakar emosi jamaahnya dengan persoalan-persoalan abstrak. Dengan mengatasnamakan membela agama, umat Islam diajak untuk bergerak untuk melakukan sebuah tindakan atau memprotes sesuatu yang remeh-temeh atau hal-hal simbolik belaka. Persoalan muncul salah satunya karena dai atau ustadznya hanya memahami “ilmu agama” sementara pengetahuan lain kurang dipahami dengan baik. Akibatnya, mereka tidak mampu mengeksplorasi persoalan umat dan kemudian melakukan gerakan atau mencarikan solusinya. Atau bisa juga sang ustadz kesukaannya memang membahas hal-hal yang abstrak dan kurang membumi.

Tak mungkin juga memahami semua persoalan masyarakat secara mendetail mengingat sedemikian kompleksnya masalah yang ada. Tak banyak pula orang yang mampu menjadi orator sekaligus mampu menggerakkan masyarakat untuk melakukan sebuah tindakan. Di sini, pentingnya berorganisasi.  Dengan demikian, ada kerja sama dan beragam keahlian yang disinergikan untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada. Ceramah yang dilakukan oleh dai tidak lagi menjadi slogan kosong yang segera dilupakan ketika mereka turun dari panggung. 

Para dai yang berafiliasi dengan organisasi seperti Nahdlatul Ulama atau ormas Islam lain tentu memiliki kemungkinan pesan-pesan yang disampaikan akan mewujud dalam sebuah aksi nyata. Lembaga yang berada dalam lingkup organisasi akan melakukan tindakan untuk melaksanakan pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam ceramah tersebut. Sebagai contoh, ketika para kiai NU berceramah tentang masalah pendidikan, maka hal tersebut akan ditindaklanjuti dengan aksi nyata penguatan pendidikan di madrasah, pesantren ataupun sekolah umum.

Dalam sebuah afiliasi organisasi, ceramah yang disampaikan pun tidak asal, tetapi mengacu kepada visi misi atau program kerja organisasi. Dengan demikian, apa yang disampaikan merupakan tindak lanjut dan sosialisasi visi besar yang diterjemahkan pada setiap tingkatan organisasi.  Misalnya, visi besar NU untuk menjaga NKRI menjadi tema umum yang dipahami para dai yang berafiliasi dengan NU yang kemudian disampaikan kepada para jamaah dalam berbagai kesempatan. Dan hal ini mewujud dalam aksi nyata seperti yang dilakukan oleh Ansor, Banser, dan elemen lainnya ketika ada pihak-pihak yang berusaha mengganti kesepakatan bangsa ini. 
 
Dai atau penceramah, sesungguhnya bukanlah pemain tunggal dalam dakwah. Ia harus mampu berkolaborasi dengan pihak-pihak lain agar pesan keagamaan yang disampaikan mampu menjadi aksi nyata bagi umat. Kalau tidak, maka ceramah sekadar menjadi pengingat sekilas akan suatu persoalan dilihat dari perspektif keagamaan atau bahkan sekadar menjadi hiburan karena kelucuan ceramahnya guna melepaskan penat akibat kerja keras. 

Bahkan lebih parah lagi jika menjadi dai sudah diperlakukan sebagai sebuah profesi yang menghasilkan popularitas, uang, pengaruh, atau kekuasaan. Tarif ceramah sudah ditetapkan dengan sejumlah persyaratan lainnya. Kemudian menunjukkan gaya hidup penuh kemewahan dari hasil profesinya tersebut, padahal banyak masyarakat yang mengundangnya mengumpulkan uang dengan cara iuran, demi seorang dai terkenal yang sering muncul di televisi. 

Tak mudah menjalankan peran sebagai seorang dai karena apa yang disampaikannya dapat membuat umat Islam menjadi lebih baik, tetapi juga mampu memprovokasi umat melakukan hal-hal destruktif atas nama agama. Kita tentu telah mengenal siapa saja kiai atau ulama yang ceramahnya menyejukkan dan kemudian menumbuhkan kedamaian. Kita juga telah tahu dai-dai provokatif yang ketika mendengarkan ceramahnya, menjadi terprovokasi untuk membenci pihak lain atau ingin melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Dari situ, sudah seharusnya kita mampu memilih dan memilah mana figur yang layak untuk dijadikan panduan.

Menjadi dai dan kemudian merasa mampu merubah masyarakat hanya dengan ceramahnya merupakan sebuah kesalahan. Saatnya memikirkan bagaimana menciptakan kolaborasi yang produktif dengan berbagai bidang keahlian lainnya. Para dai, dengan kapasitasnya untuk memotivasi massa, para aktivis yang mendampingi masyarakat secara langsung, orang kaya yang menyediakan dananya, para administrator yang mampu mengelola organisasi, dan sejumlah keahlian terkait. Dan penting pula, menjaga niat untuk mensyiarkan ajaran agama, bukan menjadikannya sebagai sebuah profesi untuk sekadar mencari uang. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 9 Juni 2019 17:0 WIB
Idul Fitri, Meningkatkah Kualitas Spiritualitas Kita?
Idul Fitri, Meningkatkah Kualitas Spiritualitas Kita?
Ilustrasi (via Pinterest)
Idul Fitri seharusnya menjadi puncak dari perjalanan spiritual setelah selama Ramadhan kita menjalankan puasa dan melaksanakan sejumlah ibadah lainnya yang mendapatkan keutamaan. Di bulan-bulan lainnya kita disibukkan dengan berbagai hal yang menyita waktu dan pikiran sehingga eksistensi kita sebagai makhluk religius yang memiliki nilai-nilai spiritual terabaikan. Sebenarnya, seberapa jauh kita telah mengembangkan aspek spiritualitas ini selama Ramadhan? Ini sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan agar Ramadhan dan Idul Fitri tidak berlalu sekedar sebuah rutinitas tahunan. 

Islam mengajarkan bahwa kehidupan di dunia ini merupakan ladang untuk menanam amal, sementara kehidupan yang sejati adalah di akhirat. Apa yang kita lakukan di dunia ini diniatkan untuk beramal guna persiapan kehidupan selanjutnya. Sayangnya, banyak di antara kita terlenakan dengan beragam kemudahan yang tersedia berkat teknologi. 

Manusia menciptakan beragam alat untuk memudahkan hidupnya. Harapannya, semakin banyak waktu luang yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain, termasuk untuk beribadah. Para inovator menciptakan sepeda, mobil, pesawat terbang, dan di masa depan ada jenis transportasi baru yang belum terbayangkan saat ini. Alat pengirim pesan zaman dahulu adalah merpati pos, kemudian kurir, sistem pos, sampai kini muncul email dan media sosial. Capaian-capaian baru berjalan dengan sangat cepat sehingga apa yang kita rasa canggih dalam beberapa tahun lalu, kini sudah terasa kuno. 

Dengan beragamnya kemudahan ini, seharusnya manusia memiliki waktu yang semakin banyak untuk berhubungan dengan Tuhan. Tapi ternyata, bayangan ideal tersebut tidak tercapai. Tempat di mana kita bekerja menuntut pikiran dan waktu lebih banyak. Perusahaan atau institusi tempat bekerja memberi beban yang semakin banyak karena persaingan yang semakin ketat. Kejayaan yang dinikmati hari ini bukan jaminan untuk dapat terus bertahan di masa mendatang. Betapa sekian banyak perusahaan yang sebelumnya berada dalam posisi puncak kemudian terpuruk atau bangkrut karena kalah bersaing. Para pekerja berada dalam posisi semakin tertekan dalam kompetisi yang ketat ini, untuk mengejar atau bahkan untuk sekedar bertahan.

Di sisi lain, konsumen yang memakai teknologi terus dimanjakan dengan beragam layanan dan hiburan yang tiada habisnya. Versi terbaru beragam layanan terus secara rutin diluncurkan untuk memanjakan konsumen. Perusahaan-perusahaan teknologi melibatkan para ahli psikologi dan pakar bidang lainya untuk memahami perilaku manusia dan bagaimana membuat mereka senang sehingga membeli produk-produknya. Karena di situlah keuntungan didapatkan. Hiburan berbasis teknologi telah benar-benar menghipnotis manusia. Banyak orang menghabiskan lebih dari lima jam untuk berselancar di layar telepon cerdasnya untuk bermedia sosial, bermain gim, atau sekedar berselancar mencari berbagai informasi yang menarik. Saat berpuasa yang seharusnya dimanfaatkan untuk beragam ibadah, ternyata waktu yang digunakan untuk menghibur diri tidaklah berkurang. 

Begitulah kehidupan dari banyak orang. Pada satu sisi, disibukan dengan urusan pekerjaan yang sangat banyak dan menekan. Dan kemudian ketika lepas dari pekerjaan, waktunya dihabiskan dengan menghibur diri guna menghilangkan stress akibat pekerjaan. Sangat sedikit ruang yang diberikan untuk hal-hal lainnya, termasuk pengembangan sisi spiritualitasnya.
 
Dari sini, terlihat bahwa banyak orang terperangkap dalam lingkaran konsumerisme dan hedonisme yang menyebabkan hidupnya hanya berputar-putar dalam lingkaran pencarian uang dan harta yang kemudian digunakan untuk memenuhi keinginan mengkonsumsi sesuatu yang tiada habisnya. Kekuatan dari promosi dan iklan yang mampu menghipnotis menusia untuk mengejar keinginan-keinginannya yang tak terbatas membuat hidup hanya mengejar sesuatu yang sebenarnya tak bermakna. Ukuran kualitas hidup hanya ditentukan oleh tingkat konsumsi yang sifatnya sangat materialistik, sementara tujuan-tujuan yang lebih transendental terabaikan. 

Tak mudah menjalankan puasa di era konsumerisme dan hedonisme. Banyak orang menjadi hanya sibuk memikirkan dan mengurusi hal-hal yang sifatnya permukaan sementara substansi yang diinginkan dari puasa tersebut menjadi tak tergapai. Kekuatan industri begitu kukuh mencengkeram dan mempengaruhi pikiran dan tindakan kita. Tak banyak yang mampu menolaknya. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjual produk dan jasanya. Sebelum Ramadhan tiba pun, kita sudah disuguhi iklan sirup di televisi. Pusat-pusat perbelanjaan menggelar diskon Lebaran untuk menarik pelanggan. Kita digoda untuk sekedar memikirkan baju baru, kuliner, perjalanan liburan dan hal-hal lain yang tak terlalu terkait dari tujuan sebenarnya pelaksanaan puasa. 

Kini saatnya sejenak merenung dan berefleksi, akankah Ramadhan menjadi sekedar rutinitas yang tak mampu meningkatkan kualitas spiritual kita sementara usia kita bertambah dari tahun ke tahun. Jangan sampai, kita terlenakan, tertipu oleh hal-hal yang bukan substansial yang ditawarkan dengan cara yang sangat menarik kepada kita sehingga melupakan hal-hal yang menjadi inti tujuan hidup. Sesungguhnya,  betapapun sibuknya kita terkait urusan pekerjaan dan seberapapun sengitnya kompetisi yang harus kita hadapi, tak boleh melupakan makna dan tujuan hidup kita yang sebenarnya. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 2 Juni 2019 17:0 WIB
Idul Fitri sebagai Momen Rekonsiliasi Bangsa
Idul Fitri sebagai Momen Rekonsiliasi Bangsa
Idul Fitri yang akan jatuh pada pekan pertama Juni 2019 menjadi momen yang tepat untuk merekatkan kembali perpecahan dan perbedaan pendapat akibat pilihan politik yang menyertai pemilu 2019. Berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, isu agama yang dikampanyekan secara berlebihan membuat masyarakat terpolarisasi antara “kami” dan “mereka”. Isu agama membuat pilihan politik menjadi tidak sekadar saya pilih pasangan tertentu karena suka atau lebih kompeten dalam membangun bangsa. Ada narasi-narasi bela agama, jihad, dan kata-kata senada yang muncul di publik. 

Kontestasi politik merupakan sebuah rutinitas lima tahunan. Para calon tentu mengampanyekan bahwa dirinya merupakan pilihan paling tepat untuk memimpin bangsa ini. Masing-masing menunjukkan kelebihan yang dimilikinya. Sayangnya dalam kampanye, tak jarang pihak-pihak tertentu menggunakan cara-cara yang tidak benar. Propaganda hitam, penyebaran hoaks, bahkan fitnah berseliweran di media sosial. Massa yang gampang termakan oleh aksi propaganda menjadi emosional dalam membela calonnya. Apalagi jika propaganda tersebut menyangkut bela agama. Perbedaan pilihan antarkeluarga atau teman menyebabkan hubungan keluarga atau pertemanan menjadi renggang. 

Bagi sebagian orang, pilihan politik tak lebih dari sekadar akses kepada kekuasaan. Calon yang didukung adalah yang kira-kira mampu memberikannya akses. Kelompok ini umumnya adalah elit politik yang dengan mudah berkompromi asal mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Karena itulah, koalisi politik dengan gampang dibentuk tetapi gampang pula bubar di tengah jalan. Berbeda dengan elit politik. Rakyat kebanyakan menentukan pilihan berdasarkan narasi-narasi yang dikembangkan selama masa kampanye. Ketika kampanye menggunakan isu-isu agama dengan menyatakan bahwa hanya calon tertentu yang dianggap mewakili umat Islam sementara yang lain kelompok yang menista Islam, situasinya bisa menjadi berbahaya. 

Ketika pilihan politik dikaitkan dengan agama, maka pilihan tidak dianggap lagi sesuatu yang profan, tetapi telah dimasuki dengan nilai-nilai religius. Mereka rela melakukan apa saja demi pilihan politik yang dianggap sebagai perjuangan agama. Di sini ada kesenjangan antara apa yang dipikirkan rakyat kebanyakan dan elitenya. 

Tentu saja, kita harus menyadari bahwa pilihan politik tak boleh mengalahkan persaudaraan. Masing-masing orang memiliki pilihan dengan kriteria tertentu. Ada orang yang suka dengan pemimpin yang merakyat, yang lain suka dengan sikap yang tegas. Ada yang merasa nyaman dengan capaian yang sudah dilakukan selama lima tahun belakangan, tetapi ada yang ingin melakukan perubahan. Karena itu, kita tidak boleh menggunakan kaca mata kita ketika menilai pilihan orang lain. Dengan menghormati pilihan orang lain, kita turut menjaga kedamaian bangsa ini. 

Rakyat telah menentukan pilihannya pada 17 April 2019 lalu. KPU telah mengumumkan bahwa pasangan 01 yaitu Jokowi Amin meraih suara lebih banyak dibandingkan dengan pasangan 02 Prabowo Sandi. Jika ada sengketa pemilu, sebaiknya menggunakan saluran-saluran hukum yang ada. Jangan lagi melibatkan rakyat untuk aksi-aksi selanjutnya. Biarlah mereka merajut kembali kerenggangan yang muncul akibat perbedaan pilihan politik ini. 

Tidak mudah untuk menghilangkah kekecewaan akibat kekalahan atau bersikap jumawa ketika menang. Tetapi kekuatan untuk bersikap sabar dan tenang dalam kondisi apapun menunjukkan kapasitas kepemimpinan seseorang. Dalam momen-momen kritis inilah kapasitas calon pemimpin diuji. Rakyat akan melihatnya. 

Pada negara-negara yang sistem demokrasinya telah matang, maka kekalahan atau kemenangan disikapi dengan wajar. Tidak ada eforia berlebihan bagi yang menang atau kekecewaan yang mendalam yang diekspresikan ke publik bagi yang kalah. Mereka yang kalah umumnya mengucapkan selamat kepada yang menang karena itulah pilihan rakyat. Sementara itu di negara-negara yang demokrasinya belum matang, sengketa pemilu bisa berkepanjangan. Masing-masing pihak akan mengerahkan massa pendukungnya untuk melakukan aksi jalanan. Tak jarang, korban nyawa timbul. 

Salah satu momentum yang tepat dalam pemilu kali ini adalah hasil pemilu diumumkan pada bulan Ramadhan, di saat umat Islam sedang berkonsentrasi menjalankan beragam amaliah keagamaan. Dan selanjutnya mereka berpikir untuk menyiapkan diri menyambut Idul Fitri. Dengan demikian upaya provokasi untuk menggelar beragam aksi massa kurang mendapat sambutan. Bahkan momentum ini menjadi sangat tepat untuk merajut kembali persaudaraan yang renggang.

Para tokoh nasional berulang kali telah berkumpul dan berseru agar seluruh komponen bangsa melakukan rekonsiliasi pascapemilu. Seruan-seruan ini mendapat momentum yang sangat tepat. Tak ada kesempatan yang lebih baik bagi seluruh bangsa ini selain pada Idul Fitri untuk saling memaafkan. Dalam tradisi bangsa Indonesia, Idul Fitri dikenal sebagai hari raya untuk saling memaafkan atas kesalahan dan khilaf yang terjadi sebelumnya. Pada hari yang paling meriah ini, umat Islam saling mengunjungi rumah tetangga, kerabat, dan handai taulan. Inilah momen yang paling tepat untuk merajut kembali persaudaraan yang mungkin renggang karena berbagai hal. 

Jutaan orang pulang ke kampung halamannya untuk bertemu keluarga. Perjuangan untuk itu bukanlah hal yang ringan mengingat perjalanan yang panjang dan ongkos yang lebih mahal dibandingkan dengan hari-hari normal. Tetapi semuanya ditempuh demi bertemu keluarga dan kerabat. Saat itulah, semua orang siap untuk meminta maaf atau memberi maaf kepada sesama. Saatnya bersatu kembali untuk membangun bangsa. (Achmad Mukafi Niam)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG