IMG-LOGO
Daerah

Halal bi Halal Nahdliyin Jakut Diramaikan Lantunan Shalawat Veve Zulfikar

Ahad 23 Juni 2019 14:45 WIB
Bagikan:
Halal bi Halal Nahdliyin Jakut Diramaikan Lantunan Shalawat Veve Zulfikar
Veve Zulfikar tampil pada halal bi halal NU Jakut, Ahad (23/6)
Jakarta, NU Online
Ratusan Nahdliyin memenuhi Hotel Sunlake Jakarta Utara pada Ahad (23/6) untuk mengikuti halal bi halal dan syukuran. Acara tersebut mengusung tema Dari NU Jakarta Utara untuk Indonesia.

Penyanyi religi yang sedang naik daun, Veve Zulfikar tak ketinggalan hadir. Bersama ayahnya, Ustadz Zulfikar untuk meramaikan acara tersebut. Sejumlah shalawat, seperti lagu Assalamu'alayka, Ya Nabi Salam Alaika, Deen Assalam, dan Qomarun pun menjadi sajian pembukanya.

Ketua Panitia KH Zulfa Musthofa mengatakan, acara halal bi halal merupakan kelanjutan atas rangkaian kegiatan NU berupa Halaqah Ahlussunnuh wal Jamaah di kelurahan-kelurahan di Jakarta Utara. Halaqah bertujuan memberikan pemahana kepada nahdliyin tentang cara beragama dan bernegara yang benar.

"Halaqah hampir di semua kelurahan. Mungkin satu dua kelurahan yang terlewatkan," kata Kiai Zulfa.

Sementara untuk syukuran sendiri, kata kiai yang juga Katib Syuriyah PBNU ini, karena Nahdliyin bisa melewati tahapan pemilu 2019 dengan aman dan damai. Bagi Nahdliyin, sambungnya, pemilu, khususnya pilpres berjalan  dengan aman dan damai merupakan sebuah kemenangan yang patut disyukuri.

"Nah, sekarang kita syukuran karena kita sudah menang karena pemilu berjalan aman dan damai," ucapnya.

Adapun nanti siapa yang ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden, katanya menegaskan, Nahdliyin akan menerima dengan lapang dada sebagai sikapnya yang selalu menaati konstitusi.

Seusai sambutan, Kiai Zulfa meminta pengurus NU Jakarta Utara, H Bambang Suparno, perwakilan dari Pangdam Jaya, dan Pemerintah Kota Jakarta Utara untuk maju ke panggung guna menerima cindera mata. Menurutnya, pemberian cindera mata kepada empat pihak tersebut sebagai aparesiasi atas partisipasi aktifnya selama ini dalam membina nahdliyin di Jakarta Utara.

Hadir pada acara ini Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Wasekjen PBNU H Ulil Abshar Hadrawi, Kakanwil Kementerian Agama DKI Jakarta H Saiful Mujab, Ketua Muslimat NU DKI Jakarta Hj Hizbiyah Rochim, Polres Jakarta Utara, pengurus NU Jakarta Utara, dan pengurus MWC NU se-Jakarta Utara. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Ahad 23 Juni 2019 21:0 WIB
Ini Sejumlah Kemampuan menjadi Pimpinan Fatayat NU
Ini Sejumlah Kemampuan menjadi Pimpinan Fatayat NU
Blitar, NU Online
Menjadi pemimpin Fatayat NU di semua tingkatan harus memiliki beberapa skill atau kemampuan. Jadi pemimpin Fatayat NU atau apa saja itu tidak sekadar mengeluarkan perintah untuk anggota. Tapi juga harus mampu membangkitkan motivasi serta memberikan contoh yang baik.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU, Anggia Ermarini saat menjadi pembicara tunggal pada kegiatan halal bi halal Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Ahad ( 23/6).  

“Lantas, skill apa saja yang harus miliki oleh Fatayat  NU setiap pemimpin, di antaranya harus memiliki skill negoisasi dan diplomasi,” kata Anggia.

Menurutnya, kemampuan negosiasi dan diplomasi  ini nantinya tidak hanya digunakan untuk bernegosiasi  diplomasi dengan anggota. “Namun juga dengan orang lain,," ujarnya di hadapan ratusan hadirin.

Skill lainnya adalah mendengar dengan baik. "Pimpinan Fatayat NU tidak hanya terbatas pada pekerjaan memerintah orang lain. Tapi seorang pemimpin juga harus menjadi pendengar yang baik,” ungkapnya. 

Dirinya kemudian balik mempertanyakan kalangan yang tidak memiliki kemampuan akan hal ini. “Bagaimana yang bersangkutan bisa memimpin orang lain jika ia tidak mau mendengarkan orang lain juga," terang calon anggota DPR RI ini.

Menurutnya, pimpinan Fatayat NU juga harus bisa membangkitkan orang lain, khusus anggota. "Jika sekadar memberikan perintah, orang lain juga bisa. Tapi yang sulit adalah bagaimana caranya bisa membangkitkan semangat orang lain,” urainya. 

Lewat kemampuan tersebut, yang bersangkutan akan mempunyai itikad berkhidmat secara optimal. “Dengan demikian dirinya rela bekerja maksimal dan mau totalitas dalam berhidmah," kata Anngia yang juga menjadi staf khusus Kementrian Pemuda dan Olahraga RI ini.



Tidak hanya itu, lanjut Anggia, pemimpin Fatayat NU  juga harus tegas tapi tetap bijaksana.

"Menjadi bijaksana dan tegas membutuhkan latihan dan proses yang cukup panjang. Pimpinan  Fatayat NU  harus bisa menempatkan diri kapan harus tegas kepada orang lain, kapan harus menegakkan AD/ART. Namun  juga tidak boleh menghilangkan sisi kebijaksanaan dalam diri,” ungkapnya.

Skiil selanjutnya yang harus dimiliki adalah mampu mengambil keputusan di saat sulit, disiplin. serta visioner.

Tidak semua orang mampu melakukan ini. Tantangannya, seringkali ketika mengerjakan program Fatayat NU akan dihadapkan dengan situasi sulit yang mengharuskan mengambil keputusan secepat mungkin. “Di sinilah skill anda akan diuji," tegasnya.

Dalam pandangannya, pemimpin juga harus disiplin. “Baik terhadap diri sendiri maupun kepada anggota,” jelasnya. 

Selain itu, seorang pemimpin juga dituntut untuk visioner. “Dalam artian mampu melihat ke depan  Fatayat  NU akan jadi seperti apa,” urainya. 

Tidak hanya itu. “Pimpinan juga mengharuskan mampu mengajak anggota  bekerja bersama-sama meraih kesuksesan organisasi,” tandasnya.                 

Pada kesemparan itu Anggia juga membagikan fasitas kepada 15 lembaga di wilayah Blitar sebagai sarana memasyarakatkan olahraga dan mengolah ragakan masyarakat. (Imam Kusnin Ahmad/Ibnu Nawawi)

Ahad 23 Juni 2019 20:0 WIB
Imam Mujtahid Mutlak yang Sangat Mencintai Syair
Imam Mujtahid Mutlak yang Sangat Mencintai Syair
H Ahmad Bananu Syafiq (kanan)
Kota Banjar, NU Online
Pada zaman dahulu di Jazirah Arab, syair merupakan suatu karya seni yang sangat bagus. Bahkan mayoritas penduduknya sangat hobi mendengarkan dan membuat syair seperti nenek moyang bangsa Arab. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Gus H Ahmad Bananu Syafiq dalam acara Halal bi Halal dan Silaturahmi Keluarga Besar PMII Rayon As-Syafi'i Komisariat STAIMA Cabang Kota Banjar Ahad (23/6) siang.

Acara tersebut bertemakan menguatkan ikatan tali silaturahmi dalam bingkai semangat gerakan PMII. Kegiatan juga memaparkan mengenai sejarah, biografi dan pemikiran Imam Syafi'i. 

Menurut pemateri yang akrab disebut Gus Syafiq ini Imam Syafi'i sangat mencintai syair. Di dalam syair terdapat sihir. Orang orang dahulu sangat menyukai syair dan pasti sangat memikat hati orang yang mendengarkannya. 

Sehingga, dalam suatu saat Imam Syafi'i menjumpai perkumpulan orang yang sedang membahas mengenai wanita. Tiba-tiba Imam Syafi'i melontarkan syair yaitu banyak manusia membicarakan tentang wanita.

"Sesungguhnya mencintai wanita adalah penyebab adanya malapetaka. Bukan. Bukan mencintai wanita yang menjadikan malapetaka tetapi jauh dari wanita (kekasih) adalah penyebab dari malapetaka," kata Gus Syafiq menyadur kata-kata Imam Syafi'i yang terlontar dengan refleks. Dan sontak membuat tertawa puluhan anggota dan kader PMII yang hadir. 

Selain sangat mencintai syair, karya fenomenal Imam Syafii salah satunya yaitu kitab Ar-Risalah yang membahas tentang ushul fiqih. 

"Kitab Ar-Risalah dibuat dengan tidak sengaja. Awalnya kitab tersebut merupakan surat menyurat antara Imam Syafi'i dengan Gubernur Asia Tengah. Surat tersebut berisi pertanyaan yang perlu dijawab mengenai hukum. Lalu Imam Syafi'i menjawab surat tersebut dengan empat sumber dalil yaitu Al-Qur'an, sunnah, ijma dan qiyas," paparnya. 

Menurutnya, dengan adanya pertanyaan dari Gubernur Asia Tengah dan menjadi kitab ushul fiqih serta rujukan bagi yang ingin memahami ayat-ayat Al-Qur'an. 

Selain itu, putra KH Munawir Abdurrahim ini juga menambahkan, "Orang dahulu sangat merasakan 'sihirnya' Al-Qur'an yang merupakan mukjizat Rasulullah Muhammad Saw. Sisi kekuatan syair Al-Qur'an tidak ada yang mendampingi kehebatannya," tukasnya. (Siti Aisyah/Kendi Setiawan)
Ahad 23 Juni 2019 18:0 WIB
Melihat Keseriusan NU Sidoarjo Sukseskan NU Award 2019
Melihat Keseriusan NU Sidoarjo Sukseskan NU Award 2019
Sidoarjo, NU Online
Akhir pekan ini menjadi hari  yang super sibuk bagi sejumlah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, Jawa Timur. Pasalnya, sejumlah hal harus dipersiapkan demi keikutsertaan pada ajang bergengsi yang diikuti seluruh PCNU se-Jatim tersebut.

Seperti dialami Sekretaris Tim NU Award  2019 PCNU Sidoarjo, Sholehuddin. Dirinya harus bertanggungjawab atas segala kesiapan administratif dan teknis pelaksanaan visitasi NU Award. 

"Saya harus menginap di kantor PCNU karena malam masih menyiapkan berkas ISNU sendiri dan PCNU, sementara sebelum jam 7 pagi harus menyambut tim visitor,” ungkapnya, Ahad (23/6).

Menurut doktor bidang kebijakan pendidikan Islam tersebut, NU Award tahun ini memang lebih banyak kategori, sehingga proses visitasi pun lebih panjang dan melelahkan. 



Setelah kegiatan seremonial, 18 kategori yang diajukan PCNU Sidoarjo divisitasi oleh tim yang beranggotakan 4 dari 5 orang dari NU Award Jatim. Mereka adalah Lukman Hakim, Sururi Arumbani, Sumangat dan Yuli Astutik. 

“Tahap pertama yang divisitasi adalah PCNU, Banom ISNU, Lesbumi, LP Ma’arif, LAZISNU, Lembaga Perekonomian, dan Aswaja NU,” terangnya. Semuanya berlangsung di Aula PCNU Sidoarjo, lanjutnya. 

Usai Shalat Jumat, tim disebar dan dibagi menjadi dua kelompok, utara dan selatan. Utara meliputi IPNU IPPNU, LTM bersama Masjid Al Hikmah Tebel Gedangan, Ranting Wedoro Waru, dan SMP Darul Muta'allimin. 

“Sementara tim selatan meliputi SMK Plus, Muslimat, Fatayat, MI Darussalam Candi, dan MWC Porong,” kata Sholehuddin.. 
Visitasi sendiri berakhir pada pukul 20.00 di titik terakhir, yaitu SMP Darul Mutallimin Tawang Sari Taman. 

Dari hasil paparan Ketua PCNU H Maskhun, terutama progres report PCNU pasca juara umum tahun 2018, tim visitasi mengapresiasi langkah maju yang sudah dilakukan PCNU Sidoarjo,  terutama penataan aset dan pengembangan Unusida.

Sholehuddin menuturkan, saat ini tim masing-masing kategori tengah menyiapkan segala jurus agar dalam grand final pada 30 juni dan 1 Juli ke depan lebih maksimal. "Kita tetap optimis, Sidoarjo menjadi yang terdepan dan terbaik," pungkas pimpinan di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo atau Unusida itu. (Moh Kholidun/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG