IMG-LOGO
Trending Now:
Esai

Sisa Kenangan Ramadhan: Melacak Buku Paling Lecek

Ahad 23 Juni 2019 17:0 WIB
Bagikan:
Sisa Kenangan Ramadhan: Melacak Buku Paling Lecek
Oleh Didin Sirojuddin AR

Selama 30 hari Ramadhan, saya gunakan juga untuk membaca-baca buku akhlak-tasawuf. Ini tema favorit. Makanya, saya senang membacanya. Tapi, lagi-lagi pilihan jatuh ke terjemahan Kitab Tanbihul Ghafilin (Peringatan Orang-orang Lalai) karangan Abul Laits As-Samarqandi yang tebalnya 661 halaman. Buku ini sudah kelewat lecek. Betul-betul lecek. Laiknya jadi bahan penelitian para ahli filologi.

Maklum, sejak dibeli Rp 7000 pada 18 Maret 1992, buku ini sudah lebih 1000 kali dibaca. Padahal buku-buku populer lain dibaca paling satu dua kali. Seperti record ya. Tapi, sebetulnya, masih kalah sama  Al-Qur‘an yang dibaca saban Maghrib dan Shubuh.

Isi Kitab Tanbihul Ghafilin benar-benar menggugah dan menggoda, dan hanya tersaingi kitab-kitab seperti Durratun Nashihin (Butiran Nasihat), 'Izhatun Nasyi'in (Nasihat Kaula Muda), Nasha'ihul 'Ibad (Nasihat Para Hamba), Tanbihul Maghrurin (Peringatan Orang-orang Tertipu), Nasha'ihul Khattatin (Nasihat Para Kaligrafer), Jamharatul Auliya (Himpunan Para Wali), Al-Hikam (Hikmah Kebijaksanaan),  Syarhul Hikam (Uraian Hikmah), Al-Akhlaq Al-Islamiyah (Akhlak Islam), Al-'Ushfuriyah (Nasihat Burung), dan Iqazhul Himam (Membangunkan Cita-cita).

Sambil dibaca buku itu dicoret-coreti. Atau dibuatkan coretan summary-nya. Biasa, untuk bekal ceramah di majelis taklim atau pointers khutbah Jumat. Pernah juga coba dibuatkan 11 artikel saripatinya, Sembilan darinya dimuat di harian umum Republika.

Baca-baca buku ini di waktu senggang memang asyik, melebihi postingan di medsos yang sekali baca biasanya langsung bosan. Senikmat seperti yang dikatakan "bapak buku" Al-Jahizh:

نعمَ البديـــلُ الكتابُ

Artinya, "Pengganti paling nikmat adalah buku."

Buku jadi teman. Bahkan, teman paling setia:

خيرُجليسٍ فى الزمانِ كتابٌ

Artinya, "Sebaik-baik teman nongkrong di segala kesempatan adalah buku." 

Maka, jadilah Ramadhan waktu untuk thalabul ilmi. Ini yang kerap terlewatkan oleh sebagian besar  shaimin (orang yang berpuasa). Seolah Ramadhan hanya untuk diisi ibadah mahdhah. Padahal lebih dari itu.

Nongkrong sambil buka-buka buku, apalagi kalau ramai-ramai, mengingatkan kita ke zaman keemasan Islam dulu ketika "perpustakaan jadi keajaiban dunia" yang melahirkan seabrek intelektual yang belum ada di luar Dunia Islam.

Tepatnya, karena efek domino membaca buku dan semangat thalabul ilmi, maka umat Islam maju dan memimpin dunia. Ketika Eropa masih "barbar" dan Amerika belum ditemukan.

Katanya, sekarang jadi terbalik. Dari setiap 1 juta orang Amerika, intelektualnya 4000 orang. Jepang malah 5000 orang. Tapi di Dunia Islam, dari 1 juta muslim intelektualnya hanya 300an orang. Ketinggalan, karena kurang baca buku dan kalah maju di bidang pendidikan.

Membaca Kitab Tanbihul Ghafilin saat berlapar-lapar puasa terasa seperti ditampar, mengingatkan kalau selama ini kita sering lalai dan menganggap enteng ibadah, tobat, amar ma'ruf nahi munkar, sampai (seakan) lupa mati dan konsekuensi-konsekuensinya di alam barzakh dan akhirat. Seolah "kurang rindu" ke surga dan "kurang takut" masuk neraka.

Yang sering, kelalaian itu berupa sikap cuek terhadap amal-amal utama seperti sabar, sedekah, menyayangi anak yatim dan fuqara wal masakin dan dhuafa, mau memaafkan, merajut silaturahmi, sopan-santun bertetangga, memenuhi hak anak, zikir-tafakkur-syukur dan rajin baca Al-Qur’an dan shalawat, bersikap wara' dan tawakal,  semangat menimba ilmu, memelihara sifat malu, memupuk roh jihad (bukan dalam arti kekerasan macam sekarang), sampai sikap toleran atau lapang dada, menyebarkan salam perdamaian, dan menciptakan lapangan kerja bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain.

Sikap lalai yang paling gawat dan sudah masuk "studium empat" adalah perilaku buruk yang teruuus saja dilakukan padahal kita tahu hukum dan hukumannya. Misalnya: dusta (termasuk hoaks menurut istilah sekarang), ghibah (mengungkap keburukan orang), namimah (adu domba), hasud (dengki dan iri hati), takabur atau sombong, mengumbar emosi atau marah, mengumbar syahwat, rakus dan over mengkhayal, ihtikar (menggaruk untung dengan menimbun), sampai-sampai tidak lagi merasakan "haramnya barang haram" karena otaknya kurang lurus dan hatinya tidak lagi suci.

Fisik Kitab Tanbihul Ghafilin ini  sudah lecek. Tetapi isinya nggak ikut-ikutan lecek. Malah masih relevan dan bisa diamalkan untuk selalu mengingatkan kita sepanjang zaman.


Penulis adalah dosen pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah. Ia juga pengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi, Jawa Barat.
Tags:
Bagikan:
Selasa 18 Juni 2019 7:0 WIB
Tanah Perdamaian Leluhur di Pulau Doom
Tanah Perdamaian Leluhur di Pulau Doom
null

Oleh Siti Nur Syamsiah

 

Hari itu, tepat sepekan saya menjadi warga Papua Barat sejak tiba tanggal 13 Desember 2017. Ya, saya telah mendatangi Kantor BPJS Kota Sorong untuk mengganti domisi selama 12 bulan berikutnya melalui Program Bina Kawasan 3T Kementerian Agama RI.

 

Usai antrean panjang di depan kamar mandi asrama, saya bergegas ke dapur untuk minum teh sembari mengunyah pisang goreng tanpa tepung di pojok dapur. Selain saya, ada Mama Tua dan tiga santri yang duduk bersama. Mata saya menangkap hal yang tak lazim orang Jawa lakukan. Mereka mengkonsumsi pisang goreng sembari mencolek sambal di atas mangkuk putih bergambar Ayam Jago.

 

Saya memilih untuk mengamati ekspresi makan mereka. Mereka asyik berbincang tanpa menunjukkan tanda-tanda aktivitas itu berbahaya untuk kesehatan. Sejurus kemudian seorang santri menyodorkan piring berisi pisang goreng, saya beranikan mencolek sambal tipis-tipis.

 

Gigitan pertama terasa aneh, rasa manis pisang goreng berbaur dengan rasa pedas cabai, bawang dan tomat yang ditumbuk halus lalu digoreng lembab. Karena masih penasaran, kembali saya colekkan sambal lebih banyak dari sebelumnya. Gigitan kedua dan seterusnya sudah menari-nari di lidah. Ternyata betul, tindakan ini aman untuk perut.

 

Selesai sarapan pagi, saya kembali ke kamar untuk berkemas. Waktunya mengamati Papua dari dekat, menghirup udaranya dan mendekap cinta kasih masyarakat adat Papua, kata saya pada diri sendiri. Bersama Ade Zuleka Wahyuni Agia saya menuju Pelabuhan Rakyat di Jl Ahmad Yani Kampung Baru. Selama mengendarai sepeda motor, siswa tingkat akhir MAN Model Kota Sorong ini banyak berkisah tentang Papua.

 

Sembari mendengarkan penuturan Yuni, mata saya mengawasi kiri dan kanan jalan. Ada sekolah, gereja, pondok-pondok Natal, Masjid Raya Al Akbar, toko sembako, penjual bensin botolan, hotel, bandara DEO, rumah sakit, kantor polisi dan swalayan.

 

Empat puluh lima menit berlalu. Kami sampai dengan rasa was-was, karena saat angin laut kencang para pemilik perahu memilih untuk tidak memberangkatkan penumpang. Usai memarkirkan motor, kami berjalan ke bibir pantai Halte Doom Pelabuhan Rakyat.

 

Kaki saya terasa dingin saat tersentuh air pantai yang bening. Tampak dari permukaan beberapa karang mati tersapu ombak menepi. Tidak ketinggalan ikan seukuran teri berenang disamping perahu yang nanti akan digunakan untuk menuju Pulau Doom. Dari titik saya berdiri, saya leluasa melihat arus keluar masuk kapal barang dan kapal penumpang di pelabuhan, lalu sesekali terdengar bunyi pesawat melintas tak jauh dari pandangan mata.

 

Setelah mengabadikan beberapa spot alam dengan kamera ponsel, saya mengahadap ke laut lepas, membentangkan kedua belah tangan lebar-lebar, memejamkan kedua belah mata lalu menghirup udara dalam-dalam. Maha Suci Engkau, Wahai Pencipta Keindahan. Pulau Doom memang terlihat tidak jauh dari Kota Sorong, namun kamu dilarang berenang untuk sampai di sana. Tidak ada cara lain menuju pulau berjuluk Sorong masa lalu ini selain menggunakan transportasi air. Tidak lebih dari 15 menit menggunakan longboad istilah lain dari perahu mesin.

 

Setiap hari ada banyak perahu standby di Halte Sorong dari pagi hari hingga sore hari dengan rute Kota Sorong-Pulau Doom, begitu sebaliknya. Jadi jangan khawatir tidak bias pulang. Selama langit cerah, gelombang ombak stabil, dan sudah lebih dari lima orang dalam perahu pulang pergi pulau Doom tidaklah mustahil. Jangan lupa, ongkos satu kali naik perahu lima ribu rupiah.

 

“SELAMAT DATANG DI DISTRIK SORONG KEPULAUAN DOOM”. Tulisan dengan huruf kapital warna biru pada gardu masuk pulau Doom ini menunjukkan ikon lumba-lumba di atasnya. Seorang tukang bejak gowes menghampiri Yuni. Terjadi lobi-lobi harga di antara keduanya. Sepakat dengan harga Rp50.000 kami menaiki becak, duduk manis memulai perjalanan dipandu langsung oleh Pak Darman, seorang muallaf berdarah Jawa yang memutuskan hidup merantau ke Papua sejak berhenti dari TNI.

 

Panasnya bukan kepalang. Kami berkeliling kampung di bawah suhu 33 derajat celcius. Terlihat beberapa warga memilih duduk di pelataran rumah mencari angin. Di pulau ini sulit menikmati kesejukan pantai. Pohon-pohon diam mematung, angin terhalang kepadatan rumah penduduk.

 

Keasyikan obroran terputus manakala becak menahan pedal. Kami sampai di Masjid Jami Doom, terletak di kelurahan Doom Barat, Distrik Sorong Kepulauan. Masjid tua yang didirikan pada tahun 1926 ini sudah beberapa kali mengalami renovasi sesuai kebutuhan jamaah. Masjid jami menjadi pusat kegiatan keagaamaan dan kemasyarakatan masyarakat Muslim di pulau ini.

 

Selama 51 tahun sebelum masjid jami didirikan, lebih dulu dibangun Gereja Kristen Injili berbahan semen dan kayu triplek, dibangun sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan lansia di Pulau Doom.

 

Pak Darman mengkonfirmasi kebenaran cerita tentang Kampung Perdamaian yang saya dengar. Adalah sepetak tanah kampung yang dialokasikan untuk tempat pemakaman warga Pulau Doom. Siapa pun boleh memakamkan sanak famili di tanah ini tanpa dipungut biaya. Bagi pemeluk agama Islam area pemakanan di sisi kiri jalan dan kanan jalan diperuntukkan pemeluk Agama Kristen.

 

Jika ada yang tanya kenapa Islam tidak di sebelah kanan, jawab saja ini pemakaman bukan makan siang. Istilah warga yang dikutip Pak Darman, "Hidup damai bertetangga, mati pun damai bertetangga pula." Spontan saya teringat aktivis-aktivis humoris Gusdurian Yogyakarta yang kerap menggunakan kaos tertulis 'Islam Ramah'.

 

 

Penulis adalah peserta Program Bina Kawasan 2017-2018 yang ditugaskan ke Papua. Program ini diselenggarakan Kemenag RI bekerjasama dengan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).

 

Tulisan ini pertama kali dimuat di NU Online Sabtu, 30 Juni 2018 pukul 23 WIB.  Redaksi mengunggahnya kembali dengan perbaikan seperlunya.


 

Rabu 12 Juni 2019 17:0 WIB
Ikrar Halal Bi Halal dari Ulama Betawi
Ikrar Halal Bi Halal dari Ulama Betawi
(Foto: @ubrain.net)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki

Bagi masyarakat Betawi, bulan Syawal adalah bulan Lebaran. Jadi, bisa dikatakan Lebaran di Betawi itu satu bulan lamanya. Umumnya, selama bulan Syawal para kiai dan ustadz Betawi belum membuka pengajian. Mereka membuka pintu untuk tetangga, kerabat, dan murid-murid yang datang untuk lebaran.

Sama seperti orang Betawi lainnya, makanan ringan yang dihidangkan untuk tamu yang datang merupakan makan ringan tradisional  seperti dodol, wajik, nastar, lapis, tape uli, kue satu, dan lain-lain.

Istilah Halal Bi Halal untuk kegiatan Lebaran, maaf memaafkan, yang melibatkan banyak orang dalam satu tempat, dan satu waktu baru dikenal masyarakat Betawi setelah terlebih dikenalkan oleh salah seorang pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, pada tahun 1948 ketika bertemu Presiden Soekarno.

Forum yang dikenal dengan istilah tersebut bertujuan untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sedang dilanda konflik saudara sehingga harus menyajikan bungkus baru yang menarik agar mereka mau berkumpul dan menyatu saling maaf-memaafkan.

Lambat laun, kegiatan Halal Bi Halal menjadi populer di masyarakat Betawi. Karenanya, salah seorang ulama Betawi, Abuya KH Abdurrahman Nawi, membuat ikrar Halal Bi Halal dan kaifiat atau tata caranya.  

Abuya KH Abdurraman Nawi adalah ulama Betawi kelahiran Tebet, Melayu Besar, Jakarta Selatan yang menurutnya cucunya, Irfan Fahmi dan Ustadz Darul Qutni, lahir pada tahun 1932 M. KH Abdurrahman Nawi lahir dari pasangan H Nawi bin Su’id dan ‘Ainin binti Rudin. Ia diberi nama Abdurrahman. Dengan menyandang nama bapaknya, ia kemudian dikenal dengan nama Abdurrahman Nawi.

Ia adalah salah seorang  ulama Betawi terkemuka yang menerima pelajaran keagamaan pesantren dari majelis taklim yang ada di Betawi, bukan dari pondok pesantren atau madrasah. Ia pernah belajar kepada KH Muhammad Yunus, KH Basri Hamdani, KH M Ramli, dan Habib Abdurrahman Assegaf. Ia juga mengaji kepada KH Muh Zain (Kebon Kelapa, Tebet), KH M Arsyad bin Musthofa (Gang Pedati, Jatinegara), KH Mahmud (Pancoran), KH Musannif (Menteng Atas), KH Ahmad Djunaedi (Pedurenan), KH Abdullah Husein (Kebon Baru, Tebet), KH Abdullah Syafi’i (Matraman), serta Habib Husein Al-Haddad (Kampung Melayu).

Agak jauh sedikit, ia mengaji kepada KH Hasbiyallah (Klender), KH Mu’alim (Cipete), KH Khalid (Pulo Gadung), Habib Ali Jamalullail, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Abdullah bin Salim Al-Attas (Kebon Nanas), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad (Kramat Jati), Habib Ali bin Husein Al-Attas (Kemayoran), dan Ustadz Abdullah Arifin (Pekojan).

Uniknya, walau ia tidak pernah belajar di sekolah, madrasah, atau pondok pesantren, namun cara belajarnya tidak kalah dengan cara belajar santri di pondok pesantren. Dalam sehari ia bisa mengikuti pelajaran di tiga tempat, yang masing-masingnya terdiri atas dua atau tiga mata pelajaran. Sistem belajar yang ia ikuti biasanya memakai kitab. Seorang guru membaca ‘ibarah dalam kitab dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kemudian menerangkan maksud dari ‘ibarah tersebut dengan penjelasan yang sangat luas dan mendalam.

Walau sekadar lulusan majelis taklim, tapi ia dapat mendirikan pondok pesantren yang merupakan salah satu pondok pesantren terkemuka, khususnya di masyarakat Betawi, yaitu Pondok Pesantren Al-Awwabin yang dulu berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Pesantren itu kini telah dipindahkan dan dikembangkan ke Depok, Jawa Barat.

Ia juga mengajar di majelis taklim yang dimulainya sejak 1962 M. Majelis taklim ini dibuka di  rumahnya, Jalan Tebet Barat VIII, Jakarta Selatan. Majelis taklim ini diberi nama As-Salafi yang mengajarkan kitab-kitab tertentu sesuai dengan kemampuan dan minat para pesertanya.

Untuk kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu, dibacakan Kitab Taqrib, Tijan Durar, Nashaihud Diniyah. Sedangkan untuk pemuda dan para ustadz, dibacakan Qawa’idul Lughah, Ibnu ‘Aqil, Fathul Mu’in, Bughyatul Mustarsyidin, Asybah wan Nazhair, dan Qami’ut Thughyan.

Pesertanya datang dari beberapa kampung di Jakarta dan sekitarnya. Banyak murid-murid majelis taklimnya yang kemudian menjadi ulama terkemuka, terutama di Betawi, seperti almarhum Abuya KH Saifuddin Amsir.

Adapun ikrar Halal Bi Halal dan kaifiatnya yang disusun oleh Kiai Abdurrahman Nawi lazimnya dilakukan sesaat setelah shalat Idul Fitri oleh khatibnya atau juga pada acara Halal Bi Halal, bahkan juga di kegiatan rowahan kubro sebelum masuk bulan Ramadhan.

Ikrar Halal Bi Halal ini dimaksudkan untuk memaafkan dan menghalalkan segala kesalahan antarsesama. Ia menyandarkan dalilnya pada Al-Qur`an Surat Ali Imran ayat 134 yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ikrar ini juga bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang pernah berbuat kesalahan-kesalahan kepada kita untuk meminta maaf. Ikrar ini merupakan sebuah pengakuan bahwa sebagai manusia memang kita juga punya salah kepada orang lain, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, karenanya perlu ada pernyataan yang jelas agar kesalahan-kesalahan kita dapat dimaafkan oleh orang lain.

Menurut cucunya, Ustadz Darul Qutni, ikrar ini pertama kali dirilis pada 1998 M, saat dia  mengantar Abuya Kiai Abdurrahman Nawi shalat Idul Fitri di Masjid Nurul Yaqin KH Salim Nai. Saat itu ia yang masih berstatus sebagai pelajar Tsanawiyah diajak oleh Abuya ke Tebet dari Depok. Abuya menyetir dengan laju yang cukup cepat. Maklum katanya, saat itu jalan raya masih lenggang.

Selesai khutbah Idul Fitri, Abuya KH Abdurrahman Nawi memimpin Ikrar Halal Bi Halal. Berikut isi ikrar tersebut dan kaifiatnya: Pertama, jamaah dianjurkan agar mendengarkan lebih  dulu ucapan pemimpin ikrar. Setelah itu baru diikuti perlahan lahan oleh hadirin, kalimat per kalimat; kedua, berikut isi ikrar: "Pada hari ini, saya halalkan dan maafkan segala kesalahan hadirin yang ada di sini, baik disengaja maupun tidak, lahir maupun batin, besar  maupun kecil, ikhlas dan ridha karena Allah ta`ala"; dan ketiga atau terakhir, jamaah diajak membaca Surat Al-Fatihah.

Ustadz Darul Qutni sendiri diminta memimpin ikrar ini pertama kali saat ziarah kubro Ummi Hasanah beberapa tahun yang silam. (Dari pelbagi sumber) *


Ustadz Rakhmad Kiki adalah penulis buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris RMI NU (asosiasi pesantren) DKI Jakarta.
Kamis 6 Juni 2019 15:0 WIB
Mudik, Gerak Kembali ke Asal
Mudik, Gerak Kembali ke Asal
Oleh Ustadz Nurul Bayan

Kini para pemudik sudah banyak yang tiba di kampung halaman masing-masing. Mereka berharap agar pada saat Lebaran bisa merayakannya bersama keluarga, sanak famili, dan kawan lama tempo doeloe. Seolah, sebelas bulan bekerja dan berkarya di rantau orang hanya untuk merayakan momen yang sakral ini. Dan, agaknya, pijakan seperti ini mengisyaratkan bahwa mudik adalah keniscayaan dan tidak bisa dibendung lagi, karena memang sudah men-tradisi dan membudaya bagi kebanyakan Kaum Muslim di negeri ini.

Gejala serupa mudik itu sebetulnya terjadi pula di negeri lain. Di Amerika, meski saya belum pernah ke sono, konon katanya gejala serupa mudik itu sama persis dengan Thanks Giving Day yang jatuh pada setiap 22 November, yaitu suatu perayaan yang disertai dorongan kuat untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Atau di Timur Tengah, sejak dari Bahrain di timur sampai Maroko di barat, lebih-lebih di kawasan Teluk, gejalanya sama, tetapi dikaitkan dengan perayaan Idul Adha, karena perayaan inilah yang terbesar (orang Jawa bilang: Rayagung). Mereka punya keinginan kuat untuk bisa menuju Tanah Suci, di Haramayn, berhaji dan berumrah, sekaligus berziarah ke makam Nabi Saw. Ini adalah simbolisasi bahwa kembali ke Tanah Suci membawa kebahagiaan tersendiri. Jadi, gejala mudik dan yang serupa dengan itu muatan maknanya universal.

Mengapa mesti mudik? Apakah ada makna terdalam dibalik mudik yang lahiri itu?

Dalam perkamusan, mudik ialah berlayar ke hulu; pulang kampung/desa. Artinya, setiap kita punya asal-usul, dan mudik adalah gerak kembali ke asal, ke kampung halaman. Ke mana pun kita pergi pasti ada dorongan kuat untuk kembali ke asal. Kerinduan ini tidak bisa ditebus dengan apa pun. Asal adalah tempat kembali yang membahagiakan. Jadi, kembali ke asal itu alamiah, natural. Sederhananya, ketika ada seekor anak ayam (Jawa:pitik) yang baru ditetaskan satu atau dua hari tersesat dan tertinggal jauh dari induknya maka ia akan terus berteriak sekencangnya (Jawa: pating creyak). Namun, begitu bisa kembali kepada sang induk lalu didekapnya erat-erat maka akan dengan sendirinya merasa tenang dan nyaman. Jadi, sekali lagi, kembali ke asal adalah alami dan itu membahagiakan. Kaitannya dengan puasa yang tengah kita lakoni, kembali ke asal itu adalah Idul Fitri. Id artinya kembali, dan fitri artinya kesucian asal. Idul Fitri berarti kembali pada kesucian asal.

Pada mulanya, ketika masih dalam alam ruhani, Tuhan mengambil Perjanjian Primordial (al-Mitsaq al-Awwal) dari manusia tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini sebagaimana interpretasi Syekh Isma'il al-Haqqi dalam Ruh al-Bayan, (Toronto: Mathba'ah al-'Utsmaniyyah, 1330 H), jld iii, hlm. 275, berkenaan dengan Q al-A'raf [7]: 172. Secara bebas, terjemahan ayatnya terbaca demikian.

Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari anak-anak Adam keturunan mereka dari sulbinya dan menjadikan saksi atas diri mereka sendiri (dengan pertanyaan): "Bukankah Aku Tuhan kalian?" Mereka menjawab: "Ya! Kami bersaksi!" (Demikianlah) supaya kalian tidak berkata pada hari kiamat: "Ketika itu kami lalai."

Jadi, secara keruhanian, kita terikat oleh Perjanjian Primordial. Dan dalam 'keadaan' mengakui akan Ketuhanan Yang Maha Esa itulah kita sebagai manusia tercipta. 'Keadaan' yang demikian itu disebut dengan 'fitrah,' artinya asal mula pertama manusia tercipta (al-khilqah), atau kesucian asal. Menyikapi ayat di atas, para mufassir mengaitkannya dengan Al-Qur'an Surat al-Rum [30]: 30, terjemahannya:

Maka hadapkanlah wajahmu benar-benar kepada agama; menurut fitrah Allah yang atas pola itu Dia menciptakan manusia. Tiada perubahan pada ciptaan Allah; itulah agama yang baku; tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.

Asal kita semua adalah fitri, jauh sebelum kita terlahir ke alam dunia ini. Kefitrian kita yang berdimensi ruhani itu kemudian terus terbawa sampai kita lahir. Tentang ini, ada penegasan hadits: "Setiap jabang bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah."

Allah berfirman (hadits qudsi): "Bahwa Aku ciptakan hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung merindukan dan memihak pada yang baik dan benar)."

Tetapi, sebagaimana halnya kecenderungan alami bayi untuk makan dan minum itu butuh bimbingan orang tuanya agar tidak salah ambil, maka kefitrian dan kehanifan kita juga perlu bimbingan agar tidak salah. Sebab, kita pun tercipta dalam keadaan lemah (Q al-Nisa' [4]: 28). Kelemahan kita ialah gampang tergoda. Pada saat kita lemah setan mendekat, dan di saat kita kuat setan menjauh. Inilah gambaran al-Khannas dalam Q Al-Nas [114]: 4. Maka, setiap kita punya dua kecenderungan, yang jahat dan yang  baik (Q al-Syams [91]: 8). Agar tidak salah arah, lalu, dengan Rahmat Tuhan, diutuslah para nabi dan rasul. Namun kini tidak akan ada lagi nabi dan rasul karena sudah ditutup oleh kenabian dan kerasulan Muhammad SAW. Yang tersisa hanyalah ajarannya yang terus diteladankan oleh mereka yang layak dan wajar sebagai pewarisnya. Dan di antara ajaran para nabi dan rasul itu ialah tentang keharusan berpuasa.

Sampai batas ini berarti puasa adalah media untuk mengembalikan kesadaran kita tentang kesucian asal itu. Karenanya, selesai Ramadan kita merayakannya dengan ber-idul fitri, kembali ke asal kesucian. Tetapi, oleh karena kemampuan masing-masing akal kita berbeda satu sama lain maka tidaklah terlalu mengada-ada bahwa makna Idul Fitri itu disimbolisasikan dengan mudik.

Entah siapa yang pertama kali memulai tradisi mudik lebaran itu. Yang jelas, kita harus menaruh hormat pada juru dakwah tempo doeloe yang mengenalkan Islam begitu rupa, sampai-sampai kita tak tahu lagi bahwa ternyata tradisi mudik itu simbolisasi dari gerak kembali ke asal. Dan 'asal' yang hakiki adalah Tuhan Sendiri. Maka, 'mudik' yang sebenarnya ialah ketika kita bisa menginsafi akan asal dan tujuan hidup kita, yaitu Tuhan: "Bahwa kita semua milik Tuhan dan bahwa kita pun kembali kepada-Nya" (inna lillahi wa inna ilayhi raji'un, Q al-Baqarah [2]: 156). Kesadaran seperti inilah yang tersirat dari laylah al-qadr, yaitu ketika Nabi SAW sembahyang dalam keadaan basah kuyup dan belepotan dengan lumpur di Masjid Nabawi dulu. Di sini, kembali ke asal disimbolkan dengan 'tanah dan air' (lihat dalam Muhammad ibn Isma'il al-Bukhari, al-Jami' al-Shahih, [Kairo: al-Mathba'ah al-Salafiyyah, 1403], cet i, jld ii, No. 2016, hlm. 62). Jadi ada kesamaan makna yang saling berkaitan antara puasa, laylah al-qadr, zakat fitrah, mudik, dan Idul Fitri. 

Untuk mereka yang telah mendahului kita, al-Fatihah ...

Dan untuk kita semua: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Mohon Maaf Lahir-Batin.

Penulis adalah alumni Ponpes Assalafie, Babakan Ciwaringin, Cirebon.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG