IMG-LOGO
Nasional

Rais 'Aam PBNU: Kekeramatan NU untuk Merawat Jamaah


Ahad 23 Juni 2019 19:15 WIB
Bagikan:
Rais 'Aam PBNU: Kekeramatan NU untuk Merawat Jamaah
Rais Aam PBNU, KH Miftakhul Ahyar pada Halal bi Halal NU Jakut, Ahad (23/6).
Jakarta, NU Online
Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar berpesan kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara selalu meningkatkan pemahaman Nahdliyin tentang NU agar tidak melenceng dari aturan-aturannya. 

"PCNU Jakarta Utara terus tingkatkan agar jamaah yang besar ini bisa dirawat dengan baik, dijamiahkan, dikenalkan dengan aturan-aturan yang ada dengan kekeramatan Nahdlatul Ulama yang sedemikian besar," kata Kiai Miftach saat mengisi tausiyah pada acara Halal bi Halal dan Syukuran warga NU di Hotel Sunlake Jakarta Utara, Ahad (23/6).

Menurut Kiai Miftach, selama ini, kekeramatan NU tidak diragukan karena ajaran-ajarannya yang benar. Akan tetapi, pengikut atau jamaahnya masih menyisakan persoalan karena masih banyak yang belum memahami NU, sehingga Nahdliyin perlu terus diberikan pemahaman supaya mencintai NU.

"Karena Nahdliyin Nahdliyat kan macem-macem. Ada NU karena cinta ada, seperti Pak Bambang (pencinta NU tinggal di Jakarta Utara). Cinta ini dasar," ucapnya.

Menurutnya, cinta merupakan dasar bagi keimanan seseorang. Sehingga beriman tanpa cinta maka imannya cacat. Begitu juga dalam ber-NU. Katanya, orang yang memakai atribut NU tidak serta merta dianggap sebagai pencinta NU.

"Akhirnya (Nahdliyin yang tidak mencintai NU) grudag-grudug, katut arus (mengikuti arus) dan sebagainya. Mudah terpengaruh dan sebagainya," ucapnya.

Oleh karena itu, dengan kekeramatan NU, pengurus NU diharapkan aktif mengayomi Nahdliyin agar memiliki pemahaman yang benar tentang NU. Bahkan lebih jauh, ia berharap kepada pengurus NU untuk memperluas jangkauan objek dakwahnya, yakni orang-orang di luar NU. 

Namun, katanya mengingatkan, dakwah dilakukan dengan berpegang pada prinsip-prinsipnya, yakni santun dan selalu menghindari diri dari kekerasan.

"Dakwah itu mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, tapi menyelamatkan mereka dengan cara yang santun," ucapnya.

Sebelumnya, di tempat yang sama, Katib Syuriyah PBNU KH Zulfa Musthofa menyatakan bahwa dirinya pada awal 2019 keliling ke kelurahan-kelurahan di Jakarta Utara mengisi halaqah Ahlussunnah wal Jamaah untuk memberikan pemahaman yang benar kepada nahdliyin tentang NU.

Sebab dalam pengamatannya, banyak Nahdliyin yang mengenal NU hanya dari sisi amaliahnya, seperti praktik Qunut dalam Shalat Subuh, Tahlilan, dan Maulidan. Sementara tentang cara berpikir NU, mereka tidak memahaminya, sehingga membuatnya menjauhi tokoh-tokoh NU. Atas kondisi tersebut, ia mengaku prihatin.

"Kadang-kadang mereka ini tidak paham cara berpikir NU, bahkan kadang-kadang ada yang menganggumi orang-orang yang justru mem-bully tokoh-tokoh NU," kata Kiai Zulfa. 

Nahdliyin perlu diberikan pemahaman tentang Islam Nusantara, cara dakwah yang santun dan pandangan politiknya, yakni politik kebangsaan. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Bagikan:
IMG
IMG