IMG-LOGO
Opini

Penataan Makam KH Sholeh Darat, Perlukah Dipindah?

Senin 24 Juni 2019 17:25 WIB
Bagikan:
Penataan Makam KH Sholeh Darat, Perlukah Dipindah?
foto: ilustrasi
Oleh: Mohammad Ichwan 

Kiai Sholeh Darat adalah gurunya para ulama Nusantara. Sebagian muridnya kita kenal sebagai pahlawan nasional. Yaitu KH Hasyim Asyari sang pendiri Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, dan Raden Ajeng Kartini sang pahlawan pendidikan dan emansipasi wanita. 

Sang kiai yang diyakini lahir tahun 1820 ini masyhur sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darat, Semarang, yang zaman dulu menjadi rujukan para ulama. Namun setelah KH Sholeh wafat tahun 1903, pesantren Darat meredup pamornya. Menantunya, Kiai Ahmad Dahlan at-Termasy melanjutkan kepemimpinan pesantren. Namun tidak lama kemudian menyusul wafat. Menantu kedua, Kiai Amir Pekalongan sempat melanjutkan, tetapi situasi di Darat sudah sepi.  Santri senior, Kiai Idris, lantas meneruskan mulang ngaji para santri Darat di Jamsaren Solo. 

Setelah zaman penjajahan Jepang, pesantren Darat tidak lagi terdengar.  Maqbaroh (kuburan) Kiai Sholeh Darat di Bergota lama tidak terurus. Karena itulah, di sekitar makam beliau dipenuhi makam umum hingga ratusan jumlahnya. Ratusan kuburan berjejalan tak beraturan di seputar makam KH Sholeh Darat. Semuanya diberi kijing alias dibangun permanen dengan acian 
semen, keramik maupun cor beton. Sesuatu yang sebenarnya diharamkan oleh syariat Islam. (Kijing hanya dibolehkan ketika darurat). Juga telah dilarang oleh Pemerintah Kota Semarang. Peraturan Daerah (Perda) nomor 10 tahun 2009 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemakaman Jenazah. Ada aturan larangan membuat kijing. 

Para peziarah harus melangkah-langkahi kuburan, bahkan menginjak-injak pusara. Sering terjadi peziarah terluka karena kakinya terantuk batu nisan yang rata-rata tajam sudutnya. Semrawut dan tidak tertib. Itulah yang identik dengan kompleks makam Bergota. Faktornya karena ada praktek pungli (pungutan liar) lahan kuburan. Banyak oknum bermain membisniskan lahan kuburan. 

Dalam situs berita Jatengtoday.com edisi Jumat (14/6/2019), lahan kuburan di Bergota sudah dikapling-kapling. Banyak ulah membuat makam fiktif. Yakni suatu lahan diberi nisan bertulisan nama tetapi tanpa mayat di dalamnya. Lahan itu dijual kepada siapapun yang mampu membayar. 

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang Muhammad Ali tidak menampik praktik pungli tersebut. “Memang, informasi di bawah, walaupun itu TPU (Tempat pemakaman Umum) milik Pemkot, misalnya TPU Bergota, itu (lahannya) ada yang punya. Istilanya sawah-sawahan. 

Kalau ada yang mau mengubur di situ harus bayar. Tarifnya sampai Rp3,5 juta. Itu (praktik pungli makam) sudah lama,” kata dia dalam laporan reporter Abdul Mughis di media online tersebut. Tarif mengubur jenazah yang resmi hanya Rp85 ribu, prakteknya menjadi Rp3,5 juta per lubang. Wakil rakyat pun sudah menanggapi. 

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Suharsono menyatakan sangat prihatin dengan praktek pungli di Bergota. Menurutnya, orang sudah terkena musibah malah diperas. “Dalam kondisi masyarakat terkenal musibah, seharusnya mendapat fasilitas dan kemudahan mengurus pemakaman. Bukan malah sebaliknya. Jika terjadi pungli, maka sanksinya dipertegas. Berarti kontrol pemerintah belum optimal,” ujarnya dimuat di koran online tersebut. 

Perbuatan melangkahi kuburan bahkan menginjak pusara, itu sudah menimbulkan persoalan hukum dan moral tersendiri. Para ulama sudah lama prihatin soal ini, dan sudah menyuarakan keprhatinannya itu. Atas persoalan tersebut masyarakat meminta agar makam Kiai Sholeh Darat dipindah. Atau ditata dan ditertibkan. Pemerintah Kota Semarang pun telah memberi perhatian. Pemkot Semarang telah meminta fatwa kepada ulama, yaitu kepada Nahdlatul Ulama Kota Semarang. 

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang atas permintaan Pemkot Semarang akan mengadakan Bahsul Masail untuk membahas soal pemindahan tersebut. Forum musyawarah untuk membahas masalah dalam perspektif hukum Islam ini akan digelar di Gedung PCNU Kota Semarang Jl. Puspogiwang  I/47 Semarang Barat pada Senin (24/6/2019) malam.

Syech Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarony atau biasa disebut Kiai Sholeh Darat adalah ulama besar yang lahir di Mayong Jepara (diperkirakan) tahun 1820  dan wafat di Semarang pada 1903. Namanya masyhur sebagai pengasuh pesantren di Kampung Darat, Semarang Utara. 

Setiap hari puluhan bahkan ratusan orang berziarah di makamnya. Dua puluh empat tiada henti. Namun banyak keluhan peziarah terkait lokasi makam dan fasilitasnya. Masalah ketidaknyamanan, selain tidak adanya akses, berikutnya adalah tidak adanya fasilitas ziarah. Yaitu tiada toilet yang layak, tiada mushala yang nyaman, dan tiada  tempat parkir kendaraan. 

Saat ini, hanya ada dua bilik toilet darurat yang dibuat oleh para penjaga makam. Yaitu warga sekitar yang biasa menjaga kotak amal di makam KH Sholeh Darat. Toilet itu ada di depan cungkup makam KH Sholeh Darat, berjarak sekira 10 langkah kaki. Berwujud bangunan sempit berdinding seng yang sudah karatan, ditutup spanduk plastik bekas reklame Pemilu. Tarifnya Rp2 ribu sekali masuk. Airnya hanya cukup dipakai untuk sekitar lima atau tujuh orang. 

Bahkan peziarah yang berhati-hati soal syariat, tidak akan berani menggunakan toilet tersebut karena takut merasa berdosa mengencingi atau memberaki kuburan. Adapun tempat wudhu, ada di sebelah toilet tersebut. Berupa dua ember bekas wadah cat yang diletakkan di atas susunan bata. Bagian bawah ember dilubangi untuk memancurkan air. Sangat sedikit peziarah yang bisa berwudhu. Karena kapasitas ember hanya cukup untuk wudhu lima sampai delapan orang. Dua ember berarti maksimal bisa dipakai oleh 16 orang.  Tarif sekali berwudhu Rp2 ribu. Sebagai ganti ongkos memanggul air naik turun bukit Bergota. 

Bagaimana pengakuan peziarah? Ini diantaranya. “Saya sebenarnya selalu ingin berlama-lama berdoa di makam Mbah Sholeh Darat. Ingin berdzikir dan mengkhatamkan baca Al-Qur'an setiap ziarah di sini. Namun karena tak ada mushala dan toilet yang layak, saya hanya bisa sebentar,” tutur Safiq, santri asal Kaliwungu Kendal, yang berjumpa dengan penulis ketika menghadiri Haul Ke-119 KH Sholeh Darat tanggal 10 Syawal 1440 (14/6/2019). 

Muhammadun pziarah asal Yogyakarta menceritakan, sejak dirinya mondok di pesantren hobi ziarah kubur, dirinya senang sekali ziarah di makam-makam wali. Namun dirinya merasa susah kalau di makam Mbah Sholeh Darat. Repot kalau butuh buang hajat. Dirinya terpaksa naik motor mencari toilet di luar makam, karena  tidak berani menggunakan toilet itu. 

"Selain tidak layak, saya takut berdosa karena mengencingi atau memberaki kuburan. Sebab toilet itu ada di tengah-tengah komplek makam. Bahkan bisa jadi itu didirikan di atas kuburan orang membayangkan,” ucap Muhammadun, peziarah asal Yogyakarta yang bertemu penulis di lokasi pinggir Jalan Kyai Saleh di sebelah timur Bergota, Kamis (13/6/2019). 

Toilet lain, terletak di pinggir jalan masuk kompleks makam KH Sholeh Darat. Toilet tersebut dibuat dan dijaga oleh Pak Suyoto, seorang penjaga makam yang memasang dua kotak amal di jalan masuk makam KH Sholeh Darat. Toilet ini kurang penerangan dan sama-sama sangat terbatas airnya. 
 
Penulis adalah Sekretaris Komunitas Pecinta Kiai Sholeh Darat (KOPISODA) Semarang. 
Tags:
Bagikan:
Senin 24 Juni 2019 14:25 WIB
Menutup Kebencian Laten di Media Sosial
Menutup Kebencian Laten di Media Sosial
Oleh Fathoni Ahmad

Kebencian tidak mengenal waktu dan tempat. Ia terus akan menjadi virus yang menggerogoti kehidupan manusia dari berbagai sisi. Dalam momen tertentu, seperti hajatan nasional yang melibatkan seluruh rakyat, eskalasi kebencian meningkat ketika perdebatan terjadi di media sosial. Perdebatan tidak menumbuhkan produktivitas dan wawasan baru, tetapi justru memunculkan polarisasi identitas.

Para pelajar dan pemuda merupakan elemen masyarakat yang paling banyak menggunakan media sosial, baik Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Konten-konten atau isi yang beredar di media sosial baik berupa berita, foto, dan status tidak ada yang mampu menyaring selain diri pribadi masing-masing. Pemahaman terkait media sosial penting ditujukan kepada generasi muda karena mereka merupakan pewaris sekaligus yang bakal mewarisi peradaban.

Langkah penyaringan perlu dilakukan karena isi postingan di media sosial tidak semuanya positif, bahkan mempunyai kecenderungan negatif dengan melimpahnya berita dan foto-foto palsu atau hoaks. Bahkan, caci maki dan fitnah dari satu orang ke orang lain merupakan pemandangan sehari-hari yang kita temui di media sosial. Padahal, secara tegas Islam sendiri melarang kepada umatnya untuk melakukan caci maki dan fitnah.

Sikap santun dalam berdialog, lemah-lembut dalam berbicara, halus dalam penyampaian pesan, merupakan jalan tengah yang membuat orang lain simpati apalagi sebagai generasi muda. Karena hati yang bercerai berai dan pendapat yang berbeda dapat terangkul dengan harmonis walaupun beda keyakinan, dan lain-lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berpesan kepada Nabi Musa dan Harun ’alaihimassalam: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia menjadi sadar atau takut.” (QS. Thaha [20]: 44)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika mengomentari ayat ini berkata: “Ada pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari ayat di atas, yaitu bahwa Fir’aun yang terkenal keangkuhan dan arogansinya, sementara Musa –alaihissalam– sebaik-baik manusia pilihan Allah saat itu, namun demikian Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan perkataan yang santun dan lemah lembut”.

Kata-kata cacian hanya mengundang malapetaka, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Cacian tidak akan menghadirkan kembali orang yang kabur dan tidak akan membuat simpati orang yang berkepala batu, justru hanya menanamkan rasa dendam di hati dan membuat orang yang berseberangan semakin nekad dan keras kepala. Bahkan, sudah banyak orang yang berurusan dengan polisi akibat memfitnah dan mencaci maki orang lain di media sosial.

Bila kita menghujani orang yang tidak sependapat dengan kita itu dengan makian, kecaman dan kutukan, maka apa yang kita lakukan itu akan semakin memperkeruh persoalan dan memperparah penyakit. Oleh karena itu, bila kita menyampaikan nasihat, sampaikanlah dengan cara yang tidak membuat orang lain kabur, dan bila kita berdebat, berdebatlah dengan cara yang santun tanpa merendahkan lawan bicara.

Iman dan takwa bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tidak ada orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya taqwa kecuali dia adalah orang yang beriman. Dan tidak ada orang yang benar-benar beriman, kecuali dia bertaqwa; yakni menjaga diri dari dosa dan selalu berusah menjalankan perintah-perintah-Nya, disertai dengan akhlak yang baik.

Orang-orang yang bertakwa percaya kepada yang ghaib. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, percaya bahwa surga dan neraka itu benar-benar ada, mereka juga percaya bahwa Allah menciptakan malaikat dan menurunkan kitab suci kepada beberapa nabi. Mereka percaya dengan hari akhir dan hisab. Dengan kepercayaan dan iman itu lalu mereka menjalani hidup di dunia sesuai dengan tuntunan dan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dari Allah SWT.

Hamba Allah yang benar-benar beriman dan bertakwa itu mempunyai hati yang lembut, jiwa yang tenang dan perangai yang baik, ramah, dan penuh kasih sayang. Hal itu tercermin dalam tindakan dan ucapannya sehari-hari. Orang yang benar-benar beriman, atau mereka yang memiliki kualitas iman sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, tidak mungkin menjadi pribadi-pribadi yang tercela.

Mereka tidak mungkin menjadi orang-orang yang mengajak manusia kepada kerusakan, hasut, kedengkian, dan kebencian. Orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman tidak mungkin menyebarkan fitnah atau tuduhan-tuduhan keji tanpa dasar kebenaran kepada siapapun.

Mereka tidak mungkin mencaci dan melontarkan tuduhan keji hanya didasarkan pada su’udzon dan kebencian terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Orang-orang yang melakukan kekejian seperti ini, bukanlah orang yang beriman dan bertaqwa. Justru, mereka adalah para ahlul fitnah, atau pembuat kerusakan di muka bumi.

Rasulullah SAW mengajari kita bagaimana seharusnya menjadi seorang mukmin yang sesungguhnya. Rukun iman memang hanya ada enam sebagaimana kita ketahui, tetapi kesempurnaan iman memerlukan perangkat-perangkat lain. Kepercayaan atau iman kita kepada enam hal yang diajarkan oleh Rasulullah itu bukan hanya sekadar percaya, melainkan harus ditindaklanjuti dengan menjalankan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Kemudian dilengkapi pula dengan akhlak atau tindak tanduk yang terpuji serta ucapan yang baik. Mencaci-maki, melaknat, memarahi orang menggunakan kata-kata kotor adalah perbuatan keji yang menjauhkan manusia dari iman. Karena hal-hal tersebut bukan merupakan ciri-ciri manusia yang beriman. Orang yang beriman akan memancarkan keindahan jiwa dan hatinya. Membuat orang di sekelilingnya merasa aman, tenteram, dan damai.

Rasulullah SAW juga memberitahukan kepada umat Islam, bahwa caci maki atau laknat dari manusia kepada manusia lainnya merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dan berat urusannya. Oleh karena itu jika ada orang yang mencaci-maki dan melaknat orang, namun ternyata orang yang dilaknat itu adalah orang baik, maka laknat itu akan kembali kepada diri orang yang melaknat.

Prinsip-prinsip ajaran Islam tersebut harus dipegang teguh semua Muslim agar apapun perbedaan yang muncul, khususnya di media sosial tidak mengakibatkan kondisi kemanusiaan yang rapuh dan suram. Media sosial tetap bisa menjadi alat bagi kebaikan bersama tergantung konten seperti apa yang berusaha disebar.

Generasi digital yang kerap disebut generasi milenial ini penting menjadi perhatian bersama agar proses bermedia sosial terdidik secara literasi. Langkah pencerdasan generasi milenial perlu mendapat panduan dari generasi-generasi sebelumnya yang justru lebih dahulu memahami dinamika yang berkembang dalam dunia teknologi informasi. Bahkan dari pemahaman tersebut, pola prediksi perkembangan teknologi selanjutnya bisa dilakukan. Langkah pencerdasan ini bisa dimulai dengan memberikan pemahaman melalui penulisan buku terkait literasi digital dan perkembangannya.

Di tengah arus media digital yang demikian massif, kebinekaan yang menjadi identitas warga Indonesia mendapat tantangan serius. Ancaman itu berupa meningkatnya eskalasi kebencian dan provokasi yang disebarkan secara massif melalui media sosial seperti yang dijelaskan di atas. Revolusi teknologi dan mudahnya akses media sosial ternyata menyimpan ruang gelap berupa kebencian dan isu-isu negatif yang dihembuskan oleh kelompok-kelompok tertentu.

Namun, di tengah perkembangannya, literasi digital ini juga harus menjadi media untuk generasi bangsa bahwa belajar langsung kepada seorang guru yang tepat juga menjadi bekal dalam mengarungi dunia digital. Karena, bekal ini akan bermanfaat bagi generasi milenial untuk mengisi dunia maya dengan konten-konten positif dalam rangka membangun Indonesia yang kuat dan agama yang lebih ramah untuk kehidupan bersama. Sehingga bahaya tersembunyi yang tertanam (laten) kebencian di media sosial bisa dicegah.


Penulis adalah Redaktur NU Online
Jumat 21 Juni 2019 22:15 WIB
Sistem Zonasi, Berkah atau Bukan bagi Lembaga Pendidikan NU?
Sistem Zonasi, Berkah atau Bukan bagi Lembaga Pendidikan NU?
Ilustrasi: pelajar MA NU Kudus menciptakan obat herbal
Oleh Muhammad Syamsudin

Sebenarnya pembahasan ini bukan termasuk wilayah kajian penulis. Namun, karena penulis sendiri juga memiliki lembaga pendidikan di bawah kendali yayasan pondok pesantren, maka penulis menjadi tergelitik untuk ikut mencermati dilematika sistem zonasi pendaftaran peserta didik baru (PPDB), khususnya dari kacamata lembaga pendidikan nahdliyin. 

Sebenarnya sistem zonasi ini masuk dalam bingkai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2019-2020. Di dalam sistem ini, disampaikan bahwa calon peserta didik baru hanya boleh mendaftar pendidikan di lembaga pendidikan negeri yang dikelola pemerintah dalam radius terdekat dari tempat di mana ia dan keluarganya berdomisili. Dalam cakupan radius itu, peserta didik hanya dibolehkan untuk memilih 3 opsi lembaga pendidikan (negeri) yang dikehendakinya, dengan catatan selagi slot bangku masih tersedia. Jika tidak tersedia, ia lari ke mana? 

Proses seleksi penerimaan didasarkan atas pemeringkatan hasil nilai Ujian Nasional (UN) dengan pengarusutamaan pada nilai Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris. Dan jika nilai tersebut memiliki kesamaan antara satu peserta didik dan peserta didik lainnya, maka seleksi dilakukan atas dasar siapa yang lebih dulu mendaftarkan diri.

Sejauh pengamatan penulis, sejatinya berlakunya Permendikbud Nomor 5 Tahun 2018 ini memiliki banyak keuntungan. Nilai keuntungan tersebut terletak pada beberapa pokok pikiran, yaitu:

1. Siswa tidak tercerabut dari akar budaya daerah dan lingkungannya.
Beberapa waktu yang lalu, ada salah satu siswa yang biasa bersekolah di Surabaya. Kemudian tiba-tiba, ia pindah bersekolah di tempat lain di luar Surabaya. Yang mengejutkan, siswa ini ternyata tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru tempat ia belajar. Misalnya, ada pelajaran Bahasa Jawa. Di Surabaya, Bahasa Jawa ini kadang sudah tidak lagi dijadikan sebagai Muatan Lokal (Mulok). Nah, di lingkungan barunya ini ada Mulok Bahasa Jawa. Akhirnya timbul kemalasan dalam belajar disebabkan tidak mampu mengikuti Mulok tersebut. Padahal, nilainya juga berpengaruh terhadap kenaikan kelas dan prestasi. Di sini timbul problem.

2. Bagaimanapun juga, setiap sekolah dengan basis minimal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan K13, diharuskan mengembangkan dan mengadopsi kearifan budaya lokal. Namanya saja sudah berads di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bagaimana mungkin sekolah / lembaga pendidikan tidak mengadopsi budaya daerahnya sebagai kearifan lokal? Justru bila budaya lokal dan kearifan lokal ini tidak diadopsi, yang lahir adalah citra pendidikan yang terkesan elitis. Jika berbasis budaya lokal, maka sikap dan perilaku peserta didik akan senantiasa mendapatkan kalibrasi kontrol sosial dari institusi masyarakat sekitar. 

3. Sistem Zonasi dapat memberantas kapitalisasi pendidikan. Kita tidak ingin adanya kapitalisasi pendidikan, bukan? Kita seringkali berbicara menolak kapitalisasi pendidikan, namun jarang sekali memberi solusi jawaban bagaimana agar kapitalisasi pendidikan itu tidak ada dalam dunia pendidikan kita. Sistem zonasi ini sejatinya unik. Dengan sistem zonasi, gap antara mutu lembaga pendidikan negeri daerah satu dengan lembaga pendidikan negeri lainnya tidak akan lagi terjadi. 
Meskipun pada dasarnya di satu sisi ini kurang menguntungkan bagi peserta didik yang memiliki prestasi lebih dan berhak mendapatkan pembinaan yang lebih. Namun, dampak maslahat besarnya justru pendidikan negeri ini akan beralih pada perlombaan menjaring siswa didik. Jadi, fokus mereka akan terpecah di sini sehingga harus bersaing dengan lembaga pendidikan swasta, termasuk LP Ma'arif. Dan ini sebenarnya merupakan rahmat bagi lembaga pendidikan swasta itu karena kesempatan menjaring siswa didik yang berkualitas menjadi berpeluang sama dengan lembaga pendidikan negeri. 

Sebenarnya masih banyak sisi kebaikan dari sistem zonasi itu dan hal ini tidak hanya dinikmati oleh NU. Yayasan Pendidikan Muhammadiyah pun juga akan menikmatinya. Terlebih lagi NU, mengingat NU itu memiliki banyak lembaga pendidikan di tingkat daerah bahkan kecamatan atau desa. 

Dulu, penulis pernah mengajar di sebuah desa, tepatnya di lereng Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Saat itu, di desa tempat penulis mengajar, berdiri sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari Raudlatul Athfal (RA) sampai dengan Madrasah Aliyah. Seluruhnya berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Penulis di sini berbicara dalam lingkup desa. Jika dalam lingkup desa saja ada lembaga pendidikan setingkat SMA yang dimiliki oleh NU, bagaimana dengan di tingkat Kecamatan. Sudah barang tentu, ada lebih banyak lagi.

Alhamdulillah, semua lembaga ini mendidik siswa-siswinya dengan kapabilitas yang profesional, tidak kalah dengan lembaga pendidikan negeri, meskipun gaji guru yang saat itu pas-pasan. Bagaimana tidak? Gaji guru setiap bulannya, bayaran tertinggi sebesar Rp175 ribu pada tahun 2005. Ini adalah salah satu langkah yang fantastis. Pendidikan murah untuk generasi bangsa. 

Sedikit beringsut ke tengah Kota Malang, penulis sudah menemukan lembaga pendidikan yang memiliki cost bulanan senilai jutaan rupiah per bulan. Ini di kisaran tahun 2003-2005. Apa namanya ini bukan termasuk kapitalisasi? Padahal lembaga pendidikan tersebut berbasis negeri.

Yang negeri berlomba-lomba membangun brand image sekolah favorit berbasis modal dan status negerinya, sementara yang di desa berlomba membangun amal jariyah menyediakan peluang/kesempatan bagi siswa siswi yang tidak mampu untuk terus melanjutkan pendidikannya. Ini adalah sebuah ketidakadilan. Ketidakadilan yang lahir akibat kapitalisasi pendidikan sehingga pendapatan / gaji guru menjadi jauh dari harapan kesejahteraan. Jurang ini bisa teratasi manakala ada zonasi lembaga pendidikan. 

Walhasil, sistem zonasi PPDB 2019 ini sejatinya tergantung cara kita menilainya. Apabila kita menilai dari sisi akar kebudayaan yang tidak boleh tercerabut dari siswa didik, serta berusaha memberantas kapitalisasi pendidikan, maka sistem zonasi PPDB 2019 ini adalah rahmat. Apalagi bila kita menimbangnya dari sisi pemerataan kesempatan siswa didik. 

Kita masih ingat dengan adagium yang disampaikan mantan Mendikbud Fuad Hasan, bahwa hanya putra daerah yang lebih mengenal daerahnya. Demikian juga dengan lembaga pendidikan, hanya lembaga pendidikan daerahlah yang mengetahui akar kebudayaan mana yang harus dipertahankan demi masa depan pembangunan daerah. 

Jika masih saja terjadi gap antarlembaga pendidikan, untuk apa ada Ujian Nasional (UN). Ujian Nasional (UN) seharusnya merupakan kalibrasi, bahwa jurang kualitas pendidikan tidak sedang terjadi antarputra bangsa. Wallahu a'lam bish shawab.


Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jawa Timur

Ahad 16 Juni 2019 7:0 WIB
Dari Pesantren, NU Mewarisi Obor Kenabian
Dari Pesantren, NU Mewarisi Obor Kenabian
(Foto: @romziahmad)
Oleh Ubaidillah Achmad

Pesantren merupakan tempat yang memiliki bangunan sederhana, berupa mushalla, rumah kiai, dan kamar para santri. Pesantren melaksanakan proses pendampingan dan pembelajaran yang mencerahkan untuk membentuk sikap dan perilaku yang berbudi mulia. Pembentukan sikap dan perilaku seperti ini memerlukan rutinitas dan pembiasaan diri yang dilakukan secara terus-menerus.

Model pembelajaran pesantren menekankan pada pola komunikasi sistem keluarga dan kebersamaan, terjalin dengan ikatan kekelurgaan yang kokoh dalam kendali seorang kiai dan santri senior.

Dalam sistem kekeluargaan, sesama anggota keluarga, para santri dapat saling mempengaruhi dan mendukung untuk mendalami ilmu keislaman, merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan melakukan resolusi konflik sosial politik, seperti merespon konflik masyarakat, bangsa, dan negara.

Oleh karena itu, dalam memahami peran santri, kita perlu memahami latar belakang sistem kekeluargaan, baik dalam perilaku maupun sistem yang terbangun di dalamnya. Meskipun demikian, banyak dari perilaku santri yang didasarkan pada sistem nilai yang terbentuk di luar sistem keluarga. 

Kekhasan Pesantren
Dalam sistem pembelajaran, pesantren menerapkan model yang bersifat normatif, yaitu membentuk kesadaran diri dari hasil pencerahan keilmuan para kiai yang sesuai dengan visi kenabian, yaitu memahami keutamaan akhlak yang baik dan ketaatan kepada Allah.

Keutamaan akhlak dapat dipahami dari bentuk keseimbangan unsur jiwa manusia (roh, qalbu, aqal, nafs, jasad). Dalam sistem pembelajaran di pesantren, nasab bukan tujuan risalah, meski banyak kiai pesantren yang masih memiliki jalur nasab Walisongo dan nasab pejuang babat tanah Jawa masih memiliki kenasaban dengan Nabi Muhammad SAW.

Kesemua lingkaran geneologi ini sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan Islam Nusantara. Dengan tidak mengabaikan sikap hormat kepada keluarga kiai dan kenasaban Nabi Muhahammad SAW, para kiai lebih menekankan pada pembelajaran akhlak mulia, ketaatan dan tafaqquh fiddin (pendalaman agama) sesuai dengan standar prinsip keilmuan Ahlussunah wal Jamaah dan NU. Jadi, para santri dalam tradisi pesantren, telah sadar diri untuk menjaga agar tidak merusak akhlak yang baik yang sudah diajarankan oleh Nabi Muhammad SAW.

Di hari yang fitri, kalangan santri dan kiai telah menumbuhkan rasa kekeluargaan dengan saling memohon maaf. Hal ini merupakan perjumpaan untuk membuka tema dialog santri yang berbeda latar belakang dalam satu sistem pesantren.

Hari yang fitri menjadi media temu kembali setelah satu tahun penuh kesibukan, yang jarang bertemu antara kiai dan santri dalam kesatuan sistem. Suasana momentum pertemuan ini dapat merefleksikan rasa rindu antarsantri dan menguatkan politik santri versus politik identitas.

NU Mewarisi Obor Kenabian
Obor kenabian bagi para kiai, baik dari nasab Walisongo maupun dari mereka yang digembleng dalam tradisi pesantren, adalah obor yang masih menyala kuat pada gerakan Nahdlatul Ulama untuk pengembangan keilmuan abad pertengahan dan menjaga politik kebangsaan NKRI.

Dalam sistem kebudayaan Nusantara, obor ini menyalakan model Islam Nusantara. Semua santri saling memuliakan dan saling memberikan penghargaan, baik mereka yang cerdas dan pintar serta berakhlak yang baik maupun yang berkebutuhan khusus.

Di pesantren, para kiai selalu mengajarkan para santri agar setiap dari mereka tidak mengunggulkan kenasabannya, karena bukan dikatakan pemuda yang mengatakan, “Ini Bapak saya. Namun yang dikatakan pemuda, adalah yang secara tegas mengatakan, ‘Inilah saya.’”

Model kemandirian yang diajarkan di pesantren tidak hanya dalam hal belajar, mengatur keperluan belajar, dan menata kebersihan pakaian, namun juga diajarkan kemandirian dalam hal memberikan pandangan dan pemikiran yang bersumber dari kemampuan pemahaman dan pengalaman intelektual sendiri.

Model ini sangat efektif untuk meneguhkan sikap intelektual para santri di tengah konflik sosial dan menjawab problem masyarakat. Model ini yang memudahkan para santri mendampingi masyarakat untuk memilih prinsip kebenaran dan rencana setrategis melakukan transformasi budaya.

Model yang diterapkan para kiai pesantren dan NU ini tidak terlepas dari model yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para Walisongo. Dari kilas balik model Nabi Muhammad SAW dapat dipahami bahwa ketika beliau membawa risalah, selalu menunjukkan rasa sayang yang tinggi kepada umat Islam dan menjadikan prinsip ajaran wahyu sebagai instrumen pertama dan utama dalam mendidik keluarga dan masyarakatnya.

Model ini telah diikuti oleh para Walisongo, yang nota benenya masih memiliki jalur kenasaban dengan Nabi Muhammad SAW. Walisongo memilih mengedepankan pembangunan pribumisasi Islam dengan konsekuensi menikahkan kenasabannya dengan masyarakat lokal, baik dari kalangan masyarakat umum dan kalangan keluarga kerajaan. Karenanya, sekarang ini dapat dibaca dari geneologi Walisongo sudah banyak dari mereka membaur dengan geneologi masyarakat lokal.

Para kiai dalam tradisi pesantren untuk penguatan NU mengajarkan para santri, mengedepankan ilmu dan adab (Man kāna muftakhiran bil māl wan nasab wa innamā fakharna bil ‘ilmi wal adab). Mereka yang tidak berilmu dan beradab, dapat diibaratkan bagaikan seorang yang tidak memiliki keindahan hidup dan bagaikan seorang yang yatīm, yang ditinggal wafat orang tuanya (Laysal yatim huwa man māta wāliduhū. Innamāl yatīm bi la ‘ilmin wa adab).

Secara psikologis, jika seseorang membanggakan nasabnya, sementara tidak mencerminkan kepribadian leluhurnya, maka akan membuat kesan negatif para leluhurnya. Berikut ini, bahaya membanggakan nasab: melemahkan kecerdasan, pemahaman, dan potensi diri atau melemahkan pengembangan pembentukan sikap kepribadian yang baik. Hal ini ditandai dengan ketergantungan diri kepada para leluhur sehingga tidak ada upaya memperbaiki kekurangan dan kesiapan menghadapi tantangan.


Penulis adalah khadim Pesantren Bait As-Syuffah An-Nahdliyah, Desa Sidorejo-Njumput Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Ia adalah penulis buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG