IMG-LOGO
Opini

Penataan Makam KH Sholeh Darat, Perlukah Dipindah?


Senin 24 Juni 2019 17:25 WIB
Bagikan:
Penataan Makam KH Sholeh Darat, Perlukah Dipindah?
foto: ilustrasi
Oleh: Mohammad Ichwan 

Kiai Sholeh Darat adalah gurunya para ulama Nusantara. Sebagian muridnya kita kenal sebagai pahlawan nasional. Yaitu KH Hasyim Asyari sang pendiri Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, dan Raden Ajeng Kartini sang pahlawan pendidikan dan emansipasi wanita. 

Sang kiai yang diyakini lahir tahun 1820 ini masyhur sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darat, Semarang, yang zaman dulu menjadi rujukan para ulama. Namun setelah KH Sholeh wafat tahun 1903, pesantren Darat meredup pamornya. Menantunya, Kiai Ahmad Dahlan at-Termasy melanjutkan kepemimpinan pesantren. Namun tidak lama kemudian menyusul wafat. Menantu kedua, Kiai Amir Pekalongan sempat melanjutkan, tetapi situasi di Darat sudah sepi.  Santri senior, Kiai Idris, lantas meneruskan mulang ngaji para santri Darat di Jamsaren Solo. 

Setelah zaman penjajahan Jepang, pesantren Darat tidak lagi terdengar.  Maqbaroh (kuburan) Kiai Sholeh Darat di Bergota lama tidak terurus. Karena itulah, di sekitar makam beliau dipenuhi makam umum hingga ratusan jumlahnya. Ratusan kuburan berjejalan tak beraturan di seputar makam KH Sholeh Darat. Semuanya diberi kijing alias dibangun permanen dengan acian 
semen, keramik maupun cor beton. Sesuatu yang sebenarnya diharamkan oleh syariat Islam. (Kijing hanya dibolehkan ketika darurat). Juga telah dilarang oleh Pemerintah Kota Semarang. Peraturan Daerah (Perda) nomor 10 tahun 2009 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemakaman Jenazah. Ada aturan larangan membuat kijing. 

Para peziarah harus melangkah-langkahi kuburan, bahkan menginjak-injak pusara. Sering terjadi peziarah terluka karena kakinya terantuk batu nisan yang rata-rata tajam sudutnya. Semrawut dan tidak tertib. Itulah yang identik dengan kompleks makam Bergota. Faktornya karena ada praktek pungli (pungutan liar) lahan kuburan. Banyak oknum bermain membisniskan lahan kuburan. 

Dalam situs berita Jatengtoday.com edisi Jumat (14/6/2019), lahan kuburan di Bergota sudah dikapling-kapling. Banyak ulah membuat makam fiktif. Yakni suatu lahan diberi nisan bertulisan nama tetapi tanpa mayat di dalamnya. Lahan itu dijual kepada siapapun yang mampu membayar. 

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang Muhammad Ali tidak menampik praktik pungli tersebut. “Memang, informasi di bawah, walaupun itu TPU (Tempat pemakaman Umum) milik Pemkot, misalnya TPU Bergota, itu (lahannya) ada yang punya. Istilanya sawah-sawahan. 

Kalau ada yang mau mengubur di situ harus bayar. Tarifnya sampai Rp3,5 juta. Itu (praktik pungli makam) sudah lama,” kata dia dalam laporan reporter Abdul Mughis di media online tersebut. Tarif mengubur jenazah yang resmi hanya Rp85 ribu, prakteknya menjadi Rp3,5 juta per lubang. Wakil rakyat pun sudah menanggapi. 

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Suharsono menyatakan sangat prihatin dengan praktek pungli di Bergota. Menurutnya, orang sudah terkena musibah malah diperas. “Dalam kondisi masyarakat terkenal musibah, seharusnya mendapat fasilitas dan kemudahan mengurus pemakaman. Bukan malah sebaliknya. Jika terjadi pungli, maka sanksinya dipertegas. Berarti kontrol pemerintah belum optimal,” ujarnya dimuat di koran online tersebut. 

Perbuatan melangkahi kuburan bahkan menginjak pusara, itu sudah menimbulkan persoalan hukum dan moral tersendiri. Para ulama sudah lama prihatin soal ini, dan sudah menyuarakan keprhatinannya itu. Atas persoalan tersebut masyarakat meminta agar makam Kiai Sholeh Darat dipindah. Atau ditata dan ditertibkan. Pemerintah Kota Semarang pun telah memberi perhatian. Pemkot Semarang telah meminta fatwa kepada ulama, yaitu kepada Nahdlatul Ulama Kota Semarang. 

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang atas permintaan Pemkot Semarang akan mengadakan Bahsul Masail untuk membahas soal pemindahan tersebut. Forum musyawarah untuk membahas masalah dalam perspektif hukum Islam ini akan digelar di Gedung PCNU Kota Semarang Jl. Puspogiwang  I/47 Semarang Barat pada Senin (24/6/2019) malam.

Syech Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarony atau biasa disebut Kiai Sholeh Darat adalah ulama besar yang lahir di Mayong Jepara (diperkirakan) tahun 1820  dan wafat di Semarang pada 1903. Namanya masyhur sebagai pengasuh pesantren di Kampung Darat, Semarang Utara. 

Setiap hari puluhan bahkan ratusan orang berziarah di makamnya. Dua puluh empat tiada henti. Namun banyak keluhan peziarah terkait lokasi makam dan fasilitasnya. Masalah ketidaknyamanan, selain tidak adanya akses, berikutnya adalah tidak adanya fasilitas ziarah. Yaitu tiada toilet yang layak, tiada mushala yang nyaman, dan tiada  tempat parkir kendaraan. 

Saat ini, hanya ada dua bilik toilet darurat yang dibuat oleh para penjaga makam. Yaitu warga sekitar yang biasa menjaga kotak amal di makam KH Sholeh Darat. Toilet itu ada di depan cungkup makam KH Sholeh Darat, berjarak sekira 10 langkah kaki. Berwujud bangunan sempit berdinding seng yang sudah karatan, ditutup spanduk plastik bekas reklame Pemilu. Tarifnya Rp2 ribu sekali masuk. Airnya hanya cukup dipakai untuk sekitar lima atau tujuh orang. 

Bahkan peziarah yang berhati-hati soal syariat, tidak akan berani menggunakan toilet tersebut karena takut merasa berdosa mengencingi atau memberaki kuburan. Adapun tempat wudhu, ada di sebelah toilet tersebut. Berupa dua ember bekas wadah cat yang diletakkan di atas susunan bata. Bagian bawah ember dilubangi untuk memancurkan air. Sangat sedikit peziarah yang bisa berwudhu. Karena kapasitas ember hanya cukup untuk wudhu lima sampai delapan orang. Dua ember berarti maksimal bisa dipakai oleh 16 orang.  Tarif sekali berwudhu Rp2 ribu. Sebagai ganti ongkos memanggul air naik turun bukit Bergota. 

Bagaimana pengakuan peziarah? Ini diantaranya. “Saya sebenarnya selalu ingin berlama-lama berdoa di makam Mbah Sholeh Darat. Ingin berdzikir dan mengkhatamkan baca Al-Qur'an setiap ziarah di sini. Namun karena tak ada mushala dan toilet yang layak, saya hanya bisa sebentar,” tutur Safiq, santri asal Kaliwungu Kendal, yang berjumpa dengan penulis ketika menghadiri Haul Ke-119 KH Sholeh Darat tanggal 10 Syawal 1440 (14/6/2019). 

Muhammadun pziarah asal Yogyakarta menceritakan, sejak dirinya mondok di pesantren hobi ziarah kubur, dirinya senang sekali ziarah di makam-makam wali. Namun dirinya merasa susah kalau di makam Mbah Sholeh Darat. Repot kalau butuh buang hajat. Dirinya terpaksa naik motor mencari toilet di luar makam, karena  tidak berani menggunakan toilet itu. 

"Selain tidak layak, saya takut berdosa karena mengencingi atau memberaki kuburan. Sebab toilet itu ada di tengah-tengah komplek makam. Bahkan bisa jadi itu didirikan di atas kuburan orang membayangkan,” ucap Muhammadun, peziarah asal Yogyakarta yang bertemu penulis di lokasi pinggir Jalan Kyai Saleh di sebelah timur Bergota, Kamis (13/6/2019). 

Toilet lain, terletak di pinggir jalan masuk kompleks makam KH Sholeh Darat. Toilet tersebut dibuat dan dijaga oleh Pak Suyoto, seorang penjaga makam yang memasang dua kotak amal di jalan masuk makam KH Sholeh Darat. Toilet ini kurang penerangan dan sama-sama sangat terbatas airnya. 
 
Penulis adalah Sekretaris Komunitas Pecinta Kiai Sholeh Darat (KOPISODA) Semarang. 
Tags:
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG