IMG-LOGO
Opini

NU Lasem dan Era Global

Rabu 26 Juni 2019 8:30 WIB
Bagikan:
NU Lasem dan Era Global
Salah satu pendiri NU Lasem, Mbah Ma'shum
Oleh: Misbahul Munir

Nahdlatul Ulama merupakan satu-satunya organisasi yang segala teknisnya dilakukan atas hasil dari istikharah para kiai terdahulu. Mulai dari tanggal penetapan berdirinya NU, lokasi penetapan berdirinya NU hingga bendera, warna, dan logo NU. 

Orientasi berdirinya NU untuk kepentingan kemaslahatan umat dunia tidak hanya pada lingkup domestik saja, dalam hal ini adalah Nusantara. Hal itu bisa dilihat dari berbagai sumber sejarah bagaimana peran serta Komite Hijaz dalam menjaga beberapa situs sejarah islam dari pembongkaran yang dilakukan pemerintah Arab Saudi yang pada saat itu menganut faham wahabi.

Keberhasilan NU pada saat itu, tidak lantas membuat organisasi tersebut merasa targetnya telah tercapai. Karena eksistensi NU sendiri harus terus mengiringi berbagai proses perkembangan sosial saat itu hingga sekarang, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. 

Seperti keterlibatan NU dalam rangka pencapaian kemerdekaan Indonesia menjadi salah satu bukti sejarah bagaimana KH Hasyim Asy'ari menjadi motor penggerak masyarakat, santri melakukan berbagai perlawanan bagi penjajah dan kelompok yang mempunyai kepentingan merubah ideologi bangsa saat itu. 

Kemudian pada perkembangan teknologi modern saat ini yang serba instan, justru peran dan posisi NU sangatlah diperlukan untuk mendampingi masyarakat dalam mengakses berbagai segi aspek kehidupan. Salah satunya adalah sebagaimana yang dilakukan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lasem Jawa Tengah. 

Sebelum menyimak lebih jauh bagaimana strategi dakwah NU Lasem dalam menyikapi tantangan era modern, penulis akan memberikan sedikit ulasan mengenai PCNU Lasem dan kondisi sosial masyarakat di Lasem. 

PCNU Lasem merupakan salah satu cabang Nahdlatul Ulama tertua di Indonesia, karena cabang NU Lasem berdiri tepat pada tahun 1926 di mana pada tahun tersebut juga menjadi deklarasi berdirinya Jamiyah Nahdlatul Ulama. 

Berdirinya cabang NU Lasem tidak terlepas keterlibatan dari ketiga tokoh pendiri NU yang berasal dari tanah Lasem yaitu KH Ma'shoem Ahmad, KH Baidlowi Abdul Azis, dan KH Kholil. Kehadiran NU Lasem saat itu mendapatkan respon positif dari sejumlah kalangan santri maupun masyarakat pedesaan. 

Melihat kondisi bangsa pada saat itu di mana kelompok PKI agresif dalam menyebarkan faham komunis yang kemudian menyulut perlawanan terhadap ideologi bangsa, membuat ketiga tokoh pendiri NU menanamkan kultur/tradisi, amaliah NU, dan ideologi kebangsaan ke sejumlah lapisan masyarakat. 

Berbagai macam perlawanan dilakukan oleh sejumlah tokoh NU Lasem dan para santri terhadap PKI baik berupa penanaman paham ideologi kebangsaan, amaliah NU sampai dengan bergerilya di medan lapangan. Semangat kedisiplinan dan nilai moral yang telah dicontohkan ketiga tokoh pendiri NU tersebut, akan terus menjadikan nafas dakwah dan berjuang bagi keberlangsungan NU Lasem ke depan. 

Seiring berkembangnya waktu dan proses sosial, kini PCNU Lasem semakin inovatif dalam menyampaikan pesan kedamaian serta kemaslahatan umat. Melihat perkembangan teknologi yang begitu modern ditambah lagi sosial masyarakat Lasem yang cenderung heterogen. 

Dengan wilayah teritorial PCNU Lasem adalah Kecamatan Lasem, Kecamatan Pancur, Kecamatan Sluke, Kecamatan Kragan, dan Kecamatan Sarang, maka struktur masyarakat yang heterogen tersebut akan menjadikan program dan langkah NU Lasem lebih berwarna. Dengan nilai tasamuh (toleransi), tawassuth (sikap tengah), tawazun (seimbang), dan itidal (tegak lurus) yang diwariskan oleh para Kiai Lasem saat itu dijadikan ruh NU dan masyarakat Lasem umumnya dalam berinteraksi sosial. 

Kedekatan NU Lasem dengan Muhammadiyah Lasem ataupun Rembang, dan berbagai macam varian organisasi kemasyarakatan atau keagamaan di Lasem, menjadikan bukti bahwa NU Lasem mampu berdampingan secara rukun. NU Lasem juga tidak apatis terhadap perkembangan isu multinasional, sering kali dari pihak pengurus memberikan pernyataan sikap terhadap berbagai isu yang berkembang. Musyawarah mufakat antar pengurus menjadi media utama PCNU Lasem dalam menentukan berbagai sikap, mulai dari permasalahan politik, sosial, dan permasalahan lainnya. 

Sikap tegas tapi santun yang saat ini menjadi langkah NU Lasem saat menanggapi sebuah isu kekinian baik lingkup Lasem itu sendiri maupun skala nasional. Sikap tersebut merupakan sebuah sikap dari KH Solahuddin Fatawi selaku Ketua PCNU Lasem yang terinspirasi dari ajaran para Kiai Lasem salah satunya KH Ma'shoem Ahmad (Mbah Ma'shoem). 

Sikap tersebut mempunyai arti tersendiri, kebanyakan semua orang akan mengartikan bahwa sikap tegas identik dengan nada tinggi, keras, dan sebagainya. Begitupun santun orang akan mengartikan sesuatu yang bersifat lemah lembut, pasrah terhadap situasi. Namun bagi KH Solahuddin Fatawi, sikap ini mempunyai arti di mana para ulama Lasem pada saat itu khususnya Mbah Ma'shoem mengolaborasikan keduanya dengan seimbang, cara menyampaikan pesan ketegasan beliau menggunakan tutur kata ataupun perbuatan yang santun dan tidak melukai. 

Itulah mengapa nilai yang diajarkan oleh Mbah Ma'shoem akan terus menjadi pondasi dasar keputusan ataupun sikap bagi PCNU Lasem hingga saat ini. Pada era saat ini yaitu post-truth di mana kebenaran mengenyampingkan fakta objektif, membuat sikap tegas tapi santun sangat relevan jika diterapkan. 

Kondisi di mana semua lapisan masyarakat dari berbagai usia sudah bisa mengakses informasi melalui media online yang kemudian tidak menutup kemungkinan terjadinya ketimpangan. Hal itu juga menjadikan konsentrasi PCNU Lasem untuk berdakwah dan menyampaikan pesan melalui media sosial, segala kegiatan di wilayah PCNU Lasem yang mempunyai makna tersirat akan terus masif untuk disampaikan melalui media online/sosial dengan tidak mengenyampingkan nilai tegas tapi santun tersebut. 

Konstribusi NU Lasem di bidang penentuan kebijakan dalam hal ini adalah kepemerintahan baik di lingkup kecamatan hingga tingkat nasional juga menjadi salah satu faktor peranan NU Lasem dalam mengawal kemaslahatan umat secara keseluruhan. Banyak kader-kader dari NU Lasem yang berkonstribusi aktif pada kursi pemerintahan, hal itu akan mempermudah NU Lasem dalam menyiarkan pesan nilai kemanusiaan, toleransi, dan bentuk sikap kepada publik.


Penulis adalah pegiat Ansor di Lasem, Rembang, Jawa Tengah
Tags:
Bagikan:
Selasa 25 Juni 2019 15:30 WIB
Menggagas Pemindahan Makam Mbah Sholeh Darat, Perlukah?
Menggagas Pemindahan Makam Mbah Sholeh Darat, Perlukah?
Makam Mbah Sholeh Darat di pemakaman umum Bergota Semarang
Oleh: Mohammad Ichwan

Di tulisan pertama, penulis telah mengemukakan masalah ketidaknyamanan ziarah di makam KH Sholeh Darat. Makam  ulama besar abad 19 yang diyakini sebagai waliyullah ini diliputi persoalan tiadanya akses masuk yang layak, tiadanya fasilitas yang memadai, dan kesemrawutan lokasi makam.

Problem berikutnya di kompleks makam KH Sholeh Darat adalah  parkir kendaraan. Selama ini penjagaan kendaraan dilakukan oleh para pemuda atau warga sekitar. Karena tidak dinaungi lembaga resmi dan tanpa dibekali karcis parkir resmi, maka masyarakat melihatnya sebagai parkir liar. 

Banyak cerita tentang peziarah yang dipalak oleh tukang parkir liar ini. Cuitan di media sosial maupun keluhan lisan sudah sering disampaikan para peziarah yang merasa diperas ketika berziarah.  Berita mengenai aksi juru parkir liar ini sudah banyak dimuat di media massa. 

Menurut pengakuan para peziarah, mereka ditarik uang Rp2 ribu sampai Rp5 ribu bila memakai sepeda motor. Dan ditarik Rp5 ribu hingga Rp10 ribu bila membawa mobil standar. Permintaan yang Rp20 ribu hingga Rp30 ribu terjadi bila pengunjung membawa mobil agak besar atau membawa minibus semisal jenis Elf. 

“Sedangkan bila rombongan mengendarai bus, dimintai paling sedikit Rp50 ribu. Pernah saya membawa rombongan 7 bus, diperas Rp350 ribu. Sungguh gila pungli di Bergota,” tutur Atok dari Malang, Jawa Timur. Pernyataan yang sama dari Hisyam dari Jepara dan Mustafid dari Yogya yang pernah membawa rombongan naik bus. 

Sesungguhnya, lokasi parkir itu hanyalah badan jalan di Jalan Kiai Saleh, maupun badan jalan di tengah kompleks Bergota. Jelas memakan hak pengguna jalan lain dan menggangu lalu lintas. Sehingga sering menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan. Ditambah lagi, kurang ada penerangan, sehingga para pengunjung dilanda resah akan keamanan kendaraannya. Terutama di malam hari, pengunjung dilanda kekhawatiran atas kendaraannya. Para juru parkir tidak resmi pastilah tidak bertanggungjawab atas kerusakan atau kehilangan kendaraan.

“Saya terus terang takut bila malam hari berziarah. Meskipun ada juru parkir dan saya membayarnya, tetapi saya tetap khawatir. Sebab tidak ada jaminan atas kemanan kendaraan saya,” ucap Samidi, warga Ngaliyan Semarang.  

Selain juru parkir liar, ada pula penjaga parkir yang memakai seragam. Umumnya berseragaam hijau muda polos Linmas (dulu bernama Hansip). Para anggota Linmas ini tidak pernah meminta uang ke pengunjung. Mereka hanya membantu menjaga ketertiban tempat parkir dan menjaga ketertiban lalu lintas peziarah di jalan masuk makam Bergota, umumnya telah berusia lanjut. Di tempat para Linmas berjaga, tersedia kotak amal resmi bertuliskan 'Kas Linmas' atau 'Kas Karang Taruna'. Namun mereka jarang muncul selain di bulan Syawal. Seolah hanya muncul ketika even haul KH Sholeh Darat. Padahal di even Haul, bantuan mereka tidak terlalu diperlukan. Sebab sudah banyak petugas resmi dari Dinas Perhubungan dan Kepolisian. Sedangkan panitia haul sendiri telah dibantu anggota Banser Kota Semarang. 

Akibatnya, bantuan Linmas tidak dirasakan oleh peziarah di hari-hari biasa. Yang  dominan 'berkuasa' di Bergota tetaplah para pemuda yang dianggap masyarakat sebagai preman. Pernah pula dipergoki, oknum pemuda memakai kaos organisasi kepemudaan ikut dalam aksi pemalakan parkir. 

Problem lainnya adalah banyaknya pengemis dan soal pengelolaan Kotak Amal. Pengunjung makam sering merasa mendapat 'tekanan' ketika berziarah di makam KH Sholeh Darat. Para pengemis berjajar mencegat peziarah untuk meminta sedekah. Sebagian di antaranya terkadang kurang sopan. Yaitu memepetkan diri dan menyodorkan kaleng amal sampai menempel tubuh pengunjung. Kadang membuntuti peziarah hingga ke tempat parkir kendaraan. 

Bila menghadapi situasi macam itu, peziarah umumnya tak bisa mengelak. Mereka terpaksa merogoh kantong atau membuka dompet dan memberikan uang ke pengemis agar tidak lagi diganggu. Kadang memberi sambil menggerutu karena jengkel. 

“Saya dan kawan-kawan kuliah saya senang ziarah di makam Mbah Sholeh Darat. Namun kami sering jengkel dengan ulah para pengemis. Mereka mencegat setiap usai ziarah, bahkan memepet dan membuntuti hingga saya duduk di atas jok sepeda motor. Saya, terpaksa memberi uang karena risih diganggu terus,” keluh Aziz, mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Jumat (14/6/2019). 

Para pengemis masih 'terbatas terornya' karena hanya berdiri di jalan masuk makam KH Sholeh Darat dan mencegat pengunjung yang hendak pulang. Sebab ada 'teror lanjutan' di komplek makam. Sejak melangkah masuk meniti undak setapak menuju makam KH Sholeh Darat, peziarah 'dicegat' jejeran kotak amal. Memang bersifat sukarela dan ada imbauan tertulis untuk berinfak. Para penjaga kotak amal yang merupakan warga sekitar Bergota umumnya bersikap sopan, mereka ramah menyapa pengunjung. 

Namun ada sebagian oknum yang diduga kurang simpatik, yakni 'meneror' peziarah. Ulahnya, membujuk pengunjuk agar mengisi kotak amal dengan suara keras. Atau  memposisikan diri 'menghalangi' peziarah.  Ia baru bergeser memberi jalan setelah peziarah mengisi kotak amal. 

Yang lebih vulgar, ada yang menyodorkan kotak amal di hadapan peziarah yang sedang khusyuk berdoa di depan pusara. Ia tidak akan  beranjak pergi sebelum kotak itu diisi. Ada kesan, seolah setiap ziarah di makam KH Sholeh Darat, pengunjung harus “membayar”.  

Penulis sering melihat sendiri aksi 'teror' kurang terpuji itu.  Sudah pasti membuat peziarah merasa terganggu. Dan ini yang penting, tak ada serupiahpun uang di kotak amal itu masuk ke kas Pemerintah atau ke Takmir Masjid  Kiai Sholeh Darat. Apalagi kepada dzurriyah. Seratus persen hanya yang menjaga kotak itu yang mengetahui penggunaannya. Pihak dzuriyah KH Sholeh Darat sebenarnya mengapresiasi para penjaga makam yang menunggui kotak amal. Ahli waris Mbah Sholeh tidak pernah meminta atau menerima sepeserpun dari uang di kotak amal tersebut. 

“Saya dan seluruh keluarga dzurriyah Mbah Sholeh sangat menghargai dan berterima kasih atas kepedulian warga Bergota menjaga dan merawat makam kakek buyut kami. Kami tidak pernah meminta atau menerima uang dari kotak amal di makam itu,” tutur Agus Taufiq bin Zahroh binti Kholil bin Sholeh Darat. 

Namun ketidakjelasan penggunaan uang dan tiadanya pertanggungjawaban infaq peziarah itu, membuat masyarakat berkomentar negatif. Diduga hanya dijadikan lahan mencari uang untuk kepentingan pribadi. Mereka dianggap sama dengan pengemis. Bedanya, pengemis menengadahkan tangan atau memakai kaleng rombeng, sedangkan mereka memakai kotak kayu yang dicat kinclong dan digembok.

Masih persoalan uang peziarah di kompleks makam KH Sholeh Darat, penulis pernah memperhatikan keberadaan kotak amal di maqbaroh sang waliyullah ini. Sedikitnya ada enam kotak besar; dua di jalan masuk, dua di teras, dan dua kotak di pintu masuk makam makam KH Sholeh Darat. Ditambah beberapa kotak kecil yang biasa dikelilingkan ke para peziarah yang berdoa di luar pagar maqbaroh KH Sholeh Darat. 

Dalam sehari semalam, di hari biasa, makam Mbah Sholeh dikunjungi sekitar 40-70 orang. Di malam Jumat, bisa mencapai 100 orang atau lebih. Di bulan puasa, pengunjung meningkat pesat. Umumnya peziarah mengisi kotak amal dengan uang Rp5 ribu atau Rp10 ribu. Sebagian mengisi Rp2 ribu atau tidak berinfak. Namun tak jarang yang memasukan lembaran Rp20 ribu atau Rp50 ribu. Terkadang ada yang berinfaq Rp100 ribu atau lebih. Bisa diperkirakan dalam sehari ada puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah masuk di kotak amal. Dan meningkat banyak di malam Jumat dan di bulan Ramadhan, mungkin bisa mencapai jutaan rupiah. 

Puncaknya ketika masuk bulan Syawal. Ratusan orang datang setiap hari hingga menjelang haul. Puncaknya adalah tanggal 10 Syawal yang merupakan Haul Kiai Sholeh Darat.  Ribuan orang datang sejak malam menjelang haul hingga malam setelah haul. Uang yang masuk di masa Haul bisa mencapai belasan juta atau puluhan juta rupiah. Banyaknya uang di kotak amal itu telah lama menjadi sumber konflik antar penjaga makam. Dari pengakuan masing-masing pihak, konfliknya terjadi sejak orang tua mereka, alias sudah berlangsung dua generasi. 

Beberapa kali terjadi perebutan dan pertengkaran di lokasi makam KH Sholeh Darat. Dzuriyah KH Sholeh Darat, Agus Taufiq mengaku berkali-kali diminta menjadi penengah untuk mendamaikan antar kelompok penjaga kotak amal. Cicit  KH Sholeh Darat ini sering berziarah sehingga ia mengetahui kondisi makam, termasuk segala permasalahannya. 

“Konfliknya sudah lama dan keras. Pernah terjadi adu fisik dan sampai menjadi  urusan polisi. Saya beberapa kali diminta mendamaikan. Para pelaku sampai kini neng-nengen (saling mendiamkan). Namun saya berharap tidak lagi ada pertengkaran,” ujarnya kepada penulis dalam beberapa kali pertemuan. 

Agus Tiyanto, keluarga dzuriyah KH Sholeh Darat yang lain mengatakan, ia telah lama mendengar keluhan para peziarah tentang perbuatan para penjaga kotak amal maupun konflik mereka. Dikatakan, sering terjadi peziarah diganggu ketenangannya oleh pertengkaran para penjaga kotak amal. Yaitu tukar padu (adu mulut) yang keras rebutan uang atau pembagian uang amal. 

“Saya sering mendengar keluhan peziarah merasa terganggu oleh suara keras pertengkaran atau perebutan uang kotak amal. Saya sendiri pernah melihat situasi pertengkaran itu,” tuturnya dengan nada sedih. Sebenarnya (sebagian) uang kotak amal telah digunakan untuk merawat 

dan menata makam KH Sholeh Darat. Di antaranya yang bisa dilihat nyata adalah plesteran jalan setapak, pembangunan toilet dan sarana wudhu, walau sangat sederhana. Serta pembayaran setrum listrik, pengecatan ulang, penggantian genteng pecah, dan hal-hal material lainnya. Mengenai permadani/karpet, menurut penuturan para penjaga makam dan dzuriyah, karpet di makam mbah Sholeh adalah sumbangan syukuran dari peziarah yang mengaku qobul hajatnya setelah berdoa di situ. 

Adapun lampu-lampu, bisa dibeli dari uang kotak amal atau dari infak khusus. Penulis pernah melihat sendiri, ada peziarah yang memberi sejumlah uang ke penjaga makam dengan kalimat 'ini titip uang untuk mengganti lampu atau merawat makam'. Jadi ada uang tersendiri dari peziarah dermawan.

Pemerintah Kota Semarang mengupayakan mencari solusi atas berbagai persoalan di makam KH Sholeh Darat. Ide solusi yang pernah diperbincangkan Pemkot bersama stakeholder yakni pertama, membuat taman parkir dekat Bergota. Diikuti pengelolaan parkir resmi. Lengkap dengan fasilitas toilet dan mushola yang nyaman. Kedua, membuat jembatan layang untuk pejalan kaki di makam ke makam Kiai Sholeh Darat, agar tidak ada peziarah melangkahi, menginjak atau menabrak kuburan. 

Kemudian yang ketiga, membuat akses jalan ke makam Kiai Sholeh Darat dengan memindahkan beberapa kuburan di sekitar makam KH Sholeh Darat. dan yang keempat, memindahkan makam KH Sholeh Darat ke lokasi yang representatif. Ini pilihan terakhir bila ide nomor 1, 2, 3 tidak bisa diwujudkan. Lokasi yang diusulkan sebagai tempat baru adalah halaman belakang 
Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), di Gayamsari, Semarang. Di MAJT semua fasilitas yang diperlukan telah tersedia dan nyaman. Apabila terjadi bisa dipindah di MAJT, maka akan menggabungkan dua wisata religi, yaitu ziarah wali dan kunjungan ke masjid agung milik rakyat Jawa Tengah tersebut. 

Penulis adalah Sekretaris Komunitas Pecinta Kiai Sholeh Darat (KOPISODA) Semarang.  
Senin 24 Juni 2019 17:25 WIB
Penataan Makam KH Sholeh Darat, Perlukah Dipindah?
Penataan Makam KH Sholeh Darat, Perlukah Dipindah?
foto: ilustrasi
Oleh: Mohammad Ichwan 

Kiai Sholeh Darat adalah gurunya para ulama Nusantara. Sebagian muridnya kita kenal sebagai pahlawan nasional. Yaitu KH Hasyim Asyari sang pendiri Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, dan Raden Ajeng Kartini sang pahlawan pendidikan dan emansipasi wanita. 

Sang kiai yang diyakini lahir tahun 1820 ini masyhur sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darat, Semarang, yang zaman dulu menjadi rujukan para ulama. Namun setelah KH Sholeh wafat tahun 1903, pesantren Darat meredup pamornya. Menantunya, Kiai Ahmad Dahlan at-Termasy melanjutkan kepemimpinan pesantren. Namun tidak lama kemudian menyusul wafat. Menantu kedua, Kiai Amir Pekalongan sempat melanjutkan, tetapi situasi di Darat sudah sepi.  Santri senior, Kiai Idris, lantas meneruskan mulang ngaji para santri Darat di Jamsaren Solo. 

Setelah zaman penjajahan Jepang, pesantren Darat tidak lagi terdengar.  Maqbaroh (kuburan) Kiai Sholeh Darat di Bergota lama tidak terurus. Karena itulah, di sekitar makam beliau dipenuhi makam umum hingga ratusan jumlahnya. Ratusan kuburan berjejalan tak beraturan di seputar makam KH Sholeh Darat. Semuanya diberi kijing alias dibangun permanen dengan acian 
semen, keramik maupun cor beton. Sesuatu yang sebenarnya diharamkan oleh syariat Islam. (Kijing hanya dibolehkan ketika darurat). Juga telah dilarang oleh Pemerintah Kota Semarang. Peraturan Daerah (Perda) nomor 10 tahun 2009 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemakaman Jenazah. Ada aturan larangan membuat kijing. 

Para peziarah harus melangkah-langkahi kuburan, bahkan menginjak-injak pusara. Sering terjadi peziarah terluka karena kakinya terantuk batu nisan yang rata-rata tajam sudutnya. Semrawut dan tidak tertib. Itulah yang identik dengan kompleks makam Bergota. Faktornya karena ada praktek pungli (pungutan liar) lahan kuburan. Banyak oknum bermain membisniskan lahan kuburan. 

Dalam situs berita Jatengtoday.com edisi Jumat (14/6/2019), lahan kuburan di Bergota sudah dikapling-kapling. Banyak ulah membuat makam fiktif. Yakni suatu lahan diberi nisan bertulisan nama tetapi tanpa mayat di dalamnya. Lahan itu dijual kepada siapapun yang mampu membayar. 

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang Muhammad Ali tidak menampik praktik pungli tersebut. “Memang, informasi di bawah, walaupun itu TPU (Tempat pemakaman Umum) milik Pemkot, misalnya TPU Bergota, itu (lahannya) ada yang punya. Istilanya sawah-sawahan. 

Kalau ada yang mau mengubur di situ harus bayar. Tarifnya sampai Rp3,5 juta. Itu (praktik pungli makam) sudah lama,” kata dia dalam laporan reporter Abdul Mughis di media online tersebut. Tarif mengubur jenazah yang resmi hanya Rp85 ribu, prakteknya menjadi Rp3,5 juta per lubang. Wakil rakyat pun sudah menanggapi. 

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Suharsono menyatakan sangat prihatin dengan praktek pungli di Bergota. Menurutnya, orang sudah terkena musibah malah diperas. “Dalam kondisi masyarakat terkenal musibah, seharusnya mendapat fasilitas dan kemudahan mengurus pemakaman. Bukan malah sebaliknya. Jika terjadi pungli, maka sanksinya dipertegas. Berarti kontrol pemerintah belum optimal,” ujarnya dimuat di koran online tersebut. 

Perbuatan melangkahi kuburan bahkan menginjak pusara, itu sudah menimbulkan persoalan hukum dan moral tersendiri. Para ulama sudah lama prihatin soal ini, dan sudah menyuarakan keprhatinannya itu. Atas persoalan tersebut masyarakat meminta agar makam Kiai Sholeh Darat dipindah. Atau ditata dan ditertibkan. Pemerintah Kota Semarang pun telah memberi perhatian. Pemkot Semarang telah meminta fatwa kepada ulama, yaitu kepada Nahdlatul Ulama Kota Semarang. 

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang atas permintaan Pemkot Semarang akan mengadakan Bahsul Masail untuk membahas soal pemindahan tersebut. Forum musyawarah untuk membahas masalah dalam perspektif hukum Islam ini akan digelar di Gedung PCNU Kota Semarang Jl. Puspogiwang  I/47 Semarang Barat pada Senin (24/6/2019) malam.

Syech Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarony atau biasa disebut Kiai Sholeh Darat adalah ulama besar yang lahir di Mayong Jepara (diperkirakan) tahun 1820  dan wafat di Semarang pada 1903. Namanya masyhur sebagai pengasuh pesantren di Kampung Darat, Semarang Utara. 

Setiap hari puluhan bahkan ratusan orang berziarah di makamnya. Dua puluh empat tiada henti. Namun banyak keluhan peziarah terkait lokasi makam dan fasilitasnya. Masalah ketidaknyamanan, selain tidak adanya akses, berikutnya adalah tidak adanya fasilitas ziarah. Yaitu tiada toilet yang layak, tiada mushala yang nyaman, dan tiada  tempat parkir kendaraan. 

Saat ini, hanya ada dua bilik toilet darurat yang dibuat oleh para penjaga makam. Yaitu warga sekitar yang biasa menjaga kotak amal di makam KH Sholeh Darat. Toilet itu ada di depan cungkup makam KH Sholeh Darat, berjarak sekira 10 langkah kaki. Berwujud bangunan sempit berdinding seng yang sudah karatan, ditutup spanduk plastik bekas reklame Pemilu. Tarifnya Rp2 ribu sekali masuk. Airnya hanya cukup dipakai untuk sekitar lima atau tujuh orang. 

Bahkan peziarah yang berhati-hati soal syariat, tidak akan berani menggunakan toilet tersebut karena takut merasa berdosa mengencingi atau memberaki kuburan. Adapun tempat wudhu, ada di sebelah toilet tersebut. Berupa dua ember bekas wadah cat yang diletakkan di atas susunan bata. Bagian bawah ember dilubangi untuk memancurkan air. Sangat sedikit peziarah yang bisa berwudhu. Karena kapasitas ember hanya cukup untuk wudhu lima sampai delapan orang. Dua ember berarti maksimal bisa dipakai oleh 16 orang.  Tarif sekali berwudhu Rp2 ribu. Sebagai ganti ongkos memanggul air naik turun bukit Bergota. 

Bagaimana pengakuan peziarah? Ini diantaranya. “Saya sebenarnya selalu ingin berlama-lama berdoa di makam Mbah Sholeh Darat. Ingin berdzikir dan mengkhatamkan baca Al-Qur'an setiap ziarah di sini. Namun karena tak ada mushala dan toilet yang layak, saya hanya bisa sebentar,” tutur Safiq, santri asal Kaliwungu Kendal, yang berjumpa dengan penulis ketika menghadiri Haul Ke-119 KH Sholeh Darat tanggal 10 Syawal 1440 (14/6/2019). 

Muhammadun pziarah asal Yogyakarta menceritakan, sejak dirinya mondok di pesantren hobi ziarah kubur, dirinya senang sekali ziarah di makam-makam wali. Namun dirinya merasa susah kalau di makam Mbah Sholeh Darat. Repot kalau butuh buang hajat. Dirinya terpaksa naik motor mencari toilet di luar makam, karena  tidak berani menggunakan toilet itu. 

"Selain tidak layak, saya takut berdosa karena mengencingi atau memberaki kuburan. Sebab toilet itu ada di tengah-tengah komplek makam. Bahkan bisa jadi itu didirikan di atas kuburan orang membayangkan,” ucap Muhammadun, peziarah asal Yogyakarta yang bertemu penulis di lokasi pinggir Jalan Kyai Saleh di sebelah timur Bergota, Kamis (13/6/2019). 

Toilet lain, terletak di pinggir jalan masuk kompleks makam KH Sholeh Darat. Toilet tersebut dibuat dan dijaga oleh Pak Suyoto, seorang penjaga makam yang memasang dua kotak amal di jalan masuk makam KH Sholeh Darat. Toilet ini kurang penerangan dan sama-sama sangat terbatas airnya. 
 
Penulis adalah Sekretaris Komunitas Pecinta Kiai Sholeh Darat (KOPISODA) Semarang. 
Senin 24 Juni 2019 14:25 WIB
Menutup Kebencian Laten di Media Sosial
Menutup Kebencian Laten di Media Sosial
Oleh Fathoni Ahmad

Kebencian tidak mengenal waktu dan tempat. Ia terus akan menjadi virus yang menggerogoti kehidupan manusia dari berbagai sisi. Dalam momen tertentu, seperti hajatan nasional yang melibatkan seluruh rakyat, eskalasi kebencian meningkat ketika perdebatan terjadi di media sosial. Perdebatan tidak menumbuhkan produktivitas dan wawasan baru, tetapi justru memunculkan polarisasi identitas.

Para pelajar dan pemuda merupakan elemen masyarakat yang paling banyak menggunakan media sosial, baik Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Konten-konten atau isi yang beredar di media sosial baik berupa berita, foto, dan status tidak ada yang mampu menyaring selain diri pribadi masing-masing. Pemahaman terkait media sosial penting ditujukan kepada generasi muda karena mereka merupakan pewaris sekaligus yang bakal mewarisi peradaban.

Langkah penyaringan perlu dilakukan karena isi postingan di media sosial tidak semuanya positif, bahkan mempunyai kecenderungan negatif dengan melimpahnya berita dan foto-foto palsu atau hoaks. Bahkan, caci maki dan fitnah dari satu orang ke orang lain merupakan pemandangan sehari-hari yang kita temui di media sosial. Padahal, secara tegas Islam sendiri melarang kepada umatnya untuk melakukan caci maki dan fitnah.

Sikap santun dalam berdialog, lemah-lembut dalam berbicara, halus dalam penyampaian pesan, merupakan jalan tengah yang membuat orang lain simpati apalagi sebagai generasi muda. Karena hati yang bercerai berai dan pendapat yang berbeda dapat terangkul dengan harmonis walaupun beda keyakinan, dan lain-lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berpesan kepada Nabi Musa dan Harun ’alaihimassalam: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia menjadi sadar atau takut.” (QS. Thaha [20]: 44)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika mengomentari ayat ini berkata: “Ada pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari ayat di atas, yaitu bahwa Fir’aun yang terkenal keangkuhan dan arogansinya, sementara Musa –alaihissalam– sebaik-baik manusia pilihan Allah saat itu, namun demikian Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan perkataan yang santun dan lemah lembut”.

Kata-kata cacian hanya mengundang malapetaka, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Cacian tidak akan menghadirkan kembali orang yang kabur dan tidak akan membuat simpati orang yang berkepala batu, justru hanya menanamkan rasa dendam di hati dan membuat orang yang berseberangan semakin nekad dan keras kepala. Bahkan, sudah banyak orang yang berurusan dengan polisi akibat memfitnah dan mencaci maki orang lain di media sosial.

Bila kita menghujani orang yang tidak sependapat dengan kita itu dengan makian, kecaman dan kutukan, maka apa yang kita lakukan itu akan semakin memperkeruh persoalan dan memperparah penyakit. Oleh karena itu, bila kita menyampaikan nasihat, sampaikanlah dengan cara yang tidak membuat orang lain kabur, dan bila kita berdebat, berdebatlah dengan cara yang santun tanpa merendahkan lawan bicara.

Iman dan takwa bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tidak ada orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya taqwa kecuali dia adalah orang yang beriman. Dan tidak ada orang yang benar-benar beriman, kecuali dia bertaqwa; yakni menjaga diri dari dosa dan selalu berusah menjalankan perintah-perintah-Nya, disertai dengan akhlak yang baik.

Orang-orang yang bertakwa percaya kepada yang ghaib. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, percaya bahwa surga dan neraka itu benar-benar ada, mereka juga percaya bahwa Allah menciptakan malaikat dan menurunkan kitab suci kepada beberapa nabi. Mereka percaya dengan hari akhir dan hisab. Dengan kepercayaan dan iman itu lalu mereka menjalani hidup di dunia sesuai dengan tuntunan dan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dari Allah SWT.

Hamba Allah yang benar-benar beriman dan bertakwa itu mempunyai hati yang lembut, jiwa yang tenang dan perangai yang baik, ramah, dan penuh kasih sayang. Hal itu tercermin dalam tindakan dan ucapannya sehari-hari. Orang yang benar-benar beriman, atau mereka yang memiliki kualitas iman sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, tidak mungkin menjadi pribadi-pribadi yang tercela.

Mereka tidak mungkin menjadi orang-orang yang mengajak manusia kepada kerusakan, hasut, kedengkian, dan kebencian. Orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman tidak mungkin menyebarkan fitnah atau tuduhan-tuduhan keji tanpa dasar kebenaran kepada siapapun.

Mereka tidak mungkin mencaci dan melontarkan tuduhan keji hanya didasarkan pada su’udzon dan kebencian terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Orang-orang yang melakukan kekejian seperti ini, bukanlah orang yang beriman dan bertaqwa. Justru, mereka adalah para ahlul fitnah, atau pembuat kerusakan di muka bumi.

Rasulullah SAW mengajari kita bagaimana seharusnya menjadi seorang mukmin yang sesungguhnya. Rukun iman memang hanya ada enam sebagaimana kita ketahui, tetapi kesempurnaan iman memerlukan perangkat-perangkat lain. Kepercayaan atau iman kita kepada enam hal yang diajarkan oleh Rasulullah itu bukan hanya sekadar percaya, melainkan harus ditindaklanjuti dengan menjalankan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Kemudian dilengkapi pula dengan akhlak atau tindak tanduk yang terpuji serta ucapan yang baik. Mencaci-maki, melaknat, memarahi orang menggunakan kata-kata kotor adalah perbuatan keji yang menjauhkan manusia dari iman. Karena hal-hal tersebut bukan merupakan ciri-ciri manusia yang beriman. Orang yang beriman akan memancarkan keindahan jiwa dan hatinya. Membuat orang di sekelilingnya merasa aman, tenteram, dan damai.

Rasulullah SAW juga memberitahukan kepada umat Islam, bahwa caci maki atau laknat dari manusia kepada manusia lainnya merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dan berat urusannya. Oleh karena itu jika ada orang yang mencaci-maki dan melaknat orang, namun ternyata orang yang dilaknat itu adalah orang baik, maka laknat itu akan kembali kepada diri orang yang melaknat.

Prinsip-prinsip ajaran Islam tersebut harus dipegang teguh semua Muslim agar apapun perbedaan yang muncul, khususnya di media sosial tidak mengakibatkan kondisi kemanusiaan yang rapuh dan suram. Media sosial tetap bisa menjadi alat bagi kebaikan bersama tergantung konten seperti apa yang berusaha disebar.

Generasi digital yang kerap disebut generasi milenial ini penting menjadi perhatian bersama agar proses bermedia sosial terdidik secara literasi. Langkah pencerdasan generasi milenial perlu mendapat panduan dari generasi-generasi sebelumnya yang justru lebih dahulu memahami dinamika yang berkembang dalam dunia teknologi informasi. Bahkan dari pemahaman tersebut, pola prediksi perkembangan teknologi selanjutnya bisa dilakukan. Langkah pencerdasan ini bisa dimulai dengan memberikan pemahaman melalui penulisan buku terkait literasi digital dan perkembangannya.

Di tengah arus media digital yang demikian massif, kebinekaan yang menjadi identitas warga Indonesia mendapat tantangan serius. Ancaman itu berupa meningkatnya eskalasi kebencian dan provokasi yang disebarkan secara massif melalui media sosial seperti yang dijelaskan di atas. Revolusi teknologi dan mudahnya akses media sosial ternyata menyimpan ruang gelap berupa kebencian dan isu-isu negatif yang dihembuskan oleh kelompok-kelompok tertentu.

Namun, di tengah perkembangannya, literasi digital ini juga harus menjadi media untuk generasi bangsa bahwa belajar langsung kepada seorang guru yang tepat juga menjadi bekal dalam mengarungi dunia digital. Karena, bekal ini akan bermanfaat bagi generasi milenial untuk mengisi dunia maya dengan konten-konten positif dalam rangka membangun Indonesia yang kuat dan agama yang lebih ramah untuk kehidupan bersama. Sehingga bahaya tersembunyi yang tertanam (laten) kebencian di media sosial bisa dicegah.


Penulis adalah Redaktur NU Online
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG