IMG-LOGO
Fragmen

Keramat Mbah Sholeh Darat (8), Menyambut Pengunjung Makamnya

Rabu 26 Juni 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Keramat Mbah Sholeh Darat (8), Menyambut Pengunjung Makamnya
Makam Mbah Sholeh Darat di Semarang
Banyak sekali ulama maupun warga NU yang berziarah ke makam Mbah Sholeh Darat (Syech Muhammad Sholeh bin Umar Asssamarony, biasa dipanggil Kiai Sholeh Darat). Setiap hari, maqbarahnya di kompleks pemakaman umum Bergota Semarang ramai dikunjungi orang. Siang maupun malam, 24 jam silih berganti orang berdatangan. 

Di era tahun 1980 sampai 1990-an, ada seorang ulama terkenal yang rajin berziarah. Yaitu KH Hamim Jazuli Kediri Jawa Timur atau biasa dipanggil Gus Miek. Gus Miek ini juga diyakini banyak orang sebagai seorang wali (kekasih Allah). Dan sebagaimana umumnya waliyullah, dia hobi ziarah di makam wali-wali Allah yang sudah wafat. 

Menurut penuturan para penjaga kotak amal di makam Mbah Sholeh Darat, Gus Miek semasa hidupnya sering ziarah ke makam Mbah Sholeh. Kesaksian para Sarkub (Sarjana Kuburan, sebutan untuk orang-orang ahli ziarah kubur) Semarang, juga membenarkan hal itu. 

“Gus Miek dulu rajin ziarah ke sini. Seringnya malam hari. Kami sering menerima infaq dari beliau,” Tutur Budi, penjaga kotak amal di pintu masuk cungkup maqbarah Mbah Sholeh. 

Sumiati, penjaga kotak amal dan toilet depan makam, juga membenarkannya. “Iya, Gus Miek kadang mengajak Gus Dur kalau ziarah ke sini. Biasanya diam-diam datang di malam larut ketika sepi,” tuturnnya. 

Pernyataan senada datang dari Supriyanto alias Pak Totok, tokoh Sarkub Semarang yang rutin hampir setiap malam Jum’at ziarah di makam Mbah Sholeh Darat. 

“Gus Miek itu ahli ziarah. Gus Dur juga terkenal ahli ziarah. Dua orang panutan kita itu sering datang ke makam Mbah Sholeh Darat,” ucap ustad yang mengasuh ngaji kitab Mbah Sholeh Darat di Mushala di kampungnya, Mugas Semarang Selatan ini.  
 
Agus Tiyanto, Sarkub asal Klaten yang beristri cicit Mbah Sholeh Darat, Evi Isnadiyah binti Ali bin Kholil bin Sholeh Darat, mengaku sering mengetahui kedatangan Gus Miek di makam kakek buyut istrinya tersebut. 

“Gus Miek benar-benar contoh ahli ziarah kubur. Beliau sering datang ke Semarang hanya untuk sowan Mbah Sholeh Darat,” ungkapnya. 

Apa yang dikatakan Agus sama persis dengan kesaksian Pak Totok maupun para penjaga makam Mbah Sholeh Darat. Yaitu model ziarahnya Gus Miek lebih mirip orang sowan. Persisnya seperti pisowanan kawula kepada raja Jawa.  

Seperti apakah? 

Dari semua kesaksian mereka, Gus Miek selalu memakai beskap dan blangkon setiap ziarah. Lengkap dengan bawahan jarik dari kain batik. Bukan memakai sarung, baju koko dan kopiah sebagaimana lazimnya orang lain. 

Dan ini yang istimewa, begitu dia mencopot sandal di pintu masuk kompleks makam Mbah Sholeh, Gus Miek jongkok dan mengatupkan dua tangannnya di depan hidungnya. Salam tabik seperti abdi dalem 'menyembah' raja. Lalu, persis seperti adegan di lakon ketroprak, Gus Miek berjalan sambil tetap jongkok ke arah pusara Mbah Sholeh Darat. Sambil kedua telapak tangan tetap menelungkup menempel hidung dan kepala menunduk memandang ke tanah. 

“Sama sekali tidak pernah kepala Gus Miek tegak dengan mata memandang ke depan bila beliau berziarah. Kepala selalu menunduk dan berjalan jongkok ngapurancang pakai salam tabik khas abdi raja,” ucap para saksi yang disebut di atas. 

Demikian cara berjalan masuknya, begitu pula cara Gus Miek meninggalkan kubur Mbah Sholeh. Dengan berjongkok, dia berjalan mundur, dengan dua tangan mengatup di depan hidung. Seolah tidak berani membelakangi pusara Mbah Sholeh Darat. 

“Pokoknya cara ziarah Gus Miek persis pisowanan kepada Sultan Mataram,” terang Pak Totok maupun Agus Tiyanto. 

Tak betah dengan rasa penasaran, Pak Totok dan sahabat-sahabatnya, para Sarkub Semarang bertanya ke Gus Miek pada suatu kesempatan jumpa di makam Bergota. “Nuwun sewu, Gus. Jenengan kok cara ziarahnya seperti sowannya kawula kepada raja, niku pripun?”

“Saya itu setiap hendak ziarah di makam Mbah Sholeh Darat, beliau sudah berdiri di atas pusaranya menyambut saya. Sejak saya berjalan kaki dari undak pertama komplek makam, Mbah Sholeh sudah melambaikan tangan ngawe-awe saya,” jawab Gus Miek ketika itu. 

Subhanallah,” sahut Pak Totok dan rombongannya berbarengan, seraya mencium tangan Gus Miek memohon berkahnya Mbah Sholeh Darat. (Ichwan)
Tags:
Bagikan:
Rabu 26 Juni 2019 11:15 WIB
Saat Hizib Nashar KH Dalhar Watucongol Berhasil Usir Tentara Sekutu
Saat Hizib Nashar KH Dalhar Watucongol Berhasil Usir Tentara Sekutu
KH Dalhar Watucongol (dok. istimewa)
Mendaratnya tentara NICA (Belanda) membonceng Sekutu (Inggris-Gurkha) dan mendarat di Surabaya pada 10 November 1945 menjadi titik tolak perjuangan rakyat Indonesia, terutama santri dan para kiai. Seminggu setelah berkobarnya perang di Surabaya antara para santri dan rakyat Indonesia melawan Tentara Sekutu yang dipimpin Brigjen Mallaby, pertempuran merebak hingga ke Semarang, Ambarawa, dan Magelang.

Tentara Sekutu mendarat di Semarang pada 20 Oktober 1945 dibawah pimpinan Brigjen Bethel. Awalnya rakyat Indonesia ikut membantu pergerakan Tentara Sekutu yang kedatangannya ingin menyisir sisa-sisa tentara Nippon (Jepang) di Indonesia pasca Sekutu mengalahkan Jepang lewat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Tetapi seperti terjadi di daerah-daerah lain, serdadu NICA menyalakan obor fitnah dan mengadu domba sehingga terjadilah insiden antara rakyat Indonesia dengan tentara Sekutu. Insiden karena adu domba NICA ini menjalar ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah, seperti Magelang. Bung Tomo, setelah secara perkasa membantu perjuangan santri di Surabaya, dia menuju ke Jawa Tengah karena situasi sama gentingnya seperti yang terjadi di Jawa Timur.

Namun demikian, kondisi ini juga mendapat perhatian serius dari para ulama Magelang. Diriwayatkan oleh KH Saifuddin Zuhri (1919-1986), ulama se-Magelang mengadakan pertemuan di rumah Pimpinan Hizbullah di belakang Masjid Besar Kota Magelang pada 21 November 1945. Pertemuan ini dilaksanakan pada tsulutsail-lail atau saat memasuki duapertiga malam (sekitar pukul 03.00 dini hari).

Ulama yang dipanggil sedianya hanya 70 orang, namun yang hadir melebih ekspektasi yaitu 200 orang ulama dalam pertemuan riyadhoh ruhaniyah itu. Para ulama menilai, gerakan batin atau gerakan rohani ini untuk menyikapi situasi genting yang terjadi di dalam Kota Magelang dan sekitarnya, terutama sepanjang garis Magelang-Ambarawa-Semarang. Karena di Pendopo rumah Suroso tidak cukup, sebagian ditempatkan di markas Sabilillah yang jaraknya 100 meter.

Disaat ratusan ulama sudah terkumpul, mayoritas hadirin berharap-harap cemas ketika menanti kedatangan sejumlah ulama khos yang belum hadir, di antaranya KH Dalhar (Pengasuh Pesantren Watucongol), KH Siroj Payaman, KH R. Tanoboyo, dan KH Mandhur Temanggung. Mereka adalah ulama “empat besar” untuk Magelang dan sekitarnya yang akan memimpin riyadhoh ruhaniyah tersebut.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Letkol M. Sarbini dan Letkol A. Yani dan satu regu pengawal siap tempur itu, para ulama dan rakyat dipimpin ulama “empat besar” itu membaca aurod yang sudah terkenal di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah antara lain, Dalail Khoirot, Hizib Nashar li Abil Hasan Asy-Syadzili, Hizib al-Barri, dan Hizib al-Bahri, keduanya Li Abil Hasan Asy-Syadzili yang termasyhur.

Namun, asisten (dulu biasa disebut kurir yang bertugas membawa informasi rahasia) yang mengawal M. Sarbini dan A. Yani melapor bahwa tentara Inggris sedang membuat gerakan mundur meninggalkan Magelang. KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013) mencatat bahwa seketika itu Gedung Seminari Katolik dikosongkan. Mereka mengangkut semua perlengkapan. Bukan hanya persenjataan, tetapi juga alat perbekalan dan perabotan rumah tangga.

Dalam proses evakuasi tentara Inggris tersebut, Sekutu menyertakan seluruh serdadu kulit putih, Gurkha, bekas tentara Nippon, dan serdadu NICA. Menurut laporan kurir itu pula, gerakan evakuasi Sekutu dimulai pukul 04.00 menjelang subuh.

Ketika kurir itu menyebutkan bahwa Inggris meulai meninggalkan gedung Seminari Katolik, Kiai Saifuddin Zuhri yang juga bersama Sarbini dan A. Yani mendengar laporan tersebut tetiba teringat kembali pada saat KH Dalhar bermunajat dengan Hizib Nashar. Ia meyakini bahwa dua kejadian tersebut, yaitu proses evakuasi oleh Sekutu dan munajat Kiai Dalhar berbarengan. Kiai Saifuddin menyebut dalam proses tersebut Kiai Dalhar sampai pada bagian (dari Hizib Nashar) ini:

Nas’aluka al ‘ajala Ilaahi, al-ijaabah. Ya man ajaaba Nuuhan fii qaumihi. Ya man nashara Ibrohima ‘aala a’daaihi. Ya man rodda Yusufa ‘alaa Ya’quba. Ya man kasyafa dhurra Ayyuba. Ya man ajaaba da’wata Zakaria. Ya man qabila tashbiha Yunusa ibni Matta. Nas’aluka bia asroori haadzihidda’waati an tataqobbala maa bihi da’aunaaka wa an tu’thianaa maa sa’alnaaka...

(Kami mohon pertolongan-Mu itu datanglah sekarang, sekarang, dengan segera, Ya Tuhan, kabulkanlah permohonan ini, kabulkanlah! Ya Allah, Tuhan kami yang mengabulkan doa Nabi Nuh ketika menghadapi kaumnya. Ya Allah Tuhan kami yang memberi pertolongan kepada Nabi Ibrahim yang mengalahkan musuh-musuhnya. Ya Allah Tuhan kami yang mengembalikan Nabi Yusuf ke pangkuan Nabi Ya’qub. Ya Allah Tuhan kami yang menghilangkan penderitaan Nabi Ayyub. Ya Allah Tuhan kami yang memenuhi doa Nabi Zakaria. Ya Allah Tuhan kami yang menerima perkenan atas tasbih Nabi Yunus bin Matta. Ya Allah Tuhan kami, dengan mengharapkan hikmat dan rahasia doa-doa ini, mohon kiranya Engkau memperkenankannya dan mengabulkan segala yang kami maksudkan kepada-Mu, kiranya Engkau memenuhi segala yang kami mintakan kepada-Mu...)

(Fathoni)
Rabu 26 Juni 2019 9:15 WIB
Genealogi dan Polemik Raden Fatahillah (2)
Genealogi dan Polemik Raden Fatahillah (2)
(Foto: @seputarkapal)
Genealogi dan Polemik Raden Fatahillah (2)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki

Polemik tentang Fatahillah bermula dari dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja pada Februari 1956 M. SK itu memutuskan bahwa hari lahir Jakarta adalah 22 Juni 1527 M.

Angka, bulan, dan tahun itu didapat dari hasil penelitian Prof Dr Mr Sukanto dalam Buku Dari Djakarta Ke Djajakarta yang ditulis pada 1954 M. Adalah Wali Kota Jakarta Sudiro, bertugas pada 1953-1960 M, yang menyetujui hasil penelitian Sukanto dan menetapkannya sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Sukanto sebenarnya hanya melengkapi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Prof Dr PA Hussein Djajadiningrat. Hussein lah, dalam disertasinya yang berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten, yang pertama kali menetapkan 1527 M sebagai tahun kelahiran Jayakarta. Disertasi itu dipertahankan pada 1913 di Universiteit Leiden, Belanda.

Dalam disertasi itu, Hussein menyatakan bahwa Jayakarta berarti wlbrachte zege (kemenangan yang selesai), yaitu nama yang diberikan Fatahillah kepada Sunda Kelapa setelah berhasil direbut dari kerajaan Hindu, yaitu Kerajaan Pajajaran. Seperti diketahui, Fatahillah merupakan adik ipar Sultan Demak.

Berpegang pada penelitian Hussein itu, Sukanto memperkirakan, pertempuran antara Fatahillah dan De Sa terjadi pada Maret 1527 M. Jadi, nama Jayakarta pastilah muncul setelah itu. Ternyata, tak ada data kuat yang mendukung bahwa 22 Juni sebagai awal munculnya nama Jayakarta. Lantas Sukanto mengambil cara dengan menggunakan perhitungan Jawa yang biasa dipakai untuk keperluan masa panen.

Dalam perhitungan itu, satu tahun dibagi dalam 12 mangsa dan mangsa kesatu dimulai pada 22 Juni. Sukanto menulis, lebih kurang, "Mengingat mangsa kesatu jatuh pada Juni (bulan panen atau setelah panen), kemungkinan Jayakarta diberikan pada tanggal 1 mangsa kesatu, yaitu bulan Juni tanggal 22 tahun 1527 M. Harinya yang pasti tidak dapat kita temukan."

Hussein menolak teori itu. Menurut sarjana Islamologi ini, Fatahillah akan menggunakan hari raya Islam sebagai cantelan hari lahir Jayakarta, bukan berdasar penanggalan tradisi. Hari raya terdekat pada waktu itu adalah Maulid Nabi SAW, yaitu 17 Desember 1527. Perdebatan tidak hanya pada hari lahir Jakarta, tetapi juga pada sosok Fatahillah sebagai tokoh sentral dan ikon pada hari lahir tersebut.

Setelah dua profesor terkemuka ini berpolemik dan hari berganti hari, tahun berganti tahun, hari lahir kota Jakarta diterima begitu saja, begitu pula sosok Fatahillah. Upaya menggali kembali kebenaran tentang kapan hari lahir Jakarta makin tak tersentuh, termasuk berbagai penelitian yang harusnya terus dilakukan demi memenuhi kekosongan bukti sejarah kota ini.

Kesunyian sejarah pun pecah, dan polemik jilid dua kembali terjadi ketika sejarawan dan budayawan Betawi terkemuka, Ridwan Saidi, menggugat keberadaan Fatahillah di tanah Betawi.

Bang Ridwan menolak jika Fatahillah sebagai pahlawan bagi kota Jakarta, terlebih bagi kaum Betawi. Baginya, Fatahillah adalah perampok, penjahat. Fatahillah menyerang pelabuhan Kalapa untuk merampok dan membunuh pribumi yang merupakan proto kaum Betawi, bukan menyerang tentara Portugis yang dipimpin oleh Fransisco De Sa.

Ketika itu, pelabuhan Kalapa dikuasai Kerajaan Sunda Pajajaran dan orang-orang setempat yang merupakan proto Melayu Jawa yang kemudian menyebut diri dan disebut orang Betawi bertugas sebagai pelaksana yang mengurus pelabuhan tersebut.

Ketika Fatahillah menyerbu, ada sekira 3.000 rumah orang Betawi yang dibumihanguskan dan mereka beragama Islam. Penduduk Betawi ini kemudian berlarian ke bukit-bukit hidup bagai Tarzan.

Menurut Ridwan Saidi, Wak Item sebagai syahbandar pelabuhan Kalapa hanya punya pasukan pengikut sebanyak 20 orang. Dengan gigih, Wak Item dan pasukannya melawan pasukan Fatahillah, walau akhirnya semua tewas, mati syahid.

Wak Item tewas dan ditenggelamkan ke laut oleh pasukan Fatahillah, Sementara 20 orang pengikutnya semua juga dibunuh. Sedangkan armada Fransisco de Sa  tenggelam di perairan Ceylon.

Jadi yang menghadapi Pasukan Fatahillah yang berjumlah lebih dari 1.500 orang adalah Syahbandar Wak Item dengan pengawal-pengawalnya yang berjumlah 20 orang. Maka menurut Bang Ridwan Saidi,  perang Fatahillah ini adalah perang umat Islam versus umat Islam;  pembunuhan proto kaum Betawi di Kalapa. 

Ridwan Saidi tidak main-main dengan tuduhan ini. Ia menuangkan argumentasinya ini beserta sumber-sumbernya, yang saya tahu, minimal ke dalam tiga bukunya yang diterbitkan oleh Perkumpulan Renaissance Indonesia, yaitu Riwayat Tanjung Priok dan Tempat-Tempat Lama di Jakarta, Sejarah Jakarta dan Peradaban Melayu Betawi, dan Potret Budaya Manusia Betawi.

Pertanyaannya, benarkah tuduhan atau pendapat Ridwan Saidi itu? Prof Ahmad Mansur Suryanegara dalam Sarasehan Mengangkat Jejak Fatahillah di The Batavia Hotel yang diselenggarakan oleh UPT Kota Tua menyatakan bahwa pendapat seperti itu bisa benar karena memang penjajah saat itu, baik Portugis atau Belanda, dalam peperangan sering menerapkan politik adu domba dengan menggunakan penduduk setempat untuk menghadapi serangan dari musuhnya seperti perang Makassar.

Pada perang  Makassar, Belanda mengadu domba Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka (Arung Palakka) sehingga korban peperangan adalah pribumi, bukan penjajah. Jadi, konfrontasi Fatahillah dengan Wak Item juga merupakan hasil adu domba, dalam hal ini dilakukan oleh penjajah Portugis.  

Akhir kalam, menurut saya, sejarah tentang penyerbuan Fatahillah ke pelabuhan Kalapa harus dipahami dengan dua pendapat yang kita bebas memilih, yaitu pertama, pendapat Prof Ahmad Mansur Suryanegara di atas; dan kedua, pendapat Ridwan Saidi yang saya kutip dari bukunya yang berjudul Sejarah Jakarta dan Peradaban Melayu Betawi.

Di dalam bukunya ini, Ridwan Saidi menulis: Seandaianya pun Fatahillah pahlawan, tetapi pahlawan lokal di Demak dan Cirebon. Ia memerangi orang-orang Betawi dan Pajajaran yang nota bene pemilik bumi Nusa Kalapa. Di tempat lain bisa saja dia dipahlawankan, tetapi di tempat dia melakukan penjarahan dan pelampiasan nafsu angkaranya tentu agresor namanya dalam istilah sekarang. (Selesai...)


Penulis adalah peneliti genealogi intelektual ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC). Ia juga dipercaya sebagai Sekretaris RMI (asosiasi pesantren) NU DKI Jakarta.
Senin 24 Juni 2019 21:20 WIB
Genealogi dan Polemik Raden Fatahillah
Genealogi dan Polemik Raden Fatahillah
(Foto: @radarmiliter)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki

Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta yang setiap tahunnya jatuh pada tanggal 22 Juni masih menjadi polemik. Adalah budayawan Betawi terkemuka, Ridwan Saidi, yang  menggugat keberadaan Fatahillah di tanah Betawi. Gugatannya terbilang baru, cerdas, keras.

Saking kerasnya, seolah-olah, menurut saya, dapat membangunkan Fatahillah dari kuburnya untuk menggelar konfrensi pers menolak tuduhan Bang Ridwan ini. Karena sejauh yang saya tahu, belum pernah ada satu pun sejarawan menyatakan pernyataan ini: Fatahillah adalah perampok, penjahat! 

Saya mendengar pendapat ini langsung dari Ridwan Saidi pada awal tahun 2008. Dari keterangan yang disampaikannya, sudah ada niatan saya untuk mempelajari ulang tentang Fatahillah. Karena bagi saya, informasi Ridwan Saidi ini sangat baru, untuk tidak mengatakan nyeleneh dan keluar dari mainstream penulisan sejarah tentang Fatahillah yang saya ketahui atau beredar di selama ini.

Data yang saya kumpulkan telah saya paparkan di dua kesempatan, yaitu: Pertama, pada Sarasehan tentang Fatahillah di Museum Kota Tua, Jakarta Pusat, Sabtu, 4 Desember 2010 yang diselenggarakan oleh UPT Kota Tua bekerja sama dengan Himpunan Masyarakat Pelestari Seni Budaya (HMP) Kota Tua dengan  pembicara kunci Igo Ilham dan pembicara lainnya, selain saya adalah JJ Rizal, Mustaqim (budayawan Cirebon), dan Isa Anshori dengan moderator Candrian Attahiyyat.

Kedua, pada Sarasehan Mengangkat Jejak Fatahillah di The Batavia Hotel yang diselenggarakan oleh UPT Kota Tua dengan nara sumber selain saya, yaitu Prof Dr Ahmad Mansur Suryanegara pada 1 Desember 2012. Maka di kolom ini, dari data yang saya dapat dan dipaparkan di dua sarasehan tersebut, saya akan membahas tentang sosok Fatahillah dalam kajian genealogi dan polemiknya secara berseri.

Genealogi Fatahillah

Nasab (keturunan) Fadhillah atau Fatahillah adalah nasab seorang syarif Hadhramaut. Bentuk jamak syarif adalah asyraf. Orang Betawi menyebutnya habib, jamaknya habaib. Penyebutan dari Betawi ini (habib atau habaib) kemudian lebih populer di Indonesia dari pada syarif,  sayyid atau maulana.

Jika Fatahillah seorang syarif Hadhramaut (keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa), lalu bagaimana nasabnya? Dalam disertasi yang disusun oleh Abu Bakar al-Mascati yang berjudul “Ketika Pasai menaklukkan Majapahit” dikatakan bahwa Fatahillah dilahirkan di Pasai pada tahun 1471 M.

Ia lahir dengan nama Maulana Fadhillah. Gelar Maulana diperoleh karena ia masih keturunan Nabi Muhammad, SAW (dari golongan Sayyid atau Syarif atau Habib). Menurut Saleh Danasasmita, sesorang sejarawan Sunda yang menulis sejarah Pajajaran, dalam bab Surawisesa, Fatahillah adalah Putra Mahdar Ibrahim bin Abdul Ghofur bin Zainul Alam Barokat bin Jamaludin Husein Al-Akbar yang lebih dikenal dengan nama gelarnya yakni Shekh Maulana Jumadil Kubro.

Tulisan sejarawan Saleh Danasasmita ini bersesuaian dengan Kitab Sejarah Melayu “Sulalatus Salatin” karya Tun Sri Lanang, bersesuaian pula dengan  catatan para keturunan Shekh Jumadil Kubro,  baik yang di Malaysia, Cirebon, Banten dan Palembang yang catatan-catatan tersebut juga telah diakui oleh Rabithah Fatimiyyah/Nakabah Azmatkhan sehingga tidak perlu diragukan lagi keabsahannya.

Walau demikian, tidak semua ahli nasab menyetujui pendapat ini, seperti Habib Alidin yang pernah bertugas di Naqabatul Asyraf (salah satu lembaga nasab Alawiyin dan di Al-Maktab Ad-Daimi yang berada di bawah Rabithah Alawiyah).

Ia menyatakan bahwa sampai saat ini dalam kajian nasab Alawiyin - bukan kajian sejarah - nasab Fatahillah masih misterius. Namun, kajian nasabAlawiyin lainnya menjelaskan dengan gamblang tentang nasab Fatahillah seperti yang dijelaskan. Misalnya, bukti-bukti yang ditunjukkan oleh penulis sejarah Aceh, Cut Haslinda, kepada saya tentang nasab Alawiyin dari Fatahillah.    

Berdasarkan  keterangan –keterangan di atas, maka Fatahillah termasuk keturunan Nabi Muhammad ke-23 dari jalur Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa (Syarif Hadhramaut) dengan urutan sebagai berikut:Fadhillah/Fatahillah bin Mahdar Ibrahim Patakan bin Abdul Ghafur bin Barokat Zainul Alam bin Jamaludin Husein bin Ahmad Syah Jalaludin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi (Ammu Faqih) bin Muhammad (Shahib Marbath) bin Ali Qoli’u Qosam bin Alawi Tsani bin Muhammad bin Alawi Awal bin Ubaidillah/Abdullah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad Anakib bin Ali ‘Uraidi bin Ja’far Sidiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali Murtadla/Fatimah Az-Zahra binti Muhammad SAW.

Bandingan dengan silsilah Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah yang dijelaskan oleh Dr Muhammad Hasan Al-Aydrus, Dr Muhammad Hasan Al-Aydrus mengutip dari Makhthuthah Al-Ustadz Asy-Syarif Ahmad bin Abdullah As-Saqqaf yang terdapat satu pasal khusus di mana di dalamnya disebutkan nasab Syarif Hidayatullah berdasarkan sumber dari Banten seperti yang tertera di atas.

Naskah itu menyebutkan bahwa Maulana Hasanuddin Sultan Banten pertama bin Syarif Hidayatullah bin `Umdatuddin (di Campa, Indo-Cina) bin Ali Nurul Alim bin Jamaludin Husein bin Ahmad Syah Jalaludin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi (Ammu Faqih) bin Muhammad (Shahib Marbath) bin Ali Qoli’u Qosam bin Alawi Tsani bin Muhammad bin Alawi Awal bin Ubaidillah/Abdullah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad Anakib bin Ali ‘Uraidi bin Ja’far Sidiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali Murtadla/Fatimah Az-Zahra binti Muhammad SAW.

Dari kedua silsilah nasab di atas, Fatahillah dan Syarif Hidayatullah bertemu di Jamaludin Husein bin Ahmad Syah Jalaludin. Dengan demikian, jelaslah bahwa Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah dua sosok yang berbeda namun satu kakek buyut (Jamaludin Husein). 

Lalu, apa nama asli dari Fatahillah dan bagaimana asal nama Fatahillah itu? Nama asilnya Fadhillah atau Maulana Fadhillah dari ibu Syarifah Siti Musalimah binti Maulana Ishak dan Ayah Mahdar Ibrahim Patakan bin Abdul Ghofur, Mufti kesultanan Pasai yang terkenal sangat alim dan menguasai ilmu-ilmu agama antara lain, ilmu alat (nahwu, sharaf dan balaghah), fiqih, usul fiqih, tafsir, hadits dan juga tasawuf sehingga Mahdar Ibrahim juga diberi gelar Sayyid Kamil.

Penambahan nama Khan di depan namanya menjadi Fadhillah Khan terjadi ketika ia tinggal untuk beberapa waktu di daerah Nasrabat, India (tempat asal Maulana Jamaludin Husein/Syekh Jumadil Kubro).

Di Nasrabat setelah ia bertemu sanak kerabatnya dianjurkan menggunakan marga keluarganya yaitu Azmatkhan, sehingga namanya menjadi Fadhillah Azmatkhan, Namun entah kenapa ia lebih populer dengan nama Fadhillah Khan saja yang orang Portugis melafalkannya menjadi Falatehan. 

Pascakeberhasilan menghancurkan Portugis di Sunda Kelapa, Fadhillah Khan memperoleh gelar baru, yaitu Fatahillah. Menurut analisis bahasa dari Dr Nuruddin Ali Muhtarom (pakar bahasa Arab alumni Qatar University, Qatar) kata Fatahillah tidak ada atau tidak dikenal dalam tata bahasa Arab. Kemungkinan gelar itu adalah Fatahallah yang artinya “semoga Allah membebaskan” atau Iftahillah yang artinya “bebaskanlah ya Allah”.

Saya memilih pendapat nama Fatahillah berasal dari Iftahillah karena lebih mendekati dalam pengucapannya yang karena lidah Melayu sulit mengucapkan if kemudian penyebutannya berubah menjadi Fatahillah. (bersambung…)


Penulis adalah peneliti genealogi intelektual ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC). Ia dipercaya sebagai Sekretaris RMI NU DKI Jakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG