IMG-LOGO
Internasional

Gus Dur Istimewa, Gus Dur Mengawali


Jumat 28 Juni 2019 11:30 WIB
Bagikan:
Gus Dur Istimewa, Gus Dur Mengawali
Workhop Gender Mainstreaming, Taipe, Taiwan.
(Sebuah catatan perjalanan ke Taipei)

Setelah melakukan penerbangan dari Jakarta kurang lebih lima jam, saya transit dua jam di Hong Kong untuk pindah penerbangan, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Taipei kurang lebih satu jam. Mendarat di bandara Taoyuan, kami dijemput oleh panitia menuju Howard Civil Service International House di 30, Sec.3 Xinsheng South Road Taipei yang menjadi tempat menginap dan berkegiatan kami.

Setelah beristirahat, selanjutnya pagi hari Senin 24 Juni 2019 pukul 09.30 waktu Taipei, kami mengikuti International workshop bertajuk Gender Mainstreaming. Workshop ini diikuti oleh beberapa negara delegasi antara lain Australia, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, New Zealand, Philippines, Republic of Korea, Thailand, Viet Nam, Taiwan. Workshop ini dilaksanakan oleh EU-Taiwan Gender Equality and Human Rights Training Course-Gender Mainstreaming Workshop.

Dalam forum ini masing-masing negara menyampaikan gender mainstreaming dalam teori, pengalaman, dan praktiknya. Waktu di Taiwan berbeda kurang lebih jam jam lebih cepat dari waktu Indonesia. Hari pertama, kami mengikuti materi dari narasumber ahli di bidang ini sampai dengan pukul 17.00. Selanjutnya kami berangkat dengan bus menuju gedung mercusuar, menara mercusuar pencakar langit milik Taiwan ini setinggi 101 lantai di distrik Xinyi Taipei, Taiwan. Gedung ini diresmikan pada 31 Desember 2004 di tengah perayaan tahun baru yang semarak.

Nama resminya adalah Gedung Finansial Internasional Taipei. Menara ini menjadi gedung tertinggi kedua di dunia (yang pertama adalah Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab). IOI ini salah satu gedung baru pencakar langit yang paling maju yang pernah di buat sampai sekarang. Keunggulan gedung ini memiliki fiber optik dan hubungan internet satelit yang dapat mencapai kecepatan 1 gigabyte per detik. Toshi telah menyiapkan dua lift tercepat di dunia yang dapat mencapai kecepatan maksimum 1.010 meter per menit (63 km per jam atau 39 mil per jam) dan mampu membawa pengunjung dari lantai dasar ke lantai pengamat di lantai 89 dalam waktu 39 detik.

Sebuah pendulum, semacam bandul atau pemberat, seberat 800 ton dipasang di lantai 88. Fungsinya menstabilkan menara ini terhadap goyangan yang timbul dari gempa bumi, angin topan maupun gaya geser dari angin. Luas total 450.000 meter persegi untuk fasilitas perkantoran, 77.500 meter persegi untuk kebutuhan komersial, sedangkan 73.000 meter persegi lainnya untuk area parkir. So amazing....

Setelah itu kami dijamu makan malam dengan tajuk dinner banquet di gedung I0I mal. Meski kami yang dari negara Muslim sedikit kesulitan makan karena makanan kami secara kultur dan aturan agama berbeda dengan kawan-kawan dari negara lain, bersyukur alhamdulillah kami biasanya disediakan makanan khusus untuk vegetarian food. Yes yang halal food, makan malam yang istimewa. Hmmm.
 
Kembali kepada ide gender mainstreaming di Indonesia. Secara resmi isu gender mainstreaming di Indonesia menjadi sebuah kebijakan, sebagai lembaran negara dalam bentuk Instruksi Presiden nomor 9 tahun 2000 di zaman Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Inpres ini bertujuan untuk menghilangkan gap atau jarak antara laki-laki dan perempuan Indonesia dalam mengakses dan memperoleh manfaat pembangunan Indonesia.  Gus Dur telah meletakkan dasar-dasar kebaikan bagi kita, yang menjadi fondasi bagi laki-laki dan perempuan di Indonesia dalam mengisi pembangunan secara equal. Dalam tradisi pondok, kita sering dengar kalimat hikmah "Alfadlu lil Mubtadi, wain ahsana lilmuqtadi." Bahwa, keutamaan itu bagi pemula kebaikan, meskipun penerusnya lebih baik. Ilaruhi Gus Dur, Alfatihah....

Setelah adanya Instruksi Presiden, perkembangan isu dan praktik gender mainstreaming terus mengalami perkembangan yang sangat baik. Kita lihat di banyak bidang perempuan dan laki-laki terus bergandengan tangan mengisi pembangunan, dalam bidang politik misalnya ada ketentuan afirmative action 30 persen bagi perempuan. Ini adalah semacam kebijakan keberpihakan bagi perempuan untuk mendorong perempuan mengisi ruang-ruang politik, agar ada keseimbangan mengisi pembangunan.

Setelah Gus Dur menetapkan Inpres 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG), kebijakan afirmasi bagi perempuan ini dibentuk karena partisipasi perempuan di bidang politik masih lebih rendah ketimbang laki-laki, salah satunya disebabkan karena produk politik saat itu kurang berperspektif gender equality. Maka, kebijakan Instruksi Presiden yang kemudian manifestasinya adalah terbentuknya kebijakan afirmasi 30 persen bagi perempuan ini memang belum serta merta menciptakan representasi perempuan 30 persen di parlemen, namun selangkah demi selangkah Inpres dan kebijakan afirmasi ini meningkatkan representasi perempuan di parlemen.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik, jumlah perempuan di parlemen atau DPR RI tahun 1999 terpilih 44 orang perempuan atau 8,80 persen di parlemen, tahun 2004 terpilih 65 orang perempuan atau 11.82 persen di parlemen. Jumlah ini meningkat banyak pada tahun 2009 terpilih 100 orang perempuan atau 17.86 persen, dan pada tahun 2014 terpilih 97 orang perempuan atau 17.32 persen dari 560 anggota di parlemen. Sedangkan pada anggota senat Dewan Perwakilan Daerah pada tahun 2014 terpilih 25.74 persen atau 34 perempuan dari 132 orang senator di DPD.

Hari ini juga setiap partai di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten kota telah berkomitmen mengimplementasikan kebijakan afirmasi 30 persen utuk perempuan agar berpartisipasi di semua lini pembanguan Indonesia, begitupun di partai politik. Selanjutnya setiap pembentukan produk hukum seperti Undang-undang selalu memperhatikan dan megakomodasi kebutuhan perempuan dan laki-laki secara seimbang. Termasuk dalam hal budgeting, ada kebijakan Anggaran Responsive Gender (ARG), di mana setiap kepala daerah dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota telah menerapkan kebijakan ARG ini. Meskipun masih ada usulan perbaikan misalnya, bahwa 30 persen perempuan tidak hanya di tingkat kontestan atau kandidat, tapi juga hasilnya harus ada kebijakan afirmasi bagi perempuan di hasilnya harus 30 persen perempuan.

Satu lagi, sejak Gus Dur menetapkan Inpres ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (2009) mendorong kebijakan Pengarusutamaan Gender ini diterapkan di semua tingkat pemerintah, dan sebagai penghargaan kepada pemerintahan yang telah mengimplementasikan kebijakan PUG dengan baik,  dengan memberikan awards yaitu Anugerah Paharita Ekapraya (APE).

Pada akhir workshop ini masing-masing delegasi mempresentasikan kemajuan negara mereka terkait kebijakan dan praktiknya. Saya yang mewakili Indonesia atas nama Fatayat NU, menyampaikan perkembangan PUG di negara Republik Indonesia, terutama betapa peran KH Abdurrahman Wahid sangat penting bagi PUG di Indonesia. Kedua, saya juga menyampaikan peran Fatayat NU berperan aktif dalam pelaksanaan gender mainstreaming ini, Fatayat NU melakukan banyak hal terkait pemberdayaan dan peningkatan peran dalam mengisi dan mendorong perempuan untuk paham dan sadar akan pentingnya peran perempuan dalam mengisi pembangunan Indonesia.

Bahkan, hal itu di mulai dari dalam rumah masing-masing, mendidik anak-anak, menjaga kesehatan keluarga, meningkatkan ekonomi keluarga, memberi manfaat bagi orang-orang terdekat dan masyarakat banyak. Tak lupa dalam bidang politik saya pun menyampaikan hari ini organisasi kami, tahun 2019 menyumbang sembilan anggota legislatif tingkat pusat, ditambah banyak lagi yang terpilih sebagai anggota legislatif di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.  

The last but not least, saya juga menyampaikan perkembangan pembangunan yang pesat, hari ini Presiden RI H. Joko Widodo menggalakkan pembangunan di berbagai bidang, antara lain di bidang infrasrutuktur; tol road khususnya, di bidang ekonomi, pembangunan sumber daya manusia, dan lain-lain. Ini berimbas sangat besar bagi kemajuan Indonesia makin maju termasuk bagi perkembangan pengarusutamaan gender di Indonesia. Semoga Indonesia menjadi negara yang baldatun thoyibatun wa robbun ghafuur. Amiin...

Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas kesempatan kepada Fatayat NU dan saya untuk mengikuti pertemuab ini, antara lain kepada PP Fatayat NU, EU-Taiwan Gender Equality and Human Rights, TETO Indonesia, dan tak lupa juga keluarga yang sudah mengizinkan saya utuk berangkat.

(Miftahul Janah, Ketua Fatayat NU Banten, Koordinator Bidang Dakwah PP Fatayat NU)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG