IMG-LOGO
Nasional

Pembangunan Desa Dimulai dari Akurasi Data

Kamis 9 Mei 2019 19:40 WIB
Bagikan:
Pembangunan Desa Dimulai dari Akurasi Data
Jakarta, NU Online
Untuk mempercepat pembangunan desa, pengelolaan data menjadi hal yang penting. Data merupakan unsur utama yang menentukan tingkat kualitas kebijakan. Data yg baik akan menghasilkan rumusan bahan kebijakan yang baik.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Anwar Sanusi pada Rapat Koordinasi Sistem Pengelolaan Data dalam Pembangunan Desa di Hotel Amaroossa Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/5).

Terkait data desa, kata Anwar, sumbernya ada di hasil pendataan Potensi Desa (PODES) yang dilakukan setiap 3 tahun sekali oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Namun ada jeda waktu, jadi tiap tahun ada kesulitan. Oleh sebab itu, bersama dengan BPS melakukan survei tiap tahun.

Lebih lanjut, Anwar mengatakan, bahwa perlu mengintegrasikan berbagai indeks. Baik yang dikeluarkan BPS, Bappenas, Kemendes PDTT, Kemdagri dan lain-lain, sehingga pada tahun 2020-2024 ada data bersama untuk mengambil keputusan terutama pada desa. Selain PODES, ada IDM dan IPD sebagai basis mengeluarkan prioritas penggunaan dana desa.

"Rancangan RPJMN 2020-2024 ada target 7.000 desa tertinggal dientaskan dan 3.000 desa mandiri diciptakan. Sebelumnya 5.000 desa tertinggal dientaskan dan 2.500 desa mandiri diciptakan. Kita harus betul-betul meyakinkan setiap intervensi yang kita laksanakan. Dana desa akan naik komitemen Rp 75 triliun hingga total Rp 400 triliun pada 2024. Kalau tidak dikawal akan jadi bom waktu. Itulah pentingnya kualitas data untuk memperbaiki kebijakan," ujarnya.

Ia melanjutkan, harus dari data yg akurat sehingga tiap memberikan rekomendasi kepada desa tersebut bisa masuk akal. Kemudian, bagaimana menghasilkan data yang bisa mencerminkan tingkat intervensi dari dana desa terhadap perubahan situasi yang ada di desa. Dengan data yang akurat, berbagai kegiatan akan tepat sasaran.

Sementara itu Advisor Mendes PDTT Roosary Tyas Wardani mengatakan pentingnya data untuk menunjang tepatnya sasaran suatu kegiatan. Ia mencontohkan, jika Musrenbangdesa melakukan suatu kegiatan, maka dengan data yang akurat jadi tahu persis kebutuhan dan problemanya.

"Kalau kita memberikan suatu aktifitas kegiatan harus terangkat, makanya data itu sangat penting. Data itu harus akurat, diambil oleh SDM yang berkualitas dan mumpuni, sistem pengambilan data yang tepat, dan ditunjang kecepatan tinggi," terangnya.

Dalam Undang-undang desa pasal 86 menyatakan bahwa desa berhak mendapat akses informasi melalui sistem informasi desa (SID), begitu juga dalam Permendes no 10 tahun 2015 pasal 11 ayat 3. Melihat pentingnya SID tersebut, dirinya menyarankan perlunya sosialisasi SID yang dilakukan para pendamping.

"SID saat sosialiasi dengan pendamping, sehingga SID menjadi modul pembelajaran, jadi ada transfer knowledge untuk pemerintahan desa, bisa juga dalam akademi desa," sarannya.

Di Kabupaten Bogor sendiri ada 261 desa belum menerapkan SID, 139 desa sudah menerapkan secara offline dan 16 dess sudah menerapkan secara online.

"Belum semua bupati melakukan SID, jadi data masih ujug-ujug. Jadi data sangat penting, yang mengumpulkan data harus benar. Pakai saluran metode pendataan yang ada seperti SID, sehingga bangun desa tepat sasaran," pesannya.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Biro Perencanaan Muhammad Rizal mengatakan masalah data menjadi penting untuk mendapatkan perkembangan pembangunan desa karena kekosongan data akan menyulitkan.

"Dengan adanya rapat koordinasi ini diharapkan bisa mensinkronkan antara pemerintah pusat, provinsi, pemkab, Prtides. Kabupaten Bogor punya komitmen regulasi sistem informasi d desa. Salah satunya desa percontohan melalui SIPBM (Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat) dari UNICEF," pungkasnya.

Rapat Koordinasi ini untuk membahas dan mengelola kebijakan tentang sistim pengelolaan desa. Yang dibahas terkait regulasi dan rumusan kebijakan. Kemudian FGD dalam bentuk aplikasi yg akan dilakukan pelakunya langsung.

Acara selain dihadiri pejabat Kemendes PDTT, dihadiri juga oleh pemda Bogor, PMD Jawa Barat, LPPM IPB, ITB, UNPAD, TA P3MD Provinsi Jabar dan Kab Bogor. (Red-Zunus)

Bagikan:
Kamis 9 Mei 2019 23:0 WIB
Ramadhan Bagi Habib Luthfi Bulan untuk Bersama Keluarga
Ramadhan Bagi Habib Luthfi Bulan untuk Bersama Keluarga
Tamu Habib Luthfi, Wakapolri Konjen Ari Dono (foto: istimewa)
Pekalongan, NU Online
Jadwal yang sangat padat sebagai Rais 'Aam Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN), Ketua Forum Ulama Sufi Dunia, dan Khadimul Maulid menjadikan Habib Luthfi jarang berada di rumah bersama keluarga, setiap waktu yang ada selalu dimanfaatkan untuk kepentingan umat.

Akan tetapi, Ramadhan waktu sepenuhnya dimanfaatkan untuk bersama keluarga, meski tamu tak pernah sepi datang dari berbagai daerah, termasuk santri musiman selama bulan Ramadhan yang ingin mengaji bersama Habib Luthfi. 

Memasuki bulan Ramadhan, Habib Luthfi Bin Yahya mengubah total kegiatannya. Selama sebulan, pada bulan suci, dia memanfaatkan waktunya untuk beribadah total. Sehari-hari, ia mengaku hanya tidur 2-3 jam. Lainnya, untuk tadarus Al-Qur'an, salat, dzikir, doa. Karena itu, jangan heran jika Habib Luthfi mampu mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu sehari semalam.

“Selama bulan Puasa, kami menolak undangan ceramah di luar kota. Saya kira, sudah cukup saya ceramah di luar kota selama 11 bulan. Sedangkan sebulan ini, kami meningkatkan ibadah dengan mencegah hawa nafsu dan membersihkan diri dari dosa,” kata Habib Luthfi Bin Yahya.

Apa kegiatan sehari-hari selama bulan Ramadhan? Habib Luthfi mengaku setiap habis Ashar membuka al-Quran untuk dibaca. Sebab, membaca Al-Qur'an pada bulan Ramadhan pahalanya ditingkatkan. Hingga pukul 17.00, Habib baru berhenti. Selama sore itu, dia mengaku minimal membaca tiga juz. 

Setelah itu, istirahat untuk bertemu dengan keluarga. Sesekali keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menyaksikan keadaan di luar yang membuat badannya lebih fresh sambil menunggu waktu Maghrib, saatnya berbuka puasa.

Kendati siang menahan lapar, bukan berarti kiai dan habib kharismatik itu langsung makan nasi seperti orang pada umumnya. Ulama thariqah yang dikenal sebagai pemersatu umat itu mengaku hanya minum teh, lalu makan tiga buah kurma.

Meski demikian, bukannya dia meninggalkan anak dan istrinya dalam berbuka. Habib Luthfi ternyata juga sangat perhatian terhadap keluarganya. Karena itu, selama berbuka, dia menunggui anak dan istrinya sampai selesai. Bahkan sambil menunggu waktu Isya, ia bersama keluarganya kumpul bareng membicarakan berbagai hal untuk menambah keakraban dengan anak dan istri.

Baru pukul 22.00 atau 23.00, ulama kharismatik itu tadarus kitab suci lagi dan membaur bersama para santri musiman membahas problematika umat kekinian dengan mengkaji kitab-kitab kuning. Ibarat mobil, makin malam jalannya makin kencang. 

Sejak 10 tahun terakhir kediaman Habib Luthfi didatangi santri musiman dari pesantren berbagai daerah untuk mengaji khusus sejak tanggal 1 s/d 29 Ramadhan. Sebanyak 91 santri pada tahun 1440 Hijriyah ini selama puasa tidur di Gedung Kanzus Sholawat Kota Pekalongan. (Muiz)
Kamis 9 Mei 2019 19:30 WIB
600 Yatim Terima Santunan di Pesantren Al-Tsaqafah Jaksel
600 Yatim Terima Santunan di Pesantren Al-Tsaqafah Jaksel
Dubes Tiongkok Xiau Qian di Pesantren Al-Tsaqafah, Kamis (9/5).
Jakarta, NU Online
Bertempat di Pesantren Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan santunan anank yatim dan buka puasa bersama, Kamis (9/5) petang.

Pada kempatan tersebut, sebanyak 600 anak menerima manfaat bantuan berupa uang tunai dan sembako. Turut hadir Duta Besar Tiongkok, Xiau Qian.

Dubes Tiongkok mengatakan banyak berseliweran kabar tentang Muslim di Tiongkok yang kehidupannya terancam dan tidak tenang sebagai berita yang tidak benar.

"Berdasarkan UU Tiongkok kebebasan antarsuku selalu dilindungi," ujarnya saat memberikan sambutan pada saat kunjungan dan pemberian bantuan untuk santri di Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah, Jakarta Selatan, Kamis (9/5) sore.

Ia mengungkapkan bahwa ada juga diplomat Tiongkok yang berasal dari kalangan Muslim. Xiau menyebut Anwar, salah satu diplomat Tiongkok yang bertugas di Qatar.

Ia juga menceritakan bahwa salah satu diplomat perempuan Tiongkok di Indonesia juga ada yang berasal dari keluarga Islam. "Diplomat perempuan di Indonesia juga dari keluarga Muslim," ujarnya.

Umat Muslim di Tiongkok, jelasnya, bahu-membahu membangun negara. "Muslim Tiongkok selalu bergotong royong bersama membangun negara," katanya.

Mereka, lanjut Xiau, sama dengan suku lainnya membangun kehidupan yang lebih baik dan kerja keras demi negara.

Ia menuturkan bahwa lebih dari 23 juta penduduk Cina beragama Islam dari total 1,3 miliar jiwa. Mereka tersebar di berbagai kota, seperti Guangzhou, Xin Jiang, dan sebagainya.

Lebih lanjut, Xiau menceritakan bahwa di Cina terdapat sekitar 35 ribu masjid. Artinya, rata-rata setiap 400 Muslim ada masjidnya.

Kerukunan dan ketenangan Muslim Tiongkok itu diamini Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. Saat ia berkunjung ke salah satu kota di sana, ia mengikuti Jumat di sebuah masjid yang jumlah jamaahnya mencapai 20 ribu orang.

"Nih masjidnya," kata Kiai Sadi sembari menunjukkan gambar di ponsel pribadinya usai acara seremoni berakhir.

Kiai Said pun mengungkapkan bahwa masjid di sana sangat besar dan terus mengalami perkembangan dan perluasan demi menampung ribuan jamaahnya. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Kamis 9 Mei 2019 17:30 WIB
Yuk, Puasa dari Sifat-sifat Buruk
Yuk, Puasa dari Sifat-sifat Buruk
Ilustrasi (betterphotography.in)
Jakarta, NU Online
Direktur Sufi Center KH M. Luqman Hakim tidak memungkiri bahwa meskipun secara lahiriah manusia melaksanakan ibadah puasa, tetapi mereka kerap tidak bisa melepaskan diri dari sifat-sifat buruk. Ruginya, sifat buruk tersebut bisa merusak ibadah puasa menjadi tidak berpahala.

Dari banyak kasus tersebut, Kiai Luqman mengajak kepada umat Islam yang sedang menjalankan puasa agar benar-benar berpuasa dari sifat-sifat buruk.

“Jika sudah nawaitu shouma ghodin, yuk puasa dari sifat buruk,” tutur Kiai Luqman dikutip NU Online, Kamis (9/5) lewat twitternya.

Kiai Luqman merinci sifat-sifat buruk yang perlu dihilangkan di antaranya iri dengki, takabur, cinta dunia, dusta, marah-marah, kufur nikmat, dzolim, egois, rela nafsu, mengandalkan amal, riya', anti-sosial, su'udzon, ghibah, nyinyir, fitnah, maksiat, lupa diri, syahwat, congkak, keras kepala, keras hati, alpa dzikir, dan lain-lain.

Sebelumnya, Pakar Tasawuf itu mengatakan bahwa ketika seseorang sedang berpuasa, ia sedang kembali menuju fitrah dan diberi petunjuk melalui puasa bulan Ramadhan agar hati kita tersenyum setulus bayi.

“Agar kita mengenal kembali bayi maknawi (thiflul ma’ani) yang hakiki,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat itu. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG