Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Empat Tantangan Utama Kepemimpinan Jokowi di Periode Kedua

Empat Tantangan Utama Kepemimpinan Jokowi di Periode Kedua
Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin
Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin
Jakarta, NU Online
Pasangan capres-cawapres Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin telah memastikan diri menahkodai Indonesia untuk lima tahun mendatang. Hal ini menyusul putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruh dalil gugatan yang diajukan kompetiornya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Bagi Jokowi, ini adalah kemenangan kelima secara beruntun. Pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961, ini berhasil memenangkan setiap kontestasi politik elektoral  yang diikutinya sejak tahun 2005.

Karir kepemimpinan Jokowi dimulai bersama FX Hadi Rudyatmo setelah memenangkan Pilkada Solo dengan meraih suara 36,62 persen. Secara kalkulatif, perolehan suara itu memang tidak signifikan, tetapi bagi pendatang baru sudah cukup membanggakan.

Pada gelaran kedua Pilkada Solo tahun 2010, pasangan ini kembali dipercaya masyarakat setempat. Keduanya bahkan meraup suara yang sangat fantastis, 90,09 persen. Dalam catatan sejarah pemilihan kepala daerah di Indonesia, perolehan suara ini belum ada yang menandingi.

Kesuksesan Jokowi memimpin Kota Solo pada periode kedua menjadi sorotan publik, sekaligus mencuri perhatian para tokoh nasional. Tak hanya internal PDI-P, politisi lain seperti Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto secara khusus mendorong Jokowi untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012, atau sekitar 3 tahun sebelum masa jabatannya di Solo berakhir.

Tantangan itu diterima. Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok, yang saat itu menjadi kader Partai Gerindra, ditunjuk mendampingi Jokowi bertarung memperebutkan kursi utama DKI Jakarta. 

Bagi Jokowi-Ahok, ini pertarungan tidak mudah. Selain melawan petahana Fauzi Bowo yang didukung tujuh partai, ada nama lain yang sama-sama kuat, Hidayat Nur Wahid- Didik J Rachbini (PKS-PAN),  Faisal Basri- Biem Triani Benjamin (independen), Alex Nurdin- Nono Sampono (Golkar), dan mantan Komandan Pusat Polisi Militer, Hendardji Soepandji- Ahmad Riza Patria (independen).  

Setelah melewati putaran pertama dengan menyisihkan empat kandidat lain, pada babak penentuan (putaran kedua) pasangan Jokowi-Ahok mampu mengungguli suara Fauzi Bowo- Nachrowi Ramli dengan perolehan suara 2.472.130 atau  53,82 persen. 

Jenjang kepemimpinan Jokowi berlanjut ke lebih tinggi.  Setelah hanya sekitar dua tahun memimpin ibu kota, pada tahun 2014 secara resmi ia dicalonkan sebagai capres bersama Jusuf Kalla. Lawan kuat Jokowi hanya satu, Prabowo Subianto. Jokowi dan Jusuf Kalla berhasil mengalahkan Prabowo-Hatta dalam sekali pertandingan Pilpres, dengan meraih 53,15 persen suara. 

Tantangan Periode Kedua

Pengamat kebijakan publik, Sumantri Suwarno, mengungkapkan, rekor kemenangan Jokowi akan sulit dipecahkan kembali di masa mendatang. Sekalipun hal itu bisa disamai oleh pemimpin-pemimpin baru yang kini sedang menduduki kepala daerah, misalnya, Ridwan Kamil, Emil Dardak, ataupun Tri Rismaharini.

"Rekor kemenangan yang diperoleh Pak Jokowi akan sulit dipecahkan kembali di masa mendatang. Dia berhasil memenangkan semua kontes politik yang diikutinya dari walikota hingga presiden dengan berjenjang dan berurutan," kata Sumantri Suwarno, di Jakarta, Sabtu, (29/6).

Meski demikian, Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, ini memberikan catatan atas keberhasilan Jokowi. Menurutnya, kepemimpinan Jokowi di periode kedua bersama KH Ma’ruf Amin akan sempurna jika empat indikator dasar mampu diselesaikan sebelum paripurna 2024 mendatang.

"Pertama, mencapai rata-rata pertumbuhan ekonomi minimal 5,5 di 2019-2024 dengan akhir periode 2024 minimal 6 persen," ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, kata Mantri, pemerintah perlu menyusun target dan prioritas yang realistis dan kredibel, dengan memperhatikan dinamika lokal dan global secara tajam.

Selain itu, tambah Mantri, pemilihan tim ekonomi yang kompeten dan kredibel, serta memiliki team work antarkementerian yang solid jadi syarat penting. Di samping, penguatan sektor-sektor yang mendorong peningkatan daya beli masyarakat melalui penguatan sektor pertanian, koperasi dan UKM, serta perdagangan. 

"Ketiga sektor ini memiliki kinerja yang buruk di periode pertama, sehingga ketika pemerintah mengejar infrastruktur, hanya kelompok bisnis besar dan BUMN yang menikmatinya," kata Mantri.

Indikator keberhasilan kedua, menurut Mantri, mengembalikan kemandirian nasional dalam pembangunan baik permodalan, sumberdaya, maupun tata kelolanya. 

"Relasi internasional yang selama ini sudah dibangun harus diletakkan dalam kerangka tujuan tersebut, " ujar lulusan sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia itu.

Dari sisi sosial-politik, lanjut Mantri, keberhasilan pemerintahan Jokowi pada periode ini layak diapresiasi ketika mampu menyatukan kembali keterbelahan atau polarisasi masyarakat yang ditimbulkan karena perbedaan pandangan politik.  

"Tantangan berikutnya tentu mewujudkan rekonsiliasi nasional baik secara politik di level elite maupun sosial masyarakat," tuturnya.

Selama periode pertama kepemimpan Jokowi, publik juga menyoroti kinerja penegakkan hukum. Publik menilai bahwa kinerja Jokowi terhadap kasus-kasus tertentu seperti pelanggaran HAM dan praktik korupsi di instansi pemerintah belum diselesaikan secara baik. 

"Mengembalikan persepsi atas adilnya penegakkan hukum yang seolah-olah terseret dalam rivalitas politik itu sangat penting," tandas Mantri.

Mantri berharap Jokowi bisa mencapai prestasi maksimalnya di periode kedua sehingga Indonesia bersiap menuju 5 negara besar ekonomi dunia di 2045.

"Kalau semuanya bisa tercapai akan sanggat membanggakan pendukungnya dan memahamkan lawan-lawan politiknya," tutup Mantri. (Zunus Muhammad)
BNI Mobile