IMG-LOGO
Daerah

Pesan Almaghfurlah KH Syansuri Badawi Agar Anak Alim dan Shalih

Ahad 30 Juni 2019 6:0 WIB
Bagikan:
Pesan Almaghfurlah KH Syansuri Badawi Agar Anak Alim dan Shalih
Jombang, NU Online
Adalah mimpi setiap orang tua memiliki anak yang alimmjuga shalih. Alim dalam artian menguasai pengetahuan yang diberikan para kiai dan ustadz kala di pesantren. Termasuk tentu saja sejumlah disiplin ilmu yang disampaikan di lembaga pendidikan. Yang jauh lebih penting adalah memiliki anak shalih karena berakhlak mulia dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Untuk dapat merengkuh itu semua sebenarnya mudah. “Kunci agar anak kita alim dan shalih adalah harus dimulai dari orang tua,” kata H Lukman Hakim, Sabtu (29/6).

Mudir Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ini mengingatkan pesan tersebut kepada sejumlah wali santri dan murid di aula masjid pesantren setempat. 

Menurutnya, apa yang disampaikan bukan semata teori dan karangan dirinya. “Ini pesan dari almaghfurlah KH Syansuri Badawi,” jelasnya.

Bahwa suatu ketika ada wali santri yang pasrah kepada KH Syansuri Badawai. “Harapan sang anak kelak menjadi alim serta shalih dan shalihah,” kata H Lukman. 

Mendengar harapan salah seorang wali santri tersebut, KH Syansuri Badawi berujar: “Agar anak kita alim dan shalih sebenarnya gampang. Kita sebagai orang tua harus menjadi shalih terlebih dahulu,” kata H Lukman menirukan dialog Kiai Syansuri.

Dalam pandangan murid langsung KH M Hasyim Asy'ari tersebut, berharap anak alim dan shalih tidak bisa tiba-tiba. “Sebelum anak besar, sudah terdidik. Bahkan saat proses berhubungan suami istri juga diawali dengan cara yang shalih,” katanya.

Karena itu, mengenang pesan Kiai Syansuri, H Lukman mengingatkan calon orang tua untuk mengawali proses reproduksi dengan cara yang dianjurkan. “Dari mulai shalat sunnah dulu, membaca surat Maryam, Yusuf, baru kemudian berhubungan dengan pasangan,” sergahnya. 

Sehingga bila cara shalih tersebut tidak dilakukan, jangan disalahkan kalau anak kurang cakap. “Karena ketika memproses ada yang salah,” tegasnya. 

Namun bila merasa telah melalui proses yang salah, hal tersebut tidak harus diratapi. “Ya sudah, sekarang ini saatnya menjaga anak,” ungkapnya.

Bagaimana cara menjaga anak saat di pesantren? “Yakni anak kita dijaga dari hal-hal yang haram,” pesannya. 

Kalau sudah di pondok, jangan ada kiriman haram yang diterima anak. “Bila kita membiayai anak dengan penghasilan yang haram, maka pikiran anak jadi judek. Karena kalau makan satu suapan saja dari barang haram, maka hatinya akan gelap,” sergahnya. 

Karena itu pada kesempatan tersebut, H Lukman mengajak para wali santri untuk memperbanyak permintaan ampun yakni membaca istighfar dalam jumlah yang tidak terbatas. “Itu juga yang diajarkan Hadratussyaikh, KH M Hasyim Asy’ari,” ujarnya.

Setelah memperbanyak istighfar dan memastikan kirikan anak dari rezeki halal, berikutnya adalah ikhlash. “Pasrahkan saja perkembangan anak-anak anda kepada kami,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)  

Bagikan:
Ahad 30 Juni 2019 23:58 WIB
PW Pergunu Bali Harap Lahir Kader NU yang Andal
PW Pergunu Bali Harap Lahir Kader NU yang  Andal

Denpasar, NU Online
Tidak salah Pimpinan Wilayah (PW)  Pergunu Bali memilih H. Makhfud sebagai ketuanya. Sebab, berkat polesan dan sentuhan tangannya penampilan Pergunu Bali semakin seksi.

Di tengah kesibukannya sebagai asesor provinsi dan pengawas madrasah di Kota Denpasar, ia selalu mempunyai waktu untuk mengurus Pergunu.

Soal waktulah sesungguhnya yang membuat banyak orang tidak maksimal dalam menunaikan kewajibannya. Tapi ini tidak berlaku bagi H Makhfud.

“Ketika saya menerima jabatan itu (Ketua PW Pergunu),  maka saya wajib punya waktu mengabdi di Pergunu,” tukasnya di sela-sela pertemuannya dengan Korwil PP Pergunu di Denpasar, Jumat (28/6).

Menurutnya, waktu menjadi hal yang  sangat krusial dalam mengemban sebuah jabatan. Apalagi mengurus NU di daerah ‘terpencil’. Maka memang harus disediakan waktu yang cukup untuk berkhidmah pada NU melaui Pergunu.

“Saya berpikir ingin membesarkan Pergunu di Bali,” tukasnya.

Konfigruasi agama-agama yang notabene Islam merupakan minoritas di Bali, tak membuat H Makhfud berkecil hati. Justru dirinya mengaku semakin tertantang untuk memajukan Pergunu di Bali.

“Dan yakin saya bisa, atas dukungan dan doa pengurus yang lain, tentu,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut H. Makhfud memaparkan keinginannya agar Rakerwil Pergunu Bali tanggal 13-14 Juli 2019 mendatang di Bedugul Tabanan tersebut dapat dijadikan momentum untuk konsolidasi, di samping malahirkan program-program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Harapa saya juga agar semua PC dan PAC yang ada bisa hadir dan memaksimalkan pertemuan tersebut sebagai ajang konsolidasi dan penguatan PW Pergunu Bali,” ucapnya.

H Makhfud bertekad kelak di Bali akan muncul kader NU yang terlahir dari Pergunu untuk dakwah, dan demi mewujudkan  masyarakat yang moderat, inklusif dan menjadi obor muslim yang berterima dengan semua kalangan.
“Itu harapan saya dan harapan kita semua,” pungkasnya. (Aryudi AR)

Ahad 30 Juni 2019 23:0 WIB
Masuk Nominasi NU Jatim Award, Ini Program Unggulan Muslimat NU Blitar
Masuk Nominasi NU Jatim Award, Ini Program Unggulan Muslimat NU Blitar
Pemaparan program Muslimat NU Blitar di NUJatim Award
Surabaya, NU Online
Pengurus Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Blitar, Jawa Timur dinyatakan masuk sebagai salah satu nominasi yang akan bertanding di babak final ajang NU Jatim Award 2019. Kegiatan ini diadakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dan puncak dari kegiatan ini berlangsung di Surabaya pada Ahad (30/6) hingga Selasa (2/7).

Untuk Muslimat NU, ada enam cabang yang berhasil masuk pada tahap grand final ini, yakni Pamekasan, Lamongan, Jombang, Sidoarjo, Kota Batu, dan Kabupaten Blitar. Keenam cabang Muslimat NU ini memberikan presentasi apa saja program unggulan yang mereka miliki pada Ahad (30/6) yang berlangsung di Gedung PWNU Jawa Timur.

Pada saat memberikan presentasi atas program-program unggulannya, Muslimat NU Blitar langsung dipimpin oleh ketua mereka, Hj Masluchy. Sebelumnya, rombongan ini menampilkan yel-yel yang telah mereka ciptakan sebelumnya.

Ada beberapa program unggulan yang ditampilkan saat pembacaan presentasi. yakni pengajian rutin di 22 anak cabang, pelatihan manasik haji bagi muslimah dan anak-anak, pondok janda lansia, penerbitan buku Risalah Shalat, dan masih banyak lagi lainnya.

Hj Masluchy yang merupakan pengasuh pesantren putri Nasyrul Ulum Modangan Nglegok, Blitar ini menjelaskan program dengan rinci. Yang pertama ia jelaskan adalah mengenai pelaksanaan pengajian yang diadakan di 22 anak cabang yang ada di bawah PC Muslimat NU Blitar.

“Pengajian rutin yang kami adakan di 22 anak cabang yang berjalan rutin tiap Rabu Pahing. Alhamdulillah berjalan dengan lancar, meskipun medan cukup berat,” jelasnya.

Ia melanjutkan, Blitar merupakan daerah yang lebih kuat nasionalisnya. Jadi, pengadaan pengajian ini merupakan wujud penguatan keislaman terhadap masyarakat Blitar. “Untuk melakukan penguatan Islam di Blitar dengan melalui pengajian rutin,” ungkapnya.

Tak hanya itu saja, ternyata adanya pengajian ini sangat membantu masyarakat, khususnya para pedagang. Bahkan pada saat ini sudah terbentuk komunitas pedagang Muslimat NU Kabupaten Blitar. “Bahkan sudah ada sekitar 70 pedagang yang masuk ke dalam grup komunitas pedagang Muslimat NU Kabupaten Blitar. Mereka berasal dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari Sidoarjo dan Kediri,” tukasnya.

Selain pengajian rutin, ada juga program berupa pemberian pelatihan manasik haji bagi muslimah dan anak-anak. “Dalam hal ini, kami bekerjasama dengan pihak Kementerian Agama. Untuk pelatihan manasik haji bagi anak-anak sendiri merupakan langkah untuk pengenalan sedini mungkin, bahkan pesertanya hingga ribuan,” bebernya.

Ia melanjutkan dengan memberikan penjelasan terhadap program Pondok Janda Lansia. Menurutnya, program ini sebagai bentuk kepedulian dari Muslimat NU terhadap para janda lansia akan kebutuhan spiritual dan rohani.

“Selain pembinaan ibadah, dalam program ini juga diadakan senam lansia. Harapan kami adalah selain mendapatkan jiwa yang sehat, para peserta juga mendapatkan kesehatan rohani. Dan kegiatan ini semua ditanggung oleh Muslimat NU Blitar,” ujarnya.

Di akhir, ia mengatakan program terdekat dari Muslimat NU Kabupaten Blitar adalah peluncuran buku Risalah Shalat. Kegiatan ini rencananya akan berlangsung pada saat pelaksanaan Halal bi Halal yang akan dihadiri oleh Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa, pada Ahad (7/7).

“Penerbitan buku Risalah Shalat bertujuan untuk membantu para muslimah yang masih awam. Insyaallah akan kami launching pada saat halal bi halal bersama bu Khofifah pada Ahad (7/7) nanti,” pungkasnya. (Hanan/Muiz)

Ahad 30 Juni 2019 22:0 WIB
Batsul Masail di Kota Tegal Kembali Menggeliat
Batsul Masail di Kota Tegal Kembali Menggeliat
Kegiatan bahtsul masail NU Kota Tegal
Tegal, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Lembaga Batsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Kota Tegal, Jawa Tengah M Ridho berharap Kota Tegal meskipun wilayah kecil dan kota metropolis, jangan sampai kegiatan batsul masail ditiadakan alias vakum. "Justru saya berharap minimal dapat berjalan, syukur-syukur bisa semarak seperti di kabupaten-kabupaten lainnya," ujar Ridho kepada NU Online di gedung NU Kota Tegal, Sabtu (29/6).

Kegiatan Lembaga Batsul Masail (LBM) NU Kota Tegal, kini aktif kembali setelah bertahun tahun mengalami kevakuman. Kegiatan tersebut dilakukan setiap awal bulan, dan diikuti perwakilan MWCNU dan Ponpes se-Kota Tegal. 

Sebetulnya, kata Ridho, yang juga aktif dalam kegiatan batsul masail Lirboyo, justru di kota metropolis seperti Kota Tegal inilah, banyak persoalan-persoalan yang perlu dikaji. "Apalagi dengan teknologi saat ini yang semakin maju. Salah satu contoh yang saat ini sedang kami bahas, yakni mengenai kesucian pakaian yang di cuci melalui jasa laundry," jelasnya.

Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tegal Hasan MK yang menaungi lembaga batsul masail juga mensupport penuh kegiatan tersebut. "Seluruh sarana dan prasarananya biar kami dari PCNU yang menghandle," terangnya.

Katib Syuriyah PCNU Kota Tegal Kiai Yazid Muttaqien menilai, kumpul bareng sama para ustad muda dalam majelis bahsul masail itu asyik. Apalagi mendiskusikan masalah agama bukan berdasar akal sendiri, tapi berdasar pendapat para ulama yang terserak dalam berbagai kitab yang ditulis ratusan tahun lalu. 

"Ke depan, dari wadah batsul masail inilah, para asatidz muda dari berbagai lulusan pesantren dapat ikut bergabung bersama dalam berjuang di tubuh NU demi kemaslahatan umat dan juga menjaga tradisi amaliyah aswaja," harapnya. 

Bahtsul Masail merupakan sebuah forum diskusi antar ahli keilmuan Islam -utamanya fiqih- di lingkungan pesantren-pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Di forum ini, berbagai macam persoalan keagamaan yang belum ada hukumnya, belum dibahas ulama terdahulu, dibahas secara mendalam. 

Mengutip pendapat KH Sahal Mahfudh, Anam menyebutkan bahwa bahtsul masail tidak berbeda dengan istinbath (pengambilan hukum) atau ijtihad. Karena kedua istilah tersebut cenderung “wah”  di lingkungan pesantren NU, maka kemudian digunakan istilah bahstul masail.

“Lingkungan NU Tidak berani memakai istilah itu (istinbath atau ijtihad), maka dibuatlah istilah bahtsul masail,’ jelasnya.

Menurut Anam, bahtsul masail memiliki lima keunikan atau kekhasan. Pertama, konsep bersama-sama (jama’i). Forum bahtsul masail yang diselenggarakan di lingkungan NU pasti melibatkan banyak orang dari berbagai macam disiplin ilmu seperti fiqih, ushul fiqih, hadits, dan lainnya. Di sini, sebuah persoalan dilihat dan ditinjau secara komprehensif.  

Kedua, tidak mengutip langsung Al-Qur’an dan hadits. Anam mengatakan, adalah sesuatu yang berbahaya kalau merujuk langsung kepada Al-Qur’an. Mengapa? Al-Qur’an itu memiliki makna dan tafsiran yang banyak sekali. Kalau langsung mengutip Al-Qur’an, maka dikhawatirkan akan merujuk arti yang satu yaitu arti terjemahan.

Ketiga, mengutip pendapat ulama secara qouliyah. Di forum-forum bahtsul masail, para peserta seringkali merujuk kepada pendapat ulama terdahulu dalam menyikapi sebuah masalah. Biasanya mereka menarik pendapat terdahulu dengan persoalan yang sedang terjadi saat ini. 

Keempat, selalu mengutip teks-teks berbahasa Arab. Bagi Anam, ini adalah sesuatu yang problematis karena yang dikutip dalam bahtsul masail hanya kitab-kitab yang berbahasa Arab. Sedangkan, banyak kiai dan ulama NU yang menulis dalam bahasa Indonesia dan pegon. Namun karena karya tersebut ditulis di luar bahasa Arab, maka tidak dikutip. Padahal isinya tidak kalah dengan yang berbahasa Arab, bahkan bisa saja lebih berisi.

Kelima, anggotanya tidak tetap. Para anggota yang bersidang di sebuah forum bahtsul masail tidak lah tetap. Biasanya mereka berganti-ganti. Namun yang pasti, anggota yang ikut bersidang dalam bahtsul masail memiliki kecakapan dalam bidang keilmuan Islam. (Wasdiun/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG