IMG-LOGO
Nasional

Sore Ini KPU Tetapkan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih

Ahad 30 Juni 2019 9:45 WIB
Bagikan:
Sore Ini KPU Tetapkan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih
Petugas keamanan bersiaga di depan Kantor KPU, Sabtu 29/6 (foto: Antara)
Jakarta, NU Online
Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menetapkan presiden dan wakil presiden terpilih, Ahad (30/6) hari ini. Penetapan dilakukan melalui rapat pleno terbuka yang dimulai pukul 15.30 WIB di Kantor KPU, Jakarta.

Kantor Berita Antara mewartakan pada rapat pleno tersebut, KPU mengundang masing-masing pasangan calon (paslon) beserta timnya, partai politik, dan lembaga penyelenggara pemilu seperti Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) untuk hadir dalam pleno penetapan nanti.

Rencananya pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, menurut Wakil Sekretaris TKN, Verry Surya Hendrawan dijadwalkan akan menghadiri rapat pleno KPU tersebut. Rombongan besar Jokowi-Ma’ruf Amin itu, akan dipimpin oleh Ketua TKN, Erick Thohir.

Usai rapat penetapan paslon, KPU akan memberikan kesempatan kepada masing-masing pasangan calon untuk melakukan konferensi pers dan memberikan sambutannya.

KPU kembali menggelar rapat pleno penetapan presiden-wakil presiden terpilih setelah MK memutuskan untuk menolak gugatan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU), yang diajukan pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, di Jakarta, Kamis (27/6) malam.

Pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin menjadi paslon terpilih dengan perolehan suara 85.607.362 berdasarkan hasil penghitungan KPU RI.

Sebelumnya diberitakan calon presiden nomor urut 01 pada pemilu 2019, Joko Widodo, mengungkapkan, pemilu yang telah dijalani oleh bangsa Indonesia sebagai pembelajaran dan pendewasaan dalam berdemokrasi. Dengan diumumkannya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Kamis (27/6) malam, Jokowi menyebutkan rakyat sudah berbicara dan berkehendak.

"Suara rakyat sudah didengar, rakyat sudah memutuskan dan telah diteguhkan oleh jalur konstitusi dalam jalan bangsa yang beradab dan berbudaya," kata Jokowi dalam sambutan usai pengumuman MK di Jakarta.

Jokowi menyatakan, dalam sepuluh bulan ini, melalui pemilu, rakyat telah melalui tahapan-tahapan seperti pendaftaran, kampanye, pencoblosan, penghitungan suara, penetapan hasil rekapitulasi oleh KPU, pengawasan oleh Bawaslu, hingga penyelesaian sengketa pilpres di MA dan MK.

"Semua tahapan telah kita jalani secara terbuka, secara transparan, secara konstitusional. Dan syukur alhamdulilah malam hari ini kita telah sama-sama mengetahui hasil putusan dari Mahkamah Konstitusi. Kita semua menyaksikan proses persidangan di MK yang diselenggarakan secara adil dan transparan, secara terbuka, serta disaksikan seluruh rakyat Indonesia melalui televisi maupun media elektronik lainnya," papar Jokowi.

Pernyataan senada disampaikan calon wakil presiden terpilih yang juga Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin. Menurut Kiai Ma'ruf, kemenangan kubu 01 pada hakikatnya bukan kemenangan satu pihak. "Tetapi kemaslahatan dan kebaikan seluruh bangsa," katanya.

Ia meminta kemenangan tersebut disikapi dengan sudut sebagai bangsa untuk mengutuhkan, tidak ada lagi friksi-friksi. "Kita adalah satu, kita adalah Indonesia," ujarnya.

Kiai Ma'ruf mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersama-sama dan bahu membahu menyingsingkan lengan baju membangun Indoesia yang adil dan sejahtera. "Mulai (Kamis) malam ini, Bismillah bersama-sama membangun negeri ini untuk kebaikan bangsa Indonesia," tegas Kiai Ma'ruf.

Tak lupa, Kiai Ma'ruf memohon doa dan dukungan, serta pengertian dan kesiapan seluruh masyarakat untuk memajukan bangsa Indonesia. (Kendi Setiawan)


Bagikan:
Ahad 30 Juni 2019 23:59 WIB
Kebanggaan Ulama Indonesia dengan Keindonesiaannya
Kebanggaan Ulama Indonesia dengan Keindonesiaannya
Habib Ahmad bin Novel, Ketum Majelis Hikmah Alawiyah
Jakarta, NU Online
Sebuah keniscayaan Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, tradisi, adat istiadat, hingga bahasa. Namun, semua hal tersebut tetap dipersatukan dengan identitas keindonesiaan atas dasar ungkapan Mpu Tantular yang begitu tenar, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Hal yang hampir tidak pernah dimiliki oleh bangsa negara lainnya.

Kebanggaan terhadap Tanah Air leluhur tetap tertanam dalam setiap diri bangsa Indonesia. Tak terkecuali para ulama-nya yang bahkan begitu dikenal di dunia internasional dengan karya-karyanya yang sampai saat ini masih terus dipelajari. Sebut saja, Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani, Syekh Mahfudz al-Tarmasi, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Unsur keindonesiaan tiga ulama kaliber dunia itu masih tetap melekat dalam dirinya. 

“Gelar al-Bantani merupakan bukti keindonesiaan beliau (Syekh Nawawi). Siapa yang tidak mengenal Syekh Mahfudz at-Tarmisi. Gelar at-Tarmisi merupakan jati diri keindonesiaan beliau. Karya-karya beliau di berbagai penjuru, di Mesir di Hadramaut, di Yaman dipakai dan dibaca sebagai rujukan,” jelas Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan, Ketua Umum Majelis Hikmah Alawiyah (Mahya), saat memberikan sambutan pada peresmian Maktabah Kanzul Hikmah di Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (29/6).

Di samping itu, gelar al-Fadani yang disematkan pada nama Syekh Yasin juga, menurutnya, merupakan kebanggaan ulama hadis kenamaan itu atas leluhurnya. “Gelar Fadani merujuk pada leluhur beliau, Padang, yang merupakan kebanggaan yang luar biasa,” katanya.

Kebanggaan akan keindonesiaan itu tidak hanya dirasakan oleh ulama asal Indonesia saja. Bahkan para ulama yang menetap di Indonesia juga bangga dengan keindonesiaannya, tak terkecuali para habib. “Indonesia bagi kami adalah bagaikan kota suci Madinah bagi Rasulullah saw. Hidup dan mati kami untuknya selalu,” jelasnya.

Habib Ahmad juga menjelaskan kebanggaan kakeknya, Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, dan dua karibnya, yakni  Habib Ali Kwitang dan Habib Ali bin Husein al-Atthas Bungur, atas keindonesiaan mereka.

“Mereka adalah ulama-ulama besar yang sangat dihormati oleh dunia Islam. Dan yang istimewa adalah mereka bangga dengan identitas mereka sebagai orang Indonesia. Gelar Kwitang dan Bungur yang melekat pada keduanya cukup membuktikan hal itu,” terangnya.

Kebanggaan tersebut juga melekat dalam diri kakeknya, Habib Salim. Dalam lebih dari 150 karya tulisnya yang masih berbentuk manuskrip dalam perpustakaan tersebut, sosok ulama yang berasal dari Hadhramaut itu membubuhi namanya dengan al-Jawi al-Indunisi.

“Pada hampir semua karya tulisnya, beliau cantumkan nama beliau dan gelar keilmuan beliau. Tetapi, yang istimewa adalah gelar al-Jawi al-Indunisi selalu tertera di dalam karya tulis beliau sebagai jati dirinya, yakni orang Indonesia,” jelasnya yang langsung disambut riuh tepuk tangan.

Menurut Habib Ahmad, banyaknya ulama yang bangga dengan keindonesiaannya adalah salah satu dari sekian banyak kekayaan yang dimiliki oleh Negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Hal itu sangat patut disyukuri.

Di antara kekayaan Indonesia adalah banyak ulama hebat serta banyaknya karya ilmiah yang sangat luar biasa. Ulama Nusantara bukanlah orang yang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang mencapai martabat yang tinggi di dalam keilmuan yang luar biasa,” tandasnya.

Maktabah Kanzul Hikmah tersebut diresmikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin didampingi oleh Muhammad Quraish Shihab dan Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan. (Syakir NF/Musthofa Asrori)
Ahad 30 Juni 2019 23:30 WIB
Beda Kiai Cholil dan Gus Mus dalam Berceramah
Beda Kiai Cholil dan Gus Mus dalam Berceramah
Kiai Cholil dan Gus Mus. (Foto: bangkitmedia.com)
Jakarta, NU Online
Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitulah ungkapan yang tepat untuk duo kakak beradik, KH Cholil Bisri dan KH Ahmad Mustofa Bisri. Selain sebagai politisi yang pernah duduk di Senayan, keduanya juga dikenal oleh masyarakat sebagai penceramah kondang.

Tak bisa dinafikan lagi, kemahiran Kiai Cholil dan Gus Mus dalam berpidato tentu saja turun dan diilhami oleh sosok ayahandanya, KH Bisri Mustofa. Almaghfurlah Mbah Bisri merupakan sosok singa podium yang disegani banyak orang. Tak pelak, kehadirannya senantiasa ditunggu para jemaah pengajian di manapun tempat yang bakal dihadirinya.

Namun, meskipun keduanya lahir dari rahim yang sama, tentu saja memiliki berbagai sisi yang beda. Salah satunya dalam hal ceramah yang biasa keduanya lakoni. Adalah Ulil Abshar Abdalla, menantu KH Mustofa Bisri, yang mengungkapkan perbedaan keduanya itu dalam hal berceramah.

Saat diundang oleh Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) Jakarta dalam acara Picnikustik, Gus Ulil diminta oleh moderator, Ustadz Ibnu Sahroji, untuk lebih dahulu memberikan penjelasannya tentang tasawuf dan konsep ikhlas. Namun, ia menolaknya dan meminta moderator untuk mempersilakan Habib Husein Jafar al-Hadar yang lebih dulu memaparkan perihal dua tema tersebut.

Moderator pun manut. Habib Husein dipersilakan dan langsung menjelaskan tasawuf dan ikhlas disertai analogi dan berbagai contohnya dalam acara yang dihelat di Twin House, Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan, Jumat (28/6) itu.

Selepas Habib Husein menghentikan pembicaraannya, moderator pun mempersilakan kembali Gus Ulil menyampaikan berbagai hal tentang dua tema tersebut. Namun, sebelumnya, lebih dulu menjelaskan alasannya memilih untuk mengambil waktu pemaparannya setelah Habib Husein.

“Saya ingin mengamalkan yang dikisahkan oleh Gus Mus, oleh mertua saya, oleh bapaknya istri saya,” kata suami Ienas Tsuroiya ini.

Gus Ulil mulai menceritakan kisah yang didengar dari mertuanya itu. Suatu hari, Gus Mus ditanya oleh seorang kiai dari Jawa Tengah perihal memilih datang lebih awal atau di akhir acara saat diundang untuk berceramah.

Datang lebih awal, jelas Gus Ulil, tentu akan mendengarkan serangkaian sambutan dari sipil hingga militer. Menyebut demikian langsung disambut gelak tawa para hadirin yang memadati halaman tempat acara. Sementara datang di akhir tinggal naik panggung langsung berceramah tanpa perlu mendengar rentetan pidato yang kerap kali membosankan itu, katanya.

Menjawab hal tersebut, Gus Mus menyebut ada dua mazhab. “Kata Gus Mus, ada dua mazhab,” ujarnya disambut derai tawa hadirin. “Mazhab saya dan mazhab kakak saya. Kakak saya itu artinya Kiai Cholil,” imbuh pengampu pengajian kitab Ihya Ulumiddin daring (online) itu. 

Mazhab Kiai Cholil, jelas Gus Ulil, datang menjelang naik panggung. Ayah Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas itu enggan mendengar pidato-pidato orang sebelumnya.

“Kalau saya datang lebih awal, naskah yang sudah saya siapkan bisa terganggu karena saya mendengarkan pidato-pidato orang sebelumnya. Nanti rusak semua. Tidak mau persiapan pidato saya dari rumah terganggu semua,” kata Gus Ulil menjelaskan alasan Kiai Cholil.

Hal tersebut berbeda dengan adiknya, yakni KH Mustofa Bisri yang lebih memilih senang datang lebih awal. “Kenapa? Karena saya gak pernah persiapan,” jelasnya yang sontak disambut ledakan tawa para hadirin yang terdiri dari berbagai kalangan itu.

Jadi, lanjut Gus Ulil, Gus Mus itu melakukan persiapan pidatonya itu dengan mendengarkan pidato sebelumnya. “Jadi saya mengikuti mertua saya,” kata pria asal Pati ini. (Syakir NF/Musthofa Asrori)

Ahad 30 Juni 2019 17:15 WIB
KPU Tetapkan Jokowi-Ma'ruf Amin Presiden-Wapres 2019-2024
KPU Tetapkan Jokowi-Ma'ruf Amin Presiden-Wapres 2019-2024
Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin tiba di Gedung KPU, Ahad (30/6) sore.
Jakarta, NU Online
Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024. Penetapan ini dilakukan dalam rapat pleno terbuka di Kantor KPU, Jakarta, Ahad (30/6) sore.

"Menetapkan pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih dalam pemilihan umum presiden dan wakil presiden tahun 2019 nomor urut 01 Joko Widodo dan dan KH Ma'ruf Amin," kata Ketua KPU RI Arief Budiman, sebagaimana diberitakan Kantor Berita Antara.

Arief membacakan perolehan suara masing-masing pasangan, yakni Jokowi-Ma'ruf memperoleh 85.607.362 suara atau 55,50 persen, sementara pasangan Prabowo-Sandiaga memperoleh 68.650.239 suara atau 44,50 persen.

Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin tiba di Gedung KPU pada pukul 15.50 WIB. Jokowi tampak mengenakan atasan berwarna putih dan celana hitam, sementara Ma'ruf Ami memakai atasan putih serta sarung berwarna hijau.

Sebelumnya diberitakan, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin merupakan pemimpin seluruh rakyat. Hal ini ia sampaikan pasca Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan perselisihan hasil pemilihan presiden 2019, Kamis (27/6) malam.

"Joko Widodo-Ma'ruf Amin pemimpin nasional, presiden seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya presiden kelompok tertentu tapi seluruh rakyat Indonesia di bawah pimpinan presiden Jokowi dan wakil presiden Ma'ruf Amin," ujar Kiai Said.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Islam untuk menunjukkan pada dunia bahwa demokrasi di Indonesia berjalan dengan baik dan dewasa.

"Kepada seluruh masyarakat Indonesia terutama umat Islam, mari kita tunjukkan pada dunia internasional bahwa kita umat Islam Indonesia sudah dewasa, sudah mengerti tentang berdemokrasi, berhasil menjalankan demokrasi dengan baik, dengan legowo dan bermartabat sehingga siapa pun pemenangnya itulah presiden kita, itulah wakil presiden kita," ujarnya. (Kendi Setiawan)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG