IMG-LOGO
Fragmen

Rekonsiliasi Politik Tingkat Tinggi ala Gus Dur

Ahad 30 Juni 2019 17:45 WIB
Bagikan:
Rekonsiliasi Politik Tingkat Tinggi ala Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid (Dok. Pojok Gus Dur)
Langkah pemulihan keamanan dan persaudaraan atau rekonsiliasi antar-anak bangsa secara cepat dilakukan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di tengah menghadapi pemakzulan (impeachment) dirinya oleh Parlemen, yaitu DPR dan MPR. Dewan Perwakilan Rakyat kala itu dipimpin oleh Akbar Tandjung dan Majelis Permusyawaratan Rakyat diketuai oleh Amien Rais.

Hingga saat ini, secara hukum dan konstitusional Gus Dur tidak pernah terbukti melakukan pelanggaran yang dituduhkan. Baik skandal Buloggate dan Bruneigate. Situasi konflik yang menyebabkan Gus Dur berhadapan dengan DPR dan MPR ialah lebih kepada proses pemecatan dan pengangkatan sejumlah pejabat negara, seperti menteri dan kapolri. Bahkan alasan terakhir bisa dikatakan sebagai pemicu makin runcingnya konflik Gus Dur dengan Parlemen.

Terancam dilengserkan parlemen, sejumlah pendaftar pasukan pembela Presiden Abdurrahman Wahid di Pos Komando di berbagai daerah di Indonesia semakin bertambah. Mereka menamakan dirinya sebagai pasukan berani mati. Namun, Gus Dur mengaku dirinya tak perlu berbuat apa pun atas program berani mati membela sosok Presiden itu. Pasalnya, dia menganggap aksi pendukungnya selama ini tak pernah anarkis.

Protes dari warga NU kian memuncak tatkala memasuki tahun 2001. Kompas pada 22 April 2001 menyebut bahwa pada bulan April 2001 sudah terdapat sekitar 300.000 barisan massa Nahdliyin yang siap memberangkatkan diri ke Jakarta. Namun, Gus Dur menahan mereka untuk kepentingan bangsa yang lebih luas. Ia tidak mau tidak mau terjadi pertumpahan darah dan perang saudara sesama anakbangsa.

“Setinggi apa sih jabatan presiden itu sehingga harus menimbulkan pertumpahan darah?” ungkap Gus Dur menjelaskan proses rekonsiliasi yang dilakukannya untuk para pendukungnya.

Kala itu, situasi politik di akhir masa jabatan Gus Dur sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia memang sangat panas. Barisan loyalis Gur Dur sempat maju dan mengepung gedung MPR/DPR di Senayan, Jakarta. Kemarahan massa kian memuncak tatkala manuver politik para elit di parlemen menghasilkan percepatan Sidang Istimewa (SI) MPR dari tanggal 1 Agustus 2001 menjadi 23 Juli.

Barisan pembela Gus Dur secara tegas mendeklarasikan diri sebagai pasukan berani mati ketika mendengar kabar ia akan dilengserkan. Sejak pertengahan tahun 2000, Gus Dur memang sudah dikenal memiliki basis pendukung setia dari kalangan komunitas Islam. SI MPR pada 23 Juli memang kemudian memutuskan Gus Dur turun dari jabatannya sebagai presiden.

Paham bahwa potensi terjadinya kericuhan sangat besar, Gus Dur memilih untuk menanggapi situasi tersebut dengan santai. Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) itu bahkan masih sempat bercanda tentang celana pendek yang ia kenakan di malam pemakzulannya.

Sebelum pemakzulan, Gus Dur yang menyadari gejolak amarah para santri buru-buru melarang mereka turun untuk menggelar aksi protes atas nama pasukan rela mati. Ia sempat berkeliling memberikan wejangan kepada segenap ulama dan para santri di sejumlah pondok pesantren.

Dilaporkan Kompas pada 10 Juni 2001, dalam pertemuan dengan sejumlah ulama memperingati 100 Tahun Berdirinya Pondok Pesantren Futtuhiyah di Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Gus Dur berpesan agar ulama tidak terpancing amarahnya atas nama solidaritas umat Muslim.

Menurut dia, ulama seharusnya tidak boleh terlalu larut dalam politik. Dengan tegas, Gus Dur meminta ulama, kiai, dan santri di lingkungan NU untuk tidak pergi berunjuk rasa dan membuat kegaduhan di Jakarta. Sebaliknya, ia meminta agar segenap pendukungnya tetap meyakini kapabilitas pemerintah dalam menuntaskan persoalan politik.

"Sesama orang Islam itu bersaudara. Kenyataan ini harus dipahami bahwa tindakan kekerasan tidak menyelesaikan persoalan. Jika banyak warga NU ke Jakarta, kemudian membuat gegeran malah akan menambah keributan di Jakarta," ujar Gus Dur dikutip NU Online dari Tirto.

Pada kesempatan yang sama, Gus Dur juga berujar bahwa dirinya masih bisa mengatasi persoalan di ibu kota secara diplomatis. Ketua Umum Tanfidziyah PBNU (1984-1999) itu juga mengingatkan pentingnya solidaritas umat Muslim dalam tradisi pondok pesantren.

"Ada beda antara keras dan tegas. Ibarat pepatah nenek moyang, pohon tinggi harus berani menentang angin yang bertiup keras. Nanti kalau saya tidak lagi sanggup mengatasi persoalan itu, saya kan bisa bengok-bengok (teriak minta tolong) sama ulama. Ke mana lagi kalau tidak minta tolong ke ulama, itu kan juga tradisi orang pondok pesantren," lanjut Gus Dur.

Gus Dur menyadari bahwa pusaran konflik berada di hadapannya dan mengelilinginya. Sebagai subjek yang ada dalam pusat konflik, tidak lain dan tidak bukan Gus Dur sendirilah yang menjadi solusi utama peredam konflik tersebut. Ia secara bijak memilih meletakkan jabatan presiden untuk kepentingan persatuan bangsa meskipun secara hukum dan konstitusi tidak terbukti melakukan pelanggaran-pelanggaran yang dituduhkan.

Gus Dur menegaskan bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang wajar dan biasa-biasa saja. Pandangan sebaliknya datang dari sejumlah tokoh bahwa apa yang dilakukan oleh Gus Dur merupakan rekonsiliasi tingkat tinggi. Hal itu merupakan teladan yang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dalam setiap menghadapi konflik politik yang melibatkan rakyat banyak. Karena, yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan! (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Kamis 27 Juni 2019 15:30 WIB
Keramat Mbah Sholeh Darat (9), Karena Doa Pendek, Berkat Berubah Jadi Pasir
Keramat Mbah Sholeh Darat (9), Karena Doa Pendek, Berkat Berubah Jadi Pasir
Berkat berubah jadi pasir, foto: ilustrasi
Orang Islam, terlebih orang Jawa, pasti mengerti apa yang dinamakan  'berkat'. Berasal dari kata barokah atau berkah, bermakna bertambahnya nikmat kebaikan, yang diserap dalam Bahasa Jawa menjadi bermakna 'bingkisan nikmat berisi menu lezat'. 

Menjadi istilah untuk menyebut makanan berisi lauk pauk dalam wadah sebagai bingkisan dalam acara tradisi keislaman. Biasanya berkat dibagikan dalam acara pengajian, maulidan, tahlilan, atau kenduri. Seluruh hadirin pulang mendapatkan berkat yang biasa dimakan bersama keluarganya di rumah masing-masing. 

Seperti umumnya di Nusantara, di Semarang biasa diadakan tahlilan maupun selamatan di setiap rumah warga yang punya hajat. Suatu hari, Kiai Sholeh Darat diundang warga yang cukup jauh dari kampung Darat, Semarang. Warga kampung Darat dan sekitarnya sudah paham, bahwa Mbah Sholeh kalau berdoa itu cekak aos (pendek dan ringkas). Namun penduduk 
kampung yang mengundang Kiai Sholeh itu belum mengetahui kebiasaan sang kiai pengasuh pondok pesantren Darat ini. 

Maka pada peristiwa itu, usai Mbah Sholeh membacakan doa penutup tahlilan, hadirin sudah menerima berkat dan sudah pada pamitan pulang,  keluarga tuan rumah ada yang menyeletuk: "Iki berkat didongani mung sithik, lak podo karo pasir" ("Ini berkat kok cuma didoai sedikit, kok selayak pasir saja"). 

Ucapan bernada protes karena Mbah Sholeh hanya sebentar berdoa, dan pendek. Sedangkan kebiasaan kiai lain suka berlama-lama berdoa dan dengan bacaan panjang. Persis usai celetukan itu diucapkan, seketika seluruh isi berkat berubah menjadi pasir!. Nasi dan lauk pauk yang dibawa para warga, berubah menjadi pasir semuanya. Sehingga terasa berat di tangan mareka. 

"Inna lillahi. Astaghfirulloh..," tuan rumah dan keluarganya segera 'nyebut' dan menyesali ucapan tersebut. Lalu segera mencium tangan Mbah Sholeh Darat seraya meminta maaf. 

*Kisah ini diceritakan seorang dzuriyah (keturunan) Kiai Sholeh Darat, ustad Muhammad Agus Taufik bin Zahroh binti Kholil bin Sholeh Darat. Dia mendapat cerita tersebut dari pakdenya, (alm) H Ali bin Kholil bin Sholeh Darat. Pak Ali mendapat cerita tersebut dari penuturan para tetua masyarakat yang mengetaui peristiwa tersebut. 

Tidak didapat keterangan, apakah setelah keluarga tuan rumah tersebut meminta maaf kepada Mbah Sholeh Darat atas kelancangannya itu, berkat kembali menjadi nasi atau tetap berupa pasir. (Ichwan)
Rabu 26 Juni 2019 14:30 WIB
Keramat Mbah Sholeh Darat (8), Menyambut Pengunjung Makamnya
Keramat Mbah Sholeh Darat (8), Menyambut Pengunjung Makamnya
Makam Mbah Sholeh Darat di Semarang
Banyak sekali ulama maupun warga NU yang berziarah ke makam Mbah Sholeh Darat (Syech Muhammad Sholeh bin Umar Asssamarony, biasa dipanggil Kiai Sholeh Darat). Setiap hari, maqbarahnya di kompleks pemakaman umum Bergota Semarang ramai dikunjungi orang. Siang maupun malam, 24 jam silih berganti orang berdatangan. 

Di era tahun 1980 sampai 1990-an, ada seorang ulama terkenal yang rajin berziarah. Yaitu KH Hamim Jazuli Kediri Jawa Timur atau biasa dipanggil Gus Miek. Gus Miek ini juga diyakini banyak orang sebagai seorang wali (kekasih Allah). Dan sebagaimana umumnya waliyullah, dia hobi ziarah di makam wali-wali Allah yang sudah wafat. 

Menurut penuturan para penjaga kotak amal di makam Mbah Sholeh Darat, Gus Miek semasa hidupnya sering ziarah ke makam Mbah Sholeh. Kesaksian para Sarkub (Sarjana Kuburan, sebutan untuk orang-orang ahli ziarah kubur) Semarang, juga membenarkan hal itu. 

“Gus Miek dulu rajin ziarah ke sini. Seringnya malam hari. Kami sering menerima infaq dari beliau,” Tutur Budi, penjaga kotak amal di pintu masuk cungkup maqbarah Mbah Sholeh. 

Sumiati, penjaga kotak amal dan toilet depan makam, juga membenarkannya. “Iya, Gus Miek kadang mengajak Gus Dur kalau ziarah ke sini. Biasanya diam-diam datang di malam larut ketika sepi,” tuturnnya. 

Pernyataan senada datang dari Supriyanto alias Pak Totok, tokoh Sarkub Semarang yang rutin hampir setiap malam Jum’at ziarah di makam Mbah Sholeh Darat. 

“Gus Miek itu ahli ziarah. Gus Dur juga terkenal ahli ziarah. Dua orang panutan kita itu sering datang ke makam Mbah Sholeh Darat,” ucap ustad yang mengasuh ngaji kitab Mbah Sholeh Darat di Mushala di kampungnya, Mugas Semarang Selatan ini.  
 
Agus Tiyanto, Sarkub asal Klaten yang beristri cicit Mbah Sholeh Darat, Evi Isnadiyah binti Ali bin Kholil bin Sholeh Darat, mengaku sering mengetahui kedatangan Gus Miek di makam kakek buyut istrinya tersebut. 

“Gus Miek benar-benar contoh ahli ziarah kubur. Beliau sering datang ke Semarang hanya untuk sowan Mbah Sholeh Darat,” ungkapnya. 

Apa yang dikatakan Agus sama persis dengan kesaksian Pak Totok maupun para penjaga makam Mbah Sholeh Darat. Yaitu model ziarahnya Gus Miek lebih mirip orang sowan. Persisnya seperti pisowanan kawula kepada raja Jawa.  

Seperti apakah? 

Dari semua kesaksian mereka, Gus Miek selalu memakai beskap dan blangkon setiap ziarah. Lengkap dengan bawahan jarik dari kain batik. Bukan memakai sarung, baju koko dan kopiah sebagaimana lazimnya orang lain. 

Dan ini yang istimewa, begitu dia mencopot sandal di pintu masuk kompleks makam Mbah Sholeh, Gus Miek jongkok dan mengatupkan dua tangannnya di depan hidungnya. Salam tabik seperti abdi dalem 'menyembah' raja. Lalu, persis seperti adegan di lakon ketroprak, Gus Miek berjalan sambil tetap jongkok ke arah pusara Mbah Sholeh Darat. Sambil kedua telapak tangan tetap menelungkup menempel hidung dan kepala menunduk memandang ke tanah. 

“Sama sekali tidak pernah kepala Gus Miek tegak dengan mata memandang ke depan bila beliau berziarah. Kepala selalu menunduk dan berjalan jongkok ngapurancang pakai salam tabik khas abdi raja,” ucap para saksi yang disebut di atas. 

Demikian cara berjalan masuknya, begitu pula cara Gus Miek meninggalkan kubur Mbah Sholeh. Dengan berjongkok, dia berjalan mundur, dengan dua tangan mengatup di depan hidung. Seolah tidak berani membelakangi pusara Mbah Sholeh Darat. 

“Pokoknya cara ziarah Gus Miek persis pisowanan kepada Sultan Mataram,” terang Pak Totok maupun Agus Tiyanto. 

Tak betah dengan rasa penasaran, Pak Totok dan sahabat-sahabatnya, para Sarkub Semarang bertanya ke Gus Miek pada suatu kesempatan jumpa di makam Bergota. “Nuwun sewu, Gus. Jenengan kok cara ziarahnya seperti sowannya kawula kepada raja, niku pripun?”

“Saya itu setiap hendak ziarah di makam Mbah Sholeh Darat, beliau sudah berdiri di atas pusaranya menyambut saya. Sejak saya berjalan kaki dari undak pertama komplek makam, Mbah Sholeh sudah melambaikan tangan ngawe-awe saya,” jawab Gus Miek ketika itu. 

Subhanallah,” sahut Pak Totok dan rombongannya berbarengan, seraya mencium tangan Gus Miek memohon berkahnya Mbah Sholeh Darat. (Ichwan)
Rabu 26 Juni 2019 11:15 WIB
Saat Hizib Nashar KH Dalhar Watucongol Berhasil Usir Tentara Sekutu
Saat Hizib Nashar KH Dalhar Watucongol Berhasil Usir Tentara Sekutu
KH Dalhar Watucongol (dok. istimewa)
Mendaratnya tentara NICA (Belanda) membonceng Sekutu (Inggris-Gurkha) dan mendarat di Surabaya pada 10 November 1945 menjadi titik tolak perjuangan rakyat Indonesia, terutama santri dan para kiai. Seminggu setelah berkobarnya perang di Surabaya antara para santri dan rakyat Indonesia melawan Tentara Sekutu yang dipimpin Brigjen Mallaby, pertempuran merebak hingga ke Semarang, Ambarawa, dan Magelang.

Tentara Sekutu mendarat di Semarang pada 20 Oktober 1945 dibawah pimpinan Brigjen Bethel. Awalnya rakyat Indonesia ikut membantu pergerakan Tentara Sekutu yang kedatangannya ingin menyisir sisa-sisa tentara Nippon (Jepang) di Indonesia pasca Sekutu mengalahkan Jepang lewat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Tetapi seperti terjadi di daerah-daerah lain, serdadu NICA menyalakan obor fitnah dan mengadu domba sehingga terjadilah insiden antara rakyat Indonesia dengan tentara Sekutu. Insiden karena adu domba NICA ini menjalar ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah, seperti Magelang. Bung Tomo, setelah secara perkasa membantu perjuangan santri di Surabaya, dia menuju ke Jawa Tengah karena situasi sama gentingnya seperti yang terjadi di Jawa Timur.

Namun demikian, kondisi ini juga mendapat perhatian serius dari para ulama Magelang. Diriwayatkan oleh KH Saifuddin Zuhri (1919-1986), ulama se-Magelang mengadakan pertemuan di rumah Pimpinan Hizbullah di belakang Masjid Besar Kota Magelang pada 21 November 1945. Pertemuan ini dilaksanakan pada tsulutsail-lail atau saat memasuki duapertiga malam (sekitar pukul 03.00 dini hari).

Ulama yang dipanggil sedianya hanya 70 orang, namun yang hadir melebih ekspektasi yaitu 200 orang ulama dalam pertemuan riyadhoh ruhaniyah itu. Para ulama menilai, gerakan batin atau gerakan rohani ini untuk menyikapi situasi genting yang terjadi di dalam Kota Magelang dan sekitarnya, terutama sepanjang garis Magelang-Ambarawa-Semarang. Karena di Pendopo rumah Suroso tidak cukup, sebagian ditempatkan di markas Sabilillah yang jaraknya 100 meter.

Disaat ratusan ulama sudah terkumpul, mayoritas hadirin berharap-harap cemas ketika menanti kedatangan sejumlah ulama khos yang belum hadir, di antaranya KH Dalhar (Pengasuh Pesantren Watucongol), KH Siroj Payaman, KH R. Tanoboyo, dan KH Mandhur Temanggung. Mereka adalah ulama “empat besar” untuk Magelang dan sekitarnya yang akan memimpin riyadhoh ruhaniyah tersebut.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Letkol M. Sarbini dan Letkol A. Yani dan satu regu pengawal siap tempur itu, para ulama dan rakyat dipimpin ulama “empat besar” itu membaca aurod yang sudah terkenal di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah antara lain, Dalail Khoirot, Hizib Nashar li Abil Hasan Asy-Syadzili, Hizib al-Barri, dan Hizib al-Bahri, keduanya Li Abil Hasan Asy-Syadzili yang termasyhur.

Namun, asisten (dulu biasa disebut kurir yang bertugas membawa informasi rahasia) yang mengawal M. Sarbini dan A. Yani melapor bahwa tentara Inggris sedang membuat gerakan mundur meninggalkan Magelang. KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013) mencatat bahwa seketika itu Gedung Seminari Katolik dikosongkan. Mereka mengangkut semua perlengkapan. Bukan hanya persenjataan, tetapi juga alat perbekalan dan perabotan rumah tangga.

Dalam proses evakuasi tentara Inggris tersebut, Sekutu menyertakan seluruh serdadu kulit putih, Gurkha, bekas tentara Nippon, dan serdadu NICA. Menurut laporan kurir itu pula, gerakan evakuasi Sekutu dimulai pukul 04.00 menjelang subuh.

Ketika kurir itu menyebutkan bahwa Inggris meulai meninggalkan gedung Seminari Katolik, Kiai Saifuddin Zuhri yang juga bersama Sarbini dan A. Yani mendengar laporan tersebut tetiba teringat kembali pada saat KH Dalhar bermunajat dengan Hizib Nashar. Ia meyakini bahwa dua kejadian tersebut, yaitu proses evakuasi oleh Sekutu dan munajat Kiai Dalhar berbarengan. Kiai Saifuddin menyebut dalam proses tersebut Kiai Dalhar sampai pada bagian (dari Hizib Nashar) ini:

Nas’aluka al ‘ajala Ilaahi, al-ijaabah. Ya man ajaaba Nuuhan fii qaumihi. Ya man nashara Ibrohima ‘aala a’daaihi. Ya man rodda Yusufa ‘alaa Ya’quba. Ya man kasyafa dhurra Ayyuba. Ya man ajaaba da’wata Zakaria. Ya man qabila tashbiha Yunusa ibni Matta. Nas’aluka bia asroori haadzihidda’waati an tataqobbala maa bihi da’aunaaka wa an tu’thianaa maa sa’alnaaka...

(Kami mohon pertolongan-Mu itu datanglah sekarang, sekarang, dengan segera, Ya Tuhan, kabulkanlah permohonan ini, kabulkanlah! Ya Allah, Tuhan kami yang mengabulkan doa Nabi Nuh ketika menghadapi kaumnya. Ya Allah Tuhan kami yang memberi pertolongan kepada Nabi Ibrahim yang mengalahkan musuh-musuhnya. Ya Allah Tuhan kami yang mengembalikan Nabi Yusuf ke pangkuan Nabi Ya’qub. Ya Allah Tuhan kami yang menghilangkan penderitaan Nabi Ayyub. Ya Allah Tuhan kami yang memenuhi doa Nabi Zakaria. Ya Allah Tuhan kami yang menerima perkenan atas tasbih Nabi Yunus bin Matta. Ya Allah Tuhan kami, dengan mengharapkan hikmat dan rahasia doa-doa ini, mohon kiranya Engkau memperkenankannya dan mengabulkan segala yang kami maksudkan kepada-Mu, kiranya Engkau memenuhi segala yang kami mintakan kepada-Mu...)

(Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG