IMG-LOGO
Esai

Memilih Pesantren NU agar Toleran

Senin 1 Juli 2019 20:0 WIB
Bagikan:
Memilih Pesantren NU agar Toleran
Rezka diterima di Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.
Oleh Irham Ali Saifuddin

"Alhamdulillah Mas, anak saya Rezka diterima di pesantren."

Begitulah pesan singkat dari seorang sahabat saya yang melalui aplikasi messenger beberapa hari silam.

"Assalamualaikum, kami dari panitia Penyaringan Santri Baru (PSB) SMP Ali Maksum memberitahukan bahwa ananda Rezka dinyatakan DITERIMA sebagai Santri SMP Ali Maksum," ia susulkan terusan pesan dari panitia seleksi pesantren yang mengkonfirmasi bahwa anaknya lolos seleksi di pesantren NU yang berbasis di Krapyak Yogyakarta tersebut.

Jimmy, nama sahabat saya tersebut, mungkin mengalami perasaan 'nano-nano', campur-aduk antara senang, sedih atau bahkan bingung. Betapa tidak, dalam sejarah keluarganya ini merupakan pengalaman perdana mempercayakan pesantren untuk masa depan anak kelak.

Jimmy bukanlah berasal dari keluarga santri atau mambu santri. Ia merupakan kebanyakan masyarakat Indonesia, Muslim yang menjalankan ritual dan kewajiban agamanya, tetapi tidak begitu berhasrat untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai kaum santri. Ia mungkin lebih pas mewakili kaum abangan dalam bahasa antropolog Clifford Geertz.

Kegelisahan Muslim Awam

Mungkin akan menarik untuk mengetahui sedikit lebih dalam mengapa kawan tersebut akhirnya mempercayakan pesantren sebagai media pendidikan anaknya. Ini agak menarik dan mungkin sedikit berbeda dengan sebagian kita yang memiliki tradisi santri secara turun-menurun.

Bagi kaum santri, barangkali among the top rank alasan memesantrenkan anak adalah untuk kecipratan berkah kiai, menjaga darah hijau untuk tetap mengalir pada generasi penerus, dan alasan-alasan klasik-melankonik sekitar itu. Kualitas pendidikan, atau masa depan yang gemilang, bukanlah faktor pendorong bagi kaum santri untuk memondokkan anaknya. Bekerja di tempat yang prestisius dan bonafid? Itu sama sekali tidak pernah terpikir di benak orang tua kami zaman dahulu.

Jimmy, dan mungkin kebanyakan orang, hanyalah kalangan yang gelisah dengan pergaulan dan dunia pendidikan sekaligus. 

Kenakalan remaja, narkoba atau kecanduan games dan gadget mungkin menjadi alasan sentimentil yang pertama. Dengan gadget yang tidak bisa lepas dari anak kita dan teman-temannya, sebagian kita menjadi sedemikian khawatir terjadinya disfungsi informasi dan kegunaan gadget. Kita khawatir, gadget bukan saja akan menyita waktu belajar anak-anak melainkan juga menjadi media yang buruk bagi tumbuh kembang anak.

Alasan kedua adalah dunia pendidikan kita yang semakin minim karakter. Sekali lagi, masalah agama tidak menjadi soal yang sangat serius bagi kalangan seperti kawan saya ini. Beragama itu bagi kawan saya sewajarnya sebagai bentuk kehambaan manusia di hadapan Tuhannya. Bagi Jimmy dan kalangan abangan-menengah, karakter merupakan elemen yang penting dalam pendidikan anak. Lebih penting ketimbang deretan nilai-nilai akademik dan prestasi-prestasi seremonial lainnya.

Kawan saya ini juga unik. Meskipun secara ekonomi tergolong berkecukupan--ia bekerja sebagai konsultan pembangunan di beberapa lembaga internasional--ia adalah orang yang gelisah dengan pendidikan berbiaya tinggi. Baginya, mutu pendidikan tidaklah melulu diikuti dengan biaya yng tinggi.

"Sebenarnya saya bisa saja menyekolahkan anak saya di international school atau di pesantren modern yang biaya masuknya bisa 40-60 juta. Tapi untuk apa bila kemudian tidak berhasil membentuk karakter anak saya kelak. Apalagi pesantren modern kalau saya lihat derajat toleransinya tidak tinggi, tidak setulus pesantren-pesantren NU yang toleransinya dari hati," imbuhnya sembari menjelaskan alasan yang lebih substansial.

Intoleransi dan Hijrahnya Kaum Abangan

Apa yang disampaikan sahabat saya tersebut setidaknya menjelaskan sedikit kepada kita akan apa yang sedang terjadi di kalangan Muslim abangan, dan juga priyayi (bila kita masih hendak konsisten menggunakannya dalam diskusi kali ini).

Lihat saja bagaimana bergairahnya pengajian-pengajian di lingkungan ASN, pegawai BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta bonafid yang merupakan tempat berkumpulnya kalangan priyayi dan abangan. Atau, cermatilah fenomena artis-artis hijrah yang berhasil mengubah penampilah lahiriah mereka 180 derajat. Belum cukup? Lihatkan generasi millennial yang rata-rata tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang berduyun-duyun membanjiri Hijrah Fest di GBLA Bandung beberapa waktu lalu.

Tidak ada yang salah dengan fenomena hijrah ini. Masalahnya adalah mereka yang berhijrah ini kemudian memiliki sikap yang cenderung intoleran, baik terhadap kaum seagama sendiri lebih-lebih terhadap saudara kita non-Muslim. Hingga di sini, fenomena hijrah ini menjadi sesuatu yang patut dikoreksi.

Terlebih belakangan kita bisa melihat bagaimana kawan sepergaulan kita, yang tadinya baik-baik saja, hidupnya humanis dan dapat berkawan dengan siapa saja secara lahir bathin namun kemudian hidupnya berubah. Cara pandang mereka terhadap kehidupan dan interaksi sosial berubah setelah mengenal dunia hijrah'. Mereka mendadak menjadi intoleran, membatasi diri dalam ruang lingkup pergaulan yang lebih terbatas, minimal mereka-mereka ini menganggap non-Muslim sebagai pihak yang 'patut dicurigai' dan karennya 'harus berhati-hati' berinteraksi dengan mereka.

Pesantren NU sebagai Koreksi Fenomena Hijrah

Karena kepo, kemudian saya bertanya lagi kepada sahabat tersebut kenapa ia memasukkan anaknya ke pesantren NU. Ini agak unik bagi saya karena Jimmy bukanlah aktivis NU, atau pernah mengikuti jenjang kaderisasi di badan otonom NU. Jimmy dan keluarga besarnya juga tidak ada yang berpendidikan pesantren dalam sepanjang sejarah. Jimmy juga bukanlah lulusan IAIN, UIN, atau STAI. Demikian juga Veni, istri Jimmy, ia juga awam sama sekali tentang pesantren. Veni juga tidak terobsesi dengan tayangan dai cilik atau program tahfidz anak seperti di tivi-tivi selama Ramadhan.

Jawaban Jimmy dan Veni membuat hati saya tergetar, berbaur antara haru, bangga sekaligus agak teriris. "Kami melihat NU selalu menjunjung tinggi nilai Islam rahmatan lil alamin. Sehingga, kami berharap anak-anak kami nantinya bisa melihat bahwa perbedaan adalah hal yang alami dan sunatullah. Bagi kami, ber-Islam itu bukan hanya hablum minallah, melainkan juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi," jelasnya.

Apa yang terjadi pada Jimmy dan Veni ini juga dialami oleh sebagian kalangan Muslim awam (abangan dan priyayi) di sekeliling kita. Itulah yang menjelaskan kenapa fenomena hijrah menjadi marak. Sayangnya fenomena hijrah ini cenderung melekat pada sandaran ajaran pemaknaan Islam secara literal, simplistis, ahistoris sehingga cenderung menanamkan benih intoleransi terhadap sesama. Medan 'hijrah' ini sudah terlanjur dikuasai oleh pengajar-pengajar agama yang berpemahaman keagamaan yang kaku dan kurang bisa menerima pihak lain.

Apa yang dialami Jimmy sesungguhnya menjadi pelajaran bagi kita semua. Pelajaran yang teramat menarik. Bahwa maraknya intoleransi belakangan ini yang salah satunya disebabkan oleh fenomena hijrah, sesungguhnya bisa dikoreksi oleh pesantren NU. Pesantren harus turun gunung kembali untuk menjadi garda terdepan dakwah di masyarakat yang lebih luas. 

Yang sedang dialami oleh kaum Muslimin awam (priyayi dan abangan) hanyalah fenomena dahaga spiritualitas semata. Sayangnya, selama ini pesantren atau khususnya pesantren di lingkungan NU tidak melakukan penetrasi yang ekspansif di kalangan-kalangan Muslim awam ini. Pesantren NU hanya populer di kalangan yang sudah memiliki tradisi santri.

Apa yang dialami Jimmy dan Veni tentu sangat spesial. Walau tidak memiliki tradisi santri sebelumnya, pasangan ini berhasil melewati sebuah transformasi kegelisahan dengan cara yang benar: kegelisahan mereka akan masa depan anak tidak lantas membuat keduanya gegabah memilih dunia pendidikan! Mereka mempertimbangkan aspek kecerdasan akademis, kecerdasan sosial, dan fahim agama dengan satu bingkai yang tegas: rahmatan lil alamin yang karenanya harus toleran lahir-batin. Bukan toleran yang tampak permukaan tetapi dalam hatinya masih tertanam sekam kebencian terhadap makhluk Tuhan yang berbeda dengannya.

Selamat ya Jimmy dan Veni. Insyallah Rezka kelak menjadi anak bangsa yang tangguh dengan keislaman dan keindonesiaannya!

Penulis pernah belajar di sejumlah pesantren.
Bagikan:
Ahad 23 Juni 2019 17:0 WIB
Sisa Kenangan Ramadhan: Melacak Buku Paling Lecek
Sisa Kenangan Ramadhan: Melacak Buku Paling Lecek
Oleh Didin Sirojuddin AR

Selama 30 hari Ramadhan, saya gunakan juga untuk membaca-baca buku akhlak-tasawuf. Ini tema favorit. Makanya, saya senang membacanya. Tapi, lagi-lagi pilihan jatuh ke terjemahan Kitab Tanbihul Ghafilin (Peringatan Orang-orang Lalai) karangan Abul Laits As-Samarqandi yang tebalnya 661 halaman. Buku ini sudah kelewat lecek. Betul-betul lecek. Laiknya jadi bahan penelitian para ahli filologi.

Maklum, sejak dibeli Rp 7000 pada 18 Maret 1992, buku ini sudah lebih 1000 kali dibaca. Padahal buku-buku populer lain dibaca paling satu dua kali. Seperti record ya. Tapi, sebetulnya, masih kalah sama  Al-Qur‘an yang dibaca saban Maghrib dan Shubuh.

Isi Kitab Tanbihul Ghafilin benar-benar menggugah dan menggoda, dan hanya tersaingi kitab-kitab seperti Durratun Nashihin (Butiran Nasihat), 'Izhatun Nasyi'in (Nasihat Kaula Muda), Nasha'ihul 'Ibad (Nasihat Para Hamba), Tanbihul Maghrurin (Peringatan Orang-orang Tertipu), Nasha'ihul Khattatin (Nasihat Para Kaligrafer), Jamharatul Auliya (Himpunan Para Wali), Al-Hikam (Hikmah Kebijaksanaan),  Syarhul Hikam (Uraian Hikmah), Al-Akhlaq Al-Islamiyah (Akhlak Islam), Al-'Ushfuriyah (Nasihat Burung), dan Iqazhul Himam (Membangunkan Cita-cita).

Sambil dibaca buku itu dicoret-coreti. Atau dibuatkan coretan summary-nya. Biasa, untuk bekal ceramah di majelis taklim atau pointers khutbah Jumat. Pernah juga coba dibuatkan 11 artikel saripatinya, Sembilan darinya dimuat di harian umum Republika.

Baca-baca buku ini di waktu senggang memang asyik, melebihi postingan di medsos yang sekali baca biasanya langsung bosan. Senikmat seperti yang dikatakan "bapak buku" Al-Jahizh:

نعمَ البديـــلُ الكتابُ

Artinya, "Pengganti paling nikmat adalah buku."

Buku jadi teman. Bahkan, teman paling setia:

خيرُجليسٍ فى الزمانِ كتابٌ

Artinya, "Sebaik-baik teman nongkrong di segala kesempatan adalah buku." 

Maka, jadilah Ramadhan waktu untuk thalabul ilmi. Ini yang kerap terlewatkan oleh sebagian besar  shaimin (orang yang berpuasa). Seolah Ramadhan hanya untuk diisi ibadah mahdhah. Padahal lebih dari itu.

Nongkrong sambil buka-buka buku, apalagi kalau ramai-ramai, mengingatkan kita ke zaman keemasan Islam dulu ketika "perpustakaan jadi keajaiban dunia" yang melahirkan seabrek intelektual yang belum ada di luar Dunia Islam.

Tepatnya, karena efek domino membaca buku dan semangat thalabul ilmi, maka umat Islam maju dan memimpin dunia. Ketika Eropa masih "barbar" dan Amerika belum ditemukan.

Katanya, sekarang jadi terbalik. Dari setiap 1 juta orang Amerika, intelektualnya 4000 orang. Jepang malah 5000 orang. Tapi di Dunia Islam, dari 1 juta muslim intelektualnya hanya 300an orang. Ketinggalan, karena kurang baca buku dan kalah maju di bidang pendidikan.

Membaca Kitab Tanbihul Ghafilin saat berlapar-lapar puasa terasa seperti ditampar, mengingatkan kalau selama ini kita sering lalai dan menganggap enteng ibadah, tobat, amar ma'ruf nahi munkar, sampai (seakan) lupa mati dan konsekuensi-konsekuensinya di alam barzakh dan akhirat. Seolah "kurang rindu" ke surga dan "kurang takut" masuk neraka.

Yang sering, kelalaian itu berupa sikap cuek terhadap amal-amal utama seperti sabar, sedekah, menyayangi anak yatim dan fuqara wal masakin dan dhuafa, mau memaafkan, merajut silaturahmi, sopan-santun bertetangga, memenuhi hak anak, zikir-tafakkur-syukur dan rajin baca Al-Qur’an dan shalawat, bersikap wara' dan tawakal,  semangat menimba ilmu, memelihara sifat malu, memupuk roh jihad (bukan dalam arti kekerasan macam sekarang), sampai sikap toleran atau lapang dada, menyebarkan salam perdamaian, dan menciptakan lapangan kerja bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain.

Sikap lalai yang paling gawat dan sudah masuk "studium empat" adalah perilaku buruk yang teruuus saja dilakukan padahal kita tahu hukum dan hukumannya. Misalnya: dusta (termasuk hoaks menurut istilah sekarang), ghibah (mengungkap keburukan orang), namimah (adu domba), hasud (dengki dan iri hati), takabur atau sombong, mengumbar emosi atau marah, mengumbar syahwat, rakus dan over mengkhayal, ihtikar (menggaruk untung dengan menimbun), sampai-sampai tidak lagi merasakan "haramnya barang haram" karena otaknya kurang lurus dan hatinya tidak lagi suci.

Fisik Kitab Tanbihul Ghafilin ini  sudah lecek. Tetapi isinya nggak ikut-ikutan lecek. Malah masih relevan dan bisa diamalkan untuk selalu mengingatkan kita sepanjang zaman.


Penulis adalah dosen pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah. Ia juga pengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi, Jawa Barat.
Selasa 18 Juni 2019 7:0 WIB
Tanah Perdamaian Leluhur di Pulau Doom
Tanah Perdamaian Leluhur di Pulau Doom
null

Oleh Siti Nur Syamsiah

 

Hari itu, tepat sepekan saya menjadi warga Papua Barat sejak tiba tanggal 13 Desember 2017. Ya, saya telah mendatangi Kantor BPJS Kota Sorong untuk mengganti domisi selama 12 bulan berikutnya melalui Program Bina Kawasan 3T Kementerian Agama RI.

 

Usai antrean panjang di depan kamar mandi asrama, saya bergegas ke dapur untuk minum teh sembari mengunyah pisang goreng tanpa tepung di pojok dapur. Selain saya, ada Mama Tua dan tiga santri yang duduk bersama. Mata saya menangkap hal yang tak lazim orang Jawa lakukan. Mereka mengkonsumsi pisang goreng sembari mencolek sambal di atas mangkuk putih bergambar Ayam Jago.

 

Saya memilih untuk mengamati ekspresi makan mereka. Mereka asyik berbincang tanpa menunjukkan tanda-tanda aktivitas itu berbahaya untuk kesehatan. Sejurus kemudian seorang santri menyodorkan piring berisi pisang goreng, saya beranikan mencolek sambal tipis-tipis.

 

Gigitan pertama terasa aneh, rasa manis pisang goreng berbaur dengan rasa pedas cabai, bawang dan tomat yang ditumbuk halus lalu digoreng lembab. Karena masih penasaran, kembali saya colekkan sambal lebih banyak dari sebelumnya. Gigitan kedua dan seterusnya sudah menari-nari di lidah. Ternyata betul, tindakan ini aman untuk perut.

 

Selesai sarapan pagi, saya kembali ke kamar untuk berkemas. Waktunya mengamati Papua dari dekat, menghirup udaranya dan mendekap cinta kasih masyarakat adat Papua, kata saya pada diri sendiri. Bersama Ade Zuleka Wahyuni Agia saya menuju Pelabuhan Rakyat di Jl Ahmad Yani Kampung Baru. Selama mengendarai sepeda motor, siswa tingkat akhir MAN Model Kota Sorong ini banyak berkisah tentang Papua.

 

Sembari mendengarkan penuturan Yuni, mata saya mengawasi kiri dan kanan jalan. Ada sekolah, gereja, pondok-pondok Natal, Masjid Raya Al Akbar, toko sembako, penjual bensin botolan, hotel, bandara DEO, rumah sakit, kantor polisi dan swalayan.

 

Empat puluh lima menit berlalu. Kami sampai dengan rasa was-was, karena saat angin laut kencang para pemilik perahu memilih untuk tidak memberangkatkan penumpang. Usai memarkirkan motor, kami berjalan ke bibir pantai Halte Doom Pelabuhan Rakyat.

 

Kaki saya terasa dingin saat tersentuh air pantai yang bening. Tampak dari permukaan beberapa karang mati tersapu ombak menepi. Tidak ketinggalan ikan seukuran teri berenang disamping perahu yang nanti akan digunakan untuk menuju Pulau Doom. Dari titik saya berdiri, saya leluasa melihat arus keluar masuk kapal barang dan kapal penumpang di pelabuhan, lalu sesekali terdengar bunyi pesawat melintas tak jauh dari pandangan mata.

 

Setelah mengabadikan beberapa spot alam dengan kamera ponsel, saya mengahadap ke laut lepas, membentangkan kedua belah tangan lebar-lebar, memejamkan kedua belah mata lalu menghirup udara dalam-dalam. Maha Suci Engkau, Wahai Pencipta Keindahan. Pulau Doom memang terlihat tidak jauh dari Kota Sorong, namun kamu dilarang berenang untuk sampai di sana. Tidak ada cara lain menuju pulau berjuluk Sorong masa lalu ini selain menggunakan transportasi air. Tidak lebih dari 15 menit menggunakan longboad istilah lain dari perahu mesin.

 

Setiap hari ada banyak perahu standby di Halte Sorong dari pagi hari hingga sore hari dengan rute Kota Sorong-Pulau Doom, begitu sebaliknya. Jadi jangan khawatir tidak bias pulang. Selama langit cerah, gelombang ombak stabil, dan sudah lebih dari lima orang dalam perahu pulang pergi pulau Doom tidaklah mustahil. Jangan lupa, ongkos satu kali naik perahu lima ribu rupiah.

 

“SELAMAT DATANG DI DISTRIK SORONG KEPULAUAN DOOM”. Tulisan dengan huruf kapital warna biru pada gardu masuk pulau Doom ini menunjukkan ikon lumba-lumba di atasnya. Seorang tukang bejak gowes menghampiri Yuni. Terjadi lobi-lobi harga di antara keduanya. Sepakat dengan harga Rp50.000 kami menaiki becak, duduk manis memulai perjalanan dipandu langsung oleh Pak Darman, seorang muallaf berdarah Jawa yang memutuskan hidup merantau ke Papua sejak berhenti dari TNI.

 

Panasnya bukan kepalang. Kami berkeliling kampung di bawah suhu 33 derajat celcius. Terlihat beberapa warga memilih duduk di pelataran rumah mencari angin. Di pulau ini sulit menikmati kesejukan pantai. Pohon-pohon diam mematung, angin terhalang kepadatan rumah penduduk.

 

Keasyikan obroran terputus manakala becak menahan pedal. Kami sampai di Masjid Jami Doom, terletak di kelurahan Doom Barat, Distrik Sorong Kepulauan. Masjid tua yang didirikan pada tahun 1926 ini sudah beberapa kali mengalami renovasi sesuai kebutuhan jamaah. Masjid jami menjadi pusat kegiatan keagaamaan dan kemasyarakatan masyarakat Muslim di pulau ini.

 

Selama 51 tahun sebelum masjid jami didirikan, lebih dulu dibangun Gereja Kristen Injili berbahan semen dan kayu triplek, dibangun sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan lansia di Pulau Doom.

 

Pak Darman mengkonfirmasi kebenaran cerita tentang Kampung Perdamaian yang saya dengar. Adalah sepetak tanah kampung yang dialokasikan untuk tempat pemakaman warga Pulau Doom. Siapa pun boleh memakamkan sanak famili di tanah ini tanpa dipungut biaya. Bagi pemeluk agama Islam area pemakanan di sisi kiri jalan dan kanan jalan diperuntukkan pemeluk Agama Kristen.

 

Jika ada yang tanya kenapa Islam tidak di sebelah kanan, jawab saja ini pemakaman bukan makan siang. Istilah warga yang dikutip Pak Darman, "Hidup damai bertetangga, mati pun damai bertetangga pula." Spontan saya teringat aktivis-aktivis humoris Gusdurian Yogyakarta yang kerap menggunakan kaos tertulis 'Islam Ramah'.

 

 

Penulis adalah peserta Program Bina Kawasan 2017-2018 yang ditugaskan ke Papua. Program ini diselenggarakan Kemenag RI bekerjasama dengan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).

 

Tulisan ini pertama kali dimuat di NU Online Sabtu, 30 Juni 2018 pukul 23 WIB.  Redaksi mengunggahnya kembali dengan perbaikan seperlunya.


 

Rabu 12 Juni 2019 17:0 WIB
Ikrar Halal Bi Halal dari Ulama Betawi
Ikrar Halal Bi Halal dari Ulama Betawi
(Foto: @ubrain.net)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki

Bagi masyarakat Betawi, bulan Syawal adalah bulan Lebaran. Jadi, bisa dikatakan Lebaran di Betawi itu satu bulan lamanya. Umumnya, selama bulan Syawal para kiai dan ustadz Betawi belum membuka pengajian. Mereka membuka pintu untuk tetangga, kerabat, dan murid-murid yang datang untuk lebaran.

Sama seperti orang Betawi lainnya, makanan ringan yang dihidangkan untuk tamu yang datang merupakan makan ringan tradisional  seperti dodol, wajik, nastar, lapis, tape uli, kue satu, dan lain-lain.

Istilah Halal Bi Halal untuk kegiatan Lebaran, maaf memaafkan, yang melibatkan banyak orang dalam satu tempat, dan satu waktu baru dikenal masyarakat Betawi setelah terlebih dikenalkan oleh salah seorang pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, pada tahun 1948 ketika bertemu Presiden Soekarno.

Forum yang dikenal dengan istilah tersebut bertujuan untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sedang dilanda konflik saudara sehingga harus menyajikan bungkus baru yang menarik agar mereka mau berkumpul dan menyatu saling maaf-memaafkan.

Lambat laun, kegiatan Halal Bi Halal menjadi populer di masyarakat Betawi. Karenanya, salah seorang ulama Betawi, Abuya KH Abdurrahman Nawi, membuat ikrar Halal Bi Halal dan kaifiat atau tata caranya.  

Abuya KH Abdurraman Nawi adalah ulama Betawi kelahiran Tebet, Melayu Besar, Jakarta Selatan yang menurutnya cucunya, Irfan Fahmi dan Ustadz Darul Qutni, lahir pada tahun 1932 M. KH Abdurrahman Nawi lahir dari pasangan H Nawi bin Su’id dan ‘Ainin binti Rudin. Ia diberi nama Abdurrahman. Dengan menyandang nama bapaknya, ia kemudian dikenal dengan nama Abdurrahman Nawi.

Ia adalah salah seorang  ulama Betawi terkemuka yang menerima pelajaran keagamaan pesantren dari majelis taklim yang ada di Betawi, bukan dari pondok pesantren atau madrasah. Ia pernah belajar kepada KH Muhammad Yunus, KH Basri Hamdani, KH M Ramli, dan Habib Abdurrahman Assegaf. Ia juga mengaji kepada KH Muh Zain (Kebon Kelapa, Tebet), KH M Arsyad bin Musthofa (Gang Pedati, Jatinegara), KH Mahmud (Pancoran), KH Musannif (Menteng Atas), KH Ahmad Djunaedi (Pedurenan), KH Abdullah Husein (Kebon Baru, Tebet), KH Abdullah Syafi’i (Matraman), serta Habib Husein Al-Haddad (Kampung Melayu).

Agak jauh sedikit, ia mengaji kepada KH Hasbiyallah (Klender), KH Mu’alim (Cipete), KH Khalid (Pulo Gadung), Habib Ali Jamalullail, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Abdullah bin Salim Al-Attas (Kebon Nanas), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad (Kramat Jati), Habib Ali bin Husein Al-Attas (Kemayoran), dan Ustadz Abdullah Arifin (Pekojan).

Uniknya, walau ia tidak pernah belajar di sekolah, madrasah, atau pondok pesantren, namun cara belajarnya tidak kalah dengan cara belajar santri di pondok pesantren. Dalam sehari ia bisa mengikuti pelajaran di tiga tempat, yang masing-masingnya terdiri atas dua atau tiga mata pelajaran. Sistem belajar yang ia ikuti biasanya memakai kitab. Seorang guru membaca ‘ibarah dalam kitab dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kemudian menerangkan maksud dari ‘ibarah tersebut dengan penjelasan yang sangat luas dan mendalam.

Walau sekadar lulusan majelis taklim, tapi ia dapat mendirikan pondok pesantren yang merupakan salah satu pondok pesantren terkemuka, khususnya di masyarakat Betawi, yaitu Pondok Pesantren Al-Awwabin yang dulu berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Pesantren itu kini telah dipindahkan dan dikembangkan ke Depok, Jawa Barat.

Ia juga mengajar di majelis taklim yang dimulainya sejak 1962 M. Majelis taklim ini dibuka di  rumahnya, Jalan Tebet Barat VIII, Jakarta Selatan. Majelis taklim ini diberi nama As-Salafi yang mengajarkan kitab-kitab tertentu sesuai dengan kemampuan dan minat para pesertanya.

Untuk kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu, dibacakan Kitab Taqrib, Tijan Durar, Nashaihud Diniyah. Sedangkan untuk pemuda dan para ustadz, dibacakan Qawa’idul Lughah, Ibnu ‘Aqil, Fathul Mu’in, Bughyatul Mustarsyidin, Asybah wan Nazhair, dan Qami’ut Thughyan.

Pesertanya datang dari beberapa kampung di Jakarta dan sekitarnya. Banyak murid-murid majelis taklimnya yang kemudian menjadi ulama terkemuka, terutama di Betawi, seperti almarhum Abuya KH Saifuddin Amsir.

Adapun ikrar Halal Bi Halal dan kaifiatnya yang disusun oleh Kiai Abdurrahman Nawi lazimnya dilakukan sesaat setelah shalat Idul Fitri oleh khatibnya atau juga pada acara Halal Bi Halal, bahkan juga di kegiatan rowahan kubro sebelum masuk bulan Ramadhan.

Ikrar Halal Bi Halal ini dimaksudkan untuk memaafkan dan menghalalkan segala kesalahan antarsesama. Ia menyandarkan dalilnya pada Al-Qur`an Surat Ali Imran ayat 134 yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ikrar ini juga bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang pernah berbuat kesalahan-kesalahan kepada kita untuk meminta maaf. Ikrar ini merupakan sebuah pengakuan bahwa sebagai manusia memang kita juga punya salah kepada orang lain, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, karenanya perlu ada pernyataan yang jelas agar kesalahan-kesalahan kita dapat dimaafkan oleh orang lain.

Menurut cucunya, Ustadz Darul Qutni, ikrar ini pertama kali dirilis pada 1998 M, saat dia  mengantar Abuya Kiai Abdurrahman Nawi shalat Idul Fitri di Masjid Nurul Yaqin KH Salim Nai. Saat itu ia yang masih berstatus sebagai pelajar Tsanawiyah diajak oleh Abuya ke Tebet dari Depok. Abuya menyetir dengan laju yang cukup cepat. Maklum katanya, saat itu jalan raya masih lenggang.

Selesai khutbah Idul Fitri, Abuya KH Abdurrahman Nawi memimpin Ikrar Halal Bi Halal. Berikut isi ikrar tersebut dan kaifiatnya: Pertama, jamaah dianjurkan agar mendengarkan lebih  dulu ucapan pemimpin ikrar. Setelah itu baru diikuti perlahan lahan oleh hadirin, kalimat per kalimat; kedua, berikut isi ikrar: "Pada hari ini, saya halalkan dan maafkan segala kesalahan hadirin yang ada di sini, baik disengaja maupun tidak, lahir maupun batin, besar  maupun kecil, ikhlas dan ridha karena Allah ta`ala"; dan ketiga atau terakhir, jamaah diajak membaca Surat Al-Fatihah.

Ustadz Darul Qutni sendiri diminta memimpin ikrar ini pertama kali saat ziarah kubro Ummi Hasanah beberapa tahun yang silam. (Dari pelbagi sumber) *


Ustadz Rakhmad Kiki adalah penulis buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris RMI NU (asosiasi pesantren) DKI Jakarta.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG