IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Kemampuan Bahasa Asing Tidak Terhindarkan bagi Santri

Selasa 2 Juli 2019 7:30 WIB
Bagikan:
Kemampuan Bahasa Asing Tidak Terhindarkan bagi Santri
Kota Banjar, NU Online
Pengasuh pesantren ini mengingatkan kepada seluruh santri untuk menguasai bahasa asing termasuk Inggris dan Arab. Karena dengan menguasai bahasa, maka akan menguasai dunia. 

Hal tersebut disampaikan KH Munawir Abdurrohim, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar, Jawa Barat. Wejangan disampaikan kepada ribuan santri putra dan putri saat pengajian Slasaan, Senin (1/7) petang. 

Dengan diawali ucapan salam, bismillah dan ahlan wasahlan, KH Abdurrohim mengawali ceramahnya. Setelah itu, menyambungnya dengan berbahasa Inggris dan Arab. Sontak ribuan santri heran dan kagum mendengarnya. Tak disangka, yang selama ini mereka tahu hanya mengartikan kitab dengan pegon Jawa, kini mendengarkan langsung sang kiai berbicara dengan bahasa Inggris dan Arab. 

“Seluruh santri hendaknya belajar menggunakan bahasa Inggris dan Arab, karena dua bahasa itu merupakan bahasa dauliyah yaitu bahasa internasional,” katanya. 

Selain itu dengan berlatih menggunakan kedua bahasa tersebut, KH Abdurrohim mengatakan bahwa santri adalah harapan bangsa. Menurutnya, santri harus bisa menjadi harapan bangsa dan harapan di masyarakat. 

“Kamu semua adalah harapan bangsa. Terutama kamu semua adalah harapan orang tuamu,” ungkapnya dengnan nada khasnya. 

Untuk menjadi harapan bangsa, maka para santri harus menjadi harapan orang tua. Santri adalah kebanggaan orang tua. Maka dari itu balaslah dengan membuat bangga orang tua. 

“Demi mewujudkan semua itu, maka santri Al-Azhar harus mematuhi tiga pilar santri yaitu sregep jamaah, sregep nderes al-Qur’an, sregep ngaji lan sekolah,” ungkapnya. 

Pondok pesantren yang berdiri sejak 1960 ini mempunyai tiga pilar tersebut dalam belajar. Tiga pilar tersebut adalah wejangan pendiri pondok pesantren, simbah KH Abdurrahim atau ayah KH Munawir Abdurrohim sang pejuang pengusir penjajah di tanah pondok setempat. Tiga pilar tersebut berbahasa Jawa. 

Selain itu, tiga pilar merupakan wejangan yang manjur dibuktikan dengan alumni pondok Al-Azhar menjadi pengayom masyarakat. “Juga melanjutkan kuliah di luar negeri dan menjadi orang sukses sampai pimpinan IPNU Pusat, menteri dan sukses dalam organisasi lainnya,” jelasnya. 

Selain itu, untuk menjadi pemuda harapan bangsa dengan tiga pilar tersebut. “Maka hendaknya para santri dianjurkan untuk bersiwak. Karena dengan bersiwak menjadikan pikiran tajam dan mempunyai daya hapal kuat,” pungkasnya. (Siti Aisyah/Ibnu Nawawi)

 

Bagikan:
Selasa 2 Juli 2019 22:30 WIB
Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu Berdasarkan Cinta, Bukan Pentungan
Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu Berdasarkan Cinta, Bukan Pentungan
Gus Aun
Kendal, NU Online
Perintah untuk mengajak pada kebaikan dan menolak pada kemunkaran berdasarkan cinta. Seseorang akan menjadi baik atau sebaliknya itu hak prerogatif Allah, sementara tugas manusia hanyalah berdakwah. 

"Hidayah, surga, neraka itu urusan Allah. Tugas kita hanyalah berdakwah. Tapi oleh ulama amar ma'ruf nahi munkar ini dicetak tebal. Perintah Allah ini dasarnya cinta bukan pentungan," kata KH Aunullah A'la Habib dalam Ngaji Kebangsaan yang diadakan PAC GP Ansor Patebon di Lapangan Desa Wonosari, akhir pekan lalu. 

Wasekjen PP GP Ansor yang akrab disapa Gus Aun itu menyoroti maraknya klaim dakwah oleh sejumlah oknum yang tidak disampaikan secara ramah, tapi justru dengan amarah. 

"Nabi dulu sibuk berdakwah mengajak orang masuk Islam, tapi mereka yang mengaku umat Kanjeng Nabi malah sibuk mengkafir-kafirkan sesamanya. Sebenarnya yang dicontoh itu siapa?" tegas Gus Aun.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda, Doglo, Boyolali itu mengajak hadirin untuk meneladani cara berdakwah Wali Songo. Menurutnya ajaran Islam bisa diterima secara luas di Indonesia berkat peran Wali Songo yang berdakwah dengan semangat mengabdi pada masyarakat bukan malah memusuhi. 

Wali Songo, dikatakannya, tidak hanya alim dalam ilmu agama, tapi juga memiliki pemahaman yang menyeluruh terhadap budaya masyarakat Nusantara. Berbekal keilmuan dan kearifan tersebut, masyarakat Nusantara dengan raja-raja yang sudah dikenal luas pengaruhnya itu memberikan kepercayaan. 

Menurut kiai muda asal Boyolali itu, pendekatakan kebudayaan yang dilakukan Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam menjadikan Islam di Indonesia khas. Banyak bangsa lain iri dengan Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan agama, tapi umat muslim bisa hidup rukun berdampingan. Ironisnya belakangan ini malah dipermasalahkan oleh kelompok-kelompok baru yang mengaku sebagai pembawa ajaran Islam. 

"Semangat berdakwah Wali Songo itu yang sampai sekarang masih dipegang oleh ulama NU. Para kiai pesantren ini layak dijadikan teladan, karena setiap perilakunya didasari ilmu dan setiap ilmunya diamalkan," imbuhnya.

Kepada kader Ansor, Gus Aun berpesan untuk terus mengawal perjuangan para kiai dan tidak sekali-kali jauh dari pesantren. Selain itu, para kader didorong untuk bisa menjadi pelayan masyarakat yang siap menghadapi tantangan modernitas tanpa meninggalkan jati diri bangsa.

Sementara itu, Akhmad Shodiq selaku ketua PAC Ansor Patebon mengatakan Ngaji Kebangsaan sebagai puncak dari rangkaian Harlah GP Ansor ke-85 dengan tema "Urip Rukun Aja Gawe Pati lan Larane Lian". Sebelumnya panitia mengadakan pentas budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pembaretan calon anggota Banser. 

"Tema kerukunan dalam hidup bermasyarakat yang kami angkat pada Harlah Ansor kali ini untuk menegaskan bahwa kami sebagai wadah organisasi para pemuda NU siap untuk terus mengawal ajaran ahlussunah wal jamaah dalam bingkai NKRI yang majemuk," imbuh Misbahul Munir, Sekretaris PC Ansor Kendal. (Muhammad Sulhanudin/Abdulllah Alawi)

Selasa 2 Juli 2019 21:45 WIB
Dema Sekolah Tinggi Ilmu Syariah NU Aceh Terbentuk
Dema Sekolah Tinggi Ilmu Syariah NU Aceh Terbentuk
Ketua Dema STIS NU Aceh Tgk Umar Dani
Jakarta, NU Online
Sekolah Tinggil Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STIS NU) Aceh telah menggelarkan pemilihan Dewan Eksekutif Mahasiswa (dema) STISNU Aceh periode 2019-2020 pada tanggal 1 Juli 2019. Pemilihan pengurus dema diikuti mahasiswa dan mahasiswi dari dua program studi (prodi) dalam lingkup kampus yang disebut-sebut sebagai kampus Aswaja ini, yaitu Prodi Hukum Ekonomi Syariah dan Prodi Hukum Keluarga.

Wakil Ketua III STIS NU Aceh Maimun mengatakan, dema perlu dibentuk bahkan sangat penting karena merupakan wadah organisasi mahasiswa, yang berhimpun untuk melaksanakan berbagai program dan kegiatan untuk kemahasiswaan dan umat. Pengurus sebelumnya disebut Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Karena ada regulasi terbaru dari Kemenag, badan mahasiswa ini kemudian disebut dema.

"Pengurus sebelumnya disebut BEM, sedangkan sekarang ini dema. Organisasi mahasiswa sangat penting. Karena melalui organisasi mahasiswa dapat membuat kegiatan atau program demi kepentingan mahasiswa itu sendiri. Dan ini pemilihan pertama untuk dema. Alhamdulillah acara pemilihan sudah sukses," jelasnya kepada NU Online, Selasa (2/7).

Hasil Keputusan Panitia Pemilihan DEMA (PPD), yang terpilih menjadi Ketua DEMA STISNU Aceh adalah dari Pasangan Nomor Urut 02 atas nama Tgk. (kiai muda) Umar Dani dan Tgk (kiai muda) Fitra Yani. 

"Barakallah, selamat kepada pasangan terpilih. Semoga mereka dapat bekerja dg baik untuk memajukan STIS NU Aceh ke depan," ungkap Ketua STIS NU Aceh, Tgk. Muhammad Yasir, MA.

Kegiatan mahasiswa ini dilaksanakan di halaman kampus. Kampus berjulukan "jantong hatee ulama" ini berada di bawah naungan Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Sehingga dengan berbahagia acara ini turut disaksikan oleh ketua yayasan yaitu Tgk. Faisal, yang juga Wakil Ketua MPU Aceh.

"Kita ingin mahasiswa STIS NU aktif dan kreatif. Apa maksudnya? Kita ingin mahasiswa aktif belajar. Belajar di kampus dan juga belajar di dayah. Kita harapkan anak-anak kami pintar menulis, dan berbuat kreatif untuk kepentingan mahasiswa itu sendiiri. Buat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Berapapun kegiatan silakan buat. Soal dana kami yang ngurus. Tapi jangan lupa, kuliah harus nomor satu. Kalian harus selesai kuliah tepat waktu," ujar Tgk Faisal dalam sesi bimbingan setelah acara pemilihan selesai.

Dalam penyampaiannya, Tgk Faisal juga mengatakan dalam waktu dekat akan diadakan pelantikan Pengurus STISNU Aceh periode 2019-2023. 

"Kampus kita adalah kampus satu-satunya NU di Aceh. Perlu kami sampaikan juga kepada anak-anak kami dalam waktu dekat kita akan membuat acara pelantikan pengurus kampus. Jadi mari kita sukseskan acara ini bersama-sama. Demi kemajuan kampus kita," pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Selasa 2 Juli 2019 21:0 WIB
STIS NU Aceh Kampus 'Jantong Hatee' Ulama
STIS NU Aceh Kampus 'Jantong Hatee' Ulama
Salah satu kegiatan STIS NU Aceh
Jakarta, NU Online 
Di Provinsi Aceh, NU hanya memiliki satu kampus yaitu Sekolah Tinggil Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STIS NU) Aceh yang berada di Kabuppaten Aceh Besar. Letaknya di dayah (pesantren) Mahyal Ulum Al-Aziziyah yang diasuh oleh Tgk H Faisal Ali (Ketua PWNU Aceh). 

Kampus yang memiliki dua jurusan yaitu Hukum Ekonomi Syariah dan Hukum Keluarga tersebut didirikan pada tahun 2013. Saat ini memiliki sekitar 150 mahasiswa dan mahasiswi. Sebelumnya kampus tersebut dipimpin Tgk H Muhammad Hatta, sekarang dipimpin Tgk H Muhammad Yasir.  

"Kampus kita adalah kampus satu-satunya NU di Aceh,” katan Tgk H Faisal Ali kepada NU Online, Selasa (2/7). 

Tengku yang akrab disapa Lem Faisal ini mengatakan, karena kampus tersebut di bawah naungan jam’iyah Nahdlatul Ulama, pihak STIS NU Aceh menyebutnya sebagai jantong (antung) hatee (hati) ulama Aceh. 

Karena, kata dia, selain belajar di kampus, mahasiswa dan mahasiswinya diwajibkan mengaji ktab kuning di dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Jadi, mahasiswa dan mahasiswi belajar di kampus pagi hingga siang. Malam harinya mengaji kitab kuning. 

“Kita ingin mahasiswa STIS NU aktif dan kreatif,” harap Lem Faisal,” Apa maksudnya? Kita ingin mahasiswa aktif belajar. Belajar di kampus dan juga belajar di dayah. Kita harapkan anak-anak kami pintar menulis, dan berbuat kreatif untuk kepentingan mahasiswa itu sendiri. Buat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat,” jelasnya. 

Menurut dia, pihak kampus akan memfasilitasi kegiatan-kegiatan kreatif mahasiswa. 

“Berapa pun kegiatan, silakan buat. Soal dana kami yang ngurus.  Tapi jangan lupa, kuliah harus nomor satu. Mahasiswa harus selesai kuliah tepat waktu," ujarnya. 

Lem Faisal juga mengatakan dalam waktu dekat akan diadakan pelantikan Pengurus STISNU Aceh periode 2019-2023. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG