IMG-LOGO
Fragmen

Ketika Santri Lebih Dulu Perkuat Nasionalisme, Lalu Berlatih Militer


Selasa 2 Juli 2019 13:00 WIB
Bagikan:
Ketika Santri Lebih Dulu Perkuat Nasionalisme, Lalu Berlatih Militer
Laskar Santri 'Hizbullah' (istimewa)
Sebelum Jepang (Nippon) datang ke Indonesia pada Maret 1942, perjuangan orang-orang pesantren masih dilakukan dalam bentuk perlawanan kultural terhadap penjajah Belanda. Pasca Nippon menduduki wilayah Indonesia seiring berjalannya waktu terjalin sejumlah kesepakatan yang membuka kesempatan para santri melakukan latihan militer bersama Jepang.

Awalnya, Pimpinan Tentara Jepang di Indonesa ingin membentuk pertahanan tambahan untuk melawan tentara sekutu. KH Hasyim Asy’ari menyetujui santri dilatih militer oleh Jepang. Tetapi mereka tidak akan ke mana-mana, tetap menjaga Indonesia dan membentuk barisan tersendiri yang dinamakan Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Ini merupakan langkah Kiai Hasyim Asy’ari dalam menyiapkan tentara santri untuk menghadapi kemungkinan datangnya tentara sekutu ke Indonesia.

Prediksi Kiai Hasyim Asy’ari benar. Setelah mengalahkan Jepang, tentara sekutu yang di dalamnya ada tentara NICA Belanda ingin kembali menduduki Indonesia. Belanda membonceng sekutu sehingga ini merupakan Agresi Belanda kedua setelah sebelumnya juga menduduki Indonesia. Namun, kali ini persiapan tentara santri telah matang secara militer. Sebelumnya, Kiai Hasyim Asy’ari menyampaikan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk menggerakkan seluruh bangsa Indonesia, terutama umat Islam untuk memukul mundur tentara sekutu.

Sebelum matang dalam dunia kemiliteran yang menjadi modal santri dalam menghadapi sekutu, sekaligus dalam melawan tentara Jepang sendiri, para ulama pesantren melakukan berbagai langkah untuk terlebih dahulu menanamkan cinta tanah atau nasionalisme kepada para santri. Jiwa ini dibangun karena para ulama menyadari bahwa tanah airnya sedang dijajah. Kala itu para kiai tidak hanya menjadikan pesantren sebagai tempat menempa ilmu-ilmu agama, tetapi juga sebagai wadah pergerakan nasional.

Prinsip cinta tanah air sedari awal telah ditekankan oleh KH Hasyim Asy’ari, hubbul wathan minal iman. Di sini peran ulama pesantren sebagai motor, motivator, sekaligus negoisator tidak bisa dielakkan. Sebab, di masa Agresi Militer Belanda II, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini mampu menggerakkan rakyat Indonesia untuk melawan dan mengusir penjajahan kembali oleh Belanda yang membonceng tentara Sekutu (Inggris).

Fatwa tersebut menggambarkan bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan kewajiban agama. Hal ini merupakan bagian yang inheren dari pola pendidikan pesantren yang diperkuat oleh para kiai. Santri senantiasa diperkuat dengan kepedulian-kepedulian sosial yang tinggi sehingga melahirkan spirit perjuangan melepaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan.

Kebutuhan akan pentingnya pendidikan untuk menunjang pergerakan nasional juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Pada tahun 1916 ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan. Kiai Wahab Chasbullah menyadari bahwa perjuangan di ranah politik tidak akan maksimalkan, terutama dalam mempersiapkan generasi muda sehingga ia mendirikan Nahdlatul Wathan.

Pada tahun 1916 juga, Nahdlatul Wathan (Pergerakan Cinta Tanah Air) resmi mendapatkan Rechtspersoon (badan hukum) sebagai sebuah lembaga pendidikan untuk menggembleng nasionalisme para pemuda. Nahdlatul Wathan digawangi oleh KH Abdul Kahar sebagai Direktur, KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan), dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah.

Nahdlatul Wathan merupakan upaya Kiai Wahab dan kawan-kawan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang kuat di dada para pemuda melalui pendidikan. Berangkat dari misi besar tersebut, Kiai Wahab menciptakan syair Ya Ahlal Wathan yang kini kita kenal dengan Ya Lal Wathan. Syair ini menjadi lagu wajib yang harus didengungkan sebelum memulai pelajaran di kelas, karena saat itu memang sudah diterapkan sistem klasikal dengan kurikulum 100 persen agama.

Sebagai madrasah perintis dalam memperkuat rasa nasionalisme, kurikulum Nahdlatul Wathan tentu menarik untuk dipelajari. Dalam teori pendidikan modern, masyarakat pendidikan tentu mengenal disiplin ilmu Teknologi Pendidikan. Deskripsi kurikulum Nahdlatul Wathan ini sesungguhnya tidak lain untuk mempelajari Teknologi Pendidikan dalam bingkai tradisi pesantren yang digagas Kiai Wahab sebagai salah seorang arsitek pergerakan nasional.

Madrasah Nahdlatul Wathan juga berkembang pesat di setiap cabang NU. Di jawa Barat berpusat di Madrasah Mathla’ul Anwar Menes, Banten. Di Jawa Tengah berpusat di Nahdlatul Wathan di Jomblangan Kidul, Semarang. Sedangkan di Jawa Timur berpusat di Surabaya dengan cabang-cabangnya yang tersebar luas di Jombang, Gresik, banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, dan kota-kota lainnya.

Dalam mengembangkan Madrasah Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar, Kiai Wahab berupaya menyebarkan 'virus' cinta tanah air (hubbul wathan) secara luas di tengah masyarakat dan generasi muda dengan membawa misi tradisi keilmuan pesantren. Perjuangan mulia ini tentu harus digerakkan secara terus-menerus melalui setiap lembaga pendidikan di mana pun  sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin kuat dan tak pernah surut. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG