IMG-LOGO
Esai

Menjadikan Buku sebagai Suluh

Rabu 3 Juli 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Menjadikan Buku sebagai Suluh
Gus Dur mengetik tulisan
Oleh Muhammad Ghufron

Suatu hari di waktu pagi yang cerah, sosok berjanggut tebal itu pernah mempunyai kebiasaan mulia. Duduk mematung di kursi sembari memangku buku ditemani secangkir kopi dan rokok sambil menghadap sinar matahari. Kebiasaan itu dilakukan sehabis bangun dari tidurnya di waktu pagi. Tak banyak yang dilakukan olehnya selain bersetia mencumbui buku-buku.Itulah Karl Marx. Sosok yang menjadikan buku sebagai jembatan menuju lorong-lorong ide dan pemikiran. Membaca buku seolah menjadi ibadah wajib bagi Marx.

Hingga terlahirlah ke dunia, aliran Marxisme yang membawa segudang misi ide-ide tentang Karl Marx. Das Kapital yang tebalnya berjilid-jilid itu merupakan kitab suci aliran ini. Pemikirannya secara gradual dikaji oleh para pemikir dan tokoh-tokoh dunia sebagai rujukan merevolusi tatanan masyarakat yang sedang mengalami kejumudan yang bertungkus-lumus dengan pengapnya ketertindasan. Itulah mengapa di masa rezim Orde Baru yang bobrok itu, buku ini dilarang terbit dan sempat sesekali dibreidel. 

Di saat getirnya rezim Orde Baru bertahta, muncullah sosok yang hadir membawa segudang ide ke tengah-tengah masyarakat republik Indonesia saat itu. Ia menawarkan wawasan visioner tentang bangsa. Sebut saja Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sosok yang dijuluki Sang Guru Bangsa tersebut merupakan representasi dari sebuah ikhtiar melepaskan bangsa dari tubir kehancuran.

Serupa dengan Karl Marx, Gus Dur merupakan pembaca buku yang ulung dan tekun.Semasih duduk di bangku MTs dirinya telah berhasil mengkhatamkan Das Kapital-nya Karl Marx yang tebalnya berjilid-jilid itu.Baginya mencumbui buku merupakan suluh mengimajinasikan bangsa dan rujukan menambah horizon pengetahuan. 

Barangkali wawasan kebangsaan yang lekat dengan pluralisme terlahir dari kebiasaan yang mulia satu ini. Sebab menjadi muskil membidani ide-ide segar tentang wawasan pluralisme jika tidak merujuk pada buku-buku.

Itulah Gus Dur dan Karl Marx. Dua sosok pembaca buku yang selalu mengakrabi aksara-aksara, menjadikan buku sebagai suluh menerangi kegelapan. Kini keduanya merupakan salah satu representasi sosok manusia abadi yang karya-karyanya tak akan lenyap begitu saja dalam rajutan narasi intelektual umat manusia.Kini keduanya telah mangkat, meninggalkan warisan berupa karya-karya yang patut kita renungi bersama.Tentunya ihwal laku literasi yang harus kita tiru. 

Ada Suluh dalam Diri Pembaca
Sekelumit dua sosok berkekasih buku seamsal Marx dan Gus Dur mengajarkan kita betapa redupnya jika dunia tanpa buku. Seisi manusia di muka bumi ini seketikaberubah menjadi janggal dan berpongah-pongahan jika masih menampikgairah literasi.

Ada yang jadi tukang jagal dengan karakter antagonisyang merindukan perkelahian sesama manusianya, ada juga yang selalu menyetubuhi kebencian hingga lahirlah anak haram yang dinamai permusuhan. Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang timbul akibat kita tidak mencumbui buku dan mengambil hikmah di dalamnya. 

Kini kegamangan dan rasa waswas untuk menepaki jalan masa depan semakin terasa.Kompleksitas kehidupan umat manusia terbelenggu oleh jalan buntu. Sebab ide-ide dan wawasan tak lagi mengalir secara jernih. Seketika menjadi beku. Inilah sepenggal gambaran nestapa yang tercipta akibat kita menarik diri dari buku- buku. Sains menjadi mati. Sastra seketika bungkam. Dan pemikiran pun ikut-ikutan macet. 

Lihatlah sejenak kondisi bebal pemuda-pemuda kita yang jauh dari buku-buku. Kita sungkan meratapi problem anak mudayang semakin mengacuhkan diri dari gairah literasi. Akan tampak ke permukaan perdebatan-perdabatan ngelantur tanpa makna yang dibuat untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang intelektual. Semuanya hanyalah bungkus yang terlalu bergagah-gagahan menang sendiri. Padahal apa yang dibicarakan nir- referensi. 

Jika kita hendak kembali sejenak megafirmasi diktum Latin yang berbunyi historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan. Maka kita akan kembali menemukan secercah inspirasi yang berpendar relevan untuk kita kontekstualisasikan hinggakini. Inspirasi itu berkelindan ihwal sejarah Indonesia merdeka yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kuatnya basis membaca founding fathers. 

Lihat saja pergumulan heroik Tan Malaka, Bung Karno, Sutan Sjahrir, dan Bung Hatta dengan buku-buku. Tan Malaka misalnya, saat hendak studi ke Belanda seorang ibu kosnya berkata wajah Tan Malaka seolah berwarna hijau saking terlalu lamanya mencumbui buku. 

Hal serupa juga terjadi pada diri Bung Hatta saat diasingkan ke Digul. Dirinya masih menyempatkan diri mengemas buku-bukunya sebanyak 16 peti. Bahkan dari saking mulianya buku dalam diri Hatta, jangankan tangan manusia, setitik debu pun harus hilang dari setiap buku. Lain halnya dengan Bung Karno yang menjadikan buku sebagai mahar meminang sang istri, ibu Rahmi.

Tak ayal jika pada masa kolonial Belanda, ide-ide mereka sanggup mengisi relung-relung publik sebagai pemantik api perjuangan. Mereka sanggup menjadikan buku sebagai suluh mengimajinasikan bangsa dan menjadikan gairah literasi sebagai laku hidup mereka. 

Bagi mereka buku menjadi bungkus sekaligus substansi yang bisa menjadi penuntun ke arah pemuliaan adab bangsa Indonesia. Berusaha mengambil hikmah dibalik buku untuk kemudian dimanifestasikan dalam laku sehari-hari. Karenanya buku merupakan sirkulasi pengetahuanyang bisa dijadikan teman setia sambil merenungi hakikat diri sebagai manusia. Dengan begitu, buku menjadi semacam pemantik untuk mengaktualisasikan proses humanisasi dalam ranah praksis. 

Membungkus diri dengan buku, berarti kita telah berupaya membangun narasi intelektual. Kita lalu menjadi manusia yang tak hanya mematutkan diri seraya menghamba pada sampah-sampah peradaban. Sebab dalam diri kita telah tersublimasi hikmah adiluhung yang terdapat dalam buku-buku. Itulah mengapa K. H. Zainal Arifin Thoha pendiri komunitas Kutub berujar, “Bacalah semua buku. Jangan takut. Tuhan bersama bersama pembaca buku”.

Tuhan kita telah memberi salah satu suluh itu dalam buku.Para pembaca bukumempunyai nyali untuk menapaki jalan terjal, berbatu, dan berduri dihadapan para pemujaanti kebenaran. Sebab dirinya telah terbekali oleh petunjuk Tuhan yang termanifestasi dalam buku. “Tuhan kita termanifestasi dalam buku,” ucap Azyumardi Azra suatu kali dalam Musyawarah Buku.

Tak perlu cemas menghadapi situasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin dinamis. Sebab kita telah mengantongi pundi-pundi pengetahuan yang bisa meluncurkan ide-ide untuk membidani lahirnya negara yang berdaulat. Bukankah secara historikideologi bangsa kita terlahir dari pergumulan ide-ide pendiri bangsa?

Akhirnya,melakukan ikhtiardengan membaca buku, kita seolah menerobos lorong-lorong pengap kejumudan. Pikiran pun seakan dibiarkan bertualang menjemput pengetahuan. Sekalipun raga di belenggu, namun pikrian akan tetap leluasa bertualang menyusuri taman-taman pengetahuan. “Kalian boleh saja memenjarakanku asalkan aku bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Demikian Bung Hatta berujar. 


Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsadan MA 1 Annuqayah Guluk- guluk, Sumenep Madura. Karya-karyanya pernah dimuat di sejumlah media seperti, Radar Madura, Kabar Madura, Mata Madura, NU Online dan Laduni.id. 
Bagikan:
Senin 1 Juli 2019 20:0 WIB
Memilih Pesantren NU agar Toleran
Memilih Pesantren NU agar Toleran
Rezka diterima di Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.
Oleh Irham Ali Saifuddin

"Alhamdulillah Mas, anak saya Rezka diterima di pesantren."

Begitulah pesan singkat dari seorang sahabat saya yang melalui aplikasi messenger beberapa hari silam.

"Assalamualaikum, kami dari panitia Penyaringan Santri Baru (PSB) SMP Ali Maksum memberitahukan bahwa ananda Rezka dinyatakan DITERIMA sebagai Santri SMP Ali Maksum," ia susulkan terusan pesan dari panitia seleksi pesantren yang mengkonfirmasi bahwa anaknya lolos seleksi di pesantren NU yang berbasis di Krapyak Yogyakarta tersebut.

Jimmy, nama sahabat saya tersebut, mungkin mengalami perasaan 'nano-nano', campur-aduk antara senang, sedih atau bahkan bingung. Betapa tidak, dalam sejarah keluarganya ini merupakan pengalaman perdana mempercayakan pesantren untuk masa depan anak kelak.

Jimmy bukanlah berasal dari keluarga santri atau mambu santri. Ia merupakan kebanyakan masyarakat Indonesia, Muslim yang menjalankan ritual dan kewajiban agamanya, tetapi tidak begitu berhasrat untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai kaum santri. Ia mungkin lebih pas mewakili kaum abangan dalam bahasa antropolog Clifford Geertz.

Kegelisahan Muslim Awam

Mungkin akan menarik untuk mengetahui sedikit lebih dalam mengapa kawan tersebut akhirnya mempercayakan pesantren sebagai media pendidikan anaknya. Ini agak menarik dan mungkin sedikit berbeda dengan sebagian kita yang memiliki tradisi santri secara turun-menurun.

Bagi kaum santri, barangkali among the top rank alasan memesantrenkan anak adalah untuk kecipratan berkah kiai, menjaga darah hijau untuk tetap mengalir pada generasi penerus, dan alasan-alasan klasik-melankonik sekitar itu. Kualitas pendidikan, atau masa depan yang gemilang, bukanlah faktor pendorong bagi kaum santri untuk memondokkan anaknya. Bekerja di tempat yang prestisius dan bonafid? Itu sama sekali tidak pernah terpikir di benak orang tua kami zaman dahulu.

Jimmy, dan mungkin kebanyakan orang, hanyalah kalangan yang gelisah dengan pergaulan dan dunia pendidikan sekaligus. 

Kenakalan remaja, narkoba atau kecanduan games dan gadget mungkin menjadi alasan sentimentil yang pertama. Dengan gadget yang tidak bisa lepas dari anak kita dan teman-temannya, sebagian kita menjadi sedemikian khawatir terjadinya disfungsi informasi dan kegunaan gadget. Kita khawatir, gadget bukan saja akan menyita waktu belajar anak-anak melainkan juga menjadi media yang buruk bagi tumbuh kembang anak.

Alasan kedua adalah dunia pendidikan kita yang semakin minim karakter. Sekali lagi, masalah agama tidak menjadi soal yang sangat serius bagi kalangan seperti kawan saya ini. Beragama itu bagi kawan saya sewajarnya sebagai bentuk kehambaan manusia di hadapan Tuhannya. Bagi Jimmy dan kalangan abangan-menengah, karakter merupakan elemen yang penting dalam pendidikan anak. Lebih penting ketimbang deretan nilai-nilai akademik dan prestasi-prestasi seremonial lainnya.

Kawan saya ini juga unik. Meskipun secara ekonomi tergolong berkecukupan--ia bekerja sebagai konsultan pembangunan di beberapa lembaga internasional--ia adalah orang yang gelisah dengan pendidikan berbiaya tinggi. Baginya, mutu pendidikan tidaklah melulu diikuti dengan biaya yng tinggi.

"Sebenarnya saya bisa saja menyekolahkan anak saya di international school atau di pesantren modern yang biaya masuknya bisa 40-60 juta. Tapi untuk apa bila kemudian tidak berhasil membentuk karakter anak saya kelak. Apalagi pesantren modern kalau saya lihat derajat toleransinya tidak tinggi, tidak setulus pesantren-pesantren NU yang toleransinya dari hati," imbuhnya sembari menjelaskan alasan yang lebih substansial.

Intoleransi dan Hijrahnya Kaum Abangan

Apa yang disampaikan sahabat saya tersebut setidaknya menjelaskan sedikit kepada kita akan apa yang sedang terjadi di kalangan Muslim abangan, dan juga priyayi (bila kita masih hendak konsisten menggunakannya dalam diskusi kali ini).

Lihat saja bagaimana bergairahnya pengajian-pengajian di lingkungan ASN, pegawai BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta bonafid yang merupakan tempat berkumpulnya kalangan priyayi dan abangan. Atau, cermatilah fenomena artis-artis hijrah yang berhasil mengubah penampilah lahiriah mereka 180 derajat. Belum cukup? Lihatkan generasi millennial yang rata-rata tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang berduyun-duyun membanjiri Hijrah Fest di GBLA Bandung beberapa waktu lalu.

Tidak ada yang salah dengan fenomena hijrah ini. Masalahnya adalah mereka yang berhijrah ini kemudian memiliki sikap yang cenderung intoleran, baik terhadap kaum seagama sendiri lebih-lebih terhadap saudara kita non-Muslim. Hingga di sini, fenomena hijrah ini menjadi sesuatu yang patut dikoreksi.

Terlebih belakangan kita bisa melihat bagaimana kawan sepergaulan kita, yang tadinya baik-baik saja, hidupnya humanis dan dapat berkawan dengan siapa saja secara lahir bathin namun kemudian hidupnya berubah. Cara pandang mereka terhadap kehidupan dan interaksi sosial berubah setelah mengenal dunia hijrah'. Mereka mendadak menjadi intoleran, membatasi diri dalam ruang lingkup pergaulan yang lebih terbatas, minimal mereka-mereka ini menganggap non-Muslim sebagai pihak yang 'patut dicurigai' dan karennya 'harus berhati-hati' berinteraksi dengan mereka.

Pesantren NU sebagai Koreksi Fenomena Hijrah

Karena kepo, kemudian saya bertanya lagi kepada sahabat tersebut kenapa ia memasukkan anaknya ke pesantren NU. Ini agak unik bagi saya karena Jimmy bukanlah aktivis NU, atau pernah mengikuti jenjang kaderisasi di badan otonom NU. Jimmy dan keluarga besarnya juga tidak ada yang berpendidikan pesantren dalam sepanjang sejarah. Jimmy juga bukanlah lulusan IAIN, UIN, atau STAI. Demikian juga Veni, istri Jimmy, ia juga awam sama sekali tentang pesantren. Veni juga tidak terobsesi dengan tayangan dai cilik atau program tahfidz anak seperti di tivi-tivi selama Ramadhan.

Jawaban Jimmy dan Veni membuat hati saya tergetar, berbaur antara haru, bangga sekaligus agak teriris. "Kami melihat NU selalu menjunjung tinggi nilai Islam rahmatan lil alamin. Sehingga, kami berharap anak-anak kami nantinya bisa melihat bahwa perbedaan adalah hal yang alami dan sunatullah. Bagi kami, ber-Islam itu bukan hanya hablum minallah, melainkan juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi," jelasnya.

Apa yang terjadi pada Jimmy dan Veni ini juga dialami oleh sebagian kalangan Muslim awam (abangan dan priyayi) di sekeliling kita. Itulah yang menjelaskan kenapa fenomena hijrah menjadi marak. Sayangnya fenomena hijrah ini cenderung melekat pada sandaran ajaran pemaknaan Islam secara literal, simplistis, ahistoris sehingga cenderung menanamkan benih intoleransi terhadap sesama. Medan 'hijrah' ini sudah terlanjur dikuasai oleh pengajar-pengajar agama yang berpemahaman keagamaan yang kaku dan kurang bisa menerima pihak lain.

Apa yang dialami Jimmy sesungguhnya menjadi pelajaran bagi kita semua. Pelajaran yang teramat menarik. Bahwa maraknya intoleransi belakangan ini yang salah satunya disebabkan oleh fenomena hijrah, sesungguhnya bisa dikoreksi oleh pesantren NU. Pesantren harus turun gunung kembali untuk menjadi garda terdepan dakwah di masyarakat yang lebih luas. 

Yang sedang dialami oleh kaum Muslimin awam (priyayi dan abangan) hanyalah fenomena dahaga spiritualitas semata. Sayangnya, selama ini pesantren atau khususnya pesantren di lingkungan NU tidak melakukan penetrasi yang ekspansif di kalangan-kalangan Muslim awam ini. Pesantren NU hanya populer di kalangan yang sudah memiliki tradisi santri.

Apa yang dialami Jimmy dan Veni tentu sangat spesial. Walau tidak memiliki tradisi santri sebelumnya, pasangan ini berhasil melewati sebuah transformasi kegelisahan dengan cara yang benar: kegelisahan mereka akan masa depan anak tidak lantas membuat keduanya gegabah memilih dunia pendidikan! Mereka mempertimbangkan aspek kecerdasan akademis, kecerdasan sosial, dan fahim agama dengan satu bingkai yang tegas: rahmatan lil alamin yang karenanya harus toleran lahir-batin. Bukan toleran yang tampak permukaan tetapi dalam hatinya masih tertanam sekam kebencian terhadap makhluk Tuhan yang berbeda dengannya.

Selamat ya Jimmy dan Veni. Insyallah Rezka kelak menjadi anak bangsa yang tangguh dengan keislaman dan keindonesiaannya!

Penulis pernah belajar di sejumlah pesantren.
Ahad 23 Juni 2019 17:0 WIB
Sisa Kenangan Ramadhan: Melacak Buku Paling Lecek
Sisa Kenangan Ramadhan: Melacak Buku Paling Lecek
Oleh Didin Sirojuddin AR

Selama 30 hari Ramadhan, saya gunakan juga untuk membaca-baca buku akhlak-tasawuf. Ini tema favorit. Makanya, saya senang membacanya. Tapi, lagi-lagi pilihan jatuh ke terjemahan Kitab Tanbihul Ghafilin (Peringatan Orang-orang Lalai) karangan Abul Laits As-Samarqandi yang tebalnya 661 halaman. Buku ini sudah kelewat lecek. Betul-betul lecek. Laiknya jadi bahan penelitian para ahli filologi.

Maklum, sejak dibeli Rp 7000 pada 18 Maret 1992, buku ini sudah lebih 1000 kali dibaca. Padahal buku-buku populer lain dibaca paling satu dua kali. Seperti record ya. Tapi, sebetulnya, masih kalah sama  Al-Qur‘an yang dibaca saban Maghrib dan Shubuh.

Isi Kitab Tanbihul Ghafilin benar-benar menggugah dan menggoda, dan hanya tersaingi kitab-kitab seperti Durratun Nashihin (Butiran Nasihat), 'Izhatun Nasyi'in (Nasihat Kaula Muda), Nasha'ihul 'Ibad (Nasihat Para Hamba), Tanbihul Maghrurin (Peringatan Orang-orang Tertipu), Nasha'ihul Khattatin (Nasihat Para Kaligrafer), Jamharatul Auliya (Himpunan Para Wali), Al-Hikam (Hikmah Kebijaksanaan),  Syarhul Hikam (Uraian Hikmah), Al-Akhlaq Al-Islamiyah (Akhlak Islam), Al-'Ushfuriyah (Nasihat Burung), dan Iqazhul Himam (Membangunkan Cita-cita).

Sambil dibaca buku itu dicoret-coreti. Atau dibuatkan coretan summary-nya. Biasa, untuk bekal ceramah di majelis taklim atau pointers khutbah Jumat. Pernah juga coba dibuatkan 11 artikel saripatinya, Sembilan darinya dimuat di harian umum Republika.

Baca-baca buku ini di waktu senggang memang asyik, melebihi postingan di medsos yang sekali baca biasanya langsung bosan. Senikmat seperti yang dikatakan "bapak buku" Al-Jahizh:

نعمَ البديـــلُ الكتابُ

Artinya, "Pengganti paling nikmat adalah buku."

Buku jadi teman. Bahkan, teman paling setia:

خيرُجليسٍ فى الزمانِ كتابٌ

Artinya, "Sebaik-baik teman nongkrong di segala kesempatan adalah buku." 

Maka, jadilah Ramadhan waktu untuk thalabul ilmi. Ini yang kerap terlewatkan oleh sebagian besar  shaimin (orang yang berpuasa). Seolah Ramadhan hanya untuk diisi ibadah mahdhah. Padahal lebih dari itu.

Nongkrong sambil buka-buka buku, apalagi kalau ramai-ramai, mengingatkan kita ke zaman keemasan Islam dulu ketika "perpustakaan jadi keajaiban dunia" yang melahirkan seabrek intelektual yang belum ada di luar Dunia Islam.

Tepatnya, karena efek domino membaca buku dan semangat thalabul ilmi, maka umat Islam maju dan memimpin dunia. Ketika Eropa masih "barbar" dan Amerika belum ditemukan.

Katanya, sekarang jadi terbalik. Dari setiap 1 juta orang Amerika, intelektualnya 4000 orang. Jepang malah 5000 orang. Tapi di Dunia Islam, dari 1 juta muslim intelektualnya hanya 300an orang. Ketinggalan, karena kurang baca buku dan kalah maju di bidang pendidikan.

Membaca Kitab Tanbihul Ghafilin saat berlapar-lapar puasa terasa seperti ditampar, mengingatkan kalau selama ini kita sering lalai dan menganggap enteng ibadah, tobat, amar ma'ruf nahi munkar, sampai (seakan) lupa mati dan konsekuensi-konsekuensinya di alam barzakh dan akhirat. Seolah "kurang rindu" ke surga dan "kurang takut" masuk neraka.

Yang sering, kelalaian itu berupa sikap cuek terhadap amal-amal utama seperti sabar, sedekah, menyayangi anak yatim dan fuqara wal masakin dan dhuafa, mau memaafkan, merajut silaturahmi, sopan-santun bertetangga, memenuhi hak anak, zikir-tafakkur-syukur dan rajin baca Al-Qur’an dan shalawat, bersikap wara' dan tawakal,  semangat menimba ilmu, memelihara sifat malu, memupuk roh jihad (bukan dalam arti kekerasan macam sekarang), sampai sikap toleran atau lapang dada, menyebarkan salam perdamaian, dan menciptakan lapangan kerja bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain.

Sikap lalai yang paling gawat dan sudah masuk "studium empat" adalah perilaku buruk yang teruuus saja dilakukan padahal kita tahu hukum dan hukumannya. Misalnya: dusta (termasuk hoaks menurut istilah sekarang), ghibah (mengungkap keburukan orang), namimah (adu domba), hasud (dengki dan iri hati), takabur atau sombong, mengumbar emosi atau marah, mengumbar syahwat, rakus dan over mengkhayal, ihtikar (menggaruk untung dengan menimbun), sampai-sampai tidak lagi merasakan "haramnya barang haram" karena otaknya kurang lurus dan hatinya tidak lagi suci.

Fisik Kitab Tanbihul Ghafilin ini  sudah lecek. Tetapi isinya nggak ikut-ikutan lecek. Malah masih relevan dan bisa diamalkan untuk selalu mengingatkan kita sepanjang zaman.


Penulis adalah dosen pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah. Ia juga pengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi, Jawa Barat.
Selasa 18 Juni 2019 7:0 WIB
Tanah Perdamaian Leluhur di Pulau Doom
Tanah Perdamaian Leluhur di Pulau Doom
null

Oleh Siti Nur Syamsiah

 

Hari itu, tepat sepekan saya menjadi warga Papua Barat sejak tiba tanggal 13 Desember 2017. Ya, saya telah mendatangi Kantor BPJS Kota Sorong untuk mengganti domisi selama 12 bulan berikutnya melalui Program Bina Kawasan 3T Kementerian Agama RI.

 

Usai antrean panjang di depan kamar mandi asrama, saya bergegas ke dapur untuk minum teh sembari mengunyah pisang goreng tanpa tepung di pojok dapur. Selain saya, ada Mama Tua dan tiga santri yang duduk bersama. Mata saya menangkap hal yang tak lazim orang Jawa lakukan. Mereka mengkonsumsi pisang goreng sembari mencolek sambal di atas mangkuk putih bergambar Ayam Jago.

 

Saya memilih untuk mengamati ekspresi makan mereka. Mereka asyik berbincang tanpa menunjukkan tanda-tanda aktivitas itu berbahaya untuk kesehatan. Sejurus kemudian seorang santri menyodorkan piring berisi pisang goreng, saya beranikan mencolek sambal tipis-tipis.

 

Gigitan pertama terasa aneh, rasa manis pisang goreng berbaur dengan rasa pedas cabai, bawang dan tomat yang ditumbuk halus lalu digoreng lembab. Karena masih penasaran, kembali saya colekkan sambal lebih banyak dari sebelumnya. Gigitan kedua dan seterusnya sudah menari-nari di lidah. Ternyata betul, tindakan ini aman untuk perut.

 

Selesai sarapan pagi, saya kembali ke kamar untuk berkemas. Waktunya mengamati Papua dari dekat, menghirup udaranya dan mendekap cinta kasih masyarakat adat Papua, kata saya pada diri sendiri. Bersama Ade Zuleka Wahyuni Agia saya menuju Pelabuhan Rakyat di Jl Ahmad Yani Kampung Baru. Selama mengendarai sepeda motor, siswa tingkat akhir MAN Model Kota Sorong ini banyak berkisah tentang Papua.

 

Sembari mendengarkan penuturan Yuni, mata saya mengawasi kiri dan kanan jalan. Ada sekolah, gereja, pondok-pondok Natal, Masjid Raya Al Akbar, toko sembako, penjual bensin botolan, hotel, bandara DEO, rumah sakit, kantor polisi dan swalayan.

 

Empat puluh lima menit berlalu. Kami sampai dengan rasa was-was, karena saat angin laut kencang para pemilik perahu memilih untuk tidak memberangkatkan penumpang. Usai memarkirkan motor, kami berjalan ke bibir pantai Halte Doom Pelabuhan Rakyat.

 

Kaki saya terasa dingin saat tersentuh air pantai yang bening. Tampak dari permukaan beberapa karang mati tersapu ombak menepi. Tidak ketinggalan ikan seukuran teri berenang disamping perahu yang nanti akan digunakan untuk menuju Pulau Doom. Dari titik saya berdiri, saya leluasa melihat arus keluar masuk kapal barang dan kapal penumpang di pelabuhan, lalu sesekali terdengar bunyi pesawat melintas tak jauh dari pandangan mata.

 

Setelah mengabadikan beberapa spot alam dengan kamera ponsel, saya mengahadap ke laut lepas, membentangkan kedua belah tangan lebar-lebar, memejamkan kedua belah mata lalu menghirup udara dalam-dalam. Maha Suci Engkau, Wahai Pencipta Keindahan. Pulau Doom memang terlihat tidak jauh dari Kota Sorong, namun kamu dilarang berenang untuk sampai di sana. Tidak ada cara lain menuju pulau berjuluk Sorong masa lalu ini selain menggunakan transportasi air. Tidak lebih dari 15 menit menggunakan longboad istilah lain dari perahu mesin.

 

Setiap hari ada banyak perahu standby di Halte Sorong dari pagi hari hingga sore hari dengan rute Kota Sorong-Pulau Doom, begitu sebaliknya. Jadi jangan khawatir tidak bias pulang. Selama langit cerah, gelombang ombak stabil, dan sudah lebih dari lima orang dalam perahu pulang pergi pulau Doom tidaklah mustahil. Jangan lupa, ongkos satu kali naik perahu lima ribu rupiah.

 

“SELAMAT DATANG DI DISTRIK SORONG KEPULAUAN DOOM”. Tulisan dengan huruf kapital warna biru pada gardu masuk pulau Doom ini menunjukkan ikon lumba-lumba di atasnya. Seorang tukang bejak gowes menghampiri Yuni. Terjadi lobi-lobi harga di antara keduanya. Sepakat dengan harga Rp50.000 kami menaiki becak, duduk manis memulai perjalanan dipandu langsung oleh Pak Darman, seorang muallaf berdarah Jawa yang memutuskan hidup merantau ke Papua sejak berhenti dari TNI.

 

Panasnya bukan kepalang. Kami berkeliling kampung di bawah suhu 33 derajat celcius. Terlihat beberapa warga memilih duduk di pelataran rumah mencari angin. Di pulau ini sulit menikmati kesejukan pantai. Pohon-pohon diam mematung, angin terhalang kepadatan rumah penduduk.

 

Keasyikan obroran terputus manakala becak menahan pedal. Kami sampai di Masjid Jami Doom, terletak di kelurahan Doom Barat, Distrik Sorong Kepulauan. Masjid tua yang didirikan pada tahun 1926 ini sudah beberapa kali mengalami renovasi sesuai kebutuhan jamaah. Masjid jami menjadi pusat kegiatan keagaamaan dan kemasyarakatan masyarakat Muslim di pulau ini.

 

Selama 51 tahun sebelum masjid jami didirikan, lebih dulu dibangun Gereja Kristen Injili berbahan semen dan kayu triplek, dibangun sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan lansia di Pulau Doom.

 

Pak Darman mengkonfirmasi kebenaran cerita tentang Kampung Perdamaian yang saya dengar. Adalah sepetak tanah kampung yang dialokasikan untuk tempat pemakaman warga Pulau Doom. Siapa pun boleh memakamkan sanak famili di tanah ini tanpa dipungut biaya. Bagi pemeluk agama Islam area pemakanan di sisi kiri jalan dan kanan jalan diperuntukkan pemeluk Agama Kristen.

 

Jika ada yang tanya kenapa Islam tidak di sebelah kanan, jawab saja ini pemakaman bukan makan siang. Istilah warga yang dikutip Pak Darman, "Hidup damai bertetangga, mati pun damai bertetangga pula." Spontan saya teringat aktivis-aktivis humoris Gusdurian Yogyakarta yang kerap menggunakan kaos tertulis 'Islam Ramah'.

 

 

Penulis adalah peserta Program Bina Kawasan 2017-2018 yang ditugaskan ke Papua. Program ini diselenggarakan Kemenag RI bekerjasama dengan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).

 

Tulisan ini pertama kali dimuat di NU Online Sabtu, 30 Juni 2018 pukul 23 WIB.  Redaksi mengunggahnya kembali dengan perbaikan seperlunya.


 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG