IMG-LOGO
Daerah

LBM NU dan Alumni Santri Lirboyo di Sumut Tradisikan Budaya NU

Rabu 3 Juli 2019 5:0 WIB
Bagikan:
LBM NU dan Alumni Santri Lirboyo di Sumut Tradisikan Budaya NU
Silaturahim LBM NU dan Himasal, Selasa (2/7).
Simalungun, NU Online
Pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Sumatera Utara bekerjasama dengan Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Wilayah Sumatera Utara mengadakan halal bi halal di Kabupaten Simalungun, Selasa (2/7).

Ketua LBM PWNU Sumut Munandar mengatakan, dalam silaturahmi dan halal bi halal ini mengundang beberapa pengurus PCNU kabupaten/kota dan alumni-alumni pesantren. Tujuannya untuk membangun kebersamaan dalam menjaga dan mentradisikan budaya ke-NU-an dengan kajian kitab kuningnya.

"Karena NU tidak akan terlepas dengan kajian kitab kuningnya," ucapnya dalam acara yang berlangsung di Madrasah Diniyah Uswatun Hasanah, Rintis 7 Balimbingan.

Menurut Munandar, dalam waktu lebih kurang setahun ke depan, diharapkan setiap cabang PCNU kabupaten/kota se-Sumatera Utara mempunyai LBM yang mampu bekerjasama dengan LBM PWNU dalam menyelesaikan masalah keagamaan yang muncul di tengah-tengah masyarakat Sumatera Utara.

"LBM NU harus menjadi wadah santri yang mempunyai kompetensi dalam kajian agama sebagai upaya merespons permasalahan agama yang muncul di masyarakat," ujarnya.

Munandar berpendapat, orang-orang LBM NU adalah santri. Sebagai santri yang lazimnya dibekali ilmu dari pesantrennya, santri harus menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan masalah-masalah agama yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Sementara itu mewakili Ketua PCNU Simalungun Asrul Azwan Sirait mengatakan ormas Islam terbesar di Indonesia adalah NU. Asrul bercerita, NU sebagai organisasi yang mempunyai karakter tawasuth jangan sampai bersikap liberal dan juga jangan bersikap radikal.  

"Dalam NU tidak bernah mengajarkan faham liberal apalagi radikal. NU itu bersifat modernis sesuai dengan karakter ke-NU-an yaitu tawasuth, tidak pernah condong ke radikal dan tidak pula ke liberal," ujarnya.

Untuk itu, kata Asrul, agar LBM NU dapat diterima, hasil keputusan bahtsul-nya oleh masyarakat luas, sikap tawasuth diperlukan.

Tokoh masyarakat Binjai sekaligus perwakilan dari Pengurus Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Rahmat Nasution mengatakan dirinya bangga menjadi warga NU di Sumut ini.

"Orang NU tidak hanya berbicara saja tentang NU tapi segala bentuk harakahnya harus mencerminkan ke-NU-an. Banyak orang yang mengaku NU tapi harakahnya tidak mencerminkan ke-NU-an," ungkapnya.

Ia meminta agar jangan mau tergoda dan terpengaruh oleh oknum-oknum yang akan menghancurkan NU. "Kita pupuk persaudaraan dan keharmonisan antarasesama agar kita mendapat keadulatan sehingga Sumut ini tetap kondusif," tegasnya.

Turut hadir, mewakili PCNU Serdang Bedagai Sunarto, Ketua PC Ansor Simalungun Agus Susanto dan undangan lainnya. (Ismail Nasution/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Rabu 3 Juli 2019 21:0 WIB
NU Kota Pekalongan: Kebersamaan NU dan Rabithah Alawiyah Sudah Lama Terjalin
NU Kota Pekalongan: Kebersamaan NU dan Rabithah Alawiyah Sudah Lama Terjalin
Ketua PCNU Kota Pekalongan, H Muhtarom
Pekalongan, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan, Jawa Tengah, H Muhtarom mengatakan, kerja sama antara NU dan Rabithah Alawiyah sebenarnya sudah dilakukan dan diwujudkan jauh sebelum Indonesia merdeka. 

"NU dan Rabithah Alawiyah dua organisasi yang memiliki basis massa yang jelas, Rabithah Alawiyah sendiri secara jelas merupakan dzuriyah Rasulullah SAW memiliki peran besar dalam kemerdekaan Indonesia," ujarnya.

Hal itu disampaikan H Muhtarom dalam acara Silaturahim dan Halal bi Halal PCNU dan Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan di Pendopo lama Alun-alun Kota Pekalongan, Selasa (2/7) malam.

Dikatakan, dalam syair Ya Lal Waton karya KH Abdul Wahab Hasbullah tertulis 'Indonesia Biladi' bermakna Negara Indonesia yang diciptakan pada tahun 1914, jauh sebelum Indonesia merdeka sebagai upaya menggelorakan semangat cinta NKRI.

"Sebelum orang lain mengatakan 'Indonesia', Nahdlatul Ulama melalui Mbah Wahab sudah jauh-jauh hari mengumandangkan bahwa bangsa Indonesia akan memiliki negara yang namanya Indonesia," tandasnya.

Kemudian dalam proses perjuangan, lanjutnya, didukung para habaib, para laskar-laskar yang tergabung dalam Ansor Nahdlatul Ulama yang pada waktu itu kemudian bernama 'Barisan Ansor Serbaguna' (Banser) di mana saat itu bergabung dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah.

"Laskar Hizbullah dan Sabilillah merupakan cikal bakal dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI)," jelas Alumni Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurutnya, kebersamaan antara NU dan Rabithah Alawiyah bukan secara tiba-tiba akan tetapi sudah terjalin sejak lama. "Jika pada malam ini menggelar kegiatan bersama adalah sebagai upaya mempererat jalinan kerja sama untuk meneguhkan komitmen menjaga persatuan dan kesatuan sekaligus menggalang kebersamaan dua organisasi besar ini," pungkasnya.  

H Muhtarom kepada NU Online mengatakan, kegiatan halal bi halal bersama Rabithah Alawiyah sudah berjalan sebanyak 5 kali. Selain halal bi halal, kegiatan bersama yang juga dilakukan yakni pengobatan gratis masal, bantuan terdampak banjir dan rob, halaqah Aswaja, dan lain-lain.

"NU dan Rabithah Alawiyah dalam momen-momen tertentu selalu menggelar kegiatan bersama dan ini bagus untuk menyatukan dua kekuatan besar di Kota Pekalongan dalam kegiatan sosial," ujarnya.

Dikatakan, kegiatan bersama ini tidak lepas dari dukungan semua pihak, baik Pengurus Cabang NU maupun Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan, utamanya dari Habib Muhammad Luthfi yang secara terus menerus memberikan dorongan dan support agar kegiatan bersama dapat terus dilaksanakan rutin setiap tahun.

Selain Habib Luthfi yang mengisi taushiyah, Wakil Mudir 'Aam Idaroh Aliyah JATMAN Habib Umar Muthohar juga memberikan taushiyah dengan iringan grup Maulid Simud Duror Babul Musthofa Pekalongan. (Muiz)

 

Rabu 3 Juli 2019 20:0 WIB
Kelebihan BMTNU Jombang hingga Sabet Juara di NU Jatim Award
Kelebihan BMTNU Jombang hingga Sabet Juara di NU Jatim Award
BMTNU Jombang raih juara pertama di ajang NU Jatim Award
Jombang, NU Online
PWNU Jatim Award 2019 menganugerahkan kepada Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU) Jombang, Jawa Timur sebagai juara pertama dalam kategori BMTNU. Penganugerahan secara seremonial dilakukan di Aula Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Selasa siang (2/7). 

Ketua BMTNU Jombang, Khairul Anam mengatakan, prestasi yang diraih BMTNU tak lepas dari keunikan dan kelebihan yang dimiliki BMTNU di Kota Santri ini. Ada beberapa keunikan yang tidak dimiliki oleh lembaga keuangan yang lainnya. "Raihan juara pertama untuk kategori BMTNU, karena dinilai BMTNU Jombang memiliki beberapa kelebihan," ujarnya kepada NU Online.

Ia menjelaskan, di antara keunikannya adalah pendirian BMTNU Jombang yang memang merupakan amanah konferensi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang sebelumnya. 

Menurut dia, sangat sedikit lembaga keuangan yang berdiri atas dasar amanah PCNU. Yang banyak BMTNU berdiri di luar mandat PCNU secara langsung. "Di antara keunikannya kepemilikan dan pendirian BMTNU Jombang bukan dari pribadi atau golongan, akan tetapi merupakan amanah dari Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama tahun 2012-2017, dan tahun 2013 kita bisa mendirikan BMTNU," jelasnya. 

Meski merupakan amanah konferensi, BMTNU berdiri bukan berarti milik PCNU setempat. Namun secara peran dan pengawasannya tidak lepas dari Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jombang. BMTNU berdiri di bawah garis koordinasi LPNU. Dengan demikian perjalanan BMTNU masih ada ikatan erat dengan PCNU melalui LPNU. 

"BMTNU Jombang milik nahdliyin, bukan milik PCNU, akan tetapi dalam perjalanannya masuk dalam pengawasan Lemabaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU)," urai pria yang biasa disapa Pak Anam ini.

Keunikan yang lainnya adalah terkait rekrutmen pegawai BMTNU. Mereka para pegawai harus melalui tahap-tahap yang sudah digariskan BMTNU, yakni adanya keterkaitan kerja sama antara BMTNU dengan sejumlah MWCNU. Setiap pegawai harus dari kader NU yang sudah mendapatkan rekomendasi dari MWCNU di mana mereka tinggal.

"Rekrutmen dari kader NU yang harus melewati beberapa tahapan. Harus membawa rekomendasi dari MWCNU di mana kader NU itu berada. Jika diterima maka akan kontrak satu tahun jika diperpanjang, baru setelah itu menjadi karyawan tetap," kata dia.

Berikutnya, dari keunikan yang dimiliki adalah pola pelayanan BMTNU kepada warga atau nasabah. "Kami melayani nahdliyin terutama UMKM, kami utamakan untuk nahdliyin, akan tetapi kita juga tidak menutup kepada non nahdliyin. Karena BMTNU Jombang memiliki tugas mendakwahkan syariah muamalah," ucapnya.

Diakuinya, prestasi yang didapat pada ajang bergengsi itu menjadi motivasi tersendiri bagi BMTNU untuk lebih bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. "Kemenangan ini merupakan motivasi untuk BMTNU Jombang. Tentu harus lebih giat dan inovatif," tukasnya.

Sekretaris BMTNU Jombang, M Muchlis Irawan menambahkan, kemenangan BMTNU Jombang juga atas kerja sama semua kader NU baik yang terlibat langsung di dalam BMTNU maupun tidak.

Dengan prestasi tersebut, ke depan, kata dia, BMTNU harus bisa lebih dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama lembaga yang ada di naungan PCNU Jombang, sehingga terjalin sinergitas apa yang bisa disambungkan untuk lebih memperkuat peran NU dengan warga nahdliyin. 

"Semisal kerja sama yang dilakukan BMTNU dengan LAZISNU, atau kerja sama BMTNU dengan LPNU dan LPPNU dalam bentuk memroduksi pupuk marolis. Saya berharap contoh-contoh ini bisa dicontoh lembaga-lembaga yang lain tentu dengan format yang berbeda," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Muiz)
Rabu 3 Juli 2019 19:30 WIB
Kader Ansor Harus Kumpul dalam Satu Barisan
Kader Ansor Harus Kumpul dalam Satu Barisan
HBH Ansor Lampung Tengah
Lampung Tengah, NU Online 
Tantangan era yang semua berbasis digital ini, tantangan semakin komplek jangan membuat kader-kader Gerakan Pemuda Ansor Lampung Tengah terlena, tantangan zaman semakin kompleks. Harus sering kumpul, koordinasi, dan tetap dalam satu barisan organisasi.

"Kelihatannya sih kumpul, akan tetapi sbuk dengan gadgetnya masing-masing," ujar Ketua Dewan Penasehat (Wanhat) PC GP Ansor Kabupaten Lampung Tengah KH Ikhwanul Faruq, saat mengisi sambutan dalam agenda Halal bi Halal sekaligus koordinasi dan konsolidasi GP Ansor se-Kabupaten Lampung Tengah, di Aula SMK Ma'arif 5 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (30/6) lalu.

Dikatakan, kebiasan lama warga NU atau Ansor yang suka kumpul tapi tidak dalam satu barisan harus diubah. Warga NU, kader Ansor harus mau kumpul saling koordinasi, sekaligus satu barisan. 

"Tantangan ke depan lebih berat, bukan hanya sibuk di ranah politik saja, kuatkan juga dalam ranah pemberdayaan ekonomi, pendidikan, budaya, dan lain–lain," tambah Pengasuh Pesantren Darul Hidayah Kecamatan Bandar Mataram ini.

Ketua PCNU Kabupaten Lampung Tengah, KH Imam Suhadi, dalam arahannya menegaskan, militansi kader Ansor di Kabupaten ini harus terus dipupuk, minimal ada dua hal yang harus di jaga. Pertama, taqwiyatul aqidah (penguatan akidah). 

"Kader Ansor di manapun berada harus istiqamah menjaga tradisi akidah Aswaja an-Nahdliyah di lingkungannya masing–masing. Mulai dari yang terkecil dari keluarga, jangan asal memasukkan mendaftarkan anak ke sekolah atau pesantren yang amaliahnya bukan warisan dari para ulama atau kiai," tandasnya.

Kedua, lanjutnya, taqwiyatul jamiyah (penguatan organisasi). Ansor akan besar jika dikawal dengan telaten, serius, dan istiqomah mulai dari Rantingnya, PACnya, hingga PC bahkan sampai tingkatan yang lebih tinggi. 

"Laksanakan proses kaderisasi di Kabupaten Lampung Tengah secara berkala, baik PKD Ansor-nya maupun Diklatsar Banser-nya, mulai dari zona Timur, zona Tengah, hingga zona Barat," tutup alumni Pesantren Darussa'adah Mojoagung Gunung Sugih Lampung Tengah ini.

Selain dihadiri KH Ikhwanul Faruq dan KH Imam Suhadi, halal bi halal dan rapat kordinasi PC GP Ansor Kabupaten Lampung Tengah juga dihadiri ratusan kader PAC GP Ansor dan Satkoryon Banser se-Kabupaten Lampung Tengah. 

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Lampung Tengah, Saryono kepada NU Online, Rabu (3/7) menjelaskan, selain halal bi halal, pertemuan Ansor juga digunakan untuk koordinasi dan konsolidasi program selama satu tahun ke depan. (Akhmad Syarief Kurniawan/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG