IMG-LOGO
Nasional

Habib Luthfi: Kita Didorong untuk Meneruskan Perjuangan Wali Songo

Rabu 3 Juli 2019 16:30 WIB
Bagikan:
Habib Luthfi: Kita Didorong untuk Meneruskan Perjuangan Wali Songo
Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan
Pekalongan, NU Online
Rais 'Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengatakan, perjuangan Wali Songo yang terjadi pada 500 tahun yang lalu dan diteruskan oleh para ulama salafus shalihin membuat kita tertantang dan terdorong untuk minimal mempertahankan ajaran yang telah dibawanya berupa akidah ahlussunnah waljamaah (Aswaja).

"Perjuangan para ulama Wali Songo yang terjadi pada 500 tahun yang lalu membuat kita para ulama dan habaib agar tetap mempertahankan ajaran Aswaja di tanah air ini," ujarnya di hadapan ribuan umat Islam yang menghadiri acara Silaturahim dan Halal bi Halal Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama dan Rabithah Alawiyah Pekalongan, Jawa Tengah, di eks Pendopo lama Alun-alun Kota Pekalongan, Selasa (2/7) malam.

Dikatakan, perjuangan para Wali Songo di bumi pertiwi, khususnya di tanah Jawa sungguh sangat luar biasa. Karena berkat perjuangan Wali Songo, Islamdi Jawa khususnya berkembang dengan pesat dan diteruskan oleh para ulama dan habaib.

"Kadang terbersit di hati saya untuk mengucapkan terima kasih, kepada beliau-beliu. Tapi saya sunnguh malu, ucapan terima kasih saja ternyata tidak cukup dan terlalu kecil dibanding jasa-jasa Wali Songo di bumi nusantara," tandas Habib luthfi yang juga Ketua Forum Ulama Sufi Internasional ini.

Dijelaskan, kontribusi para ulama salafus shalihin seperti KH Sholeh Darat, KH Hasyim Asy'ari, Habib Ahmad bin Tholib Alatas, Habib Hasyim bin Yahya, dan tokoh-tokoh ulama Pekalongan dan sekitarnya sangat nyata untuk negeri ini.

"Beliau dalam berdakwah dengan lembut tanpa kekerasan padahal pada waktu itu yang dihadapi adalah kaum penjajah, dengan telaten mengenalkan huruf-huruf dalam Al-Qur'an dari kampung ke kampung," terangnya.

Kalau melihat perjuangan beliau para Auliaillah, lanjutnya, ulama dan habaib temasuk dirinya belum ada apa-apanya. "Maka merupakan kewajiban kita untuk 'nguri uri' untuk mempertahankan ajaran dan amaliah untuk generasi masa sekarang dan yang akan datang," pungkasnya. 

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan, H Muhtarom kepada NU Online mengatakan, kegiatan halal bi halal bersama Rabithah Alawiyah sudah berjalan sebanyak 5 kali. Selain halal bi halal, kegiatan bersama yang juga dilakukan yakni pengobatan gratis masal, bantuan terdampak banjir dan rob, halaqah Aswaja, dan lain-lain.

"NU dan Rabithah Alawiyah dalam momen-momen tertentu selalu menggelar kegiatan bersama dan ini bagus untuk menyatukan dua kekuatan besar di Kota Pekalongan dalam kegiatan sosial," ujarnya.

Dikatakan, kegiatan bersama ini tidak lepas dari dukungan semua pihak, baik Pengurus Cabang NU maupun Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan, utamanya dari Habib Muhammad Luthfi yang secara terus menerus memberikan dorongan dan support agar kegiatan bersama dapat terus dilaksanakan rutin setiap tahun.

Selain Habib Luthfi yang mengisi taushiyah, Wakil Mudir 'Aam Idaroh Aliyah JATMAN Habib Umar Muthohar juga memberikan taushiyah dengan iringan grup Maulid Simud Duror Babul Musthofa Pekalongan.

Rabithah Alawiyah adalah suatu organisasi massa Islam yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Pada umumnya organisasi ini menghimpun WNI keturunan Arab, khususnya yang memiliki keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Organisasi ini berdiri pada tanggal 27 Desember 1928 tidak lama setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. (Muiz)
Bagikan:
Rabu 3 Juli 2019 22:55 WIB
Usia 66 Tahun, Ketum PBNU Akan Maksimalkan Hidupnya untuk Pesantren dan NU
Usia 66 Tahun, Ketum PBNU Akan Maksimalkan Hidupnya untuk Pesantren dan NU
Jakarta, NU Online
Peringatan ulang tahun ke-66 Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj yang jatuh pada hari ini, Rabu (73/7) diadakan di hotel Mulia, Jakarta Pusat. Pada acara tersebut hadir sejumlah menteri seperti Menristekdikti Muhammad Nasir, Menpora Imam Nahrawi, dan Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo, dan jajaran pengurus PBNU.

Di akhir acara, Kiai Said memotong tumpeng yang telah dipersiapkannya. Ia memotong nasinya, kemudian potongan pertamanya untuk istrinya, Nyai Hj Nurhayati.

Kepada awak media, Kiai Said mengungkapkan rasa syukurnya atas usia yang diberikan Allah. “Alhamdulillah wa syukrulillah, saya mendapatkan nikmat yang sangat besar bisa diberi usia yang panjang sampai 66 tahun berkat doa semuanya, teman-teman,” kata Kiai Said.

Kiai Said mengatakan, di saat tidak muda lagi itu, usianya akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan pesantren dan NU yang merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Ia juga berkomitmen akan mempertahankan prinsip-prinsip Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang toleran.

“Nahdlatul Ulama ingin membangun masyarakat yang beradab, berbudaya, dan bermartabat,” ucapnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sosok Kiai Said, berikut profil singkatnya:

Ahmad Naufa Khoirul Faizun melalui tulisannya yang dimuat NU Online pada Rabu 18 Januari 2017 menuturkan bahwa Kiai Said lahir di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat pada 3 Juli 1953. Ia lahir dari pasangan KH Aqil Siroj dan Nyai Hj Afifah.

Said kecil tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda. 

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra Mekkah, Arab Saudi dari sarjana hingga doktoral. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Rabu 3 Juli 2019 22:30 WIB
Falakiyah PBNU Ikhbarkan 1 Dzulqa'dah 1440 H Mulai Malam Kamis
Falakiyah PBNU Ikhbarkan 1 Dzulqa'dah 1440 H Mulai Malam Kamis
Ilustrasi aktivitas rukyatul hilal.
Jakarta, NU Online
Waktu begitu cepat berlalu. Syawal 1440 H sudah sampai di penghujungnya pada Rabu (3/7). Hilal di hari tersebut sudah setinggi lebih dari 7 derajat.

Menurut Markaz Falakiah NU di Jakarta, tinggi hilal hakiki 7 derajat 51 menit, sedangkan tinggi hilal mari 7 derajat 24 menit. Sementara lama hilal 31 menit 26 detik. 

Adalah Ustadz Ahmad Junaidi dari Ponorogo, Jawa Timur, perukyat yang berhasil melihat hilal awal bulan Dzulqa'dah 1440 H. Usai matahari terbenam, ia berhasil menangkap hilal dengan bantuan teleskop.

Selain Ustadz Junaidi, dua jemaah pengajian Kiai Khotib Asymuni dari Jember, Jawa Timur juga dapat melihat bulan muda itu.

Oleh karena kesaksian tersebut, KH A Ghazalie Masroeri, Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengikhbarkan bahwa awal bulan Dzulqodah 1440 H mulai Rabu (3/7) malam.

"Awal bulan Dzulqa'dah 1440 H bertepatan dengan Kamis Kliwon (mulai malam Kamis), 4 Juli 2019, atas dasar terukyatnya  hilal pada Rabu petang," katanya pada Rabu (3/7) malam.

Kiai Ghazalie meminta agar dapat menyebarkan informasi tersebut ke seluruh Nahdliyin. "Mohon bisa mensyiarkan ikhbar ini ke segenap Nahdliyin," ujarnya.

Selain di dua tempat tersebut, pengurus Lembaga Falakiyah NU di berbagai daerah juga melaksanakan rukyatul hilal. Namun, karena berbagai faktor, hilal tidak nampak di mata para perukyat.

Beberapa tempat terkendala berawan, seperti yang dialami oleh Kiai Muhyidin Hasan di Condrodipo, Gresik Jawa Timur; Ustadz Lutfi Fuadi di Denanyar, Jombang, Jawa Timur; Ustadz Ahmad Fadholi di Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jawa Tengah; dan Ustadz Zamzam Kusumaatmaja di Jakarta.

Ada pula perukyat yang terkendala mendung tebal sehingga hilal tidak bisa terlihat meskipun dengan teleskop. Hal inilah yang dialami oleh Ustadz Bahrul di Blitar, Jawa Timur.

Meskipun demikian, Kiai Ghazalie berterima kasih atas curahan tenaga dan pikiran dalam hal tersebut. "Terima kasih atas isytirok (partisipasi) dan isham (kontribusi) Nahdliyin," katanya. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Rabu 3 Juli 2019 19:0 WIB
Lukisan Karya Gus Mus Warnai Pameran Rakornas Lesbumi NU
Lukisan Karya Gus Mus Warnai Pameran Rakornas Lesbumi NU
Pameran lukisan warnai Rakornas Lesbumi NU di Pasuruan, 3-5 Juli 2019.
Pasuruan, NU Online
Pameran seni rupa, instalasi, naskah kuno, pusaka dan topeng menjadi bagian dari kegiatan pemeran Rakornas ketiga Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia Nahdhatul Ulama (Lesbumi NU) di Taman Candra Wilwatikta Pasuruan, Jawa Timur, Rabu-Jumat, 3-5 Juli 2019.

Pembukaan pameran dilakukan oleh Ketua Lesbumi PBNU, Kiai Ngabehi Agus Sunyoto dengan didampingi seluruh pengurus Lesbumi NU se-Indonesia, Rabu (3/7).

Untuk pameran seni rupa yang dipamerkan sebanyak sebanyak 44 lukisan, 3 patung, dan 1 seni instalasi oleh puluhan seniman Lesbumi NU. Sedangkan naskah-naskah kuno merupakan koleksi anggota Lesbumi NU yang mengedepankan pelestarian. 

Yang menarik untuk pemeran seni rupa terdapat salah satu lukisan karya KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dan KH  Zawawi Imron. Keduanya merupakan maestro yang sangat dikenal di bangsa Indonesia.

Demikian juga pemeran keris dan topeng merupakan koleksi anggota Lesbumi NU masing-masing sebanyak 57. Angka 57 ini menggambarkan usia Lesbumi NU di tahun 2019 ini.

"Lesbumi NU merupakan lembaga yang berada di bawah naungan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama yang bergerak untuk melestarikan seni dan budaya. Semua potensi dan sisi pelestarian kita pamerkan mulai tanggal 3-5 juli 2019 di Gedung Candra Wilwatikta Kabupaten Pasuruan," kata Ketua Panitia Rakornas Yul Ardhiantono atau yang lebih akrab dipanggil Ki Ardi.

Pada kesempatan peresmian pameran  Ketua PB Lesbumi NU, Kiai Ngabehi Agus Sunyoto menyampaikan bahwa Lesbumi NU tidak hanya mengembangkan dan merawat seni dan budaya, tapi juga dengan tegas akan melakukan perlindungan, pengawalan, bahkan tindakan perlawanan terhadap gerakan-gerakan antiseni dan budaya.

Ditambahkan, sejarah yang melatar belakangi berdiri serta bangkit kembalinya Lesbumi NU tak terlepas dari perkembangan kebudayaan Nusantara dan dinamika Islam itu sendiri.

Lesbumi NU, kata Ki Agus Sunyoto, tak dapat lagi semata-mata dipandang dan terlebih memandang dirinya sebagai entitas yang mengurus dan merepresentasi kesenaan bernuansa ‘islami’ saja. Tapi lebih jauh dari itu memberi arah bagi isi dan rumusan strategis kebudayaan yang jelas berdasarkan pada tradisi intelektual khas pesantren.

"Yang menjunjung tinggi independensi, prinsip juang, keilmuan, keislaman, dan kebangsaan dalam rangka memperkuat akar tradisi dan budaya, baik dalam tubuh NU sendiri maupun perannya dalam ikut membangun peradaban Nusantara,” ungkap Kiai Agus

Rakornas ketiga Lesbumi NU diikuti perwakilan dari pengurus Lesbumi NU di tingkat PW dan PC seluruh Indonesia (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG