IMG-LOGO
Nasional

Yuk Move-on, Jangan Bahas Konflik Piplres Lagi

Rabu 3 Juli 2019 17:30 WIB
Bagikan:
Yuk Move-on, Jangan Bahas Konflik Piplres Lagi
Sumber: Kompas.com
Jakarta, NU Online
Pemilu 2019 telah usai. Walaupun sempat melahirkan perbedaan dan perselisihan di antara kontestan dan simpatisan baik di dunia nyata maupun dunia maya, sudah saatnya melakukan rekonsiliasi kebangsaan dengan menghapus segala perbedaan dan perselisihan tersebut.

“Kita harus move-on dan menatap Indonesia yang lebih baik ke depan. Akhirilah politik identitas, akhirilah pilihan diksi yang membuat posisi orang lain tidak nyaman, akhirilah memvonis orang lain seperti menuduh berbuat curang. Sudahlah kita tinggalkan saja segala bentuk hoaks, hate speech, dan lain-lain,” ujar pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing di Jakarta.

Dalam pengamatan profesionalnya, selama kampanye Pemilu lalu, terdapat komunikasi politik yang menggunakan pilihan diksi yang tidak edukatif. Bahkan ada lontaran-lontaran yang membuat pihak tertentu tidak nyaman dengan pesan tersebut. Hal itu jelas tidak sesuai dengan nilai sila Pancasila yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

“Saya garis bawahi kata beradab. Komunikasi politik juga harus beradab jadi semua aktivitas kehidupan kita harus beradab, ekonomi beradab, politik beradab, komunikasi politik juga beradab, lontaran pesan yang disampaikan juga harus pilihan diksi yang beradab, karena itu landasan Pancasila,” tuturnya.

Untuk itulah, ia mengajak seluruh bangsa untuk kembali berkontribusi membangun bangsa dan negara sebagaimana dituangkan dalam Pembukaan UUD ’45 yaitu memajukan kesejahteraan umum, kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, masyarakat juga diminta tidak lagi memperbincangkan perbedaan atas dasar agama, suku, atau apapun yang sifatnya mempertajam perpecahan. Tetapi memperbincangkan tentang program atau segala perbaikan program pembangunan juga mengkritisi hal-hal yang dinilai dari melenceng dari komitmen kebangsaan.

“Sekarang kita bersyukur sudah ada presiden terpilih, 2019-2024. Biarlah presiden terpilih menyusun kabinet dan programnya untuk mewujudkan janji-janjinya di masa kampanye. Dan mari kita dukung dengan memberikan masukan dan kritik dan sifatnya konstruktif,” imbuhnya.

Selain itu, ia mengajak agar masyarakat berpikir kritis terhadap konten media sosial dengan tidak terburu mempercayai isinya. “Yang dibutuhkan sekarang adalah kecerdasan masyarakat terhadap sosmed, sehingga tidak mudah tergiring dan percaya begitu saja,” tukasnya.

Emrus mendorong agar akun media sosial didaftarkan dengan menggunakan kartu identitas untuk mengurangi konten negatif yang diungkapkan di balik nama palsu atau anonim. Menurutnya, langkah itu bukan bagian dari membatasi kebebasan berpendapat, tetapi untuk mempermudah mengidentifikasi pembuat konten. Pasalnya, ruang publik itu bukan hanya milik pegiat medsos, tetapi milik bersama.

“Semua harus bertanggungjawab sehingga masyarakat harus didik segala perilakukanya, termasuk perilaku komunikasi. Jadi tidak boleh sekehendak melontarkan pesan di medsos karena kita bersinggungan dengan manusia lain dan semua orang bisa mengakses. Kalau ingin bebas sendiri, teriak saja di ruang pribadi,” tandas Emrus. (Red: Ahmad Rozali)
Bagikan:
Rabu 3 Juli 2019 22:55 WIB
Usia 66 Tahun, Ketum PBNU Akan Maksimalkan Hidupnya untuk Pesantren dan NU
Usia 66 Tahun, Ketum PBNU Akan Maksimalkan Hidupnya untuk Pesantren dan NU
Jakarta, NU Online
Peringatan ulang tahun ke-66 Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj yang jatuh pada hari ini, Rabu (73/7) diadakan di hotel Mulia, Jakarta Pusat. Pada acara tersebut hadir sejumlah menteri seperti Menristekdikti Muhammad Nasir, Menpora Imam Nahrawi, dan Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo, dan jajaran pengurus PBNU.

Di akhir acara, Kiai Said memotong tumpeng yang telah dipersiapkannya. Ia memotong nasinya, kemudian potongan pertamanya untuk istrinya, Nyai Hj Nurhayati.

Kepada awak media, Kiai Said mengungkapkan rasa syukurnya atas usia yang diberikan Allah. “Alhamdulillah wa syukrulillah, saya mendapatkan nikmat yang sangat besar bisa diberi usia yang panjang sampai 66 tahun berkat doa semuanya, teman-teman,” kata Kiai Said.

Kiai Said mengatakan, di saat tidak muda lagi itu, usianya akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan pesantren dan NU yang merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Ia juga berkomitmen akan mempertahankan prinsip-prinsip Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang toleran.

“Nahdlatul Ulama ingin membangun masyarakat yang beradab, berbudaya, dan bermartabat,” ucapnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sosok Kiai Said, berikut profil singkatnya:

Ahmad Naufa Khoirul Faizun melalui tulisannya yang dimuat NU Online pada Rabu 18 Januari 2017 menuturkan bahwa Kiai Said lahir di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat pada 3 Juli 1953. Ia lahir dari pasangan KH Aqil Siroj dan Nyai Hj Afifah.

Said kecil tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda. 

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra Mekkah, Arab Saudi dari sarjana hingga doktoral. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Rabu 3 Juli 2019 22:30 WIB
Falakiyah PBNU Ikhbarkan 1 Dzulqa'dah 1440 H Mulai Malam Kamis
Falakiyah PBNU Ikhbarkan 1 Dzulqa'dah 1440 H Mulai Malam Kamis
Ilustrasi aktivitas rukyatul hilal.
Jakarta, NU Online
Waktu begitu cepat berlalu. Syawal 1440 H sudah sampai di penghujungnya pada Rabu (3/7). Hilal di hari tersebut sudah setinggi lebih dari 7 derajat.

Menurut Markaz Falakiah NU di Jakarta, tinggi hilal hakiki 7 derajat 51 menit, sedangkan tinggi hilal mari 7 derajat 24 menit. Sementara lama hilal 31 menit 26 detik. 

Adalah Ustadz Ahmad Junaidi dari Ponorogo, Jawa Timur, perukyat yang berhasil melihat hilal awal bulan Dzulqa'dah 1440 H. Usai matahari terbenam, ia berhasil menangkap hilal dengan bantuan teleskop.

Selain Ustadz Junaidi, dua jemaah pengajian Kiai Khotib Asymuni dari Jember, Jawa Timur juga dapat melihat bulan muda itu.

Oleh karena kesaksian tersebut, KH A Ghazalie Masroeri, Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengikhbarkan bahwa awal bulan Dzulqodah 1440 H mulai Rabu (3/7) malam.

"Awal bulan Dzulqa'dah 1440 H bertepatan dengan Kamis Kliwon (mulai malam Kamis), 4 Juli 2019, atas dasar terukyatnya  hilal pada Rabu petang," katanya pada Rabu (3/7) malam.

Kiai Ghazalie meminta agar dapat menyebarkan informasi tersebut ke seluruh Nahdliyin. "Mohon bisa mensyiarkan ikhbar ini ke segenap Nahdliyin," ujarnya.

Selain di dua tempat tersebut, pengurus Lembaga Falakiyah NU di berbagai daerah juga melaksanakan rukyatul hilal. Namun, karena berbagai faktor, hilal tidak nampak di mata para perukyat.

Beberapa tempat terkendala berawan, seperti yang dialami oleh Kiai Muhyidin Hasan di Condrodipo, Gresik Jawa Timur; Ustadz Lutfi Fuadi di Denanyar, Jombang, Jawa Timur; Ustadz Ahmad Fadholi di Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jawa Tengah; dan Ustadz Zamzam Kusumaatmaja di Jakarta.

Ada pula perukyat yang terkendala mendung tebal sehingga hilal tidak bisa terlihat meskipun dengan teleskop. Hal inilah yang dialami oleh Ustadz Bahrul di Blitar, Jawa Timur.

Meskipun demikian, Kiai Ghazalie berterima kasih atas curahan tenaga dan pikiran dalam hal tersebut. "Terima kasih atas isytirok (partisipasi) dan isham (kontribusi) Nahdliyin," katanya. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Rabu 3 Juli 2019 19:0 WIB
Lukisan Karya Gus Mus Warnai Pameran Rakornas Lesbumi NU
Lukisan Karya Gus Mus Warnai Pameran Rakornas Lesbumi NU
Pameran lukisan warnai Rakornas Lesbumi NU di Pasuruan, 3-5 Juli 2019.
Pasuruan, NU Online
Pameran seni rupa, instalasi, naskah kuno, pusaka dan topeng menjadi bagian dari kegiatan pemeran Rakornas ketiga Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia Nahdhatul Ulama (Lesbumi NU) di Taman Candra Wilwatikta Pasuruan, Jawa Timur, Rabu-Jumat, 3-5 Juli 2019.

Pembukaan pameran dilakukan oleh Ketua Lesbumi PBNU, Kiai Ngabehi Agus Sunyoto dengan didampingi seluruh pengurus Lesbumi NU se-Indonesia, Rabu (3/7).

Untuk pameran seni rupa yang dipamerkan sebanyak sebanyak 44 lukisan, 3 patung, dan 1 seni instalasi oleh puluhan seniman Lesbumi NU. Sedangkan naskah-naskah kuno merupakan koleksi anggota Lesbumi NU yang mengedepankan pelestarian. 

Yang menarik untuk pemeran seni rupa terdapat salah satu lukisan karya KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dan KH  Zawawi Imron. Keduanya merupakan maestro yang sangat dikenal di bangsa Indonesia.

Demikian juga pemeran keris dan topeng merupakan koleksi anggota Lesbumi NU masing-masing sebanyak 57. Angka 57 ini menggambarkan usia Lesbumi NU di tahun 2019 ini.

"Lesbumi NU merupakan lembaga yang berada di bawah naungan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama yang bergerak untuk melestarikan seni dan budaya. Semua potensi dan sisi pelestarian kita pamerkan mulai tanggal 3-5 juli 2019 di Gedung Candra Wilwatikta Kabupaten Pasuruan," kata Ketua Panitia Rakornas Yul Ardhiantono atau yang lebih akrab dipanggil Ki Ardi.

Pada kesempatan peresmian pameran  Ketua PB Lesbumi NU, Kiai Ngabehi Agus Sunyoto menyampaikan bahwa Lesbumi NU tidak hanya mengembangkan dan merawat seni dan budaya, tapi juga dengan tegas akan melakukan perlindungan, pengawalan, bahkan tindakan perlawanan terhadap gerakan-gerakan antiseni dan budaya.

Ditambahkan, sejarah yang melatar belakangi berdiri serta bangkit kembalinya Lesbumi NU tak terlepas dari perkembangan kebudayaan Nusantara dan dinamika Islam itu sendiri.

Lesbumi NU, kata Ki Agus Sunyoto, tak dapat lagi semata-mata dipandang dan terlebih memandang dirinya sebagai entitas yang mengurus dan merepresentasi kesenaan bernuansa ‘islami’ saja. Tapi lebih jauh dari itu memberi arah bagi isi dan rumusan strategis kebudayaan yang jelas berdasarkan pada tradisi intelektual khas pesantren.

"Yang menjunjung tinggi independensi, prinsip juang, keilmuan, keislaman, dan kebangsaan dalam rangka memperkuat akar tradisi dan budaya, baik dalam tubuh NU sendiri maupun perannya dalam ikut membangun peradaban Nusantara,” ungkap Kiai Agus

Rakornas ketiga Lesbumi NU diikuti perwakilan dari pengurus Lesbumi NU di tingkat PW dan PC seluruh Indonesia (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG