IMG-LOGO
Daerah

Mempromosikan Persatuan Melalui Dunia Maya juga Termasuk Jihad

Rabu 3 Juli 2019 19:15 WIB
Bagikan:
Mempromosikan Persatuan Melalui Dunia Maya juga Termasuk Jihad
Bandung, NU Online

Jihad dalam pengertian bahasa berasal dari akar kata jahd yang bermakna “berusaha sungguh-sungguh dengan mengerahkan segenap kemampuan”. Dalam makna yang lebih luas jihad mempunyai pengertian menanggulangi musuh yang tampak, setan, dan hawa nafsu. Hal ini tercermin dalam firman Allah SWT dalam Surat Al-Hajj ayat 78 yang artinya “Berjuanglah kalian di jalan Allah dengan perjuangan yang sebenar-benarnya,”.

Jihad bermakna luas yakni bersungguh-sungguh dan bekerja keras melakukan kebaikan. Menurut ulama, jihad dapat dimanifestasikan dengan hati, menyebarkan syariat Islam, dialog dan diskusi dalam konteks mencari kebenaran, mempersembahkan karya bagi kemanfaatan Muslimin dan dengan melawan kekafiran. Artinya, jihad dapat dilakukan dengan berbagai cara, bukan hanya dengan mengangkat senjata.

Dalam era kekinian di mana perkembangan teknologi dan informasi di era digital yang menghadirkan ujaran kebencian dan hoaks sebagai tantangan baru bagi masyarakat, maka upaya bersungguh-sungguh mengatasi masalah itu bisa disebut dengan jihad demi kebaikan. Sebab jika dibiarkan, dapat merambat pada masalah kebangsaan yang lebih luas. 

“Hari ini bangsa kita sedang menghadapi berbagai persoalan kebangsaan, khususnya narasi keagamaan yang disalahgunakan. Saudara saudara kita mungkin terlalu percaya diri sehingga agama dijadikan alat provokasi, alat kepentingan politik, sehingga ada istilah kapitalisasi  agama, yaitu menggunakan agama untuk kepentingan sesaat atau kepentingan misi mereka,” kata Ketua Mahasiswa Ahli Thoriqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (MATAN) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Ajid Thohir di Bandung.

Dalam kondisi seperti ini, lanjut Ajid, semua pihak, terutama generasi muda seperti anggota MATAN harus turun tangan untuk amar ma’ruf nahi munkar termasuk dengan berperan aktif menggaungkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin di dunia maya melalui jendela media sosial. 

“Kita sebanyak mungkin mendorong anak-anak muda tentang literasi yang sehat. Nah kaum sufi di kalangan ahli tarekat ini sebenarnya diajar tentang kebersihan jiwa, kebersihan pemikiran, perasaan, mudah-mudahan anak-anak MATAN bisa memberikan kontribusi positif dengan melakukan kontra narasi di media maya bagi keutuhan NKRI,” kata Ajid.

Ia menerangkan, anggota MATAN dituntut lebih kreatif dan aktif dalam pencegahan nalar kebencian. "Karena Itu adalah bagian dari jihad. Jihad sekarang seperti ini, amar ma’ruf nahi munkar dengan cara literasi, karena masalahnya ada di literasi negatif itu,” tandas Ajid

“Bangsa kita terdiri dari bersuku-suku, agama, pulau, bahasa. Kalau diterapkan Islam garis keras dikhawatirkan akan terjadi intolerasi Mari kita buktikan bahwa kita adalah bangsa Indonesia yang beridelogikan Pancasila,” tutur Dosen Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini.

Sebagai Ketua Matan Jabar, Ajid Thohir mengaku diberi mandat oleh Ketua Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi agar MATAN berperan dalam melindungi negeri Indonesia ini dari berbagai ancaman perpecahan, terutama intoleransi.

“Thoriqoh tidak hanya cara meluruskan jiwa pemikiran dan keagamaan tetapi juga sebagai organisasi tempat pengamal thoriqoh yang diwadahi oleh JATMAN untuk para sesepuh dan MATAN untuk mahasiswa sehingga ada regenerasi kelanjutan tentang cara pandang keagamaan dan cara pandang ketatanegaraan sehingga misi yang diemban oleh Wali Songo tentang keagamaan dan kenegaraan sekarang diemban jamaah ahli thoriqoh,” paparnya. (Red: Ahmad Rozali)
Bagikan:
Rabu 3 Juli 2019 21:0 WIB
NU Kota Pekalongan: Kebersamaan NU dan Rabithah Alawiyah Sudah Lama Terjalin
NU Kota Pekalongan: Kebersamaan NU dan Rabithah Alawiyah Sudah Lama Terjalin
Ketua PCNU Kota Pekalongan, H Muhtarom
Pekalongan, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan, Jawa Tengah, H Muhtarom mengatakan, kerja sama antara NU dan Rabithah Alawiyah sebenarnya sudah dilakukan dan diwujudkan jauh sebelum Indonesia merdeka. 

"NU dan Rabithah Alawiyah dua organisasi yang memiliki basis massa yang jelas, Rabithah Alawiyah sendiri secara jelas merupakan dzuriyah Rasulullah SAW memiliki peran besar dalam kemerdekaan Indonesia," ujarnya.

Hal itu disampaikan H Muhtarom dalam acara Silaturahim dan Halal bi Halal PCNU dan Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan di Pendopo lama Alun-alun Kota Pekalongan, Selasa (2/7) malam.

Dikatakan, dalam syair Ya Lal Waton karya KH Abdul Wahab Hasbullah tertulis 'Indonesia Biladi' bermakna Negara Indonesia yang diciptakan pada tahun 1914, jauh sebelum Indonesia merdeka sebagai upaya menggelorakan semangat cinta NKRI.

"Sebelum orang lain mengatakan 'Indonesia', Nahdlatul Ulama melalui Mbah Wahab sudah jauh-jauh hari mengumandangkan bahwa bangsa Indonesia akan memiliki negara yang namanya Indonesia," tandasnya.

Kemudian dalam proses perjuangan, lanjutnya, didukung para habaib, para laskar-laskar yang tergabung dalam Ansor Nahdlatul Ulama yang pada waktu itu kemudian bernama 'Barisan Ansor Serbaguna' (Banser) di mana saat itu bergabung dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah.

"Laskar Hizbullah dan Sabilillah merupakan cikal bakal dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI)," jelas Alumni Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurutnya, kebersamaan antara NU dan Rabithah Alawiyah bukan secara tiba-tiba akan tetapi sudah terjalin sejak lama. "Jika pada malam ini menggelar kegiatan bersama adalah sebagai upaya mempererat jalinan kerja sama untuk meneguhkan komitmen menjaga persatuan dan kesatuan sekaligus menggalang kebersamaan dua organisasi besar ini," pungkasnya.  

H Muhtarom kepada NU Online mengatakan, kegiatan halal bi halal bersama Rabithah Alawiyah sudah berjalan sebanyak 5 kali. Selain halal bi halal, kegiatan bersama yang juga dilakukan yakni pengobatan gratis masal, bantuan terdampak banjir dan rob, halaqah Aswaja, dan lain-lain.

"NU dan Rabithah Alawiyah dalam momen-momen tertentu selalu menggelar kegiatan bersama dan ini bagus untuk menyatukan dua kekuatan besar di Kota Pekalongan dalam kegiatan sosial," ujarnya.

Dikatakan, kegiatan bersama ini tidak lepas dari dukungan semua pihak, baik Pengurus Cabang NU maupun Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan, utamanya dari Habib Muhammad Luthfi yang secara terus menerus memberikan dorongan dan support agar kegiatan bersama dapat terus dilaksanakan rutin setiap tahun.

Selain Habib Luthfi yang mengisi taushiyah, Wakil Mudir 'Aam Idaroh Aliyah JATMAN Habib Umar Muthohar juga memberikan taushiyah dengan iringan grup Maulid Simud Duror Babul Musthofa Pekalongan. (Muiz)

 

Rabu 3 Juli 2019 20:0 WIB
Kelebihan BMTNU Jombang hingga Sabet Juara di NU Jatim Award
Kelebihan BMTNU Jombang hingga Sabet Juara di NU Jatim Award
BMTNU Jombang raih juara pertama di ajang NU Jatim Award
Jombang, NU Online
PWNU Jatim Award 2019 menganugerahkan kepada Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU) Jombang, Jawa Timur sebagai juara pertama dalam kategori BMTNU. Penganugerahan secara seremonial dilakukan di Aula Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Selasa siang (2/7). 

Ketua BMTNU Jombang, Khairul Anam mengatakan, prestasi yang diraih BMTNU tak lepas dari keunikan dan kelebihan yang dimiliki BMTNU di Kota Santri ini. Ada beberapa keunikan yang tidak dimiliki oleh lembaga keuangan yang lainnya. "Raihan juara pertama untuk kategori BMTNU, karena dinilai BMTNU Jombang memiliki beberapa kelebihan," ujarnya kepada NU Online.

Ia menjelaskan, di antara keunikannya adalah pendirian BMTNU Jombang yang memang merupakan amanah konferensi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang sebelumnya. 

Menurut dia, sangat sedikit lembaga keuangan yang berdiri atas dasar amanah PCNU. Yang banyak BMTNU berdiri di luar mandat PCNU secara langsung. "Di antara keunikannya kepemilikan dan pendirian BMTNU Jombang bukan dari pribadi atau golongan, akan tetapi merupakan amanah dari Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama tahun 2012-2017, dan tahun 2013 kita bisa mendirikan BMTNU," jelasnya. 

Meski merupakan amanah konferensi, BMTNU berdiri bukan berarti milik PCNU setempat. Namun secara peran dan pengawasannya tidak lepas dari Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jombang. BMTNU berdiri di bawah garis koordinasi LPNU. Dengan demikian perjalanan BMTNU masih ada ikatan erat dengan PCNU melalui LPNU. 

"BMTNU Jombang milik nahdliyin, bukan milik PCNU, akan tetapi dalam perjalanannya masuk dalam pengawasan Lemabaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU)," urai pria yang biasa disapa Pak Anam ini.

Keunikan yang lainnya adalah terkait rekrutmen pegawai BMTNU. Mereka para pegawai harus melalui tahap-tahap yang sudah digariskan BMTNU, yakni adanya keterkaitan kerja sama antara BMTNU dengan sejumlah MWCNU. Setiap pegawai harus dari kader NU yang sudah mendapatkan rekomendasi dari MWCNU di mana mereka tinggal.

"Rekrutmen dari kader NU yang harus melewati beberapa tahapan. Harus membawa rekomendasi dari MWCNU di mana kader NU itu berada. Jika diterima maka akan kontrak satu tahun jika diperpanjang, baru setelah itu menjadi karyawan tetap," kata dia.

Berikutnya, dari keunikan yang dimiliki adalah pola pelayanan BMTNU kepada warga atau nasabah. "Kami melayani nahdliyin terutama UMKM, kami utamakan untuk nahdliyin, akan tetapi kita juga tidak menutup kepada non nahdliyin. Karena BMTNU Jombang memiliki tugas mendakwahkan syariah muamalah," ucapnya.

Diakuinya, prestasi yang didapat pada ajang bergengsi itu menjadi motivasi tersendiri bagi BMTNU untuk lebih bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. "Kemenangan ini merupakan motivasi untuk BMTNU Jombang. Tentu harus lebih giat dan inovatif," tukasnya.

Sekretaris BMTNU Jombang, M Muchlis Irawan menambahkan, kemenangan BMTNU Jombang juga atas kerja sama semua kader NU baik yang terlibat langsung di dalam BMTNU maupun tidak.

Dengan prestasi tersebut, ke depan, kata dia, BMTNU harus bisa lebih dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama lembaga yang ada di naungan PCNU Jombang, sehingga terjalin sinergitas apa yang bisa disambungkan untuk lebih memperkuat peran NU dengan warga nahdliyin. 

"Semisal kerja sama yang dilakukan BMTNU dengan LAZISNU, atau kerja sama BMTNU dengan LPNU dan LPPNU dalam bentuk memroduksi pupuk marolis. Saya berharap contoh-contoh ini bisa dicontoh lembaga-lembaga yang lain tentu dengan format yang berbeda," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Muiz)
Rabu 3 Juli 2019 19:30 WIB
Kader Ansor Harus Kumpul dalam Satu Barisan
Kader Ansor Harus Kumpul dalam Satu Barisan
HBH Ansor Lampung Tengah
Lampung Tengah, NU Online 
Tantangan era yang semua berbasis digital ini, tantangan semakin komplek jangan membuat kader-kader Gerakan Pemuda Ansor Lampung Tengah terlena, tantangan zaman semakin kompleks. Harus sering kumpul, koordinasi, dan tetap dalam satu barisan organisasi.

"Kelihatannya sih kumpul, akan tetapi sbuk dengan gadgetnya masing-masing," ujar Ketua Dewan Penasehat (Wanhat) PC GP Ansor Kabupaten Lampung Tengah KH Ikhwanul Faruq, saat mengisi sambutan dalam agenda Halal bi Halal sekaligus koordinasi dan konsolidasi GP Ansor se-Kabupaten Lampung Tengah, di Aula SMK Ma'arif 5 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (30/6) lalu.

Dikatakan, kebiasan lama warga NU atau Ansor yang suka kumpul tapi tidak dalam satu barisan harus diubah. Warga NU, kader Ansor harus mau kumpul saling koordinasi, sekaligus satu barisan. 

"Tantangan ke depan lebih berat, bukan hanya sibuk di ranah politik saja, kuatkan juga dalam ranah pemberdayaan ekonomi, pendidikan, budaya, dan lain–lain," tambah Pengasuh Pesantren Darul Hidayah Kecamatan Bandar Mataram ini.

Ketua PCNU Kabupaten Lampung Tengah, KH Imam Suhadi, dalam arahannya menegaskan, militansi kader Ansor di Kabupaten ini harus terus dipupuk, minimal ada dua hal yang harus di jaga. Pertama, taqwiyatul aqidah (penguatan akidah). 

"Kader Ansor di manapun berada harus istiqamah menjaga tradisi akidah Aswaja an-Nahdliyah di lingkungannya masing–masing. Mulai dari yang terkecil dari keluarga, jangan asal memasukkan mendaftarkan anak ke sekolah atau pesantren yang amaliahnya bukan warisan dari para ulama atau kiai," tandasnya.

Kedua, lanjutnya, taqwiyatul jamiyah (penguatan organisasi). Ansor akan besar jika dikawal dengan telaten, serius, dan istiqomah mulai dari Rantingnya, PACnya, hingga PC bahkan sampai tingkatan yang lebih tinggi. 

"Laksanakan proses kaderisasi di Kabupaten Lampung Tengah secara berkala, baik PKD Ansor-nya maupun Diklatsar Banser-nya, mulai dari zona Timur, zona Tengah, hingga zona Barat," tutup alumni Pesantren Darussa'adah Mojoagung Gunung Sugih Lampung Tengah ini.

Selain dihadiri KH Ikhwanul Faruq dan KH Imam Suhadi, halal bi halal dan rapat kordinasi PC GP Ansor Kabupaten Lampung Tengah juga dihadiri ratusan kader PAC GP Ansor dan Satkoryon Banser se-Kabupaten Lampung Tengah. 

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Lampung Tengah, Saryono kepada NU Online, Rabu (3/7) menjelaskan, selain halal bi halal, pertemuan Ansor juga digunakan untuk koordinasi dan konsolidasi program selama satu tahun ke depan. (Akhmad Syarief Kurniawan/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG