IMG-LOGO
Daerah

Ma'had Aly Tebuireng, Penerus Perjuangan Ilmu Hadits Hadratussyekh


Kamis 4 Juli 2019 17:30 WIB
Bagikan:
Ma'had Aly Tebuireng, Penerus Perjuangan Ilmu Hadits Hadratussyekh
Jombang, NU Online 
Dikenal sebagai kota santri, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dikunjungi ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu tempat belajar yang menjadi idola para santri yaitu Ma'had Aly Hasyim Asy'ari yang berada di bawah naungan Pesantren Tebuireng Jombang.

Ma'had Aly Hasyim Asy'ari didirikan atas usulan dari almaghfurlah KH Muhammad Yusuf Hasyim, yaitu 6 September 2006 yang bertepatan dengan 12 Sya'ban 1427 H. Hal yang menarik dari Ma'had Aly Hasyim Asy'ari yaitu kedalaman ilmu yang diajarkan dan biaya yang gratis untuk semua peserta didik.

Ma'had Aly merupakan perguruan tinggi keagamaan Islam yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) berbasis kitab kuning yang diselenggarakan oleh pondok pesantren. Ma'had Aly juga merupakan pendidikan lanjutan dari pendidikan diniyah formal yang setara dengan tingkat sarjana S1.

Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sendiri didirikan 26 Rabi'ul Awal 1317 H atau bertepatan 3 Agustus 1899. Lembaga tersebut dirintis KH M Hasyim Asy'ari, seorang ulama allamah yang bercita-cita mulia, ingin menyebarkan ajaran Islam untuk melenyapkan segala bentuk kemungkaran di muka bumi ini.

Menurut mudir bidang kesiswaan KH Ahmad Syakir Ridwan, berdirinya Ma'had Aly Hasyim Asy'ari awalnya adalah untuk mencetak kader yang bertafaqquh fid diin dan siap mengemban ilmunya di masyarakat. Fokus awalnya fiqh wa ushulihi kepada mahasantri. 

Namun sejak tahun ajaran 2016/2017 Ma'had Aly Hasyim Asy'ari mendapatkan surat keputusan (SK) resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia untuk mengganti jurusan menjadi hadist wa ulumihi.

Kementrian Agama Republik Indonesia menekankan pada ma'had aly untuk memilih satu progam studi dan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng memilih studi hadits dan ilmu hadits sebagai progam studinya. Ijazah yang dikeluarkan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari berlaku sama dengan perburuan tinggi lainnya yang berada dibawah naungan Kementrian Agama RI.

"Alasan digantinya jurusan menjadi hadits wa ulumihi karena diharapkan seluruh mahasantri dapat meneruskan perjuangan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari yang selama hidupnya menjadi acuan sanad hadits," katanya saat dijumpai di Ma'had Aly Tebuireng, Rabu (3/7).

Sebagai lembaga yang didirikan dengan tujuan mencetak kader ulama, Ma'had Aly Hasyim Asy'ari terus melestarikan kitab kuning sebagai rujukan keilmuan mahasantri. Berbagai kitab kuning dikaji disini, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan kitabussittah lainnya. Kitab tersebut membahas tentang hadits.

Ma'had Aly Hasyim Asy'ari juga memberikan layanan pendidikan tanpa pemungutan biaya. Bebas biaya yang dimaksud meliputi biaya kuliah, uang gedung, dan asrama.

Namun Ma'had Aly Hasyim Asy'ari menyeleksi ketat bagi calon mahasiswanya. Mereka dites baca kitab dengan membaca kitab Kifayatul Akhyar, bahasa Arab, gramatika bahasa Arab dan membaca Al-Qur’an.

"Bahasa Arab merupakan bahasa keseharian dalam proses studi di Ma'had Aly Hasyim Asy'ari. Penggunaan Bahasa Arab diterapkan dalam komunikasi verbal dan tulisan," jelas Kiai Syakir.

Ia menambahkan, di Ma'had Aly tenaga pengajarnya terdiri dari para kiai, sarjana dalam dan luar negeri. Dan juga ada dosen bantu dari luar negeri yang mengajar di Ma'had 'Aly Hasyim Asy'ari. Selama ini kampus tersebut menerima dosen bantu dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Para dosen ini mengajar dalam periode 3 tahun kemudian diganti dengan yang baru.

Kedatangan dosen bantu dari luar negeri ini sangatlah membantu proses perkuliahan. Penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa utama pembelajaran, membuat proses transfer ilmu bisa dirasakan lebih hidup oleh kedua pihak, baik mahasantri maupun dosen sendiri. 

"Bagi mahasantri, mereka dapat mendapatkan tambahan mufradat dan penggunaan serta pelafalan bahasa Arab yang benar," ujarnya.

Lebih lanjut Kiai Syakir menjelaskan para lulusan kampusnya diharuskan menjalani masa pengabdian selama dua tahun. Mereka akan dikirim ke berbagai daerah untuk menyebarkan ajaran Islam yang rahmatal lil alamin ke berbagai daerah.

"Permintaan untuk alumni kita cukup tinggi, semoga ke depan semakin banyak santri yang siap kita kirim," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG