IMG-LOGO
Daerah

Muslimat NU Jakarta Kembali Perkuat Kader dengan Pemahaman Aswaja

Kamis 4 Juli 2019 22:0 WIB
Bagikan:
Muslimat NU Jakarta Kembali Perkuat Kader dengan Pemahaman Aswaja
Pelatihan Kader Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta, Kamis (4/7)
Jakarta, NU Online
Guna memperkuat pemahaman kader dan pengurus terhadap Aswaja, Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU DKI Jakarta menggelar Pelatihan Kader Aswaja. Pelatihan diikuti perwakilan dari pengurus cabang dan anak cabang Muslimat NU se-DKI Jakarta, selama dua hari, Kamis dan Jumat, 4-5 Juli 2019.
 
"Pelatihan untuk memberikan tambahan bekal ilmu pengetahuan dan wawasan Aswaja bagi pengurus supaya mereka yang selalu berhubunga dengan mayarakat dapat memberikan penjelasan bagaimana Aswaja yang benar," kata Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta, Hj Hisbiah Rochim, Kamis (3/7) di lokasi kegiatan, Kantor Wilyah Kemenag DKI Jakarta, Jatinegara, Jakarta Timur.

Menurutnya, waktu dua hari sebenarnya terlalu singkat untuk sebuah pelatihan, Namun para peserta pada dasarnya telah memiliki bekal awal pemahaman Aswaja, sehingga perlatihan lebih berfungsi untuk pendalaman agar keilmuan dan pemahaman mereka lebih luas lagi.

Pelatihan Kader Aswaja PW Muslimat NU DKI Jakarta terbagi dalam dua angkatan. Pelatihan pada pekan ini adalah angkatan pertama. Sedangkan angkatan kedua dijadwalkan berlangsung Selasa dan Rabu, 9-10 Juli 2019.

Hj Hisbiah juga menegaskan perlunya pelatihan diadakan. Ia menilai kondisi saat ini sangat memprihatinkan, karena ada sekelompok golongan yang menebarkan paham radikal. "Islam Aswaja Annahdliah harus kembali disebarkan dengan semangat kepada pengurus, kepada keluarga dan guru-guru agar mereka juga memiliki semangat pengabdian melalui Islam Aswaja ini," ujarnya.

Posisi Muslimat NU DKI Jakarta dengan tantangan perkotaan dan kondisi masyarakatnya, kata Hisbiah, harus kuat agar mampu menghadapi tantangan tersebut. Muslimat NU DKI Jakarta melakukan evaluasi situasi Jakarta sebagai ibu kota negara, pusat segala kegiatan nasional.

"Kita jadi tahu dengan membaca, melihat, dan merasakan. Muslimat NU tidak bisa lepas dari berbagai perkembangan, termasuk perkembangan politik. Karena lewat dunia politik, misalnya untuk legislatif itu menentukan pengembangan manusia di Indonesia secara luas," imbuhnya.

Para peserta, selain dari unsur pengurus, juga rata-rata sebagai ustadzah di lingkungan mereka. Ustadzah, secara umum berposisi dan mempunyai kapasitas serta tanggung jawab yang besar  untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi. Para ustadzah harus mengambil langkah-langkah strategis untuk membentuk masyarakat yang madany dan berkeadilan.

Selain itu, dengan pelatihan tersebut menjadi langkah Muslimat NU DKI Jakarta memberikan penyadaran akan pentingnya persatuan dan  kesatuan visi yang menjadi satu kekuatan dan sebagai perisai bagi masyarakat secara umum. Jika para ustadzah dapat melakukan itu, dampakya akan memberikan keteladanan dan merangsang masyarakat agar dapat berjalan bersama-sama ke arah persatuan antarras, agama dan kelas sosial yang ada.

Bentuk kegiatan selama pelatihan berupa ceramah dan presentasi, dialog, dan diskusi aktif. Adapun narasumber atau pembicara yang hadir antara lain PWNU DKI Jakarta, PBNU, PP Muslimat NU, dan LDNU. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
Kamis 4 Juli 2019 21:0 WIB
Kenalkan NU, Kader Ansor Fatayat Ini Bawa Anaknya ke Acara NU
Kenalkan NU, Kader Ansor Fatayat Ini Bawa Anaknya ke Acara NU
Rifqi membawa anak-anaknya ke acara NU
Subang, NU Online
Mengenalkan NU kepada anak-anak bisa dilakukan sejak usia dini melalui berbagai hal, satu di antaranya adalah dengan mengajak mereka ke acara-acara NU.

Itulah yang dilakukan Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Jalancagak, Subang Rifqi Wijaya Haryono membawa kedua anaknya mengikuti acara Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) NU Kabupaten Subang, Jawa Barat yang digelar di Pesantren Raudlatul Hasanah, Rabu (3/7).

Kebiasaan Rifqi membawa anak-anaknya ke acara NU sudah dilakukan berkali-kali selama acara itu masih di sekitar Subang dan bisa dijangkau oleh motor, sebab kalau jaraknya terlalu jauh ia mengkhawatirkan kesehatan anaknya, maklum saja kedua anaknya itu masih balita, anak pertama usia 5 tahun sedangkan yang kedua belum genap berusia 2 tahun.

Saat membawa anak-anaknya ke acara NU, Rifqi pun mengajak istrinya Jubaedah yang menjadi Bendahara PAC Fatayat Jalancagak agar mengasuhnya bisa bergantian.

Jika Jubaedah sedang kordinasi dengan rekan-rekannya di Fatayat anaknya diasuh oleh Rifqy, pun sebaliknya jika Rifqi sedang sibuk dengan GP Ansor-Banser.

Ia pun bercerita, jika anaknya mulai rewel dan menangis karena mengantuk atau bosan dan sulit dikondisikan, ia harus bergeser membawa anaknya ke tempat yang aman agar tidak mengganggu acara sampai anaknya berhenti menangis. "Alhamdulillah sedikit demi sedikit mereka bisa kenal NU, paling tidak dari simbol-simbolnya saja dulu," ujar Rifqi yang sering disebut Ustadz Ogoan itu

Dijelaskan, ketika sesi acara menyanyikan lagu Yalal Wathan tiba-tiba si bungsu yang akan merayakan harlah keduanya itu ikutan berdiri seperti yang lain dan mengepalkan tangannya ke atas mengikuti peserta yang lain, padahal dia tidak disuruh.

"Mungkin karena dia sering melihat dan mendengar lagu yalal wathon jadi dianggapnya kalau menyanyikan lagu itu harus sambil mengepalkan tangan," tandasnya.

Pria berambut gondrong ini pun bercerita saat membawa anak-anak ke acara NU ia harus menyiapkan dana lebih, maklum saja usia balita lagi doyan-doyannya jajan sehingga untuk sekali datang ke acara minimal harus menyiapkan bekal 200 ribu sampai 500 ribu.

"Ya itung-itung pikniklah, kalau yang lain mungkin mengeluarkan biayanya dengan piknik ke tempat rekreasi kalau kita ke acara NU," seloroh guru madrasah diniyah itu.

Rifqi berharap dengan membawa anak-anaknya ke acara NU bisa didoakan para masyayikh baik yang hadir maupun masyayikh yang telah tiada agar keluarga dan anak-anaknya bisa mendapat keberkahan. (Aiz Luthfi/Muiz)
Kamis 4 Juli 2019 20:0 WIB
Ansor Banser Harus Siap Jaga Kiai dan Bela NKRI
Ansor Banser Harus Siap Jaga Kiai dan Bela NKRI
Pelantikan PAC Ansor Gajah Mungkur, Kota Semarang
Semarang, NU Online
Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) harus siap menjaga ulama dan kiai NU, khususnya bila setiap saat dipanggil oleh negara untuk berjuang demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

"Tugas kader-kader GP Ansor dan Banser dalam amaliah keseharian adalah menyebarkan nilai-nilai kebangsaan, keragaman, toleransi, dan kepedulian sosial kepada masyarakat luas serta membentengi kaum nahdliyin dengan ajaran Islam ala ahlussunnah waljamaah An-Nahdliyah," ujar Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Gajah Mungkur, Kota Semarang, Jateng, Maksum.

Hal tersebut disampaikan di sela-sela Halal bi Halal Ansor dan Banser se-Kota Semarang dan pelantikan PAC GP Ansor Kecamatan Gajah Mungkur yang diselenggarakan Pengurus Cabang GP Ansor Kota Semarang, Ahad (30/6).

Dikatakan, Ansor yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama senantiasa siap di garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Karenanya berjuang di GP Ansor harus diniatkan untuk membela tegaknya NKRI seperti yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa. "Ansor dan Banser siap berada i garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI," tandasnya.

Ansor, lanjutnya, harus ikut membentengi umat dari merebaknya faham-faham radikalisme dan terorisme. Dengan jalan Ansor dan Banser harus selalu hadir dalam setiap kegiatan-kegiatan masyarakat yang berbasis masjid maupun pesantren.

“Menjadi anggota Ansor dan Banser syaratnya cuma ada dua, yakni siap mengabdi pada kiai dan siap membela NKRI, makanya sikap Ansor Banser jelas, bahwa hubbul Wathon minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman,” tambah Maksum.

Acara yang digelar di Masjid Shodiqul Ibad Gajah Mungkur (30/6) merupakan tindak lanjut dari kegiatan rutinan Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor PC GP Ansor Kota Semarang.

Dalam rilis yang diterima NU Online, Kamis (4/7), Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kota Semarang, Rahul menjelaskan bahwa kaderisasi Ansor Banser sekarang ini difokuskan pada basis masjid dan majelis ta'lim. "Mengingat bahwa masjid-masjid NU ini banyak dikuasai oleh orang-orang yang notabene berpikiran radikal, sehingga harus kita tarik kembali agar tercipta suasana yang kondusif dan tidak dijadikan sebagai arena politik," tandasnya. 

Dijelaskan Rahul, kegiatan Rijalul Ansor akan menjadi agenda rutin bulana yang dilaksanakan di 16 kecamatan di Kota Semarang. Selain itu pihaknya juga akan terus melaksanakan Diklatsar Banser dan menghidupkan majelis-majelis syi’ar keagamaan dan kebudayaan melalui Rijalul Ansor. 

"Pesantren akan menjadi basis utama pergerakan kami, di mana ulama-ulama muda akan kita jadikan penyokong utama bagi gerakan ini,” terang Rahul.

Acara halal bi halal dan Pelantikan PAC GP Ansor Kecamatan Gajah Mungkur dihadiri oleh 500an jamaah dan anggota Ansor Banser Se-Kota Semarang tersebut juga dihadiri oleh Wali Kota Semarang H Hendar Prihadi. 

Dalam sambutannya, dirinya berbagi pengalaman dalam penataan organisasi, serta mengajak semua elemen untuk menjaga kerukunan, persatuan, dan kesatuan bangsa.

Hendi panggilan akrabnya menekankan pentingnya Ansor untuk menjadi organisasi kader yang moderat dan senantiasa menjadi garda terdepan dalam merajut kebhinekaan yang ada di Indonesia. "Ansor itu sudah tidak seharusnya hanya bermanfaat bagi lingkungan Nahdlatul Ulama saja, melainkan harus mampu mewakafkan kader-kader terbaiknya ke ruang-ruang publik sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh kader," ujarnya.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, KH Anasom memberikan pembekalan nilai-nilai Aswaja sekaligus memaparkan sejarah perkembangan GP Ansor serta mengajak selalu berjuang untuk NU dan NKRI.

Kiai Anasom mengingatkan para kader Ansor untuk selalu dalam satu perahu dalam setiap ikhtiar penyebaran syi’ar ahlusunnah waljamaah dan nilai-nilai moderatisme dan kebangsaan, khususnya di Kota Semarang. (Red: Muiz)
Kamis 4 Juli 2019 19:0 WIB
Cara Sibukkan Anak-anak dari Ketergantungan HP
Cara Sibukkan Anak-anak dari Ketergantungan HP
Bimbingan Teknis operator TPQ
Lombok Barat, NU Online
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Lombok Barat  H Ahmad Jaelani menyebutkan bahwa tantangan kita ke depannya dalam beradaptasi dengan kemajuan teknologi dalam semua aktivitas. "Terutama dalam menghadapi teknologi industri 4.0 mau tidak mau kita harus menyesuaikan," ujarnya.

Hal itu disampaikan dalam acara pembekalan operator Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), operator Madin, dan pengelolaan operator Pesantren di Aula Kemenag Giri Menang Kabupaten Lombok Barat, Kamis (4/7).

Dijelaskan, kita saat ini juga ketergantungan dengan smartphone pinter karena memiliki aplikasi yang lengkap. "Smartphone pinter saat ini sudah lengkap kayak laptop. Karena sudah ada Microsoft word, Microsoft Excel, dan lain-lain," terang mantan PLt Kakankemenag NTB ini.

Ketergantungan itu lanjutnya, tidak hanya bagi kaum dewasa  tapi juga anak-anak pun sudah sangat tergantung. "Oleh karena itu peran orang tua sangat dibutuhkan untuk menghindari pengaruh negatif teknologi," tuturnya.

Karena itu, keberadaan TPQ maupun Madrasah Diniyah itu bagian dari cara kita menyibukkan anak anak. "Bila anak-anak disibukkan dengan hal positif, maka bisa terhindar dari negatif teknologi dan akan sangat bahaya bagi anak anak. Kalau tidak ada kesibukan, apalagi suka menyendiri hanya di temani dengan smartphone pinter," jelasnya dengan nada khawatir.

Oleh karena itu dia mengajak para operator TPQ maupun operator Madin, dan pesantren agar mengupdate dan mengisi Education Management Information System (EMIS) peserta didik sesuai rubrik yang telah di sediakan oleh pihaknya agar bisa mendapat potensi dan sebaran lembaga yang ada di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Lombok barat.

Kepala seksi Pendidikan Agama dan keagamaan Islam (Pakis) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), H Nasrullah menjelaskan hingga tahun 2019 Data TPQ yang sudah punya izin Operasional sebanyak 640 Lembaga, Madrasah Diniyah 274 Lembaga, dan Pondok Pesantren berjumlah 99 Lembaga baik pondok pesantren Umum dan Pondok Pesantren Pesantren Salafiyah

Pertemuan yang di hadiri oleh 30 peserta ini merupakan kegiatan Bimbingan Teknis tenaga Operator Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah dan TPQ se Kabupaten Lombok Barat. "Bimbingan Teknis Operator EMIS Online Lembaga Keagamaan Islam tingkat Kabupaten Lombok Barat Tahun 2019," pungkasnya. (Hadi/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG