IMG-LOGO
Nasional

Tokoh Masyarakat Harus Mendamaikan, Bukan Memprovokasi

Sabtu 6 Juli 2019 0:0 WIB
Bagikan:
Tokoh Masyarakat Harus Mendamaikan, Bukan Memprovokasi
Jakarta, NU Online
Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Oman Fathurrahman menekankan pentingnya mempromosikan kebersamaan melalui upaya rekonsiliasi politik Pascapilpres 2019. Upaya ini sebaiknya dibarengi dengan langkah berani para tokoh masyarakat untuk ambil bagian di dalamnya. 

Ia mengingatkan agar para tokoh tidak melontarkan ajakan yang bertentangan dengan tujuan perbaikan kondisi politik pascapilpres. Sebab bagaimanapun, disadari atau tidak, para tokoh masyarakat memiliki pengikut, baik di dalam dunia maya atau di dunia nyata, yang berpotensi mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan idolanya.  

Secara khusus ia mengingatkan agar para tokoh berhati-hati saat berselancar di media sosial yang memiliki pengaruh luas saat ini di masyarakat Indonesia. “Para tokoh masyarakat ketika 'bermain' di media sosial itu jangan terbawa perasaan (baper) saat dikritik. (Cara) menyampaikan pendapatnya harus dengan semangat menentramkan. Jangan malah memprovokasi," ujar Oman Fathurrahman di Jakarta. 

Ia juga mengkritik sebagian tokoh masyarakat yang, alih-alih mendamaikan, malah justru melontarkan pendapat yang menambah ketegangan di dalam masyarakat. "Karena yang terjadi selama ini seseorang tokoh  atau yang dianggap sebagai tokoh oleh masyarakat itu kadang seringkali juga ikut berperilaku provokatif. Ini yang harus dihindari para tokoh itu demi menjaga persatuan antar masyarakat," tambahnya.

Oman mengingatkan, saat seseorang memutuskan masuk ke dunia maya, maka ia harus tahan terhadap kritikan, yang tak jarang, sangat pedas dari netizen. Dalam kondisi itu, lanjutnya, para tokoh masyarakat harus lebih menerima kritikan dan memberi respon ala kadarnya dan sesuai dengan kapasitas dirinya yang ia ketahui.

Untuk itu dirinya menguraikan tiga kunci pokok yang harus dipahami para  tokoh untuk menyampaikan sesuatu yang dianggap benar; yakni berilmu, berbudi dan berhati-hati. “Pertama, berilmu. Sampaikan sesuatu itu dengan berilmu, dengan pengetahuan sesuai kapasitasnya, sehingga tidak miss-leading. Kedua,  berbudi yaitu ketika menyampaikannya juga dengan arif, santun dan bijaksana, tidak dengan provokatif. Ketiga, berhati-hati. Siapa tahu ketika sampai  suatu informasi ke kita, ternyata setelah buru-buru kita posting, karena kita tidak hati-hati dan ternyata itu keliru bisa membuat suasana menjadi tidak baik dan memanas,” katanya.

Mantan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai bahwa ajang Pilpres lalu melahirkan segregasi masyarakat yang banyak dipengaruhi oleh cara pandang keagamaan. Oleh karenanya pasca Pilpres ini ia mengajak masyarakat agar meletakkan keagamaan sebagai hal substantif, yang pada prinsipnya mengajarkan kesatuan sebagai saudara seagama dan sebangsa. 
 
“Sebagai umat beragama saya ingin mengatakan bahwa taat beragama itu sama artinya dengan taat bernegara. Sama halnya taat bernegara itu sebetulnya kita sudah mengimplementasikan dari ajaran agama itu sendiri,” tuturnya. (Red: Ahmad Rozali)
Bagikan:
Jumat 5 Juli 2019 19:30 WIB
Genjot Kualitas, Kemnaker Jalin Kerja Sama Pelatihan Perhotelan dan Kapal Pesiar
Genjot Kualitas, Kemnaker Jalin Kerja Sama Pelatihan Perhotelan dan Kapal Pesiar
MoU Kemnaker dan PT Quantum Job.
Jakarta, NU Online
Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan mismatch (ketidaksesuaian) antara keterampilan pekerja dengan kebutuhan dunia industri, Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan, menjalin kesepakatan bersama dengan PT Quantum Job.

Kesepakatan bersama ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pekerja yang akan berkerja di perhotelan maupun kapal pesiar melalui penyelenggaraan pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Lombok Timur.

"Balai latihan Kerja Lombok Timur kita fokuskan dalam bidang pariwisata, dengan kerjasama ini  kami berharap kualitas pelatihan disana akan menjadi lebih baik lagi, makin sesuai dengan kebutuhan yang diminta oleh industri perhotelan dan kapal pesiar," kata Direktur Jenderal Binalattas Kemenaker Bambang Satrio Lelono, usai menandatangani kesepakatan bersama di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Jumat (5/7).

Selain itu, lanjut Dirjen Bambang, melalui kerja sama ini lulusan peserta pelatihan akan ditempatkan di perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja terampil sesuai standar yang diminta. Dengan begitu diharapkan penyerapan tenaga kerja terampil akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum.

"Pelatihan ini terbuka bagi masyarakat secara luas, tidak terbatas masyarakat di Lombok Timur saja. Tidak dipungut biaya sepeser pun, alias gratis. Setelah selesai pelatihan mereka akan mengikuti magang dan akan di uji kompetensi serta mendapat sertifikat kompetensi," kata Dirjen Satrio.

Sertifikasi kompetensi dilakukan oleh lembaga independen, setelah lulus mereka akan mendapat sertifikat pelatihan, sertifikat magang dari tempat kerja dan sertifikat profesi yang berlaku di seluruh ASEAN. Bagi masyarakat yang berminat mendaftar pelatihan di BLK Lombok Timur dapat mendaftar secara online di link berikut: Pelatihan BLK Lombok Timur (http://www.kios3in1.net/blklomboktimur/2pelatihan.ph). (Red: Kendi Setiawan)
Jumat 5 Juli 2019 18:30 WIB
Komitmen Kuat Pemerintah Tingkatkan Kualitas SDM
Komitmen Kuat Pemerintah Tingkatkan Kualitas SDM
Sosialisasi SDC BLK Lombok Barat, Kamis (4/7).
Lobar, NU Online
Direktur Bina Kelembagaan dan Pelatihan Kemnaker Fitroh Hanrahmawan menegaskan pemerintah memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Komitmen tersebut ditunjukkan Presiden Joko Widodo yang menyebut pengembangan kualitas SDM, khususnya berkaitan pendidikan dan pelatihan vokasi, akan menjadi prioritas.

"Selain itu Menaker juga telah membentuk Komite Pelatihan Vokasi guna meningkatkan koordinasi yang kuat antara pemerintah dengan industri, profesi dan akademisi serta memperluas akses dan meningkatkan mutu pelatihan vokasi," kata Fitroh Hanrahmawan Balai saat memberikan sambutan Sosialisasi Skill Development Center (SDC) di Lombok Barat, NTB, Kamis (4/7).

Fitroh menambahkan keseluruhan langkah dan upaya percepatan pengembangan kompetensi SDM sebagaimana diuraikan di atas, berskala nasional dan dengan pendekatan sektoral. Dalam praktiknya, semua kebijakan dan program pembangunan yang bersifat nasional, pelaksanaannya dilakukan ditingkat daerah. 

“Karenanya, perlu  adanya model percepatan pengembangan kompetensi SDM dengan pendekatan daerah, di antaranya melalui pembentukan pusat," ujarnya.

Sosialisasi SDC yang digelar BLK Lombok Timur selama tiga hari, Kamis-Sabtu, 4-6 Juli 2019. Sosialisasi dihadiri 40 orang peserta yang berasal dari unsur Akademisi (BLK KP, LPK, SMK, Kadin), unsur pemerintah (Disnakertrans KP, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Pariwisata, Dinas Perdagangan, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga). (Red: Kendi Setiawan)
Jumat 5 Juli 2019 18:0 WIB
Hastag #ZarazettiraHinaPesantren Sedang Trending di Twitter
Hastag #ZarazettiraHinaPesantren Sedang Trending di Twitter

Jakarta, NU Online

Pengguna twitter ramai menggunakan tanda pagar #ZarazettiraHinaPesantren, Jumat (5/7) sore. Mereka menanggapi kicauan pemilik akun twitter Zarazettirazr yang mengaitkan berita skandal korupsi di Kemenag dengan tradisi pesantren.


Pemilik akun twitter dengan nama Zarazettirazr menulis “Tradisi pesantren jangan dibawa ke Kementrian, Camkan!” pada 3 Juli 2019 dengan menautkan link berita yang dilansir detik.com dengan judul “Skandal bertubi-tubi di Kemenag, Kasir pun Bisa Korupsi Rp 3,3 Miliar.”


Kicauan itu kemudian tidak dapat lagi ditemukan di akun tersebut. Tetapi jejak digitalnya dapat dilacak karena ada warganet yang menyimpan screenshoot kicauan tersebut. Jejak digital ini menyebar di media sosial dan menuai tanggapan negatif warganet.


Warganet mengecam cuitan Zara yang merupakan kader salah satu partai politik di Indonesia karena dianggap telah menghina institusi pesantren. Netizen mengungkapkan kegeramannya dengan berbagai komentar.


Salah satu komentar datang dari pemilik akun dengan nama Umar Hasibuan. Ia menyebut Andi Arief sebagai pengurus parpol yang mana pemilik akun Zara bergabung. “Dear bang AndiArief_tlong bilang ke orang ini jgn asal bicara,” tulis Umar.


Ali bin Saridin, salah satu warganet, menulis, “Pesantren itu mengajarkan kedisiplinan,kesederhanaan, budi pekerti. terus huubungannya dengan korupsi apa?”


Pemilik akun Hatimgazali menulis, “@zarazettirazr saya mengajak ibu berkunjung ke pesantren, agar tak muda hina macam2. Ibu, sekalipun dah hina pesantren, tetap pasti diterima dg baik oleh pesantren. Tenang aja bu.”


Hatim dalam twitter-nya mengatakan bahwa gagasan kebangsaan banyak lahir dari pesantren. Ia menyayangkan kicauan Zarazettirazr yang merendahkan institusi pesantren. Ia meminta pemilik akun tersebut untuk tidak berkomentar perihal sesuatu yang tidak dimengerti.


“Anggap korupsi itu tradisi pesantren. @zarazettirazr sebaiknya komentar tentang hal2 yg dikuasai...” kata pemilik akun twitter hatimgazali.


Tanda pagar #ZarazettiraHinaPesantren kini menjadi trending di twitter. (Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG