IMG-LOGO
Pustaka

Meluruskan Tuduhan Kondisi Islam di Negeri Tirai Bambu

Sabtu 6 Juli 2019 20:30 WIB
Bagikan:
Meluruskan Tuduhan Kondisi Islam di Negeri Tirai Bambu
Perhatian terhadap Muslim Uigur di Xinjiang sangat besar terutama negara Barat, lebih suka memfokuskan perhatian pada isu pelanggaran hak asasi manusia yang diduga dilakukan rezim komunis di bawah kepemimoinan Xi Jinping. Terlebih saat pemerintah Tiongkok membangun kamp-kamp pendidikan dan pelatihan vokasi. Bahkan masyarakat Indonesia menyoroti hal ini dengan sentimen agama. Apalagi dengan suhu politik di Indonesia yang sangat panas terlebih masa Pemilihan Presiden (Pilpres) kemarin. Terlebih saat bulan Ramadhan banyak media yang memberitakan bahwa Muslim di Xinjiang dilarang untuk berpuasa.

Padahal Isu tersebut adalah isu lama kurang lebih sudah 23 tahun konflik horizontal. Tetapi kini isu Xinjiang diangkat kembali di tengah memanasnya hubungan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat dan juga sekutunya. Ini kebetulan atau tidak, tetapi faktanya isu ini mengemuka pada saat perang dagang antara kedua pemimpin ekonomi dunia sedang  berkecamuk.

Terkait kamp-kamp pendidikan yang ada di Xinjiang, seorang peserta didik  Kamp Vokasi, Mirkamiljan mengatakan:  “Bagaimana tidak senang berada di sini. Keterampilan bisa kami dapat, berbagai keperluan juga difasilitasi,” kata pria 20 tahun dari etnis Uigur ini mengaku bahwa keikutsertaannya dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi atas keinginan sendiri, tidak ada paksaan dari pihak mana pun (h. 11). 

Gubernur Xinjiang Shohrat pernah menyampaikan secara terbuka kepada media dan para duta besar negara sahabat Tiongkok.  “Apakah ada yang salah dengan cara kami memperbaiki kualitas hidup warga kami agar tidak semakin terperosok dalam jurang kemiskinan. Kalaupun di kamp diajarkan bahasa nasional dan pemahaman tentang undang-undang negara, maka itu sudah kewajiban bagi pemerintah manapun untuk memfasilitasinya.”

Selain mengulas terkait isu Muslim Uigur buku “Islam Indonesia dan China: Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok” yang ditulis oleh para pelajar Indonesia di Tiongkok juga mengulas bagaimana kondisi Islam sesungguhnya di Tiongkok. Buku ini terdiri atas empat bagian. Bagian pertama menjelaskan pengalaman keislaman di Tiongkok, pada bagian pertama penulis juga menggambarkan bagaimana masyarakat Islam lokal menjalankan ibadah serta pandangan masyarakat non-Islam terhadap Islam. 

Dalam bagian ini juga bisa dijadikan referensi bagi pembaca untuk mencari tempat wisata religi juga bagaimana cara mendapatkan makanan halal di Tiongkok. Salah satu cara mengatehui makanan halal, kita harus tahu karakter 清真 (qīngzhēn dibaca chingchen), selain karakter China itu biasanya tertulis  dengan bahasa Arab yang bermakna makanan Muslim. Banyak sekali makanan dengan lebel halal tersebut. Jadi tidak usah khawatir jika berwisata ke Tiongkok. 

Muslim Tiongkok sangat cinta terhadap tanah airnya sendiri. Seperti yang terdapat di pintu masuk Masjid Agung Changchun, Provinsi Jilin. Ada sebuah prasasti besar yang bertuliskan hubbul wathan minal iman dalam bahasa Arab dan di bawahnya tertulis dalam bahasa mandarin 爱国是信仰的一部分(baca: Àiguó shì xìnyǎng de yībùfèn) yang artinya cinta tanah air adalah sebagian dari iman, tulisan serupa juga banyak dijumpai di masjid-masjid di Tiongkok lainnya. (h. 71). Pada 21 Juni 2019 lalu Institut Pendidikan Islam Lanzhou (兰州伊斯兰教学院) mewisuda 106 mahasantri. Ada empat poin yang ditekankan oleh Dekan Institut Pendidikan Islam Lanzhou, Ma Xuezhi (马学智) kepada para wisudawan, yaitu: 1. Cinta tanah air dan juga menyebarkan sikap patriotrik, 2. Menjadi komunikator Islam di Tiongkok, 3. Menjadi pelopor perilaku positif, 4. Menjaga persatuan dan keharmonisan.

Artinya spirit nasionalisme ini terus ditumbuhkan kepada kader-kader penerus Islam di Tiongkok. Dengan mencintai tanah air, tentunya warga Muslim Tiongkok akan semakin peduli pada negara dan berupaya terus untuk semakin memajukannya. Ketika semua warga negara menunjukkan cinta dan kepeduliannya secara nyata, tidak bisa dibendung lagi, negara Tiongkok akan menjadi negara yang populasi Islam terbesar.

Tidak hanya berbicara tentang kondisi keislaman di Tiongkok, pada bagian kedua para penulis menceritakan  proses pendaftaran beasiswa Tiongkok, juga kemajuan Tiongkok baik dalam teknologi maupun ekonomi digital yang pesat. Berdasarkan laporan dari Boston Consulting Group, saat ini nilai ekonomi berbasis digital di Tiongkok sudah melampaui $16 trillion dan menjadi salah satu negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di dunia. 

Ini juga tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah pusat untuk mengembangkan ekonomi berbasis internet, (h. 115). Hal tersebut bisa dijadikan alasan mengapa Tiongkok sebagai pilihan negara untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

Tidak kalah pentingnya, buku ini juga menjelaskan persaudaraan bagsa Indonesia dan masyarakat Tiongkok yang sudah terbangun dari ratusan tahun yang lalu. Selama abad ke-15 dan ke-16 masehi, pengaruh Etnis Tinghoa di Jawa sangat kuat. Terbukti ukiran batu di Mantingan Jepara, Masjid kuno, pecinan di Banten, konstruksi pintu di makam Sunan Giri Gresik, arsitektur keraton Cirebon, kontruksi masjid Agung Demak khususnya tiang penyangga masjid, dan kontruksi Masjid Agung Semarang, (h. 142). 

Kejadian yang paling penting dalam penyebaran Islam Tionghoa di Indonesia dilakukan oleh Cheng Ho. Dia adalah seorang duta diplomatik dari Dinasti Ming. Dia disambut dengan hangat oleh masyarakat Indonesia. Tim ekspedisi Cheng Ho datang bersama ke Indonesia menggunakan 208 kapal. Anak buah kapal yang paling banyak adalah beragama Islam. 

Buku ini tidak hanya menyajikan data-data yang diambil dari arsip dan buku yang ditulis oleh orang asing, namun juga menyertakan gambar penting tentang suasana kehidupan berislam di Tiongkok. Dengan membaca buku ini, kebencian-kebencian terhadap etnis Tionghoa yang selama ini muncul karena salah sangka dan turbulensi politik dapat terkurangi dengan menyelami lebih mendalam silang budaya maupun kisah-kisah kehidupan di Tiongkok yang ada di dalamnya.

Peresensi, Waki Ats Tsaqofi adalah Mahasiswa Master di Chongqing University, China serta Wakil Ketua PCINU Tiongkok.

Identitas Buku:

Judul Buku: Islam Indonesia dan China: Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok
Editor: Ahmad Syaifuddin Zuhri, dkk.
Cetakan: April 2019
Tebal buku: xxiv+220
Ukuran: 14,8 cm x 21 cm
ISBN: 978-602-61490-4-6
Penerbit: Aswaja Nusantara Press
Bagikan:
Senin 10 Juni 2019 9:0 WIB
Pesantren sebagai Pendidikan Moral Sepanjang Sejarah
Pesantren sebagai Pendidikan Moral Sepanjang Sejarah
Membaca Islam yang komprehensif tentunya tidak bisa dilepaskan dari peradaban awal Islam, yaitu Islam di era Nabi Muhammad SAW. Model Islam yang dipromosikan kepada umat manusia adalah Islam rahmatan lil ‘alamin: sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kehadiran Islam seutuhnya ditujukan untuk kemaslahatan umat manusia. Kehidupan yang sejahtera, damai, berkeadilan, dan kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai luhur merupakan visi dan tujuan ajaran Islam.

Buku ini merekam jejak historis islamisasi Jawa yang dilakukan dengan cara yang santun dan damai. Proses penguatan nilai-nilai Islam di Jawa tidak dilakukan dengan cara menghakimi tradisi masyarakat sebagai bid’ah, sekalipun tradisi tersebut berbau animistik-hinduistik, melainkan dilakukan dengan mengafiri budaya lokal setempat, menjadikannya sebagai instrumen penyebaran Islam.

Yang menjadi persoalan, kadang-kadang ketika menjadi seorang Muslim, kita dituntut untuk se-Arab mungkin. Sebaliknya sebagai orang yang modern, kita dituntut untuk kebarat-baratan atau se-Barat mungkin. Kita bisa menjadi seorang Muslim tanpa harus kehilangan jati diri sebagai warga negara. Sebab, jati diri utama seorang Muslim ditentukan oleh ketakwaannya.

Islam yang dibawa ke Indonesia dapat diterima dengan mudah karena memiliki kemiripan konseptual, sehingga inkulturasi terjadi. Melalui proses inkulturasi yang panjang, nilai Islam dan nilai pra-Islam berpadu dan membentuk hal baru. Islam di Arab, Turki, India dan di seluruh penjuru dunia memiliki bentuk yang sama, termasuk bentuk Islam yang berkembang di Indonesia. Kebaruan di sini menurut penulis buku ini terletak pada makna, bukan bentuknya.

Para juru dakwah Islam di Indonesia banyak sekali. Akan tetapi, yang paling banyak dikenal oleh masyarakat luas adalah Wali Songo. Sebab, jasa yang mereka perjuangkan sangat tampak dirasakan. Salah satu contohnya adalah lahirnya pendidikan pesantren. Pondok pesantren menjadi representasi yang masih mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai lokal dan Islam. Keduanya terpilih dalam suatu proses inkulturasi yang sangat panjang, menyejarah, tampil dalam pentas perjalanan historis bangsa dan negara (hal. 396-397).

Belakangan ini, muncul fenomena yang menjadi tren pesantren. Pertama, pesantren tradisional ramai-ramai mengadopsi pendidikan modern saja. Pesantren ini membuka pendidikan umum dan kampus ala Barat dengan meninggalkan karakter pesantren--tetapi mempertahankan apa yang khas dalam pesantren. Kedua, munculnya pesantren garis keras. Akibatnya, banyak alumni pesantren beraliran radikalis (hal. 23). Menurut penulis, teroris tingkat tinggi hampir semuanya alumni pesantren. Sebut saja misalnya Amrozi, Umar Patek, Imam Samudra dan lain-lain.

Perlu diketahui, bahwa ada tugas-tugas pokok yang harus dilakukan bagi para pendakwah untuk memberikan pendidikan keislaman yang baik kepada masyarakat, yaitu mengimplementasikan pendidikan moral (makruf), bukan dengan cara kekerasan (mungkar). Sekarang justru malah terbalik, para pendakwah awal seperti Wali Songo dikafir-kafirkan karena tidak membidahkan atau mensyirikkan budaya setempat, padahal mereka dulu mengislamkan orang kafir.

Dalam berhubungan dengan Allah, kita mesti mengikuti apa yang diajarkan agama. Akan tetapi, dalam berhubungan dengan manusia (hubungan horizontal), untuk mewujudkan kemaslahatan kepada makhluk di muka bumi, maka kita perlu menyerap sebanyak mungkin budaya dari manapun yang baik, dan meninggalkannya yang jelek, termasuk dari budaya kita sendiri.

Oleh karena itu, bagi para peletak dasar berdirinya pesantren dan atau penyebar awal Islam di Indonesia menilai urgensinya prinsip-prinsip tidak menggunakan kekerasan di dalam seluruh kehidupan manusia. Nilai-nilai lokal yang baik terus dipelihara oleh mereka (wali) sebagai sesuatu yang baik dan dijadikannya sebagai medium dalam penyebaran agama Islam yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia (hal. 399). Dengan prinsip dasar itu mereka berhasil dengan mudah mentransformasikan nilai-nilai non-islami menuju kehidupan yang Islami secara paripurna.

Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara sangat penting dibaca untuk menambah wawasan tentang strategi dakwah persepektif etika pesantren karya Aguk Irawan ini. Buku yang dihasilkan dari hasil penelitiannya sudah pasti dilakukan dengan sungguh kehati-hatian dalam menyelesaikan gagasannya. Meski bahasa yang digunakan dalam buku ini terkesan akademik-intelektual, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas, terutama bagi mereka yang sedang mendalami dunia dakwah dan mereka yang ingin memahami Islam dan tuntunan idealnya. Selamat membaca.

Peresensi adalah Ashimuddin Musa, alumnus Instika, Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur.

Identitas Buku
Judul: Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara
Penulis: Aguk Irawan MN
Penerbit: Pustaka IIMaN
Tahun terbit: 2018
Tebal: 462 halaman.
ISBN: 978-602-8648-29-5
Ahad 26 Mei 2019 13:0 WIB
Tangisan Santri Bukan Sembarangan Tangisan
Tangisan Santri Bukan Sembarangan Tangisan
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut pesantren sebagai subkultur. Ya, memang, kehidupan santri, meskipun pada umumnya sama dengan komunitas lain, tapi memiliki ciri khas tersendiri. Dan tentu saja memiliki cara pandang tersendiri pada dunia dan kehidupan yang digelutinya. Hal itu karena mereka menerima pelajaran dan pendidikan dari bimbingan kiai atau ajengan yang bersumber dari naris naskah-naskah klasik Islam atau kitab kuning. 

Pandangan hidup seorang santri bisa tergambar pada cerpen-cerpen karya Usep Romli HM yang pernah mengalami kehidupan pesantren di Garut, Jawa Barat. Misalnya pada cerpen dalam bahasa Sunda Ceurik Santri (tangisan santri). Cerpen tersebut berada di dalam buku kumpulan cerpen dengan judul sama yang diterbitkan pertama kali oleh Rahmat Cijulang tahun 1985. Kemudian diterbitkan ulang oleh Geger Sunten 2007. 

Dari kisah yang berada di cerpen tersebut, terutama Ceurik Santri tidak lepas dengan situasi Indonesia pada masa itu, yaitu Orde Baru, terutama pada isu pembangunan yang digalakkan Presiden Soeharto. Bahkan kemudian ia mendapat sebutan bapak pembangunan. Pada masa itu, setiap orang harus bahu-membahu dalam pembangunan, tanpa kecuali. Semua harus produktif.

Nah, persoalannya, sebagaimana ditulis dalam beberapa artikel penulis NU kawakan, H Mahbub Djunaidi, kalangan santri dianggap tidak turut serta dalam pembangunan itu dan tidak produktif. Namun anehnya, kata Mahbub, kalangan siswa dan mahasiswa tidak disoroti sebagaimana santri. Padahal kedua-duanya dalam taraf tertentu, sama, sebagai pelajar. 

Nah, karena itulah, sebagaimana dalam cerpen tersebut, kalangan pemerintah mengirimkan bibit ayam ras dan alat-alat pertanian untuk sebuah pesantren di sebuah desa. Ajengan di pesantren tersebut tidak menolaknya. Namun, ia pergi ke luar kota, dengan alasan menghadiri haul di Jawa selama empat hari. Begitu juga kedua putranya, tidak bisa hadir. Keduanya pergi ke Jakarta hendak mengambil kitab kiriman dari Tanah Suci Mekkah. 
Serah terima benda tersebut dipercayakan ajengan kepada para santrinya. 

Pada saat musyawarah kepanitiaan serah terima, terjadi perdebatan sengit tentang manfaat dan mudaratnya jika menerima benda sumbangan tersebut. Namun, pada akhirnya mereka sepakat menerima sesuai permintaan ajengan. Disusunlah kepanitiaan. Salah seorang santri yang mendapat tugas dalam kepanitiaan tersebut adalah Sarip. Dia sebagai pembawa acara. Namun, saat waktu acara dimulai, Sarip menghilang.  

Santri vs Ateis
Sarip menghilang dari acara karena yang datang adalah orang yang sangat dikenalinya, yaitu Gunawan. Gunawan adalah temannya saat di Sekolah Menengah Atas. Keduanya berselisih paham tentang agama Islam yang menurut Gunawan sangat ketinggalan zaman, tidak cocok dengan zaman modern karena agama melarang pergaulan bebas dan minum-minuman keras. Sarip menentang keras pendapat Gunawan tersebut.

"Euh ana kitu, lain Islam anu teu modern atawa teu luyu jeung norma-norma jaman moderen, tapi silaing anu tinggaleun jaman. Tapi silaing anu teu luyu jeung jaman moderen." 

Terjemahan bebasnya:

"Bukan begitu, bukan Islam tidak sesuai dengan kondisi kekinian dan norma-norma zaman modern, tapi kamu ketinggalan zaman. Kamu yang tidak sesuai dengan zaman modern".

"Naha?"

Terjemahannya:

"(Kenapa)?"

"Yeuh pamabokan, pergaulan bebas alias perjinahan teh kuno. Kuno pisan. Samemeh Islam gumelar, kabeh pangeusi dunya, di Arab, di Rumawi, di Persia,  geus ngabaju kana inuman keras, ngabaju kana pergaulan bebas. Torojol datang Islam anu disebarkeun ku Nabi Muhammad SAW, bangsa inuman keras, bangsa lacur perjinahan, dicaram." 

Terjemahan bebasnya:

"Mabuk-mabukan dan pergaulan bebas alias perzinaan itu adalah perilaku kuno. Sangat kuno. Sebelum Islam datang, kebanyakan di dunia ini seperti di Arab, Romawi, Persia, melakukan minum-minuman keras dan pergaulan bebas. Ketika datang Islam yang disebarkan Nabi Muhammad SAW, tindakan semacam itu dilarang."

Gunawan banyak teman yang kemudian mengamini pemikirannya karena ia memiliki uang banyak. Teman-temannya sering diajak makan bareng atau ikut berangkat atau pulang sekolah menggunakan mobilnya. Sementara teman-temannya yang lain banyak yang tidak mau tahu menahu perihal itu. bahkan gurunya sendiri. Padahal menurut sarip, Gunawan mengandung pemikiran ateisme.  
ng." 

Namun, menjadi pergolakan batin Sarip adalah ketika Gunawan justru datang ke pesantren untuk menyerahkan sumbangan ayam ras dan cangkul. Bahkan ia berpidato yang isinya memuji Islam, santri, pesantren. Sarip yang mengetahui masa lalunya, menyingkir dari pidato tersebut. Ia tak mau menemuinya. Dan di malam harinya, dalam doa-doa selepas tahajudnya, ia menangis. Ia ceurik. Ia telah meninggalkan tugas dan merasa terbebani dengan sikapnya yang berburuk sangka. Sebab, ia tidak bisa memastikan apakah pidato Gunawan itu kamuflase atau memang sudah berubah dari masa lalunya.

Ya Allah, mugia anjeun henteu nibakeun siksa ka abdi sadaya saupama abdi kaliru. Mugia anjeun henteu ngabeungbeurat sapertos anu ditibakeun ka jalmi-jalmi saheulaeun abdi. Mugia anjeun ngalebur dosa-dosa abdi, ngaping, ngajaring abdi sadaya sareng mugia Anjeun maparin rahmat ka abdi sadaya. Paparin abdi kakiatan sareng pitulung kangge ngungkulan reka perdaya jalmi-jalmi kapir. Amin ya rabbal alamain. 

Terjemahan bebasnya:

Ya Allah, semoga Engkau tidak menimpakan siksa kepadaku seumpama aku keliru. Semoga Engkau tidak menimpakan hal itu sebagaimana yang menimpa orang-orang terdahulu. Semoga Engkau menghapus dosa-dosaku, menjaga dan memberi rahmat kepadaku. Berikan kekuatan dan pertolongan dari kejahatan orang-orang kafir. Amin. 

Kumpulan cerpen ini, sebagaimana cerpen-cerpen Usep Romli HM, sangat enak dibaca, tentunya bagi orang yang memahami bahasa Sunda. Usep terampil menyisir batin orang pesantren. Di samping ia pernah ada di dalamnya, ia termasuk penulis kahot tidak hanya dalam bahasa Sunda, melainkan bahasa Indonesia. Hal itu bisa dibaca juga dalam novelnya Bentang Pasantren. 

Namun, dalam Ceurik Santri ini ada sedikit kejanggalan, yaitu anak SMA yaitu Gunawan, telah terbiasa membaca pemikiran tokoh-tokoh Barat yang lumayan susah dipahami seperti Sartre, Nietzsche. Dan anak-anak itu mampu memahami isinya. Sementara di pihak Sarip juga sepertinya sudah memahami Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Maududi, dan lain-lain. Mungkin jika saat ini sangat mungkin, tapi ini terjadi tahun 1980-an. Namun demikian, sebagai satu kasus, anak SMA di masa itu yang mampu seperti itu bukanlah yang mustahil. 


Peresensi Abdullah Alawi, Nahdliyin yang kini tinggal di Bandung

Data Buku
Judul         :  Ceurik santri
Pengarang        :Usep Romli H. M.
Penerbit         Rahmat Cijulang, 1985
Tebal         88 halaman

Rabu 22 Mei 2019 4:0 WIB
Kisah Pecandu Mobil Legend yang Akhirnya Jadi Penghafal Al-Qur’an
Kisah Pecandu Mobil Legend yang Akhirnya Jadi Penghafal Al-Qur’an
Keberadaan Pondok Pesantren Hamalatul Quran (PPHQ) menyita perhatian banyak pihak. Tidak hanya di kalangan umat Islam di Jombang, namun juga se-JawaTimur. Bahkan mungkin se-Indonesia.

PPHQ berlokasi di Desa Jarak Kulon, Kecamatan Jogoroto, Jombang, Jawa Timur. Pondok khusus tahfidz ini didirikan oleh KH Ainul Yaqin. Kiai yang akrab disapa Mbah Yaqin tersebut adalah alumni Madrasatul Qur’an Tebuireng. Dari segi sanad keilmuan, termasuk dalam bidang tahfidz, MbahYaqin memiliki garis yang jelas.

Latar belakang para santri calon hafidz di pesantren ini bervariasi. Mulai siswa SLTA, SLTP, bidan, PNS, sarjana hingga guru. Meski baru berdiri tujuh tahun, sekarang PPHQ memiliki sedikitnya dua ribu santri. Itu belum termasuk yang mukim di beberapa PPHQ cabang.

Ketertarikan banyak orang membincang PPHQ lebih disebabkan metode yang digunakan. Biasanya proses menghapal Al-Qur’an membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Di PPHQ, hanya dalam waktu enam bulan. Bahkan kebanyakan hanya dalam waku empat bulan. Subhanallah.

Metode akselerasi yang “kurang umum” ini menarik banyak kalangan. Tidak heran jika santrinya banyak yang dari luar Jawa. Bahkan ada yang dari Singapura. Mulai tahun 2018  kemarin, PPHQ membuka cabang di Ringin Agung Kepung, Kediri. Unit ini khusus untuk santri putri. Pengasuhnya adalah Ustadz Faiq Faizin, lulusan angkatan pertama PPHQ Jombang.

Buku Hafal Al-Qur’an Semudah dan Secepat Ngopi ini menjawab banyak pertanyaan dan penasaran khalayak tentang program tahfidz versi PPHQ. Buku ini ditulis oleh 67 santri berisi kisah dan pengalaman mereka selama menghafal Al-Qur’an di PPHQ. Ini adalah kumpulan tulisan dari para santri generasi awal atau dikenal dengan sebutan assabiqunal awwalun.

Kisah yang ditampilkan bukan sebuah skenario yang dibuat agar menarik untuk dibaca. Akan tetapi, itu semua adalah hasil pengalaman pribadi mereka yang berkesan untuk dapat diceritakan kepada khalayak lewat tulisan. Tentu saja tulisan mereka menggunakan gaya bahasa masing-masing yang khas sebagai seorang santri.

Banyak kisah mereka yang mengharu biru dan inspiratif dalam proses menjadi hafidz dan hafidzah di PPHQ. Kunci sukses tahfidz di PPHQ terletak pada program kegiatan akselerasi yang tidak biasa. Mulai kegiatan ziyadah, murajaah, shalat tahajjud dan shalat dhuha dengan maqra setengah juz, setoran bin nadhar, bil ghaib, dzikrul Quran satu juz hingga fammy bisyauqin. Kegiatan terakhir ini semacam muraqabah untuk membaca lima juz sekali duduk dengan tartil.

Untuk melancarkan hafalan, santri diwajibkan mengikuti kegiatan tahunan. Yaitu menjadi imam shalat tarawih dengan maqra 30 juz di berbagai masjid. Baik masjid di desa sekitar maupun masjid pondok yang menjalin kerja sama. Ini juga mengasah mental para santri calon hafidz.

Proses menghafal dengan durasi yang cepat, menjadikan santri sering dihinggapi rasa jenuh. Bahkan bosan, malas, mengantuk dan keinginan untuk berhenti mengikuti program, seolah menjadi “makanan keseharian” santri. Termasuk ada yang sakit dan harus pulang selama satu bulan untuk penyembuhan.

Berbagai tantangan itu ternyata dialami oleh hampir semua santri. Namun itu diantisipasidengan pola asuh kiaidan para ustadz yang penuh perhatian dan cara komunikasi yang baik. Sehingga, kesulitan tersebut dapat segera diatasi. Santri akhirnya menjadi kembali kepada tujuan awal mereka untuk menjadi seorang hamilil Quran lafdhan wa ma’nan wa amalan

Ada ungkapan yang menjadi motto di pondok ini.Yaitu Allahumma pekso. Ini didasari karena menghafal Al-Qur’an bukan masalah bakat atau tidak. Tapi siapa yang mau dialah yang bisa. Para santri sangat terkesan dengan dawuh sang pengasuh ini. Semua berawal dari beban dan paksaan hingga akhirnya menjadi cinta.

Buku ini cukup menarik untuk dibaca. Dengan bermacam latar belakang mereka sebelum menghafal Al-Qur’an, isi buku ini makin berwarna. Sebut saja Karyn Shabrina Lym, santri dari Singapura dengan julukan Queen of Mobile Legend. Awalnya dia seorang pecandu game online mobil legend. Akhirnya membulatkan tekad untuk hijrah menghafal Al-Qur’an, karena ingin membanggakan kedua orang tuanya.

Cerita menarik lainnya dari Ainaul Rizki. Dia seorang bidan lulusan D-3 Poltekes Kemenkes Semarang, yang memutuskan untuk mengambil program tahfidz sebelum melanjutkan ke jenjang S-1 kebidanan.

Kisah menarik berikutnya datang dari seorang santri yang dalam proses menghafal Al-Qur’an dinyatakan lolos tes PNS. Dia adalah Ema Yusrina Fahmidah.Seorang gadis desa lulusan S-1 dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kedua orang tuanya menginginkan agar dia melanjutkan ke S-2.Tapi dia ingin “menebus dosa” saat kuliah yang tidak bisa fokus untuk menghafal Al-Qur’an.

Masih banyak kisah inspiratif lainnya yang dapat membuka mata dan menggugah keinginan para pembaca untuk dapat mengikuti jejak mereka. Kisah para assabiqunal awwalun ini membawa spirit kepada para pembaca. Salah satunya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. Yakin, usaha, sabar, doa, tawakkal dan ikhlas adalah hal yang harus ada pada seorang yang memiliki impian menjadi seorang hafidz.


Peresensi adalah Halimatus Sa’adah, dosen Universitas Darul Ulum dan guru SMKN 2 Jombang. Alamat: Kantor SMKN 2 Jombang, Jalan Bupati RAA Soeroadiningrat No. 6 Jombang 61411. E-mail: imahalima39@gmail.com.


Identitas Buku
Judul : Hafal Al-Quran Semudah dan Secepat Ngopi (Kisah Inspiratif
            Assabiqunal Awwalun PP Hamalatul Qur'an)
Pengarang  : M. Fuad Hasyim, M. Faiq Faizin dkk
Penerbit          : Imtiyaz, Surabaya
Cetakan          : I, April 2019
Tebal  : xxii+247 hlm
ISBN  : 978-602-5779-16-9
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG