IMG-LOGO
Nasional

Selain Radikalisme, Ujaran Kebencian Masih Jadi Ancaman

Ahad 7 Juli 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Selain Radikalisme, Ujaran Kebencian Masih Jadi Ancaman
Jakarta, NU Online
Radikalisme, terorisme, dan kekerasan ekstrem masih terus mengancam keamanan dan kenyamanan masyarakat Indonesia. Mengingat Negeri Zamrud Khatulistiwa ini masih menjadi destinasi para penebar teror.

Jejaring terorisme masih menancapkan pengaruhnya di Indonesia. Darul Islam, Islamic State, hingga Al-Qaeda, menurut Greg Barton, guru besar Politik Islam Global Universitas Deakin, Australia, masih punya pengaruh signifikan.

"Kalau jaringan Darul Islam masih cukup signifikan. IS masih cukup berpengaruh. Al-Qaeda juga," katanya saat perbincangan dengan NU Online usai acara Consultation with CSOs on the Draft Work Plan on Preventing and Countering the Rise of Radicalisation and Violent Extremism (PCRVE) 2018-2025 di Hotel Pullman, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (3/7).

Hal tersebut mengingat ia melihat keberadaan kelompok tersebut di Irak sebelah utara. Menurutnya, selama sepuluh sampai 20 tahun lagi masih akan ada pengaruhnya di Indonesia.

Tidak hanya itu, Greg menyoroti hal lain yang menjadi ancaman bangsa Indonesia ke depan dan tantangan bagi pemerintahan Joko Widodo di periode keduanya, yakni kebencian ekstrem (hateful extremism).

"Ada yang lain juga yang akan berperan. Tetapi berbeda dengan terorisme, yaitu hateful extremism, ekstremisme yang memakai bahasa benci, dan sektarianisme," katanya menjelaskan.

Memang dengan sendirinya, katanya, ekstremisme kebencian merupakan ancaman yang dapat menganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat.

Sektarianisme dan kekerasan berbasis suku, ras, agama, hingga bahasa, menurut Greg, bukan hanya tantangan pemerintah di bawah kepemimpinan Joko Widodo dan KH Maruf Amin, tetapi juga bagi NU dan Muhammadiyah sebagai dua ormas terbesar di Indonesia dan dunia.

"Salah satu tantangan untuk NU, Muhammadiyah, dan Pemerintah, bukan hanya terorisme, tetapi juga hateful extremism, dengan alasan fitnah, kebencian, bikin masalah dengan kelompok lain karena berbeda bahasa, suku, dan sebagainya," kata penulis buku Biografi Gus Dur itu.

Karenanya, Greg berharap NU dan Muhammadiyah dapat lebih bergandengan erat guna mencegah semakin maraknya kebencian itu. Pasalnya, dua ormas terbesar di Indonesia bahkan dunia ini punya peranan besar dalam mewujudkan perdamaian. "Mudah-mudahan pihak NU bisa mencari jalan supaya kerjasama lebih dekat dengan Muhammadiyah," ujarnya.

Sementara itu, Greg juga percaya bahwa Jokowi merupakan sosok yang demokratis. Namun, ia mengingatkan agar nilai dan prinsip demokrasi harus betul-betul diperhatikan. "Beliau (Jokowi) harus lebih memperhatikan prinsip dan nilai demokrasi," ungkapnya.

Memang, menurutnya, ada masalah dengan hoaks dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Meskipun demikian, ia mengingatkan agar jangan sampai akhirnya mengancam kebebasan pers dan kebebasan masyarakat madani.

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan agar Presiden Jokowi tidak menggunakan president show order mengingat dampak bahayanya memunculkan kesimpulan Jokowi sebagai sosok yang demokrat menjadi terlihat antidemokrasi. "Pak Jokowi yang saya percaya sebagai demokrat sejati kelihatan antidemokrasi," katanya.

Oleh karena itu, Greg menegaskan agar pemerintah harus lebih erat lagi menjalin hubungan dengan sipil, ormas, dan para profesional, termasuk wartawan guna memunculkan transparansi.

"Kalau ada ikhtiar dari administrasinya, kebijakan baru harus ada penjelasan, harus kelihatan ada akuntabilitas," ungkap pria yang menamatkan studinya di Universitas Monash Australia itu.

Ia berharap Jokowi dapat menjelaskan dan mensosialisasikan berbagai isu agar mendapatkan dukungan rakyat. "Ada isu yang harus disosialisasikan dengan baik supaya ada konsensus didukung rakyat," katanya.

Melihat keterpilihan KH Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024, Greg berharap sosoknya dapat memainkan perannya sebagai tokoh agama yang moderat.

"Saya masih berharap bahwa Pak Maruf Amin bisa berperan sebagai tokoh agama yang moderat. Kesempatan baru sebagai wapres," pungkasnya. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Ahad 7 Juli 2019 23:0 WIB
Khidmat dan Tawadlu Tanda Keimanan
Khidmat dan Tawadlu Tanda Keimanan
Katib PBNU, KH Miftah Faqih
Jakarta, NU Online
Seorang Muslim yang serius dalam keberimanan dan keberagamaannya, juga serius dalam menjaga syhadatnya. Dalam kalimat syahadat, seorang Muslim menyatakan kesaksian atau pengakuan tiada Tuhan selain Allah (Laillahaillallah)

Katib PBNU, KH Miftah Faqih menyampaikan hal itu saat halal bi halal Muslimat NU DKI Jakarta, Sabtu (6/7) di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.

"Tidak ada orang Islam yang boleh dominan, apalagi merasa lebih tinggi daripada yang lain. Karena yang paling kuat adalah Allah," kata Kiai Miftah dalam acara yang sekaligus pengajian rutin pertama setelah Idul Fitri. 

Lalu bagaimana mewujudkan Laillahailallah? Kiai Miftah menjelaskan bahwa untuk merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari adalah membangun semangat persaudaraan dan kesetaraan. Hal itu juga sebagai bentuk habluminnas atau hubungan baik dengan sesama manusia.

Sementara dalam membangun hubungan habluminallah, di mana pun berada seorang Muslim harus berkomunikasi dan beribadah kepada Allah, serta terus mentauhidkan Allah. Hanya Allah yang paling menyelesaikan masalah dan mampu menggerakkan diri kita konsisten dalam beragama dan beribadah. 
 
Dalam kepengurusan organisasi seperti Muslimat NU, lanjut Kiai Miftah, wujud habluminannas dilakukan dengan komunikasi dan khidmat pengurus kepada masyarakat luas. "Membangun komunikasi dalam bentuk khidmat, melayani, bukan menguasai. Pengurus Muslimat NU harus melakukan khidmat. Kalau ingin sukses berkhidmatlah," lanjutnya.

Khidmat atau pelayanan kepada masyarakat juga harus dilakukan dengan cara yang tepat dan memberikan kemanfaatan. Untuk itu pelayanan harus didasari dengan tawadlu atau rendah hati, dan tidak merasa paling benar.

Dengan adanya halal bi halal seperti yang diadakan Muslimat NU DKI Jakarta, juga membuktikan ketawadluan. Pasalnya, dalam halal bi halal semua jamaah saling membuka diri untuk meminta maaf dan memaafkan. Momentum halal bi halal juga menandakan usaha setiap Muslim untuk meruntuhkan ego mereka. 

Sifat tawadlu seorang Muslim yang direalisasikan dalam tindakan saling memaafkan dan memberi maaf, juga menandakan bahwa ia mempunyai moralitas atau identitas. Sebab, identitas dan integritas seseorang terlihat dari perilakunya.

Setelah mampu membangun karakter atau integritas diri, seorang Muslim wajib untuk konsisten. Demikian juga Muslimat NU dalam hubungan sosial harus konsisten dalam membangun sifat-sifat tawasuth dan memberikan komunikasi yang baik.

"Khidmat menyaratkan kesetaraan, kesepadanan, keseimbangan. Hubungan yang terbangun adalah subjek dengan subjek, bukan subjek dengan objek. Bukan instruksi tapi koordinasi dan konsolidasi," imbuhnya. 

Jika Muslimat NU mampu memberikan khidmat dan kemanfaatan bagi masyarakat, membuat masyarakat lebih baik di hadapan Allah, kata Kiai Miftah, niscaya kelak di akhirat akan disatukan oleh Allah dalam syurga-Nya. (Kendi Setiawan)


Ahad 7 Juli 2019 21:45 WIB
Doanya Orang Mualaf itu Mustajab
Doanya Orang Mualaf itu Mustajab
Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini menuntut Robertus Hari Agung membaca dua kalimat syahadat.
Jakarta, NU Online
Di tengah berlangsungnya acara halal bi halal yang digagas Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU), Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini menuntun pria asal Bekasi, Jawa Barat, Robertus Hari Agung membaca dua kalimat syahadat. Prosesi sakral itu berlangsung dengan disaksikan sejumlah aktivis GMNU di Gedung PP GP Ansor, Jakarta Pusat, Ahad (7/7).

Setelah resmi memeluk Islam, Helmy menambahkan nama belakang ‘Muhammad’, sehingga menjadi Muhammad Robertus Hari Agung. Selain itu Helmy juga memintanya untuk sering berkunjung ke kantor Ansor maupun PBNU untuk belajar tentang Islam.

“Jangan sungkan nanti kalau ingin bertanya, belajar, ada temen-teman di Ansor di sini, teman-teman GMNU, PBNU juga bisa di Masjid An-Nahdlah,” kata Helmy.

Ia menjelaskan, Islam merupakan agama yang mudah, sehingga tidak perlu dipersulit. Orang yang baru masuk Islam juga disebutnya dalam keadaan suci dan bersih, sehingga pada saat itu, doanya mustajab.

“Kita doakan mudah-mudahan beliau menjadi muslim yang kaffah, yang istiqamah, dijaga Allah subhanahu wata’ala lahir dan batin. Ke depan mudah-mudahan bisa menjadi keluarga besar Ansor,” ucapnya.

Di lain kesempatan, Helmy menyatakan bahwa fenomena antusiasnya non-muslim masuk Islam melalui NU merupakan wujud keberhasilan dakwah yang dijalankan NU, yakni dakwah yang mengedepankan keramahan.

"Ini corak dakwah Islam menjadi kerinduan bukan hanya di Nusantara, tapi juga di dunia," katanya.

Selain itu, dakwah yang ramah juga untuk menangkis gerakan transnasional yang berpotensi memecah belah umat Islam di Indonesia karena mengancam berbagai amalan muslim Indonesia yang telah berlangsung sejak lama.

"Kita harus menghadapi tantangan gerakan transnasional dan radikalisme agama dengan selalu berdakwah dengan ramah," ucapnya. 

Menurutnya, cara dakwah yang ramah dan toleran, yang telah berlangsung lama itu, menyebabkan banyak penduduk di Indonesia menganut agama Islam. Bahkan, jumlah muslim di Indonesia yang banyak ini membuatnya menjadi negara dengan penganut Islam terbesar di dunia. 

"Itulah sebabnya Islam di Indonesia menjadi agama dengan penduduk mayoritas, bahkan satu-satunya negara yang mayoritas berpenduduk Islam," ucapnya. (Husni Sahal/Zunus)

Ahad 7 Juli 2019 21:15 WIB
Sekjen PBNU: Pengembangan Pendidikan di NU sebagai Amanat Muktamar di Jombang
Sekjen PBNU: Pengembangan Pendidikan di NU sebagai Amanat Muktamar di Jombang
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini menyatakan bahwa selain tetap menjaga pendidikan pesantren sebagai ciri Nahdlatul Ulama (NU), NU juga telah mengembangkan sekolah-sekolah formal dari Madrasah Ibtidaiyyah hingga ke perguruan tinggi. Pengembangan pendidikan, kata Helmy, termasuk bidang garapan pengurus NU sebagaimana amanat Muktamar NU di Jombong pada 2015.

Demikian dikatakan Helmy pada acara halal bi halal yang diselenggarakan Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GNMU) di Gedung PP GP Ansor, Jakarta Pusat, Ahad (7/7).

Sebagaimana diketahui, satuan pendidikan yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif PBNU, yakni Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyyah sampai Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah, berjumlah 48 ribu. Sedangkan perguruan tinggi yang tercatat berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) setidaknya terdapat 200 buah. Adapun perguruan tinggi yang khusus bernama NU sekitar 31. Menurutnya, dengan jumlah tersebut, setidaknya NU mampu bersaing dalam hal pendidikan. 

“NU itu maju dengan madrasah dan sekolahnya. Kita memiliki beberapa kampus dengan nama-nama Islam seperti Darul Ulum dan seterusnya, tetapi sekarang kita memiliki lebih dari 30 dengan nama Nahdlatul Ulama. Universitas Nahdlatul Ulama sekarang menjadi mata air ilmu bagi masyarakat di nusantara. Ini Alhamdulillah sesuatu yang harus kita syukuri (perkembangan pendidikan yang dibangun NU),” ucapnya.

Pesantren sendiri yang tergabung di dalam Asosiasi Pesantren NU atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI NU) setidaknya berjumlah 23 ribu. Menurutnya, pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang membentuk nilai-nilai kepribadian dan watak bangsa Indonesia sehingga menjadi bangsa yang harmonis dan luhur.

Peran pesantren ini disebutnya diakui oleh tokoh nasionalis, yakni pendiri pergerakan Budi Utomo dr Soetomo. Menurutnya, mengutip Soetomo, keberadaan pesantren telah hadir dan menjadi mata air ilmu bagi masyarakat di nusantara jauh sebelum Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah.

“Ini sebuah pengakuan dari seorang nasionalis yang telah melihat peran dari pondok pesantren yang sangat besar,” jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG