IMG-LOGO
Nasional

Pesan Sutopo Purwo kepada Santri Nahdliyin Sebelum Meninggal

Ahad 7 Juli 2019 16:45 WIB
Bagikan:
Pesan Sutopo Purwo kepada Santri Nahdliyin Sebelum Meninggal
Sutopo Purwo Nugroho
Jakarta, NU Online
Jauh hari sebelum mengembuskan nafas terakhir, Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menaruh harapan besar kepada para santri dan Nahdlatul Ulama. Harapan itu ia ungkapkan melalui akun twitternya @Sutopo_PN.

"Santri berperan penting dalam penanggulangan bencana. Ciptakan santri yang tangguh dan peduli bencana," kata Sutopo, yang saat itu turut meramaikan Hari Santri 2016 di media sosial twitter.

"Selamat memperingati Hari Santri Nasional. Semoga tercipta santri dan ponpes yang tangguh menghadapi bencana," lanjut Sutopo melengkapi twitt sebelumnya sembari menyebut Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.

Di tahun berikutnya, tepatnya 26 April 2017, pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 ini juga mengungkapkan apresiasinya kepada Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama, yang turut serta menyukseskan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN).

"LPBI NU siap menyukseskan HKBN  26/4/2017. Nahdliyyin NU harus menjadi pelopor masyarakat yang tangguh."

Ketua LPBI Pengurus Besar Nahdlatul Ulama M Ali Yusuf menyatakan rasa dukanya yang mendalam atas wafatnya sosok yang berjasa dalam mengabarkan segala hal terkait kebencanaan.

"Kita semua berduka cita dan merasa kehilangan atas meninggalnya Pak Topo. Beliaulah orang yang memberi kabar segala sesuatu terkait kebencanaan, tidak hanya setiap ada kejadian bencana, detail mulai dari kronologi hingga dampaknya, dilengkapi pula upaya penanganannya termasuk jenis bantuan yang dibutuhkan," kata Ali, Ahad (7/7) pagi.

Lebih dari itu, lanjut Ali, almarhum Sutopo mengabarkan peringatan kepada masyarakat beberapa waktu sebelum kejadian bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan mereka.

Menurut Ali Yusuf, apa yang dilakukan Sutopo selama ini adalah amal shaleh yang orang lain belum tentu dapat melakukannya. "Apa yang dilakukan oleh Pak Topo selama ini sangatlah mulia, karena selain memberikan informasi dan bahkan pengetahuan," ujarnya.

Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia dini hari ini sekitar pukul 02.00 di Guangzhou, China. Kabar meninggalnya Sutopo disampaikan Direktorat Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB melalui Twitter resminya, Ahad (7/7). 

"Telah meninggal dunia Bapak @Sutopo_PN , Minggu, 07 July 2019, sekitar pukul 02.00 waktu Guangzhou/pukul 01.00 WIB. Mohon doanya untuk beliau," tulis Direktorat PRB.

Sutopo meninggal dalam perjuangannya melawan kanker paru-paru. Ia didiagnosis di sekitar awal Desember 2017 dan di tengah perjuangannya masih sempat bertugas mengawal kejadian bencana di Indonesia.

Pria yang dianugrahi Asian Of The Year 2018 itu sebelumnya bertolak ke Guangzhou untuk pengobatan. Sutopo mengatakan bahwa kankernya sudah menyebar. Untuk itu ia meminta doa dan restu dari para netizen menjalani satu bulan pengobatan di Guangzhou.

"Hari ini saya ke Guangzho untuk berobat dari kanker paru yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lain. Kondisinya sangat menyakitkan sekali," kata Sutopo mengunggah video pada Sabtu (15/6) yang menunjukkan dirinya sedang berada di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. (Zunus Muhammad)

Bagikan:
Ahad 7 Juli 2019 23:0 WIB
Khidmat dan Tawadlu Tanda Keimanan
Khidmat dan Tawadlu Tanda Keimanan
Katib PBNU, KH Miftah Faqih
Jakarta, NU Online
Seorang Muslim yang serius dalam keberimanan dan keberagamaannya, juga serius dalam menjaga syhadatnya. Dalam kalimat syahadat, seorang Muslim menyatakan kesaksian atau pengakuan tiada Tuhan selain Allah (Laillahaillallah)

Katib PBNU, KH Miftah Faqih menyampaikan hal itu saat halal bi halal Muslimat NU DKI Jakarta, Sabtu (6/7) di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.

"Tidak ada orang Islam yang boleh dominan, apalagi merasa lebih tinggi daripada yang lain. Karena yang paling kuat adalah Allah," kata Kiai Miftah dalam acara yang sekaligus pengajian rutin pertama setelah Idul Fitri. 

Lalu bagaimana mewujudkan Laillahailallah? Kiai Miftah menjelaskan bahwa untuk merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari adalah membangun semangat persaudaraan dan kesetaraan. Hal itu juga sebagai bentuk habluminnas atau hubungan baik dengan sesama manusia.

Sementara dalam membangun hubungan habluminallah, di mana pun berada seorang Muslim harus berkomunikasi dan beribadah kepada Allah, serta terus mentauhidkan Allah. Hanya Allah yang paling menyelesaikan masalah dan mampu menggerakkan diri kita konsisten dalam beragama dan beribadah. 
 
Dalam kepengurusan organisasi seperti Muslimat NU, lanjut Kiai Miftah, wujud habluminannas dilakukan dengan komunikasi dan khidmat pengurus kepada masyarakat luas. "Membangun komunikasi dalam bentuk khidmat, melayani, bukan menguasai. Pengurus Muslimat NU harus melakukan khidmat. Kalau ingin sukses berkhidmatlah," lanjutnya.

Khidmat atau pelayanan kepada masyarakat juga harus dilakukan dengan cara yang tepat dan memberikan kemanfaatan. Untuk itu pelayanan harus didasari dengan tawadlu atau rendah hati, dan tidak merasa paling benar.

Dengan adanya halal bi halal seperti yang diadakan Muslimat NU DKI Jakarta, juga membuktikan ketawadluan. Pasalnya, dalam halal bi halal semua jamaah saling membuka diri untuk meminta maaf dan memaafkan. Momentum halal bi halal juga menandakan usaha setiap Muslim untuk meruntuhkan ego mereka. 

Sifat tawadlu seorang Muslim yang direalisasikan dalam tindakan saling memaafkan dan memberi maaf, juga menandakan bahwa ia mempunyai moralitas atau identitas. Sebab, identitas dan integritas seseorang terlihat dari perilakunya.

Setelah mampu membangun karakter atau integritas diri, seorang Muslim wajib untuk konsisten. Demikian juga Muslimat NU dalam hubungan sosial harus konsisten dalam membangun sifat-sifat tawasuth dan memberikan komunikasi yang baik.

"Khidmat menyaratkan kesetaraan, kesepadanan, keseimbangan. Hubungan yang terbangun adalah subjek dengan subjek, bukan subjek dengan objek. Bukan instruksi tapi koordinasi dan konsolidasi," imbuhnya. 

Jika Muslimat NU mampu memberikan khidmat dan kemanfaatan bagi masyarakat, membuat masyarakat lebih baik di hadapan Allah, kata Kiai Miftah, niscaya kelak di akhirat akan disatukan oleh Allah dalam syurga-Nya. (Kendi Setiawan)


Ahad 7 Juli 2019 21:45 WIB
Doanya Orang Mualaf itu Mustajab
Doanya Orang Mualaf itu Mustajab
Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini menuntut Robertus Hari Agung membaca dua kalimat syahadat.
Jakarta, NU Online
Di tengah berlangsungnya acara halal bi halal yang digagas Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU), Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini menuntun pria asal Bekasi, Jawa Barat, Robertus Hari Agung membaca dua kalimat syahadat. Prosesi sakral itu berlangsung dengan disaksikan sejumlah aktivis GMNU di Gedung PP GP Ansor, Jakarta Pusat, Ahad (7/7).

Setelah resmi memeluk Islam, Helmy menambahkan nama belakang ‘Muhammad’, sehingga menjadi Muhammad Robertus Hari Agung. Selain itu Helmy juga memintanya untuk sering berkunjung ke kantor Ansor maupun PBNU untuk belajar tentang Islam.

“Jangan sungkan nanti kalau ingin bertanya, belajar, ada temen-teman di Ansor di sini, teman-teman GMNU, PBNU juga bisa di Masjid An-Nahdlah,” kata Helmy.

Ia menjelaskan, Islam merupakan agama yang mudah, sehingga tidak perlu dipersulit. Orang yang baru masuk Islam juga disebutnya dalam keadaan suci dan bersih, sehingga pada saat itu, doanya mustajab.

“Kita doakan mudah-mudahan beliau menjadi muslim yang kaffah, yang istiqamah, dijaga Allah subhanahu wata’ala lahir dan batin. Ke depan mudah-mudahan bisa menjadi keluarga besar Ansor,” ucapnya.

Di lain kesempatan, Helmy menyatakan bahwa fenomena antusiasnya non-muslim masuk Islam melalui NU merupakan wujud keberhasilan dakwah yang dijalankan NU, yakni dakwah yang mengedepankan keramahan.

"Ini corak dakwah Islam menjadi kerinduan bukan hanya di Nusantara, tapi juga di dunia," katanya.

Selain itu, dakwah yang ramah juga untuk menangkis gerakan transnasional yang berpotensi memecah belah umat Islam di Indonesia karena mengancam berbagai amalan muslim Indonesia yang telah berlangsung sejak lama.

"Kita harus menghadapi tantangan gerakan transnasional dan radikalisme agama dengan selalu berdakwah dengan ramah," ucapnya. 

Menurutnya, cara dakwah yang ramah dan toleran, yang telah berlangsung lama itu, menyebabkan banyak penduduk di Indonesia menganut agama Islam. Bahkan, jumlah muslim di Indonesia yang banyak ini membuatnya menjadi negara dengan penganut Islam terbesar di dunia. 

"Itulah sebabnya Islam di Indonesia menjadi agama dengan penduduk mayoritas, bahkan satu-satunya negara yang mayoritas berpenduduk Islam," ucapnya. (Husni Sahal/Zunus)

Ahad 7 Juli 2019 21:15 WIB
Sekjen PBNU: Pengembangan Pendidikan di NU sebagai Amanat Muktamar di Jombang
Sekjen PBNU: Pengembangan Pendidikan di NU sebagai Amanat Muktamar di Jombang
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini menyatakan bahwa selain tetap menjaga pendidikan pesantren sebagai ciri Nahdlatul Ulama (NU), NU juga telah mengembangkan sekolah-sekolah formal dari Madrasah Ibtidaiyyah hingga ke perguruan tinggi. Pengembangan pendidikan, kata Helmy, termasuk bidang garapan pengurus NU sebagaimana amanat Muktamar NU di Jombong pada 2015.

Demikian dikatakan Helmy pada acara halal bi halal yang diselenggarakan Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GNMU) di Gedung PP GP Ansor, Jakarta Pusat, Ahad (7/7).

Sebagaimana diketahui, satuan pendidikan yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif PBNU, yakni Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyyah sampai Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah, berjumlah 48 ribu. Sedangkan perguruan tinggi yang tercatat berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) setidaknya terdapat 200 buah. Adapun perguruan tinggi yang khusus bernama NU sekitar 31. Menurutnya, dengan jumlah tersebut, setidaknya NU mampu bersaing dalam hal pendidikan. 

“NU itu maju dengan madrasah dan sekolahnya. Kita memiliki beberapa kampus dengan nama-nama Islam seperti Darul Ulum dan seterusnya, tetapi sekarang kita memiliki lebih dari 30 dengan nama Nahdlatul Ulama. Universitas Nahdlatul Ulama sekarang menjadi mata air ilmu bagi masyarakat di nusantara. Ini Alhamdulillah sesuatu yang harus kita syukuri (perkembangan pendidikan yang dibangun NU),” ucapnya.

Pesantren sendiri yang tergabung di dalam Asosiasi Pesantren NU atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI NU) setidaknya berjumlah 23 ribu. Menurutnya, pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang membentuk nilai-nilai kepribadian dan watak bangsa Indonesia sehingga menjadi bangsa yang harmonis dan luhur.

Peran pesantren ini disebutnya diakui oleh tokoh nasionalis, yakni pendiri pergerakan Budi Utomo dr Soetomo. Menurutnya, mengutip Soetomo, keberadaan pesantren telah hadir dan menjadi mata air ilmu bagi masyarakat di nusantara jauh sebelum Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah.

“Ini sebuah pengakuan dari seorang nasionalis yang telah melihat peran dari pondok pesantren yang sangat besar,” jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG