IMG-LOGO
Nasional

Ansor Telah Ingatkan Ancaman bagi Kesatuan Bangsa

Senin 8 Juli 2019 8:30 WIB
Bagikan:
Ansor Telah Ingatkan Ancaman bagi Kesatuan Bangsa
Jakarta, NU Online
Radikalisme di Indonesia sudah menjalar pada semua sektor masyarakat mulai dari pendidikan, pemerintahan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta dan lain-lain. Sehingga negara sudah seharusnya mendukung keberadaan organisasi kemasyarakatan seperti NU untuk mengatasi radikalisme. 

Pendapat ini disampaikan Ade Armando selaku dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Indonesia pada talkshow Tantangan Radikalisme pasca Pemilu, di Aula Kemenag Jakbar, Ahad (7/7).

"NU dan Gerakan Pemuda Ansor sudah berada di garis terdepan menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman radikalisme. Sudah seharusnya negara mendukung kiprah NU tersebut dengan fasilitas dan instrumen yang dimiliki," urainya. 

Ade Armando juga mengajak kalangan nasionalis dan non Muslim juga membantu NU dan GP Ansor dalam mengatasi radikalisme. "Jangan biarkan NU sendirian hadang radikalisme," tandasnya. 

Sementara itu Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Taufik Damas menjelaskan akar radikalisme yaitu minimnya pengetahuan sebagian umat Islam terhadap agamanya.

"Ada kelompok radikal yang mempunyai jargon kembali ke Al-Qur'an dan hadits tapi bahasa Arab, nahwu, sharaf, fiqh dan ushul fiqh saja tidak paham, sehingga mereka menafsirkan Al-Qur'an seenaknya saja untuk merebut kekuasaan," paparnya.

KH Taufik menjelaskan bahwa warga NU bisa beragama dengan lebih rileks karena mempelajari ilmu tasawuf yang lebih menekankan pada upaya koreksi diri bukan menyalahkan atau mengafirkan orang lain.

Dalam sambutannya, Ketua PC GP Ansor Jakarta Barat Alfanny menegaskan komitmen untuk memberantas radikalisme.

"Tanpa dibantu negara dan siapapun, NU sudah sejak lahirnya bergerak membasmi radikalisme Wahabi yang hampir saja menggusur makam Nabi Muhammad SAW di Saudi," katanya. 

Alfanny juga menyatakan bahwa korban radikalisme bukan hanya umat minoritas  tapi juga umat Islam. Hal tersebut terbukti dengan sejumlah masjid yang dibom di Timur Tengah dan Indonesia pada saat shalat Jumat.
Oleh karena itu GP Ansor berharap negara dan kalangan nasionalis bersinergi mendukung kiprah NU mengatasi radikalisme.

"Jangan salahkan NU dan GP Ansor bila suatu saat NKRI menjadi negara khilafah. Kami sudah ingatkan jauh-jauh hari," tutup Alfanny. 

Pada acara talkshow yang sekaligus halal bi halal dan Rapat kerja Cabang GP Ansor Jakarta Barat tersebut juga dihadiri Sekretaris Pimpinan Wilayah GP Ansor DKI Jakarta Dendy  Finsa. Termasuk Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang dan Ranting GP Ansor se-Jakbar.

Terlihat pula puluhan Barisan Ansor Serbaguna (Banser), serta tamu undangan dari pemuda Katolik, Pemuda Gereja GKPB Slipi dan lain-lain. (Nahraji/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Senin 8 Juli 2019 20:0 WIB
Pelajar dan Pemuda dalam Penanggulangan Radikalisme dan Ekstremisme di Indonesia
Pelajar dan Pemuda dalam Penanggulangan Radikalisme dan Ekstremisme di Indonesia
Greg Barton (foto: Syakir NF/NU Online)
Sudah lebih dari 20 persen pelajar dan mahasiswa Indonesia terjangkiti virus radikalisme. Hal itu masuk melalui berbagai sisi, seperti organisasi, materi ajar, hingga guru.

Tak hanya itu, mereka yang tergolong sebagai penduduk asli dunia digital (digital native) juga terpapar virus tersebut dari internet, khususnya media sosial.

Fakta-fakta demikian tentu perlu disadari oleh organisasi kepelajaran dan kepemudaan yang moderat seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang bergerak di dunia pelajar.

Sebagai sebuah organisasi masyarakat sipil, IPNU mendapat kesempatan untuk urun rembuk dalam penyusunan rancangan kerja ASEAN dalam melawan dan mencegah radikalisme, terorisme, dan kekerasan ekstrem di Kuala Lumpur, Malaysia pada Selasa dan Rabu, 2-3 Juli 2019.

Selain berbagi saran, saya yang hadir dalam pertemuan tersebut juga berkesempatan berbincang dengan Greg Barton, sosok ahli politik Islam global dari Universitas Deakin, Australia.

Greg mengungkapkan bahwa organisasi pelajar moderat harus menyadari bahwa kelompok radikal nan ekstrem itu hanyalah minoritas kecil, tetapi memiliki pengaruh yang sedemikian besar. Hal itu tidak mereka raih dengan instan. Kerajinan, disiplin, dan fokus mereka dalam bergerak atas dasar keyakinannya.

"Mereka all out mendukung pejuangnya," katanya saat bincang usai makan siang bersama pada Rabu (3/7).

Jadi, kata Greg, mereka sangat bekerja keras. Oleh karena itu, ia menegaskan agar organisasi pelajar yang moderat dapat lebih proaktif bergiat di bidang yang berpengaruh seperti remaja masjid dan kerohanian. "Kalau lebih banyak dari kaum ekstrem yang lebih aktif pasti rakyat dan umat pada umumnya akan rugi ya," kata penulis buku Biografi Gus Dur itu.

Sementara itu, Andhika Chrisnayudhanto, Direktur Kerjasama Regional dan Multilateral Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengungkapkan pentingnya peran pelajar dalam mencegah dan melawan narasi radikalisme, terorisme, dan kekerasan ekstrem.

Pelajar, katanya, harus mengambil peran aktif. Artinya, tidak sekadar slogan pencegahan. Aktif juga berarti turut ambil bagian dalam proses pengambilan kebijakan.

"Justru keterlibatan pemuda dalam decision making, bagaimana kita memberikan dan kewenangan pemuda terlibat aktif, mengajak partisipasi atau keikutsertaan pemuda dalam menanggulangi masalah ekstremisme berbasis kekerasan," ujar pejabat Senior Officials Meeting on Transnational Crime (SOMTC) itu. (Syakir NF)
Senin 8 Juli 2019 19:30 WIB
Kiai Said Ungkap Misteri Hidayah Islam kepada Seseorang
Kiai Said Ungkap Misteri Hidayah Islam kepada Seseorang
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengungkapkan hidayah Islam datang kepada seseorang merupakan hal yang misterius karena hal itu merupakan ketentuan Allah yang Maha Memberi Petunjuk (Al-Hadi) dan Maha Menyesatkan Hidayah (Al-Mudhil). 

“Hidayah dalam arti petunjuk, direct, langsung dari Allah. Itu haknya Allah, monopolinya, prerogratifnya Allah. Oleh karena itu, para rasul itu sendiri, para nabi dan kita sendiri yang wajib adalah berjuang memperjuangkan agar masyarakat itu mendapatkan hidayah. Dapat apa tidak, itu urusannya Allah,” jelasnya di Gedung PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Menurut dia, sekaliber Rasulullah tidak mampu mengislamkan beberapa pamannya seperti Abu Jahal, Abu Lahab, termasuk paman yang dicintai dan memberlanya, Abu Thalib. 

“Ketika Abu Thalib akan meninggal dunia, tak mau membacakan syahadat, beliau (Nabi Muhammad, red.) menangis, kecewa betul, padahal sangat membentengi Nabi Muhammad dari kejahatan orang-orang Quraisy,  tetapi tetap tidak mau masuk Islam, kecewa,” katanya. 

Karena kekecewaaan tersebut, Allah menurunkan ayat Al-Qur’an yang artinya, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

“Oleh karena itu, nikmat Allah yang paling besar, anugerah Allah yang paling besar adalah hidayah. Allah mengatakan Al-Hadi wal Mudhil, beliau yang memberi petunjuk dan memberi menyesatkan. Kenapa? Karena semua yang ada di duni berasal dari Allah. Yang gampang saja yang gampang. Apa hanya yang cantik saja dari Allah, yang jelek bukan dari Allah? Apa Allah hanya menciptakan  burung perkutut yang indah itu atau burung merak yang indah itu, sementara cacing bukan ciptaan Allah? Sudah, sama. Yang menciptakan nabi adalah Allah, yang menciptakan Abu Jahal dan Abu Lahab juga Allah,” jelasnya.  

Untuk memahami itu semua, para ulama mengungkapkan tentang adanya iradah kauniyah, ada iradah syar’iyah. 

“Allah memberikan petunjuk dengan memberikan akal kemampuan, ada wahyu, ada Al-Qur’an, sudah memberikan petunjuk yang benar, ente atau dia enggak mau, enggak mau mengikuti jalan itu, padahal Allah sudah memberikan petunjuk, kirim nabi, ngasih otak, cerdas, logika, sudah dikasih perasaan dikasih jalan yang lurus, jalan yang benar. Itu iradah syar’iyah,” katanya lagi.  

Sementara iradah kauniyah adalah iradah yang tertulis bahwa Abu Jahal tidak akan beriman, itu sudah tertulis dan itu kehendak Allah juga. (Abdullah Alawi)

Senin 8 Juli 2019 18:0 WIB
Hadapi Revolusi Industri 4.0, Peranan Instruktur BLK Terus Diperkuat
Hadapi Revolusi Industri 4.0, Peranan Instruktur BLK Terus Diperkuat
Staf Ahli Menaker bidang Ekonomi dan SDM Aris Wahyudi.
Samarinda, NU Online
Menghadapi era revolusi industri 4.0, Kementerian Ketenagakerjaan terus memperkuat peranan para instruktur di Balai-balai Latihan Kerja ( BLK) agar selalu berinovasi dan kreatif dalam upaya menyiapkan tenaga kerja berkualitas dan berkompeten.

"Peranan instruktur di BLK harus diperkuat karena memiliki korelasi dengan pembangunan SDM dan sebagai pintu masuk dalam mewujudkan Indonesia kompeten," ujar Staf Ahli Menaker bidang Ekonomi dan SDM Aris Wahyudi dalam acara pembukaan Kompetisi Keterampilan Instruktur Nasion (KKIN) VII Regional Kalimantan Timur, di Samarinda, Kaltim, Senin (8/7)

Dalam rilis yang diterima NU Online, Aris Wahyudi mengatakan salah satu metode efektif dalam pembinaan percepatan peningkatan kompetensi instruktur di Indonesia yakni melakukan kompetisi antar instruktur yang terstruktur dan  sistematis. 

"Kompetisi antar instruktur merupakan ajang untuk mengukur, meningkatkan dan pemerataan peningkatan kompetensi yang terintegrasi," ujar Aris.

Aris Wahyudi menambahkan instruktur juga merupakan aktor utama di dalam pelatihan kerja yang berfungsi sebagai fasilitator dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, perubahan sikap, dan perilaku (etos kerja) dari tenaga kerja. "Peran instruktur sangatlah strategis sebagai ujung tombak dalam menghasilkan SDM yang kompeten," kata Aris.

Aris Wahyudi mengungkapkan, secara nasional jumlah Balai Latihan Kerja (BLK) Pemerintah baik UPTP maupun UPTD saat ini berjumlah 305 BLK dan sebanyak 37 BLK atau 12,13 persen, berada di Pulau Kalimantan. Sedangkan LPK Swasta sebanyak 5.045 LPK, dan 345 LPK atau 6,84 persen berada di Pulau Kalimantan. 

Secara nasional jumlah Instruktur Pemerintah saat ini berjumlah 3.013 orang, dan 282 orang atau 9,36 persen berada di Pulau Kalimantan. Sedangkan Instruktur Swasta sebanyak 16.379 orang, dan 1.224 orang atau 7,47 persen berada di Pulau Kalimantan. 

Dengan jumlah sumber daya yang ada tersebut, maka perlu dijaga kualitasnya melalui kompetisi ketrampilan instruktur. "Kompetisi instruktur ini menjadi salah satu media dalam   menjaga kualitas instruktur yang ada dan dapat menjadi indikator kemampuan instruktur pada tingkat regional maupun pada tingkat nasional," kata Aris. 

Kadisnaker Kaltim Abu Helmi mengatakan KKIN regional Kaltim mempertegas bahwa peran instruktur sangatlah strategis dalam rangka menciptakan calon tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing.

"Melalui ajang kompetisi ini, diharapkan menghasilkan para instruktur yang kompeten dan profesional sehingga akan terwujud calon tenaga kerja kompeten dan memiliki daya saing untuk memasuki pasar kerja, sehingga akan menurunkan tingkat pengangguran di Kaltim," kata Abu Helmi.

Kepala BLK Samarinda Andri Susila menyatakan KKIN VII Kaltim diikuti oleh 90 orang instruktur yakni Kalsel sebanyak 32 orang instruktur; Kaltim (27); Kalteng (21); dan Kaltara (10).

Andri menambahkan, ada sembilan bidang yang dikompetisikan dan masing-masing diikuti 10 orang. Kesembilan bidang itu yakni pengelasan (welding); otomotif kendaraan ringan (automotive technology); instalasi listrik (electrical installation); tata busana (fashion technology); pendingin dan tata udara (refrigeration and AC); elektronika, disain grafis (graphic design technology); perencanaan rekayasa mekanik CAD (mechanical engineering design CAD); dan solusi perangkat lunak teknologi informasi untuk bisnis (IT software solution for business).

KKIN VII Regional Kaltim bertema Melalui Kompetisi Kita Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme Instruktur dihadiri Ketua Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (LALPK) sekaligus Ketua Tim Penyelia KKIN VII 2019 Suhadi; Kepala Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Sukasnaini; dan 90 orang peserta KKIN yang berasal dari Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG