IMG-LOGO
Trending Now:
Esai

Muasal Al-Athlal

Selasa 9 Juli 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Muasal Al-Athlal
Oleh Usman Arrumy 

Ibrahim Naji, seorang pemuda dari Hay Shubro, pamit kepada kekasihnya—kebetulan tetangga sendiri, berusia sekitar 16 tahun, untuk pergi sekolah kedokteran. Selama enam tahun tanpa kabar, dan begitu Naji lulus dan pulang ke kampung halaman, ia baru tahu kalau kekasihnya itu sudah lama menikah dengan lelaki asing.

Pada mulanya ia adalah seorang dokter. Ia lulus sekolah kedokteran pada usia 26 tahun. Setelah itu diangkat sebagai dokter di Kementerian Komunikasi, dan kemudian di Kementrian Kesehatan.
Masa remajanya, ia banyak membaca puisi para penyair kuno, sebut saja di antaranya; puisi-puisinya al-Mutanabbi dan Abu Nawas, menjadi corak dari bagaimana Naji menulis puisi.

Karirnya sebagai penyair dimulai sekitar tahun 1926, ketika Naji menerjemahkan puisi-puisinya Alfred de Musset, novelis dan penyair asal Perancis, dan kemudian diterbitkan di Koran mingguan. Lalu untuk pertama kalinya ia menerbitkan puisi-puisinya pada tahun 1934, ketika ia berusia 36—berjudul al-Waro’ al-Ghomam; Di balik Awan. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1944, Naji menerbitkan puisi-puisinya Layaly al-Qohiroh; Malam Kairo. Itulah kumpulan puisi yang disebut fenomenal oleh banyak kalangan.

Dan, tragedi dimulai dari sini.

Di sebuah malam, pada musim dingin. Naji mendengar suara langkah kaki berderap dan suara pintu diketuk berulang-ulang, ia bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu. Seorang lelaki berusia 40 tahun berdiri di hadapannya, dengan tergopoh lelaki itu minta tolong agar membantu istrinya yang sedang dalam kondisi sulit melahirkan. Malam sudah larut.

Ibrahim Naji bergegas membawa peralatan medis secukupnya.

Di rumah lelaki itu, lampu menyala remang. Suhu udara sedang dingin-dinginnya. Naji mengikuti masuk dengan langkah gugup. Di dalam kamar, dengan pencahayaan yang remang-remang itu, terbaring perempuan hamil mengerang kesakitan. Dari erangan tersebut Naji sudah seperti mengenal dengan baik suaranya. Langkah kaki Naji semakin mendekat ke sisi ranjang, dan Naji terkejut. Sangat terkejut. Di hadapan Naji ternyata adalah seorang perempuan yang bertahun lampau pernah menjadi kekasihnya. 

Dan kini, Naji melihatnya sebagai orang lain yang sudah menjadi istri orang lain--menjadi calon ibu bagi bayi orang lain. Sebagai seorang dokter, Naji tentu profesional; ia bekerja dalam kapasitasnya sebagai dokter, bukan sebagai lelaki yang dilupakan kekasihnya dulu. Ia singkirkan perasaan antara sedih dan bahagia; sedih karena perempuan yang hamil itu kekasihnya, bahagia karena perempuan itu pernah ada dalam kehidupannya.

Cinta di hatinya jauh lebih besar dibanding kehancurannya menghadapi fakta bahwa perempuan yang akan ditolongnya adalah kekasih yang pernah menghuni jiwanya. Cinta itulah yang membuat Naji akhirnya berlapang dada untuk membantu mantan kekasihnya melahirkan bahkan ketika kini Naji sadar tidak menjadi bapak dari anak tersebut.

Anak telah lahir dengan selamat. Dan Naji menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ibu dari bayi tersebut dengan sebaik-baiknya, ia kerahkan segala upaya terbaiknya sebagai dokter untuk melayani dan merawat mantan kekasihnya.

Naji pulang. Dalam perjalanan pulang, ia melewati reruntuhan bangunan. Kepalanya menunduk, di hatinya terpapar sesuatu yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Ketika sampai rumah, ia duduk menghadap jendela, dipandangnya keluasan langit Kairo, terbayang olehnya satu masa saat senyumnya masih menjadi satu-satunya milik kekasihnya itu.

Ia mengambil pulpen dan kertas, dan mulailah Ibtahim Naji menulis puisi Al-Athlal. Menulis reruntuhan hatinya. Menulis puing-puing jiwanya.

Mantan kekasihnya melahirkan bayi.
Ibrahim naji melahirkan puisi.

tak berapa lama setelah al-Athlal ditulis, Ummi Kultsum merencanakan untuk menjadikannya sebagai lagu. Tapi, lekas Ummi Kultsum menyadari ketika tahu latar belakang puisi itu dibuat. Ummi Kulstum merasa tak sampai hati untuk mewujudkannya sebagai lagu. Ummi Kultsum seolah mau memberikan penghormatan kepada Naji dengan cara mengurungkan niatnya dalam menggubah Al-Athlal sebagai lagu—dengan alasan tidak hendak menambah beban kesedihan Naji.

Ummi Kultsum saat itu sudah terlampau populer, dan tiap lagu hampir bisa dipastikan akan mudah terkenal dalam durasi yang sangat cepat. Bila Ummi Kultsum jadi mewujudkan al-Athlal sebagai lagu pada saat itu juga, otomatis al-Athlal akan semakin dikenal. Dengan semakin dikenal, hatinya Ibrahim Naji akan semakin tak terperikan patahnya. Alasan itulah yang membuat Ummi Kultsum menundanya. 

13 tahun setelah Ibrahim Naji wafat, Ummi Kulstum baru merencanakan ulang untuk Al-Athlal. Tersebutlah penyair Ahmad Ramy, Komposer Riyadh Sumbaty, dan Ummi Kultsum sendiri; musyawarah.

Al-Athlal sendiri sebenarnya mempunyai susunan 125 bait, tapi demi efektivitas sebuah lagu, oleh Ahmad Ramy memangkasnya menjadi hanya 32 bait. 32 Bait itulah yang akhirnya dinyanyikan Ummi Kultsum. Bahkan tujuh bait di antaranya diambil dari puisinya Ibrahim Naji berjudul Al-Wada’—Perpisahan.

هل رأى الحب سكارى مثلنا    كم بنينا من خيال حولنا  
ومشينا في طريق مقمر      تثب الفرحة فبه قلبنا
وضحكنا ضحك طفلين معا        وعدونا فسبقنا ظلنا 

وانتبهنا بعد ما زال الرحيق       وأفقنا ليت أنا لانفبق
 يقظة طاحت بأحلام الكرى   وتولى الليل والليل صديق   
وإذا النور نذير طالع     وإذا الفجر مطال كالحريق    
وإذا الدنيا كما نعرفها     وإذ ا الأحباب كل ف طريق

Apakah cinta pernah melihat ada yang semabuk kita? 
Betapa banyak angan-angan telah dibangun di sekitar kita
Dan kita berjalan di bawah terang cahaya bulan, 
Kegembiraan melintas di hadapan kita
Kita tertawa seperti dua bocah yang bermain bersama. 
Dan kita berlomba mengejar bayangan kita masing-masing
 
Kita sadar meski euphoria masih tersisa, 
lalu mengapa kita tak terjaga saja?
Terjaga dari mimpi yang menakutkan, 
dan malam telah datang dan menjadi satu-satunya teman
Ketika cahaya itu menandai terbitnya matahari, 
ketika fajar berlesatan seperti lidah api
Ketika dunia seperti yang kita tahu, 
Ketika Para pecinta menapaki jalannya

Tujuh bait di atas merupakan petikan dari puisi al-Wada’—Ibrahim Naji, yang oleh penyair Ahmad Ramy disertakan di dalam lagu al-Athlal. Tidak hanya itu, bahkan penyair Ahmad Ramy mengubah awal lirik al-Athlal yang semula يا فؤادي رحم الله الهو menjadi seperti yang kita tahu selama ini. يا فؤادي لا تسل أين الهوى.

Betapa andil Ahmad Ramy di dalam keterlibatan al-Athlal begitu jauh dan penting. Tahun 1953, proyek al-Athlal dimulai. Pertama-tama, penetapan lirik dikerjakan oleh Ahmad Ramy. Dan posisi Riyadh Sumbati, sebagai composer, mengerjakannya sampai tahun 1962. Tahun itulah terjadi ketegangan internal antara Riyadh Sumbati dengan Ummi Kulsum. Ketegangan itu dipicu oleh selera nada yang beda. Sampai pada tahun 1966, Al-Athlal launching.

Kembali pada Ibrahim Naji, sang penyair yang menulis al-Athlal. Al-Athlal yang perkasa—musisi Riyadh Sumbati yang jenius menggubahnya menjadi sebuah lagu indah, juga suara Ummi Kulsum yang tak terbantahkan, ternyata semua itu berlatar peristiwa traumatis. Bertahun-tahun kemudian, di Indonesia, al-Athlal lebih dikenal sebagai ‘Sukaro’. 


Kini, mari kita lihat; di Indonesia kebanyakan, lagu al-Athlal dinyanyikan dengan nuansa riang gembira, tak tahu bahwa arti dari lirik yang dinyanyikannya adalah soal hati yang sudah kehilangan bentuknya, adalah soal kekasih yang dicampakkan kekasihnya. Dan kini, marilah kita lihat; ketika dunia bergantian menyanyikan al-Athlal dengan suka-cita, tak tahukah bahwa tiap baitnya bersumber dari kepedihan sang penyairnya. Ibrahim Naji.

Kairo, 30 Juni 2019


Penulis adalah seorang penyair, saat ini menjadi Mahasiswa Al-Azhar Kairo.

Tags:
Bagikan:
Rabu 3 Juli 2019 3:0 WIB
Menjadikan Buku sebagai Suluh
Menjadikan Buku sebagai Suluh
Gus Dur mengetik tulisan
Oleh Muhammad Ghufron

Suatu hari di waktu pagi yang cerah, sosok berjanggut tebal itu pernah mempunyai kebiasaan mulia. Duduk mematung di kursi sembari memangku buku ditemani secangkir kopi dan rokok sambil menghadap sinar matahari. Kebiasaan itu dilakukan sehabis bangun dari tidurnya di waktu pagi. Tak banyak yang dilakukan olehnya selain bersetia mencumbui buku-buku.Itulah Karl Marx. Sosok yang menjadikan buku sebagai jembatan menuju lorong-lorong ide dan pemikiran. Membaca buku seolah menjadi ibadah wajib bagi Marx.

Hingga terlahirlah ke dunia, aliran Marxisme yang membawa segudang misi ide-ide tentang Karl Marx. Das Kapital yang tebalnya berjilid-jilid itu merupakan kitab suci aliran ini. Pemikirannya secara gradual dikaji oleh para pemikir dan tokoh-tokoh dunia sebagai rujukan merevolusi tatanan masyarakat yang sedang mengalami kejumudan yang bertungkus-lumus dengan pengapnya ketertindasan. Itulah mengapa di masa rezim Orde Baru yang bobrok itu, buku ini dilarang terbit dan sempat sesekali dibreidel. 

Di saat getirnya rezim Orde Baru bertahta, muncullah sosok yang hadir membawa segudang ide ke tengah-tengah masyarakat republik Indonesia saat itu. Ia menawarkan wawasan visioner tentang bangsa. Sebut saja Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sosok yang dijuluki Sang Guru Bangsa tersebut merupakan representasi dari sebuah ikhtiar melepaskan bangsa dari tubir kehancuran.

Serupa dengan Karl Marx, Gus Dur merupakan pembaca buku yang ulung dan tekun.Semasih duduk di bangku MTs dirinya telah berhasil mengkhatamkan Das Kapital-nya Karl Marx yang tebalnya berjilid-jilid itu.Baginya mencumbui buku merupakan suluh mengimajinasikan bangsa dan rujukan menambah horizon pengetahuan. 

Barangkali wawasan kebangsaan yang lekat dengan pluralisme terlahir dari kebiasaan yang mulia satu ini. Sebab menjadi muskil membidani ide-ide segar tentang wawasan pluralisme jika tidak merujuk pada buku-buku.

Itulah Gus Dur dan Karl Marx. Dua sosok pembaca buku yang selalu mengakrabi aksara-aksara, menjadikan buku sebagai suluh menerangi kegelapan. Kini keduanya merupakan salah satu representasi sosok manusia abadi yang karya-karyanya tak akan lenyap begitu saja dalam rajutan narasi intelektual umat manusia.Kini keduanya telah mangkat, meninggalkan warisan berupa karya-karya yang patut kita renungi bersama.Tentunya ihwal laku literasi yang harus kita tiru. 

Ada Suluh dalam Diri Pembaca
Sekelumit dua sosok berkekasih buku seamsal Marx dan Gus Dur mengajarkan kita betapa redupnya jika dunia tanpa buku. Seisi manusia di muka bumi ini seketikaberubah menjadi janggal dan berpongah-pongahan jika masih menampikgairah literasi.

Ada yang jadi tukang jagal dengan karakter antagonisyang merindukan perkelahian sesama manusianya, ada juga yang selalu menyetubuhi kebencian hingga lahirlah anak haram yang dinamai permusuhan. Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang timbul akibat kita tidak mencumbui buku dan mengambil hikmah di dalamnya. 

Kini kegamangan dan rasa waswas untuk menepaki jalan masa depan semakin terasa.Kompleksitas kehidupan umat manusia terbelenggu oleh jalan buntu. Sebab ide-ide dan wawasan tak lagi mengalir secara jernih. Seketika menjadi beku. Inilah sepenggal gambaran nestapa yang tercipta akibat kita menarik diri dari buku- buku. Sains menjadi mati. Sastra seketika bungkam. Dan pemikiran pun ikut-ikutan macet. 

Lihatlah sejenak kondisi bebal pemuda-pemuda kita yang jauh dari buku-buku. Kita sungkan meratapi problem anak mudayang semakin mengacuhkan diri dari gairah literasi. Akan tampak ke permukaan perdebatan-perdabatan ngelantur tanpa makna yang dibuat untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang intelektual. Semuanya hanyalah bungkus yang terlalu bergagah-gagahan menang sendiri. Padahal apa yang dibicarakan nir- referensi. 

Jika kita hendak kembali sejenak megafirmasi diktum Latin yang berbunyi historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan. Maka kita akan kembali menemukan secercah inspirasi yang berpendar relevan untuk kita kontekstualisasikan hinggakini. Inspirasi itu berkelindan ihwal sejarah Indonesia merdeka yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kuatnya basis membaca founding fathers. 

Lihat saja pergumulan heroik Tan Malaka, Bung Karno, Sutan Sjahrir, dan Bung Hatta dengan buku-buku. Tan Malaka misalnya, saat hendak studi ke Belanda seorang ibu kosnya berkata wajah Tan Malaka seolah berwarna hijau saking terlalu lamanya mencumbui buku. 

Hal serupa juga terjadi pada diri Bung Hatta saat diasingkan ke Digul. Dirinya masih menyempatkan diri mengemas buku-bukunya sebanyak 16 peti. Bahkan dari saking mulianya buku dalam diri Hatta, jangankan tangan manusia, setitik debu pun harus hilang dari setiap buku. Lain halnya dengan Bung Karno yang menjadikan buku sebagai mahar meminang sang istri, ibu Rahmi.

Tak ayal jika pada masa kolonial Belanda, ide-ide mereka sanggup mengisi relung-relung publik sebagai pemantik api perjuangan. Mereka sanggup menjadikan buku sebagai suluh mengimajinasikan bangsa dan menjadikan gairah literasi sebagai laku hidup mereka. 

Bagi mereka buku menjadi bungkus sekaligus substansi yang bisa menjadi penuntun ke arah pemuliaan adab bangsa Indonesia. Berusaha mengambil hikmah dibalik buku untuk kemudian dimanifestasikan dalam laku sehari-hari. Karenanya buku merupakan sirkulasi pengetahuanyang bisa dijadikan teman setia sambil merenungi hakikat diri sebagai manusia. Dengan begitu, buku menjadi semacam pemantik untuk mengaktualisasikan proses humanisasi dalam ranah praksis. 

Membungkus diri dengan buku, berarti kita telah berupaya membangun narasi intelektual. Kita lalu menjadi manusia yang tak hanya mematutkan diri seraya menghamba pada sampah-sampah peradaban. Sebab dalam diri kita telah tersublimasi hikmah adiluhung yang terdapat dalam buku-buku. Itulah mengapa K. H. Zainal Arifin Thoha pendiri komunitas Kutub berujar, “Bacalah semua buku. Jangan takut. Tuhan bersama bersama pembaca buku”.

Tuhan kita telah memberi salah satu suluh itu dalam buku.Para pembaca bukumempunyai nyali untuk menapaki jalan terjal, berbatu, dan berduri dihadapan para pemujaanti kebenaran. Sebab dirinya telah terbekali oleh petunjuk Tuhan yang termanifestasi dalam buku. “Tuhan kita termanifestasi dalam buku,” ucap Azyumardi Azra suatu kali dalam Musyawarah Buku.

Tak perlu cemas menghadapi situasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin dinamis. Sebab kita telah mengantongi pundi-pundi pengetahuan yang bisa meluncurkan ide-ide untuk membidani lahirnya negara yang berdaulat. Bukankah secara historikideologi bangsa kita terlahir dari pergumulan ide-ide pendiri bangsa?

Akhirnya,melakukan ikhtiardengan membaca buku, kita seolah menerobos lorong-lorong pengap kejumudan. Pikiran pun seakan dibiarkan bertualang menjemput pengetahuan. Sekalipun raga di belenggu, namun pikrian akan tetap leluasa bertualang menyusuri taman-taman pengetahuan. “Kalian boleh saja memenjarakanku asalkan aku bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Demikian Bung Hatta berujar. 


Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsadan MA 1 Annuqayah Guluk- guluk, Sumenep Madura. Karya-karyanya pernah dimuat di sejumlah media seperti, Radar Madura, Kabar Madura, Mata Madura, NU Online dan Laduni.id. 
Senin 1 Juli 2019 20:0 WIB
Memilih Pesantren NU agar Toleran
Memilih Pesantren NU agar Toleran
Rezka diterima di Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.
Oleh Irham Ali Saifuddin

"Alhamdulillah Mas, anak saya Rezka diterima di pesantren."

Begitulah pesan singkat dari seorang sahabat saya yang melalui aplikasi messenger beberapa hari silam.

"Assalamualaikum, kami dari panitia Penyaringan Santri Baru (PSB) SMP Ali Maksum memberitahukan bahwa ananda Rezka dinyatakan DITERIMA sebagai Santri SMP Ali Maksum," ia susulkan terusan pesan dari panitia seleksi pesantren yang mengkonfirmasi bahwa anaknya lolos seleksi di pesantren NU yang berbasis di Krapyak Yogyakarta tersebut.

Jimmy, nama sahabat saya tersebut, mungkin mengalami perasaan 'nano-nano', campur-aduk antara senang, sedih atau bahkan bingung. Betapa tidak, dalam sejarah keluarganya ini merupakan pengalaman perdana mempercayakan pesantren untuk masa depan anak kelak.

Jimmy bukanlah berasal dari keluarga santri atau mambu santri. Ia merupakan kebanyakan masyarakat Indonesia, Muslim yang menjalankan ritual dan kewajiban agamanya, tetapi tidak begitu berhasrat untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai kaum santri. Ia mungkin lebih pas mewakili kaum abangan dalam bahasa antropolog Clifford Geertz.

Kegelisahan Muslim Awam

Mungkin akan menarik untuk mengetahui sedikit lebih dalam mengapa kawan tersebut akhirnya mempercayakan pesantren sebagai media pendidikan anaknya. Ini agak menarik dan mungkin sedikit berbeda dengan sebagian kita yang memiliki tradisi santri secara turun-menurun.

Bagi kaum santri, barangkali among the top rank alasan memesantrenkan anak adalah untuk kecipratan berkah kiai, menjaga darah hijau untuk tetap mengalir pada generasi penerus, dan alasan-alasan klasik-melankonik sekitar itu. Kualitas pendidikan, atau masa depan yang gemilang, bukanlah faktor pendorong bagi kaum santri untuk memondokkan anaknya. Bekerja di tempat yang prestisius dan bonafid? Itu sama sekali tidak pernah terpikir di benak orang tua kami zaman dahulu.

Jimmy, dan mungkin kebanyakan orang, hanyalah kalangan yang gelisah dengan pergaulan dan dunia pendidikan sekaligus. 

Kenakalan remaja, narkoba atau kecanduan games dan gadget mungkin menjadi alasan sentimentil yang pertama. Dengan gadget yang tidak bisa lepas dari anak kita dan teman-temannya, sebagian kita menjadi sedemikian khawatir terjadinya disfungsi informasi dan kegunaan gadget. Kita khawatir, gadget bukan saja akan menyita waktu belajar anak-anak melainkan juga menjadi media yang buruk bagi tumbuh kembang anak.

Alasan kedua adalah dunia pendidikan kita yang semakin minim karakter. Sekali lagi, masalah agama tidak menjadi soal yang sangat serius bagi kalangan seperti kawan saya ini. Beragama itu bagi kawan saya sewajarnya sebagai bentuk kehambaan manusia di hadapan Tuhannya. Bagi Jimmy dan kalangan abangan-menengah, karakter merupakan elemen yang penting dalam pendidikan anak. Lebih penting ketimbang deretan nilai-nilai akademik dan prestasi-prestasi seremonial lainnya.

Kawan saya ini juga unik. Meskipun secara ekonomi tergolong berkecukupan--ia bekerja sebagai konsultan pembangunan di beberapa lembaga internasional--ia adalah orang yang gelisah dengan pendidikan berbiaya tinggi. Baginya, mutu pendidikan tidaklah melulu diikuti dengan biaya yng tinggi.

"Sebenarnya saya bisa saja menyekolahkan anak saya di international school atau di pesantren modern yang biaya masuknya bisa 40-60 juta. Tapi untuk apa bila kemudian tidak berhasil membentuk karakter anak saya kelak. Apalagi pesantren modern kalau saya lihat derajat toleransinya tidak tinggi, tidak setulus pesantren-pesantren NU yang toleransinya dari hati," imbuhnya sembari menjelaskan alasan yang lebih substansial.

Intoleransi dan Hijrahnya Kaum Abangan

Apa yang disampaikan sahabat saya tersebut setidaknya menjelaskan sedikit kepada kita akan apa yang sedang terjadi di kalangan Muslim abangan, dan juga priyayi (bila kita masih hendak konsisten menggunakannya dalam diskusi kali ini).

Lihat saja bagaimana bergairahnya pengajian-pengajian di lingkungan ASN, pegawai BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta bonafid yang merupakan tempat berkumpulnya kalangan priyayi dan abangan. Atau, cermatilah fenomena artis-artis hijrah yang berhasil mengubah penampilah lahiriah mereka 180 derajat. Belum cukup? Lihatkan generasi millennial yang rata-rata tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang berduyun-duyun membanjiri Hijrah Fest di GBLA Bandung beberapa waktu lalu.

Tidak ada yang salah dengan fenomena hijrah ini. Masalahnya adalah mereka yang berhijrah ini kemudian memiliki sikap yang cenderung intoleran, baik terhadap kaum seagama sendiri lebih-lebih terhadap saudara kita non-Muslim. Hingga di sini, fenomena hijrah ini menjadi sesuatu yang patut dikoreksi.

Terlebih belakangan kita bisa melihat bagaimana kawan sepergaulan kita, yang tadinya baik-baik saja, hidupnya humanis dan dapat berkawan dengan siapa saja secara lahir bathin namun kemudian hidupnya berubah. Cara pandang mereka terhadap kehidupan dan interaksi sosial berubah setelah mengenal dunia hijrah'. Mereka mendadak menjadi intoleran, membatasi diri dalam ruang lingkup pergaulan yang lebih terbatas, minimal mereka-mereka ini menganggap non-Muslim sebagai pihak yang 'patut dicurigai' dan karennya 'harus berhati-hati' berinteraksi dengan mereka.

Pesantren NU sebagai Koreksi Fenomena Hijrah

Karena kepo, kemudian saya bertanya lagi kepada sahabat tersebut kenapa ia memasukkan anaknya ke pesantren NU. Ini agak unik bagi saya karena Jimmy bukanlah aktivis NU, atau pernah mengikuti jenjang kaderisasi di badan otonom NU. Jimmy dan keluarga besarnya juga tidak ada yang berpendidikan pesantren dalam sepanjang sejarah. Jimmy juga bukanlah lulusan IAIN, UIN, atau STAI. Demikian juga Veni, istri Jimmy, ia juga awam sama sekali tentang pesantren. Veni juga tidak terobsesi dengan tayangan dai cilik atau program tahfidz anak seperti di tivi-tivi selama Ramadhan.

Jawaban Jimmy dan Veni membuat hati saya tergetar, berbaur antara haru, bangga sekaligus agak teriris. "Kami melihat NU selalu menjunjung tinggi nilai Islam rahmatan lil alamin. Sehingga, kami berharap anak-anak kami nantinya bisa melihat bahwa perbedaan adalah hal yang alami dan sunatullah. Bagi kami, ber-Islam itu bukan hanya hablum minallah, melainkan juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi," jelasnya.

Apa yang terjadi pada Jimmy dan Veni ini juga dialami oleh sebagian kalangan Muslim awam (abangan dan priyayi) di sekeliling kita. Itulah yang menjelaskan kenapa fenomena hijrah menjadi marak. Sayangnya fenomena hijrah ini cenderung melekat pada sandaran ajaran pemaknaan Islam secara literal, simplistis, ahistoris sehingga cenderung menanamkan benih intoleransi terhadap sesama. Medan 'hijrah' ini sudah terlanjur dikuasai oleh pengajar-pengajar agama yang berpemahaman keagamaan yang kaku dan kurang bisa menerima pihak lain.

Apa yang dialami Jimmy sesungguhnya menjadi pelajaran bagi kita semua. Pelajaran yang teramat menarik. Bahwa maraknya intoleransi belakangan ini yang salah satunya disebabkan oleh fenomena hijrah, sesungguhnya bisa dikoreksi oleh pesantren NU. Pesantren harus turun gunung kembali untuk menjadi garda terdepan dakwah di masyarakat yang lebih luas. 

Yang sedang dialami oleh kaum Muslimin awam (priyayi dan abangan) hanyalah fenomena dahaga spiritualitas semata. Sayangnya, selama ini pesantren atau khususnya pesantren di lingkungan NU tidak melakukan penetrasi yang ekspansif di kalangan-kalangan Muslim awam ini. Pesantren NU hanya populer di kalangan yang sudah memiliki tradisi santri.

Apa yang dialami Jimmy dan Veni tentu sangat spesial. Walau tidak memiliki tradisi santri sebelumnya, pasangan ini berhasil melewati sebuah transformasi kegelisahan dengan cara yang benar: kegelisahan mereka akan masa depan anak tidak lantas membuat keduanya gegabah memilih dunia pendidikan! Mereka mempertimbangkan aspek kecerdasan akademis, kecerdasan sosial, dan fahim agama dengan satu bingkai yang tegas: rahmatan lil alamin yang karenanya harus toleran lahir-batin. Bukan toleran yang tampak permukaan tetapi dalam hatinya masih tertanam sekam kebencian terhadap makhluk Tuhan yang berbeda dengannya.

Selamat ya Jimmy dan Veni. Insyallah Rezka kelak menjadi anak bangsa yang tangguh dengan keislaman dan keindonesiaannya!

Penulis pernah belajar di sejumlah pesantren.
Ahad 23 Juni 2019 17:0 WIB
Sisa Kenangan Ramadhan: Melacak Buku Paling Lecek
Sisa Kenangan Ramadhan: Melacak Buku Paling Lecek
Oleh Didin Sirojuddin AR

Selama 30 hari Ramadhan, saya gunakan juga untuk membaca-baca buku akhlak-tasawuf. Ini tema favorit. Makanya, saya senang membacanya. Tapi, lagi-lagi pilihan jatuh ke terjemahan Kitab Tanbihul Ghafilin (Peringatan Orang-orang Lalai) karangan Abul Laits As-Samarqandi yang tebalnya 661 halaman. Buku ini sudah kelewat lecek. Betul-betul lecek. Laiknya jadi bahan penelitian para ahli filologi.

Maklum, sejak dibeli Rp 7000 pada 18 Maret 1992, buku ini sudah lebih 1000 kali dibaca. Padahal buku-buku populer lain dibaca paling satu dua kali. Seperti record ya. Tapi, sebetulnya, masih kalah sama  Al-Qur‘an yang dibaca saban Maghrib dan Shubuh.

Isi Kitab Tanbihul Ghafilin benar-benar menggugah dan menggoda, dan hanya tersaingi kitab-kitab seperti Durratun Nashihin (Butiran Nasihat), 'Izhatun Nasyi'in (Nasihat Kaula Muda), Nasha'ihul 'Ibad (Nasihat Para Hamba), Tanbihul Maghrurin (Peringatan Orang-orang Tertipu), Nasha'ihul Khattatin (Nasihat Para Kaligrafer), Jamharatul Auliya (Himpunan Para Wali), Al-Hikam (Hikmah Kebijaksanaan),  Syarhul Hikam (Uraian Hikmah), Al-Akhlaq Al-Islamiyah (Akhlak Islam), Al-'Ushfuriyah (Nasihat Burung), dan Iqazhul Himam (Membangunkan Cita-cita).

Sambil dibaca buku itu dicoret-coreti. Atau dibuatkan coretan summary-nya. Biasa, untuk bekal ceramah di majelis taklim atau pointers khutbah Jumat. Pernah juga coba dibuatkan 11 artikel saripatinya, Sembilan darinya dimuat di harian umum Republika.

Baca-baca buku ini di waktu senggang memang asyik, melebihi postingan di medsos yang sekali baca biasanya langsung bosan. Senikmat seperti yang dikatakan "bapak buku" Al-Jahizh:

نعمَ البديـــلُ الكتابُ

Artinya, "Pengganti paling nikmat adalah buku."

Buku jadi teman. Bahkan, teman paling setia:

خيرُجليسٍ فى الزمانِ كتابٌ

Artinya, "Sebaik-baik teman nongkrong di segala kesempatan adalah buku." 

Maka, jadilah Ramadhan waktu untuk thalabul ilmi. Ini yang kerap terlewatkan oleh sebagian besar  shaimin (orang yang berpuasa). Seolah Ramadhan hanya untuk diisi ibadah mahdhah. Padahal lebih dari itu.

Nongkrong sambil buka-buka buku, apalagi kalau ramai-ramai, mengingatkan kita ke zaman keemasan Islam dulu ketika "perpustakaan jadi keajaiban dunia" yang melahirkan seabrek intelektual yang belum ada di luar Dunia Islam.

Tepatnya, karena efek domino membaca buku dan semangat thalabul ilmi, maka umat Islam maju dan memimpin dunia. Ketika Eropa masih "barbar" dan Amerika belum ditemukan.

Katanya, sekarang jadi terbalik. Dari setiap 1 juta orang Amerika, intelektualnya 4000 orang. Jepang malah 5000 orang. Tapi di Dunia Islam, dari 1 juta muslim intelektualnya hanya 300an orang. Ketinggalan, karena kurang baca buku dan kalah maju di bidang pendidikan.

Membaca Kitab Tanbihul Ghafilin saat berlapar-lapar puasa terasa seperti ditampar, mengingatkan kalau selama ini kita sering lalai dan menganggap enteng ibadah, tobat, amar ma'ruf nahi munkar, sampai (seakan) lupa mati dan konsekuensi-konsekuensinya di alam barzakh dan akhirat. Seolah "kurang rindu" ke surga dan "kurang takut" masuk neraka.

Yang sering, kelalaian itu berupa sikap cuek terhadap amal-amal utama seperti sabar, sedekah, menyayangi anak yatim dan fuqara wal masakin dan dhuafa, mau memaafkan, merajut silaturahmi, sopan-santun bertetangga, memenuhi hak anak, zikir-tafakkur-syukur dan rajin baca Al-Qur’an dan shalawat, bersikap wara' dan tawakal,  semangat menimba ilmu, memelihara sifat malu, memupuk roh jihad (bukan dalam arti kekerasan macam sekarang), sampai sikap toleran atau lapang dada, menyebarkan salam perdamaian, dan menciptakan lapangan kerja bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain.

Sikap lalai yang paling gawat dan sudah masuk "studium empat" adalah perilaku buruk yang teruuus saja dilakukan padahal kita tahu hukum dan hukumannya. Misalnya: dusta (termasuk hoaks menurut istilah sekarang), ghibah (mengungkap keburukan orang), namimah (adu domba), hasud (dengki dan iri hati), takabur atau sombong, mengumbar emosi atau marah, mengumbar syahwat, rakus dan over mengkhayal, ihtikar (menggaruk untung dengan menimbun), sampai-sampai tidak lagi merasakan "haramnya barang haram" karena otaknya kurang lurus dan hatinya tidak lagi suci.

Fisik Kitab Tanbihul Ghafilin ini  sudah lecek. Tetapi isinya nggak ikut-ikutan lecek. Malah masih relevan dan bisa diamalkan untuk selalu mengingatkan kita sepanjang zaman.


Penulis adalah dosen pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah. Ia juga pengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi, Jawa Barat.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG