IMG-LOGO
Nasional

Kiai Said Ungkap Misteri Hidayah Islam kepada Seseorang

Senin 8 Juli 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Kiai Said Ungkap Misteri Hidayah Islam kepada Seseorang
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengungkapkan hidayah Islam datang kepada seseorang merupakan hal yang misterius karena hal itu merupakan ketentuan Allah yang Maha Memberi Petunjuk (Al-Hadi) dan Maha Menyesatkan Hidayah (Al-Mudhil). 

“Hidayah dalam arti petunjuk, direct, langsung dari Allah. Itu haknya Allah, monopolinya, prerogratifnya Allah. Oleh karena itu, para rasul itu sendiri, para nabi dan kita sendiri yang wajib adalah berjuang memperjuangkan agar masyarakat itu mendapatkan hidayah. Dapat apa tidak, itu urusannya Allah,” jelasnya di Gedung PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Menurut dia, sekaliber Rasulullah tidak mampu mengislamkan beberapa pamannya seperti Abu Jahal, Abu Lahab, termasuk paman yang dicintai dan memberlanya, Abu Thalib. 

“Ketika Abu Thalib akan meninggal dunia, tak mau membacakan syahadat, beliau (Nabi Muhammad, red.) menangis, kecewa betul, padahal sangat membentengi Nabi Muhammad dari kejahatan orang-orang Quraisy,  tetapi tetap tidak mau masuk Islam, kecewa,” katanya. 

Karena kekecewaaan tersebut, Allah menurunkan ayat Al-Qur’an yang artinya, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

“Oleh karena itu, nikmat Allah yang paling besar, anugerah Allah yang paling besar adalah hidayah. Allah mengatakan Al-Hadi wal Mudhil, beliau yang memberi petunjuk dan memberi menyesatkan. Kenapa? Karena semua yang ada di duni berasal dari Allah. Yang gampang saja yang gampang. Apa hanya yang cantik saja dari Allah, yang jelek bukan dari Allah? Apa Allah hanya menciptakan  burung perkutut yang indah itu atau burung merak yang indah itu, sementara cacing bukan ciptaan Allah? Sudah, sama. Yang menciptakan nabi adalah Allah, yang menciptakan Abu Jahal dan Abu Lahab juga Allah,” jelasnya.  

Untuk memahami itu semua, para ulama mengungkapkan tentang adanya iradah kauniyah, ada iradah syar’iyah. 

“Allah memberikan petunjuk dengan memberikan akal kemampuan, ada wahyu, ada Al-Qur’an, sudah memberikan petunjuk yang benar, ente atau dia enggak mau, enggak mau mengikuti jalan itu, padahal Allah sudah memberikan petunjuk, kirim nabi, ngasih otak, cerdas, logika, sudah dikasih perasaan dikasih jalan yang lurus, jalan yang benar. Itu iradah syar’iyah,” katanya lagi.  

Sementara iradah kauniyah adalah iradah yang tertulis bahwa Abu Jahal tidak akan beriman, itu sudah tertulis dan itu kehendak Allah juga. (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Senin 8 Juli 2019 20:0 WIB
Pelajar dan Pemuda dalam Penanggulangan Radikalisme dan Ekstremisme di Indonesia
Pelajar dan Pemuda dalam Penanggulangan Radikalisme dan Ekstremisme di Indonesia
Greg Barton (foto: Syakir NF/NU Online)
Sudah lebih dari 20 persen pelajar dan mahasiswa Indonesia terjangkiti virus radikalisme. Hal itu masuk melalui berbagai sisi, seperti organisasi, materi ajar, hingga guru.

Tak hanya itu, mereka yang tergolong sebagai penduduk asli dunia digital (digital native) juga terpapar virus tersebut dari internet, khususnya media sosial.

Fakta-fakta demikian tentu perlu disadari oleh organisasi kepelajaran dan kepemudaan yang moderat seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang bergerak di dunia pelajar.

Sebagai sebuah organisasi masyarakat sipil, IPNU mendapat kesempatan untuk urun rembuk dalam penyusunan rancangan kerja ASEAN dalam melawan dan mencegah radikalisme, terorisme, dan kekerasan ekstrem di Kuala Lumpur, Malaysia pada Selasa dan Rabu, 2-3 Juli 2019.

Selain berbagi saran, saya yang hadir dalam pertemuan tersebut juga berkesempatan berbincang dengan Greg Barton, sosok ahli politik Islam global dari Universitas Deakin, Australia.

Greg mengungkapkan bahwa organisasi pelajar moderat harus menyadari bahwa kelompok radikal nan ekstrem itu hanyalah minoritas kecil, tetapi memiliki pengaruh yang sedemikian besar. Hal itu tidak mereka raih dengan instan. Kerajinan, disiplin, dan fokus mereka dalam bergerak atas dasar keyakinannya.

"Mereka all out mendukung pejuangnya," katanya saat bincang usai makan siang bersama pada Rabu (3/7).

Jadi, kata Greg, mereka sangat bekerja keras. Oleh karena itu, ia menegaskan agar organisasi pelajar yang moderat dapat lebih proaktif bergiat di bidang yang berpengaruh seperti remaja masjid dan kerohanian. "Kalau lebih banyak dari kaum ekstrem yang lebih aktif pasti rakyat dan umat pada umumnya akan rugi ya," kata penulis buku Biografi Gus Dur itu.

Sementara itu, Andhika Chrisnayudhanto, Direktur Kerjasama Regional dan Multilateral Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengungkapkan pentingnya peran pelajar dalam mencegah dan melawan narasi radikalisme, terorisme, dan kekerasan ekstrem.

Pelajar, katanya, harus mengambil peran aktif. Artinya, tidak sekadar slogan pencegahan. Aktif juga berarti turut ambil bagian dalam proses pengambilan kebijakan.

"Justru keterlibatan pemuda dalam decision making, bagaimana kita memberikan dan kewenangan pemuda terlibat aktif, mengajak partisipasi atau keikutsertaan pemuda dalam menanggulangi masalah ekstremisme berbasis kekerasan," ujar pejabat Senior Officials Meeting on Transnational Crime (SOMTC) itu. (Syakir NF)
Senin 8 Juli 2019 18:0 WIB
Hadapi Revolusi Industri 4.0, Peranan Instruktur BLK Terus Diperkuat
Hadapi Revolusi Industri 4.0, Peranan Instruktur BLK Terus Diperkuat
Staf Ahli Menaker bidang Ekonomi dan SDM Aris Wahyudi.
Samarinda, NU Online
Menghadapi era revolusi industri 4.0, Kementerian Ketenagakerjaan terus memperkuat peranan para instruktur di Balai-balai Latihan Kerja ( BLK) agar selalu berinovasi dan kreatif dalam upaya menyiapkan tenaga kerja berkualitas dan berkompeten.

"Peranan instruktur di BLK harus diperkuat karena memiliki korelasi dengan pembangunan SDM dan sebagai pintu masuk dalam mewujudkan Indonesia kompeten," ujar Staf Ahli Menaker bidang Ekonomi dan SDM Aris Wahyudi dalam acara pembukaan Kompetisi Keterampilan Instruktur Nasion (KKIN) VII Regional Kalimantan Timur, di Samarinda, Kaltim, Senin (8/7)

Dalam rilis yang diterima NU Online, Aris Wahyudi mengatakan salah satu metode efektif dalam pembinaan percepatan peningkatan kompetensi instruktur di Indonesia yakni melakukan kompetisi antar instruktur yang terstruktur dan  sistematis. 

"Kompetisi antar instruktur merupakan ajang untuk mengukur, meningkatkan dan pemerataan peningkatan kompetensi yang terintegrasi," ujar Aris.

Aris Wahyudi menambahkan instruktur juga merupakan aktor utama di dalam pelatihan kerja yang berfungsi sebagai fasilitator dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, perubahan sikap, dan perilaku (etos kerja) dari tenaga kerja. "Peran instruktur sangatlah strategis sebagai ujung tombak dalam menghasilkan SDM yang kompeten," kata Aris.

Aris Wahyudi mengungkapkan, secara nasional jumlah Balai Latihan Kerja (BLK) Pemerintah baik UPTP maupun UPTD saat ini berjumlah 305 BLK dan sebanyak 37 BLK atau 12,13 persen, berada di Pulau Kalimantan. Sedangkan LPK Swasta sebanyak 5.045 LPK, dan 345 LPK atau 6,84 persen berada di Pulau Kalimantan. 

Secara nasional jumlah Instruktur Pemerintah saat ini berjumlah 3.013 orang, dan 282 orang atau 9,36 persen berada di Pulau Kalimantan. Sedangkan Instruktur Swasta sebanyak 16.379 orang, dan 1.224 orang atau 7,47 persen berada di Pulau Kalimantan. 

Dengan jumlah sumber daya yang ada tersebut, maka perlu dijaga kualitasnya melalui kompetisi ketrampilan instruktur. "Kompetisi instruktur ini menjadi salah satu media dalam   menjaga kualitas instruktur yang ada dan dapat menjadi indikator kemampuan instruktur pada tingkat regional maupun pada tingkat nasional," kata Aris. 

Kadisnaker Kaltim Abu Helmi mengatakan KKIN regional Kaltim mempertegas bahwa peran instruktur sangatlah strategis dalam rangka menciptakan calon tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing.

"Melalui ajang kompetisi ini, diharapkan menghasilkan para instruktur yang kompeten dan profesional sehingga akan terwujud calon tenaga kerja kompeten dan memiliki daya saing untuk memasuki pasar kerja, sehingga akan menurunkan tingkat pengangguran di Kaltim," kata Abu Helmi.

Kepala BLK Samarinda Andri Susila menyatakan KKIN VII Kaltim diikuti oleh 90 orang instruktur yakni Kalsel sebanyak 32 orang instruktur; Kaltim (27); Kalteng (21); dan Kaltara (10).

Andri menambahkan, ada sembilan bidang yang dikompetisikan dan masing-masing diikuti 10 orang. Kesembilan bidang itu yakni pengelasan (welding); otomotif kendaraan ringan (automotive technology); instalasi listrik (electrical installation); tata busana (fashion technology); pendingin dan tata udara (refrigeration and AC); elektronika, disain grafis (graphic design technology); perencanaan rekayasa mekanik CAD (mechanical engineering design CAD); dan solusi perangkat lunak teknologi informasi untuk bisnis (IT software solution for business).

KKIN VII Regional Kaltim bertema Melalui Kompetisi Kita Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme Instruktur dihadiri Ketua Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (LALPK) sekaligus Ketua Tim Penyelia KKIN VII 2019 Suhadi; Kepala Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Sukasnaini; dan 90 orang peserta KKIN yang berasal dari Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. (Red: Kendi Setiawan)
Senin 8 Juli 2019 16:45 WIB
Pesantren adalah Miniatur Kebinekaan
Pesantren adalah Miniatur Kebinekaan
KH Chalwani Nawawi (tengah baju putih)
Purworejo, NU Online
Pesantren merupakan miniatur kebinekaan. Pasalnya, di dalam  pesantren terdapat santri yang berasal dari Sabang sampai Merauke juga berasal dari berbagai latar suku dan budaya yang ada di Indonesia.

"Penghuni pesantren cukup beragam dari berbagai suku, golongan, budaya hingga bahasa yang berbeda-beda, namun di pesantren masih bisa hidup rukun dan guyub," ujar Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur KH Reza Ahmad Zahid saat memberikan taushiyah pada Haflah Akhirussanah Ke-41 Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, Sabtu (6/7) malam.

"Kalau mau belajar Bhinneka Tunggal Ika datanglah ke pondok-pondok pesantren. Seperti kita dengar tadi di An-Nawawi ini ada yang berasal dari Lampung, Suku Batak, Suku Bugis, Jawa, Sunda, Dayak hingga dari berbagai wilayah di Indonesia Timur," terang Kiai yang akrab disapa Gus Reza tersebut.

Itu artinya, kata Gus Reza, santri sudah terbiasa berinteraksi dengan teman-temannya dari berbagai latar belakang suku dan budaya setiap hari. Sehingga jaminannya adalah ketika santri ini menjadi alumni dan sudah terjun di tengah-tengah masyarakat mereka sudah terbiasa dengan menghadapi perbedaan.

"Maka, kalau ada pejabat ingin studi banding soal kebinekaan tidak usah jauh-jauh keliling Indonesia karena hanya menghabiskan anggaran negara. Cukup datang ke pesantren, panjenengan akan melihat secara langsung bagaimana praktik kebinekaan itu telah berjalan dengan sangat baik," katanya.

Pengasuh Pesantren An-Nawawi, KH Achmad Chalwani Nawawi dalam sambutannya mengungkapkan pendapat tokoh-tokoh nasional tentang sistem pendidikan pesantren. Di antaranya, mengutip Douwes Dekker yang mengatakan bahwa kalau tidak ada kiai dan pesantren, patriotisme Indonesia sudah hancur berantakan.

"Ini yang bicara orang yang tak mengenyam pendidikan pesantren. Kalau saya yang bicara atau para kiai pimpinan pesantren, tentu dituduh hanya promosi pesantren," tegasnya.

Tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara atau Suwardi Suryaningrat, lanjut Kiai Chalwani, juga mengomentari pesantren. "Pendidikan yang paling berhasil adalah pendidikan dengan sistem pesantren, karena di pesantren semua lingkungannya mendukung," katanya, menirukan Bapak Pendidikan Nasional.

Kiai Chalwani mengutip pendapat tokoh pendidikan Internasional Sudjatmoko yang juga mantan Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa, Tokyo, Jepang. "Pada zaman akhir ini, pendidikan yang paling baik adalah pondok pesantren, dengan catatan memakai manajemen modern," ungkap Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah Berjan Purworejo, mengutip pendapat Soedjatmoko. (Naufa/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG