IMG-LOGO
Fragmen

Wirid KH Saifuddin Zuhri di Tengah Berondongan Peluru Tentara Sekutu

Selasa 9 Juli 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Wirid KH Saifuddin Zuhri di Tengah Berondongan Peluru Tentara Sekutu
KH Saifuddin Zuhri (Dok. Perpustakaan PBNU)
Wirid, dzikir, dan menyebut asma Allah SWT kerap dilakukan oleh para ulama pesantren di tengah perjuangan melawan penjajah. Kekuatan fisik, kelengkapan amunisi, dan strategi menjadi modal penting dalam perang melawan penjajah. Namun, para ulama tidak mau melupakan Yang Maha Memiliki Kekuatan, yaitu Allah. Mereka tetap berprinsip bahwa ikhtiar batin harus tetap dilakukan. Bahkan upaya tersebut tak jarang membuat para penjajah kocar-kacir.

Puncak perjuangan para kiai ialah ketika terjadi Agresi Belanda kedua pada tahun 1945 di beberapa daerah, terutama di Surabaya dan merembet ke Semarang, Ambarawa, dan Magelang. Saat tiba di Kota Magelang, tentara Sekutu memanfaatkan gedung Seminari Katolik untuk menduduki Kota dan Magelang dan sekitarnya.

Beberapa ulama khos berkumpul untuk melakukan gerakan rohani atau riyadhoh-rohani. Di antaranya ialah KH Dalhar Watucongol, KH Siroj Payaman, KH R, Alwi Tonoboyo, dan KH Mandhur Temanggung, termasuk KH Saifuddin Zuhri yang berkesempatan turut melakukan konsolidasi perjuangan para pemuda. Saat itu tentara Sekutu telah menguasai Magelang selama satu minggu.

Kiai Saifuddin Zuhri mencatat dalam memoarnya Berangkat dari Pesantren (2013) bahwa tentara Inggris membawa bendera sekutu yang terdiri dari orang India dan Gurkha, serdadu-serdadu Belanda yang membonceng Sekutu, dan bekas serdadu Nippon yang dimanfaatkan sebagai perisai.

Walaupun Inggris hanya menguasai Gedung Seminari Katolik di bibir alun-laun dan sepanjang jalan raya Poncol stasiun Kota Magelang, namun jalan raya Ambarawa-Semarang dan Ambarawa-Magelang bisa dikuasai pula berkat pasukan tank dan pesawat terbang mereka. Namun, strategi dan serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Laskar Hizbullah dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berhasil mengusir tentara seukutu.

Sekutu yang digerakkan oleh tentara Inggris berupaya mengevakuasi diri. Di tengah keberhasilan mengusir sekutu, ternyata di luar sana KH Dalhar Watucongol telah setengah jalan membaca Hizib Nashar diikuti oleh santri dan para pejuang lainnya yang berkumpul melakukan gerakan rohani. Di antara yang juga dibaca ialah Dalailul Khoirot, Hizib al-Barri, Hizb al-Bahri keduanya li Abil Hasan Asy-Syadzili.

Di tengah kecamuk di daerah Magelang tersebut, kantor-kantor, termasuk markas hizbullah dikosongkan selama tiga hari. Jalan Raya Poncol Magelang menjadi sepi. Penduduk sepanjang jalan tersebut banyak yang mengungsi. Meskipun berhasil kembali dikuasai oleh Laskar Hizbullah dan TKR, namun masyarakat tetap memilih mengungsi karena bisa sewaktu-waktu tentara Sekutu kembali menyerang.

Di tengah kondisi yang sepi, KH Saifuddin Zuhri yang sedang melakukan perjalanan kembali ke tempat tinggalnya setelah mengunjungi Kantor Karesidenan Magelang. Ia berjalan kaki menempu jarak sekitar 1 kilometer. baru sampai di belakang Hotel Tidar, 200 meter dari rumah Abdul Wahab Kodri (Sekrteris NU Magelang), gemuruh yang berasal dari benturan du benda keras terdengar disusul oleh berondongan peluru dari senjata jenis mitraliur (sebuah senjata api yang menggabungkan kemampuan menembak otomatis senapan mesin dengan amunisi pistol).

Bentruan benda-benda keras tersebut dua-duanya saling bersahutan dan berbarengan sehingga cukup memekakkan telinga. Dua-duanya bersumber dari iring-iringan pasukan tank yang memlopori pendudukan serdadu-serdadu Inggris atas Kota Magelang.

Kiai Saifuddin Zuhri seketika bertiarap dan berguling memasuki pekarangan rumah warga agar bisa merangkak menuju tempat yang lebih aman. Di tengah ia berjibaku mengamankan diri, ia membaca sebuah wirid secara lirih. Wirid yang ia lakukan sejak dalam pusat latihan Hizbullah di Cibarusa ialah “Shalawat Nariyah”. (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 347)

Wirid Shalawat Nariyah membawa Kiai Saifuddin Zuhri keluar dari lobang jarum. Ia sendiri tidak bisa membayangkan ketika bisa meloloskan diri dari maut tersebut. Akhirnya ia berhasil tiba di sebuah tempat di mana beberapa kawan para kiai juga dalam kondisi siap siaga di markas Sabilillah. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Selasa 9 Juli 2019 12:15 WIB
Jemaah Haji Era 60-an dalam Karya KH Bisri Mustofa
Jemaah Haji Era 60-an dalam Karya KH Bisri Mustofa
Haji tempo dulu (ist)
Kenapa KH Bisri Musthofa Rembang dikenal dan populer di kalangan orang-orang desa? Karena selain menulis kitab tafsir Al-Qur'an berbahasa jawa,Tafsir al-Ibris, Kiai Bisri juga menulis karya-karya ringan, mirip buku saku tetapi dibutuhkan masyarakat umum. Salah satunya adalah Tuntunan Ringkas Manasik Haji.

Dalam karya tentang manasik haji itu, selain menjelaskan tentang manasik haji dan umroh, ziarah Nabi Muhammad, tata cara shalat jama', dan tempat-tempat bersejarah, Mbah Bisri juga menjelaskan tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh calon jamaah haji sebelum berangkat dan setelah sampai di tanah haram.

Pada mulanya beliau menjelaskan pentingnya menata niat. Ibadah haji diniati menunaikan rukun Islam yang kelima dan berniat sowan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW di Madinah. 

Selain menata niat, Kiai Bisri juga mewanti-wanti, supaya orang yang mau haji tanggungan-tanggungannya diberesi. Penulis pernah dapat cerita dari Ibu, dulu saat almarhum ayah mau berangkat haji, burung-burung yang dipeliharanya dilepaskan, karena khawatir pas ditinggal haji, tidak ada yang memberi makan.


Kitab Manasik Haji karya KH Bisri Mustofa Rembang

Kiai Bisri juga mengatakan, nafkah bagi anak-anak yang di rumah juga harus dipersiapkan. Beliau juga mengajurkan, calon jamaah haji berpamitan kepada para sesepuh dan meminta doa agar hajinya mabrur, dan sehat (wilujeng) tanpa halangan apapun.

Pamitan calon jamaah haji ini masih lestari diadakan di daerah-daerah termasuk di daerah asal penulis. Pas momen silaturahim Idul Fitri, calon jamaah haji pamit dan minta doa kepada kiainya, kakek, dan neneknya, saudara-saudaranya. Lalu, biasanya calon jamaah haji menggelar pengajian dalam rangka pamitan haji dengan mengundang tetangga dan saudaranya.

Barang bawaan calon jemaah haji, kata Kiai Bisri, dalam kitabnya yang ditulis tahun 1962 ini, ibadah haji itu berat (rekoso) tapi karena cinta jadi tak terasa. Kerena berat itu, Kiai Bisri menganjurkan jangan terlalu banyak membawa barang bawaan dan yang ringan, supaya koper dan keranjang (tas tenteng) bisa dibawa sendiri. 

"Obat-obatan juga tak perlu membawa terlalu banyak. Mulai dari kapal sampai Saudi kita dibarengi tim kesehatan," lanjut Kiai Bisri. Kiai Bisri juga mewanti-wanti, jangan sampai lupa menulis nama di koper yang dibawa. 

Beliau juga mengarahkan, tas keranjang yang besar dibuat untuk membawa perabot makan seperti piring seng, gelas seng, sendok, ceret (teko), tempat air dan lain-lain. Sedangkan untuk tas keranjang yang kecil sebagai tempat makanan kering seperti sambel dan obat-obatan.

Sambel, menurut beberapa orang yang haji, memang menjadi bawaan yang untuk beberapa orang bisa dikatakan wajib. Orang-orang desa dan atau  santri, apa pun makanannya biasanya yang penting ada sambelnya. Penulis yang tahun kemarin baru haji, dalam pelayanan makanan, selain lauk yang berupa daging ayam dan daging ikan, juga diberi buah-buahan, minuman mineral, roti, dan mi instan kemasan gelas. 

Namun memang belum diberikan sambal, paling hanya saos. Mi instan kemasan gelasnya juga berbeda racikan bumbunya dengan di Indonesia. Jadi, jika anda mau haji tahun ini, jangan lupa bawa sambel dan mie instan dan hati-hati jika anda bawa tembakau yang bungkus kertas. 

Di halaman akhir, Kiai Bisri menuliskan secara khusus tentang detail apa yang perlu dibawa seperti mushaf Al-Qur'an untuk dibaca pas waktu senggang, buku manasik haji sebagai pengingat biar tidak keliru, kacamata hitam, tremos es untuk tempat es selain untuk diminum juga bisa untuk kompresan saat terkena panas.

Di dalam kapal menuju Tanah Haram setelah paspor dan tiket sudah di tangan, kata Kiai Bisri, baru naik ke kapal. Di dalam kapal ini harus hati-hati dalam bertindak dan penting untuk musyawarah.

"Di dalam kapal ini banyak cobaan. Kadang perkara kecil bisa jadi pemicu cekcok penuh amarah. Anda harus banyak-banyak minta kepada Allah agar sehat (wilujeng) dan hasil maksud," lanjut Kiai Bisri.

Begitulah kira-kira suasana persiapan jamaah haji era di mana kitab ini ditulis tahun 1962. Kitab setebal 67 halaman ini sampai sekarang masih beredar di pasaran dengan harga terjangkau, kisaran Rp6000 sampai Rp7000.

Selain penjelasan manasik haji dengan bahasa Jawa dan ditulis dengan huruf pegon, kitab ini juga memuat beberapa gambar seperti koper, masjid-masjid di tanah haram di masa silam.


Zaim Ahya, santri, kontributor NU Online tinggal di Batang, pemilik takselesai.com
Jumat 5 Juli 2019 14:0 WIB
Bulan Juli, Saat Soekarno dan Gus Dur Keluarkan Dekrit Presiden
Bulan Juli, Saat Soekarno dan Gus Dur Keluarkan Dekrit Presiden
Presiden Soekarno dan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan pemimpin negara dalam sejarah Indonesia yang pernah mengeluarkan Dekrit (bahasa Latin decernere = mengakhiri, memutuskan, menentukan). Soekarno mengeluarkan dekrit pada 5 Juli 1959, sedangkan Gus Dur melontarkan dekrit pada 23 Juli 2001.

Dua presiden tersebut mengeluarkan dekrit demi menjaga konstitusi dari situasi bangsa yang kurang kondusif di masa Soekarno dan tuduhan-tuduhan inkonstitusional di masa Gus Dur. Kedua dekrit tersebut dikeluarkan untuk kepentingan bangsa secara luas walaupun di era Gus Dur tidak mendapat respon. Namun, rakyat Indonesia saat ini bisa melihat bahwa pelengseran Gus Dur oleh parlemen dilakukan tanpa bisa membuktikan bahwa Gus Dur bersalah secara konstitusi sehingga dekrit presiden menemukan relevansinya.

Abdul Mun’im DZ (2018) mencatat bahwa peristiwa Dekrit 5 Juli 1959 menandai berakhirnya sistem Demokrasi Liberal dan kembali kepada sistem Demokrasi Pancasila. Dalam peristiwa bersejarah itu Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran strategis dalam memberikan solusi, saat bangsa ini menghadapi kebuntuan, sehingga Bung Karno dengan tegas mengeluarkan dekrit itu.

Persidangan konstituante yang dimulai 10 November 1956 itu berjalan dengan lancar, sehingga ada beberapa pasal telah diselesaikan. Tetapi saat memasuki pembahasan dasar negara antara tahun 1957-1959  terjadi perdebatan alot antara kelompok pro Islam dengan kelompok pro Pancasila sebagai dasar negara. Sebenarnya, NU telah melihat persoalan ini akan mengalami kebuntuhan. Oleh karena itu, ketika pemerintah secara tertulis mengirim surat pada Ketua Konstituante untuk kembali pada Pancasila dan UUD 1945 yang disampaikan pada 19 Februari 1959 NU mulai mengkajinya.

Dalam sebuah rapat internal NU pada  20 Februari 1959 menawarkan jalan tengah yaitu Pancasila Islam, bukan Pancasila ala Komunis, yakni Pancasila dan UUD 1945 yang dijiwai Piagam Jakarta. Pandangan resmi NU itu disusun secara rapi kemudian disuarakan oleh KH Saifuddin Zuhri secara resmi di dalam Sidang Konstituante pada hari Senin 4 Mei 1959, sebuah usulan jalan keluar dari kebuntuan konstitusi yang sudah terjadi beberapa tahun.

Islam secara substansi dalam Undang-undang negara hingga saat ini merupakan hasil pemikiran para kiai pesantren yang tergabung di dalam NU. NU tidak sepakat menerapkan secara formal Piagam Jakarta ke dalam dasar negara di sidang pleno Majelis Konstituante, seperti yang dikehendaki kelompok Islam lain seperti Masyumi, PSII, Perti, dan lain-lain. Maka jalan tengahnya adalah Piagam Jakarta menjadi jiwa dan semangat UUD 1945.

Jalan tengah yang diberikan oleh NU disambut baik oleh Presiden Soekarno yang atas usul Jenderal Abdul Haris Nasution bahwa negara harus kembali kepada Pancasila dan UUD 1945. Sebab itu, harus dilakukan Dekrit Presiden secara konstitusional. Resistensi terhadap kelompok Islam tidak terjadi ketika Soekarno mengeluarkan Dekrit pada 5 Juli 1959 karena dasar negara telah dijiwai oleh Piagam Jakarta atas jalan tengah yang diberikan oleh NU.

Dalam hal ini, NU berhasil memberikan pemahaman Islam secara substansial dalam sistem berbangsa dan bernegara, bukan Islam partikular yang menginginkan formalisasi Islam ke dalam sistem bernegara. Dari sumbangsih pemikiran NU tersebut, Presiden Soekarno semakin yakin  dan lebih percaya diri untuk  mengumumkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959. Dengan gagasan kembali ke UUD 1945 yang berarati kembali menempatkan  Pancasila sebagai dasar negara, itu menjadi wacana umum dalam bangsa ini.

Isi Dekrit 5 Juli 1959 Presiden Soekarno:

Pertama, membubarkan Badan Konstituante hasil Pemilu 1955 yang belum mampu menghasilkan Undang-Undang Dasar (UUD) baru. Kedua, UUD 1945 kembali berlaku menggantikan UUD Sementara 1950. Ketiga, pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara.

Dekrit Presiden Gus Dur

Menjelang tengah malam pada tanggal 22 Juli 2001, Presiden Gus Dur sempat mengadakan pertemuan bersama wakil sekjen PBNU yang kala itu dijabat oleh Masduki Baidlawi dan tujuh ulama sepuh di Istana Negara di tengah situasi politik yang semakin panas jelang dirinya dilengserkan oleh parlemen.

Mereka menyampaikan kepada Gus Dur perihal kondisi politik mutakhir yang berujung pada rencana percepatan SI MPR keesokan harinya, yaitu pada 23 Juli 2001. Kondisi pertemuan di Istana Negara kala itu dilaporkan berlangsung khidmat dan penuh keharuan.

Gus Dur tak kuasa menahan air mata. Ia meminta maaf berkali-kali karena merasa tidak berterus terang kepada para ulama mengenai situasi politik yang dihadapinya. Dengan dorongan para ulama dan pengurus pondok pesantren, lewat tengah malam pada tanggal 23 Juli 2001, Gus Dur mengeluarkan dekrit presiden.

Dekrit itu secara tegas berisi penolakan terhadap keputusan Sidang Istimewa yang akan diselenggarakan beberapa jam kemudian oleh MPR yang kala itu dipimpin Amien Rais. Hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan hukum yang memvonis Gus Dur melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan sejumlah orang, baik kasus Buloggate dan Bruneigate.

Tangis Gus Dur pecah bukan karena kelemahan dirinya menghadapi situasi politik saat itu, tetapi memikirkan para ulama dan pendukungnya yang mempunyai komitmen kuat untuknya. Bahkan di sejumlah daerah dengan tegas membentuk pasukan berani mati jika Gus Dur dilengserkan. Gus Dur menahan ratusan ribu orang yang ingin berangkat ke Jakarta. Ia tidak mau ada kerusuhan dan pertumpahan sesama anak bangsa.

Isi Dekrit 23 Juli 2001 Presiden Abdurahman Wahid:

Pertama, membekukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Kedua, mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dan mengambil tindakan serta menyusun badan yang diperlukan untuk menyelenggaran Pemilu dalam waktu satu tahun.

Ketiga, menyelamatkan gerakan reformasi total dari unsur-unsur Orde Baru dengan membekukan Partai Golongan Karya sambil menunggu keputusan Mahkamah Agung, untuk itu kami memerintahkan seluruh jajaran TNI dan Polri untuk mengamankan langkah penyelamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang serta menjalankan kehidupan sosial dan ekonomi seperti biasa. (Fathoni)
Kamis 4 Juli 2019 22:30 WIB
Pesan Presiden Gus Dur kepada Para Kiai Jelang Dilengserkan
Pesan Presiden Gus Dur kepada Para Kiai Jelang Dilengserkan
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Menjelang pelengserannya sebagai Presiden RI oleh parlemen dalam Sidang Istimewa (SI) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melakukan perlawanan. Langkah perlawanan Gus Dur bukan untuk mempertahankan dirinya sebagai presiden, tetapi melawan tindakan-tindakan inkonstitusional dan tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya.

Kompas pada 1 Agustus 2001 melaporkan bahwa menjelang tengah malam pada tanggal 22 Juli 2001, Gus Dur sempat mengadakan pertemuan bersama wakil sekjen PBNU yang kala itu dijabat oleh Masduki Baidlawi dan tujuh ulama sepuh di Istana Negara.

Mereka menyampaikan kepada Gus Dur perihal kondisi politik mutakhir yang berujung pada rencana percepatan SI MPR keesokan harinya, yaitu pada 23 Juli 2001. Kondisi pertemuan di Istana Negara kala itu dilaporkan berlangsung khidmat dan penuh keharuan.

Gus Dur tak kuasa menahan air mata. Ia meminta maaf berkali-kali karena merasa tidak berterus terang kepada para ulama mengenai situasi politik yang dihadapinya. Dengan dorongan para ulama dan pengurus pondok pesantren, lewat tengah malam pada tanggal 23 Juli 2001, Gus Dur mengeluarkan dekrit presiden.

Dekrit itu secara garis besar berisi penolakan terhadap keputusan Sidang Istimewa yang akan diselenggarakan beberapa jam mendatang oleh MPR yang dipimpin Amien Rais. Hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan hukum yang memvonis Gus Dur melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan sejumlah orang, baik kasus Buloggate dan Bruneigate.

Tangis Gus Dur pecah bukan karena kelemahan dirinya menghadapi situasi politik saat itu, tetapi memikirkan para ulama dan pendukungnya yang mempunyai komitmen kuat untuknya. Bahkan di sejumlah daerah dengan tegas membentuk pasukan berani mati jika Gus Dur dilengserkan. Gus Dur menahan ratusan ribu orang yang ingin berangkat ke Jakarta. Ia tidak mau ada kerusuhan dan pertumpahan sesama anak bangsa.

Sebab itu jauh-jauh hari, Gus Dur menyambangi sejumlah ulama di beberapa pesantren. KH Muhammad Yusuf Chudlori dalam Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa (2017) mengungkapkan pesan Gus Dur berupa satu kalimat yang menurutnya terus terngiang di telinga, membekas di hati, dan tidak akan pernah hilang.

Gus Dur berkata, “Kalau tawakal, Anda berani dan layak hidup”. Pesan tersebut disampaikan Gus Dur kepada para kiai menjelang pelengseran dirinya sebagai presiden. Kalimat tersebut seperti diuji dan benar-benar jitu menjadi pembuktian bagi Gus Dur setelah dilengserkan. Tawakal menjadi sumber kekuatan Gus Dur yang semakin berani menjalani kehidupannya untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Saat itu, dalam pertemuan dengan sejumlah ulama yang salah satunya terjadi pada peringatan 100 Tahun Berdirinya Pondok Pesantren Futtuhiyah di Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Gus Dur berpesan agar ulama tidak terpancing amarahnya atas nama solidaritas umat Muslim.

Menurut dia, ulama seharusnya tidak boleh terlalu larut dalam politik. Dengan tegas, Gus Dur meminta ulama, kiai, dan santri di lingkungan NU untuk tidak pergi berunjuk rasa dan membuat kegaduhan di Jakarta. Sebaliknya, ia meminta agar segenap pendukungnya tetap meyakini kapabilitas pemerintah dalam menuntaskan persoalan politik.

"Sesama orang Islam itu bersaudara. Kenyataan ini harus dipahami bahwa tindakan kekerasan tidak menyelesaikan persoalan. Jika banyak warga NU ke Jakarta, kemudian membuat gegeran malah akan menambah keributan di Jakarta," ujar Gus Dur dilansir Tirto.

Pada kesempatan yang sama, Gus Dur juga berujar bahwa dirinya masih bisa mengatasi persoalan di ibu kota secara diplomatis. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1984-1999) itu juga mengingatkan pentingnya solidaritas umat Muslim dalam tradisi pondok pesantren.

"Ada beda antara keras dan tegas. Ibarat pepatah nenek moyang, pohon tinggi harus berani menentang angin yang bertiup keras. Nanti kalau saya tidak lagi sanggup mengatasi persoalan itu, saya kan bisa bengok-bengok (teriak minta tolong) sama ulama. Ke mana lagi kalau tidak minta tolong ke ulama, itu kan juga tradisi orang pondok pesantren," tegas Gus Dur.

Dalam sejumlah kesempatan Gus Dur menyatakan bahwa persoalan yang menimpa dirinya merupakan murni persoalan politik kekuasaan yang dimanfaatkan oleh sejumlah orang. Sebab secara hukum, Gus Dur tidak pernah terbukti bersalah sehingga upaya pelengseran dirinya merupakan tindakan inkonstitusional.

Namun ia tidak mau terlalu larut dalam persoalan tersebut. Tak memiliki kekuasaan politik bukan akhir dari segalanya bagi Gus Dur. Suaranya masih lantang dalam membela hak-hak kaum minoritas dan kaum pinggiran. Sikap humanismenya menghadirkan kesejukan bagi semua umat beragama di Indonesia.

Bagi Gus Dur, politik bukan untuk kekuasaan semata, melainkan perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, mewujudkan kesejahteraan rakyat, persatuan dan kesatuan nasional, serta perdamaian global. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG