IMG-LOGO
Pustaka

Memahami Pokok Ajaran Islam: Belajar dari Quraish Shihab

Rabu 10 Juli 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Memahami Pokok Ajaran Islam: Belajar dari Quraish Shihab
Akhir-akhir ini isu agama sering diangkat dan diperbincangkan bukan hanya oleh kalangan masyarakat kampung yang identik dengan rutinitas budaya ritual dan spiritualnya, namun juga oleh para kalangan elit yang identik dengan popularitas dan ambisi politiknya. Dalam menyikapi fenomena ini, di satu sisi umat muslim patut bersyukur karena pada kenyataannya Islam sudah berkembang dan diterima oleh hampir semua lapisan masyarakat.

Namun, di sisi lain, mereka juga patut prihatin atas isu-isu negatif yang kerap kali dilekatkan pada ajaran Islam seperti intoleran, fanatisme, radikalisme, anarkisme, dan terorisme. Apalagi setelah selama hiruk pikuk politik beberapa bulan terakhir ini, umat Islam ditampilkan seperti sedang ‘berperang’ melawan saudaranya sendiri, maka semakin melekatlah cap-cap negatif tersebut.

Menanggapi situasi di atas, banyak ulama dan dai Indonesia tampil untuk mengetengahkan permasalahan umat yang sedang terjadi sekaligus meluruskan pandangan negatif terhadap Islam. Sebut saja Gus Mus, Gus Baha, Gus Muwafiq, Gus Miftah, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, dan dai-dai kondang lainnya tak terkecuali sekaliber Prof Dr M. Quraish Shihab, penulis buku yang sedang dibahas dalam tulisan ini. Sebagai cendekiawan Muslim, selain mengisi pengajian umum, mufassir kebanggaan Indonesia tersebut memberikan kontribusinya dalam mengayomi umat dengan menulis sebuah buku yang membahas dasar-dasar pokok ajaran Islam berjudul Islam yang Saya Anut: Dasar-Dasar Pokok Ajaran Islam.

Umum diketahui, sebuah teks tidak lahir dari rahim kekosongan. Setiap teks mempunyai konteks yang melahirkannya. Buku ini lahir dalam konteks di mana Islam marak dipertanyakan oleh banyak orang awam. Ketika Islam mulai diterima oleh khayalak, dan mereka pun tertarik untuk mendalami ajaran Islam, kondisi masyarakat Muslim yang tampil 'tidak akur' mungkin saja memberi kesan yang buruk.

Mereka acapkali disuguhkan berita mengenai sikap sebagian kelompok muslim yang merasa paling benar sendiri dan menganggap kelompok lain –yang kadang juga merasapaling benar-salah bahkan sampai berani mengkafirkan masyarakat yang tidak sepaham dengan mereka. Kondisi ini kemudian memicu munculnya pertanyaan besar di benak mereka, seperti inikah ajaran Islam?

Sesuai dengan judulnya, dalam buku ini Quraish Shihab mencoba merangkum ajaran-ajaran pokok Islam yang menjadi fondasi dasar keberagamaan umat muslim. Dimulai dengan pengantar tentang asal muasal keragaman pendapat dalam Islam, sejarah dan pengertian agama, dan manusia serta evolusinya, penulis mengajak pembaca menelusuri sejarah untuk memahami konteks beragama saat ini. Hal tersebut penting agar pembaca tidak ahistoris terhadap kondisi keragaman beragama umat manusia masa kini, terutama umat muslim yang menjadi objek buku ini. Tiga bahasan penting tersebut menjadi latar penulis untuk memberikan penjelasan mengenai ajaran-ajaran pokok Islam.

Sama seperti buku-buku ajar Islam pada umumnya, Quraish Shihab menjadikan aqidah, syariah, dan akhlak sebagai bahasan utama. Pembahasan tema-tema tersebut diuraikan secara gamblang mulai dari hal umum –seperti rukun iman dan islam- hingga mengerucut pada hal-hal khusus –terkait berbagai macam rincian pengamalan dari yang umum tadi- termasuk yang dianut oleh penulis. Tak hanya itu, dalam pemaparannya, Quraish Shihab tak segan memberikan dalil naqli (al-Qur’an, Hadis, ijma’, dan qiyas) dan ‘aqli (rasional) terkait apa dan mengapa ia menganut aliran tertentu. Dengan begitu, penulis telah memetakan posisinya dalam pengamalan agama agar dimaklumi oleh pembaca.

Melalui buku ini, Quraish Shihab tampaknya ingin memberi pengertian pada khalayak umum, bahwa apa yang telah dipilihnya bukan berarti harus diikuti oleh orang lain. Dalam Islam, perbedaan dalam mengamalkan rincian agama Islam adalah hal lumrah. Sejak dulu, perbedaan pendapat antar ulama sering terjadi. Bahkan, perbedaan bisa juga terjadi antara dua orang nabi yang hidup semasa dan di lokasi yang sama dengan kasus yang sama. Selain faktor internal dari pemahaman atas teks al-Qur’an dan Hadis, ada beberapa faktor eksternal seperti kebiasaan suatu masyarakat yang tidak bertentangan dengan tuntunan agama yang bersifat pasti (qath’i), perkembangan ilmu pengetahuan dan kondisi sosial masyarakat, serta kecenderungan pribadi masing-masingmenjadi alasan penting untuk memahami perbedaan (hlm. 4).

Toh, pada akhirnya yang paling penting adalah saling menghargai pendapat. Pendapat-pendapat tersebut sama-sama berpotensi salah dan benar. “Pendapat kami benar, tapi mengandung kemungkinan salah; pendapat yang berbeda dengan kami salah, tapi mengandung kemungkinan benar.” (hlm. 21)

Selain itu, Quraish Shihab juga menekankan bahwa dalam pengaplikasian ajarannya, Islam mengedepankan akhlak. Dalam hal ini, ia mengartikulasikan term akhlak sebagai sopan santun. Hal inilah yang perlu diacuhkan, dicamkan, dan dipraktikkan oleh umat Muslim dewasa ini. “Kita dapat berkata bahwa akhlak dan sopan santun yang diajarkan Islam mencakup sekian banyak nilai luhur yang hendaknya menghiasi kepribadian Muslim. Nilai-nilai ini disebut secara jelas dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, di antaranya ketulusan, rahmat dan kasih sayang, amanat, kejujuran, kesungguhan, lapang dada dan toleransi, sabar, rasa malu, harga diri/kemuliaan, menghargai waktu, dan lain-lain.” (hlm. 305)

Menilik pernyataan di atas, tampak sekali bahwa Quraish Shihab ingin mengingatkan umat muslim akan jati dirinya yang seharusnya berjiwa dan bertindak secara positif. Di sisi lain, ia juga menegaskan kepada para pembaca bahwa Islam tidak pernah sekalipun mengajarkan nilai-nilai yang negatif. Islam adalah agama yang damai, indah, dan santun. Dengan demikian, maka tertolaklah anggapan negatif yang dikaitkan dengan ajaran Islam selama ini. Kalau pun masih ada cibiran atas nama Islam, adalah tugas umat Muslim mengintrospeksi dirinya sendiri. Seberapa baik ia mengamalkan ajaran agamanya?

Pada akhirnya, buku ini sangat mencerahkan dan patut dibaca oleh mereka yang ingin mengenal Islam lebih dalam. Membaca buku ini seperti mengingat kembali pelajaran-pelajaran dari kitab kuning yang dulu pernah disampaikan oleh guru-guru madrasah dan kiai-kiai pesantren. Hanya saja, buku ini lebih sederhana namun isinya cukup mengena. Meminjam perumpamaan salah satu dai kondang, Gus Muwafiq, isi buku ini ibarat nasi yang tinggal disantap.Tak perlu susah payah menggiling padi dan memasak berasnya. Semuanya sudah diolah oleh Quraish Shihab, yang ‘alim dan tak perlu diragukan lagi kapasitas keilmuannya.

Mari kita nikmati saja sajian dari ahlinya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah. Tentunya, demi persatuan umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia.

Peresensi adalah Faris Maulana Akbar, Pegiat Komunitas Saung Ciputat, Tangerang Selatan, Banten

Judul : Islam yang Saya Anut: Dasar-dasar Ajaran Islam
Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Penerbit Lentera Hati
Cetakan : Ketiga, 2018
Tebal : x + 338 halaman
ISBN : 978-602-7720-74-9
Bagikan:
Sabtu 6 Juli 2019 20:30 WIB
Meluruskan Tuduhan Kondisi Islam di Negeri Tirai Bambu
Meluruskan Tuduhan Kondisi Islam di Negeri Tirai Bambu
Perhatian terhadap Muslim Uigur di Xinjiang sangat besar terutama negara Barat, lebih suka memfokuskan perhatian pada isu pelanggaran hak asasi manusia yang diduga dilakukan rezim komunis di bawah kepemimoinan Xi Jinping. Terlebih saat pemerintah Tiongkok membangun kamp-kamp pendidikan dan pelatihan vokasi. Bahkan masyarakat Indonesia menyoroti hal ini dengan sentimen agama. Apalagi dengan suhu politik di Indonesia yang sangat panas terlebih masa Pemilihan Presiden (Pilpres) kemarin. Terlebih saat bulan Ramadhan banyak media yang memberitakan bahwa Muslim di Xinjiang dilarang untuk berpuasa.

Padahal Isu tersebut adalah isu lama kurang lebih sudah 23 tahun konflik horizontal. Tetapi kini isu Xinjiang diangkat kembali di tengah memanasnya hubungan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat dan juga sekutunya. Ini kebetulan atau tidak, tetapi faktanya isu ini mengemuka pada saat perang dagang antara kedua pemimpin ekonomi dunia sedang  berkecamuk.

Terkait kamp-kamp pendidikan yang ada di Xinjiang, seorang peserta didik  Kamp Vokasi, Mirkamiljan mengatakan:  “Bagaimana tidak senang berada di sini. Keterampilan bisa kami dapat, berbagai keperluan juga difasilitasi,” kata pria 20 tahun dari etnis Uigur ini mengaku bahwa keikutsertaannya dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi atas keinginan sendiri, tidak ada paksaan dari pihak mana pun (h. 11). 

Gubernur Xinjiang Shohrat pernah menyampaikan secara terbuka kepada media dan para duta besar negara sahabat Tiongkok.  “Apakah ada yang salah dengan cara kami memperbaiki kualitas hidup warga kami agar tidak semakin terperosok dalam jurang kemiskinan. Kalaupun di kamp diajarkan bahasa nasional dan pemahaman tentang undang-undang negara, maka itu sudah kewajiban bagi pemerintah manapun untuk memfasilitasinya.”

Selain mengulas terkait isu Muslim Uigur buku “Islam Indonesia dan China: Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok” yang ditulis oleh para pelajar Indonesia di Tiongkok juga mengulas bagaimana kondisi Islam sesungguhnya di Tiongkok. Buku ini terdiri atas empat bagian. Bagian pertama menjelaskan pengalaman keislaman di Tiongkok, pada bagian pertama penulis juga menggambarkan bagaimana masyarakat Islam lokal menjalankan ibadah serta pandangan masyarakat non-Islam terhadap Islam. 

Dalam bagian ini juga bisa dijadikan referensi bagi pembaca untuk mencari tempat wisata religi juga bagaimana cara mendapatkan makanan halal di Tiongkok. Salah satu cara mengatehui makanan halal, kita harus tahu karakter 清真 (qīngzhēn dibaca chingchen), selain karakter China itu biasanya tertulis  dengan bahasa Arab yang bermakna makanan Muslim. Banyak sekali makanan dengan lebel halal tersebut. Jadi tidak usah khawatir jika berwisata ke Tiongkok. 

Muslim Tiongkok sangat cinta terhadap tanah airnya sendiri. Seperti yang terdapat di pintu masuk Masjid Agung Changchun, Provinsi Jilin. Ada sebuah prasasti besar yang bertuliskan hubbul wathan minal iman dalam bahasa Arab dan di bawahnya tertulis dalam bahasa mandarin 爱国是信仰的一部分(baca: Àiguó shì xìnyǎng de yībùfèn) yang artinya cinta tanah air adalah sebagian dari iman, tulisan serupa juga banyak dijumpai di masjid-masjid di Tiongkok lainnya. (h. 71). Pada 21 Juni 2019 lalu Institut Pendidikan Islam Lanzhou (兰州伊斯兰教学院) mewisuda 106 mahasantri. Ada empat poin yang ditekankan oleh Dekan Institut Pendidikan Islam Lanzhou, Ma Xuezhi (马学智) kepada para wisudawan, yaitu: 1. Cinta tanah air dan juga menyebarkan sikap patriotrik, 2. Menjadi komunikator Islam di Tiongkok, 3. Menjadi pelopor perilaku positif, 4. Menjaga persatuan dan keharmonisan.

Artinya spirit nasionalisme ini terus ditumbuhkan kepada kader-kader penerus Islam di Tiongkok. Dengan mencintai tanah air, tentunya warga Muslim Tiongkok akan semakin peduli pada negara dan berupaya terus untuk semakin memajukannya. Ketika semua warga negara menunjukkan cinta dan kepeduliannya secara nyata, tidak bisa dibendung lagi, negara Tiongkok akan menjadi negara yang populasi Islam terbesar.

Tidak hanya berbicara tentang kondisi keislaman di Tiongkok, pada bagian kedua para penulis menceritakan  proses pendaftaran beasiswa Tiongkok, juga kemajuan Tiongkok baik dalam teknologi maupun ekonomi digital yang pesat. Berdasarkan laporan dari Boston Consulting Group, saat ini nilai ekonomi berbasis digital di Tiongkok sudah melampaui $16 trillion dan menjadi salah satu negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di dunia. 

Ini juga tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah pusat untuk mengembangkan ekonomi berbasis internet, (h. 115). Hal tersebut bisa dijadikan alasan mengapa Tiongkok sebagai pilihan negara untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

Tidak kalah pentingnya, buku ini juga menjelaskan persaudaraan bagsa Indonesia dan masyarakat Tiongkok yang sudah terbangun dari ratusan tahun yang lalu. Selama abad ke-15 dan ke-16 masehi, pengaruh Etnis Tinghoa di Jawa sangat kuat. Terbukti ukiran batu di Mantingan Jepara, Masjid kuno, pecinan di Banten, konstruksi pintu di makam Sunan Giri Gresik, arsitektur keraton Cirebon, kontruksi masjid Agung Demak khususnya tiang penyangga masjid, dan kontruksi Masjid Agung Semarang, (h. 142). 

Kejadian yang paling penting dalam penyebaran Islam Tionghoa di Indonesia dilakukan oleh Cheng Ho. Dia adalah seorang duta diplomatik dari Dinasti Ming. Dia disambut dengan hangat oleh masyarakat Indonesia. Tim ekspedisi Cheng Ho datang bersama ke Indonesia menggunakan 208 kapal. Anak buah kapal yang paling banyak adalah beragama Islam. 

Buku ini tidak hanya menyajikan data-data yang diambil dari arsip dan buku yang ditulis oleh orang asing, namun juga menyertakan gambar penting tentang suasana kehidupan berislam di Tiongkok. Dengan membaca buku ini, kebencian-kebencian terhadap etnis Tionghoa yang selama ini muncul karena salah sangka dan turbulensi politik dapat terkurangi dengan menyelami lebih mendalam silang budaya maupun kisah-kisah kehidupan di Tiongkok yang ada di dalamnya.

Peresensi, Waki Ats Tsaqofi adalah Mahasiswa Master di Chongqing University, China serta Wakil Ketua PCINU Tiongkok.

Identitas Buku:

Judul Buku: Islam Indonesia dan China: Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok
Editor: Ahmad Syaifuddin Zuhri, dkk.
Cetakan: April 2019
Tebal buku: xxiv+220
Ukuran: 14,8 cm x 21 cm
ISBN: 978-602-61490-4-6
Penerbit: Aswaja Nusantara Press
Senin 10 Juni 2019 9:0 WIB
Pesantren sebagai Pendidikan Moral Sepanjang Sejarah
Pesantren sebagai Pendidikan Moral Sepanjang Sejarah
Membaca Islam yang komprehensif tentunya tidak bisa dilepaskan dari peradaban awal Islam, yaitu Islam di era Nabi Muhammad SAW. Model Islam yang dipromosikan kepada umat manusia adalah Islam rahmatan lil ‘alamin: sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kehadiran Islam seutuhnya ditujukan untuk kemaslahatan umat manusia. Kehidupan yang sejahtera, damai, berkeadilan, dan kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai luhur merupakan visi dan tujuan ajaran Islam.

Buku ini merekam jejak historis islamisasi Jawa yang dilakukan dengan cara yang santun dan damai. Proses penguatan nilai-nilai Islam di Jawa tidak dilakukan dengan cara menghakimi tradisi masyarakat sebagai bid’ah, sekalipun tradisi tersebut berbau animistik-hinduistik, melainkan dilakukan dengan mengafiri budaya lokal setempat, menjadikannya sebagai instrumen penyebaran Islam.

Yang menjadi persoalan, kadang-kadang ketika menjadi seorang Muslim, kita dituntut untuk se-Arab mungkin. Sebaliknya sebagai orang yang modern, kita dituntut untuk kebarat-baratan atau se-Barat mungkin. Kita bisa menjadi seorang Muslim tanpa harus kehilangan jati diri sebagai warga negara. Sebab, jati diri utama seorang Muslim ditentukan oleh ketakwaannya.

Islam yang dibawa ke Indonesia dapat diterima dengan mudah karena memiliki kemiripan konseptual, sehingga inkulturasi terjadi. Melalui proses inkulturasi yang panjang, nilai Islam dan nilai pra-Islam berpadu dan membentuk hal baru. Islam di Arab, Turki, India dan di seluruh penjuru dunia memiliki bentuk yang sama, termasuk bentuk Islam yang berkembang di Indonesia. Kebaruan di sini menurut penulis buku ini terletak pada makna, bukan bentuknya.

Para juru dakwah Islam di Indonesia banyak sekali. Akan tetapi, yang paling banyak dikenal oleh masyarakat luas adalah Wali Songo. Sebab, jasa yang mereka perjuangkan sangat tampak dirasakan. Salah satu contohnya adalah lahirnya pendidikan pesantren. Pondok pesantren menjadi representasi yang masih mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai lokal dan Islam. Keduanya terpilih dalam suatu proses inkulturasi yang sangat panjang, menyejarah, tampil dalam pentas perjalanan historis bangsa dan negara (hal. 396-397).

Belakangan ini, muncul fenomena yang menjadi tren pesantren. Pertama, pesantren tradisional ramai-ramai mengadopsi pendidikan modern saja. Pesantren ini membuka pendidikan umum dan kampus ala Barat dengan meninggalkan karakter pesantren--tetapi mempertahankan apa yang khas dalam pesantren. Kedua, munculnya pesantren garis keras. Akibatnya, banyak alumni pesantren beraliran radikalis (hal. 23). Menurut penulis, teroris tingkat tinggi hampir semuanya alumni pesantren. Sebut saja misalnya Amrozi, Umar Patek, Imam Samudra dan lain-lain.

Perlu diketahui, bahwa ada tugas-tugas pokok yang harus dilakukan bagi para pendakwah untuk memberikan pendidikan keislaman yang baik kepada masyarakat, yaitu mengimplementasikan pendidikan moral (makruf), bukan dengan cara kekerasan (mungkar). Sekarang justru malah terbalik, para pendakwah awal seperti Wali Songo dikafir-kafirkan karena tidak membidahkan atau mensyirikkan budaya setempat, padahal mereka dulu mengislamkan orang kafir.

Dalam berhubungan dengan Allah, kita mesti mengikuti apa yang diajarkan agama. Akan tetapi, dalam berhubungan dengan manusia (hubungan horizontal), untuk mewujudkan kemaslahatan kepada makhluk di muka bumi, maka kita perlu menyerap sebanyak mungkin budaya dari manapun yang baik, dan meninggalkannya yang jelek, termasuk dari budaya kita sendiri.

Oleh karena itu, bagi para peletak dasar berdirinya pesantren dan atau penyebar awal Islam di Indonesia menilai urgensinya prinsip-prinsip tidak menggunakan kekerasan di dalam seluruh kehidupan manusia. Nilai-nilai lokal yang baik terus dipelihara oleh mereka (wali) sebagai sesuatu yang baik dan dijadikannya sebagai medium dalam penyebaran agama Islam yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia (hal. 399). Dengan prinsip dasar itu mereka berhasil dengan mudah mentransformasikan nilai-nilai non-islami menuju kehidupan yang Islami secara paripurna.

Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara sangat penting dibaca untuk menambah wawasan tentang strategi dakwah persepektif etika pesantren karya Aguk Irawan ini. Buku yang dihasilkan dari hasil penelitiannya sudah pasti dilakukan dengan sungguh kehati-hatian dalam menyelesaikan gagasannya. Meski bahasa yang digunakan dalam buku ini terkesan akademik-intelektual, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas, terutama bagi mereka yang sedang mendalami dunia dakwah dan mereka yang ingin memahami Islam dan tuntunan idealnya. Selamat membaca.

Peresensi adalah Ashimuddin Musa, alumnus Instika, Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur.

Identitas Buku
Judul: Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara
Penulis: Aguk Irawan MN
Penerbit: Pustaka IIMaN
Tahun terbit: 2018
Tebal: 462 halaman.
ISBN: 978-602-8648-29-5
Ahad 26 Mei 2019 13:0 WIB
Tangisan Santri Bukan Sembarangan Tangisan
Tangisan Santri Bukan Sembarangan Tangisan
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut pesantren sebagai subkultur. Ya, memang, kehidupan santri, meskipun pada umumnya sama dengan komunitas lain, tapi memiliki ciri khas tersendiri. Dan tentu saja memiliki cara pandang tersendiri pada dunia dan kehidupan yang digelutinya. Hal itu karena mereka menerima pelajaran dan pendidikan dari bimbingan kiai atau ajengan yang bersumber dari naris naskah-naskah klasik Islam atau kitab kuning. 

Pandangan hidup seorang santri bisa tergambar pada cerpen-cerpen karya Usep Romli HM yang pernah mengalami kehidupan pesantren di Garut, Jawa Barat. Misalnya pada cerpen dalam bahasa Sunda Ceurik Santri (tangisan santri). Cerpen tersebut berada di dalam buku kumpulan cerpen dengan judul sama yang diterbitkan pertama kali oleh Rahmat Cijulang tahun 1985. Kemudian diterbitkan ulang oleh Geger Sunten 2007. 

Dari kisah yang berada di cerpen tersebut, terutama Ceurik Santri tidak lepas dengan situasi Indonesia pada masa itu, yaitu Orde Baru, terutama pada isu pembangunan yang digalakkan Presiden Soeharto. Bahkan kemudian ia mendapat sebutan bapak pembangunan. Pada masa itu, setiap orang harus bahu-membahu dalam pembangunan, tanpa kecuali. Semua harus produktif.

Nah, persoalannya, sebagaimana ditulis dalam beberapa artikel penulis NU kawakan, H Mahbub Djunaidi, kalangan santri dianggap tidak turut serta dalam pembangunan itu dan tidak produktif. Namun anehnya, kata Mahbub, kalangan siswa dan mahasiswa tidak disoroti sebagaimana santri. Padahal kedua-duanya dalam taraf tertentu, sama, sebagai pelajar. 

Nah, karena itulah, sebagaimana dalam cerpen tersebut, kalangan pemerintah mengirimkan bibit ayam ras dan alat-alat pertanian untuk sebuah pesantren di sebuah desa. Ajengan di pesantren tersebut tidak menolaknya. Namun, ia pergi ke luar kota, dengan alasan menghadiri haul di Jawa selama empat hari. Begitu juga kedua putranya, tidak bisa hadir. Keduanya pergi ke Jakarta hendak mengambil kitab kiriman dari Tanah Suci Mekkah. 
Serah terima benda tersebut dipercayakan ajengan kepada para santrinya. 

Pada saat musyawarah kepanitiaan serah terima, terjadi perdebatan sengit tentang manfaat dan mudaratnya jika menerima benda sumbangan tersebut. Namun, pada akhirnya mereka sepakat menerima sesuai permintaan ajengan. Disusunlah kepanitiaan. Salah seorang santri yang mendapat tugas dalam kepanitiaan tersebut adalah Sarip. Dia sebagai pembawa acara. Namun, saat waktu acara dimulai, Sarip menghilang.  

Santri vs Ateis
Sarip menghilang dari acara karena yang datang adalah orang yang sangat dikenalinya, yaitu Gunawan. Gunawan adalah temannya saat di Sekolah Menengah Atas. Keduanya berselisih paham tentang agama Islam yang menurut Gunawan sangat ketinggalan zaman, tidak cocok dengan zaman modern karena agama melarang pergaulan bebas dan minum-minuman keras. Sarip menentang keras pendapat Gunawan tersebut.

"Euh ana kitu, lain Islam anu teu modern atawa teu luyu jeung norma-norma jaman moderen, tapi silaing anu tinggaleun jaman. Tapi silaing anu teu luyu jeung jaman moderen." 

Terjemahan bebasnya:

"Bukan begitu, bukan Islam tidak sesuai dengan kondisi kekinian dan norma-norma zaman modern, tapi kamu ketinggalan zaman. Kamu yang tidak sesuai dengan zaman modern".

"Naha?"

Terjemahannya:

"(Kenapa)?"

"Yeuh pamabokan, pergaulan bebas alias perjinahan teh kuno. Kuno pisan. Samemeh Islam gumelar, kabeh pangeusi dunya, di Arab, di Rumawi, di Persia,  geus ngabaju kana inuman keras, ngabaju kana pergaulan bebas. Torojol datang Islam anu disebarkeun ku Nabi Muhammad SAW, bangsa inuman keras, bangsa lacur perjinahan, dicaram." 

Terjemahan bebasnya:

"Mabuk-mabukan dan pergaulan bebas alias perzinaan itu adalah perilaku kuno. Sangat kuno. Sebelum Islam datang, kebanyakan di dunia ini seperti di Arab, Romawi, Persia, melakukan minum-minuman keras dan pergaulan bebas. Ketika datang Islam yang disebarkan Nabi Muhammad SAW, tindakan semacam itu dilarang."

Gunawan banyak teman yang kemudian mengamini pemikirannya karena ia memiliki uang banyak. Teman-temannya sering diajak makan bareng atau ikut berangkat atau pulang sekolah menggunakan mobilnya. Sementara teman-temannya yang lain banyak yang tidak mau tahu menahu perihal itu. bahkan gurunya sendiri. Padahal menurut sarip, Gunawan mengandung pemikiran ateisme.  
ng." 

Namun, menjadi pergolakan batin Sarip adalah ketika Gunawan justru datang ke pesantren untuk menyerahkan sumbangan ayam ras dan cangkul. Bahkan ia berpidato yang isinya memuji Islam, santri, pesantren. Sarip yang mengetahui masa lalunya, menyingkir dari pidato tersebut. Ia tak mau menemuinya. Dan di malam harinya, dalam doa-doa selepas tahajudnya, ia menangis. Ia ceurik. Ia telah meninggalkan tugas dan merasa terbebani dengan sikapnya yang berburuk sangka. Sebab, ia tidak bisa memastikan apakah pidato Gunawan itu kamuflase atau memang sudah berubah dari masa lalunya.

Ya Allah, mugia anjeun henteu nibakeun siksa ka abdi sadaya saupama abdi kaliru. Mugia anjeun henteu ngabeungbeurat sapertos anu ditibakeun ka jalmi-jalmi saheulaeun abdi. Mugia anjeun ngalebur dosa-dosa abdi, ngaping, ngajaring abdi sadaya sareng mugia Anjeun maparin rahmat ka abdi sadaya. Paparin abdi kakiatan sareng pitulung kangge ngungkulan reka perdaya jalmi-jalmi kapir. Amin ya rabbal alamain. 

Terjemahan bebasnya:

Ya Allah, semoga Engkau tidak menimpakan siksa kepadaku seumpama aku keliru. Semoga Engkau tidak menimpakan hal itu sebagaimana yang menimpa orang-orang terdahulu. Semoga Engkau menghapus dosa-dosaku, menjaga dan memberi rahmat kepadaku. Berikan kekuatan dan pertolongan dari kejahatan orang-orang kafir. Amin. 

Kumpulan cerpen ini, sebagaimana cerpen-cerpen Usep Romli HM, sangat enak dibaca, tentunya bagi orang yang memahami bahasa Sunda. Usep terampil menyisir batin orang pesantren. Di samping ia pernah ada di dalamnya, ia termasuk penulis kahot tidak hanya dalam bahasa Sunda, melainkan bahasa Indonesia. Hal itu bisa dibaca juga dalam novelnya Bentang Pasantren. 

Namun, dalam Ceurik Santri ini ada sedikit kejanggalan, yaitu anak SMA yaitu Gunawan, telah terbiasa membaca pemikiran tokoh-tokoh Barat yang lumayan susah dipahami seperti Sartre, Nietzsche. Dan anak-anak itu mampu memahami isinya. Sementara di pihak Sarip juga sepertinya sudah memahami Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Maududi, dan lain-lain. Mungkin jika saat ini sangat mungkin, tapi ini terjadi tahun 1980-an. Namun demikian, sebagai satu kasus, anak SMA di masa itu yang mampu seperti itu bukanlah yang mustahil. 


Peresensi Abdullah Alawi, Nahdliyin yang kini tinggal di Bandung

Data Buku
Judul         :  Ceurik santri
Pengarang        :Usep Romli H. M.
Penerbit         Rahmat Cijulang, 1985
Tebal         88 halaman

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG