IMG-LOGO
Daerah

Pejuang NU Pandeglang Itu Kini Telah Tiada

Rabu 10 Juli 2019 11:45 WIB
Bagikan:
Pejuang NU Pandeglang Itu Kini Telah Tiada
Jakarta, NU Online
Keluarga Besar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pandeglang tengah berduka. Kiai sepuh yang juga Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pandeglang-Banten tahun 2006-2011, KH Tb Zainal Arifin telah kembali ke rahmatullah pada Senin (8/7) malam. 

Wafatnya pejuang NU di tanah jawara itu sontak mengagetkan masyarakat Banten, terutama pihak keluarga kerabat dan santri Pesantren Huffadz Manbaul Qur’an, Sukahati-Labuan. Sebagai seorang ulama, Kiai Zainal Arifin memiliki banyak kontribusi yang tidak akan dilupakan oleh keluarga, pesantren, masyarakat dan bangsa terutama dalam hal mendidik dan membina masyarakat dalam bidang pemahaman agama. 

Dedikasinya yang tinggi untuk membela masyarakat dan umat terutama di Kabupaten Pandeglang membuat masyarakat semakin kehilangan sosok murah senyum ini. Tidak aneh jika sejak beredar informasi wafatnya pengasuh pesantren Huffadz Manbaul Qur’an ini, kediamannya di Sukahati langsung ramai dikunjungi tokoh, pejabat dan masyarakat yang bertakziah.

Salah seorang kerabat, Aziz Nurdin, mengatakan KH Tb Zainal Arifin merupakan sosok yang menjadi panutan masyarakat. Sosoknya yang tekun, shaleh  dan murah senyum membuat masyarakat semakin dekat dengannya. 

Semasa hidup,lanjut Aziz Nurdin, KH Tb Zainal Arifin memiliki dedikasi yang tinggi terhadap umat terutama untuk Nahdlatul Ulama. Beliau penyemangat para pengurus NU di Pandeglang. Bahkan, beliau rela mengorbankan segalanya demi membela umat dan NU. 

“KH Tb Zainal Arifin ini sosok yang shaleh, yang santun tokoh yang luar biasa, orangnya murah senyum,” katanya dihubungi NU Online di Jakarta, Rabu (10/7). 

Ia menuturkan, sikapnya kepada santri sangat ramah jarang sekali marah, cara mengajarnya mudah dipahami sehingga santri yang belajar padanya merasa betah. 

“Hal yang bisa diteladani oleh seluruh warga NU dari sosok beliau, ia tegas memiliki komitmen yang kuat dalam membela umat dan NU. Ia pernah bilang bahwa dari dulu saya NU maka sampai kapanpun saya NU,” tuturnya. 

Selamat jalan pejuang NU, semoga amal ibadahnya diterima disisi-Nya, Amin. Alfaatihah. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Rabu 10 Juli 2019 23:0 WIB
Ciri-ciri Manusia Miskin Secara Mental
Ciri-ciri Manusia Miskin Secara Mental
Ketua LAZISNU Jombang, Ahmad Zainudin (pegang mik)
Jombang, NU Online
Ketua Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur Ahmad Zainuddin menyebut kaum muslimin tidak boleh miskin mental, namun harus terus optimis menjalani hidup ini dengan bahagia dan senang.

Ia menegaskan, ada empat hal ciri manusia yang memiliki sifat miskin mental. Empat hal tersebut bila masih hinggap dalam pikiran dan hati seseorang maka bisa dipastikan orang tersebut susah diajak berpikir maju serta sukses.

"Kata almarhum ayah saya, boleh miskin harta tapi jangan miskin mental. Karena miskin harta itu takdir tapi miskin mental itu penyakit," katanya kepada NU Online, Rabu (9/7).

Lebih lanjut ia menjelaskan, miskin mental yang pertama yaitu suka bergaya dan bermuka melas agar dikasihani oleh orang lain. Sering sekali seorang pria dan utamanya perempuan memasang wajah sedih, kusam dan bingung di hadapan temannya dengan harapan menarik simpati.

"Setelah berhasil menarik simpati baru lah mereka mengajukan bantuan. Bantuan tersebut bisa berupa tenaga, pikiran, dan uang. Semisal, seorang pria ingin membeli handphone baru namun uangnya kurang," jelasnya. 

Lalu ia menemui temannya, lanjutnya dengan wajah kusut dan menceritakan jika handphone miliknya sudah jelek dan ingin beli yang baru. Dan ia bermaksud meminjam uang kepada sahabatnya tersebut.

"Miskin mental itu pertama macak melas biar dikasihani orang dan mudah nelongsoan (merana, merasa paling sedih)," ungkap pria yang biasa disapa Gok Dien ini.

Ciri manusia yang miskin mental selanjutnya yaitu mudah merasa terdzolimi padahal tidak ada yang berusaha menyakitinya. Sikap ini biasanya ditunjukkan oleh seseorang yang ingin mendapatkan perhatian dari orang lain. Orang yang berkarakter seperti ini umumnya pandai mendramisir sebuah kejadian.

"Mudah merasa didzolimi padahal tidak ada yang mendzolimi itu juga tanda orang bermental miskin," jelas Gok Dien.

Ia menambahkan ciri terakhir seseorang yang miskin karakter itu adalah malas kerja, tapi anehnya punya banyak keinginan yang aneh-aneh. Terkadang omongannya dilebih-lebihkan atau berangan jauh. 

Bagi seseorang yang memiliki empat karakter ini maka dianjurkan segera bertaubat dengan cara menebarkan senyuman dalam setiap proses hidup, tidak mudah mengeluh dalam melewati duri-duri kehidupan. 

"Pandai mengelola emosi, banyak ide dan pastinya mudah bergaul. Bila masih bingung, baca berbagai buku atau internet tentang makna hidup. Sering ada orang yang malas bekerja tapi waktu ngomong kepada temannya punya banyak keinginan. Ini ciri orang miskin secara mental," tutup Gok Dien. (Syarif Abdurrahman/Muiz
Rabu 10 Juli 2019 22:0 WIB
Tantangan kian Beragam, LDNU Jombang Kuatkan Kaderisasi IT
Tantangan kian Beragam, LDNU Jombang Kuatkan Kaderisasi IT
LDNU Mojoagung Jombang Kuatkan kaderisasi di IT
Jombang, NU Online
Lahan dakwah kian mudah dan luas, ini lantaran perkembangan teknologi informasi yang memicu terhadap semakin mudah dan luasnya lahan dakwah tersebut. Meski demikian, kondisi ini pula sebetulnya menjadi tantangan tersendiri bagi para pendakwah, terlebih dai yang berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU).

"Kondisi yang demikian itu juga satu sisi menuntut para dai harus ikut berpartisipasi dalam perkembangan teknologi, tidak hanya melihat dan terbuai dengan perkembangan teknologi yang sudah melahirkan beragam alat canggih itu. Namun para dai harus melebur langsung dalam perkembangan itu sendiri," ujar Ketua LDNU Mojoagung Jombang H Rojikin.

Persoalan ini mengemuka dalam diskusi Pengurus Lemabaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sayap NU dalam bidang dakwah ini menilai betapa pentingnya para dai NU juga memanfaatkan media sosial yang ada seperti saat ini. 

"Berdakwah sudah tidak lagi hanya melalui forum formal tatap muka seperti pada umumnya, namun juga bisa mengoptimalkan media sosial sebagai lahan dakwah," ujarnya, Rabu (10/7).

"Masyarakat saat ini, hampir semuanya sudah memanfaatkan media sosial. Ini juga kesempatan bagi para dai NU untuk melakukan dakwah di media sosial itu," imbuhnya.  

Di kepengurusan LDNU Mojoagung sendiri diakuinya sudah mulai merambah memanfaatkan media sosial. LDNU juga sudah melakukan kaderisasi dakwah digital atau informasi dan teknologi (IT). Diharapkan mereka yang sudah berkompeten dalam dakwah digital mampu mewarnai media sosial dengan ajaran-ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

"LDNU di tingkat MWC ini harus menjawab persoalan yang signifikan, termasuk di media sosial. Selain juga dibutuhkan kaderisasi juga penguatan sarana untuk bisa bergerak pada bidang tersebut," jelasnya.

Ia menegaskan, saat ini dakwah di dunia digital masih kurang masif di tubuh NU. Untuk itu, kaderisasi dakwah digital yang masif pula adalah kunci mengejar ketertinggalan.

"Era sudah berkembang pesat, semua serba instan dan dikonsumsi menjadi bahan untuk pengetahuan masyarakat dengan berkembangnya teknologi. Maka, perlu menguatkan peran dari kaderisasi pada basis IT," ucapnya.

Penegasan yang sama juga disampaikan salah seorang Pengurus LDNU Mojoagung, Amin Al-Akbar. Menurut dia media sosial sekarang ini memang menjadi wadah yang simpel dan efektif dalam melakukan dakwah. 

"Sebagai santri harus melek teknologi. Bisa membuat pengajian virtual, sekaligus Pengurus LDNU agar turut mengasah kreatifitasnya untuk bisa mengemas agenda spiritual ini bisa dinikmati khalayak umum melalui media sosial," ungkapnya.

Ia mengaku dalam waktu belum lama ini, LDNU Mojoagung sudah membentuk tim khusus yang membidangi IT, sekaligus menjaring para kreator-kreator lain untuk ikut sinergi dalam mengawal basis IT di tingkat MWCNU dan dari sejumlah badan otonom (Banom) NU. (Syamsul Arifin/Muiz
Rabu 10 Juli 2019 21:15 WIB
BLK Kendari Bidik Usaha Hidroponik Jadi Obyek Wisata
BLK Kendari Bidik Usaha Hidroponik Jadi Obyek Wisata
Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Mobile Training Unit Teknisi (MTU) Kejuruan Hidroponik di BLK Kendar.
Baubau, NU Online
Setelah mengikuti pendidikan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kendari, diharapkan 13 peserta pelatihan kejuruan tanaman Hidroponik mampu membudidayakan dan mengembangkan usaha hidroponik menjadi obyek wisata.

Harapan tersebut disampaikan oleh Kepala Kelurahan  Kaisabu, Muslimin saat menutup Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Mobile Training Unit Teknisi (MTU) Kejuruan Hidroponik di BLK Kendari, Sultra, Rabu (10/7).

"Kami harap peserta pelatihan akan mengembangkan usaha ini menjadi obyek wisata, karena sudah banyak tanaman budidaya yang tumbuh,  seperti stroberi dan tomat buah," ujar Muslimin. 

Muslimin mengatakan berkurangnya lahan pertanian membuat orang beralih ke Hidroponik karena sistem ini tidak membutuhkan lahan yang luas seperti pertanian konvensional. "Selain itu, tanaman hidroponik juga memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi karena lebih bersih, sehat, dan bebas pestisida," katanya.

Kasi Pemberdayaan BLK Kendari Nurjayanti menambahkan selama pelatihan, peserta diberikan materi tentang pengenalan tanaman hidroponik sekaligus keunggulan menanam tanaman hidrponik dan melatih peserta untuk menanam tanaman tersebut.

"Peserta mempraktekan langsung bagaimana cara menanam, membuat instalasi hidroponik sekaligus mengolah hasil tanaman hidroponik tesebut menjadi makanan olahan dan kemasan. Diharapkan peserta bisa menerapkan di tiap wilayahnya masing-masing dan membudidayakannya," kata  Kasi Pemberdayaan BLK Kendari Nurjayanti didampingi oleh Kasi pelatihan dan Pemagangan Disnakertrans Kota Baubau Jayadi. (Red: Kendi etiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG