IMG-LOGO
Daerah

Ma'arif dan IPNU-IPPNU Jombang Siap Dirikan 250 Pimpinan Komisariat

Kamis 11 Juli 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Ma'arif dan IPNU-IPPNU Jombang Siap Dirikan 250 Pimpinan Komisariat
Kerja sama LP Ma'arif NU, IPNU-IPPNU dan Kemenag Jombang.
Jombang, NU Online 
Surat instruksi Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama Jawa Timur untuk mengubah Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) menjadi Komisariat IPNU-IPPNU direspons cepat. Hal itu sebagaimana dilakukan Pengurus Cabang (PC) LP Ma'arif NU dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Jombang.

Langkah yang dilakukan PC LP Ma'arif dengan PC IPNU-IPPNU Jombang dalam instruksi itu adalah membentuk kepengurusan di sekolahan yakni Pimpinan Komisariat (PK) secara masif. Ditargetkan akan berdiri setidaknya 250 kepengurusan IPNU-IPPNU di sekolah. 

"PC LP Maarif NU Jombang siap dirikan 250 Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU Pada lembaga atau satuan pendidikan dibawah NU Jombang," kata Ketua PC LP Ma'arif NU Jombang, Nur Khozin, Kamis (11/7).

Ia memandang, dengan pendirian kepengurusan IPNU-IPPNU di sekolah secara menyeluruh, nama OSIS akan perlahan berganti, khususnya sejumlah sekolah maupun madrasah yang berdiri di bawah koordinasi LP Ma'arif NU.

Ada banyak manfaat yang akan didapat siswa dan lemabaga pendidikan saat OSIS berganti PK IPNU-IPPNU. Di antaranya ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah akan semakin kuat. 

“Siswa maupun sekolah secara otomatis akan dikenakan ajaran-ajaran Aswaja an-Nahdliyah dengan sempurna, sehingga ajaran-ajaran yang selama ini dinilai melenceng dengan prinsip dan nilai Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin cukup sulit untuk bisa masuk ke sekolah,” ungkapnya.

Sejumlah hal akan dilakukan. "Dimulai dari pembentukan atau pendirian Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU dan berlanjut kegiatan Makesta, Lakmud dan seterusnya, sehingga memastikan terjadi penguatan pada proses pembelajaran Aswaja," jelasnya.

Ajaran Aswaja an-Nahdliyah di sekolah saat ini memang belum begitu kuat. Dibutuhkan pola atau formula yang mendukung terhadap bagaimana bisa menjadi ajaran yang harus bahkan wajib diajarkan kepada para siswa. Dengan pendirian PK IPNU-IPPNU itu diharapkan ajaran-ajaran Aswaja an-Nahdliyah lebih masif di sekolah maupun madrasah.

Kemarin, Rabu (10/7), PC IPNU-IPPNU, PC LP Ma'arif NU serta Kementerian Agama (Kemenag) setempat melakukan kerja sama di Aula Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang. Hal tersebut terkait pendirian PK IPNU-IPPNU di sejumlah sekolah di Jombang. 

Hal ini menurut Ketua PC IPNU Jombang, Moh Ishomuddin Haidar adalah upaya serius dalam membumikan ajaran Aswaja an-Nahdliyah di lingkungan sekolah. Kemenag sebagai institusi resmi negara yang salah satu perannya menaungi madrasash juga sudah mendukung terhadap pendirian PK IPNU-IPPNU.

"Sebagai organisasi keterpelajaran, IPNU-IPPNU siap bersinergi dengan LP Ma'arif NU yang menaungi lembaga sekolah NU se-Jombang," tandasnya. (Syamsul Arifin/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Kamis 11 Juli 2019 23:15 WIB
Sikap Wasathiyah NU Dalam Teori 'Kasab'
Sikap Wasathiyah NU Dalam Teori 'Kasab'

Jember, NU Online  
Salah satu ciri khas sekaligus keunggulan NU adalah penekanan sikap wasthiyah (moderat) yang merupakan bagian dari ajaran Islam Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). Tidak hanya dalam menyikapi persoalan kebangsaan sebagaimana selama ini kerap diperbicangkan. Namun dalam  masalah tauhid, sikap moderat juga digunakan.

“Dalam masalah apapun, NU selalu mengambil peran wasathiyah, termasuk dalam terori kasab (usaha),” ucap Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin saat mengisi pengajian Aswaja di aula kantor PCNU Jember, Selasa (9/7).malam.

Menurutnya, dalam teori kasab, terdapat dua kelompok besar yang pemikirannya ‘saling’ berhadapan satu sama lain. Yaitu kelompok Qodariyah dan Jabariyah. Menurut Jabariyah, manusia tidak punya kekuatan. Manusia tak ubanya bagai wayang yang bisa bergerak jika digerakkan oleh dalangnya, sehingga tak punya kreasi, karena kekutannya berada di tangan sang dalang (Allah).

Ironisnya, dengan pemahaman yang demikian itu, kelompok Jabariyah pernah mengambil legitimasi terhadap perbuatan sewenang-wenang penguasa yang disebutnya semua adalah atas kehendak Allah.

“Jadi meskipun penguasa berbuat lalim masih ditoleransi dengan menyandarkan pada pemahaman bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah,” terangnya.

Sedangkan kelompok Qodariyah memandang manusia sebagai pelaksana tunggal dalam memanfaatkan kekuatannya yang diberikan oleh Allah. Jadi apapun yang dilakukan oleh manusia  tidak ada hubungannya dengan kehendak Allah, karena perbuatan manusia adalah urusan manusia sendiri.

“Nah, NU dengan Aswajanya berada di antara dua kelompok ini,” tukasnya.

Gus Aab, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa manusia memang diberi kebebasan untuk melakukan apapun, namun kekuatannya tetap di bawah bayang-bayang  kekuasaan Allah. Sehingga usaha apapun yang dilakukan, dan apapun yang terjadi bukan semata-mata karena usaha manusia tapi juga ada campur tangan kehendak Allah.

Dikatakannya, ada rumusan yang sangat elok dari Abul Hasan  Al-Asy’ari terkait dengan teori kasab. Al-Asy’ari mengimbau agar manusia selalu percaya kepada kekuatan dirinya tanpa mengabaikan kemahakuasaan Allah, dengan kalimat yang bijak: Jangan pikirkan sejauh mana pengaruh takdir terhadap usaha yang akan anda lakukan, dan jangan pula anda berpikir sejauh mana pengaruh usaha yang anda lakukan terhadap hasil yang akan dicapai.

“Jika usaha menggunakan format pemikiran Al-Asy’ari, maka manusia tak akan stres jika usahanya gagal, dan tak akan sombong jika usahanya berhasil,” pungkasnya. (Aryudi AR)


Kamis 11 Juli 2019 22:30 WIB
Terbiasa Disiplin, Santri Bisa Jadi Tentara
Terbiasa Disiplin, Santri Bisa Jadi Tentara
Heri (dua dari kiri) santri yang jdi tentara
Subang, NU Online
Lulusan pesantren tidak semuanya akan menjadi ustadz atau kiai, seleksi alam akan membawa santri masuk ke dalam berbagai profesi yang berbeda, satu di antaranya di bidang militer, bahkan santri sangat berpotensi berkarir di dunia militer karena kebiasaan disiplin sudah diterapkan di pesantren.

"Alhamdulillah saat Heri (santrinya yang jadi TNI) ikut seleksi dan latihan di TNI, tadi dia bilang tidak terlalu kaget dan dianggap sudah biasa karena kebiasaan disiplin ketika mondok disini," ungkap Kiai Musyfiq.

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren Attawazun Kalijati Subang, Jawa Barat KH Musyfiq Amrullah saat menerima kunjungan alumni pesantrennya yang saat ini menjadi anggota TNI dan berdinas di Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Rabu (10/7).

Dijelaskan, santri punya nilai lebih ketika mengikuti seleksi militer baik di institusi TNI maupun Polri karena santri memiliki nilai religius yang memang pada dasarnya tujuan utama santri adalah tafaqquh fiddin (memahami dan mendalami ilmu-ilmu agama).

"Peran santri yang notabene disiapkan untuk penerus ulama, kini santri bisa hadir dan dibutuhkan di berbagai kelompok profesional akibat tuntutan zaman, termasuk dalam segmen militer," tandas mantan Ketua PCNU Subang dua periode itu.

Karena, kata dia, santri dipandang sudah terbiasa dalam menjalani kehidupan yang disiplin, berkarakter, dan mandiri. Maka wajar kalau dunia militer membutuhkan sosok santri masuk dalam komunitasnya.

Di semua pesantren, tambah Wakil Katib PWNU Jawa Barat itu, para santri dilatih disiplin mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, kebiasaan disiplin inilah yang akan membentuk karakter dan potensi santri yang akan menjadi bekal hidupnya di masa depan.

"Sebenarnya setiap manusia itu punya potensi di berbagai bidang, tinggal bagaimana para orangtua mengetahui dan memoles potensi anaknya itu," ungkapnya.

Lebih lanjut Kiai Musyfiq mengutip salah satu Hadits Nabi yang menyatakan bahwa semua manusia dilahirkan dalam keadaan 'fitrah' yang ditafsirkan sebagai lingkungan dan potensi sehingga orangtua ditantang untuk menggali dan memoles potensi tersebut agar bisa berkilau sebagaimana batu berangkal yang diolah dan dipoles jadi batu akik yang punya karakter dan nilai.

"Fitrah ada juga yang mengartikannya sesuatu yang kosong, sehingga bisa dibentuk apapun oleh lingkungannya, tapi sebagian lagi ada juga yang mengartikannya adalah potensi," ujarnya.

Potensi ini, lanjut dia, diberikan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam surat At-Tin fi ahsani taqwim, namun demikian potensi ini akan terbenam dan tidak akan muncul jika dibiarkan begitu saja karena tidak ada yang menggali dan memolesnya. 

"Jika orangtua belum berhasil mengetahui potensi dan karakter anaknya, masukkanlah ke pesantren Insyaallah seiring berjalannya waktu potensi anak tersebut akan terlihat," tutupnya. (Aiz Luthfi/Muiz)
Kamis 11 Juli 2019 22:0 WIB
Pahlawan Demokrasi di Pontianak Terima Bantuan dari Gusdurian
Pahlawan Demokrasi di Pontianak Terima Bantuan dari Gusdurian
Pontianak, NU Online
Gelaran Pemilihan Umum atau Pemilu telah usai. Namun ada yang tersisa dari pesta demokrasi tersebut, yakni gugurnya sejumlah petugas yang kemudian disebut sebagai pahlawan demokrasi. 

Sebagai bentuk kepedulian, Jaringan Gusdurian menyalurkan santunan untuk keluarga penyelenggara Pemilu yang gugur dalam tugas. Kali ini bantuan disalurkan kepada ahli waris di jalan Komyos Sudarso, gang Kelapa 1 No.01 Kecamatan Pontianak Barat, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (10/7). 

“Ini adalah sebagai komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi, Jaringan Gusdurian turut serta mendukung penyelenggaraan Pemilu 2019 secara damai dan demokratis sesuai prnsip yang diajarkan Gus Dur,” kata Jay Akhmad. 

Koordinator Sekretaris Nasional atau Seknas Jaringan Gusdurian ini mengemukakan sangat peduli dengan berita gugurnya sejumlah petugas Pemilu. “Mereka adalah para pejuang demokrasi yang gugur dalam menjalankan tugas, kami turut berempati dan berbela sungkawa,” ungkapnya. 

Sebagai bentuk empati, Seknas bekerja sama dengan kitabisa.com, telah membentuk relawan untuk menyalurkan bantuan kepada ahli waris para penyelenggara Pemilu yang meninggal dalam menjalankan tugas. 

“Kami akan menyalurkan santunan ke 51 korban di 34 daerah atau  kabupaten di seluruh Indonesia,” jelasnya. 

Sedangkan Mohammad selaku Koordinator Jaringan Gusdurian Pontianak menyampaikan bahwa dalam menjalankan tugas, relawan melakukan pendataan korban guna penyaluran bantuan. Juga pendokumentasian selama peyaluran bantuan, bertindak atas nama dan menjaga nama baik Jaringan Gusdurian. 

“Untuk area Pontianak, kami telah melakukan penyaluran,” kata Mohammad.

Dirinya terus berkoordinasi dengan Seknas maupun relawan di daerah agar penyaluran ini berjalan optimal dan tepat sasaran. 

“Kami berharap semoga para keluarga yang ditinggalkan bisa diberikan kekuatan dan ketabahan pasca ditinggalkan almarhum ataupun almarhumah yang gugur dalam bertugas,” tuturnya. 

Menutup paparannya, komunitas Gusdurian Pontianak  menyatakan bahwa santunan ini tentunya tidak bisa mengganti kerugian imateril keluarga.

“Namun kami berharap hal ini bisa menjadi pengingat bahwa duka keluarga yang ditinggalkan merupakan duka kita semua,” tandasnya.

Suharto selaku orang tua almarhumah Wulan yakbni Panwascam Pontianak Barat mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan. 

“Kami juga kagum kepada sosok Gus Dur sebagai mantan presiden yang sangat memerhatikan masyarakat kecil dan memberikan teladan kepada masyarakat,” kata Suharto. Dirinya juga mendoakan Komunitas Gusdurian agar semakin bermanfaat untuk bangsa, negara dan agama. (Lulu/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG