IMG-LOGO
Nasional

Alhamdulillah, Berkat NU Eti Terbebas dari Hukuman Mati di Arab Saudi

Kamis 11 Juli 2019 19:15 WIB
Bagikan:
Alhamdulillah, Berkat NU Eti Terbebas dari Hukuman Mati di Arab Saudi
LAZISNU serahkan bantuan untuk Eti melalui Dubes Indonesia untuk Arab Saudi (tengah)
Jakarta, NU Online
Akhirnya, Eti Sumiati, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terancam hukuman mati di Arab Saudi bisa bernapas lega. Perempuan asal Majalengka, Jawa Barat itu dinyatakan bebas setelah PBNU, melalui Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) ikut menyumbang Rp 12,5 miliar untuk membayar tebusan yang diminta majikan Eti di Arab Saudi.  

Sumbangan itu dihimpun LAZISNU selama tujuh bulan terakhir dari berbagai dermawan dan santri di pondok pesantren. Dari jumlah tebusan yang diminta majikan Eti, LAZISNU mampu menyumbangkan 80 persen tebusan. 

Berkat sumbangsih para dermawan yang dihimpun LAZISNU kini mimpi Eti bebas dari ancaman hukuman mati selama 19 tahun bisa terwujud. Eti merupakan TKI yang bekerja di Kota Taif, Arab Saudi. Pada 2001 lalu, ia dituduh menjadi penyebab majikan sakit dan meninggal dunia. 

Atas peristiwa itu keluarga majikan menuntut hukuman mati atau qishas diberikan kepada Eti. Sebagai bentuk kepedulian NU, PP LAZISNU berinisiatif menghimpun dana khusus untuk pembebasan Eti. 

Ketua Pengurus Pusat LAZISNU, H Achmad Sudrajat, mengucapkan terima kasih kepada seluruh dermawan yang menyumbangkan rezekinya. Bagi Sudrajat, kebersamaan dan sinergitas sesama anak bangsa khususnya warga NU bisa mejadi solusi kemanusiaan. 

“Penggalangan dana ini menunjukan kita bisa memberikan yang terbaik jika kita sadar akan pentingnya sinergitas ini,” katanya kepada NU Online, Kamis (11/7). 

Ia megaku akan terus memperkuat manajemen team dan jaringan sehingga banyak lagi masyarakat Indonesia yang terbantu. Selain itu, ia mengajak kepada masyarakat Indonesia untuk bershadaqah untuk kemandirian ekonomi. 

Dengan begitu akan banyak dampak positif yang diterima bangsa Indonesia salah satunya mampu membebaskan tahanan TKW asal Indonesia. 

Ia mengungkapkan, sudah sering menggalang dana untuk TKW namun menghimpun dengan biaya yang besar kali pertama dilakukan. Kedepan, pihaknya terus memproses akun khusus untuk membantu TKI yang bermasalah.  

Seperti diketahui, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Arab Saudi membebaskan seorang TKI asal Majalengka, Eti Bt Toyyib Anwar, dengan tebusan (diyat) 4.000.000 Riyal Saudi atau setara dengan Rp 15,2 M.  Eti terancam hukuman mati jika tidak mampu membayar sejumlah SR 4.000.000 (empat juta riyal Saudi) atau setara dengan Rp 15.200.000.000 (lima belas miliar dua ratus juta). (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 11 Juli 2019 23:30 WIB
Kiai Ma'ruf dan Kiai Said Hadiri Haulnya Mbah Wahab
Kiai Ma'ruf dan Kiai Said Hadiri Haulnya Mbah Wahab
foto: ilustrasi
Jombang, NU Online
Puncak peringatan haul Ke-48 KH Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) tahun ini akan dihadiri oleh Wakil Presiden RI terpilih KH Ma'ruf Amin dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj. Hadir juga kiai sepuh NU KH Maimun Zubair dan Gubenur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Ketua Panitia H Abdul Wahab Rochim menjelaskan, sejumlah persiapan sudah dilakukan pihaknya. Termasuk agenda kegiatan sebelum acara pengajian umum. 

Haul Mbah Wahab akan ditempatkan di halaman Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang, Jawa Timur pada Ahad (14/7) malam. Saat ini panitia terus melakukan koordinasi demi kelancarannya.

"Insya Allah yang mengisi puncak haul adalah Kiai Ma'ruf Amin, Kiai Said, Mbah Maimun dan Gubenur Jatim Hj Khofifah," katanya Kamis (11/7). 

Pria yang biasa disapa Gus Wahab ini menjelaskan, haul tahun ini akan lebih meriah dan tambah ramai dibandingkan sebelumnya. Hal ini karena rangkaian acara di mulai Jumat (12/7). Pada tanggal tersebut ada acara khatmil Qur'an dan manaqib kubra. Acara khatmil Qur'an dilaksanakan di ndalem kesepuhan dan manaqib kubra bertempat di makam Mbah Wahab.

"Kami ingin melibatkan masyarakat umum dan alumni dalam acara haul kali ini. Maka banyak rangkaian acara yang bersifat umum sebelum puncak haul," tambahnya.

Dikatakan, acara selanjutnya yaitu pengobatan gratis untuk umum dan santunan buat masyarakat yang lanjut usia (lansia). Acara tersebut dilakukan pada Sabtu (13/7). Di hari yang sama ada juga acara festival Ishari.

"Pengobatan gratis dilakukan di klinik Ar-Rahmah dan santunan serta banjari di halaman pondok," beber Gus Wahab.

Acara puncak sendiri pada Ahad (14/7) dimulai dari seminar ekonomi yang bertempat di Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah Tambakberas. Dilanjutkan doa bersama para santri dan alumni di makam Mbah Wahab setelah shalat Asar. Dan malamnya, acara pengajian umum di mulai setelah shalat Isya di halaman Pesantren Bahrul Ulum.

Diharapkan nahdliyin datang lebih awal agar tidak terjebak macet dan antrian panjang. Karena pengalaman haul Mbah Wahab pada tahun sebelumnya selalu ramai dan dipadati jamaah dari berbagai wilayah, termasuk tentu saja para alumni PPBU.

"Bagi masyarakat yang mau ikut pengajian umum dan acara lainnya maka parkir kendaraannya di Gedung Serbaguna Hasbullah Said. Bisa langsung ke sana dan tidak parkir sembarang tempat, khawatir macet," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz

Kamis 11 Juli 2019 21:35 WIB
Kemnaker Minta Perusahaan Segera Terapkan Standar K3 Baru
Kemnaker Minta Perusahaan Segera Terapkan Standar K3 Baru
Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 (PPK dan K3 ) Sugeng Priyanto.
Jakarta, NU Online
Kementerian Ketenagakerjaan meminta kepada perusahaan-perusahaan  untuk segera terapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) baru untuk meningkatkan aspek perlindungan bagi pekerja dan menciptakan kondisi kerja yang kondusif bagi dunia usaha.   

Hal tersebut  disampaikan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 (PPK dan K3 ) Sugeng Priyanto dalam acara Sosialisasi Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) No.5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja, di Jakarta, Kamis (11/7).

"Perusahaan-perusahaan di seluruh Indonesia harus mengutamakan aspek perlindungan pekerja  dengan menerapkan standar K3 di lingkungan kerja untuk menghindarkan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja," tutur Sugeng.   

Sebagai contoh Dirjen Sugeng menyinggung soal kecelakaan kerja akibat kebakaran pabrik kembang api maupun korek api yang terjadi di Tangerang maupun di Medan. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena tidak adanya jalur evakuasi darurat, dan tidak adanya  dengan alat pelindung diri (APD).   

Oleh karena itu, Sugeng meminta kepada perusahaan di Indonesia baik itu perusahaan berskala besar maupun kecil, agar fokus dalam menerapkan Sistem Manajemen Keselematan dan Kesehatan Kerja yang mengacu pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) No 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan.   

Sebagai infromasi Permen Ketenagakerjaan Nomor 5 tahun 2018 ini sekaligus mencabut peraturan sebelumnya yaitu Permen Perburuhan No 7 tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta penerangan di tempat Kerja dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi no 13 tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja.   

Peraturan ini memberikan pedoman baru mengenai nilai ambang batas (NAB) faktor fisika dan kimia, standar faktor biologi, ergonomi dan psikologi serta persyaratan higiene dan sanitasi, termasuk kualitas udara dalam ruangan (indoor air quality) yang diharapkan menjadi jawaban untuk mewujudkan tempat kerja yang aman, sehat dan nyaman sehingga tercipta produktivitas kerja yang terus meningkat.    

"Oleh sebab itu, dengan diselenggarakannya seminar ini saya berharap kepada perusahaan agar terus concern dalam membudayakan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahannya serta kedepannya bisa terus menerus melakukan sosialisasi dan edukasi agar memudahkan penerapannya di setiap tempat kerja," ungkap Sugeng.   

Sementara itu, dalam sambutannya Direktur PT Unilab Perdana, Supandi mengatakan tujuan penyelenggaraan seminar sosialisasi ini agar seluruh pemangku kepentingan atau stakeholder bisa bersama-sama bersinergi dalam mendukung serta mengawal Perusahaan dalam penerapan Permenaker No 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.   

"Ke depannya dengan adanya Permenaker ini, bisa memberikan pemahaman yang detail bagi perusahaan dalam menerapkan budaya K3 di lingkungan kerjanya, serta harapan terwujudnya zero accident terhadap pekerja bisa terwujud," kata Supandi. (Red: Kendi Setiawan)

Kamis 11 Juli 2019 21:0 WIB
Kubur Intoleransi dan Radikalisme dengan Pemikiran Moderat
Kubur Intoleransi dan Radikalisme dengan Pemikiran Moderat
Rais PWNU Jateng, KH Ubaidullah Shodaqoh (foto: ngopibareng.id)
Demak, NU Online
Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh mengajak semua pihak untuk melawan intoleransi dan radikalisme dengan menyebarkan pemikiran moderat.

"PWNU Jawa Tengah akan berusaha dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran moderat guna membantah segala bentuk intoleransi dan gerakan radikal yang saat ini sedang sangat marak," tegasnya. 

Hal ini disampaikan pada saat membuka kegiatan bahtsul masail yang diselenggarakan oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jateng pada Senin (8/7) kemarin di komplek makam Sunan Kalijaga Kadilangu Demak, Jawa Tengah.

“Kami juga tetap menyebarkan pemikiran-pemikiran moderat serta membantah pemikiran-pemikiran intoleransi dan sebagainya. Oleh karena itu, segala isu-isu tentang paham keagamaan yang intoleran, itu harus kita tepis,” tegasnya.

Pengasuh Pesantren Al-Itqon Bugen, Semarang ini mengatakan bahwa hampir dari 36 cabang NU yang ada di Jawa Tengah aktif. Menurutnya, gerakan radikalisme, intoleransi, dan sebagainya jarang terjadi di daerah yang cabang NU-nya aktif. Begitu pula sebaliknya. Radikalisme dan intoleransi akan tumbuh subur di daerah yang cabang NU-nya tidak begitu aktif atau kecil.

“Di mana NU besar di situ, Insyaallah untuk menangkal paham-paham radikalisme, dan intoleransi mudah dilakukan. Sebaliknya di mana NU kok kecil, kering, maka di situlah tumbuh subur intoleransi dan radikalisme,” bebernya.

Dikatakan, sudah banyak sekali pengurus cabang maupun pengurus wilayah yang telah menerbitkan tulisan melalui media yang mereka miliki, baik itu media cetak maupun media berbentuk online. Oleh karena itu, dirinya mengajak para pengurus cabang yang hadir untuk meniru langkah itu, sebab hal ini ternyata cukup efektif dalam mengubur propaganda-propaganda yang ada.

“Beberapa cabang dan beberapa wilayah telah menerbitkan tulisan baik melalui majalah, melalui web, dengan tautan Twitter, Facebook, Instagram, semuanya harus digerakkan supaya mengubur propaganda-propaganda intoleransi dan radikalisme,” ujarnya.

Menyikapi hal itu, PWNU Jateng berencana untuk membentuk suatu badan yang bertujuan untuk menghadapi bermacam-macam masalah mendasar, yakni Pusat Kajian Aswaja. “Oleh karena itu, kalau di Jawa Timur sudah ada Aswaja Center, di Jakarta sudah ada Aswaja Center, tapi saya ingin di Jawa Tengah ini namanya adalah Pusat Kajian Aswaja,” ungkapnya.

Dikatakan, langkah ini ditempuh karena dirasa perlu untuk merespons hal-hal mendasar seperti permasalahan tawasul yang kerap dipermasalahkan. Namun jika tidak direspon, maka akan membuat masyarakat awam menjadi terpengaruh.

“Oleh karena itu, kita perlu merespons hal-hal yang mendasar, seperti masalah tawasul yang terus ditentang, meskipun hanya masalah itu-itu saja, namun bisa mempengaruhi pembaca maupun pendengar,” ucapnya. (Hanan/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG