IMG-LOGO
Opini

Ibnu Khaldun dan Penyebab Runtuhnya Khilafah

Jumat 12 Juli 2019 8:45 WIB
Bagikan:
Ibnu Khaldun dan Penyebab Runtuhnya Khilafah
Patung Ibnu Khaldun di Tunisia (syafiqb.com)
Oleh Nadirsyah Hosen

Dalam kitabnya yang terkenal al-Muqaddimah, sejarawan ternama Ibnu Khaldun (wafat 17 Maret 1406) menganalisa penyebab hancurnya Bani Umayyah dan juga Abbasiyah. Ibn Khaldun menyebut faktor penerus para khalifah Umayyah yang lebih cinta duniawi dan melupakan perjuangan pendahulu mereka.

Lantas datanglah periode Khilafah Abbasiyah yang berhasil menumbangkan Umayyah dan mencapai kekuasaan puncak. Awalnya mereka berupaya mengarahkan jalannya kekuasaan menuju kebenaran, lantas tiba pada generasi anak cucu Harun ar-Rasyid memegang kekuasaan, semuanya berubah.

Di antara mereka, menurut Ibnu Khaldun, terdapat orang yang saleh dan orang yang jahat sekaligus, sehingga kekuasaan menjadi sarana bermegah-megahan dan mereka para Khalifah Abbasiyah tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Mereka melanggar nilai-nilai agama secara terang-terangan, kata Ibnu Khaldun, sehingga Allah mencabut kekuasaan dari tangan orang Arab secara total. Allah lantas mengizinkan bangsa-bangsa lain merebut kekuasaan mereka.

Ibnu Khaldun, yang wafat di era Dinasti Mamluk, menegaskan bahwa Allah tidak pernah berbuat kedzaliman sedikit pun kepada para hamba-Nya. Seolah beliau hendak menegaskan bahwa kehancuran Khilafah Umayyah dan Abbasiyah akibat ulah mereka sendiri. Ibnu Khaldun menggarisbawahi bahwa bagi siapa yang mau mengamati perjalanan sejarah para khalifah maka akan mengetahui kebenaran pernyataan beliau ini.

Ibnu Khaldun lantas mengutip al-Mas’udi, sejarawan Arab klasik yang wafat tahun 956, yang mengisahkan hal yang sama mengenai tingkah laku Bani Umayyah, ketika Abu Ja’far al-Manshur, Khalifah kedua Abbasiyah, menemui pamannya. Mereka mencari info tentang Bani Umayyah. Abu Ja’far menjawab:

“Khalifah Abdul Malik itu penguasa yang otoriter dan tidak peduli dengan apa yang dia lakukan. Khalifah Sulaiman itu hanya memikirkan isi perut dan kemaluannya saja. Sedangkan Khalifah Umar bin Abdul Azis itu bagaikan orang yang buta sebelah di kawanan orang yang buta kedua matanya. Orang yang menjadi pemimpin itu adalah Khalifah Hisyam.”

Ibnu Khaldun melanjutkan kutipan Abu Ja’far yang bercerita lebih lanjut bahwa di awal mulanya Bani Umayyah memenuhi tanggung jawabnya, lantas mereka memuaskan hawa nafsunya dan durhaka kepada Allah. Karena kelalaian inilah Allah memakaikan baju kehinaan kepada mereka.

Kemudian Abu Ja’far memanggil Abdullah bin Marwan yang menceritakan pertemuannya dengan Raja Nubia (ini kawasan antara Mesir dan Sudan) ketika dia melarikan diri dari pengejaran Khalifah As-Saffah (Khalifash Abbasiyah pertama). Dikisahkan dialog antara sang Raja Nubia dengan Abdullah bin Marwan.

Raja Nubia bertanya: “Mengapa anda minum minuman keras yang dilarang dalam kitab suci anda?”

Abdullah menjawab: “Budak dan pengawal kami yang melakukannya.”

“Mengapa Kalian merusak tanaman dan hewan ternak, bukannya itu perbuatan yang diharamkan?”

Abdullah sekali lagi menjawab: “Budak dan pengikut kami yang berbuat itu karena kebodohan mereka”

Raja bertanya lagi: “Mengapa kalian memakai sutera dan emas padahal itu diharamkan atas kalian?”

Abdullah menjawab: “Kekuasaan kami dihancurkan bangsa non-Arab (Persia). Mereka masuk agama kami dan mereka memakai sutera dan emas, padahal kami membencinya.”

Mendengar semua jawaban ngeles dari Abdullah ini, Raja Nubia berkata: “Budak kami, pengawal kami, pengikut kami, bangsa non-Arab!!! Kenyataanya tidak seperti yang anda katakan. Kalian lah yang menghalalkan apa yang diharamkan. Kalian melakukan perbuatan yang dilarang dan menyalahgunakan kekuasaan sehingga Tuhan menimpakan bencana kehinaan kepada kalian (Bani Umayyah).

Raja Nubia dengan gusar melanjutkan: “Aku khawatir jika Tuhanmu menimpakan azab-Nya kepada kalian sekarang sedangkan kalian tengah berada di negeriku, aku pun akan terkena musibah bersama kalian. Bertamu hanya tiga hari, setelah itu keluarkah dari negeriku!”

Ibnu Khaldun lantas memberi komentar yang menohok atas kisah di atas: “Jelaslah bagi anda kini bagaimana kekhilafahan berubah menjadi kekuasaan duniawi semata.”

Dari penjelasan Ibnu Khaldun ini maka berhentilah kita untuk selalu menyalahkan orang lain. Sudah saatnya kita bersikap jujur terhadap kenyataan dan fakta sejarah masa lalu. Kalau generasi terbaik di masa lampau saja tidak tahan godaan duniawi dan syahwat kekuasaan, apa jaminannya kalau anak-anak HTI yang koar-koar soal khilafah bisa lebih baik dari generasi masa lalu? Tidakkah kita khawatir akan kecemplung masuk lubang kehinaan sekali lagi?

Jangan double standard: kalau ada yang baik dari periode khilafah masa lalu, langsung koar-koar betapa hebatnya khilafah sebagai solusi saat ini. Kalau ditunjukkan khilafah masa lalu juga ada cacatnya, buru-buru ngeles kayak gaya jawaban Abdullah di atas: seolah kejelekan itu pada masa kerajaan, bukan pada masa khilafah. Yang baik diaku masa khilafah, yang jelek diaku masa kerajaan. Padahal sama-sama bicara periode Umayyah dan Abbasiyah.

Modus anak-anak HTI yang lugu dan lucu itu adalah mengkritik sistem demokrasi, lantas menyebutkan fakta kehebatan khilafah masa lalu sebagai solusi masa kini. Ketika tulisan-tulisan saya mengungkapkan bahwa sejarah khilafah juga banyak yang bermasalah, mereka kejang-kejang dan marah kepada saya karena modus mereka langsung tumbang berantakan.

Akhirnya saya dibilang liberal dan kafir oleh anak-anak HTI. Semoga setelah membaca tulisan saya ini, mereka tidak lantas mengatakan Ibnu Khaldun itu liberal dan kafir.

Tabik,

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand, Dosen Senior Monash Law School

Teks Asli dari kitab al-Muqaddimah karya Ibn Khaldun:

فكان ذلك مما دعا الناس إلى أن نعوا عليهم أفعالهم وأدالوا بالدعوة العباسية منهم. وولي رجالها الأمر فكانوا من العدالة بمكان، وصرفوا الملك في وجوه الحق ومذاهبه ما استطاعوا، حتى جاء بنو الرشيد من بعده فكان منهم الصالح والطالح. ثم أفضى الأمر إلى بنيهم فأعطوا الملك والترف حقه، وانغمسوا في الدنيا وباطلها، ونبذوا الدين وراءهم ظهرياً، فتأذن الله بحربهم، وانتزاع الأمر من أيدي العرب جملة، وأمكن سواهم منه. والله لا يظلم مثقال ذرة.
ومن تأمل سير هؤلاء الخلفاء والملوك واختلافهم في تحري الحق من الباطل علم صحة ما قلناه. وقد حكى المسعودي مثله في أحوال بني أمية عن أبي جعفر المنصور، وقد حضر عمومته وذكروا بني أمية فقال: " أما عبد الملك فكان جباراً لا يبالي بما صنع، وأما سليمان فكان همه بطنه وفرجه، وأما عمر فكان أعور بين عميان، وكان رجل القوم هشام " . قال: ولم يزل بنو أمية ضابطين لما مهد لهم من السلطان يحوطونة ويصونون ما وهب الله لهم منه، مع تسنمهم معالي الأمور، ورفضهم دنياتها، حتى أفضى الأمر إلى أبنائهم المترفين، فكانت همتهم قصد الشهوات، وركوب اللذات من معاصي الله جهلاً باستدراجه وأمناً لمكره، مع اطراحهم صيانة الخلافة، واستخفافهم بحق الرياسة وضعفهم عن السياسة، فسلبهم الله العز وألبسهم الذل، ونفى عنهم النعمة " . ثم استحضر عبد الله بن مروان فقص عليه خبره مع ملك النوبة لما دخل أرضهم فاراً أيام السفاح، قال: " أقمت ملياً ثم أتاني ملكهم فقعد على الأرض وقد بسطت له فرش ذات قيمة، فقلت له ما منعك من القعود على ثيابنا؟ فقال: إني ملك! وحق لكل ملك أن يتواضع لعظمة الله إذ رفعه الله. ثم قال: لم تشربون الخمر وهي محرمة عليكم في كتابكم؟ فقلت: اجترأ على ذلك عبيدنا وأتباعنا بجهلهم! قال: فلم تطؤون الزرع بدوابكم والفساد محرم عليكم، قلت: فعل ذلك عبيدنا وأتباعنا بجهلهم! قال: فلم تلبسون الديباج والذهب والحرير وهو محرم عليكم في كتابكم؟ قلت: ذهب منا الملك وانتصرنا بقوم من العجم دخلوا في ديننا فلبسوا ذلك على الكره منا. فأطرق ينكت بيده في الأرض ويقول: عبيدنا وأتباعنا وأعاجم دخلوا في ديننا ثم رفع رأسه إلي وقال: " ليس كما ذكرت! بل أنتم قوم استحللتم ما حرم الله عليكم، وأتيتم ما عنه نهيتم، وظلمتم فيما ملكتم، فسلبكم الله العز وألبسكم الذل بذنوبكم. ولله نقمة لم تبلغ غايتها فيكم. وأنا خائف أن يحل بكم العذاب وأنتم ببلدي فينالني معكم. وإنما الضيافة ثلاث. فتزود ما احتجت إليه وارتحل عن أرضي. فتعجب المنصور وأطرق.
فقد تبين لك كيف انقلبت الخلافة إلى الملك، وأن الأمر كان في أوله خلافة، ووازع كل أحد فيها من نفسه وهو الدين، وكانوا يؤثرونه على أمور دنياهم وإن أفضت إلى هلاكهم وحدهم دون الكافة.
Tags:
Bagikan:
Selasa 9 Juli 2019 12:22 WIB
Pancasila dan Tiga Mazhab Kewarganegaraan
Pancasila dan Tiga Mazhab Kewarganegaraan
Oleh Nanang Qosim

Setidaknya, jika menelusuri khazanah teori kewarganegaraan dalam sejumlah literatur, kita bisa mengidentifikasi tiga mazhab utama. Pertama, kewarganegaraan republik yang mengutamakan keutuhan negara. Di sini, warga negara utama adalah manusia patriotis yang rela mengorbankan jiwa raga untuk membela negara.

Efek negatifnya, mazhab ini bernuansa militer dan condong menghasilkan negara militeristik yang membelokkan cita-cita negara menjadi semata visi penguasa. Bahkan, mereka yang berbeda dari penguasa tidak dianggap sebagai warga negara dan dipasung hak-haknya. Indonesia masa Orde Baru adalah penganut mazhab ini.

Kedua, kewarganegaraan liberal. Berdasarkan literatur mazhab ini mewarisi atau meneruskan semangat Aufklarung (Pencerahan) yang ingin membebaskan akal manusia dari belenggu doktrin agama kala itu. Orang muak pada penundukan akal terhadap wahyu gereja di Eropa yang mengeras menjadi persekusi oleh kekuasaan raja yang bersekutu dengan gereja. Sehingga, manusia ingin berpikir bebas dan mendesakkan hak asasinya. Dari sini, muncullah Bill of Rights di Inggris yang menjadi cikal-bakal konsep hak asasi manusia (HAM) universal sebagaimana kita kenal.

Konsekuensi dari pemerdekaan akal adalah kepercayaan diri manusia bahwa mereka bisa merumuskan hukum-hukum umum alam dengan rasio. Alhasil universalitas berbagai hal, termasuk konsep HAM, menjadi dominan. Dampak buruknya, universalitas HAM meminggirkan kelompok minoritas. Sebab, mereka dianggap sebagai anomali bagi hukum-hukum universal yang sudah dicapai akal.

Sebagai contoh, jika universalitas konsep agama dianggap hanya mencakup agama-agama besar dunia—katakanlah Islam, Kristen, Buddha, dan Hindu—maka para penganut agama di luar itu, seperti agama lokal, akan dianggap sebagai warga negara kelas dua. Karena itu, kelemahan mazhab liberal ini adalah ia meniscayakan budaya minoritas meleburkan diri ke dalam budaya universal mayoritas (asimilasi). Jadi, sebagai contoh, kaum beragama di luar agama-agama yang diakui negara harus meleburkan diri ke dalam salah satu agama yang ada, termasuk ketika mencantumkan status agama dalam kartu identitas.

Ketiga, kewarganegaraan multikultural. Beranjak dari kelemahan mazhab liberal dan republik, kewarganegaraan multikultural menyatakan kelompok budaya seyogianya diberikan kesempatan untuk mengada dalam vernacular alias konteks identitasnya yang khas (Will Kymlicka, Kewargaan Multikultural, 2004). Oleh karena itu, mazhab ini ingin merangkul dan memberikan ruang setara kepada semua warga negara. Sebab, semua warga negara dianggap unik dan berhak mengada dengan segala kekhasan karakternya.

Namun, mazhab ini bukannya tanpa kelemahan. Yaitu, ia justru memperkeras identitas kelompok hingga berpotensi melahirkan eksklusivitas sempit dan pandangan berorientasi ke dalam (inward-looking). Ujung-ujungnya, pengadopsian mazhab multikultural bisa berujung pada potensi besar konflik horizontal antaragama, antarsuku, dan lain sebagainya. Sebab, masing-masing merasa memiliki klaim kebenaran khas yang dianggap unggul.

Pancasila sebagai Sintesis

Akhirnya, timbul pertanyaan: jika ketiga mazhab kewarganegaraan yang ada memiliki kelemahan inheren, apa mazhab yang cocok bagi Indonesia? Tanpa perlu repot mencari, kita sudah punya jawabannya: Pancasila. Mengapa? Sebab, Pancasila adalah sintesis yang mengakomodasi kekuatan dari ketiga mazhab kewarganegaraan di atas. Sebagai awal, prinsip negara demokrasi ideal adalah memberikan ruang bagi percakapan antarsesama warga untuk mencari jalan memenuhi kebutuhan nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Namun di sisi lain, percakapan itu harus diwadahi oleh satu wahana "netral" tempat semua pihak berada dalam posisi asali atau original position (John Rawls, Theory of Justice, 1994).Maksudnya, posisi sama antara warga negara sehingga percakapan itu fair. Wahana netral itu adalah batas minimal yang memberikan semua warga negara akses setara pada proses diskursif seputar masalah publik. Jadi, warga negara haruslah terlibat secara bebas dan setara dalam praktik mempertahankan kebaikan bersama (common good). Kualitas warga dinilai dari kesertaannya memperjuangkan kemaslahatan umum.

Wahana netral itulah yang kita kenal sebagai Pancasila. Lebih dari sekadar filsafat dasar negara, Pancasila sejatinya adalah konsensus yang menjamin semua warga memiliki kesamaan hak dan kewajiban seraya tunduk pada rule of law (supremasi hukum). Jadi berbekal Pancasila, warga minoritas mendapatkan ruang untuk ikut berpartisipasi dalam pemecahan masalah umum tanpa perlu takluk terhadap kebudayaan dominan. Ini menambal kelemahan mazhab kewarganegaraan liberal.

Kemudian, Pancasila sebagai titik muka berdiskusi akan menangkal ekslusivitas. Sebab, eksklusivitas khas setiap kelompok terakomodasikan dalam Pancasila sebagai wahana netral. Sekaligus, ini menutupi kelemahan mazhab kewarganegaraan multikultural.

Terakhir, posisi Pancasila sebagai batas minimal bernegara membuat negara tidak perlu takut akan memiliki warga negara yang kurang spartan membela kedaulatan wilayah. Justru, Pancasila akan merasuki kesadaran para warga negaranya sehingga mereka dapat menghayati nilai Pancasila dalam tingkah laku tanpa terbatas pada aspek pertahanan fisik bela negara. Patriotisme jadinya bisa mencakup berbagai bidang: sosial, ekonomi, dan sebagainya. Alhasil, kelemahan kewarganegaraan republik pun teratasi.

Akhirnya, berbagai masalah yang mengoyak rajutan hubungan antarwarga negara di bumi pertiwi ini seyogianya menjadi momentum bagi kita untuk kembali ke Pancasila sebagai mazhab kewarganegaraan ideal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.


Penulis adalah Pengurus Ikatan Sarjana NU Kabupaten Demak

Senin 8 Juli 2019 15:0 WIB
lslam Nusantara; Reaksi Resisten Skenario Global Agenda Umat Manusia
lslam Nusantara; Reaksi Resisten Skenario Global Agenda Umat Manusia
Oleh K Ng H Agus Sunyoto

Ketika fajar Millenium Ke-3 membentang di awal abad ke-21, sebagian kesadaran Kemanusiaan ditantang! Kesadaran kemanusiaan kini dihadapkan pada rangkaian panjang jejak Kehidupan manusia yang ditandai sisa-sisa mimpi buruk masa lampau. Kelaparan, wabah penyakit dan peperangan, menandai rentang waktu hidup manusia dari generasi ke generasi, yang menelan korban ratusan juta spesies manusia. Robert Malthus menyebut tragedi dramatik yang membayangi sejarah umat manusia dari spesies homo sapiens.

Meski dalam beberapa dekade terakhir melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai manusia, bencana seperti kelaparan, wabah penyakit dan peperangan dapat dikurangi tapi pada saat yang samah justru terjadi fenomena terbalik di mana lebih banyak didapati orang mati karena terlalu banyak makan daripada mati akibat kekurangan makan. Orang yang mati bunuh diri jumlahnya lebih banyak daripada orang yang mati akibat perang; mati pada usia tua lebih banyak daripada yang mati akibat terpapar penyakit menular; bahkan memasuki abad ke-21, lebih banyak kemungkinan manusia mati akibat mengonsumsi McDonald, KFC, Cocacola, dan aneka makanan olahan fabrikan daripada mati akibat kelaparan, virus Flu Burung, Ebola, kebuasan ISIS, Al-Qaeda, Boko Haram.

Dengan sains modern dan kultur modern, sebagian manusia memiliki pandangan yang berbeda tentang kehidupan dan kematian. Orang modern tidak menganggap kematian sebagai misteri metafisik yang menandai akhir hidup manusia atau sebagai takdir yang ditetapkan Tuhan. Manusia modern menganggap kematian hanya sebagai masalah teknis yang satu saat dapat diatasi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan manusia. Kematian, satu saat akan dapat ditaklukkan manusia. Sebagian ilmuwan, dokter, peneliti, dan sarjana modern mengklaim bahwa mereka masih berusaha mengatasi masalah teknis terkait kematian. Mereka berbicara lebih terbuka bahwa sains modern satu saat bisa mengalahkan kematian dengan memberi manusia usia muda dan abadi. Perkembangan sains dan teknologi modern seperti Rekayasa Genetika, Pengobatan Regeneratif, Teknik Regenerasi Lembaran Sel yang dapat memperbaiki tangan, mata, liver, pankreas, otak, dan teknologi Nano memperkuat keyakinan bahwa manusia modern satu saat akan dapat mengalahkan kematian. Setidaknya, film fiksi ilmiah berjudul Transcendence besutan Wally Pfister, yang ditulis Jack Paglen dan dibintangi Johnny Depp dan Rebecca Hall, seakan sedang menggambarkan ambisi itu.

Ray Kurzneil, ilmuwan peraih US National Medal of Technology and lnnovation 1999, sangat yakin bahwa tahun 2050 manusia sudah dapat mengalahkan kematian, di mana pandangan ini merupakan dogma, doktrin, kredo baru yang dijadikan dasar keimanan dari Agama Modern yang bertolak belakang dengan Agama-agama lama seperti Kristen, lslam, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu yang meyakini bahwa kematian adalah Takdir Tuhan yang tidak bisa ditolak.

Agama-tekno di era Millenial
Fenomena baru yang revolusioner di ambang Millenium ke-3 adalah lahirnya Agama-tekno. Satu agama yang menurut Yuval Noah Harari (2015) adalah agama yang menjanjikan penyelamatan, kebahagiaan, perdamaian, kemakmuran, bahkan kehidupan abadi melalui algoritma dan gen-gen, yaitu agama yang lahir dari laboratorium-laboratorium riset di Silicon Valley. Agama-tekno ini secara umum dapat dibagi dua jenis utama, yaitu Tekno-Humanisme dan Dataisme, di mana Agama Tekno-Humanisme masih meyakini bhw manusia adalah pusat penciptaan dan setuju bahwa Homo Sapiens, telah selesai menjalani lintasan sejarah evolusinya hingga harus meninggalkan keyakinan lamanya yang sudah tidak relevan dengan masa depan di mana manusia harus menggunakan teknologi dalam rangka lahirnya manusia yang lebih unggul dari Homo Sapiens, yaitu Homo Deus (2015) atau dalam istilah versi Mary Belknap (2015) sebagai Homo Deva, yaitu manusia yang memiliki kemampuan fisik dan mental yang terbarukan, di mana kecerdasan dan kesadarannya sudah terpisah. Manusia hasil evolusi baru yang dituntut untuk selalu memperbaiki pikiran mereka jika mereka ingin bertahan dalam evolusinya. 

Jika dalam proses evolusi Homo Sapiens menyingkirkan Homo Neanderthall, maka evolusi lanjutan Homo Sapiens akan disingkirkan oleh Homo Deus atau Homo Deva. Berbeda dengan Hitler yang ingin menciptakan manusia unggul dengan sarana pembiakan selektif dan pembersihan etnis, Agama Tekno-Humanisme berharap dapat menciptakan manusia unggul, Homo deus menyeleksi manusia melalui rekayasa genetika, nanoteknologi, antarmuka otak-komputer.

Sementara Agama Dataisme, menyatakan bahwa manusia sudah menyelesaikan tugas kosmis mereka karena itu harus menyerahkan tongkat estafet kepada jenis-jenis entitas yang sama sekali baru, di mana alam semesta dipandang sebagai aliran data dengan nilai setiap entitas ditentukan oleh kontribusinya terhadap pemrosesan data.

Agama Dataisme berakar pada disiplin sains komputer dan biologi, yang sejak Darwin meluncurkan On the Origin of Species, sains-sains kehidupan memandang organisme sebagai algoritma biokimia. Secara simultan dalam 8 dekade sejak Alan Turing merumuskan ide Mesin Turing, para ilmuwan komputer sudah mengetahui cara merekayasa algoritma elektronik yang canggih. Dataisme memadukan keduanya, di mana hukum matematika berlaku pula pada algoritma biokimia dan elektronika. Itu berarti, Dataisme menghapus penghalang antara manusia dan mesin, antara hewan dan mesin, dengan harapan algoritma-algoritma elektronik dapat mengurai dan melampaui algoritma-algoritma biokimia, sehingga pada akhirnya organisme dimaknai sama dengan algoritma.

Tidak bisa diingkari bahwa dengan mengikuti keyakinan yang berdasar pada pandangan paradigmatik, dogmatik, doktriner, dan kredo Agama Akal Sehat yang disebut Tekno-Humanisme dan Dataisme, akan terjadi proses dehumanisasi yang luar biasa mengerikan. Bila itu terjadi, masa depan kelak, kemanusiaan akan lenyap menjadi material tak berjiwa, sekedar menjadi hitungan matematis yang bersifat kuantitatif yang rawan Rekayasa manipulatif. Kesadaran manusia hasil rekayasa itu dengan mudah diarahkan untuk menciptakan surga baru dunia yang sejatinya hanya surga imajiner. 

Dengan teknologi Deep Fake, tanpa sadar manusia akan terjerembab ke dalam ideologi reproduksi manusia yang memimpikan kehidupan baru yang sejatinya manipulasi psikologi dalam bentuk perbudakan baru. Manusia akan tampil dalam kehidupan totaliterianisme yang dikontrol, diatur, diarahkan, dan dikendalikan oleh invisible hand dari kekuasaan global yang tidak kasat mata. Meski demikian, anehnya umat manusia modern dengan sukarela begitu menerima sebagai penjara tanpa tembok, narapidana yang tidak memiliki keinginan untuk bebas. Bahkan tanpa perlu pemaksaan, manusia-manusia modern dengan sengaja menyerahkan kemerdekaannya kepada sistem perbudakan yang mengaturnya. Keadaan ini sebagaimana diungkapkan Aldous Huxley dalam Brave New World (1932) dan 1962, dan juga George Orwell dalam 1984.

Munculnya Agama-tekno yang menandai lahirnya spesies baru Homo deus atau Homo Deva, adalah lanjutan evolutif dari Homo sapiens, yang memiliki konsekuensi-konsekuensi logis terkait Seleksi Alam, di mana pada era Millenial Homo sapiens yang tidak mampu melakukan survival of the fittest dalam beradaptasi dengan perubahan yang sangat ekstrim akan kalah dan punah. Keadaan itu secara umum diawali dengan lahirnya generasi lemah fisik dan mental karena menderita Autisme, Anoreksia, Asma, Gangguan Pemusatan Perhatian, Depresi Klinis, Gagal Jantung, Retardasi Mental, Gangguan Fungsi Organ tubuh, dan lain lain. Semua itu adalah akibat konsumsi makanan produk fabrikan yang mengandung bahan berbahaya bagi manusia dan aneka rekayasa genetika.

Senjakala Agama-agama
Sejak berakhirnya Perang Dingin pada dekade 1990-an, pertarungan antara golongan Proletar dan Borjuis, golongan Sosialis Komunis dengan Liberalis Kapitalis sudah berakhir. Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996) menegaskan bahwa di era Global yang berbenturan dalam pertarungan adalah Peradaban Manusia, yaitu Peradaban Barat yang representasinya diwakili Agama Kristen dalam menghadapi Peradaban Timur yang representasinya diwakili Agama Islam dan Konghucu, di mana masa itu ditandai kemunculan organisasi-organisasi ekstrim radikal beridentitas Agama seperti Al-Qaeda, Jabhat El-Nushra, Boko Haram, Thaliban, Falun Gong, bahkan ISIS yang menebar terror dan rasa takut dengan pamer kekejaman dan kebiadaban atas nama Agama.

Semenjak Program Globalisasi digelar pasca berakhirnya Perang Dingin, konflik antara Umat Beragama Kristen dengan Umat Beragama Islam berlangsung sengit seperti pembantaian Umat lslam Bosnia oleh Umat Kristen Serbia, perusakan Gereja Kristen oleh Umat Islam di Situbondo, Tasikmalaya, Lampung, Banjarmasin, dan sebaliknya perusakan Masjid oleh Umat Kristen di Kupang, Nusa Tenggara Timur, seolah membenarkan Teori Samuel P. Huntington, yang dilanjut aksi-aksi bom bunuh diri, peledakan fasilitas umum seperti stasiun, gedung perkantoran, gedung keuangan, rumah makan, hotel, dan lain-lain seperti sekolah-sekolah dan museum yang bermuara pada pembentukan citra Umat Islam khususnya Arabian Muslim sebagai common enemy Umat Manusia, yang cepat atau lambat akan meluas kepada citra keseluruhan Umat Islam, terutama pasca Peristiwa World Trade Center ditabrak pesawat terbang yang diakui dilakukan anggota Al-Qaeda pengikut Osama bin Laden.

Rangkaian panjang konflik berdarah, terror, tebaran kebencian, fitnah, adu domba, berita hoax, deep fake, agitasi, provokasi, persekusi, dan aneka aksi kekejaman dan kebiadaban yang memecah-belah dan menghancurkan Negara-negara Arab di Timur Tengah yang melibatkan golongan Takfiri, Jihadi, Salafi, dan Wahabi telah membawa dampak negatif yang tidak menguntungkan bagi Agama Islam dan Agama-agama yang lain. Atas ulah mereka terbentuk pandangan-pandangan, gagasan-gagasan, ide-ide, dan konsep-konsep yang sangat subyektif yang menganggap Agama sebagai sumber kejahatan, perpecahan, permusuhan, dan pertumpahan darah, karena semua aksi kebencian, kekerasan, kekejaman, kebejatan, dan kebiadaban yang direkam, yang sengaja disebar-luaskan lewat media massa dan media sosial dilakukan oleh orang-orang beragama. Pandangan negatif tentang Agama inilah yang memunculkan fenomena perkembangan Agnostisme, Ateisme, Paganisme, Anarkisme, dan terutama Agama Akal Sehat yang disebut Agama Tekno dengan dua mazhabnya: Tekno-Humanisme dan Dataisme. 

Islam Nusantara Sebagai Reaksi Resisten Globalisasi
Lepas dari prasangka negatif bahwa seluruh proses deagamanisasi khususnya de-Islamisasi dilaksanakan secara sistematis oleh sebuah skenario global terkait agenda perkembangan evolutif umat manusia, yang pasti dalam dua dekade pelaksanaan Program Globalisasi telah terjadi Kenyataan Faktual yang menempatkan Arabian Muslim sebagai representasi Umat Islam yang primitif, terbelakang, biadab, fanatik, gampang mengafirkan, dan suka pamer kekejaman suku-suku barbar padang pasir.

Opini umum yang terbentuk terhadap Arabian Muslim ini bertolak belakang dengan Kenyataan faktual bahwa ras Semit Arabian adalah bangsa yang memiliki peradaban sangat tua semenjak zaman Sumeria, Akkadia, Messopotamia, Babylonia, yang termasyhur dengan pemikir-pemikir brilian di bidang filsafat, ilmu hukum, astronomi, kimia, medis, biologi, metalurgi, dll. Bagaimana mungkin, selama dua dekade globalisasi kenyataan faktual itu bisa berubah sangat fantastis, yaitu munculnya tokoh-tokoh Arab bodoh, pemarah, gampang memfitnah, menebar dusta, mengadu domba, memecah belah, menebar kebencian dengan menggunakan dalil-dalil agama secara naif karena mereka itu umumnya tidak cukup memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam ilmu agama.

Pelaksanaan Program Globalisasi yang pada satu sisi menghilang-lenyapkan identitas etnik, bahasa, budaya, agama, bahkan teritorial negara untuk membuka jalan bagi kalangan Globalis dan Transnasional dan pada sisi yang lain pula menempatkan Islam – dalam konflik peradaban menurut Huntington – sebagai common enemy bagi umat manusia melalui kemunculan Arabian Muslim dari golongan Takfiri, Jihadi, Khilafah, Salafi, dan Wahabi yang pemarah, naif, primitif, biadab, kejam, suka mengkafirkan, dan menentang ilmu pengetahuan modern sangat mengancam eksistensi agama Islam yang dicitrakan sangat negatif oleh Bangsa-bangsa di dunia. Islam agama teroris yang riil memenuhi opini publik di dunia telah menjadi fenomena yang merisaukan bagi umat Islam seumumnya di dunia, termasuk di Indonesia.

Memasuki dekade awal abad ke-21, pada tahun 2010 dimulai gerakan Islam Nusantara yang secara esensial adalah Kebangkitan Islam Tradisional yang disebut Nahdliyin, yaitu Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah ala Mazhahib al-Arba’ yang sejak diwadahi dalam organisasi Nahdlatul Ulama’ pada 31 Januari 1926 sudah dikenal sebagai Islam yang moderat, toleran, damai, berwawasan nasionalis religius, yang membawa misi Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamiin. Sosialisasi Islam Nusantara yang dijalankan secara intern organisasi memperoleh reaksi sangat keras sewaktu tahun 2015 dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang dijadikan slogan kemenangan secara terbuka. Aneka tafsir bebas yang dilakukan golongan Takfiri, Jihadi, Khilafah, Salafi, Wahabi, yang jauh dari konteks yang melatari kemunculan gerakan resisten terhadap Program Globalisasi itu, terbukti tidak mampu membendung penyebaran Islam Nusantara yang diam-diam diterima di berbagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim maupun negara-negara yang mayoritas berpenduduk non muslim.

Ketika fajar Millenium ke-3 terbentang, para konseptor dan perancang skenario Program Globalisasi dan Agama-Tekno terkejut menyaksikan Kenyataan Faktual tentang hasil pelaksanaan skenario yang sudah mereka biayai dengan dana sangat besar. Sebab gerak dinamis dari Globalisasi yang bertujuan menghilang-lenyapkan identitas Etnis, Bahasa, Budaya, Agama, Teritorial Negara Nasional agar menjadi global dan transnasional, belum mampu merubah sama sekali identitas Etnis, Bahasa, Budaya, Agama, dan Teritorial Negara yang disebut Indonesia yang sebagian besar elemennya adalah Kaum Nahdliyin yang tergabung dalam wadah organisasi sosial keagamaan Nahdlatul Ulama (NU). Fakta menunjuk bahwa komunitas Bangsa yang disebut Rakyat atau Masyarakat, tetap bersifat majemuk terdiri dari beragam Suku bangsa dan Etnis dengan Bahasa Daerah dan Tradisi Budaya masing-masing, yang menunjukkan pengaruh kuat Tradisi Keagamaan bersifat sinkretis-asimilatif, bahkan dengan gigih masih mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang menurut Konsep Global, Negara Bangsa (Nation State) seperti Republik Indonesia sudah harus runtuh pada abad ke-21. 

Bahkan yang mengejutkan Kalangan Globalis, Organisasi NU yang representasi mewakili Golongan Islam Tradisional yang ditandai kekayaan luar biasa dari nilai-nilai lokal, justru mengglobal dengan membuka cabang-cabang istimewanya di berbagai negara di benua Afrika, Asia, Eropa, Amerika, Australia. Begitulah gagasan Islam Nusantara yang diusung organisasi Nahdlatul Ulama dalam gerakan resistensinya menghadapi Program Globalisasi, secara sistematis dan masif telah menyebarkan pengaruh Anti Global dengan membangkitkan nilai-nilai lokalitas di berbagai negara yang penduduknya sudah resah dengan pengaruh negatif Globalisasi, terutama yang berkaitan dengan tumbuh pesatnya Agama Akal Sehat yang disebut Agama Tekno dengan Mazhab Tekno-Humanisme dan Dataisme yang berkembang pesat mengikuti gelombang Globalisasi. 


Penulis adalah Ketua Lesbumi PBNU 2015-2020. Makalah ini disampaikan pada orasi budaya Rakornas III Lesbumi PBNU di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur 3 - 5 Juli 2019, 




Senin 8 Juli 2019 7:30 WIB
Keluhuran Tradisi Pesantren
Keluhuran Tradisi Pesantren
Oleh Fathoni Ahmad

Lembaga pendidikan pesantren didirikan tidak hanya berawal dari tujuan mensyiarkan ilmu-ilmu agama Islam, tetapi juga wadah kegiatan sosial-kemasyarakatan, termasuk sebagai wadah pergerakan nasional kemerdekaan melawan penjajah. Pesantren tersebut membuat pesantren tidak lepas dari akar sosial masyarakatnya. Tradisi dan amaliyah keagamaan yang berkembang di pesantren juga dipraktikkan oleh masyarakat.

Ulama pesantren dijadikan simbol akhlak dengan segala kearifan dan kebijaksanaannya. Mereka membawa ajaran-ajaran yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Nasihatnya didengar, petuahnya direnungkan, dan fatwanya diikuti. Bukan bertujuan mengkultuskan pribadi manusia, melainkan karena akhlak mulia dan kedalaman ilmunya. Kearifan kiai memunculkan keluhuran tradisi pesantren yang hingga kini berkembang di tengah masyarakat luas.

Jauh daripada itu, para ulama pesantren berjuang atas dasar kemaslahatan bangsa, bahkan skala global. Prinsip kemerdekaan bangsa yang akan memunculkan kemaslahatan bersama harus diperjuangkan bersama-sama. Ulama pesantren berperan sebagai penggerak rakyat melawan penjajah. Bahkan selain sebagai tempat menempa ilmu-ilmu agama dan wadah pergerakan nasional, pesantren juga sebagai tempat penyemaian kecintaan santri dan masyarakat terhadap bangsa dan negaranya.

Pada titik itulah kearifan dalam memandang kepentingan bangsa menjadi tolak ukur perjuangan para ulama pesantren beserata santri-santrinya. Mereka berhasil mendudukkan bersama antara prinsip keagamaan dengan konsep berbangsa dan bernegara dalam irama persatuan sebagai modal penting melawan penjajah. Dalam kondisi terjajah, prinsip kecintaan tanah air merupakan aktualisasi nilai-nilai agama sehingga perjuangan memerdekakan bangsa Indonesia merupakan panggilan agama.

Prinsip tersebut menyublim pada diri KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) sehingga lahir konseptualisasi agung hubbul wathoni minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Istilah iman di sini tidak hanya berlaku bagi umat Islam, tetapi juga konsep iman menurut keyakinan dan agama-agama lain di luar Islam. Dampaknya, konsep tersebut tidak hanya menggelorakan perjuangan umat Islam, tetapi juga umat-umat agama lain beserta seluruh bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari kungkungan penjajah.

Tentang sosok Kiai Hasyim Asy’ari, ia menempa diri dalam pencarian ilmu di Makkah tidak lantas membuat Hadhratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) alpa terhadap keadaan dan kondisi bangsanya. KH Hasyim Asy’ari merupakan pemegang sanad ke-14 dari Kitab Shahih Bukhori Muslim. Keilmuan agama ia perdalam di tanah hijaz dan banyak berguru dari ulama kelahiran Nusantara di Makkah seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Yasin Al-Fadani, dan ulama-ulama lainnya.

Sebutan hadlratussyekh sendiri menggambarkan bahwa ayah KH Wahid Hasyim tersebut merupakan mahaguru, mahakiai. Bahkan, Muhammad Asad Syihab (1994) menyebut Kiai Hasyim dengan sebutan al-‘Allamah. Dalam tradisi Timur Tengah, istilah tersebut diberikan kepada orang yang mempunyai pangkat keulamaan dan keilmuan yang tinggi.

Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kiai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia (2011) mencatat, dalam tradisi pesantren dikenal sistem ijazah yang bentuknya tidak seperti yang masyarakat kenal dalam sistem sekolah. Ijazah model pesantren berbentuk pencantuman nama dalam suatu daftar rantai transmisi pengetahuan yang dikeluarkan oleh gurunya terhadap muridnya yang telah menyelesaikan pelajaran dan ilmu dengan baik tentang buku atau kitab tertentu. Dari sanad yang disahkan melalui ijazah itu, seorang murid dianggap telah menguasai dan punya otoritas mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain.

Tradisi ijazah ini hanya dikeluarkan untuk murid-murid tingkat tinggi dan hanya mengenai kitab-kitab besar dan masyhur. Para murid yang telah mencapai tingkat yang cukup tinggi disarankan untuk membuka pengajian, sedangkan yang memiliki ijazah biasanya dibantu untuk mendirikan pesantren.

Namun, seperti disebutkan di awal, meskipun Kiai Hasyim Asy’ari mumpuni dalam ilmu agama, tetapi ia tidak menutup mata terhadap bangsa Indonesia yang masih dalam kondisi terjajah. Kegelisahaannya itu dituangkan dalam sebuah pertemuan di Multazam bersama para sahabat seangkatannya dari Afrika, Asia, dan juga negara-negara Arab sebelum Kiai Hasyim kembali ke Indonesia.

Pertemuan tersebut terjadi pada suatu di bulan Ramadhan, di Masjidil Haram, Makkah. Singkat cerita, dari pertemuan tersebut lahir kesepakatan di antara mereka untuk mengangkat sumpah di hadapan “Multazam”, dekat pintu ka’bah untuk menyikapi kondisi di negara masing-masing yang dalam keadaan terjajah.

Isi kesepakatan tersebut antara lain ialah sebuah janji yang harus ditepati apabila mereka sudah sampai dan berada di negara masing-masing. Sedangkan janji tersebut berupa tekad untuk berjuang di jalan Allah SWT demi tegaknya agama Islam, berusaha mempersatukan umat Islam dalam kegiatan penyebaran ilmu pengetahuan serta pendalaman ilmu agama Islam.

Bagi mereka, tekad tersebut harus dicetuskan dan dibawa bersama dengan mengangkat sumpah. Karena pada saat itu, kondisi dan situasi sosial politik di negara-negara Timur hampir bernasib sama, yakni berada di bawah kekuasaan penjajahan bangsa Barat. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Perhatian para kiai terhadap bangsanya tak hanya berhenti dalam perjuangan pemikiran dan fisik, tetapi juga menyiapkan dan menempa para generasi muda untuk mencintai bangsanya. Hal ini dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah saat menginisiasi gerakan-gerakan pemuda cinta tanah air melalui Madrasah dan Perguruan Nahdlatul Wathan pada tahun 1916.

Konsep cinta tanah air melalui pendidikan ini menyadarkan para generasi muda agar bersatu melawan penjajah demi kemerdekaan bangsa Indonesia. KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan atas bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan). Sejak saat itulah Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air.

Bahkan setiap hendak dimulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyanyikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab ciptaan Mbah Wahab sendiri. Kini lagu tersebut sangat populer di kalangan pesantren dan setiap kegiatan Nahdlatul Ulama (NU), yakni Yaa Lal Wathan yang juga dikenal dengan Syubbanul Wathan. Benih-benih cinta tanah air ini akhirnya bisa menjadi energi positif bagi rakyat Indonesia secara luas sehingga perjuangan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi pergerakan sebuah bangsa yang cinta tanah airnya untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Semangat nasionalisme Kiai Wahab yang berusaha terus diwujudkan melalui wadah pendidikan juga turut serta melahirkan organisasi produktif seperti Tashwirul Afkar (gerakan pencerahan) yang berdiri tahun 1919 dan Nahdlatut Tujjar (gerakan kemandirian ekonomi). Selain itu, terlibatnya Kiai Wahab di berbagai organisasi pemuda seperti Indonesische studie club, Syubbanul Wathan, dan kursus Masail Diniyyah bagi para ulama muda pembela madzhab tidak lepas dari kerangka tujuan utamanya, membangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang sedang terjajah.

Dalam mengembangkan Madrasah Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar ini, Kiai Wahab berupaya menyebarkan 'virus' cinta tanah air (hubbul wathan) secara luas di tengah masyarakat dengan membawa misi tradisi keilmuan pesantren. Perjuangan mulia ini tentu harus digerakkan secara terus-menerus melalui setiap lembaga pendidikan yang ada saat ini sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin kuat dan tak pernah surut.

Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah merupakan dua ulama pesantren di antara banyak kiai-kiai lain yang aktif dalam pergerakan nasional untuk memerdekakan bangsa Indonesia. Hal itu menunjukan bahwa kedalaman ilmu agama dengan pemahaman yang baik dan benar yang berasal dari ilmunya para ulama dapat menumbuhkan kearifan bangsa. Kesemuanya itu tidak lepas dari keluhuran tradisi pesantren.


Penulis adalah Redaktur NU Online
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG